Kamis, 18 Juli 2013

Orang tua, Pensil, dan Anak Impiannya


“It feels to me that with a pencil anything is possible”
“Rasanya bagi saya, dengan sebatang pensil segalanya menjadi mungkin.”

Apa kita percaya? Lewat pensil dan pena, kita bisa melukiskan semua hal. Memungkinkan semua kemungkinan.

Ah ya, maaf . Saya tidak berbicara tentang hal itu. Kita berbicara tentang kesempurnaan. Mengharapkan kesempurnaan itu ibarat mengharapkan ketaksempurnaan itu sendiri. Ketika bisa menemukan kesempurnaan lewat persepsi kita, sejatinya adalah perasaan mampu menerima ketaksempurnaan itulah yang dimiliki.

Layaknya orang tua yang tentu saja menginginkan anak-anak yang sesuai dengan harapan mereka, doa-doa mereka. Anak-anak yang mampu membanggakan mereka. Sesempurnanya anak-anak yang dihadiahkan (gifted by God) Tuhan bagi orang tua, tidak akan pernah terasa sempurna bagi manusia. Manusia punya pemahaman yang tak terbatas terhadap keinginannya. Dan keinginan itulah yang terkadang membawa persepsi-persepsi subjektif terhadap kesempurnaan sesuatu.

Father: “All of these notebooks from that day, I just filled them with ideas of things that I wanted to make. Because I thought to be a part of making something, that was a great feeling. 

Father:  “God, to think that we may not be making these anymore.”  

Kid: “Why not make a new kind of pencil?”  

Father; “That's easier said than done.”  


Mother: “Yeah”

Kid: “Well, you can design it, and you can draw it. Then you guys can both build it.” 


Dari film yang pagi ini saya tonton, The Odd Life of Timothy Green, yang memberikan sedikit pemahaman baru bagi saya. Yeah, salah satu film yang sebenarnya telah lama mengendap di laptop kesayangan saya. Beberapa kali saya sempat mengacuhkannya, melihat kilasan filmnya (yang di-fast forward), tidak begitu menarik. Namun, sembari menghabiskan waktu menanti pagi, saya menyaksikannya. Lama, saya berusaha mengoleksi film-film motivasi atau inspiratif di laptop saya. Dan saya menemukannya (lagi) satu. Wow, saya benar-benar menyukainya, dan nyaris dibuatnya terharu. :D

Berkisah tentang sepasang suami-istri yang berharap memiliki anak. Harapan mereka nyaris berakhir ketika dokter telah memvonisnya “negatif”. Sekian lama mereka menanti kehadiran anak dalam keluarga kecil mereka.

Akan tetapi, garis hidup mereka akhirnya berubah ketika seorang anak kecil hadir dalam kehidupan mereka. Seorang anak yang lahir dari kertas-kertas catatan impian mereka, yang ditanam di depan pekarangan rumahnya. Seorang anak dengan kaki ditumbuhi beberapa helai daun. Timothy Green.

Kehidupan mereka akhirnya berubah selaras dengan kehadiran anak itu. Perlahan, segala hal yang diimpikan sepasang suami-istri lewat catatan-catatan kecil itu terwujud.

Father: Selama bertahun-tahun, kita sudah berpikir tentang seperti apa anak - anak kita nantinya.

Mother: Jangan.

Father: Kita bisa melanjutkan besok. Hanya untuk malam ini, kita bisa punya anak?

Mother: Kau dengar apa kata dokter. menyerahlah! menyerahlah.

Father: Itu dia . Jangan pernah menyerah! anak kita tidak akan pernah menyerah. Kau tahu apa lagi yang saya pikirkan?

Memiliki hati yang baik. Mencintai dan dicintai. Lucu seperti pamannya. Anak yang selalu percaya. Jujur untuk suatu kesalahan. Pandai bermusik. Artistik, layaknya Piccaso dengan pensil. Hanya sekali, akan mencetak gol kemenangan dalam pertandingannya. Semuanya, benar-benar terwujud!

Kedua orang itu tak sadar, berselang waktu, daun di kedua kaki Timothy yang tak bisa dipotong akhirnya gugur satu per satu setiap kali ia benar-benar mewujudkan “impian” mereka. Ketika daun-daun itu hilang, maka berakhir pulalah hidup Timothy.

(Salah satu scene yang nge-rocked)
Mereka, orang tua yang mendambakan anak yang sempurna, sesuai dengan persepsi yang mereka miliki. Mungkin, kerinduan akan kehadiran seorang anak yang telah lama mereka nantikan menjadi pembangkit keinginan-keinginan atas mimpi mereka.  Sejatinya, mereka sadar, membiarkan anaknya tumbuh dan melihatnya tumbuh adalah hal terbaik yang seharusnya dilakukan.

And for you guys, here’s what I know, lf you came to me and said,

"There are two people in the world who want you more than anything. They'll do their best. They'll make some mistakes. And you'll only get them for a short time. But they will love you more than you can ever imagine."

“Well, when that's true, l'd say, So much is possible." --Timothy Green--


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar