Jumat, 27 September 2013

Bukan Kepala


“Dia adalah Kepala Redaksi,….” Ujar salah seorang teman memperkenalkan saya di tengah-tengah lembaganya yang sementara berulang tahun. Aduh, padahal jabatan saya di lembaga pers bukan seperti yang disebutkannya. Saya sendiri tak yakin kalau jabatan seperti itu ada.

Maklum. Bagi orang-orang yang tak pernah bergelut di dunia pers, mereka seringkali tidak mengenali peran-peran yang ada disana. Seperti halnya saya, yang tentu saja tidak mengenali peran dan tugas spesifik lembaga penelitian yang dipimpinnya. Yah, karena saya memang tidak memfokuskan diri pada lembaga itu.

Akan tetapi, entah kenapa, saya merasa risih sendiri ketika mendengar orang lain asal menyebut “label” itu tanpa tahu tugas dan tanggung jawabnya. Kesannya, kalau mereka (tanpa sengaja) seenaknya menyamakan antara Kepala Redaksi dengan Pemimpin Redaksi (Pemred), seolah-olah tugasnya pun sama. Padahal, jauh dari ekspektasi.

Kepala Redaksi, entah benar ada atau tidak, memiliki tugas mengepalai redaksi. Ia menjaga kelangsungan redaksi. Kesannya seperti orang yang setiap hari tugasnya menunggui redaksi. Segala yang bermukim di redaksi menjadi tanggung jawabnya. Barang-barang di redaksi ada dalam pengawasannya. Ibaratnya, seperti “kepala gudang”, dan tidak berhubungan sama sekali dengan proses penerbitan media.

Itu dalam benak saya jika orang menyebut (atau bahkan menyamakan) Kepala Redaksi.

Sementara, dalam pengertian media, Pemimpin Redaksi punya peran yang jauh lebih berat. Yah, berat sekali. :(

Benar, loh. Tugas dan tanggung jawabnya sangat berat. Makanya saya agak risih jika kesannya disamakan dengan “kepala gudang”. :/

Di setiap media penerbitan atau pers manapun, peran pemimpin redaksi sangatlah urgent. Segala hal yang berkaitan dengan penerbitan media, dikelola olehnya. Mulai dari proses perencanaan berita, hingga menghimpun dan menentukan kelayakan terbit suatu berita. Ia bertanggung jawab penuh atas terbitnya semua berita di media yang bersangkutan. Bahkan, jikalaupun ada complain dari pembaca, ia tetap mempertanggungjawabkan berita-berita yang ditulis oleh reporternya. Makanya itu, berita layak muat juga ditentukan langsung oleh keputusannya.

Misal, memulai suatu penerbitan koran dengan perencanaan peliputan. Pembagian tugas kepada reporter-reporternya. Terjun langsung ke lapangan membantu reporternya. Menagih liputan masing-masing reporter ketika tiba tenggat deadlinenya. Menentukan layak-tidaknya suatu berita diterbitkan di korannya. Terkadang, menentukan posisi berita di koran yang akan diterbitkan. Dan jika sudah terbit, bersiap menerima komplain dari pembaca atas berita yang diterbitkannya.

Nah, jelas sekali perbedaan menyebutkan “Kepala” dengan “Pemimpin”. Lagi, bagi orang awam mungkin hal itu dianggap hal sepele. Menyamakannya secara membabi buta. Akan tetapi, bagi saya, yang merasakan sendiri keras dan pahitnya, keduanya jauh sekali berbeda. Amat berbeda. Jika orang menyamakannya, seolah-olah tugas pemimpin redaksi tidak jauh berbeda dengan seorang kepala gudang atau penjaga rumah.

Oleh karena itu, saya sendiri tidak menerima (dalam diam) jika seseorang menyamakan keduanya. Mereka tidak pernah sadar, betapa menjadi seorang pemimpin redaksi itu menguras mental dan pikiran… dan juga tenaga…

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar