Senin, 29 Juli 2013

Mari Menyebutnya Kelas Bebas!

Juli 29, 2013
Saya menyebutnya Kelas Bebas. Kelas yang membebaskan siapa saja untuk berekspresi, menyampaikan kesenangannya. Mendorong mereka untuk “berbual” tentang impiannya. Membangun cita-cita klise yang selama ini dipegang oleh mereka.

Anak-anak bertanya, melepas kepergian kami, “Kak, kak, nanti sore belajar apa? Kita belajar kan?”

***

Untuk beberapa hari ini, atau mungkin beberapa minggu ke depan, saya akan lebih banyak menghabiskan waktu denga anak-anak. Ahaha…bukan masalah, saya ingin selalu merasa muda. Dan itu pasti! Saya suka senyum yang tertular. Saya suka tawa yang menjalar. ^_^.

Nah, di samping menjalankan beberapa program kerja sebagai mahasiswa yang mengabdi, saya juga amat berkeinginan bias meninggalkan kesan bagi masyarakat sekitar. Hingga saat ini, saya berpikir entah seperti apa. Paling tidak, masyarakat kelak berujar, “Kami merindukan mahasiswa yang KKN itu. Mereka benar-benar berguna dan mengubah kita.”. Yah, meskipun untuk saat ini hal tersebut masih sebatas angan-angan. Akan tetapi, bagi saya, hal itu adalah “ambisi”.

Tibalah ketika sedikit ide muncul di kepala saya. Sekilas, saya mengingat masa lampau di daerah domisili saya.  Saya ingin menerapkannya disini, di masjid yang kini menjadi kunjungan tetap kami. Kalau dulu saya bisa, kenapa juga mereka tidak?

“Bagaimana pula seandainya sejak sekarang ditanamkan pengalaman nyata di lingkungan mereka?” Dan saya benar-benar harus melakukannya! Just DO it! Dan jika tak mencobanya, tentu kita tidak akan tahu hasilnya.

Usai menawari anak-anak “bersemangat” itu tentang rencana yang tertanam dalam kepala saya, maka saya memberanikan diri sekadar meminta izin kepada pengurus masjid atau tetua masjid yang ada disana. Selalu saja ada keajaiban-keajaiban kecil yang menyertai usaha dan tekad kita.

Tabe’, Pak Haji. Apa boleh saya meminta izin untuk anak-anak itu mengumandangkan adzan di masjid ini?” usul saya sembari menunjuk anak-anak yang takut-takut sekaligus malu-malu menatap ke arah kami.

“Saya ingin memberikan mereka sedikit pengalaman untuk belajar dari sekarang, dan mungkin menerapkan ilmu mereka untuk kemashlahatan umat,” tambah saya berargumen, berusaha menarik simpati dari lelaki tua yang setahu saya seringkali menjadi imam di masjid ini.

“Hm…boleh, boleh. Sangat boleh, nak. Saya dulu juga mantan pendidik, nak. Jadi saya tahu bagaimana rasanya membelajarkan mereka,” jawaban yang tak pernah saya duga sebelumnya. Lelaki tua itu tersenyum. Ramah sekali.

Ia kemudian menunjukkan sedikit cara mengoperasikan alat disana. Maklum, saya belum kenal betul dengan seluk-beluk masjid itu.

Meskipun diwarnai tatapan-tatapan “aneh” dari jamaah yang bersiap shalat Dhuhur disana, saya merasa bangga kepada mereka. Mereka telah berani, seperti yang selalu saya tanamkan pada mereka,

“Kalau tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang berani!”

Dan membuat saya tersenyum-senyum sendiri ketika mendengar salah seorang diantara mereka men-support teman lainnya yang akan mengumandangkan adzan, “Ndak apa-apa. Yang penting kau berani saja. Ini kan bisa jadi pengalamanmu juga.”  Akh, padahal itu seharusnya menjadi kata-kata penyemangat dari saya. Kenapa dia yang sekecil itu bisa menyemangati temannya yang lebih tua darinya?

Sambil menuntunnya, yang memang baru pertama kalinya diizinkan mengumandangkan azan di masjid kampungnya sendiri, ia sedikit gugup di depan mikrofon. Tak berselang lama, gugup itu hilang berganti suara azan yang menggema di penjuru masjid. Lantas, ia tersenyum sumringah dipandangi teman-temannya, dan mungkin orang-orang tua di sekitarnya.

“Lalu, Ashar nanti, siapa lagi?” tutur saya sebelum meninggalkan masjid siang itu, yang disambut oleh acungan tangan beramai-ramai anak yang (mungkin) baru saja mengikuti lomba azan kemarin siang.

***

Akh, saya nampaknya agak telat mendampingi anak-anak itu di waktu Ashar. Padahal, saya sudah menjanjikan untuk “meminta” giliran anak-anak lain di adzan selanjutnya dan datang lebih awal. Setidaknya, saya bisa sedikit mengarahkan mereka dan mungkin melindungi mereka dari tatapan-tatapan ‘aneh” dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Saya lantas dikagetkan oleh suara azan anak kecil, yang rasa-rasanya familiar, ketika baru saja saya hendak mengambil air wudhu.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar!”

Ahaa!! Adakalanya langkah awal yang kita buat bisa menuntun langkah berantai lainnya. Saya menyadarinya, ketika ternyata anak-anak itu memenuhi “janji” mereka. Mereka serius ingin belajar. Semangat mereka untuk pengalaman mereka. Toh, orang-orang dewasa disana pada akhirnya memberikan keleluasaan bagi mereka untuk menimba ilmu lewat pengalaman kecil itu. Saya menghargainya. Semoga kami bisa menanamkan sedikit hal-hal baru lainnya untuk mereka.

***

Hm…hari Minggu, memang bukan waktu jam bimbingan belajar bagi kami, mahasiswa KKN disini. Akan tetapi, hari Minggu adalah hari libur. Termasuk pula hari dimana kami memang tak ada kerjaan lainnya lagi di waktu sore. “Lantas, kenapa tidak saya memanfaatkannya untuk mewadahi semangat belajar mereka?” pikir saya.

Saya merasa bersalah jikalau menjalankan “kerja nyata” di daerah pengabdian hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Saya mahasiswa, kami mahasiswa, dan sudah menjadi esensi paling mendasar mengabdi kepada masyarakat. Misi utama: meninggalkan kesan yang baik bagi masyarakat di lokasi.

“Bebas! Kelas Bebas. Kalian bebas menanyakan apapun dan saya bebas mengajarkan apapun untuk kalian,”

Inilah kertas cita-cita kalian. Semoga beruntung. ^_^. (Foto: ImamR)

Karena belajar tidak hanya di sekolah. Tidak hanya menulis dan membaca. Tapi, lewat pengalaman pun kita bisa belajar. Sejatinya, ungkapan “experience is the best teacher” tidak akan pernah usang dimakan waktu.

Oleh karena itu, hari ini saya akan bertanya dan kalian menuliskannya, “Apa cita-cita kalian?”


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 27 Juli 2013

Itu Baru Namanya Semangat!

Juli 27, 2013
Saya tersenyum sendiri melihat tingkah polah mereka. 

Haha....lagi-lagi saya menemukan "proses awet muda" dalam tawa mereka. Tawa yang tertularkan secara berantai. Sedikit mengabaikan persoalan-persoalan klise diantara kedewasaan hidup. 

Anak-anak. Salah satu program kerja yang akan kami langsungkan di tempat pengabdian ini adalah Bimbingan Belajar alias Bimbel. Kemarin, adalah hari kedua pelaksanaannya, meskipun nyaris tertunda karena bertepatan dengan seremoni pembukaan salah satu program kerja kami yang lainnya.

Akan tetapi, semangat anak-anak yang hadir di masjid kala itu membangkitkan semangat teman-teman lainnya untuk mengajar, setidaknya barang sedikit saja. Tidak sampai satu jam.

"Kak, Kak, hari ini belajar Bahasa Inggris kan? Saya ambilkan papan tulisnya nah?" tanya salah seorang siswa yang sempat menjadi "jatah" saya sehari sebelumnya. Antusiasnya sedikit "menyentak" kesadaran saya yang sempat "sengaja-melupakan" program tiga hari per minggu itu. Melihatnya, saya tidak tega mengecewakannya.

Hanya saja, melihat waktu yang bergeser tidak lama lagi, urung saya melakukannya. Sedikit menggoyahkan ketidaktegaan saya. Akan tetapi, lagi-lagi, saya menyaksikan dari kejauhan, salah seorang teman kami sedang tekun-tekunnya menjadi pengajar bagi anak-anak yang lain. Hm...saya melihat semangatnya, dan entah kenapa saya merasa tersentil. Tuh kan, dia saja bisa, dan betapa menghargai semangat anak-anak untuk belajar.

Oleh karena itu, daripada menunggu waktu lama, saya mengajak anak-anak itu untuk turut bergabung "memeriahkan" acara belajar itu. Tidak peduli mereka semua berbeda kelas dan tingkatan. Belajar ya belajar. Untuk hari itu, saya cukup melihat semangat itu. Sesuatu yang lebih penting bagi mereka. Dimana ada kemauan disitu harus dijalani.

Yah, sembari mewadahi semangat mereka, menemukan tempat yang tepat untuk mengekspresikannya, saya turut bergabung dalam acara "dunia ceria" itu. Maklum, kakak pengajar yang membawakannya mampu mencairkan suasana dengan gaya khas "anak kecil"nya.

Meskipun tidak sampai sejam kegiatan belajar itu berlangsung, namun di tiap raut wajah anak-anak sore itu saya menyaksikan ada kepuasan atas tersalurkannya semangat mereka. Sedetik, dua detik, kilasan-kilasan itu menghadapkan saya pada wajah-wajah sumringah. Antusias. Teriak sana-sini. Ramai. Bersemangat. Semangat untuk terus belajar. Semangat untuk menemukan kakak-kakak baru. 

Melihat semangat anak-anak kecil itu, menyulut sedikit perasaan kekanak-kanakan saya. Bukankah saya pernah bilang, kedewasaan sejatinya tidak memusnahkan kekanak-kanakan. Saya senang berinteraksi dengan mereka. Sedikit obrolan ngalor-ngidul bersama mereka membawa saya beberapa tahun ke belakang. Saat-saat dimana mungkin saya masih bandel-bandelnya. Sebenarnya sih tidak bandel juga. Saya tergolong anak paling "baik-baik" loh selama sekolah dasar. Hanya...sedikit bersemangat.

"Kak, Kak, saya punya cerita," beralih, sembari menanti waktu berbuka, beberapa anak bergantian mengutarakan cerita dan minatnya. Lamat-lamat, namanya Reza, mungkin. 

Saya memberikan isyarat untuknya bercerita. Di sela-sela cerita, tawa berderai. Masing-masing anak menertawakan cerita yang lain. Cerita yang berbeda, nuansa yang berbeda.

"Saya, Kak. Saya punya pertanyaan, Kak," potong anak-anak lainnya lagi yang ikut berkerumun diantara kami.

"Iya?" tentu saja, menghadapi anak-anak harus dengan lukisan senyum, sejenak melupakan segala beban pikiran.

"Apa bahasa Cina-nya 'Sendok Besar'?" sebuah pertanyaan iseng meluncur dari mulutnya. Tentu saja, jawaban yang akan membuat tawa kami tulus bergulir.

"Sikopang(*)," jawabnya lagi lengkap dengan aksen China-nya. hahaha....

***

"Namun harus tetap mengikuti irama anak, sejauh apakah mereka mau diajak melompat, secepat apakah mereka mau diajak berlari," ---Indonesia Mengajar, the book--

Mengajarkan pelajaran tertentu buat mereka, tidak lantas membuat passion saya berubah. Saya suka anak-anak. Saya suka mengajarkannya. Tapi, belum pasti saya akan menjalani kehidupan kelak sebagai seorang guru. Saya masih memilih dengan passion yang saya jalani sekarang. Saya masih seorang yang suka beraktivitas di luar, berintraksi dengan alam dan orang sekitar. "Apa kabar impian disana?"

Hanya saja, mengikuti kehidupan polos anak-anak itu, saya harus terus belajar. Saya memang mengajarkan sesuatu yang saya pahami di sekolah kepada mereka. Mereka sukarela atau dipaksa akan bertanya tentang pelajaran-pelajarannya di sekolah. Namun sejatinya merekalah yang bergantian mengajarkan saya tentang hidup. Percaya atau tidak, secara tidak sadar, anak-anak lebih banyak mengajarkan kita tentang menghadapi sebuah masalah, rumit maupun sederhana. Olehnya itu, berinteraksi dengan mereka berarti memberikan saya bekal untuk menghadapi setiap aral yang saya lalui di kehidupan kelak.

"...sejelek apapun nilai Matematika mereka, murid-murid saya akan tetap menjadi anak yang spesial. Mengapa? Karena merekalah yang akan mengajarkan arti ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan." ---Indonesia Mengajar, the book--


--Imam Rahmanto--

(*) Dalam bahasa daerah, yang berarti "sekop pasir".



Jumat, 26 Juli 2013

Memahami dan Memahamkan

Juli 26, 2013
Memahami orang lain, baiknya terlebih dahulu melihat segala hal lewat “mata”nya. Merasakan dunia lewat hatinya. Tidak terkecuali anak-anak…

“Gantian ya? Untuk anak SMP, biar saya saja yang tangani,” keluh salah seorang teman saya.

Sore itu kami baru saja usai memberikan “pemanasan” bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah di sekitar lokasi KKN kami. Bimbingan belajar itu, adalah sedikit dari program kerja yang kami targetkan untuk rampung di masa-masa pengabdian ini.

“Kenapa?”

“Anak-anak SD sulit diaturnya. Suka ribut,” jelasnya lagi.

Ah ya, benar-benar berlaku hal umum. Saya sendiri sudah pernah merasakannya. Menjalani pekerjaan sebagai guru privat selama lebih dari setahun mengajarkan saya untuk bisa berinteraksi dengan anak-anak. Saya jadi tahu, bagaimana sulitnya anak-anak sepantaran Sekolah Dasar diberikan pemahaman terhadap suatu hal. Terkadang saya dibuat berpikir, berpikir, dan berpikir sambil memutar otak kanan. Cara kreatif apa yang bisa membuat mereka mengerti?

Mendidik anak kecil memang sulit. Tak jarang makan hati. Akan tetapi, dari sudut pandang yang berbeda, saya menyukainya. Justru selama mengajar tiga anak sekaligus (dalam satu keluarga), saya banyak belajar dari mereka. Keceriaan. Ketulusan. Keingintahuan. Keakraban. Penghargaan.

“Kak, kapan belajar lagi?”

Saya lebih trenyuh melihat semangat anak-anak yang ingin terus belajar. Mengabaikan kesulitan untuk memahamkan pelajaran kepada mereka. Yang terpenting itu adalah KEMAUAN.

Saya jadi teringat dengan anggapan keliru dari salah seorang dosen saya.

“Kesalahan guru-guru di sekolah dasar karena tidak menanamkan konsep yang benar dalam pembelajarannya. Sehingga pada akhirnya terbawa hingga dewasa lewat konsep yang salah itu,”

Hmm…saya tidak begitu se-aliran dengannya. Bagi saya, apa yang dilakukan guru-guru di sekolah dasar pada hakikatnya demi esensi mendidik dan mengajar. Guru-guru lebih banyak memberikan pengertian yang lebih mudah dipahami oleh anak-anak demi pemahaman yang benar akan pelajaran itu. Mengenai pelajarannya, memang bukan perkara mudah. Siapapun bisa mengajarkannya. Akan tetapi, yang sulit disini adalah memahamkannya. Sulit loh memberikan pemahaman agar anak-anak mengerti tentang suatu pelajaran.

Jikalau seorang guru ingin memaksakan kehendak “penanaman konsep” itu semenjak dini kepada anak-anak di Sekolah Dasar, bagaimana cara mereka memahami? Dunia anak-anak itu sangat lekat dengan dunia nyata, dunia yang selalu mereka nikmati sebagai kanak-kanak. Bermain dan bermain. Bukan dunia kompleks, melainkan dunia sederhana dengan banyak tawa di dalamnya. Oleh karena itu, belajarlah tersenyum dari anak-anak.

Mengajarkan apapun pada siapapun, memang butuh kemampuan untuk mensejajarkan diri lewat persepsinya. Mengajar anak-anak, kita perlu “menjadi” anak-anak. Mereka adalah yang paling jujur dari masa manusia. Sehingga, bukan hal yang aneh jika kita ikut-ikutan nyeleneh sebagai anak-anak ketika belajar bersama mereka.

Hingga saat ini, saya pun sebenarnya masih menikmati sesuatu yang dianggap tabu bagi orang dewasa. Tak peduli. Karena sejatinya, kedewasaan itu bukan berarti membuang segala “atribut” kanak-kanak kita, melainkan belajar cara menyelesaikan setiap pengalaman dalam hidup kita.

*****

Anak-anak itu berebutan mencium tangan kami. Satu-dua-tiga-empat orang berdesakan di sela-sela pintu masjid berebutan meraih tangan saya. Padahal, saya sejak tadi tidak kebagian tugas mengajar mereka. Dua orang anak SMP menjadi "jatah" saya sore itu. Ketika hendak pulang, saya hanya kebetulan numpang lewat di depan pintu masjid, dan kemudian satu per satu anak-anak itu antusias menyalami dan mencium tangan saya.

Akh, anak-anak, selalu berkutat dengan kepolosannya. Dunia yang sepenuhnya tidak dipahami oleh orang dewasa. Kata mereka, menjadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi sulit untuk dijalani. Think Again!

Jangan lihat soalnya. Lihat nilai ibadahnya, membagi ilmu bermanfaat kepada orang lain., para generasi muda  :)
(Foto: ImamR)

--Imam Rahmanto--

Tak Ada yang Instan

Juli 26, 2013
(google.com)
Saya menyeduh segelas Cappuccino hangat saya malam ini. Bukan minuman-minuman berkelas seperti yang disajikan di café-café sebenarnya, melainkan hanya minuman sachet yang dijajakan di warung-warung biasa. Akh, tak mengapalah. Saya tidak menikmati seberapa instan minumannya, melainkan aroma yang dihasilkan dari menikmatinya secara perlahan, sebagaimana manusia selalu berproses.

Instan? Rasanya, tidak ada hal yang berlaku benar-benar instan di dunia ini. Bahkan makanan atau minuman instan pun disajikan tidak benar-benar “langsung-ada-jadi”. Bagi saya, menjalani sesuatu memang dibutuhkan proses. Dan proses itulah yang menentukan hasilnya. Terlepas dari hasilnya yang baik atau buruk, selalu, darinya kita bisa mengambil banyak pelajaran. Kita hidup, menimba pengalaman, mengambil pelajaran, menuai hikmah.

Saya semakin percaya dengan ketentuan Law of Attraction, atau yang biasa disebut Hukum tarik-Menarik di alam ini. Apa yang kita bangun di pikiran kita sendiri terhadap sesuatu, maka pada kenyataannya alam akan berkonspirasi merefleksikannya dalam kehidupan nyata.

Seperti halnya yang belakangan, mungkin, saya alami. Beberapa hari menjalani keseharian dengan teman-teman baru di lokasi KKN membuat saya banyak belajar. Saya banyak belajar tentang pikiran saya sendiri. Mengelolanya, sekaligus mentransformasikannya. Nyata? Tentu saja. Selalu, apa yang saya harapkan berlaku demikian. :)

“Saya merasa tidak enak saja dengan kalian yang telah menghabiskan waktu lebih lama berada disini dibandingkan saya,” pernah suatu waktu saya berpikir pesimistis seperti itu.

Pertama kali, saya masih kikuk berkomunikasi dengan teman-teman saya. Meskipun, saya sendiri memaklumi apa yang terjadi pada saya. Akan tetapi, orang lain atau bahkan teman-teman saya disini tidak pernah melihat atau menyaksikan apa yang saya jalani, bukan? Mereka menilai berdasarkan apa yang mereka lihat.

Ada saja tatapan-tatapan tak mengenakkan, menurut persepsi saya, atas kehadiran saya. Pikiran itu, saban hari selalu menghantui gerak-gerik saya. Maka tak perlu heran jika suatu waktu saya menjadi orang yang pendiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, meskipun saya sangat menginginkannya. Haha…alhasil saya terheran-heran menyaksikan seberapa introvert-nya saya kala itu. Saya selalu mengeluhkannya.

Percaya atau tidak, segala sesuatu itu butuh proses. Menyeduh kopi instan pun harus melalui tahapan-tahapan tertentu, seperti yang tertera di bungkusnya. Mie instan? Apalagi! Saban hari saya melihat teman-teman saya tidak bosan-bosannya menyeduh mie instannya. Mungkin, santapan berbuka maupun sahur tidak cukup untuk konsumsi perut mereka.

Jangankan makanan, hubungan dengan orang lain pun butuh proses. Tanpa proses, hasil yang didapatkan tentu mengecewakan. Yah, ingat, segala hal yang instan itu sejatinya tidak “menyehatkan”.

Tuhan pun menciptakan dunia ini dengan tahapan-tahapannya, kan? Bukan kunfayakun mendadak “langsung-jadi-ada”. Kalau saya tidak salah ingat, di pelajaran agama, bumi diciptakan lewat enam tahapan ya? Menjallin hubungan dengan orang lain bahkan bukan hal mudah.

Semenjak pertama kali menginjakkan kaki di lokasi KKN ini, meskipun sangat terlambat, saya memang sudah bertekad untuk bisa menjalani “rutinitas” parallel saya. Konsekuensinya, ya harus dijalani.

“Apa tidak capek bolak-balik Makassar-Pangkep terus?” seorang teman disini pernah bertanya.

“Ini sudah konsekuensi yang harus saya jalani,” timpal saya selalu. Imbasnya, saya harus “bekerja” melebihi kesanggupan teman-teman lain. Saya selalu percaya, keajaiban bisa diciptakan lewat kerja keras dan tekad yang kuat. Just believe it!

Saya kemudian tidak peduli dengan tatapan-tatapan tak mengenakkan itu. Saya tak bergeming dengan suara-suara  tak baik “tentang saya” di belakang sana. Sedikitnya, saya memaksa dan terus memaksa untuk berpikir sesuatu yang baik terhadap hubungan dengan teman-teman saya. Berusaha menanamkan persepsi baik lewat alam bawah sadar saya. Hasilnya?

Segala hal butuh proses. Dan ketika kita memutuskan menjalani proses itu dengan keyakinan dan kepercayaan, maka Tuhan akan selalu membukakan hasil yang baik bagi kita. Setelah menjalani proses-proses yang bagi saya melelahkan batin itu, akhirnya saya menemukan titik terangnya. Lampu hijau bagi saya. Proses yang ada, sembari terus belajar, cukup dinikmati.

Adalah keberuntungan bisa menjalani “pelajaran” itu disini. Saya belajar, bagaimana cara mengelola pikiran sendiri. Saya belajar cara menetapkan sesuatu dalam pikiran alam bawah sadar saya. Saya belajar tentang komunikasi efektif dengan orang lain. Bahwa ternyata segalanya memang butuh proses. Saya belajar bagaimana menarik minat orang lain. Saya banyak belajar dari kehidupan yang terkadang tak disadari orang lain. Saya belajar dari mereka yang tidak sadar telah menjadi guru bagi saya. Saya belajar menikmati dan memetik pelajaran dari sana.

Akhirnya, mungkin, saya tidak perlu kesulitan lagi menjalani aktivitas parallel itu. Tugas akademik dan tanggung jawab seorang pimpinan. ^_^.


--Imam Rahmanto-- 

Selasa, 23 Juli 2013

Disini, Tempat Mengabdi

Juli 23, 2013
Nampaknya saya belum pernah bercerita detail tentang lokasi pengabdian alias KKN saya ya? Semenjak saya bertemu dengan teman-teman (redaksi) yang menginjakkan kaki di lokasi yang berbeda-beda, mereka banyak bercerita tentang kehidupan disana. Ada banyak juga yang mereka alami disana. Termasuk duka-duka-sukanya. Nah, saya pun tak ingin ketinggalan bercerita tentang kehidupan saya disini.

Mereka, teman-teman saya, ada yang bermukim di nun-jauh pedalaman sana, nyaris seperti anak-anak SM-3T alias Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Itu loh program pemerintah Dikti untuk lulusan S1 kependidikan (calon guru). Soal sinyal? Jangan ditanya. Mereka harus rela naik-turun gunung untuk bisa memperoleh sedikit kebaikan penyedia jaringan seluler. Saya membayangkan, bagaimana mimik dan gesture tubuh mereka ketika mencari-cari sinyal sekadar untuk menelepon kerabat atau teman.

Angkat handphone tinggi-tinggi, memandangi sayu handphonenya, mengintip gambar sinyal di layarnya, sambil berdoa di dalam hati, “Ya Tuhan, berilah hambaMu ini sinyal,” Karenanya, kami memaklumi ketika teman saya itu dikirimkan pesan singkat (sms) maka dua-tiga hari berikutnya barulah ia mengirimkan balasannya.

Ada pula yang hingga kini masih tidak pernah ketahuan kabarnya. Sinyal, ada. Wajah yang tidak pernah kelihatan.

Sebagiannya lagi masih dalam taraf-taraf yang standar bagi anak-anak KKN. Tersedianya fasilitas jaringan seluler. Desa yang sudah dilengkapi listrik dan penerangan. Air bersih dari PDAM. Oiya, sebagiannya lagi masih memanfaatkan air sumur - timba sendiri untuk keperluan sehari-hari. Penduduk yang ramah. Bahkan, cerita dari salah seorang teman saya, setiap harinya mereka selalu mendapat undangan berbuka puasa bersama di rumah-rumah penduduk. Huh, bikin ngiri aja.

Unik. Entah mengapa hal yang satu ini terkadang menjadi pribadi dan kemauan saya. Saya tidak begitu suka dengan hal-hal yang sudah banyak disukai orang. Terkadang, saya memilih untuk mencari hal-hal yang sama sekali tidak pernah disangka atau dipilih orang lain. Termasuk dalam pemilihan lokasi KKN kemarin. Ketika teman-teman berbondong-bondong memilih (atau memindahkan) lokasinya ke Barru, saya memilih untuk sendirian di Pangkep. Ya, ya, berusaha mencari sedikit penghiburan dan pengalaman baru meskipun harus rela seorang diri. Alhasil, kunjung-mengunjungi posko menjadi rutinitas mingguan teman-teman saya disana.

Dan saya disini?

Tugu bambu runcing. (int)
Oke, mari bercerita tentang Pangkep, yang menjadi destinasi KKN saya. Daerah yang baru-baru ini memperoleh piala Adipura yang ketujuh kalinya. Sejujurnya, saya pertama kali memperoleh penempatan di Kab. Soppeng. Akan tetapi, mempertimbangkan akses dari kota Makassar, karena saya punya tanggung jawab yang mesti dijalani, maka saya “memilih” untuk mematok Pangkep.

Jarak tempuh yang dibutuhkan dari Pangkep ke kota Makassar benar-benar tidak butuh waktu lama. Waktu tempuh normal hanyalah satu jam, namun macet di kota Makassar bisa membuatnya berlarut-larut hingga 1,5 jam atau bahkan 2 jam.

Tidak begitu sulit menemukan kediaman kami, mahasiswa KKN di Pangkajene. Meskipun tanpa dilengkapi spanduk posko, siapa saja bisa dengan mudahnya menerka-nerka wilayahnya. Tak perlu takut kesasar. Daerah kami adlah kompleks perumahan, dan tepat berada di belakang stadion Andi Mappe yang kemungkinan semua orang Kecamatan Pangkajene tahu dimana lokasinya. Lagipula ada banyak “penanda” yang bisa mengukuhkan lokasi posko kami. Sebut saja, kantor polisi, kantor PDAM, menara PDAM, Kali Bersih, Tugu Bambu Runcing, Rumah Sakit Umum, atau malah jalan besar provinsi.

“Kebanyakan karena mereka pegawai dan karyawan, suasana siang hari disini terasa sunyi. Mereka sibuk bekerja. Kalau malam hari, masih juga terasa sunyi. Karena mereka sudah bergegas tidur sebelum masuk kerja lagi esok harinya,” alasan yang selalu saya dapatkan dari beberapa warga yang menjadi teman ngobrol saya.

Yah, di tempat kami ini, sangat berbeda dengan penduduk-penduduk desa pada umumnya. Sedikit budaya perkotaan telah masuk melalui kompleks perumahan ini. Salah satu yang menjadi sorotan saya, ya, masing-masing rumah sudah dilengkapi dengan pagar-pagar besi, meskipun tiap rumah berdempetan satu sama lain. Beruntung, tiap keluarga masih mengenal keluarga di sebelahnya atau bahkan di ujung lorongnya. Hmm..kalau di Makassar, jangan harap deh. Tetangga, belum tentu tetangga.

Berbeda dari lokasi teman-teman saya yang lainnya, di tempat ini kami dimukimkan di rumah Bu Lurah. Rumahnya menampung teman-teman mahasiswi kami, dan kami (laki-laki) diinapkan di rumah salah seorang warga kompleks. Rumahnya hanya berjarak 2-3 rumah dari rumah Bu Lurah. Kami biasa memanggilnya Pak Haji.

Nah, berbicara soal fasilitas, tentu saja kami bisa dikatakan lebih unggul dibandingkan teman-teman KKN lain di daerahnya masing-masing. Transportasi? Ada. Mau pilih mana? Mobil atau motor? Bahkan Bu Lurah siap menyertakan motor atau mobilnya untuk keperluan program-program kerja KKN. Air bersih? Ah, tak perlu ditanyakan lagi. Disini melimpah. Mau mandi setiap jam juga bisa. Pusat-pusat hiburan? Lah, disini kan kota. Ada banyak tempat yang bisa menjadi destinasi refreshing dari penatnya menjalankan program kerja, tak peduli siang atau malam hari. Dan jaringan internet? Ada warnet yang selalu menjadi tongkrongan saya di kala waktu senggang.

“Hei, bagaimana kabarmu disana?” tanya pesan dari seberang kepala.

“Hm…tidak begitu baik. Saya masih belum bisa menemukan inti “kedekatan” itu disini. Saya masih agak kikuk dengan yang lainnya. Mungkin saja, ada sedikit tatapan tak bersahabat yang saya peroleh disini,” jawab saya setelah berpikir agak lama.

“Tenang saja. Waktumu disana masih panjang. Kamu belajarlah, belajar apa saja. Dari sini, kamu bisa benar-benar belajar menyapa dunia luas. Memperdalam intuisimu. Menyapa kedalaman hati orang lain. Memperdalam toleransimu. Hingga nanti kau benar-benar mampu tertawa utuh apa adanya,” jawabnya lagi.

Kali ini saya tak membalasnya, karena ia benar-benar tahu tentang diri saya, karena ia sejatinya ada di dalam pikiran saya, di tempat saya seutuhnya mengabdi secara abstrak. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Senin, 22 Juli 2013

Sekadar Cerita

Juli 22, 2013
Hei, Cappie. Ini tentangmu. Kerinduan yang tak berbekas.

Cappuccino. Aku merindukanmu. Di bulan Ramadhan ini, di kampung tempat aku menyelesaikan tugas akademikku, kita sangat jarang berkomunikasi sekadar menyeruput aromamu. Mendekatkan bibir di gelas kesayanganku, di pagi hari. Ya, tentu kau tahu, betapa sukanya aku dengan pagi.

"Selamat pagi...."

Setiap kali pagi datang dan aku selalu menjadi orang pertama terjaga. Tak peduli tempat. Pun di lokasi ini, aku masih saja bisa menikmati pagi. Seorang diri merasakan ketenangan. Udara sejuknya yang menyekat di balik jaket yang kukenakan. Menatap jauh, jauh ke masa-sama silamku yang tak pernah dijamah orang lain. Hanya kau yang tahu, Cappie. Hanya karena kaulah yang selalu menemani pagiku.

"Maaf, Cappie. Menikmatimu di waktu sebulan ini akan terasa sulit. Jikalau bukan selepas tarawih, mungkin sehabis sahur," ucapku suatu ketika.

Semoga mengingat-ingat sekaligus membicarakan kehadiranmu di pagi ini bukanlah hal yang tabu dalam agamaku. Ini bulan Ramadhan, bulan yang seyogyanya mampu mengubah setiap sisi manusia jadi lebih baik. Puasa, mengukuhkan setiap amalan, mengikis setiap dosa. Hanya saja, apa kau tahu Cappie? Diriku yang dulu nyatanya lebih baik ketimbang diriku yang sekarang. Yah, tentu saja dalam tataran menyusuri bulan penuh berkah ini. Entahlah. Korelasi kedewasaan, cara berpikir, kesibukan, lingkungan, atau segalanya apakah mempengaruhi? Cemas.

Hei, Cappie. Apa kabarmu kini? Tiba-tiba saja aku agak menyesal tidak memenuhi pemberian salah seorang sahabatku. Hmm...penyeslaan yang semoga dibacanya dan membuatnya kembali sukarela mendonorkan sedikit kebaikan hatinya. 

"Ini Cappuccino buatmu. Sebagai bekal yah.." Ia mengangsurkan satu kotak yang tentu saja berisi Cappuccino. Mungkin, saking sayang dan merindunya ia dengan kami (aku dan seorang temanku) di redaksi, tak segan-segan ia ingin membekali kami dengan pemberiannya. Ia sangat tahu dan kenal betul, aku senang denganmu. Eh, sebenarnya malah semua orang di redaksi tahu tentang kebiasaanku yang satu ini.

"Eh, tapi saya balik ke lokasi bukan hari ini, melainkan lusa." Saya sedikit meluruskan tentang perkiraan kami kembali hari itu. Sedikit bercanda pula dengannya. Seperti yang kau tahu, Cappie. Ia merupakan salah seorang diantara kami bersepuluh yang paling peka dan peduli dengan teman-teman lain. Ia juga cengeng. ;)

"Ya sudah, disimpan saja dulu. Nanti kalau sudah balik baru dibawa," tuturnya. Dengan senang hati, tentu aku menerimanya.

Mana bisa aku bertahan lama denganmu. Benar saja, sekembalinya aku dari sana dengan tangan kosong. Tanpa membawa pemberian temanku itu. Maklum, aku tak pernah tahan mengangurkanku barang sehari atau dua hari. Padahal, kami tahu, ia memberikannya dengan hati yang berbunga-bunga. Mungkin sja karena ia baru-baru memperoleh iklan "besar". Dan kami tahu, ia aga jengkel (dibuat-buat) perihal tersebut. Tak apalah, lain kali saya pasti bawa kok. :)

Ini Ramadhan, ini puasa. Pagi hari, tentu saja aku tak bisa bersamamu. Padahal, aku selalu mendambakan menyeruputmu di sela-sela matahari buta. Layaknya perokok, kau terkadang memberikan stimulus bagi otakku untuk bekerja lebih baik. Bekerja untuk bercerita. Bekerja untuk menulis.

Oiya, Cappie. Menurutmu, aku pagi ini tak tentu arah? Tulisanku? Memang benar. Karena pagi ini aku hanya ingin sekadar bercerita dan mengatasi kekosonganku disini. Dan aku menyukainya. Bagiku, menulis itu candu.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 18 Juli 2013

Orang tua, Pensil, dan Anak Impiannya

Juli 18, 2013

“It feels to me that with a pencil anything is possible”
“Rasanya bagi saya, dengan sebatang pensil segalanya menjadi mungkin.”

Apa kita percaya? Lewat pensil dan pena, kita bisa melukiskan semua hal. Memungkinkan semua kemungkinan.

Ah ya, maaf . Saya tidak berbicara tentang hal itu. Kita berbicara tentang kesempurnaan. Mengharapkan kesempurnaan itu ibarat mengharapkan ketaksempurnaan itu sendiri. Ketika bisa menemukan kesempurnaan lewat persepsi kita, sejatinya adalah perasaan mampu menerima ketaksempurnaan itulah yang dimiliki.

Layaknya orang tua yang tentu saja menginginkan anak-anak yang sesuai dengan harapan mereka, doa-doa mereka. Anak-anak yang mampu membanggakan mereka. Sesempurnanya anak-anak yang dihadiahkan (gifted by God) Tuhan bagi orang tua, tidak akan pernah terasa sempurna bagi manusia. Manusia punya pemahaman yang tak terbatas terhadap keinginannya. Dan keinginan itulah yang terkadang membawa persepsi-persepsi subjektif terhadap kesempurnaan sesuatu.

Father: “All of these notebooks from that day, I just filled them with ideas of things that I wanted to make. Because I thought to be a part of making something, that was a great feeling. 

Father:  “God, to think that we may not be making these anymore.”  

Kid: “Why not make a new kind of pencil?”  

Father; “That's easier said than done.”  


Mother: “Yeah”

Kid: “Well, you can design it, and you can draw it. Then you guys can both build it.” 


Dari film yang pagi ini saya tonton, The Odd Life of Timothy Green, yang memberikan sedikit pemahaman baru bagi saya. Yeah, salah satu film yang sebenarnya telah lama mengendap di laptop kesayangan saya. Beberapa kali saya sempat mengacuhkannya, melihat kilasan filmnya (yang di-fast forward), tidak begitu menarik. Namun, sembari menghabiskan waktu menanti pagi, saya menyaksikannya. Lama, saya berusaha mengoleksi film-film motivasi atau inspiratif di laptop saya. Dan saya menemukannya (lagi) satu. Wow, saya benar-benar menyukainya, dan nyaris dibuatnya terharu. :D

Berkisah tentang sepasang suami-istri yang berharap memiliki anak. Harapan mereka nyaris berakhir ketika dokter telah memvonisnya “negatif”. Sekian lama mereka menanti kehadiran anak dalam keluarga kecil mereka.

Akan tetapi, garis hidup mereka akhirnya berubah ketika seorang anak kecil hadir dalam kehidupan mereka. Seorang anak yang lahir dari kertas-kertas catatan impian mereka, yang ditanam di depan pekarangan rumahnya. Seorang anak dengan kaki ditumbuhi beberapa helai daun. Timothy Green.

Kehidupan mereka akhirnya berubah selaras dengan kehadiran anak itu. Perlahan, segala hal yang diimpikan sepasang suami-istri lewat catatan-catatan kecil itu terwujud.

Father: Selama bertahun-tahun, kita sudah berpikir tentang seperti apa anak - anak kita nantinya.

Mother: Jangan.

Father: Kita bisa melanjutkan besok. Hanya untuk malam ini, kita bisa punya anak?

Mother: Kau dengar apa kata dokter. menyerahlah! menyerahlah.

Father: Itu dia . Jangan pernah menyerah! anak kita tidak akan pernah menyerah. Kau tahu apa lagi yang saya pikirkan?

Memiliki hati yang baik. Mencintai dan dicintai. Lucu seperti pamannya. Anak yang selalu percaya. Jujur untuk suatu kesalahan. Pandai bermusik. Artistik, layaknya Piccaso dengan pensil. Hanya sekali, akan mencetak gol kemenangan dalam pertandingannya. Semuanya, benar-benar terwujud!

Kedua orang itu tak sadar, berselang waktu, daun di kedua kaki Timothy yang tak bisa dipotong akhirnya gugur satu per satu setiap kali ia benar-benar mewujudkan “impian” mereka. Ketika daun-daun itu hilang, maka berakhir pulalah hidup Timothy.

(Salah satu scene yang nge-rocked)
Mereka, orang tua yang mendambakan anak yang sempurna, sesuai dengan persepsi yang mereka miliki. Mungkin, kerinduan akan kehadiran seorang anak yang telah lama mereka nantikan menjadi pembangkit keinginan-keinginan atas mimpi mereka.  Sejatinya, mereka sadar, membiarkan anaknya tumbuh dan melihatnya tumbuh adalah hal terbaik yang seharusnya dilakukan.

And for you guys, here’s what I know, lf you came to me and said,

"There are two people in the world who want you more than anything. They'll do their best. They'll make some mistakes. And you'll only get them for a short time. But they will love you more than you can ever imagine."

“Well, when that's true, l'd say, So much is possible." --Timothy Green--


--Imam Rahmanto--

Rabu, 17 Juli 2013

Pertanyaan Sederhana

Juli 17, 2013

(designed by ImamR)
Dua malam lalu, saya tidak tahan untuk lebih cepat terlelap dari biasanya. Saya baru saja melakukan perjalanan jauh, dari Pangkep ke Makassar. Waktu tempuhnya sebenarnya hanya 1 hingga 1,5 jam. Akan tetapi, jalanan kota Makassar di sore hari tidak semulus dugaan saya. Macet.

Saya beberapa kali harus bolak-balik Pangkep - Makassar, lokasi KKN - lokasi peliputan. Bukan hanya sebatas menyelesaikan proses peliputan yang sebenarnya tidak banyak membebani saya, melainkan mengawal sedikit tanggung jawab saya dan sekadar mengucap “apa kabar” untuk mereka. Katanya, keluarga yang baik adalah dia yang tidak membiarkan anggota keluarga yang lainnya telantar begitu saja. Dan saya mencoba mencerna pemaknaan konotasi ungkapan itu.

Seperti biasa, ruang tamu masih saja ramai seperti biasanya. Apalagi kami baru-baru saja selesai melaksanakan proses RPP alias Rapat Perencanaan Peliputan (usai melaksanakan ibadah shalat Tarawih). Beberapa teman masih belum beranjak dari posisinya, dan melanjutkan dengan obrolan-obrolan ringannya. Yaa, seperti yang sudah-sudah, gurauan-gurauan ala kami, pewarta kampus.

Saya masih terjaga ketika sayup-sayup mendengar obrolan teman-teman dari luar. Obrolan yang bagi saya, menarik. Sangat menarik malah.

“Lalu, apa yang membuat kamu masih mau bertahan di Profesi sampai sekarang?” tanya teman saya yang juga merupakan Pemimpin Umum kami. Ia mencoba sedikit peruntungan mengubek-ubek kedalaman tekad anggotanya.

“Karena saya sudah sejauh ini. Dan saya berpikir, kalau saya mundur, berarti sia-sialah perjalanan saya selama ini,” ujar salah seorang teman saya lagi. Hm…saya trenyuh mendengarnya. Saya mengulas senyum diam-diam.

“Kalau saya mundur, berarti saya tidak bakal bertemu lagi dengan Kak…, Kak…., “ ujar yang lainnya sembari menyebutkan nama teman-teman redaksi satu per satu. Sedikit gombal sih, tapi cukup bisa diterima.

“Tapi, buat saya, alasan saya hingga detik ini masih bertahan disini, ya karena saya telah banyak mendapatkan sesuatu dari Profesi. Baik itu berupa materi maupun non-materi. Selain itu, hal sebaliknya juga berlaku bagi saya,” ujar teman saya mantap.

Apapun itu, hal yang berlaku memang sebagian besar seperti itu. ^_^.

“Saya tertarik dengan perbincangan kalian!” seru saya dari balik sekat ruangan perpustakaan, tempat saya berbaring. Sedikit mengubah posisi tidur. Sembari menghadap ke arah perbincangan mereka, saya melanjutkan, “Apa yang membuat saya hingga saat ini masih bertahan di Profesi?”

“Iya. Apa, Kak?” mereka mungkin sedikit penasaran dengan jawaban saya.

Pertanyaan itu, bagi saya, sederhana. Sesederhana saya menemukan jawabannya beberapa bulan lalu. Tidak rumit. Hanya saja, saya memang baru menyadarinya ketika saya kehilangan salah satu esensi itu dalam kehidupan saya. Saya baru menemukannya ketika saya telah kehilangannya.

Sederhana. Tak perlu rumus Matematika untuk menemukannya. Tak perlu menghafal untuk melaminatingnya di kepala. Tak ada aba-aba bagi saya untuk bisa menyampaikan alasan sederhana atas pertanyaan sesederhana itu. Karena, toh, saya menemukannya lewat perjalanan hidup saya. Saya belajar banyak tentang kehidupan itu sendiri. Sehingga, kapanpun saya mendapatkan pertanyaan demikian, dengan mantap dan percaya diri saya akan menjawab,

“Karena disini, saat ini, adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki…”


--Imam Rahmanto--


Baru-baru saja, sore kemarin, Sandy si Tupai (teman Spongebob Squarepants) menyampaikan kalimat yang bijak menurut saya, “Rumah bukan soal daging, barbeque, atau yang lainnya. Rumah adalah tempat dimana kita dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kita.” Saya sependapat dengannya. (y)

Namanya Siong

Juli 17, 2013
(google.com)
Cincau. Saya rasa-rasanya kembali menemukan masa kecil saya dengan hidangan takjil berbuka itu. Es teh Cincau, begitu saya menyebutnya. Entah salah atau benar. Saya tidak terlalu “mau tahu” menanyakan namanya. Saya menyukainya, cincau itu. Dicampur dengan olahan minuman apapun.

Cincau, begitu orang-orang menyebutnya ketika ia sudah berwujud “agar-agar”. Saya tahu sedikit-sedikit darimana bahan dasar cincau itu. Sewaktu kecil, ayah saya kerap kali menemani salah seorang Paklik (baca: paman) saya untuk mencarinya. Tentu saja untuk dibeli dan diolah demi kepentingan tertentu. Sebenarnya, Paklik saya tidak lain akan mengolahnya menjadi agar-agar juga, salah satu campuran minuman produksinya.

Berbeda dengan rumput laut, bahan mentah cincau berupa ranting-ranting kering dan dinamakan siong. Begitu saya sering mendengar namanya dari ayah.

“Ini apa, Pa’?” tanya saya yang masih lugu-lugu dan polosnya.

“Ini siong, dibuat agar-agar,” jawab ayah saya.

Entah darimana pula saya begitu menyukainya. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Saya selalu saja memburunya jika berbuka di rumah. Ibu saya sekali-kali menghidangkannya untuk sajian berbuka puasa. Maklum, harga cincau lebih mahal ketimbang agar-agar biasa.

Dulu, sewaktu saya kecil, Paklik saya malah dengan senang hati membagi sedikit siong-nya untuk keluarga kami, sebagai imbalan karena ayah telah menemani mencarinya. Akan tetapi, sudah beberapa tahun berselang (saya lupa tepatnya), Paklik tidak pernah lagi mencari siong. Mungkin, usahanya telah berganti “genre” atau malah pailit. Jadinya, saya merindukan agar-agar hitam itu lagi.

Saya menyukainya, mungkin, sekadar karena mengingatkan masa kecil saya. Apapun itu, selama mampu membawa saya kembali ke masa silam, saya selalu menyukainya. Layang-layang. Hujan. Sekolah. Jalan kaki. Memanjat pohoh. Bunga kertas. Sepatu. Kelereng. Uang monyet Rp 500. Jam tangan. Sawah. Teman-teman. Sepeda.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar!”
Bedug ditabuh dan segera adzan maghrib berkumandang. Tandanya berbuka puasa. Dari layar televisi, berkelebatan skenario-drama di sela-sela adzan yang dilantunkan itu.

Tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun silam, TVRI masih saja menjadi salah satu stasiun andalan di kala bulan Ramadhan. Nampaknya, rating televisi pemerintah itu baru naik di bulan Ramadhan ini, apalagi pas waktu maghrib. Menjadi penanda waktu berbuka bagi tiap daerah di Indonesia.

“Selamat berbuka puasa!” ucap teman-teman saya sambil menyantap makanan yang sedari tadi dihidangkan di depan kami.


--Imam Rahmanto--

Post#04 dari BloggingRamadhan

Selasa, 16 Juli 2013

Perpustakaan, Saya Menyukainya

Juli 16, 2013
Saya begitu menyukai buku, entah dari mana, dari siapa, dan sejak kapan. Rasa suka itu muncul begitu saja, seperti halnya ketika kita menyukai orang lain. Semestinya tanpa alasan. Tanpa pamrih. Mungkin, benar. Segila-gilanya saya dengan bundelan kertas-kertas itu, hingga saya bermimpi memiliki perpustakaan sendiri. Lemari dengan beragam buku-buku menarik di dalamnya. Itu merupakan salah satu dari sekiaan banyak target hidup saya, loh. ^_^.

Perpustakaan desa. (Foto: ImamR)

Untuk mengisi waktu luang di daerah KKN pun saya menyempatkan membawa buku bacaan. Buku pinjaman dari perpustakaan redaksi. Yah, sembari menanti pelaksanaan program-program kerja “pengabdian” itu, membaca bisa menjadi alternatif pilihan untuk mengisi waktu luang.

Beruntung, saya menemukannya lagi disini. Tanpa saya sadari sebelumnya, di kantor kelurahan tempat kami biasa bertugas, saya menemukan perpustakaan desa.Perpustakaan yang tidak begitu besar. Perpustakaan yang juga hanya berisi buku-buku terbitan lama, rentang 2-3 tahun silam. Akan tetapi, sebagian besar buku-bukunya masih terbilang baru. Kelihatan dari sampul dan isinya yang menunjukkan bahwa buku-buku itu jarang dibuka apalagi dibaca.

“Ini memang perpustakaan desa. Jadi siapa saja sebenarnya boleh masuk kesini,” tutur salah seorang pegawai kantor kelurahan yang sempat menyambut saya di pagi yang gerimis itu. Ya, masih pagi, ketika saya seorang diri “berjaga” di kantor kelurahan.

“Kalau butuh bantuan, atau yang perlu diperbantukan, saya siap membantu, Bu. Karena itulah tugas saya disini,” sambar saya melihat wajahnya yang sempat bertanya-tanya melihat mahasiswa berjas orange nongkrong di depan kantornya. “Ngapain juga ini anak KKN duduk sendirian di depan kantor?” begitu mungkin pikirnya.

Kedatangan saya mungkin sedikit membunuh rasa sepi si Bu Pegawai tadi, yang belakangan saya tahu juga berasal dari daerah domisili yang sama dengan saya, Enrekang. Sembari menanti pegawai yang lain datang di tengah-tengah hujan, kami berbincang cukup lama. Ngalor-ngidul. Tentang si Ibu yang punya nenek di Enrekang. Tentang ayahnya yang lama tinggal di Pangkep. Tentang hujan. Tentang banjir. Tentang Bu Lurah. Dan tentang perpustakaan.

“Jadi, saya boleh baca buku-buku di dalamnya ya, Bu?” tanya saya lagi.

“Tentu saja. Kemarin juga beberapa temannya kan sempat minjam,”

Usai sedikit membantu ngangkat-ngangkat beras Bulog untuk warga, saya menikmati beberapa bacaan yang terselip di lemari perpustakaan desa itu.

Buku-buku yang dipajang di perpustakaan desa itu mengingatkan saya dengan buku-buku semasa sekolah dasar dulu. Mirip. Buku-buku yang memang disediakan oleh pemerintah. Tentu saja, tampilannya jauh berbeda dengan buku-buku yang dikomersilkan. Buku-buku ini tidaklah dari penerbit-penerbit kenamaan. Buku-buku yang kertasnya juga sebagian besar massih HVS murni. Nyaris membawa saya menjelajah masa kecil saya dulu.

Tentu saja, perpustakaan itu juga jauh berbeda (skala luas dan keragaman buku) dari perpustakaan yang sering saya kunjungi di Makassar. Apalagi ini hanya sebagai medium penambah informasi bagi masyarakat desa, meskipun kenyataannya sangat jarang dimanfaatkan oleh penduduk desa. Saya bahkan menemukan beberapa buku di bawah lemari rusak gara-gara terkena banjir.

Beberapa buku yang saya ubek-ubek. (Foto: ImamR)
Yah, bagaimanapun, saya melihatnya sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Di tengah-tengah lokasi KKN yang cukup sulit mencari penghiburan bagi saya (selain tidur), ternyata ada juga perpustakaan yang tersedia. Banyak baca, banyak tahu. Setidaknya, saya bisa menambah ragam bacaan lewat perpustakaan kecil itu. Kalau sudah seperti itu, saya bakal semakin rajin “bertugas” di kantor kelurahan kami. :) Mungkin kalau sedang tidak sibuk, saya akan sering-sering kesana ya?

Kata guru SD saya, Buku adalah Jendela Dunia. Buku adalah Gudang Ilmu. Untuk membukanya, kuncinya adalah dengan membaca. Selain itu, membaca adalah hal mutlak yang harus dipenuhi jika ingin menjadi penulis yang baik. Penulis yang baik dalah pembaca yang baik!

"Dengan membaca, kau akan mengenal dunia. Dengan menulis, maka dunia akan mengenalmu."

Hm..lagi, lewat perpustakaan itu, saya bisa mengenal dunia. Ternyata Tuhan masih sayang saya, dengan menunjukkan adanya buku-buku itu buat saya. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Post#03 dari BloggingRamadhan

Minggu, 14 Juli 2013

Buku Amal(iah)

Juli 14, 2013
(google.com)
Lepas Shalat Witir, segerombolan anak berkerumun sesegera mungkin maju ke depan mimbar. Di tangan masing-masing telah tergenggam buku kecil, dengan sedikit sentuhan nuansa-nuansa Ramadhan. Di tangan yang lain, pena melengkapinya. Tak butuh waktu sedetik, saya sudah tahu maksud dari anak-anak kecil itu.

Mereka mengingatkan saya di waktu kecil dulu, seusia mereka. Tidak jauh berbeda, tugas mengisi Amaliah Ramadhan menjadi motivasi saya dan teman-teman lainnya untuk rajin ke Masjid menjalankan Shalat Tarwih. Buku yang jumlah halamannya tidak seberapa itu menjadi tolok ukur, menurut guru saya waktu itu, perolehan nilai Agama kami. Tentu saja, kami tidak boleh lepas dari mendengarkan ceramah sedikit pun.

Jika beruntung, dengan sukarela si penceramah biasanya akan menyebutkan judul ceramahnya kepada kami dari atas mimbarnya. Akan tetapi, jika penceramahnya sama sekali tidak peduli dengan keberadaan kami, para anak kecil yang berbekal buku Amaliah Ramadhan, maka kami harus menerka-nerka sendiri judul ceramahnya.

“Hei, judul ceramah tadi apa ya?” sekali-kali seorang teman akan bertanya, karena tidak fokus pada isi ceramah atau memang tidak berminat mendengarkannya. Hm…terkadang pula teman-teman saya lebih suka cari perhatian dengan jamaah perempuan sebaya yang berada di belakang kami. tak peduli jika ceramah sementara berlangsung.

“Yang ceramah tadi siapa?” Orang dewasa di sekitar kami bisa menjadi “tumbal” seandainya kami tidak tahu nama dai yang sedang berceramah.

Sebagai bukti telah mengikuti Shalat tarwih dan rangkaiannya, maka kami diwajibkan untuk mendapatkan tanda tangan si penceramah. Jadilah kami berlomba-lomba, kasak-kusuk menanti-nanti waktu Shalat Witir selesai. Segera, mengerumuni penceramah yang (semoga) wajahnya masih bisa kami ingat. Dulu, biasanya saya mengakali tanda tangan itu dengan tanda tangan sekaligus oleh pengelola masjid. Sebanyak 5-10 ceramah dikosongkan tanda tangannya, digantikan dengan satu jenis tanda tangan penjaga masjid di lain kesempatan. #Cerdik!

Lazimnya, ternyata kebiasaan di setiap daerah itu nyaris sama. Beberapa teman saya pun mengaku pernah mengalami hal serupa, terkait buku Amaliah Ramadhan. Mereka nyaris mempunyai pengalaman “mencari tanda tangan” yang sama dengan saya.

Tidak hanya itu. Masih lekat dalam ingatan saya, buku Amaliah Ramadhan milik saya punya penggambaran “amal” yang lebih banyak dibanding buku sekarang. Sebut saja salah satunya, selain mengisi ceramah Subuh dan ceramah Tarwih, ada pula check hafalan surah-surah pendeknya. Di lembar lainnya lagi, tersedia tabel untuk mengisi amalan-amalan selama bulan puasa. Lembar terakhir, seingat saya, rumah keluarga/ sanak saudara siapa saja yang dikunjungi dalam rangka halal bi halal usai Lebaran?

Anak kecil, anak sekolah, memang identik dengan buku itu. Saya pun jika disuruh mengingat-ingat tentang Ramadhan masa kecil saya, sebagian besar tentu akan terbawa pada pengalaman mengisi buku “sakral” itu. Buku itu layaknya diary bulan Ramadhan bagi anak sekolah. Padahal, sedikitnya, hal-hal semacam itu akan mengajarkan sikap tidak ikhlas pada anak-anak. Pergi ke masjid hanya untuk mengisi buku semacam itu. Ckck…

Jamaah masih belum habis mengosongkan masjid. Satu per satu tampak berkerumun (juga) menanti giliran keluar lewat pintu yang hanya bisa dilalui satu-dua orang. Orang yang lebih tua memilih untuk bersabar sedikit lebih lama. Saya, masih jauh di belakang. Sembari duduk-duduk menanti kerumunan di depan itu habis, masih terus menyaksikan anak-anak yang bergantian menyodorkan bukunya untuk ditandatangani oleh dai yang sejatinya tidak terlalu mereka kenal.

“Tadi, judul ceramahnya apa, Pak Ustadz?” Ternyata masih saja ada anak-anak yang bertanya tentang ceramah yang dibawakan dai tadi.


--Imam Rahmanto-- 

Post#02 dari BloggingRamadhan

Sabtu, 13 Juli 2013

Untuk Apa?

Juli 13, 2013
(google.com)
Masih belum beranjak tengah hari ketika saya melihat teman-teman yang lain sedang menunaikan tugas mulia mereka; tidur. Selepas menjalankan kewajiban; membantu guru-guru di sekolah mengawal salah satu item Pesantren Kilat, hafalan surah-surah pendek, kami sudah kembali ke posko. Kegiatan yang berlangsung hanya sekira 2 jam itu tidak begitu menguras tenaga kami. Hanya saja, godaan untuk tidur di bulan Ramadhan kerap kali menghantui setiap orang yang berpuasa. Saya pun, yang tiduran sambil membaca buku terlelap hingga menjelang tengah hari.

“KKN disini, yang dikerjakan cuma tidur atau paling tidak mengurung diri di rumah kalau tidak ada program kerja yang dijalankan,” seringkali saya mendengarkan hal serupa dilontarkan oleh beberapa teman saya di lokasi KKN yang berbeda.

“Kalau kita beda. Kita kan masak juga, tidak cuma nyantai di rumah,” sanggah salah seorang teman saya. Pada dasarnya, nyaris sama.

"Kalau bisa, habis KKN kita sudah dapat pacar," canda teman saya yang lainnya.

Saya rindu dengan “kesibukan-kesibukan itu”. Meskipun terbilang melelahkan, tapi tetap menyenangkan. Mungkin, bagi orang seperti saya, diam itu bagaikan sebilah pedang yang sewaktu-waktu siap membunuh. Akh, tentu saja teman-teman lainnya yang terbiasa menjalani kehidupan organisasi akan mengalami perasaan yang sama. 

Mencurahkan tenaga dan pikiran terhadap sesuatu yang bermanfaat adalah hal mutlak. Tak heran, saya terkadang menghabiskan waktu dengan berjalan kaki sendirian mengelilingi tiap kompleks di sekitar posko saya. Saya merasa harus tetap berinteraksi dengan dunia luar, baik manusia maupun lingkungan.

Pada dasarnya, kata dosen-dosen saya, KKN itu adalah proses mengabdikan diri kepada masyarakat. Akan tetapi, menurut teman-teman saya (yang sudah menjalaninya), KKN itu adalah proses berlibur di kampung orang. Atau bahkan jikalau memungkinkan, proses mencari jodoh antar-jurusan. Ini mana yang benar??

Bagaimanapun penggambarannya, dalam benak saya telah terpatri, KKN itu berarti mengecat pagar kantor desa, kelurahan, atau camat, membersihkan wilayah-wilayah tertentu, membuat nomor-nomor desa, membuat batas-batas desa, dan bonus bagi kami: mengajar di sekolah-sekolah yang sudah ditentukan. Saya yakin, di kepala kebanyakan mahasiswa juga “terprogram” memori yang sama.

Di luar semua itu, santai di rumah, menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman lainnya. Benar-benar mirip liburan.

Akh, jika demikian halnya, saya jadi merindukan kegiatan-kegiatan kejurnalistikan saya. Bisa kemana saja, dan bertemu beragam watak. Mencoba menyelesaikan deadline. Ditantang untuk melakukan sesuatu yang “lebih” dari biasanya. Bahkan, saya merindukan mereka yang menjadi keluarga kecil saya. Sejatinya, keluarga itu adalah orang-orang yang membuatmu benar-benar merasa dekat.

Akan tetapi, seberapa besarpun keinginan saya untuk “kembali”, ada hal yang mesti saya selesaikan disini. Saya mahasiswa, dan saya menunaikan kewajiban saya. Sudah seyogyanya saya mengerahkan segala daya upaya untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Mungkin, sesuatu yang berkesan bagi orang-orang di sekitar sini. Sesuatu yang bermanfaat. Paling tidak, saya harus mengakrabkan diri pula dengan teman-teman yang lain. Menghilang selama lebih dari seminggu membuat saya benar-benar "asing".

Mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat tidak menjadikan kita orang-orang yang hebat ataupun sukses. Hanya saja, sebagai seorang mahasiswa, seharusnya KKN tidak hanya sekadar perolehan nilai “baik” semata. Saya ataupun mahasiswa lainnya seyogyanya sadar, KKN berarti pencapaian nilai “bermanfaat” bagi masyarakat. Jika tidak, buat apa kita diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat??

Ps: Hm...baiklah, mari menetapkan target. Usai menjalani "tugas" disini, semua orang sudah harus mengenal saya. :p


--Imam Rahmanto--

Rabu, 10 Juli 2013

Gagal? Tidak!

Juli 10, 2013
Ada usaha, ada jalan. Kalau sudah ada jalan, maka HARUS diusahakan!

Sore itu, saya melihat wajah teman-teman saya murung. Sebagian wajah terlipat. Sebagian lagi bertopang dagu. Ada senyum-senyum yang tidak pada tempatnya. Ada tawa yang mungkin sedikit dipaksakan demi mencari penghiburan semata. Saya tak memungkirinya, tabloid kami yang seharusnya dicetak sore itu, batal untuk “naik cetak”. Yah, hanya gara-gara kendala administrasi dan teknis.

Memang, terkadang setiap orang itu tidak mampu menutupi sesuatu yang sedang merutuki dirinya.

Beberapa kali akhirnya pimpinan kami mengusahakan alternatif lain untuk proses percetakan kami sore itu. Mulai dari lobi-lobi kepala percetakan, hingga mendatangkan senior kami yang memang bekerja di anak group Jawa Pos itu. Bahkan, wajah pimpinan kami pun tak jauh dari lipatan-lipatan kelam kesedihan. Wajahnya yang dari sana memang sudah sayu, semakin sayu. Ckck…

Seharusnya, hari itu, kami menerbitkan tabloid kampus edisi pengumuman SBMPTN alias Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sudah menjadi rutinitas tahunan bagi kami yang berkecimpung di dunia jurnalistik kampus. Dari sana, kami bisa memperoleh keuntungan yang tidak bisa dikatakan sedikit. Dari sana pula, kami bisa mengangkat nama lembaga kami. Bersaing dengan media-media umum lainnya, yang tentunya baru bisa terbit keesokan paginya. Jikalau kami terbit jauh lebih awal, bahakan dibanding pengumuman via online, maka akan ada banyak orang yang mencari tabloid kami sebagai bahan referensi pengumuman hari itu. Ada banyak calon mahasiswa baru yang mencari-cari tabloid kami malam itu.

Kita hanya bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan. Meskipun persiapan kami sebelumnya sudah matang, namun yang terjadi tentunya memberikan bukti baru, bahwa segalanya masih bisa terjadi. Tuhan selalu memberikan pelajaran lewat hal-hal yang tak terduga.

“Bagaimana persiapan tabloid?” tanya pimpinan kami beberapa hari sebelumnya.

“Siap 95 persen saya katakan,” jawab saya sambil cengar-cengir. Iya, dong!

Toh, apa yang saya katakan memang begitu adanya. Persiapan tiga hari untuk naskah-naskah berita yang dibutuhkan dan space-space kosong khusus iklan sudah mencukupi. Lagipula, saya percaya dengan kemampuan para reporter. Saya juga harus rela membatalkan agenda saya yang lainnya demi "keluarga kecil" saya yang satu ini. Entahlah, kelak saya menghadapi risikonya seperti apa.

Sore itu, ketika semua kepercayaan saya sudah terbayar lunas dengan mengagumkan, ketika proses layouting-nya telah selesai dalam waktu yang singkat, ketika tinggal menanti “naik cetak”, ternyata Tuhan menggariskan hal berbeda. Hingga menjelang tengah malam, kami masih belum bisa menerbitkan tabloid tepat waktunya.

Ada tawa-tawa penghiburan yang saya lihat dari wajah-wajah kelelahan mereka. Ada canda-canda saling menghibur. Sebagiannya lagi, masih belum bisa menutupi kekecewaannya.

“Ayo kita bakar saja percetakan disana,” canda salah seorang teman saya. Akh, ini yang namanya anarkis. Mengharapkan kegagalan serupa juga dialami oleh penerbitan kampus yang menjadi pesaing kami. Meskipun demikian, masih saja mengundang gelak tawa dari teman-teman saya.

Dan saya? Sudah terlalu banyak saya “memakan” masalah hari ini, dan hari kemarin. Masalah-masalah itu menyatu, berpilin, dan berputar di dalam kepala saya. Saling bertumbukan, dengan momentum yang saya sendiri tak mampu menghitungnya, memperkirakan cara menyelesaikannya.

Menambah-nambah kepala saya dengan kekecewaan “gagal cetak” malam itu hanya akan membuat wajah saya semakin “jelek”. Kalau dari sananya memang sudah jelek, ngapain juga semakin dibuat terlipat? semakin buruk. Dan, selalu, di setiap hal yang terjadi itu, ada hal-hal yang pantas untuk ditertawakan. Lagi-lagi saya suka melihat dunia dari sudut yang berbeda, meskipun saya sendiri menyadari, terkadang saya pun tidak mampu menahan segala sesuatunya sendiri.

Bukan Kegagalan


Tolong dong kameranya agak ke kiri dikit. Saya ada disana ndak kebagian dipotret, tertidur. 
Lebih baik TELAT daripada TIDAK sama sekali. Nah, akhirnya tabloid kesayangan kami terbit, tepat dini hari. Dengan wajah-wajah kelelahan, dan mata sudah nampak sayu, tak mampu lagi menahan kantuk sana-sini. Saya sendiri justru sempat tertidur (menyender meja) di saat teman-teman yang lain menyelesaikan proses diplo alias milah-milih lembar tabloidnya.

Namanya gagal itu bisa datang kapan saja. Bisa kepada siapa saja. Bisa dimana saja. Tergantung dari persepsi kita saja, bagaimana melihatnya dan belajar darinya.

Menurut cerita, seorang penemu bohlam lampu, Thomas alfa Edison, pun pernah mengalami kegagalan serupa. Ia baru berhasil menemukan bola lampu yang kita nikmati sekarang setelah percobaannya yang ke-100.

Suatu hari, ia diwawancarai oleh seorang wartawan,

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengalami kegagalan 99 kali dalam menemukan bola lampu, dan baru menemukannya di percobaan ke-100?” tanya wartawan itu.

Alfa Edison hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia sejenak menggeleng dan memberikan jawaban yang cukup membuat si wartawan terpana, “Saya bukannya gagal menemukan bola lampu. Melainkan saya telah berhasil menemukan 99 bahan yang tidak cocok untuk dijadikan sebagai bola lampu.”

Saya senang dengan cara berpikir Bapak Thomas kita. Ia melihat kegagalan sebagai BUKAN kegagalan. Ia memetik pelajaran dari sana. Memperlihatkan kita cara berpikir positif dari setiap kegagalan yang terjadi. Dari setiap kesalahan yang terjadi, selalu ada kesempatan untuk benar.

Dan saya apa yang telah kami alami malam itu bukanlah sebuah kegagalan. Kami gagal, tapi kami berhasil. Berhasil dalam taraf yang lebih baik. Saya justru menikmati rentetan-rentetan kejadian malam itu. Segala kejadian-kejadian lucu yang menimpa saya. Segala kejadian-kejadian melelahkan yang semakin membuat wajah saya terlihat buruk. :) Padahal saya orangnya ganteng 1%.

Seperti apa? Saya mencoba membalik cara pandang.

Tentu, kita tahu untuk tidak lagi berurusan telat dengan percetakan yang malam itu membuat kita “gagal panen”. Kita jadi tahu bagaimana “disiplin”nya percetakan tersebut. Kita pun belajar untuk tidak meremehkan waktu.

Saya senang dengan rentetan-rentetan kejadian itu. Unik. Ada banyak hal yang bisa diceritakan atau bahkan ditertawakan. Saya, yang malam itu dari percetakan “alternatif” tidak mengenakan sandal hanya gara-gara salah seorang teman saya (entah siapa) menggondol sandal tersebut. Ayo mengaku, siapa yang bawa-bawa sandal Connec-ku. Padahal, sandal itu pun sebenarnya bukan milik saya. Mau tidak mau, saya nyeker hingga ke acara makan-makan anak-anak redaksi di salah satu warung besar sana.

Pantas Dihargai

Adalah hal-hal yang pantas dihargai dari setiap semangat yang telah ditunjukkan oleh teman-teman redaksi. Saya kira, semangat itulah yang akan memperkuat kebersamaan kalian, kita, ataupun mereka. Seperti halnya ketika kalian masih bertahan hingga menjelang pagi hari demi bisa mendistribusikan (komersil) tabloid kita. Untuk melepas lelah, kalian rela bermalam di sekretariat (biro) kampus kita yang rawan “mistis”. Oh ya, saya dan salah seorang teman saya pun melepas penat di ruangan sebelahnya, mushallah PKM. Setelah teman saya ketakutan sendiri di kamar mandi dan minta untuk ditemani. Hahaha

“Hei…jaga dulu di depan pintu wei,” bujuk teman saya itu, lelaki.

“Aduh, ngapain? Pintunya kan bisa dikunci,”

“Bukan apanya. Saya cuma mau cuci kaki dulu,” dalihnya.

Halahh, paling-paling ia ketakutan setelah selama ini mendengar cerita seram mengenai gedung ini. Hahaha….

Alhasil, pagi hari ketika saya terbangun di pagi hari, sudah banyak teman-teman lainnya yang berjejer ikut terkapar di seisi ruangan Mushallah. Bak “mayat” korban Tsunami yang dijejerkan satu persatu menanti kedatangan keluarganya. Ckck..

Sejujurnya, saya pesimis menyaksikan tabloid kita terbit di pagi itu. Tentu saja, dengan nilai jual yang akan sangat rendah pagi itu (dikarenakan telat terbit dan harus bersaing dengan media-media umum yang mengeluarkan pengumuman serupa).

“Wah, ada banyak sekali koran saya yang laku,” ujar salah seorang senior saya yang menyambut pagi itu di kala mata saya masih berta-beratnya terbuka.

“Berapa yang terjual?” suara yang masih agak berat terbangun.

“19 eksemplar,” jawabnya. Wah, kesempatan yang bagus buat nyusul menjual pagi ini. Bisa laku banyak dong kalau begitu.

“Dijual berapaan, Kak?” kejar saya lagi.

“Dua ribu,” jawabnya singkat. Gubrakk!! Sangat jauh dari ekspektasi jual yang selama ini kita targetkan.

Ehem, itu bukan saya.... (Foto: Jane)
Tapi, tahukah? Melihat semangat teman-teman yang lain pagi itu di pinggir jalanan menjajakan korannya, dengan setianya menanti pelanggan, membuat semangat saya terbakar. Sejujurnya, harga yang dipatok pun masih tebilang menggiurkan. ^_^. Tak mau kalah dengan adik-adik saya, maka saya berpacu, bersaing dengan mereka.

Saya menyaksikan ada tawa renyah yang mengiringi perjalanan kami mendistribusikan koran pagi itu. Di balik kekecewaan yang menimpa, ada penghiburan yang menutupinya. Saya berpikir, untuk apa semakin memperburuk keadaan dengan menjalani keburukannya? Terpuruk, maka kita harus bangkit. Seberat apapun, mencoba untuk kuat adalah lebih baik.

Percayalah, apapun itu, pejalanannya akan lebih baik. Memang, tak ada yang mudah. Namun, bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan. Bersama ujian yang diturunkan Tuhan, selalu ada “kunci jawaban” yang menyertainya. Maka tugas kitalah untuk menemukan “kunci jawaban” itu di sekitar kita, bukannya malah memintanya lagi pada Tuhan. ^_^V.

Nah, sungguh perjuangan yang melelahkan, bukan? Kepada kita yang berdini-dini hari telah bersusah payah menemani proses percetakan “alternatif” itu. Kepada kita yang rela mengorbankan tempat tidur yang empuk di kost masing-masing. Kepada kita yang selalu membagi candaannya demi melihat teman yang lain tersenyum dan terjaga. Kepada kita yang bolak-balik mengusahakan percetakan itu berhasil. Kepada pimpinan (kita) yang terseruk-seruk bermimpi di bangku ber-AC  kantor percetakan, tak bisa lagi dibangunkan. Kepada kita yang pagi hari buta bersaing mendapatkan pelanggan, khususnya pelanggan yang cantik-cantik. Kepada kita yang “sikut-sikutan” menurunkan harga tabloid menjelang tengah hari. Kepada kita yang rela mengubah warna kulit lebih “hangus” siang itu demi mendapatkan biaya tiket bioskop (mencoba mencari sedikit penghiburan). Kepada kalian yang telah mematahkan bangku panjang milik Pak Satpam. Kepada kita (sebagian) yang bertahan dari gempuran godaan “tak puasa” hari itu. Bahkan, kepada siapapun yang “meminjam” sandal pinjaman saya. Buat kita dan kalian, adalah perjuangan yang sungguh luar biasa!


Siang hari, menutupi wajah masing-masing dari "kobaran" sinar matahari. Meratapi korannya yang tak
laku-laku. 

Hari itu, kita telah belajar. Sesuatu yang berharga telah kita dapatkan, bukan semata-mata kegagalan, melainkan keberhasilan membentuk tim yang solid. Kita mampu menunjukkan, kekecewaan itu tak serta-merta membunuh. Justru kegagalan itu yang membuat kita bangkit. Tahu tidak, ternyata yang dinamakan keberhasilan itu bukan ketika kita tak pernah gagal. Melainkan ketika kita berhasil bangkit dari kegagalan. Dan kita, membuktikan hal itu! Sejatinya, kita telah berhasil. ^_^. Ganbatte!

Selamat bepuasa bagi yang menjalani puasa pertamanya hari ini!

NB: Saya menjalani puasa pertama kemarin, mengikuti aturan yang dikeluarkan Muhammadiyah. ^_^.





--Imam Rahmanto--

Minggu, 07 Juli 2013

Percayakan Saja

Juli 07, 2013
(google.com)
Menghadapi cibiran dan makian dari orang lain sudah pasti menjadi hal yang sangat menyakitkan bagi kita. Saya pernah merasakannya, dan mungkin sedang mengalaminya.

Memandang orang lain dengan persepsi-persepsi yang hadir di benak kita seolah-olah memvisualisasikan bentuk “penilaian” itu pada orang lain. Saya menilainya sebagai orang jahat, maka dunia mengembalikannya pada saya sebagai orang jahat. Saya menilainya sebagai orang baik, maka dunia memberikan yang terbaik. “The Law of Attraction, benar-benar berlaku di dunia kita.

Saya memilih untuk percaya, percaya atas segala hal yang berlaku bagi saya.

“Saya percaya pada kalian,” ujar saya selalu. Mengapa kata-kata usang seperti itu menjadi pegangan saya dalam bekerja sama dengan orang lain? Karena saya pernah merasakan bagaimana sakitnya tidak dipercayai. Ketika orang yang benar-benar dekat secara keluarga dengan saya, hanya menaruh sepotong kepercayaannya pada saya. Selebihnya? Selalu saja skeptis.

Ketika saya telah mencapai titik klimaks dalam hidup saya, ketika kepercayaan itu benar-benar tidak bisa saya terima sepotongnya lagi, ketika cacian dan ungkit-ungkit masa lalu dan kesalahan saya mencuat ke permukaan, ketika kilas masa silam terekam jelas dalam benak saya, semua menyambung satu demi satu, berpilin, maka saya memutuskan untuk keluar dan memulai semuanya sendiri. Jikalau orang berkata saya adalah sebuah kesalahan, apakah tidak lebih salah orang yang telah menyebabkan hadirnya kesalahan itu?

Saya tahu rasanya tidak dipercayai. Saya merasakan sakitnya. Oleh karena itu, saya tidak ingin mereka yang saya percayai merasakan hal yang sama. Saya terkadang menghindari segala hal buruk yang pernah terjadi pada saya. Saya belajar dari masa lalu. Saya belajar darinya, untuk tidak menjadi dirinya.

Saling percaya, lugasnya, adalah media komunikasi antara dua belah pihak. Jika salah satunya tidak mempercayai salah satunya, bagaimana mungkin suatu kerja sama akan terbentuk? Jikalau salah satunya skeptis terhadap yang dilakukan oleh salah satu yang lainnya, bagaimana mungkin kerja sama akan terjalin rapi? Terkadang, memang butuh pengorbanan mental untuk bisa mempercayai orang lain, apalagi untuk orang-orang yang dalam penilaian orang lain sangat berbeda.

Sebaik-baiknya kerja sama adalah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada orang lain. Sederhananya, percayakan saja padanya. Just believe it! Bagaimana kalau tidak sesuai dengan yang diharapkan? Untuk membangun “sesuatu” yang baik, butuh sedikit pengorbanan yang “baik”. Yang dibutuhkan, cukup belajar, belajar, dan belajar. Setiap orang bisa salah.

Tapi, tahu tidak, saya termasuk orang-orang “aneh” yang suka memandang orang lain dari sudut persepsi yang berbeda. Saya tidak suka mengikuti cara kebanyakan orang. Saya lebih menyukai “cara sendiri”. Dan membuat segalanya terlihat berbeda…


--Imam Rahmanto--

Kamis, 04 Juli 2013

Mengabdi itu Menolong

Juli 04, 2013
Menjalani kesibukan di dua tempat yang berbeda namun di satu waktu yang sama memang benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Baru saja kemarin siang saya kembali ke Makassar bersama seorang teman (untuk urusan jurnalistik) dari lokasi KKN, pagi ini saya harus kembali lagi ke lokasi KKN untuk mengikuti salah satu program kerja yang dicanangkan oleh teman-teman KKN, seminar program kerja.

Yah, mau bagaimana lagi? Saya tak enak hati jikalau mangkir keseringan dari beberapa kegiatan yang dijalani teman-teman di lokasi KKN. Setidaknya, saya pun seyogyanya menjalani proses pengabdian kepada masyarakat itu selama beberapa hari sambil menyeimbangkannya dengan tugas-tugas jurnalistik saya yang mepet deadline.

Apa yang saya temui pagi ini, sedikitnya membawa saya pada sedikit kesadaran tentang keluarga. Yah, keluarga…dan esensi pengabdian kepada masyarakat itu sendiri...

***

Seorang ibu setengah baya yang sedang memangku anaknya sementara dikerumuni oleh staf-staf kantor kelurahan. Dari raut wajahnya, tampak jelas kesedihan dan kesulitan sedang melilitnya. Matanya berkaca-kaca dan tak sanggup menahan air matanya, ketika saya mengajaknya berkomunikasi dalam bahasa yang sama sembari menceritakan kesulitan yang sedang dialaminya.

Perempuan kelahiran 1988 ini merupakan penduduk asli Enrekang, tepatnya Kecamatan Alla yang juga merupakan daerah domisili keluarga saya disana. Tentu saja, bahasa yang digunakan serupa, yakni bahasa Duri, sehingga saya bisa berkomunikasi dengannya secara leluasa.

“Anak saya sakit, sudah tiga bulan. Kata dokter, hasil gambarnya (rontgen), ususnya terlipat. Dirujuk ke Rumah Sakit di Makassar, tapi harus dioperasi. Tapi kami tidak punya biaya, juga rumah sakit minta kartu keluarga,” terangnya tak beraturan. Ia terisak menjelaskannya dalam bahasa daerah yang tentu saja saya pahami.

Ada iba di setiap raut wajah yang saya saksikan di kantor kelurahan pagi itu. Perempuan yang sebenarnya mengontrak rumah di seputaran Kalibone, Pangkep itu telah diusir dari rumahnya karena tidak mampu membayar biaya kontrakan yang menunggak hampir tiga bulan. Pekerjaannya sebagai buruh cuci tidak mampu menutupi biaya tersebut, terlbih biaya pengobatan anaknya yang harus menjalani operasi.

Parahnya lagi, suaminya yang seharusnya menjadi tempat berlindung baginya, meninggalkannya sendirian di rumah bersama anak semata wayangnya, entah kemana, nyaris tiga bulan. “Suami saya bekerja sebagai supir truk, dan sampai kini ia tak pernah kembali lagi ke rumah,” tuturnya berkaca-kaca. Padahal, suaminya itulah yang telah memboyongnya ke daerah Pangkep ini setelah dipaksa menikah orang tuanya selepas SD. Ia dan suaminya berasal dari kabupaten yang sama.

Sebenarnya, tujuannya ke kantor kelurahan adalah untuk mengurus kartu keluarga sebagai bekal untuk pengobatan anaknya di rumah sakit. Akan tetapi, Bu Lurah tidak meluluskan keinginannya itu. Bukan tanpa alasan, karena menurut Bu Lurah ada prosedur-prosedur yang mesti dipenuhi dan dilalui oleh ibu yang bersangkutan. Akan tetapi, tak ada rotan akar pun jadi, ibu dan anaknya itu mendapatkan bantuan dari Bu Lurah untuk bisa digunakan pulang ke kampung halamannya. Hal yang tepat, mengingat ia masih memiliki keluarga dan sanak saudara disana yang bisa untuk membantunya. Terlebih, ia pun sebenarnya memiliki kartu keluarga beserta Jamkesmas-nya di kampung halaman.

***

Kisah memilukan ibu itu mungkin berakhir di Pangkep siang itu ketika kami (saya dan ketiga orang teman perempuan saya) mengantarkannya untuk mencari kendaraan pulang ke Enrekang. Ada pilu yang tertinggal selagi menyimak “terima kasih” dari ibu dan anaknya itu di atas mobil yang akan mengantarkannya ke tujuan.

Akan tetapi, bagi saya, apa yang saya alami pagi itu membawa saya pada beberapa kilasan yang mengingatkan saya pada keluarga. Hm…keluarga.

“Sedekat-dekatnya teman dekat, lebih dekat keluarga sebagai teman,”

Terlintas dalam pikiran saya, bagaimana seandainya hal yang menimpa ibu tadi berlaku pula pada keluarga saya kelak, tanpa sanak saudara yang bisa membantu, ataupun menemani hanya untuk sekadar menenangkan. Dan lagi, entah hal-hal itu melintas secara bergantian…

Dan lagi, ibu itu memiliki hubungan kedekatan dengan saya, dikarenakan berasal dari kecamatan yang sama dengan domisili keluarga saya disana. Menyaksikannya terlantar di Pangkep, cukup membuat saya mengurut dada. Akh, hal-hal semacam itu saja bisa membuat salah seorang teman saya menitikkan air matanya. 

Terlepas dari semua itu, kami sebagai mahasiswa KKN sedikitnya menemukan esensi mengabdi kepada masyarakat kala itu. Karena pada dasarnya, mahasiswa yang menjalani KKN tidak hanya sebatas; mengecat pagar, memasang batas desa, membersihkan wilayah, ataupun mengangkat-angkat barang. Kami menemukan bahwa sebenarnya-benarnya mengabdi kepada masyarakat adalah dengan membantu masyarakat yang benar-benar kesulitan,. Tidak hanya menghabiskan waktu menggugurkan program kerja dan bersantai di pondokan….


--Imam Rahmanto--

Selasa, 02 Juli 2013

Ayo, Kita Berinteraksi!

Juli 02, 2013
(google.com)
Saya beruntung menjadi orang yang menyempatkan diri berorganisasi di kala kesibukan dan kepadatan aktivitas kuliah sebagai mahasiswa. Ketika terjun di tengah-tengah masyarakat, nampak jelas perbedaan antara orang-orang yang setidaknya pernah bersosialisasi dalam organisasi (apapun) dan orang-orang biasa. Meskipun saya terkadang harus mengorbankan beberapa hal demi kelancaran tanggung jawab saya.

“Mahasiswa yang pernah berorganisasi, biasanya memang punya pengalaman ‘lebih’ dibandingkan mahasiswa lainnya. Biasanya mereka akan punya keahlian lain di luar bidangnya masing-masing. Dan itu sangat bermanfaat di dunia luar kampus nantinya,” salah satu dari sekian banyak yang saya garis bawahi sebagai makhluk social ketika mengobrol dengan guru pamong saya.

Di lingkungan KKN saya pun berlaku hal demikian. Jadwal KKN saya di Pangkep sejatinya dimulai sejak hari Kamis lalu. Akan tetapi, saya baru bergabung dengan teman-teman KKN yang lainnya setelah waktu KKN berjalan selama dua-tiga hari, tepatnya hari Minggu. Saya harus menyelesaikan sedikit tanggung jawab di lembaga jurnalistik yang selama ini membesarkan saya.

Seandainya saya tidak lagi-lagi “ditarik” sebagai salah satu “pengemban amanah” di lembaga tersebut, mungkin saya bisa ber-KKN dengan senang sentosa. Hanya saja, saya terkadang merasa tertantang untuk menjalankan amanah yang dipercayakan (lagi) pada saya, terlebih ketika dituntut menunjukkan performa yang “meningkat”.

Wajar saja ketika saya ketinggalan beberapa momen di lokasi “pengabdian” saya, baik rapat-rapat pemantapannya maupun proses turun ke lapangannya. Jadinya saya Kudet alias kurang updet (update). Tak ayal, teman-teman saya terkadang menegur ketika saya menyalahi protokoler yang telah ditetapkanpada rapat-rapat sebelumnya. Saya pun lebih “cerewet” dengan masyarakat ataupun sekolah yang menjadi lokasi pengabdian kami. Lumrah, saya seorang pewarta tentu sedikitnya diajarkan cara-cara untuk menggali informasi dan membangun kedekatan emosional dengan narasumber. Tak pelak, teman-teman yang lainnya tidak (mau) mafhum soal itu. Akh, saya paling benci jika harus diam ketika berinteraksi dengan orang lain. :(

Sebagai orang organisasi, yang tentunya belajar secara autodidak cara-cara bersosialisasi dengan orang lain, saya sudah seharusnya membangun kedekatan dengan orang lain. Penting. Bagaimana kita mampu menarik minat orang di sekeliling kita. Bagaimana kita mampu menarik hati. Bagaimana kita mampu bekerja sama. Bagaimana kita mampu berinteraksi. Bagaimana kita mampu mengelola kerja. Bagaimana kita mampu memanfaatkan momen. Bagaimana kita mampu bermanfaat bagi orang banyak, khususnya di lokasi KKN ini.

Saya lebih senang beraktivitas di luar ruangan ketimbang harus berdiam diri di dalam rumah. Tak heran jikalau kalian menemukan seorang laki-laki berjalan atau bersepeda sendirian di pagi hari atau sore hari di seputaran lokasi kelurahan Paddondoangan, Pangkep. Sebut saja, itu mungkin saya. Tak heran pula, saya banyak menggali informasi lewat Pak Haji mengenai kondisi lokasi KKN saya. Dasar cerewet.

Jikalau saya boleh menyela, beberapa proram-program kerja yang diprogramkan oleh teman-teman saya merupakan kerja-kerja pada umumnya. Saya melihat, mahasiswa yang melaksanakan tugas mengabdi pada masyarakat tidak benar-benar menjalankan esensi pengabdian itu. Kesannya, menggugurkan kewajiban. Padahal sejatinya menjalankan kuliah kerja senyata-nyatanya itu diterapkan dengan keseharian berinteraksi dengan masyarakat. Bahkan jika memungkinkan, dalam waktu tiga bulan nantinya, semua warga yang berada di sekitar lokasi KKN sudah bisa dikenali semua.

Rasanya tak enak hati saya mengutarakan beberapa “program impian” di kepala saya kepada teman-teman. Sudah saya yang terlambat, saya sok menggurui. Saya mah tahu diri saja. saya biarkan kepala dikelilingi oleh program-program itu. Di samping mengikuti arus, saya hanya berusaha untuk menjalin persahabatan dengan masyarakat-masyarakat sekitar, mulai dari pemilik rumah yang dijadikan posko, Pak Haji, Bu Haji, Bu Lurah, suaminya Bu Lurah, anak-anak kecil, guru pamong, kepala sekolah, bupati, hingga setiap orang yang berpapasan dengan saya ketika sementara berjalan-jalan di pagi hari.

Memang, untuk beberapa minggu ini, saya tidak bisa aktif dalam kerja-kerja KKN yang dilakukan oleh teman-teman saya. Saya harus menyelesaikan dan mengejar deadline sebagai seorang pemimpin redaksi. Deadline, deadline, dealine! Ada banyak pembaca yang butuh informasi seputar kampus UNM setiap bulannya, khususnya pengumuman ujian masuk perguruan tinggi kali ini.

Akan tetapi, usai menjalankan tugas saya (ketika tabloid telah terbit), saya berjanji bakal mengerahkan segala daya upaya saya mengabdi kepada masyarakat. Dalam kepala saya, sudah terpendam “dream work” yang seyogyanya menjadi jembatan bagi saya untuk mengenal lebih jauh masyarakat disini, Pangkep. Apalagi semangat saya rasanya berkobar untuk berinteraksi dengan siswa-siswa sekolah yang akan menjadi “anak didik sementara” saya.

Akh, meskipun terkadang saya harus terbebani secara moril kepada teman-teman saya. Hanya sedikit dari teman-teman yang mengerti akan tugas-tugas kejurnalistikan yang saya jalani di kampus…


--Imam Rahmanto--

Kalau Tak Pintar, ya Berani!

Juli 02, 2013
Dari namanya saja sudah "unggulan", benar-benar menantang. :) (ImamR)

“Kalau tidak bisa menjadi orang pandai, maka jadilah orang berani”

Saya kembali terngiang-ngiang kalimat itu pagi kemarin. Salah satu kalimat bijak yang menjadi pegangan saya. Bukan tanpa alasan jika nampaknya saya harus mengaplikasikannya lagi. Pasalnya, sekolah yang akan menjadi target pengajaran kami alias PPL adalah tergolong sekolah unggulan di Kabupaten Pangkep.

Prestasi-prestasi yang dicapai SMAN 2 Pangkajene tidak bisa lagi dihitung jari. Tatkala memasuki gedung SMAN 2 Pangkajene, di sepanjang dinding sebelah kiri pintu masuk terpajang piala-piala yang menjadi ikon prestasi sekolah tersebut, baik akademik maupun non-akademik. Satu lemari tak cukup, maka dua-tiga lemari pun dibutuhkan untuk mengabadikannya Di dinding yang bersebelahan dengan lemari-lemari piala tersebut, terpampang list atau daftar prestasi yang pernah dicapai siswa-siswa di sekolah tersebut. Panjangnya? Nyaris menyentuh lantai ruangan.

Tentu saja, hal itu menjadi “momok” tersendiri bagi kami mahasiswa yang akan menjalankan program pengajaran kami disana.

“Ini yang mau diajar, kita atau mereka ya?” tanya saya dalam hati.

Terlebih ketika salah seorang guru yang menjadi pamong mata pelajaran saya bercerita panjang lebar tentang sekolah ini. “Saya cuma mewanti-wanti saja, anak-anak disini tergolong siswa-siswa yang cerdas. Bahkan untuk nilai Matematika saja ada yang memperoleh nilai sempurna, 100!” ucap guru pamong saya yang juga merupakan almamater kampus saya.

Wajar ketika guru yang telah mengabdi lama di sekolah itu mengatakan demikian. Setiap mata pelajaran yang di-olimpiade-kan, punya masing-masing ekskul-nya. Iklim akademik di sekolah tersebut juga sudah terbangun begitu apiknya. Setiap kelas dinamai tidak berdasar tingkat unggulan atau ranking.

“Tidak ada yang namanya kelas unggulan disini. Oleh karena itu, kita namai kelasnya dengan nama-nama ilmuwan,” tuturnys lagi.

Lingkungan sekolahnya benar-benar mendamaikan. (ImamR)
Semisal kelas X, yang biasanya saya temukan dengan penomoran X1, X2, X3, dan seterusnya, maka di SMAN 2 Pangkajene, saya mendapati beberapa kelas dengan nama kelas X. Einstein, kelas X.BJ. Habibie, dan seterusnya. Olehnya itu, masing-masing kelas memiliki tingkat kepandaian yang merata. Soal fasilitas? Oh, tidak perlu diragukan lagi!

Pencanangan sekolah ini sebagai sekolah Adiwiyata oleh kementerian sejak dua tahun yang lalu (kabarnya) memberikan akses fasilitas sekolah yang memadai. Ditambah lagi dengan prestasi-prestasi yang telah dicapai sekolah ini dalam rentang 4 tahun.

Satu hal lagi yang membuat teman saya kalang kabut untuk mengajar. Kabarnya, siswa sekolah tersebut adalah siswa-siswa yang kritis. Tiada hari tanpa bertanya. Selain didukung oleh suasana lingkungan yang berbasis alam, sekolah tersebut juga dilengkapi dengan kotak saran. Setiap harinya kotak saran berisi kritik maupun protes siswa-siswanya yang merasa tidak puas dengan pengajaran guru-gurunya. Luar biasa!

Mendengar segala yang diceritakan oleh guru-guru sekolah tersebut, saya menjadi “terbakar” untuk bisa segera berinteraksi dengan siswa-siswanya. Saya berpikir akan menyenangkan menghadapi siswa-siswa yang “keren” seperti mereka itu.

Kalau tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang berani!

Sejatinya, saya tidak begitu tahu banyak tentang hal-hal apa saja yang akan saya ajarkan disana. Bidang saya, Matematika, tentu saja harus dilakukan pendalaman ulang. Ada banyak hal yang telah terlewatkan oleh saya. Akan tetapi, saya tertarik untuk membangun komunikasi dengan anak-anak Adiwiyata ini. Bahkan, jikalau bisa, berbagi ilmu jurnalistik juga akan menjadi jembatan buat saya mengakrabkan diri. Hm…sejujurnya, nampaknya saya lebih mumpuni di bidang jurnalistik dibandingkan bidang Matematika. ------pelencengan jurusan.

“Bukan persoalan pandai atau tidaknya kita sebagai seorang guru. Saya pun sebenarnya merasa siswa-siswa disini lebih pandai dari saya. Ada soal-soal tertentu malah yang tidak bisa saya kerjakan dan bisa mereka selesaikan dengan cara-cara yang tidak biasa,”

“Yang terpenting sebagai seorang guru itu adalah pengelolaan kelas. Bagaimana kita mampu menciptakan hubungan emosional yang baik dengan siswa, bersahabat, dan tidak selalu merasa lebih pandai. Kita sebagai guru, mendidik. Tapi sebagai masyarakat, tentu harus bersahabat dengan mereka,” ujar guru pamong saya lagi. Belakangan, saya baru tahu, ternyata beberapa guru di sekolah tersebut merupakan almamater kampus saya yang juga pernah menghabiskan masa mahasiswanya sebagai seorang anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dalam hal ini, guru pamong saya pernah menjalani masa mahasiswanya sebagai anggota UKM Olahraga.

Yah, sepandai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya nanti akan jatuh juga, kan? Saya berpikir, menjadi seorang guru pun tidak perlu dibangun oleh “yang terpandai”. Justru keberanianlah yang dibutuhkan untuk bisa mendidik siswa. Ingat ya, mendidik. M-e-n-d-i-d-i-k.

Berbeda halnya ketika guru sebatas “orang paling pandai” saja.  Mereka lebih cenderung mengajar ketimbang mendidik. Padahal, tugas pokok siswa belajar di sekolah adalah menjadi manusia yang berguna. Sepandai-pandainya seorang manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.

Untuk menjadi pintar atau pandai, zaman sekarang, lingkungan telah menyediakan fasilitas yang memadai. Referensi belajar tersebar dimana-mana. Perpustakaan kota. Internet. Sekolah. Namun, untuk menjadi orang yang berani dan siap mental, tidak sebatas dibaca lewat referensi-referensi tersebut. Pengalaman tidak didapatkan melalui proses membaca tersebut, melainkan harus dijalani (atau dipraktikkan). Dan keberanian? Benar-benar harus belajar dari melawan ketakutan diri sendiri. ^_^.


--Imam Rahmanto--