Minggu, 29 September 2013

K-E-P-O

September 29, 2013
Sumber: googling
“Aduh, Kepo banget deh, Kak”

Saya terbiasa mendengar ungkapan semacam itu dari murid-murid saya. Dewasa ini, mereka tahu istilah-istilah itu mungkin dari televisi. Sekadar tahu, tanpa tahu penjabarannya. Knowing Every Particularly Object. Alias KEPO. Secara umum, berusaha mengetahui sesuatu secara mendetail, hingga ke bagian-bagian paling kecilnya.

Maaf yah, saya tidak akan berbicara tentang KEPO yang berusaha mengetahui setiap detail akun sosial media seseorang. Istilah kerennya, stalking. Saya lebih mengacu pada tanggung jawab kami sebagai seorang pelaku media kampus.

Nah, pada dasarnya, kami para pewarta memang dituntut untuk KEPO. Wartawan harus banyak tahu. Setiap menjalankan tugas-tugas liputan, adalah penting ketika menggali informasi hingga ke bagian-bagian terkecilnya. Terkadang, tanpa disangka-sangka, dari informasi-informasi kecil akan menguak informasi-informasi besar.

Tak heran, ketika menjalankan proses wawancara terhadap narasumber, kami dianjurkan untuk banyak bertanya. Senjata utama wartawan adalah bertanya. Pertanyaan yang diajukan pun bisa bermacam-macam. Mulai dari pertanyaan yang berat-berat, hingga pertanyaan yang remeh-temeh, semisal, “Anda berasal darimana?”, atau, “Nama lengkap Anda siapa?”

“Ketika bertemu dan bertatap muka dengan narasumber, tinggallah minimal 15 menit bersama narasumber itu. Kalau pertanyaan tentang topik berita habis, ya coba bangun perbincangan lain. Pokoknya usahakan tinggal agak lama dengan narasumber,” hal-hal yang masih melekat di kepala saya yang pernah disampaikan oleh senior saya.

Karena, pada dasarnya, kami para wartawan tidak hanya dituntut untuk mencari berita saja. Akan tetapi, membangun jaringan dan hubungan atau relasi dengan narasumber menjadi hal yang patut diperhitungkan.

“Wartawan memang harus KEPO,” sanggah saya selalu di sela-sela candaan mereka.

Saking KEPO-nya, mungkin segala hal bisa diketahuinya. Hanya saja, tetap ada batasan-batasan yang perlu dijaga dari informasi-informasi yang digali.

Tak jarang, sifat yang ingin-banyak-tahu menjadikan kami orang-orang yang “serba tahu” di redaksi kami. Hahaha…jangankan informasi tentang kampus, bahkan informasi tentang kehidupan pribadi teman-teman lainnya turut menjadi korban “keganasan” kami. Oleh karena itu, ada mitos yang berkembang di redaksi kami,

“Kalau punya pacar dan belum dibawa ke redaksi, maka pacarnya belum lolos uji verifikasi,”

Verifikasi? Yah, verifikasi. Karena keisengan kami sebagai orang-orang yang ingin-banyak-tahu juga ingin tahu siapa orang beruntung yang berhasil menarik hati salah seorang pewarta kampus seperti kami? Oleh karena itu, perlu diuji verifikasi dulu, apakah ia pantas bertahan dengan teman kami itu. Hahaha…harap maklum, kadangkala seorang wartawan tak punya banyak waktu untuk pasangannya.

Pernah suatu kali seorang teman saya, sesama pengelola, sesumbar tentang pacarnya. Menurut kabar, ia baru saja jadian di hari itu. Entah benar atau tidak. Karena penasaran, kami mencari tahu. Tentu saja, facebook menjadi bahan “penyelidikan” pertama kami. Maklum, masa-masa itu adalah pertama kalinya redaksi kami memasang jaringan wifi. Beramai-ramailah kami menjalankan “misi” verifikasi.

Akun ditemukan!! Komentar dilayangkan! Meski hanya sekadar menyapa awalnya, namun kemudian berlanjut dengan beberapa komentar tentang teman kami beserta pasangannya. Bola panas bergulir. Akun teman-teman yang lain pun mulai menimpali. Padahal, kami hanya berjarak dua-tiga meter di depan komputer atau laptop masing-masing. 

“Hei! Dia komen! Mana, biar saya yang komen lagi! Kau lanjut dengan komen ini yaaa.!!... bla…bla..” teman-teman saya bersahut-sahutan (bersemangat) di dalam redaksi.

“Iya! Tapi, kau yang sanggah ya. Saya yang seolah-olah mendukungnya! Oke?”

Haha…hal-hal seperti itu terkadang membuat saya terpingkal-pingkal. Bahkan, saya pun dulu pernah menjadi korbannya, hanya gara-gara menulis status “rindu”. Ckckck….jumlah komentar yang bersusun sampai 280-an.

Imbasnya, teman saya yang baru sehari jadian itu, esok harinya diputuskan oleh pacarnya. Entah gara-gara apa. Mungkin karena perempuan itu tidak tahan berpacaran dengan seorang wartawan yang punya teman-teman dengan rasa penasaran yang teramat tinggi. Kalau sudah seperti itu, ia tidak lulus uji verifikasi. Seorang perempuan yang baik harus senantiasa percaya pada pasangannya, bukan pada perkataan-perkataan orang lain. Teman saya itu lantas hanya bisa tertawa-tawa menyesali tingkah usil teman-temannya, termasuk saya. Hahaha…

Oleh karena itu, berkembang pula mitos di redaksi kami, jangan sekali-kali menyebut-nyebut tentang pacar kepada teman-teman lain di redaksi. Kalaupun diketahui, pasangannya harus benar-benar siap mental melalui uji verifikasi. Hahahaha

Pada dasarnya, di redaksi, kami saling menjaga, kami saling menertawakan kebodohan masing-masing. :D

Wartawan itu mesti KEPO? Bagi saya, selama apa yang ingin diketahuinya adalah hal-hal yang baik dan bukan suatu aib. Privasi orang lain pun, selama kita sudah kenal dekat atau akrab, hal yang lumrah untuk diperbincangkan. Ketika saya ingin dekat dengan orang lain, maka saya pun harus tahu seperti apa orang tersebut. Saya tidak akan pernah tahu cara memperlakukannya ketika saya tidak betul-betul mengenalnya. Nah, hal semacam itu berlaku pula untuk narasumber-narasumber kami.

Di kalangan kami juga berlaku istilah off the record. Artinya, ketika seorang narasumber tidak ingin perkataannya dipublikasikan, off the record, maka kami tidak berhak untuk menuliskannya. Terkecuali untuk hal-hal yang mengancam kemaslahatan orang banyak, apalagi negara. Simple.

“Jadi wartawan itu sulit, Kak?”

Saya menggeleng. Tidak ada yang sulit di dunia ini ketika kita tahu caranya berusaha. Sedikit demi sedikit. ^_^.


*Menulis itu adalah untuk membekukan setiap momen-momen yang kita miliki. Merangkum pengetahuan yang kelak mungkin saja kita akan melupakannya. Dan menenangkan hati yang sedang dirundung kekalutan dari dunia yang sedang dijalaninya.....



--Imam Rahmanto--

Jumat, 27 September 2013

Bukan Kepala

September 27, 2013

“Dia adalah Kepala Redaksi,….” Ujar salah seorang teman memperkenalkan saya di tengah-tengah lembaganya yang sementara berulang tahun. Aduh, padahal jabatan saya di lembaga pers bukan seperti yang disebutkannya. Saya sendiri tak yakin kalau jabatan seperti itu ada.

Maklum. Bagi orang-orang yang tak pernah bergelut di dunia pers, mereka seringkali tidak mengenali peran-peran yang ada disana. Seperti halnya saya, yang tentu saja tidak mengenali peran dan tugas spesifik lembaga penelitian yang dipimpinnya. Yah, karena saya memang tidak memfokuskan diri pada lembaga itu.

Akan tetapi, entah kenapa, saya merasa risih sendiri ketika mendengar orang lain asal menyebut “label” itu tanpa tahu tugas dan tanggung jawabnya. Kesannya, kalau mereka (tanpa sengaja) seenaknya menyamakan antara Kepala Redaksi dengan Pemimpin Redaksi (Pemred), seolah-olah tugasnya pun sama. Padahal, jauh dari ekspektasi.

Kepala Redaksi, entah benar ada atau tidak, memiliki tugas mengepalai redaksi. Ia menjaga kelangsungan redaksi. Kesannya seperti orang yang setiap hari tugasnya menunggui redaksi. Segala yang bermukim di redaksi menjadi tanggung jawabnya. Barang-barang di redaksi ada dalam pengawasannya. Ibaratnya, seperti “kepala gudang”, dan tidak berhubungan sama sekali dengan proses penerbitan media.

Itu dalam benak saya jika orang menyebut (atau bahkan menyamakan) Kepala Redaksi.

Sementara, dalam pengertian media, Pemimpin Redaksi punya peran yang jauh lebih berat. Yah, berat sekali. :(

Benar, loh. Tugas dan tanggung jawabnya sangat berat. Makanya saya agak risih jika kesannya disamakan dengan “kepala gudang”. :/

Di setiap media penerbitan atau pers manapun, peran pemimpin redaksi sangatlah urgent. Segala hal yang berkaitan dengan penerbitan media, dikelola olehnya. Mulai dari proses perencanaan berita, hingga menghimpun dan menentukan kelayakan terbit suatu berita. Ia bertanggung jawab penuh atas terbitnya semua berita di media yang bersangkutan. Bahkan, jikalaupun ada complain dari pembaca, ia tetap mempertanggungjawabkan berita-berita yang ditulis oleh reporternya. Makanya itu, berita layak muat juga ditentukan langsung oleh keputusannya.

Misal, memulai suatu penerbitan koran dengan perencanaan peliputan. Pembagian tugas kepada reporter-reporternya. Terjun langsung ke lapangan membantu reporternya. Menagih liputan masing-masing reporter ketika tiba tenggat deadlinenya. Menentukan layak-tidaknya suatu berita diterbitkan di korannya. Terkadang, menentukan posisi berita di koran yang akan diterbitkan. Dan jika sudah terbit, bersiap menerima komplain dari pembaca atas berita yang diterbitkannya.

Nah, jelas sekali perbedaan menyebutkan “Kepala” dengan “Pemimpin”. Lagi, bagi orang awam mungkin hal itu dianggap hal sepele. Menyamakannya secara membabi buta. Akan tetapi, bagi saya, yang merasakan sendiri keras dan pahitnya, keduanya jauh sekali berbeda. Amat berbeda. Jika orang menyamakannya, seolah-olah tugas pemimpin redaksi tidak jauh berbeda dengan seorang kepala gudang atau penjaga rumah.

Oleh karena itu, saya sendiri tidak menerima (dalam diam) jika seseorang menyamakan keduanya. Mereka tidak pernah sadar, betapa menjadi seorang pemimpin redaksi itu menguras mental dan pikiran… dan juga tenaga…

--Imam Rahmanto--

Senin, 23 September 2013

Sehari Lalu...

September 23, 2013
Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Dalam catatan Tuhan, semua sudah terencana dengan baik, termasuk kelahiran dan kematian seorang manusia. Setiap kelahiran membawa tawa dan setiap kematian membawa tangis.

Dan hari ini, eh kemarin, adalah hari yang pastinya diwarnai oleh tawa bagi yang memperingati hari lahirnya. Tawa yang semoga tak berkesudahan. Karena kita selalu mengharapkan ada tawa di setiap perjalanan lika-liku kehidupan manusia. Camkan, segala hal selalu punya sisi yang bisa ditertawakan, bahkan untuk diri sendiri. Kamu suka menertawakan diri sendiri, bukan?

Waktu itu melesat bagai tembakan peluru. Tak peduli bagaimana kita melihatnya, ia terus meluncur ke arah ia ditujukan. Terus bergerak maju, tak pernah mundur sekalipun. Menyinkronkan diri dengan waktu yang melekat pada kehidupan kita. Hidup itu perjalanan waktu. Perlahan tapi pasti kita akan mencapai ujungnya.

Tawa-tawa dan senyum-senyum mengejek itu, saya selalu mengingatnya. Saya tidak pernah menyangka pertama kalinya berjumpa dengan seorang perempuan kecil yang ceria, cerewet, dan cengengesan. Haha…ya, pertama kalinya ketika saya merasa asing diantara teman-teman disana, ia menjadi korban ledekan saya. Sudah menjadi kebiasaan saya bercanda dengan teman-teman lain untuk memecah suasana, dalam rapat sekalipun. Saya senang meledeknya, karena senang melihatnya selalu pura-pura merengut . Yang tentu saja dibalas dengan ledekan pada saya. Saya terhibur. Saya tertawa.

Nah, itu kamu yang selalu tak terima dikatakan anak kecil. Hahaha…julukan itu hanya kiasan belaka loh. Bukan bermaksud mengerdilkan kehadiranmu, melainkan menyematkan satu keunikan padamu. Mendewasalah. Saya percaya ketika kau melakukannya. Di dunia ini, tak ada orang yang tak mampu bersikap dewasa. Hanya saja, saya juga percaya, tak selalu perjalanan kehidupan kita harus dilalui dengan sikap-sikap dewasa. Ada masalah-masalah yang perlu diselesaikan oleh sifat kekanak-kanakan.

Ah ya, pertama kali melihatnya, matanya sudah menyiratkan sedikit gurat kesedihan yang dipendam. Menunggu, katanya. Terkadang tawa-tawa yang diperlihatkannya nampak dibuat-buat. Ia ingin mengalihkan dunia dari kesendiriannya.

Kepada kamu yang suka menertawakan kecerobohan-kecerobohanmu sendiri, ingatlah hari dimana kau dilahirkan. Ada banyak doa yang menyertaimu. Peluk dan cium seorang ibu menyemat lingkar tubuhmu. Dan ayah, yang semakin memutar otaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu kelak.

Ya, kepada kamu yang telah merayakan alur kebahagiaannya sehari kemarin. Menyisakan napas-napas bahagia dan sengal semangat untuk menghadapi hari esok. Berdoalah, karena Tuhan Maha Pemurah. Untaian kata oleh orang-orang yang mendoakanmu hari ini, bukan semata basa-basi. Melainkan sebentuk kasih sayang mereka padamu. Kasih sayang itu takkan kunjung habis hanya karena kau memendam segumpal kelam masa silam.

Maaf, saya tak bisa memberikan apa-apa. Saya bukan Doraemon yang punya kantong ajaib untuk memunculkan apa saja. Hanya sebaris doa saja yang bisa saya panjatkan. Doa yang juga biasa-biasa saja, entah akan diijabah Tuhan atau tidak. Saya tidak begitu yakin telah menjalankan segala perintah-Nya dengan benar.

“Tuhan, kabulkanlah doa-doa baik yang terhimpun hari ini untuknya,”

Katamu, masa kelam itu takdir. Tapi bagiku, itu kekonyolan. Menyimpan luka dan membiarkannya bersarang menggerogoti setiap kesepian kita adalah sebenar-benarnya luka. Apa yang terjadi pada kita adalah apa yang selalu kita pikirkan. Kitalah yang menciptakan kesempatan bagi diri kita untuk berubah. Dan kesempatan itu selalu dihadiahkan bagi siapa saja yang ingin menciptakannya.

“Oiya, satu lagi, Tuhan. Mungkin untuk kali ini, biarkan ia menikmati segudang rezeki yang telah kau siapkan untuknya. Semisal segerobak es krim, mungkin,” ^_^.



--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 September 2013

Pe-En-Es?

September 22, 2013

Pernah suatu kali seorang murid bertanya pada saya di tengah-tengah pembelajaran kelas,

“Jadi, pada akhirnya kakak akan menjadi PNS?”

Saya tersenyum mendengarnya. Dalam benak saya, sama sekali tidak terpatri keinginan bulat untuk menjadi seorang pegawai pemerintahan seperti itu. Kemana takdir akan dituntun oleh saya, kesanalah takdir saya seharusnya. 

Saya sama sekali tidak berkeinginan besar menjadi seorang PNS. Memang sih, gajinya sudah pasti. Biasanya dalam skala yang besar. Ditanggung oleh pemerintah lagi. Ada biaya pensiunnya juga malah. Bahkan, sebenarnya, (mungkin) 85 persen orang Indonesia berkeinginan besar menjadi pegawai pemerintahan tersebut, termasuk orang tua saya. Wajar, ketika orang benar-benar mematok “kebahagiaannya” pada urusan “uang”, maka pekerjaan menjadi tolak ukurnya.

“Kalau kau bisa lulus tahun depan, di bulan Agustus, ada kesempatan besar untuk penerimaan CPNS. Katanya, bakal ada penerimaan besar-besaran di tahun 2014,” seorang teman menyarankan pada saya.

Menjalankan pekerjaan yang lebih banyak menghabiskan banyak waktu di ruangan. Menunggu. Bertemu dengan orang-orang yang sama. Berlangsung tiap hari. Tiap bulan. Tiap tahun. Nyaris melakukan hal-hal yang serupa. Saya tidak begitu menyukainya. Apalagi dengan seragam-seragam yang selalu harus dipakai dalam pekerjaan kita. Sedikitnya, guru agak condong pula arah sana, meskipun pekerjaan guru adalah pekerjaan mulia. Tiap orang menginginkan hal-hal yang berbeda, bukan? Kepala yang berbeda = isi yang beraneka agam.

Oleh karenanya, saya memimpikan pekerjaan yang bisa dengan bebas membuat saya mengunjungi banyak tempat. Melakukan banyak hal. Tentu saja, bisa menuliskan banyak hal pula. Dan apa yang saya jalani sekarang, perlahan mengantarkan saya pada tujuan itu. Yang tersisa kini, saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai.

Saya agak abai untuk berpikir tentang uang lebih dulu, meskipun anggapan “Segalanya butuh uang” memang tidak bisa dipungkiri. Selama pekerjaan yang akan saya geluti itu bisa mencukupi diri saya sendiri, atau berbagi dengan orang lain, maka itu sudah cukup bagi saya. Jikalaupun saya kelak memiliki istri, seharusnya istri saya pun adalah orang yang mampu mengimbangi perjalanan-perjalanan saya. Mungkin, ia pun seharusnya orang yang “tahan” dengan perjalanan-perjalanan saya kelak. ;)

Masa muda, ya semestinya menjadi masa-masa kita mengunjungi dan mempelajari banyak hal, bukan? Urusan uang bukan menjadi urusan utama pengukur kebahagiaan. Kelak jika saya sudah punya anak dan istri, maka soal penghasilan baru menjadi tanggungan kebahagiaan itu pula. Membahagiakan orang lain, adalah dengan menghidupi dan mengayominya. Dari sana, barulah mencari pekerjaan dengan penghasilan yang mencukupi keluarga seutuhnya.

Saya menggariskan, kelak beberapa tempat destinasi dalam -kertas yang tertempel di langit-langit kamar saya- akan terwujud. I wish it! 


--Imam Rahmanto--

Menantang Masalah

September 22, 2013
Saya bingung. Ada banyak hal yang melilit di kepala saya dan secara bergantian memaksa diperhatikan. Padahal fokus saya hanya bisa satu (atau paling tidak dua hal), tidak bisa semuanya sekaligus secara bersamaan.

Dan terkadang ada beberapa hal yang pada kenyataannya tidak mampu saya selesaikan dengan baik. Saya menyadari itu. Tidak setiap waktu keajaiban-keajaiban kecil bisa diciptakan. Ada banyak orang lain di belahan bumi sana yang juga butuh keajaiban-keajaiban itu.

Tantangan, katanya harus selalu diselesaikan dengan baik. Diselesaikan dengan sepenuh hati.

Saya mengenal seorang adik junior saya, yang juga seorang bawahan saya di lembaga pers kampus. Saya cukup kagum dengannya. Tampilannya yang kecil, tidak menunjukkan bahwa dia orang yang lemah. Makanya saya tidak pernah berani meremehkan kemampuan orang-orang kecil. Hal-hal besar pada kenyataannya dirangkai dari hal-hal kecil. Justru, untuk membuktikan kepada orang lain tentang kemampuannya, ia mati-matian selalu memenuhi setiap tugas maupun tantangan yang saya berikan. Tak satupun tugas liputan kampus yang saya berikan luput dari perhatiannya. Baginya, tantangan adalah motivasinya untuk berbuat lebih baik.

“Saya suka tantangan,” ujarnya dengan sikap kerasnya. Garis mata tegasnya menyiratkan setiap keteguhan yang dimilikinya. Ia bukan tipe orang-orang yang periang atau cerewet. Hanya menanggapi sekilas setiap percakapan yang dilayangkan padanya. Seperlunya. Akan tetapi, nyaris setiap tugas yang saya bebankan dilaksanakan dengan “Iya”.

Diantara teman-teman lainnya, ia menjadi orang yang paling bijak menyikapi sesuatu. Menjadi penyemangat bagi teman-teman yang lainnya. Menjadi penyemangat bagi dirinya sendiri. Sungguh, orang-orang yang unik. Menjadi orang-orang yang tidak banyak mengeluh, bahkan kepada setiap masalah yang dimilikinya.

Saya belajar darinya menyikapi setiap tantangan. Dan masalah atau apapun itu namanya adalah tantangan dalam bentuk berbeda. Skala “belajar”nya lebih tinggi.

 “Dengan melarikan diri dari masalah, bisa membuat hati kita tenang,” seorang teman pernah berkata pada saya.

“Masalah bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Anonim. Tapi, pada dasarnya memang begitu,” bantah saya.

“Bilang saja kalau tidak bisa melarikan diri dari masalahnya,” cibirnya.

Melarikan diri? Setiap saat kita bisa melarikan diri. Bahkan tanpa harus selalu berharap agar kita sejatinya menghilang saja dari dunia ini (ketika berhadapan dengan masalah). Sekali-kali saya juga terkadang melarikan diri dari permasalahan yang menghimpit saya. Hanya saja, apakah dengan melarikan diri permasalahan akan terselesaikan?

Sejenak, memang kita akan menganggapnya selesai. Akan tetapi itu hanya anggapan jangka pendek. Sewaktu-waktu masalah itu sekonyong-konyong akan menabrak ketika kita telah kembali pada kesadaran semula. Dua kali lipat. Dan semakin membuat kita terpuruk. Seharusnya, segala hal yang dimulai seyogyanya diakhiri pula dengan baik.

Saya tidak tahu bagaimana menyikapi setiap persoalan hidup. Saya yakin, seorang Mario teguh pun tak selalu bisa menyelesaikan masalahnya dengan bijak. Orang bijak biasanya dihadapkan pada pilihan-pilihan (bijak) yang ditetapkannya sendiri. Tidak memilih pun dianggap suatu pilihan. Untuk itu, dia belajar. Lalu, kenapa tidak kita menciptakan pilihan-pilihan kita juga sendiri?

Sejatinya, kita menjalani hidup adalah dengan dan untuk belajar. Kata orang, hidup adalah tantangan. Hidup adalah pilihan. Tidak perlu mengeluh. Yang bisa dilakukan cukup tersenyum dan selalu percaya bahwa segalanya akan berjalan sesuai dengan yang dipikirkan dan diimpikan….


--Imam Rahmanto--



*Ps: postingan yang sok-sok bijak karena berusaha untuk menyemangati diri sendiri. Hahaha…

Kamis, 12 September 2013

Tupai yang Terjatuh

September 12, 2013
Selamat pagi!

Saya selalu menyukainya. Memandangi langit di kala orang-orang masih terlelap dengan buaian mimpi mereka. Memandangi awan bias kemerah-merahan diterpa sinar matahari yang keluar sepotong-potong. Dan menantikan kehangatan di setiap pangkal hari. Selalu menyenangkan.

Dan...inspirasi, motivasi, semangat, bagi saya, selalu datang di pagi hari. Bahkan pagi-pagi buta. Dengan bahan-bahan itu, kita bisa menciptakan hari yang baik. Just believe it! Tentu, tidak lupa dengan menikmati seteguk Cappuccino. Tiba-tiba saya teringat dengan beberapa orang yang pernah menghadiahi saya minuman itu. Terima kasih. :)

“Kenapa suka Cappuccino?” seorang murid pernah bertanya pada saya.

“Hm..kenapa ya? Mungkin karena minuman itu enak. Atau mungkin karena minuman itu pula yang bisa menemani saya di waktu-waktu orang lain terlelap, dan saya bisa belajar lebih banyak tentang kehidupan,” jawab saya agak ngelantur. Meskipun pada dasarnya apa yang saya ungkapkan ada benarnya juga.

Pagi ini, saya masih menghabiskan waktu dengan duduk di beranda rumah posko sambil memandangi langit yang sebentar lagi berubah terang. Tidak ada jam mengajar buat saya hari ini. Hari Kamis dan Jumat (termasuk Minggu juga), di masa-masa KKN adalah hari libur bagi saya selaku seorang guru (bantu) Matematika. Lagi, saya hanya menangani dua kelas saja di sekolah yang menjadi pusat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) saya. Mmm....”hanya”?? Jam pelajaran Matematika di sekolah manapun cenderung sama banyaknya. Lebih banyak dari pelajaran-pelajaran lainnya. Bersabarlah menjadi guru bidang studi itu......

Menjadi guru bukanlah perkara sulit. Akan tetapi, menjadi guru yang baik, bukanlah perkara mudah. Saya sedikitnya belajar dari hal-hal yang telah terjadi selama berinteraksi dengan murid saya di sekolah.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya bakal jatuh juga. Tanpa persiapan yang matang tentu segala hal yang tidak terencana dengan baik akan berantakan, bukan? Ya, ya, ya semacam itulah.

“Mari coba kita selesaikan soal ini,” ujar saya mengarahkan. Hari itu saya membahas salah satu contoh soal di kelas Aljabar.

Tentu saja, dalam pikiran adik-adik saya, soal tersebut bisa diselesaikan dengan mudah oleh saya. Akan tetapi, tahu tidak, saya pun baru menemukannya dalam buku pedoman saya dan belum pernah mencoba mengerjakannya dengan baik. Cukup melihat sekilas dan memikirkannya, saya bisa menyelesaikannya. Begitu pikir saya, dengan berani.

Alhasil, saya menemukan diri saya tersesat dalam penyelesaian soal tersebut. Setelah yakin mampu menyelesaikannya dan menunjuk salah seorang siswa untuk mengerjakannya dengan tuntas, hasilnya jauh dari perkiraan awal. Saya lantas berpikir, ada yang tidak beres.

Benar saja, ketika saya mengecek kembali buku pedoman, memang ada kesalahan penafsiran. Waduh! Perasaan saya pun mendadak diterpa “ketakutan” akan kesalahan yang saya lakukan. Sebagai seorang guru, kata orang, tidak baik menunjukkan “ketidakpintaran” kita di depan murid-murid kita. Pokoknya, siswa harus melihat kita sebagai orang yang pintar.

Dengan berkeringat dingin, saya memperbaiki proses pengerjaan yang sebelumnya telah rampung. Sedikit lebih berhati-hati dari sebelumnya. Taraa!! Dan menghasilkan nilai sesuai dengan yang (seharusnya) diharapkan.

Hahaha....adalah hal lucu melihat diri saya tenggelam dalam kondisi seperti itu. Bayangkan saja, saya yang sejak awal tidak pernah merasa grogi berbicara di depan orang banyak, mendadak berubah kikuk ketika mendapati diri saya melakukan kesalahan di depan murid-murid saya. Meskipun kesalahan tersebut dikaji ulang, namun tentunya saya tidak akan mampu menepis asumsi yang akan muncul dalam benak mereka satu persatu. Entah itu mengenai saya ataupun guru pada umumnya. Mungkin, menurut mata kuliah Microteaching, saya telah gagal menjadi guru pada hari itu. Hahaha...tak apalah.

Lebih menggelikan lagi ketika mendapati wajah saya cemong oleh sisa-sisa warna spidol. Gara-garanya, saya berulang kali mengusap wajah (yang berkeringat) dengan tangan yang berlumuran tinta-tinta bekas menulis di whiteboard. Nyaris saja semua murid di kelas terkikik geli melihat wajah saya. Emm...mungkin lebih tepatnya memandang iba. :(

Saya hanya berusaha menjadi guru yang baik. Saya tidak pernah bermaksud menjadi guru yang pintar, ataupun sok pintar. Karena hal itu bukan kapabilitas saya. Meskipun mengajarkan sesuatu pada orang lain adalah hal yang menyenangkan. Cukup membanggakan bisa mengajarkan kepandaian untuk orang lain. Akan tetapi, lebih menyenangkan bisa membagi semangat untuk orang lain. Mm..saya lebih memilih opsi kedua.

Salah, saya pun mengakuinya. Melakukan kesalahan adalah hal manusiawi. Namun mengakuinya, bukan perkara mudah. Terkadang orang-orang yang melakukan kesalahan tidak ingin mengakui atau bahkan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya. Sebagian besar orang mungkin malah menghindar.

Hal semacam itu mungkin banyak pula terjadi pada guru-guru yang tak pernah ingin dianggap "tidak pintar" oleh murid-muridnya. Kesannya, seolah-olah, segala hal yang dikemukakan oleh guru selalu benar. Padahal, sejatinya seorang guru adalah juga manusia biasa. Tiada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. 

"Hehe...saya minta maaf ya kalau saya nyaris menyesatkan kalian," pinta saya sambil mengusap-usap wajah saya. Meminta maaf, bukanlah hal yang perlu disembunyikan. Bukan hal tabu.

Selalu, saya ingin mengajarkan, oh bukan, tapi mendidik murid-murid saya tentang "hidup". Bukan tentang pelajaran-pelajaran formal yang didapatkan di sekolah. Jikalau untuk membuat mereka pintar satu-satunya tujuan belajar, maka saya mungkin bukanlah orang yang pantas bagi mereka. Saya bukan orang pandai. Saya hanya orang biasa yang mencoba untuk membagi "hidup" saya untuk orang lain. Sedikit mengajarkan mereka tentang semangat, inspirasi, dan motivasi membangun impian dan cita-cita mereka. Oleh karena itu, saya menjadi orang ter-cerewet ketika berada dalam kelas mengajar. haha... :p

Sumber gambar: Googling
Seekor tupai mampu melompat dari satu batang pohon ke batang yang lain. Akan tetapi, se-sempurna-nya kaki dan tangan yang diciptakan Tuhan untuknya, terkadang sesekali ia pernah jatuh berdebum ke tanah. Dan, saya bukan tupai itu. Saya justru seorang manusia, yang pastinya banyak melakukan kesalahan. Entah itu disengaja maupun tidak. Akan tetapi, yakinlah selalu, di setiap kesalahan yang kita lakukan selalu ada kesmpatan untuk berbuat benar. Memperbaikinya. Dan di setiap hal yang kita lakukan, salah atau benar, selalu ada celah untuk menertawakannya.

Dan tentu saja, pada hari itu saya benar-benar menunjukkan betapa berharganya menjadi orang berani ketimbang orang pandai.


--Imam Rahmanto-- 

Kamis, 05 September 2013

Expecto Patronum!

September 05, 2013
Expecto patronum! 

Salah satu mantra keajaiban yang dilontarkan oleh tokoh fiksi Harry Potter untuk mengusir Dementor, makhluk penjaga penjara Azkaban yang menghisap keputusasaan manusia. Dari sihir tersebut menjelma seekor kijang bertanduk yang menerjang Dementor. Patronus tiap penyihir berbeda-beda, tergantung dari kepribadian masing-masing yang akan menjelma menjadi karakter-karakter unik hewan tertentu.

Expecto patronum!

Ada Dementor dalam diri saya! Ia menciptakan mimpi-mimpi keputusasaan dalam benak saya. Ia mengambil tiap gambaran kepercayaan saya! Saya ingin mengusirnya!

Untuk beberapa hari ini, saya harus mengorbankan waktu bolak-balik Makassar-Pangkep, lokasi KKN-lokasi kampus. Yah, sudah menjadi konsekuensi yang harus saya pertanggungjawabkan di lembaga pers, tempat saya mengabdikan diri dan menimba ilmu-ilmu jurnalistik. Meskipun, tanpa saya sadari, konsekuensi itu pula yang terkadang membuat saya tak mampu berpikir rasional. Tak bisa mendinginkan kepala. Nyaris meledakkan semua hal-hal yang dikambinghitamkan. Dan butuh sedikit dorongan untuk kembali pada jalur saya…… Mengeluh itu manusiawi, katanya. Selama kita menjaga kuantitas tetap pada batas.

Yah, tentu saja. Segalanya terkadang diperbolehkan selama tetap berada pada jalurnya atau batas-batas yang telah ditentukan.

Ketika Dementor menghisap kenangan dari diri manusia.

Segalanya adalah lahan belajar. Kita bisa belajar apa saja darimana saja. Khususnya di sekolah, tapi bukan pada konteks belajar ilmunya. Seperti halnya ketika saya belajar untuk mengembalikan semangat yang nyaris padam dalam diri saya. Haha…saya senang melihat mereka tertawa. Sekali lagi, tawa itu adalah “virus” menular. Ia menular lebih cepat dari penyakit manapun. Maka ketika ada tawa yang terhimpun dalam kelas mengajar saya, maka tawa itu akan menular mengembangkan tiap inci kulit bibir. Saya berharap, kekecewaan dan beban yang saya pikul dari pekerjaan saya bisa terelaksasi dengan sempurna.

“Ayolah, jangan selalu mengeluh. Orang-orang yang terlalu banyak mengeluh sejatinya tidak bisa menyelesaikan apapun,” ujar saya kepada “murid-murid” saya di sekolah. Kerap kali mereka mengeluh ketika diberikan tugas di akhir pertemuan pembelajaran. Bahkan untuk disodorkan contoh soal Matematika yang “agak sulit” saja mereka pun mengeluh.

Baru rentang beberapa hari saya menganjurkan mereka untuk tidak banyak mengeluh, saya akhirnya harus mendapati diri saya dengan keluhan-keluhan itu.

“Tidak usah banyak mengeluh. Kalau bisa, dikerjakan. Kalau merasa tidak bisa, dicoba dulu,” salah seorang kakak senior saya menegur karena mengeluhkan tugas kerja yang diberikannya.

“Seorang pimpinan yang baik itu, tidak banyak mengeluh. Banyak pekerjaan bukan berarti banyak beban. Selama pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai tantangan dan dikerjakan dengan senang hati, maka semuanya akan beres,” lanjutnya lagi. Bagaimana caranya saya mengerjakannya dengan senang hati?

Saya merasa kecil ketika tahu diri saya sendiri tenggelam dalam keluhan-keluhan tak berguna itu. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu saya memotivasi adik-adik saya untuk tidak berputus asa, entah bagaimana perihalnya, beberapa hal membuat saya sedikit putus asa. Mungkin, Tuhan ingin memberikan sedikit pelajaran dari sini. :)

Dunia tak selalu buruk. Mendapati diri saya berada di tengah anak-anak remaja bersemangat, lagi-lagi menularkan saya untuk tetap bersemangat. Saya tak peduli ketika mereka meledek sesekali. Pertanda mereka sudah begitu akrabnya dengan saya. Batas antara “orang asing – pribumi” sudah tak nampak lagi diantara kami. Bagi saya, menjalani kelas dengan suasana ceria seperti itu lebih baik dibandingkan harus diam, diam, dan diam. Tapi bukan ceria dengan ribut akan hal-hal di luar pelajaran. 

Expexto patronum!

Saya ingin menciptakan lagi keajaiban-keajaiban seperti itu. Sedikit mempelajari sihir Patronus milik Harry Potter untuk mengusir Dementor. Saya masih belum tahu, karakter hewan seperti apa yang akan menjelma menerjang keputusasaan dalam benak saya. Mungkin, seekor Phoenix…. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Selasa, 03 September 2013

Belajar dari Mengajarkan (Semangat)

September 03, 2013
(Sumber: googling)

Sekolah adalah tempat kita belajar. Benar-benar belajar. Tentunya bagi siapa saja yang telah masuk ke dalam dunianya, tak terkecuali bagi para pengajar sendiri. Saya menemukannya lewat tatapan haus pengetahuan yang diselingi tawa-tawa penghiburan bagi mereka, adik-adik saya disini, SMAN 2 Pangkajene.

Saya pernah bercerita bahwa sekolah tempat saya mengajar termasuk sekolah unggulan. Akan tetapi, tiap ruangan kelas dinamakan unik. Masing-masing memboyong satu nama ilmuwan atau orang berpengaruh dalam bidang ilmu pengetahuan. Menurut guru-guru yang telah lama mengabdikan dirinya disini, penamaan tersebut untuk menghindari “strata-strata akademik” diantara kalangan siswa. Seperti kelas X. Albert Einstein dan X. Aljabar, yang menjadi kelas tanggung jawab saya menurut bidang studi yang saya ajarkan.

Saya pun pernah bercerita, bahwa label “unggulan” agak membuat bulu kuduk saya merinding. Saya cemas dengan kepandaian yang ditanam oleh masing-masing siswa. “Bisa atau tidak ya saya menjadi guru yang baik?” pikir saya suatu ketika. Akan tetapi, lagi-lagi, mari kita tanamkan prinsip “Kalau tidak bisa menjadi orang pandai, maka jadilah orang berani!” Dan tahu tidak, prinsip itu pulalah yang selalu saya tanamkan kepada adik-adik saya di setiap kelas yang menjadi lahan belajar saya.

Melangkah maju. Itulah yang terpenting.

Nyaris tiga minggu saya menjalani proses PPL di sekolah ini, ada banyak hal yang saya dapatkan. Ada banyak tantangan yang saya pelajari. Ada banyak impian yang ingin saya bangun. Beragam inspirasi semoga datang dari sana.

“Kak, yang ini seperti apa?” perkataan-perkataan klise yang menjadi awal keingintahuan mereka. Dari sini, mereka belajar. Dari sini pula saya belajar.

“Tidak perlu menganggap saya sebagai guru kalian. Karena pada dasarnya disini kita sama-sama belajar. Kalian belajar untuk menambah wawasan pengetahuan Matematika kalian. Saya belajar dari kalian untuk menjadi guru yang baik bagi kalian,” dan tentu saja kata-kata ini terkadang menjadi pelecut bagi saya untuk belajar lebih jauh tentang mereka. Yah, meskipun semata-mata menjadi guru bukanlah tujuan akhir atas perjalanan hidup (dan karir) saya. Saya diam-diam belajar pula dari kalian cara untuk “hidup”. 

Saya senang dengan anak-anak. Mereka lepas apa adanya. Tawa mereka bukanlah tawa yang dibuat-buat. Meskipun sesungguhnya anak-anak SMA tidak bisa lagi dikatakan anak-anak. Namun, jiwa childish mereka masih tersimpan sampai remaja. Lihat saja, masih banyak dari mereka yang gemar menonton film-film kartun Jepang,…mm..seperti saya sih. -_-

Ketika berinteraksi dengan mereka, ada yang membangun semangat saya. Terkadang saya pun lepas menertawakan kebodohan saya. Entah bagaimana caranya, diri saya benar-benar apa adanya ketika telah memasuki dunia mereka. Apa adanya mereka adalah apa adanya saya.

Kini sebagai seorang guru, mengajar bukan satu-satunya tujuan untuk bisa mencapai tujuan dari pendidikan. Pencapaian kurikulum hanya akan semakin memperparah keadaan belajar siswa. Sejujurnya, saya mengajar pun tidak didasari oleh RPP dan tetek-bengeknya itu. Saya bukan orang yang sistematis, dan tentu saja tak ingin dikekang oleh aturan-aturan tertentu. Saya mangajar dengan cara saya. Dan saya belajar dengan cara saya.

Saya pernah mendengar bahwa guru yang baik di zaman sekarang bukan lagi guru yang pandai, yang tahu cara memahamkan murid-muridnya. Guru yang menghafal segala jenis rumus dan tahu cara membuat murid-muridnya juara kelas. Akan tetapi, guru yang baik adalah guru yang mampu membangun minat dan motivasi belajar bagi murid-muridnya. Guru yang baik adalah guru yang mampu membangun impian untuk menjadi titik tolak usaha hidup bagi murid-muridnya. Guru yang baik, mereka yang mampu menerbitkan harapan di setiap jalinan keputusasaan murid-muridnya.

Sedikitnya, saya mencoba menjadi guru yang baik, meskipun pada hakikatnya saya tidak berharap menjadi seorang guru. Pun meskipun saya hanya mampu menularkan senyum di tiap raut kebingungan mereka.

“Lalu, kakak mau jadi apa kalau bukan jadi guru?” saya menemukan tanya ini kemarin, ketika rasa penasaran mereka akhirnya tergugah. Wajar. Saya menjalani aktivitas layaknya seorang guru bagi mereka. Tapi, lha kok, saya tidak berkeinginan menjadi guru.

“Hmm… penulis. Saya akan mengawalinya mungkin sebagai seorang jurnalis atau wartawan,” ungkap saya mantap kepada adik-adik saya di kelas Aljabar.

Kok penulis? Apa hubungan Matematika dengan menulis, Kak?” raut wajah penasaran (heran) semakin tergambar jelas di ruangan kelas itu.

Kan bisa itu penulis buku pelajaran Matematika,” celetuk salah seorang dari mereka yang disambut tawa seisi kelas. Bisa juga sih. Saya ikut tertawa mendengar gurauan mereka. Kelas mendadak riuh menjawab dengan persepsi masing-masing.

“Hm…Kenapa ya? Mungkin karena saya ingin terus dikenang orang lain. Ketika saya tidak ada lagi, orang-orang bisa mengenal saya lewat tulisan-tulisan yang saya tinggalkan. Selain itu, karena selagi muda, saya ingin menjelajahi banyak tempat. Saya ingin belajar lebih banyak, untuk membagi lebih banyak,”

“Sampai kapan kakak ingin menulis?” lanjut yang lainnya lagi.

“Sampai ketika saya merasa telah cukup membagi banyak hal kepada orang lain,”

Saya menemukan beberapa raut wajah tergugah dari mereka. Mungkin, sebagian besar punya arah hidup yang sama. Sebagian besarnya (yang saya yakin) saat ini bercita-cita sebagai dokter, kelak akan mengubah haluannya. Jalan mereka masih panjang untuk mematok cita-cita sebagai dokter, yang kita tahu bahwa "dokter" adalah cita-cita klise semasa kecil.

Ada dokter, tentara, polisi, pilot, guru, suster, PNS. Siapa pula yang telah menanamkan doktrin profesi "hanya" itu? Sejatinya, masih ada banyak profesi yang seharusnya diketahui oleh mereka. Ada wartawan, penulis, creative designer, ahli IT, Akuntan, direktur perusahaan, dan masih banyak lagi. Ya, sudahlah. Apapun cita-cita dan impian mereka, selama mereka ingin bertekad dan berusaha, selalu ada keajaiban-keajaiban kecil yang memutar dalam kehidupan mereka kelak.

“Memangnya, cita-cita dan impian itu berbeda ya, Kak?” di lain kesempatan, saya menemukan tanya ini.

Bagi saya, cita-cita itu semacam profesi atau karir yang menjadi pangkal kehidupan kita di masa mendatang.

“...cita-cita itu,... sesuatu yang baik buat kamu waktu kamu besar nanti. Sesuatu yang buat kamu senang melakukannya... Kalau kamu nggak senang, berarti itu bukan cita-cita kamu...” –by Donny Dhirgantoro, 2--

Sementara impian itu…sesuatu yang ingin kita wujudkan dalam kehidupan kita. Impian itu semacam harapan yang seakan-akan tidak mungkin kita wujudkan. Impossible. Rasa-rasanya mustahil untuk terkabulkan. Akan tetapi, jika diusahakan dan diniatkan, ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa mewujudkannya. Yang kita lakukan, cukup percaya pada impian itu. Just believe it!


--Imam Rahmanto--

Minggu, 01 September 2013

Kebaikan yang Unik

September 01, 2013
Pagi! Saya selalu menyukainya. Bahkan ketika pagi masih belum pernah menyapa saya dengan kata-kata. #lah, memang bisa?? Hahahaha….semangat ini yang selalu saya rindukan, dan mungkin juga yang selalu dirindukan oleh teman-teman saya. Semoga, semoga….

Cara terbaik untuk menebar kebaikan adalah dengan meninggalkan jejak kebaikan itu sendiri pada orang lain. Kebaikan yang juga turut diikuti orang lain. Kebaikan yang juga akan diturunkannya pula untuk orang-orang di sekitarnya.

Baru beberapa hari yang lalu saya kembali menginjakkan kaki di kota ini. Padahal seharusnya saya menjalankan kewajiban di “tanah KKN”, sekadar menunaikan tugas akademik dan pengabdian diri kepada masyarakat. Akan tetapi, saya merasa lebih bertanggung jawab lagi pada tugas-tugas saya disini. Yah, paling tidak, sebagai seorang pimpinan, saya harus memberikan contoh yang baik kepada teman-teman yang menjadi bagian dari tubuh yang saya pimpin. Di samping itu, saya menganggap keluarga saya untuk saat ini adalah disini…

Kebaikan selalu meninggalkan jejaknya. Atau, paling tidak, segala hal berbeda atau unik yang kita tinggalkan dalam kehidupan kita punya tempatnya masing-masing untuk orang lain. Mungkin, hal yang sama berlaku atas pengarahan saya di masa lalu kepada teman-teman yang menjadi bagian “tubuh” yang saya pimpin dahulu.

Kemarin, entah bagaimana caranya, saya melihat refleksi diri saya dalam sikap seorang teman yang dulu pernah menjadi satu “tubuh” dalam divisi yang saya pimpin. Kini, ia yang menjadi pimpinan dalam divisi itu. Berbekal dengan anggota-anggota yang baru, yang semoga bisa menjadi “kaki” dan “tangan” bagi kepemimpinannya disana.

Terkadang, untuk menerapkan sesuatu yang berbeda, kita harus menemukan banyak sandungan-sandungan kecil. Dianggap melanggar tradisi lah, dianggap tidak sesuai lah, atau malah dianggap pemberontak. Akan tetapi, dulu, saya berpikir bahwa saya hanya mencoba menerapkan sesuatu yang “unik”. Berbeda. Karena saya tidak suka menjadi sama dengan orang lain. Saya ingin selalu berbeda. Bahkan untuk sesuatu yang disukai orang banyak, saya terkadang memilih untuk tidak menyukainya. Yaa, karena orang banyak sudah suka, tidak akan menjadi unik lagi kan bagi saya?

Ya, ya, dan hal seperti itu, dulu berlaku bagi saya. Penerapannya pada divisi kami. Entah bagaimana caranya, kami menjalankannya dengan senang. Apakah karena tagline kami juga berpengaruh ya? haha… Saya hanya berusaha menjalankan kepemimpinan yang berbeda. Unik. Di saat orang lain kebanyakan seperti “itu”. Maka saya harus “ini”.

Dan melihat hal kemarin, kemudian menyadarkan saya. Ada sedikit kebaikan yang telah saya jejakkan untuk mereka. Jejak yang bisa jadi dianggap baik oleh mereka. Mungkin hanya secuil atau sepercik harapan-harapan kecil. Namun setidaknya, kelak ketika saya telah dilepaskan dari ingatan mereka, ada hal-hal kecil yang bisa kembali saya bangun. Semangat.

Saya kemudian bersemangat (lagi) untuk menyenandungkan harapan-harapan yang berbeda, dengan cara-cara yang berbeda (versi saya) kepada “sesuatu” yang saya pimpin. Saya suka unik, dan itu adalah cara saya. ^_^.



--Imam Rahmanto--