Rabu, 17 Juli 2013

Namanya Siong

(google.com)
Cincau. Saya rasa-rasanya kembali menemukan masa kecil saya dengan hidangan takjil berbuka itu. Es teh Cincau, begitu saya menyebutnya. Entah salah atau benar. Saya tidak terlalu “mau tahu” menanyakan namanya. Saya menyukainya, cincau itu. Dicampur dengan olahan minuman apapun.

Cincau, begitu orang-orang menyebutnya ketika ia sudah berwujud “agar-agar”. Saya tahu sedikit-sedikit darimana bahan dasar cincau itu. Sewaktu kecil, ayah saya kerap kali menemani salah seorang Paklik (baca: paman) saya untuk mencarinya. Tentu saja untuk dibeli dan diolah demi kepentingan tertentu. Sebenarnya, Paklik saya tidak lain akan mengolahnya menjadi agar-agar juga, salah satu campuran minuman produksinya.

Berbeda dengan rumput laut, bahan mentah cincau berupa ranting-ranting kering dan dinamakan siong. Begitu saya sering mendengar namanya dari ayah.

“Ini apa, Pa’?” tanya saya yang masih lugu-lugu dan polosnya.

“Ini siong, dibuat agar-agar,” jawab ayah saya.

Entah darimana pula saya begitu menyukainya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Saya selalu saja memburunya jika berbuka di rumah. Ibu saya sekali-kali menghidangkannya untuk sajian berbuka puasa. Maklum, harga cincau lebih mahal ketimbang agar-agar biasa.

Dulu, sewaktu saya kecil, Paklik saya malah dengan senang hati membagi sedikit siong-nya untuk keluarga kami, sebagai imbalan karena ayah telah menemani mencarinya. Akan tetapi, sudah beberapa tahun berselang (saya lupa tepatnya), Paklik tidak pernah lagi mencari siong. Mungkin, usahanya telah berganti “genre” atau malah pailit. Jadinya, saya merindukan agar-agar hitam itu lagi.

Saya menyukainya, mungkin, sekadar karena mengingatkan masa kecil saya. Apapun itu, selama mampu membawa saya kembali ke masa silam, saya selalu menyukainya. Layang-layang. Hujan. Sekolah. Jalan kaki. Memanjat pohoh. Bunga kertas. Sepatu. Kelereng. Uang monyet Rp 500. Jam tangan. Sawah. Teman-teman. Sepeda.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar!”
Bedug ditabuh dan segera adzan maghrib berkumandang. Tandanya berbuka puasa. Dari layar televisi, berkelebatan skenario-drama di sela-sela adzan yang dilantunkan itu.

Tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun silam, TVRI masih saja menjadi salah satu stasiun andalan di kala bulan Ramadhan. Nampaknya, rating televisi pemerintah itu baru naik di bulan Ramadhan ini, apalagi pas waktu maghrib. Menjadi penanda waktu berbuka bagi tiap daerah di Indonesia.

“Selamat berbuka puasa!” ucap teman-teman saya sambil menyantap makanan yang sedari tadi dihidangkan di depan kami.


--Imam Rahmanto--

Post#04 dari BloggingRamadhan

2 komentar:

  1. Wah, cincau. Di kampus aku sering beli yang warnanya hijau, harganya Rp 3 ribu per gelas. Tapi kalau sudah masuk mall, jadi Rp 10 ribu, hahaha..
    Eh, itu kenapa ya, di pojok kiri bawah ada tulisannya post#4 dari BloggingRamadha? -_-

    BalasHapus



  2. informasi sangat membantu sekali,mudah - mudahan artikel ini bermanfaat untuk semuanya.
    trimakasih atas kunjungannya .

    BalasHapus