Senin, 17 Juni 2013

Tertawa dan Ditertawakan (#22th)

Ini spesialnya apa ya sampai dipasang disini??
Kebetulan aja foto ini yang kuenya masih utuh. :P
Saya harus berkata apa? Meskipun sulit, ya, saya memaksakan diri untuk menulis satu hal ini. Terkadang, di saat saya sedang bahagia, saya senang menuliskan kebahagiaan itu. Akan tetapi, tak jarang pula ketika saya sedang kesal atau sedih, saya juga senang menuliskan semuanya. Tulisan ya tulisan saya, yang tanpa saya sadari semoga bisa menyentuh alam bawah sadar orang lain.

Kata orang, menapaki usia kita yang baru adalah hari yang paling bahagia. Padahal, bagi kami yang ada di lembaga pers kami, hal itu berarti: kita harus rela berbagi dengan kawan-kawan lain. Loh? Yang ulang tahun siapa, yang harus ngasih kado siapa? Memang seperti itu. Hakikat sebenarnya berbagi adalah ketika kita mampu memberi di saat kita sendiri tidak memiliki apa-apa. Kita mampu tersenyum untuk orang lain di saat hati sendiri sedang dilanda kesusahan. ^_^.

Bermula di pagi hari ketika saya harus menyiapkan segala perangkat Microteaching saya. Sekadar info, mata kuliah tersebut adalah salah satu mata kuliah di prodi pendidikan yang mengharuskan mahasiswa untuk berpraktek layaknya seorang guru. Setiap mahasiswa bergantian melakukan simulasi pengajaran di kelas, baik untuk sekolah dasar maupun sekolah menengah. Semua mahasiswa yang akan berprofesi sebagai guru harus melalui fase kuliah tersebut.

Menjelang tiga jam waktu kuliah saya (di siang hari), saya baru menyiapkan perangkat-perangkat saya. Itu pun, menurut saya, semua dikerjakan secara instan dan belum lengkap. Jikalau kalian sebagai dosen pengampu mata kuliah tersebut, maka ujian final hari ini bisa menjebloskan saya sebagai mahasiswa gagal. :P Dalam benak saya pun, jujur, teman-teman di kelas saya mungkin sedang menertawakan penampilan saya yang sama sekali jauh dari kata “sistematis”.

Akan tetapi, saya selalu percaya pada sebuah keajaiban. Karena keajaiban itu datang dari tekad dan usaha keras. Just believe it!

Usaha “instan” saya itu pun berakhir dengan lancar, meskipun sebenarnya masih banyak kekurangan sana-sini. Intinya, saya sudah melaluinya, dan berani melaluinya. Hasil akhirnya? Tentu saja Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya. Karena apa yang terjadi pada saya selama setahun belakangan ini, bukanlah perkara kebetulan. Tidak ada namanya kebetulan di dunia ini!

Itu sedikit hadiah Tuhan di tahun ke-22 saya, keberanian. ^_^

Teman adalah sesuatu yang sangat berharga bagi siapa saja. Kita sudah sering mendengar bahwa mencari seorang musuh itu jauh lebih mudah ketimbang mencari teman yang benar-benar dilandasi rasa percaya. Saya menemukannya di “keluarga” kecil saya. Di saat saya harus jauh dari keluarga, mereka nyatanya hadir sebagai keluarga bagi saya. Di saat keluarga saya sedang tak baik, mereka hadir untuk membuat saya tersenyum. Teman itu bagaikan serum yang memaksa kita untuk selalu mengembangkan senyuman. Entah itu untuk menertawakan kita atau ditertawakan oleh kita. Saya belajar dari “keluarga” kecil saya itu bahwa segala hal selalu punya celah untuk ditertawakan. :D

Tentu saja, hal-hal spesial selalu muncul dari teman-teman yang menyayangi kita.

“Selamat Ulang Tahun! Selamat Ulang Tahun!”

Nyaris setahun silam saya mendengarkan teriakan serupa, dari orang-orang yang hampir sama pula. Namun, tempat dan waktunya saja yang berbeda. Momentumnya tetap sama. Tetap menjadi hal yang spesial bagi saya. Bukan karena mereka diam-diam mengumpulkan uang (receh) demi membelikan kue tart di hari kelahiran saya. Akan tetapi, saya merasa beruntung bisa makan kue tart yang dilapisi cokelat itu rentang sekali dalam setahun. Saya kenyang makanan loh malam itu. Hehetapi, ngomong-ngomong, lilinnya kok gak mati-mati ya pas acara tiup lilin? Itu lilin atau kembang api ya???

Sejujurnya, hari ulang tahun tak pernah spesial bagi saya. Sebelum kalian hadir dalam jalur pengalaman yang saya lalui, saya tak pernah sama sekali merayakan acara seperti itu. Biasanya, orang-orang kota lah yang beramai-ramai merayakan ultah anak-anaknya, dengan kue yang bertumpuk-tumpuk. Kami, sebagai orang dari kampung, hanya bisa menyaksikan kilasannya dari balik layar televisi. Yah, pastinya dengan memendam keinginan serupa.

Ya sudah, saya legowo kok dilumuri cream kayak gitu. :'(. (Foto: Wiwi)
Nah, ketika kita semua dipertemukan dalam satu keluarga kecil, sebentuk kebersamaan dan penghargaan mulai muncul. Saya sendiri selalu berpikir, Tuhan selalu “tepat” dengan segala rencana-rencananya, bukan? Mungkin juga, rasa senasib yang kemudian mempersatukan keluarga kecil kita. Senasib dirongrong deadline berita. Haha… saling manghargai, saling mengayomi, saling mendamaikan, saling menertawakan, atau bahkan saling menyayangi atau mencintai. ;)

Di balik itu semua, terima kasih untuk teman-teman yang masih saja rela bersusah-susah mengingat tanggal kelahiran saya. Padahal saya sudah susah-susah loh menyembunyikannya dari akun pesbuk. Harga mengingatnya harus dengan mengumpulkan uang receh (hasil memalak taman-teman yang lain) tanpa sepengetahuan saya, yang dikiranya buat membeli gorengan. Terima kasih pula untuk kalian yang selalu bisa membuat saya tertawa atau menertawakan orang lain. Saya bisa tertawa sejenak merenggangkan pikiran akan kabar buruk yang menimpa ayah saya pagi itu.

Terima kasih pula untuk kalian yang tanpa sengaja hadir atau dihadirkan di redaksi malam itu. Hm..kehadiran kalian sambil tertawa berebutan kue sudah menjadi ucapan tersendiri bagi saya. Saya sampai tak kebagian waktu membaca tulisan yang tertera di atas kue itu. Tak heran, saya cukup berbesar hati saja ketika wajah saya dilumuri cream, demi melihat kalian tertawa. Ceilah!.. Rasa-rasanya tak ingin melepas momen serupa. Benar, kan? Tertawa dan ditertawakan adalah menjadi hal yang lumrah di keluarga kecil kita. :)

Lagi, saya harus bilang apa dengan kekonyolan-kekonyolan itu? Serba kembar. Beberapa hari yang lalu saya membaca buku tentang si kembar yang dipisahkan. Selanjutnya, di redaksi saya bertemu dengan kembaran anggota keluarga kecil kita. Dan sekarang, usia saya beranjak di angka yang kembar. Saya sempat protes dengan penambahan (+1) usia saya di salah satu akun pesbuk teman saya. Itu mah namanya pencemaran usia baik.

Terima kasih telah menghadirkan sebentuk pengalaman-pengalaman “unik” di kepala saya. Kepada siapa saja, yang rela menyesakkan kepalanya dengan tanggalan dari akta kelahiran saya itu. Dan terima kasih pula jika ada yang berkenan memberikan saya kado ulang tahun. Haha.. :P

Kalian, teman saya, bukanlah hadiah ulang tahun dari Tuhan untuk saya. Melainkan hadiah sepanjang hidup yang dianugerahkan Tuhan buat saya…. ^_^.

Dan kelak, ketika kita sudah sampai pada impian masing-masing, hal-hal semacam itu (tertawa dan ditertawakan) tentu akan mengaduk-aduk memori dan menuntun hati untuk mempertemukan kita kembali. Just believe it!



--Imam Rahmanto--

*yang seharusnya ditulis dua hari yang lalu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar