Jumat, 26 Juli 2013

Memahami dan Memahamkan

Memahami orang lain, baiknya terlebih dahulu melihat segala hal lewat “mata”nya. Merasakan dunia lewat hatinya. Tidak terkecuali anak-anak…

“Gantian ya? Untuk anak SMP, biar saya saja yang tangani,” keluh salah seorang teman saya.

Sore itu kami baru saja usai memberikan “pemanasan” bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah di sekitar lokasi KKN kami. Bimbingan belajar itu, adalah sedikit dari program kerja yang kami targetkan untuk rampung di masa-masa pengabdian ini.

“Kenapa?”

“Anak-anak SD sulit diaturnya. Suka ribut,” jelasnya lagi.

Ah ya, benar-benar berlaku hal umum. Saya sendiri sudah pernah merasakannya. Menjalani pekerjaan sebagai guru privat selama lebih dari setahun mengajarkan saya untuk bisa berinteraksi dengan anak-anak. Saya jadi tahu, bagaimana sulitnya anak-anak sepantaran Sekolah Dasar diberikan pemahaman terhadap suatu hal. Terkadang saya dibuat berpikir, berpikir, dan berpikir sambil memutar otak kanan. Cara kreatif apa yang bisa membuat mereka mengerti?

Mendidik anak kecil memang sulit. Tak jarang makan hati. Akan tetapi, dari sudut pandang yang berbeda, saya menyukainya. Justru selama mengajar tiga anak sekaligus (dalam satu keluarga), saya banyak belajar dari mereka. Keceriaan. Ketulusan. Keingintahuan. Keakraban. Penghargaan.

“Kak, kapan belajar lagi?”

Saya lebih trenyuh melihat semangat anak-anak yang ingin terus belajar. Mengabaikan kesulitan untuk memahamkan pelajaran kepada mereka. Yang terpenting itu adalah KEMAUAN.

Saya jadi teringat dengan anggapan keliru dari salah seorang dosen saya.

“Kesalahan guru-guru di sekolah dasar karena tidak menanamkan konsep yang benar dalam pembelajarannya. Sehingga pada akhirnya terbawa hingga dewasa lewat konsep yang salah itu,”

Hmm…saya tidak begitu se-aliran dengannya. Bagi saya, apa yang dilakukan guru-guru di sekolah dasar pada hakikatnya demi esensi mendidik dan mengajar. Guru-guru lebih banyak memberikan pengertian yang lebih mudah dipahami oleh anak-anak demi pemahaman yang benar akan pelajaran itu. Mengenai pelajarannya, memang bukan perkara mudah. Siapapun bisa mengajarkannya. Akan tetapi, yang sulit disini adalah memahamkannya. Sulit loh memberikan pemahaman agar anak-anak mengerti tentang suatu pelajaran.

Jikalau seorang guru ingin memaksakan kehendak “penanaman konsep” itu semenjak dini kepada anak-anak di Sekolah Dasar, bagaimana cara mereka memahami? Dunia anak-anak itu sangat lekat dengan dunia nyata, dunia yang selalu mereka nikmati sebagai kanak-kanak. Bermain dan bermain. Bukan dunia kompleks, melainkan dunia sederhana dengan banyak tawa di dalamnya. Oleh karena itu, belajarlah tersenyum dari anak-anak.

Mengajarkan apapun pada siapapun, memang butuh kemampuan untuk mensejajarkan diri lewat persepsinya. Mengajar anak-anak, kita perlu “menjadi” anak-anak. Mereka adalah yang paling jujur dari masa manusia. Sehingga, bukan hal yang aneh jika kita ikut-ikutan nyeleneh sebagai anak-anak ketika belajar bersama mereka.

Hingga saat ini, saya pun sebenarnya masih menikmati sesuatu yang dianggap tabu bagi orang dewasa. Tak peduli. Karena sejatinya, kedewasaan itu bukan berarti membuang segala “atribut” kanak-kanak kita, melainkan belajar cara menyelesaikan setiap pengalaman dalam hidup kita.

*****

Anak-anak itu berebutan mencium tangan kami. Satu-dua-tiga-empat orang berdesakan di sela-sela pintu masjid berebutan meraih tangan saya. Padahal, saya sejak tadi tidak kebagian tugas mengajar mereka. Dua orang anak SMP menjadi "jatah" saya sore itu. Ketika hendak pulang, saya hanya kebetulan numpang lewat di depan pintu masjid, dan kemudian satu per satu anak-anak itu antusias menyalami dan mencium tangan saya.

Akh, anak-anak, selalu berkutat dengan kepolosannya. Dunia yang sepenuhnya tidak dipahami oleh orang dewasa. Kata mereka, menjadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi sulit untuk dijalani. Think Again!

Jangan lihat soalnya. Lihat nilai ibadahnya, membagi ilmu bermanfaat kepada orang lain., para generasi muda  :)
(Foto: ImamR)

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar