Selasa, 03 September 2013

Belajar dari Mengajarkan (Semangat)

(Sumber: googling)

Sekolah adalah tempat kita belajar. Benar-benar belajar. Tentunya bagi siapa saja yang telah masuk ke dalam dunianya, tak terkecuali bagi para pengajar sendiri. Saya menemukannya lewat tatapan haus pengetahuan yang diselingi tawa-tawa penghiburan bagi mereka, adik-adik saya disini, SMAN 2 Pangkajene.

Saya pernah bercerita bahwa sekolah tempat saya mengajar termasuk sekolah unggulan. Akan tetapi, tiap ruangan kelas dinamakan unik. Masing-masing memboyong satu nama ilmuwan atau orang berpengaruh dalam bidang ilmu pengetahuan. Menurut guru-guru yang telah lama mengabdikan dirinya disini, penamaan tersebut untuk menghindari “strata-strata akademik” diantara kalangan siswa. Seperti kelas X. Albert Einstein dan X. Aljabar, yang menjadi kelas tanggung jawab saya menurut bidang studi yang saya ajarkan.

Saya pun pernah bercerita, bahwa label “unggulan” agak membuat bulu kuduk saya merinding. Saya cemas dengan kepandaian yang ditanam oleh masing-masing siswa. “Bisa atau tidak ya saya menjadi guru yang baik?” pikir saya suatu ketika. Akan tetapi, lagi-lagi, mari kita tanamkan prinsip “Kalau tidak bisa menjadi orang pandai, maka jadilah orang berani!” Dan tahu tidak, prinsip itu pulalah yang selalu saya tanamkan kepada adik-adik saya di setiap kelas yang menjadi lahan belajar saya.

Melangkah maju. Itulah yang terpenting.

Nyaris tiga minggu saya menjalani proses PPL di sekolah ini, ada banyak hal yang saya dapatkan. Ada banyak tantangan yang saya pelajari. Ada banyak impian yang ingin saya bangun. Beragam inspirasi semoga datang dari sana.

“Kak, yang ini seperti apa?” perkataan-perkataan klise yang menjadi awal keingintahuan mereka. Dari sini, mereka belajar. Dari sini pula saya belajar.

“Tidak perlu menganggap saya sebagai guru kalian. Karena pada dasarnya disini kita sama-sama belajar. Kalian belajar untuk menambah wawasan pengetahuan Matematika kalian. Saya belajar dari kalian untuk menjadi guru yang baik bagi kalian,” dan tentu saja kata-kata ini terkadang menjadi pelecut bagi saya untuk belajar lebih jauh tentang mereka. Yah, meskipun semata-mata menjadi guru bukanlah tujuan akhir atas perjalanan hidup (dan karir) saya. Saya diam-diam belajar pula dari kalian cara untuk “hidup”. 

Saya senang dengan anak-anak. Mereka lepas apa adanya. Tawa mereka bukanlah tawa yang dibuat-buat. Meskipun sesungguhnya anak-anak SMA tidak bisa lagi dikatakan anak-anak. Namun, jiwa childish mereka masih tersimpan sampai remaja. Lihat saja, masih banyak dari mereka yang gemar menonton film-film kartun Jepang,…mm..seperti saya sih. -_-

Ketika berinteraksi dengan mereka, ada yang membangun semangat saya. Terkadang saya pun lepas menertawakan kebodohan saya. Entah bagaimana caranya, diri saya benar-benar apa adanya ketika telah memasuki dunia mereka. Apa adanya mereka adalah apa adanya saya.

Kini sebagai seorang guru, mengajar bukan satu-satunya tujuan untuk bisa mencapai tujuan dari pendidikan. Pencapaian kurikulum hanya akan semakin memperparah keadaan belajar siswa. Sejujurnya, saya mengajar pun tidak didasari oleh RPP dan tetek-bengeknya itu. Saya bukan orang yang sistematis, dan tentu saja tak ingin dikekang oleh aturan-aturan tertentu. Saya mangajar dengan cara saya. Dan saya belajar dengan cara saya.

Saya pernah mendengar bahwa guru yang baik di zaman sekarang bukan lagi guru yang pandai, yang tahu cara memahamkan murid-muridnya. Guru yang menghafal segala jenis rumus dan tahu cara membuat murid-muridnya juara kelas. Akan tetapi, guru yang baik adalah guru yang mampu membangun minat dan motivasi belajar bagi murid-muridnya. Guru yang baik adalah guru yang mampu membangun impian untuk menjadi titik tolak usaha hidup bagi murid-muridnya. Guru yang baik, mereka yang mampu menerbitkan harapan di setiap jalinan keputusasaan murid-muridnya.

Sedikitnya, saya mencoba menjadi guru yang baik, meskipun pada hakikatnya saya tidak berharap menjadi seorang guru. Pun meskipun saya hanya mampu menularkan senyum di tiap raut kebingungan mereka.

“Lalu, kakak mau jadi apa kalau bukan jadi guru?” saya menemukan tanya ini kemarin, ketika rasa penasaran mereka akhirnya tergugah. Wajar. Saya menjalani aktivitas layaknya seorang guru bagi mereka. Tapi, lha kok, saya tidak berkeinginan menjadi guru.

“Hmm… penulis. Saya akan mengawalinya mungkin sebagai seorang jurnalis atau wartawan,” ungkap saya mantap kepada adik-adik saya di kelas Aljabar.

Kok penulis? Apa hubungan Matematika dengan menulis, Kak?” raut wajah penasaran (heran) semakin tergambar jelas di ruangan kelas itu.

Kan bisa itu penulis buku pelajaran Matematika,” celetuk salah seorang dari mereka yang disambut tawa seisi kelas. Bisa juga sih. Saya ikut tertawa mendengar gurauan mereka. Kelas mendadak riuh menjawab dengan persepsi masing-masing.

“Hm…Kenapa ya? Mungkin karena saya ingin terus dikenang orang lain. Ketika saya tidak ada lagi, orang-orang bisa mengenal saya lewat tulisan-tulisan yang saya tinggalkan. Selain itu, karena selagi muda, saya ingin menjelajahi banyak tempat. Saya ingin belajar lebih banyak, untuk membagi lebih banyak,”

“Sampai kapan kakak ingin menulis?” lanjut yang lainnya lagi.

“Sampai ketika saya merasa telah cukup membagi banyak hal kepada orang lain,”

Saya menemukan beberapa raut wajah tergugah dari mereka. Mungkin, sebagian besar punya arah hidup yang sama. Sebagian besarnya (yang saya yakin) saat ini bercita-cita sebagai dokter, kelak akan mengubah haluannya. Jalan mereka masih panjang untuk mematok cita-cita sebagai dokter, yang kita tahu bahwa "dokter" adalah cita-cita klise semasa kecil.

Ada dokter, tentara, polisi, pilot, guru, suster, PNS. Siapa pula yang telah menanamkan doktrin profesi "hanya" itu? Sejatinya, masih ada banyak profesi yang seharusnya diketahui oleh mereka. Ada wartawan, penulis, creative designer, ahli IT, Akuntan, direktur perusahaan, dan masih banyak lagi. Ya, sudahlah. Apapun cita-cita dan impian mereka, selama mereka ingin bertekad dan berusaha, selalu ada keajaiban-keajaiban kecil yang memutar dalam kehidupan mereka kelak.

“Memangnya, cita-cita dan impian itu berbeda ya, Kak?” di lain kesempatan, saya menemukan tanya ini.

Bagi saya, cita-cita itu semacam profesi atau karir yang menjadi pangkal kehidupan kita di masa mendatang.

“...cita-cita itu,... sesuatu yang baik buat kamu waktu kamu besar nanti. Sesuatu yang buat kamu senang melakukannya... Kalau kamu nggak senang, berarti itu bukan cita-cita kamu...” –by Donny Dhirgantoro, 2--

Sementara impian itu…sesuatu yang ingin kita wujudkan dalam kehidupan kita. Impian itu semacam harapan yang seakan-akan tidak mungkin kita wujudkan. Impossible. Rasa-rasanya mustahil untuk terkabulkan. Akan tetapi, jika diusahakan dan diniatkan, ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa mewujudkannya. Yang kita lakukan, cukup percaya pada impian itu. Just believe it!


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar