Selasa, 23 Juli 2013

Disini, Tempat Mengabdi

Nampaknya saya belum pernah bercerita detail tentang lokasi pengabdian alias KKN saya ya? Semenjak saya bertemu dengan teman-teman (redaksi) yang menginjakkan kaki di lokasi yang berbeda-beda, mereka banyak bercerita tentang kehidupan disana. Ada banyak juga yang mereka alami disana. Termasuk duka-duka-sukanya. Nah, saya pun tak ingin ketinggalan bercerita tentang kehidupan saya disini.

Mereka, teman-teman saya, ada yang bermukim di nun-jauh pedalaman sana, nyaris seperti anak-anak SM-3T alias Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Itu loh program pemerintah Dikti untuk lulusan S1 kependidikan (calon guru). Soal sinyal? Jangan ditanya. Mereka harus rela naik-turun gunung untuk bisa memperoleh sedikit kebaikan penyedia jaringan seluler. Saya membayangkan, bagaimana mimik dan gesture tubuh mereka ketika mencari-cari sinyal sekadar untuk menelepon kerabat atau teman.

Angkat handphone tinggi-tinggi, memandangi sayu handphonenya, mengintip gambar sinyal di layarnya, sambil berdoa di dalam hati, “Ya Tuhan, berilah hambaMu ini sinyal,” Karenanya, kami memaklumi ketika teman saya itu dikirimkan pesan singkat (sms) maka dua-tiga hari berikutnya barulah ia mengirimkan balasannya.

Ada pula yang hingga kini masih tidak pernah ketahuan kabarnya. Sinyal, ada. Wajah yang tidak pernah kelihatan.

Sebagiannya lagi masih dalam taraf-taraf yang standar bagi anak-anak KKN. Tersedianya fasilitas jaringan seluler. Desa yang sudah dilengkapi listrik dan penerangan. Air bersih dari PDAM. Oiya, sebagiannya lagi masih memanfaatkan air sumur - timba sendiri untuk keperluan sehari-hari. Penduduk yang ramah. Bahkan, cerita dari salah seorang teman saya, setiap harinya mereka selalu mendapat undangan berbuka puasa bersama di rumah-rumah penduduk. Huh, bikin ngiri aja.

Unik. Entah mengapa hal yang satu ini terkadang menjadi pribadi dan kemauan saya. Saya tidak begitu suka dengan hal-hal yang sudah banyak disukai orang. Terkadang, saya memilih untuk mencari hal-hal yang sama sekali tidak pernah disangka atau dipilih orang lain. Termasuk dalam pemilihan lokasi KKN kemarin. Ketika teman-teman berbondong-bondong memilih (atau memindahkan) lokasinya ke Barru, saya memilih untuk sendirian di Pangkep. Ya, ya, berusaha mencari sedikit penghiburan dan pengalaman baru meskipun harus rela seorang diri. Alhasil, kunjung-mengunjungi posko menjadi rutinitas mingguan teman-teman saya disana.

Dan saya disini?

Tugu bambu runcing. (int)
Oke, mari bercerita tentang Pangkep, yang menjadi destinasi KKN saya. Daerah yang baru-baru ini memperoleh piala Adipura yang ketujuh kalinya. Sejujurnya, saya pertama kali memperoleh penempatan di Kab. Soppeng. Akan tetapi, mempertimbangkan akses dari kota Makassar, karena saya punya tanggung jawab yang mesti dijalani, maka saya “memilih” untuk mematok Pangkep.

Jarak tempuh yang dibutuhkan dari Pangkep ke kota Makassar benar-benar tidak butuh waktu lama. Waktu tempuh normal hanyalah satu jam, namun macet di kota Makassar bisa membuatnya berlarut-larut hingga 1,5 jam atau bahkan 2 jam.

Tidak begitu sulit menemukan kediaman kami, mahasiswa KKN di Pangkajene. Meskipun tanpa dilengkapi spanduk posko, siapa saja bisa dengan mudahnya menerka-nerka wilayahnya. Tak perlu takut kesasar. Daerah kami adlah kompleks perumahan, dan tepat berada di belakang stadion Andi Mappe yang kemungkinan semua orang Kecamatan Pangkajene tahu dimana lokasinya. Lagipula ada banyak “penanda” yang bisa mengukuhkan lokasi posko kami. Sebut saja, kantor polisi, kantor PDAM, menara PDAM, Kali Bersih, Tugu Bambu Runcing, Rumah Sakit Umum, atau malah jalan besar provinsi.

“Kebanyakan karena mereka pegawai dan karyawan, suasana siang hari disini terasa sunyi. Mereka sibuk bekerja. Kalau malam hari, masih juga terasa sunyi. Karena mereka sudah bergegas tidur sebelum masuk kerja lagi esok harinya,” alasan yang selalu saya dapatkan dari beberapa warga yang menjadi teman ngobrol saya.

Yah, di tempat kami ini, sangat berbeda dengan penduduk-penduduk desa pada umumnya. Sedikit budaya perkotaan telah masuk melalui kompleks perumahan ini. Salah satu yang menjadi sorotan saya, ya, masing-masing rumah sudah dilengkapi dengan pagar-pagar besi, meskipun tiap rumah berdempetan satu sama lain. Beruntung, tiap keluarga masih mengenal keluarga di sebelahnya atau bahkan di ujung lorongnya. Hmm..kalau di Makassar, jangan harap deh. Tetangga, belum tentu tetangga.

Berbeda dari lokasi teman-teman saya yang lainnya, di tempat ini kami dimukimkan di rumah Bu Lurah. Rumahnya menampung teman-teman mahasiswi kami, dan kami (laki-laki) diinapkan di rumah salah seorang warga kompleks. Rumahnya hanya berjarak 2-3 rumah dari rumah Bu Lurah. Kami biasa memanggilnya Pak Haji.

Nah, berbicara soal fasilitas, tentu saja kami bisa dikatakan lebih unggul dibandingkan teman-teman KKN lain di daerahnya masing-masing. Transportasi? Ada. Mau pilih mana? Mobil atau motor? Bahkan Bu Lurah siap menyertakan motor atau mobilnya untuk keperluan program-program kerja KKN. Air bersih? Ah, tak perlu ditanyakan lagi. Disini melimpah. Mau mandi setiap jam juga bisa. Pusat-pusat hiburan? Lah, disini kan kota. Ada banyak tempat yang bisa menjadi destinasi refreshing dari penatnya menjalankan program kerja, tak peduli siang atau malam hari. Dan jaringan internet? Ada warnet yang selalu menjadi tongkrongan saya di kala waktu senggang.

“Hei, bagaimana kabarmu disana?” tanya pesan dari seberang kepala.

“Hm…tidak begitu baik. Saya masih belum bisa menemukan inti “kedekatan” itu disini. Saya masih agak kikuk dengan yang lainnya. Mungkin saja, ada sedikit tatapan tak bersahabat yang saya peroleh disini,” jawab saya setelah berpikir agak lama.

“Tenang saja. Waktumu disana masih panjang. Kamu belajarlah, belajar apa saja. Dari sini, kamu bisa benar-benar belajar menyapa dunia luas. Memperdalam intuisimu. Menyapa kedalaman hati orang lain. Memperdalam toleransimu. Hingga nanti kau benar-benar mampu tertawa utuh apa adanya,” jawabnya lagi.

Kali ini saya tak membalasnya, karena ia benar-benar tahu tentang diri saya, karena ia sejatinya ada di dalam pikiran saya, di tempat saya seutuhnya mengabdi secara abstrak. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar