Rabu, 28 Agustus 2013

Tulisan yang Mengabadikan Hidup

Agustus 28, 2013
“Bagaimana caranya untuk abadi?” tanya seorang pertapa yang seusia hidupnya telah melakukan perjalanan panjang demi menemukan esensi mendasar tentang keabadian.

“Menulislah…” jawab seseorang yang berusia lebih muda darinya.

Hmm…percakapan di atas hanya serangkaian cerita dalam imajinasi saya. Namun, petikan-petikan itu tentunya bukan tanpa dasar sama sekali. Saya kerap kali menyimaknya dalam setiap kesempatan membaca “dunia”. Bagaimana seorang penulis ternyata telah menemukan caranya untuk menjadi “immortal” alias abadi.

Tepat tengah malam ketika saya terbangun, sebuah pesan singkat alias sms masuk ke handphone saya. Sebuah sms yang mengejutkan batin saya. Apalagi naluri sebagai kuli tinta sontak membuat saya harus segera mencari tahu. 

Di akun jejaring social yang saya miliki telah ramai beberapa ucapan berduka atas kepergian salah seorang penulis dan Budayawan Sulsel sekaligus dosen di kampus saya, Ahyar Anwar. Jelas sudah informasi yang disampaikan oleh teman saya. Lagi, kampus saya berduka. Oh, tidak, melainkan dunia turut pula berduka. Bagaimana tidak, salah seorang “perekam” sejarah dan budaya di Sulsel begitu cepat meninggalkan kenangannya dalam usia yang masih muda. Dan kini, yang tersisa adalah kenangan akan tulisan-tulisannya.

Seorang penulis bisa mati? Ah, bagi saya tidak! Ibarat kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan budi + penulis mati meninggalkan tulisannya. Ketika seorang penulis meninggalkan dunia ini, sejatinya ia tak ada lagi di dunia yang fana ini. Akan tetapi, pemikiran-pemikirannya masih bertebaran lewat tulisan-tulisan yang ditinggalkannya. Ia masih hidup. Ia masih menginspirasi banyak orang. Tentu saja, penulis akan dikenang lewat tulisan-tulisannya yang bermanfaat.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Bertepatan dengan informasi yang saya terima itu, beranda jejaring social saya beramai-ramai telah bermunculan kenangan-kenangan (tulisan) tentang almarhum penulis. Memang, di kampus saya sendiri, ia banyak dikenal lewat tulisan-tulisannya. Ia juga banyak merintis perkumpulan dan komunitas-komunitas penulis di Makassar. Mungkin, baginya, menulis adalah perihal keabadian sepanjang masa. Ia jauh hari ternyata telah menemukan esensi dari menulis itu sendiri, selain untuk dikenal dunia tentunya.

Menyorot keabadian itu, saya pernah berpikir, “Bagaimana caranya agar ketika saya sudah tidak lagi ada di dunia ini, orang-orang masih mengenang saya. Setidaknya mengenang bahwa saya pernah ‘ada’.”

Saya menemukannya lewat menulis. Saya bisa mengabadikan seluruh pemikiran lewat menulis itu. Orang-orang bisa tahu, berbagi, atau belajar lewat tulisan-tulisan yang kita hasilkan. Mengapa tidak? Dari ratusan tulisan (mungkin) yang bisa kita hasilkan, paling sedikit dua-tiga tulisan bisa menginspirasi orang banyak. Menjadikan kita kenangan bagi mereka. Mungkin, bisa pula teladan.

Dan ketika kita meninggalkan dunia yang fana ini, orang-orang dengan sukarela menghidupkan kita lewat tulisan-tulisan yang pernah dihasilkan, bahkan dipublikasikan.

Sejelek-jeleknya tulisan adalah tulisan yang tidak pernah dibaca orang lain. 

Saya turut berduka atas kepergian salah seorang penulis di kampus saya. Ia memang bukan sanak saudara atau kerabat bagi saya. Akan tetapi, sebagai seorang penulis amatir, ia mungkin bisa menjadi ladang belajar bagi saya, kami, para penulis yang masih membutuhkan seorang penuntun. Saya ingin banyak belajar, belajar atas kebijakan hidup yang dilalui oelh setiap penulis yang berusaha bermanfaat bagi orang lain.

Kematian, membuat kita tersadar, sejenak merenungi. Seandainya kelak kita dipanggil oleh Yang Maha Pemilik Keabadian, adakah yang telah kita tinggalkan untuk dunia ini? Bagaimana cara kita untuk tetap “hidup” di dunia ini? Mungkin, tetap menulis, kita tetap hidup… :)



--Imam Rahmanto--

#Mengenang kepergian seorang penulis sekaligus dosen di kampus saya.

Jumat, 23 Agustus 2013

“Rumah” Menulis Saya

Agustus 23, 2013
Hm…kesibukan saya sudah berakhir. Bukan berakhir secara massal sih… Karena pada dasarnya masih ada bulan-bulan berikutnya yang mengharuskan saya untuk menjalani kewajiban serupa. Dan semoga saja tidak ada aral melintang. Mari berharap atas setiap kebaikan yang kita lakukan, ada doa kecil yang terpanjatkan kepada Tuhan.

Saya ingin merefleksi perjalanan saya hari ini. Sebenarnya, dari kemarin saya ingin menuangkan segala bentuk suka – duka – gembira -, sedih – kecewa – kecamuk – kebingungan – depresi – cinta yang sedang saya alami. Hanya saja, kesibukan (saya sebenarnya benci dengan kata-kata itu) selalu menyertai saya. Sulit bagi saya untuk bisa mengingat satu persatu segala hal yang telah saya lalui 1 minggu terakhir. Satu minggu yang menentukan penerbitan atas tabloid saya. Satu minggu yang rasa-rasanya ada banyak hal yang telah terjadi pada saya, seharusnya. Akan tetapi, ingatan saya untuk hari ini sangat terbatas bisa menuangkannya ke dalam satu tulisan utuh.

Saya menulis dengan melihat segala hal yang ada di sekeliling saya. Melihatnya secara nyata dan melihatnya secara “berbeda”. Bahkan di tiap petikan-petikan ucapan dari orang lain selalu ada nasehat-nasehat tersirat yang ingin saya jadikan lahan belajar…hidup. Karenanya, untuk membuat satu tulisan saja saya harus merapalkan banyak ingatan. Memory hari ini begitu berbeda dengan memory kemarin. Merangkainya satu per satu dalam sel saraf otak saya butuh waktu yang tidak singkat. Sungguh, kemampuan mengingat saya agak buruk belakangan ini. Tapi, maaf, bukan pengaruh usia…

Bulan Ramadhan kemarin, saya iseng membuat tantangan dengan teman-teman saya. Saya tahu, mereka punya blog dan kadangkala mengisinya dengan tulisan, meskipun tidak rutin juga. Tapi, saya tetap ingin berbagi “keisengan” dengan mereka.

wuihh...panjang


Yah, meskipun dari sekian "Iya" yang saya temukan, hanya sedikit yang benar-benar merealisasikannya. Sederhana saja, saya hanya ingin mengurai antara kesibukan dan waktu lewat "keisengan" saya ini. Sejatinya, dalam hal apapun, kitalah yang menciptakan waktu luang itu. Bukan malah menunggunya. Sehingga, saya memutuskan, sesibuk apapun, maka saya harus bisa menuliskan sesuatu (sejelek apapun hasilnya) pula. Sayalah yang harus menciptakan kesempatan untuk diri saya sendiri. :)

Saya menulis, karena saya ingin belajar. Melihat “rumah” saya di dunia maya kosong hanya dalam beberapa hari saja seringkali membuat saya berpikir, “Saya ingin mengisinya dengan apa lagi ya?”

Mungkin, ibarat rumah di dunia nyata. Membiarkannya kosong, hanya akan dianggap rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Semakin lama, makin berdebu dan bisa saja membusuk. Tak satu pun orang, relasi, atau kerabat yang ingin bertamu sekadar bersilaturahmi ke dalamnya. Meliriknya saja mungkin bakal membuat orang lain bergidik. Ngeri. Karena rumah di dunia nyata yang lama tak berpenghuni, biasanya akan dihuni oleh “penghuni” lain.

Haha…ya, ya. Dan disini adalah “rumah” saya. Rumah dengan segala kebijakan hidup yang pernah saya temui. Saya merindukannya. Meluangkan sedikit waktu untuk mengisinya dengan “perabot-perabot” baru. Membiarkan orang lain berkunjung, saling mengenal kedalaman “rumah” saya. Sedikitnya, saya pun bisa berbagi dengan orang lain tentang “all about me” dan pelajaran-pelajaran (versi saya) di dalamnya. ^_^.

Bisa dikatakan, satu tulisan untuk kejadian satu hari. Layaknya sebuah memoar pribadi atau diary, kita bisa menuliskannya secara bebas. Saya pun terkadang melakukannya demikian. Hanya saja, tidak ada waktu beberapa hari belakangan ini membuat saya tidak bisa menyempatkan diri untuk flash-back isi kepala saya dalam sehari. Sekarang pun, saya agak kesulitan merangkum satu demi satu segala hal yang telah saya lalui seminggu belakangan. Padahal, setiap waktu saya menjalaninya, selalu mencuat pikiran-pikiran, “ide yang bagus untuk dituangkan!” Akan tetapi, waktu, rutinitas, waktu, rutinitas, perlahan-lahan menenggelamkan memory-memory itu. Akh, saya butuh komputer dengan fasilitas “googling” di kepala saya.

Sudahlah, karena saya merindukannya, mungkin ibarat merindukan seseorang, maka saya memulainya kembali dengan pikiran “tak tahu mau menulis apa”. Saya selalu percaya dengan kutipan film Finding Forrester, “You write your first draft with your heart and you rewrite with your head. The first key to writing is to write. Not to think."  -- Tidak perlu berpikir. Tuliskan saja.

Dan Cappuccino mungkin bisa sedikit membuka gerbang inspirasi saya,….


--Imam Rahmanto-- 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Dirgahayu, Merdekalah Kita!

Agustus 17, 2013
Tepat ketika lagu "Indonesia Raya" dikumandangkan di depan auditorium kampus, saya baru tiba untuk mengikuti seremonial upacara bendera yang dilangsungkan oleh kampus saya. Saya, dan beberapa orang lainnya, oleh petugas keamanan disana, diimbau untuk berhenti sejenak mendengarkan lantunan lagu perjuangan tersebut. Sembari khidmat menanti setiap detik bendera mencapai ujung tiangnya. Meski tanpa hormat sekalipun....kepada mereka di atas sana......

Ya, mereka, pahlawan-pahlawan yang telah gugur di medan juangnya. Mereka, yang tak pernah kita kenal satu persatu. Wajah dan rautnya hanya bisa kita saksikan lewat buku-buku pelajaran di sekolah. Atau lukisan-lukisan yang terhuyung bergelantung tak terurus di dinding-dinding ruang kelas kita dulu. Sekilas, wajah-wajahnya pun familiar bagi kita di uang-uang dengan nominal tertentu. Mereka, para pahlawan yang telah memperjuangkan kebebasan kita hari ini.

Semenjak sekolah dasar, saya (atau kita) selalu diajarkan untuk menghargai para pahlawan-pahlawan bangsa. Khususnya di mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, ibu guru selalu berucap,

"Hargailah perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang telah rela berkorban merebut kemerdekaan Indonesia!"

"Caranya?"

"Kita harus aktif dalam merayakan Proklamasi Kemederkaan Indonesia. Ikut khidmat dalam mengikuti upacaranya. Berpartisipasi aktif di setiap kegiatan 17 Agustus-an," jawab guru-guru, selalu, kepada setiap anak didiknya. Yah, bagaimanapun dalam kepala saya masih terpatri sedikit pelajaran-pelajaran tentang "sikap" itu. :)

Saya masih ingat, dulu ketika masih kecil, perayaan 17 Agustus-an selalu berlangsung meriah. Sebelum memulai upacara proklamasi, beberapa hari menjelangnya, selalu saja ada keramaian-keramaian kompetisi antar-warga masyarakat. Meskipun hadiah-hadiah yang diperebutkan itu tak seberapa, namun semangat untuk "menikmati" perayaan itu bisa tergambar jelas. Hehe...saya pun menikmatinya sewaktu-waktu dengan ikut pada barisan gerak jalan sekolah saya. Sialnya, di SMA, saya diikutkan pada barisan "anak-anak paling kecil".... -_-"

Selain itu, menjadi momen-momen yang tepat saat itu bagi ibu saya untuk menjajakan minuman dinginnya, es teler. Orang-orang menyebutnya demikian, entah apa maksudnya. Sebagai anak yang baik, tentu saja saya harus membantunya. Apalagi saya diupah 5ribu-7ribu setiap kali ibu selesai menjual. :p

Di kota besar, kini, ketika saya banyak menghabiskan waktu disini, saya amat jarang menyaksikan perayaan-perayaan yang biasa saya temukan di kampung-kampung. Padahal, saya sesekali merindukannya...

Menghargai setiap jasa para pahlawan kita, tidak selalu dengan membawakannya karangan bunga. Setiap orang, mungkin perlu merenung, menyusuri setiap kedalaman sanubarinya, seperti apa peluh dan darah yang telah dikorbankan para pahlawan kita demi terbebasnya kita sekarang. Mungkin, kita bisa berbuat sesuatu untuk negeri ini. Sedikit mengaplikasikan nasehat, "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak, -- bahkan untuk negaranya," Dan, apa yang sudah kita perbuat untuk kemajuan bangsa adalah sedikit pemanis perjuangan buat mereka. :)

Dirgahayu Republik Indonesia ke-68!

Untuk Indonesiaku, tanah kelahiranku, saya tetap mencintaimu! 

*Saya merindukan menulis, dan untuk itu saya ingin terus "merdeka" dengan menulis. Sediki kontribusi saya untuk orang lain, dan tetap belajar memaknai hidup. Dari menulis, saya berusaha menggali kedalaman pikiran saya, untuk bisa merdeka. Merdeka!


--Imam Rahmanto--

Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Agustus 08, 2013
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Gema takbir berkumandang di seantero masjid. Tak peduli masjid besar atau masjid kecil, semuanya beramai-ramai menyuarakan pertanda kemenangan umat Islam menjalani puasa sebulan penuh di Ramadhan. Anak-anak berlarian, berceloteh kiri-kanan tentang pakaian apa yang akan mereka kenakan di hari Lebaran nanti. Berharap pakaiannya lebih baru ketimbang pakaian di hari kemarin. Yah, untuk saat ini, di usia mereka yang masih belia, persoalan lebaran adalah tentang baju baru, kue-kue lebaran, dan "angpau" dari keluarga. Mungkin, perlahan, kelak mereka akan sadar atau tersadarkan esensi sesungguhnya dari Idul Fitri.

Beruntung, meskipun awal puasa berbeda, namun hari raya Idul Fitri 1434 H tahun ini bisa dilangsungkan bersama-sama (keputusan), antara Muhammadiyah atau Kementerian Agama. 

Di hari yang suci bagi umat Islam ini kerap kali dijadikan momentum untuk berkumpul bersama keluarga atau sanak saudara. Baik mahasiswa maupun para pekerja memanfaatkan waktu libur lebarannya mudik ke kampung halaman. Bagi teman-teman saya, hal seperti itu adalah sebuah keharusan.

"Kenapa tidak pulang (kampung)?" tanya setiap teman ketika tahu saya tidak pulang ke rumah.

"Ndak apa-apa. Sekali-kali tidak apa-apa kan berlebaran jauh dari keluarga?" ucap saya. Sejujurnya, saya tidak tahu cara menjawabnya.

"Tidak rindu dengan orang-orang di rumah?"

Lagi, saya hanya bisa menjawabnya dengan tersenyum. Getir. Tahun ini, pertanyaan itu resmi menjadi sekumpulan pertanyaan paling sulit untuk saya jawab setelah pertanyaan, "Kapan kamu wisuda?" Hidup memang membelajarkan kita...

Saya sejatinya merindukan berkumpul bersama keluarga. Menanti setiap detik dibacakannya khotbah di lapangan sembari bercerita dengan teman-teman lama. Menghabiskan Idul Fitri bersama teman-teman mengulas masa lalu, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Yah,tanpa malu-malu kami akan mencicipi setiap sajian hari raya dari rumah ke rumah. Dan, saya rindu semua itu....

Menggantikan itu, bermaksud merasakan kebersamaan dalam keluarga, saya memutuskan untuk berlebaran di rumah salah seorang teman saya. Keluarganya yang juga berasal dari Jawa membuat saya merasa dekat meskipun kami bukan kerabat. Sedikitnya, saya sudah mengenal dan dikenal baik oleh keluarga ini. Lagipula ia juga adalah teman satu kuliah saya. :)

Dan ketika takbir maha suci itu berkumandang di pagi hari, saya bersama teman saya melangkahkan kaki menuju kemenangan. Matahari nampaknya tersenyum riang pagi ini kepada setiap umat Muslim. Sinar hangatnya menyambut kami, kita, umat Islam untuk menjalankan Shalat Ied. Hm...shalat yang akan menjadi penghujung bulan Ramadhan. Shalat yang akan menyucikan jiwa setiap insan di hari raya ini. Semoga.

Tuhan...
Jikalau ini kemenanganku,
Atau kemenangan kami,
Bahkan kemenangan setiap umat
Curahkanlah rahmat dan sayangMu
Kepada ayah dan ibu,
Kepadaku, kepadanya, kepada siapa saja

Tuhan...
Ramadhan berakhir,
Semoga bukan Ramadhan terakhir
Tetap luruskan hati kami
Jadikan fitri, sucikan hati

Engkau pemegang kertas itu,
Di setiap lembarannya,
Coretan kehidupan kami tertera
Di setiap balikannya,
Engkau siapkan kertas putih
Selalu ada kesempatan baru
memulai coretan-coretan baru
Berharap lebih baik,....


--Imam Rahmanto--

Selasa, 06 Agustus 2013

The Conjuring, Horor di Puasa

Agustus 06, 2013
Sebentar lagi Ramadhan berakhir. Entah apakah saya tergolong orang yang berhasil melaluinya atau tidak. Justru saya merasa lebih baik beberapa tahun lalu dibandingkan sekarang. Nampaknya, semakin dewasa kita, manusia, semakin luput dari mengingat kepada-Nya. Saya menyadarinya…

Menjelang minus Lebaran, saya dan empat orang teman menyempatkan diri untuk menikmati waktu-waktu terakhir kami di liburan puasa ini, seminggu menjelang Lebaran. Yah, selepas dari lokasi KKN, saya hanya bisa berdiam di rumah. Nah, ketika salah seorang teman mengajak nonton ke bioskop, saya langsung mengiyakan. Apalagi gratis! 

Seharusnya, jikalau teman-teman yang lainnya masih di Makassar, #BEN10, kami ingin menikmati masa-masa kebersamaan kami lagi. Saya merindukannya. Sebagaimana sms teman saya ketika ia nyaris saja tidak bisa ikut nonton bersama kami hari itu.

“Mau sekali ka ini prgi imam… Nd tenang ka nanti klo di Palopo ma pasti..ku pikir terus..” pesannya lewat sms.

“Pasti ada. Kalau memang tidak ada, biar saya nanti yang antar pulang… -_-“ Ya sudah, demi kami bisa berkumpul bersama, saya “meloloskan” kesulitannya untuk sementara waktu.

Bulan Ramadhan, adalah bulan yang sulit untuk memilih waktu menonton yang pas di bioskop. Persoalannya, jam-jam yang disediakan oleh bioskop kerap kali bertabrakan dengan waktu beribadah umat Muslim. Hm..bagi yang menjalankan puasa “ala kadarnya” sih bukan masalah. Lha, yang sudah bertekad ingin memperkukuh imannya di bulan Ramadhan?

Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengambil waktu siang hari, tepat jadwal pukul dua lewat. Mumpung ngabuburit sekalian. Hehehe…

Saya sebenarnya tidak begitu tertarik menonton film satu ini. The Conjuring. Film horor klasik yang diangkat dari kisah nyata. Entah atas dasar apa teman saya begitu tertarik mengajak kami menontonnya. Saya justru lebih berminat meyaksikan film La Tahzan. Akan tetapi, teman saya tetap kekeuh dengan keputusannya. Ya…lagipula keputusan ada di tangan pemegang budget. Haha…

Memaksakan menonton film itu nampaknya agak menyiksa kami. Kami yang baru tiba tepat para penonton sudah memasuki penayangannya, masih harus mengantri untuk membeli tiketnya. “Ini film bagusnya apanya ya sampai orang-orang masih antri?” pikir saya. Meskipun salah seorang teman kami masih belum tiba, namun teman saya tetap memaksa untuk menonton film saat itu juga. Tak peduli filmnya sudah sementara berlangsung selama beberapa menit. Lagi, keputusan ada di tangannya.

Alhasil, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya dan teman-teman menempati kursi terdepan dari jejeran kursi bioskop. Merasakannya, membuat kepala saya agak pusing. Mata tidak cukup menangkap seluruh citra yang ditampilkan oleh layar bioskop yang super lebar itu.

The Conjuring

Salah satu film besutan sutradara James Wan yang diangkat dari kisah nyata di tahun 1971. Film ini berkisah tentang pasangan Roger Perron (Ron Livington) dan Carolyn (Lili Taylor), yang menempati rumah baru mereka. Kejadian-kejadian janggal mengusik mereka selama menempati rumah tersebut. Mistis. Mulai dari lebam di sekujur tubuh Carolyn setiap ia bangun tidur, jam-jam di rumah yang berhenti pada angka 03.07, anjing anak mereka yang sering tidur berjalan dan diarahkan ke sebuah lemari peninggalan rumah itu, suara-suara ketukan aneh dari bawah gudang, bau-bau serupa daging busuk yang menyengat dan berpindah-pindah, dan penampakan-penampakan wujud makhluk penunggu rumah itu.

Hingga suatu hari, karena sudah merasa tidak tahan dengan keadaan rumah itu, dipertemukan secara tak sengaja, Carolyne meminta bantuan kepada sepasang Paranormal terkenal yang berjuluk The Warrens, Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga). Penyelididkan pun mulai dilakukan oleh kedua orang paranormal itu.

Fakta menunjukkan bahwa rumah tersebut pernah dihuni oleh seorang penyihir hitam bernama Bathseba. Suaminya mendapati dirinya mengorbankan bayinya yang baru berumur seminggu. Ia pun bunuh diri dengan menggantung dirinya di atas pohon besar yang ada di depan rumahnya, setelah sebelumnya menyatakan pengabdiannya pada iblis dan mengutuk siapapun yang menempati tanahnya, termasuk rumahnya. Terbukti, beberapa keluarga yang pernah menempati rumah tersebut berakhir dengan kisah-kisah pembunuhan.

Keanehan-keanehan di rumah tersebut semakin menjadi-jadi ketika The Warrens mulai melakukan penyelidikan dan berusaha menjalankan prosesi pengusiran setan. Roh Bathseba yang kemudian merasuki tubuh Carolyne yang berniat untuk membunuh anak-anaknya sendiri.

Awal menyaksikan film tersebut, adegan-adegan masih dibuat horor “biasa-biasa” saja. Beberapa adegan memang cukup membuat jantung berdetak. Pikiran juga diselingi dengan rasa penasaran. Akan tetapi, dasarnya saya memang yang tidak begitu tertarik dengan film semacam ini, saya menganggapnya biasa-biasa saja. Klimaksnya baru saya rasakan ketika The Warrens mulai melakukan penyelidikan dan perburuan di rumah tersebut. Padahal teman-teman di samping saya sudah teriak-teriak sambil sesekali tertawa di tengah menyaksikan film itu. Alamaak!

112 menit selanjutnya film itu berakhir dan meninggalkan sisa-sisa cerita dari setiap penonton di bioskop itu.

“Lain kali nonton film yang lebih bagus ya, yang ndak bikin jantung kagetan,” ujar saya. Hm...lagipula, menurut “ilmu” yang saya dapatkan, film-film horor semacam ini lebih cocoknya jika dinonton berdua dengan pasangan. :p

“Iya, apalagi kita kan juga lagi puasa. Bisa bikin makruh puasa ini,” Nah loh? Apa hubungannya dengan puasa???


--Imam Rahmanto--

Senin, 05 Agustus 2013

Memory Freezing

Agustus 05, 2013
(sumber: googling)
Selalu, ada hati yang akan mengais-ngais masa lalunya. Ini persoalan hati, maka selalu saja memperturutkan “rasa”.

Hm…saya menemukannya lagi malam ini. Seseorang yang juga tak mampu lepas dari “bayang-bayang” masa lalunya. Begitu katanya.

“Keistimewaan bayang-bayang adalah dia bisa hadir kapan saja. Bahkan di saat kita sudah sangat  tidak menginginkannya,” katanya memperkukuh alasan untuk me-laminating masa lalu di kepalanya.

Haha….saya memang tidak mungkin memaksakan diri untuk menjadi orang bijak baginya. Sejatinya, saya bukan orang bijak. Saya masih banyak belajar. Bahkan lewat pengalaman orang lain. Apalagi, saya pun tidak punya wewenang apa-apa untuk sekadar menghapus ingatan-ingatan yang sudah terlanjur dilekatkan di saraf-saraf kepalanya. Karena pada dasarnya, melupakan itu memang teramat sulit.

Saya juga memiliki seorang teman (perempuan) yang juga masih berkutat dengan ingatan-ingatan masa lalunya. Mirip. Ia hingga kini masih saja “berharap” tentang orang itu. Orang yang menjadi keinginan terdalamnya. Orang yang sama sekali tak pernah tahu tentang dirinya, atau bahkan sekadar akrab pun tidak. Akan tetapi, ia rela bersusah-payah menyimpan “harapan” di kepalanya tentang orang itu.

Kisahnya, ya hanya gara-gara ketika ia dulu pertama kali bertemu dengan orang itu. Yaa…mirip-miriplah jatuh cinta pada pandangan pertama. ^_^. Dan hingga kini ia menyimpan “harapan” terpendamnya itu.

“Saya mulai belajar melupakan, sekadar kenangan saja. saya sadar, hal konyol mengharapkan lebih orang lain yang belum tentu mengharapkan kita,” dalihnya.

Yah, namanya perempuan memang agak sulit jika dipaksa untuk berpikir secara rasional saja. mereka cenderung lebih banyak menggunakan intuisi atau perasaan dalam menimbang-nimbang sesuatu. Oleh karena itu, proses melupakan tentang “hati” itu bakal terasa sulit. Melankolis sih mereka.

Oh ya, saya pun sebenarnya punya kilas tentang melupakan itu. Awalnya, memang agak sulit melupakan orang lain yang sudah terlanjur kita lekatkan di kepala kita, apalagi kalau kita melekatkannya dengan perekat berlabel “rasa”. Teramat sulit. Selalu saja ada alasan-alasan “membenarkan” bagi kita untuk mengingatnya.

Menghapus seseorang dari memory bukanlah perkara mudah. Bahkan cenderung mission impossible. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir, kenapa orang-orang tertentu (yang tidak begitu ada kaitannya dengan “hati” kita) begitu mudah dilupakan? Kita tak pernah ingin melupakan mereka, namun waktu yang menghapusnya perlahan. Semisal teman yang lama tak pernah bersua.

“Mmm…siapa ya?” tak jarang saya melupakan nama teman-teman SMP maupun SMA saya. Meskipun sejatinya saya mengenal baik wajah mereka. Lucunya, jikalaupun saya bertemu dengan teman-teman lama yang mengenal saya, lantas menyapa saya. Untuk alasan kesopanan, saya membalas menyapa mereka tanpa menanyakan nama mereka. Padahal saya lupa nama mereka.

Sementara orang-orang yang berusaha keras kita lupakan, justru semakin “keras” pula hadir di pikiran kita. Hmm….malah saya cenderung berpikir bahwa “lupa” adalah “ingatan” itu sendiri. Kita melupakan sesuatu sebenarnya berusaha menggali-gali ingatan itu untuk dibuang. Ini menurut saya loh…

Ketika kali pertamanya saya harus melupakan orang lain, karena ia sendiri memutuskan tidak ingin menjadi bagian terpenting dalam hidup saya adalah hal sulit. Sejujurnya, saya tidak pernah bisa melupakannya. Apalagi ketika saya harus bertemu dengannya, nyaris setiap hari. Kalau sudah begitu, bagaimana caranya bisa lupa?

Beruntung, kami memang tidak pernah saling memaksa. Segalanya berjalan sesuai dengan kehidupan “normal” sebelumnya. Saya tidak bisa melupakannya, tapi saya memutuskan untuk terus berjalan. Keep moving forward. Apapun yang terjadi, berusaha memendamnya lama-lama hanya akan membuat saya tidak bisa melihat hal-hal baru lainnya. Dunia kan tak selebar daun kelor. :)

Terkadang, kita tidak menyadari ada pintu-pintu lain yang terbuka karena terlalu lama meratapi dan menyesali pintu yang tertutup di depan kita.

Untuk itu, saya terus berjalan. Berpikir bahwa di tengah perjalanan nanti saya akan menemukan hal-hal baru. Pengalaman-pengalaman baru. Orang-orang baru. Mungkin saja, Tuhan memang sudah membuat semuanya terencana dalam skenario-Nya. Karena saya percaya, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Sebagaimana saya percaya bahwa keajaiban itu nyata.

“Katanya nanti baru bisa terobati kalau tempat yang hilang ada yang mengisi. Sekarang kan belum ada jadi pantaslah,” ujarnya lagi.

Sebenarnya, bagi saya, bukan persoalan ada yang mengisi baru bisa terobati. Selama kita masih belum bisa mengosongkan hati itu, maka tidak akan ada yang mengisi. Logikanya seperti ini, “gelas yang terisi penuh tidak akan diisi lagi dengan air sebelum gelasnya dikosongkan dulu.” Jadi, menurut saya, jalan dulu, sembari “belajar” melupakan, dan akhirnya “isi”nya akan datang dengan sendirinya.

“Bagi orang2 yang penuh rasa sabar, apa-apa yang dia biarkan pergi, segala sesuatu yang dia lepaskan, ikhlas, tulus, maka akan datang pengganti yang lebih baginya. Selalu begitu. Tidak akan keliru.”  --Tere Liye--

Kalau kita mampu belajar ikhlas, lantas bersyukur, maka Tuhan akan memberikan pengganti yang lebih baik. Just believe it!

***

Burung-burung kecil di atas saya melompat dari satu dahan ke dahan lain. Ya, pagi ini, saya menemani mereka menikmati hembusan udara pagi yang kata teman saya, noisy morning, berhubung sudah jam delapan lewat. Tapi, buat saya, kesejukannya masih terasa kok. Ada pohon-pohon rindang yang selalu membagi kesejukannya. :)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 03 Agustus 2013

Ini Ditolong atau Menodong?

Agustus 03, 2013
#Eh, ini hanya sedikit kegalauan saya di lokasi KKN. Adapun kesamaan nama, tokoh, tempat, dan bentuk kejadian adalah fakta sebenarnya.  


Menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) termasuk salah satu agenda rutin yang mesti dijalani mahasiswa, seperti kami, untuk bisa menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Harfiahnya, KKN itu berarti kita sebagai mahasiswa diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat untuk membantu pengembangan kehidupan di tegah-tengah masyarakat itu. Entah dengan menjalankan program-program yang melibatkan masyarakat atau membantu masyarakat dalam al pengembangan fasilitas umumnya.

Secara “keren”nya sih memang seperti itu. Namun, terkadang beberapa bagian akan berlaku hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Ada hal-hal yang memang tidak tampak oleh mata biasa kita.

“Hm…daripada menjalankan tugas seperti ini, mending kita terjun ke tengah-tengah masyarakat,” gumam saya. Maklum, sudah beberapa hari ini kami mendapat tugas “minta tolong” dari Ibu Lurah untuk mengecat rumahnya. Tugas itu, tentu saja di luar dari program kerja yang kami susun. Namanya juga “minta tolong” makanya kita harus menolong.

Akan tetapi, semakin lama, kami semakin berpikir, apa yang kami lakukan bukan seperti halnya memberikan bantuan pertolongan, melainkan benar-benar sebagai “pesuruh”. Mengapa? Ah ya, segala pekerjaan yang sesungguhnya secara keseharian bisa dilakukan sendiri tanpa mengharapkan bantuan dari mahasiswa menjadi “tugas tambahan” bagi mahasiswa seperti kami dan terkadang menyita sedikit waktu kami.

“Ah, kamu tidak ikhlas saja,” Bukannya seperti itu. Kami ikhlas kok seandainya saja bantuan yang diberikan itu tidak pernah dicekoki dengan tuntutan-tuntutan di luar bidang keahlian kami. Bahkan hasil kerja kami pun dikritik habis-habisan oleh si empunya pertolongan. Tidak jarang kami mendapatkan omelen yang seharusnya tidak perlu dialamatkan kepada kami. Hingga akhirnya merembet ke permasalahan-permasalahn lain. Seolah-olah kami sedang dicarikan kesalahan. Ckckck….bagaimana kami tidak jengkel….

“Ngecat lagi, ngecat lagi,”

Bahkan teman-teman KKN dari posko lain sempat menertawakannya ketika kami berbagi cerita dengan mereka. Yah, baru kali ini mereka melihat mahasiswa KKN mengecat rumah Ibu Lurahnya. Kalau untuk mengerjakan fasilitas-fasilitas umum lainnya, sebenarnya adalah hal sepatutnya. Justru dengan senang hati mahasiswa akan menjadikannya salah satu program kerja. Lah, ini? Fasilitas umum pun bukan.

Memang benar, dengan kehadiran mahasiswa yang menjalani KKN, maka pekerjaan-pekerjaan masyarakat akan menjadi lebih ringan. Akan tetapi, bukan berarti tenaga mahasiswa bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pribadi, bahkan untuk seorang Kepala Kelurahan sekalipun.

Jikalau disuruh memilih, saya tentu akan lebih memilih terjun langsung untuk membantu ke tengah-tengah masyarakat. Kerja bakti, atau apalah gitu. Bakal lebih jelas arah kerjanya, dibanding harus memenuhi  tuntutan-tuntutan Ibu Lurah yang tak ada habis-habisnya.

“Yang bagian depan dicat ya. Kayaknya warna ini bagus ya? Yang di atas juga dicat. Catnya kalau bisa di-double. Lantainya dibersihkan, jangan berantakan seperti itu. Yang di depan juga catnya diselesaikan.”

“Kenapa catnya belum selesai? Kenapa lama sekali? Kalian tidak boleh pulang sebelum catnya selesai. Warnanya salah.”

“Mobilnya tolong dipanasi ya? Kalau bisa sekalian dibersihkan. Kasurnya sekali-kali dicuci dong. Kalian jangan malas-malasan di rumah. Kenapa undangan buat saya tidak ada?”

Seperti ini nih yang dinamakan “menyiksa” mahasiswa KKN. Dan akhirnya, kami pun sadar, kebahagiaan itu tidak sekadar diukur dari kelimpahan materi, melainkan seyogyanya ditimbang dari ketenangan batin. Nampaknya, kami tak perlu lagi bangga dengan fasilitas yang disediakan oleh Bu Lurah. Toh, di balik itu semua menyimpan “udang di baik batu”. Pun, teman-teman perempuan kami kerap kali dijadikan bulan-bulanan "omelan". Ckckck…saya miris melihatnya.

Nah, cukup sekian keluhan saya selama menjalani masa pengabdian di tanah “rantau”. Kini, saya dan teman-teman lainnya sementara menikmati masa liburan menjelang Idul Fitri. Mungkin, lebih dari seminggu kemudian kami baru akan kembali ke lokasi pengabdian kami. Semoga dengan niat dan hati bersih pula. Kami cukup memaafkan… :)

Terlepas dari keluhan-keluhan, kripik, eh kritik tersebut, saya pun sebenarnya banyak belajar disana. Tidak hanya saya sih. Termasuk teman-teman yang lain. Dari sana, kami belajar bagaimana mencampur cat yang benar. Bagaimana menggerakkan kuas dengan benar. Bagaimana memanjat-manjat tembok dengan benar. Bagaimana memadukan warna cat yang baik.

Untuk teman-teman perempuan, mereka banyak belajar cara memasak. Cara mengolah makanan. Cara mencuci pakaian. Bagaimana membuat sambal yang maknyuss. Bagaimana cara efektif untuk bangun sahur. Alhasil, kami memang dibelajarkan di tengah-tengah kerasnya kehidupan kami. Yah, meskipun sekali-kali kami diiming-imingi kesenangan lainnya, seperti karaoke-an mungkin. Hahaha….

Tentu saja, waktu sebulan yang kami habiskan “senasib-sepenanggungan” mampu merekatkan ikatan persaudaraan kami. Kami yang awalnya hanya bisa saling diam, akhirnya bisa saling cela. :) Sedari menatap diam-diam satu sama lain, hingga berbincang hal-hal karib lainnya. Kini, menikmati liburan di luar lokasi KKN, sendiri, akan menerbangkan kabar-kabar kilas satu sama lainnya. Dan, tentu saja akan ada hati yang diam-diam saling merindukan, lebih daripada yang lain…. ^_^.


--Imam Rahmanto-- 

Kamis, 01 Agustus 2013

Ragu, Berhenti Sejenak

Agustus 01, 2013
Sekarang tanggal 1 Agustus ya? dan kemarin adalah tanggal terakhir di bulan Juli.

“Apapun itu, hal tersedih malam ini adalah kenyataan bahwa bulan telah meninggalkan Juli.” kata seorang teman saya di akun jejaring sosial miliknya. Memang, pada kenyataannya sekarang adalah bulan Agustus dan sebentar lagi Hari Raya idul Fitri sebagai penutup bulan Ramadhan tiba di depan mata. Lalu?

Rasanya saya ingin berputar ke belakang. Sedikit memutarbalikkan jam pasir. Bisa kan? Di bulan yang penuh dengan suka dan duka. Bulan yang selalu menyimpan sedikit misterinya. Dan saya teringat ketika salah seorang teman saya mulai mengungkapkan kegelisahannya…

“Saya sudah capek. Saya tidak tahu lagi apa yang membuat saya bertahan,”

Menilik persoalan yang dilaluinya ke belakang (lagi, kita berjalan mundur), sebetulnya perkara yang bisa dibilang tidak mudah untuk dirapalkan. Ia seorang wanita, dan wanita tak sekuat penglihatan kita. Persepsi yang dibangun sejak dulu tentang emansipasi wanita sesungguhnya omong kosong belaka. Saya semakin meragukan hal itu. Karena pada hakikatnya, wanita itu memang makhluk yang lemah, rapuh, dan sedikit butuh uluran tangan dari laki-lakinya. Itulah mengapa muncul lirik sebuah lagu, “Karena Wanita ingin Dimengerti.” :)

Ia tampak kuat. Tapi kenyataannya, hatinya rapuh. Wanita memang selalu berpikir berdasarkan perasaannya. “Insiden” kecil yang beberapa hari lalu “menghembusnya” dari redaksi kami, membuatnya sedikit meragu. Saya tidak menyalahkannya, karena sejatinya dia seorang wanita. Hanya sedikit dari sekian banyak wanita yang mampu hidup dengan perasaan tak dihargai.

Dari sana, kita belajar untuk menghargai orang lain. Setiap pekerjaan yang meskipun hanya dibayar dengan seulas senyum saja. Tidak menilai hasil akhir yang ia peroleh. Menikmati proses yang dijalani dalam rangka mencapai hasil itu adalah lebih baik. Sungguh menyenangkan jikalau setiap orang di dunia ini mengerti hakikat proses itu. Mungkin, setiap pekerjaan orang-orang yang bekerja keras akan begitu dihargai, meski hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Memangnya, siapa sih yang bisa memastikan hasil yang diperoleh dengan proses yang dijalani? Kita hanya bisa merencanakan, namun Tuhan yang menentukan!

Hal yang sama mungkin berlaku dalam “tubuh” yang saya pimpin. Saya bukan tipe-tipe pemimpin yang baik. Pemimpin yang tahu cara atau mekanisme memimpin anggotanya. Tahu cara memanajerisasi proses kerja-kerja anggotanya. Bukan! Saya bukan orang-orang seperti itu. Bahkan, saya sebetulnya tidak berkeinginan untuk menjadi seorang pemimpin, jika bisa.

Akan tetapi, memenuhi tanggung jawab yang dilimpahkan, maka saya hanya berusaha untuk menjadi orang yang baik. Saya teringat dengan salah satu buku yang pernnah saya baca; kalau menginginkan orang lain menjadi apa yang kita inginkan, maka kita harus melakukan hal itu terlebih dahulu. Kita ingin orang lain baik, maka kita harus baik dulu. Kita ingin orang lain disiplin, maka kita harus disiplinkan diri dulu. Do-will-get.

Sedikitnya, saya belajar bagaimana memposisikan diri untuk mempersalahkan orang lain. Bahkan untuk membangun semangat bersama teman-teman yang lainnya, ada baiknya saling menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan. Lagi, menilai dari proses yang mereka jalani. Tidak berpatok pada hasil yang ingin dilihat.

“Pokoknya, hasil akhirnya itu gagal!” ujar salah seorang kakak senior saya suatu ketika kami berbincang ngalor-ngidul tentang terbitan tabloid edisi kami yang lalu.

Saya hanya tertawa kecil mendengarnya. Tetap saja, dalam penglihatan mereka, apa yang kami lakukan waktu itu adalah kegagalan. Namun, bagi saya, proses yang kami lalui jauh lebih rumit (dan menyenangkan). Dalam “tubuh” kami, saya tidak ingin membelajarkan teman-teman untuk menilai segala sesuatunya lewat hasil semata. Adalah menjalani (dan menikmati) proses yang jauh lebih penting. Soal hasil? Sudahlah, itu dipikirkan belakangan. Terpenting, kami menjalani tugas-tugas kami dengan kondisi yang berbahagia.

Saya tidak peduli ketika orang lain menganggap saya gagal. Itu memang persepsi mereka. Itu hak mereka. Namun, tidak semestinya pula persepsi mereka mempengaruhi persepsi yang saya bangun sendiri. Kalau mereka ingin berpikir negatif tentang apa yang saya lakukan, biarkan saya membuktikan hal-hal positif lainnya.
***

Hei…
Untuk Engkau, yang sedang dihinggapi keragu-raguan, ada banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Satu batu sandungan, bukan berarti akan menyurutkan langkah kita mencapai hasil akhir yang kita inginkan. Kita boleh berhenti sebentar, sekadar menghela napas perlahan, menenangkan hati yang sedang dipenuhi emosi. Akan tetapi, usainya, kita bisa kembali melanjutkan. Tidak sendirian, melainkan bersama-sama. Bukankah kita berjalan tak sendirian? 

Di kiri-kananmu ada orang-orangyang peduli padamu. Di atasmu, ada Tuhan yang selalu memberikan pilihan terbaik untukmu. Di bawahmu, masih ada kakimu yang selalu kuat untukmu berjalan. 

Sejauh ini, saya mengenalmu (dan belajar darimu), sebagai orang yang selalu berpikir: semuanya akan baik-baik saja. ^_^. Maka kembalilah membangun pikiran-pikiran positif itu.

***

“Waktumu masih panjang,” katanya.

“Aku tak menginginkannya.”

“Tapi mereka menginginkanmu. Waktu bukanlah sesuatu yang bisa kau kembalikan. Saat berikutnya mungkin jawaban atas doamu. Menolaknya berarti menolak bagian yang paling penting dari masa depan.”

“Apa itu?”

“Harapan.” 

---from Timekeeper, a nove--



--Imam Rahmanto --