Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Gema takbir berkumandang di seantero masjid. Tak peduli masjid besar atau masjid kecil, semuanya beramai-ramai menyuarakan pertanda kemenangan umat Islam menjalani puasa sebulan penuh di Ramadhan. Anak-anak berlarian, berceloteh kiri-kanan tentang pakaian apa yang akan mereka kenakan di hari Lebaran nanti. Berharap pakaiannya lebih baru ketimbang pakaian di hari kemarin. Yah, untuk saat ini, di usia mereka yang masih belia, persoalan lebaran adalah tentang baju baru, kue-kue lebaran, dan "angpau" dari keluarga. Mungkin, perlahan, kelak mereka akan sadar atau tersadarkan esensi sesungguhnya dari Idul Fitri.

Beruntung, meskipun awal puasa berbeda, namun hari raya Idul Fitri 1434 H tahun ini bisa dilangsungkan bersama-sama (keputusan), antara Muhammadiyah atau Kementerian Agama. 

Di hari yang suci bagi umat Islam ini kerap kali dijadikan momentum untuk berkumpul bersama keluarga atau sanak saudara. Baik mahasiswa maupun para pekerja memanfaatkan waktu libur lebarannya mudik ke kampung halaman. Bagi teman-teman saya, hal seperti itu adalah sebuah keharusan.

"Kenapa tidak pulang (kampung)?" tanya setiap teman ketika tahu saya tidak pulang ke rumah.

"Ndak apa-apa. Sekali-kali tidak apa-apa kan berlebaran jauh dari keluarga?" ucap saya. Sejujurnya, saya tidak tahu cara menjawabnya.

"Tidak rindu dengan orang-orang di rumah?"

Lagi, saya hanya bisa menjawabnya dengan tersenyum. Getir. Tahun ini, pertanyaan itu resmi menjadi sekumpulan pertanyaan paling sulit untuk saya jawab setelah pertanyaan, "Kapan kamu wisuda?" Hidup memang membelajarkan kita...

Saya sejatinya merindukan berkumpul bersama keluarga. Menanti setiap detik dibacakannya khotbah di lapangan sembari bercerita dengan teman-teman lama. Menghabiskan Idul Fitri bersama teman-teman mengulas masa lalu, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Yah,tanpa malu-malu kami akan mencicipi setiap sajian hari raya dari rumah ke rumah. Dan, saya rindu semua itu....

Menggantikan itu, bermaksud merasakan kebersamaan dalam keluarga, saya memutuskan untuk berlebaran di rumah salah seorang teman saya. Keluarganya yang juga berasal dari Jawa membuat saya merasa dekat meskipun kami bukan kerabat. Sedikitnya, saya sudah mengenal dan dikenal baik oleh keluarga ini. Lagipula ia juga adalah teman satu kuliah saya. :)

Dan ketika takbir maha suci itu berkumandang di pagi hari, saya bersama teman saya melangkahkan kaki menuju kemenangan. Matahari nampaknya tersenyum riang pagi ini kepada setiap umat Muslim. Sinar hangatnya menyambut kami, kita, umat Islam untuk menjalankan Shalat Ied. Hm...shalat yang akan menjadi penghujung bulan Ramadhan. Shalat yang akan menyucikan jiwa setiap insan di hari raya ini. Semoga.

Tuhan...
Jikalau ini kemenanganku,
Atau kemenangan kami,
Bahkan kemenangan setiap umat
Curahkanlah rahmat dan sayangMu
Kepada ayah dan ibu,
Kepadaku, kepadanya, kepada siapa saja

Tuhan...
Ramadhan berakhir,
Semoga bukan Ramadhan terakhir
Tetap luruskan hati kami
Jadikan fitri, sucikan hati

Engkau pemegang kertas itu,
Di setiap lembarannya,
Coretan kehidupan kami tertera
Di setiap balikannya,
Engkau siapkan kertas putih
Selalu ada kesempatan baru
memulai coretan-coretan baru
Berharap lebih baik,....


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar