Selasa, 18 Juni 2013

Milih Sehat Tradisional atau Modern?

(int)
Dunia yang semakin canggih dengan perkembangan peralatan-peralatan super modern-nya, seharusnya sudah bisa menjadi tumpuan bagi beberapa orang untuk menyelesaikan sedikit dari permasalahan hidupnya. Untuk mencurahkan permasalahannya pun, orang-orang tak perlu lagi bersusah-susah menemui orang lain sekadar bercerita. Zaman kini, era social network, semua bisa dicurahkan lewat kotak-kotak di atas "Tweet" atau di bawah “Apa yang Anda Pikirkan?”

Namun, pada kenyataannya, tidak semuanya berlaku hal demikian. Di daerah-daerah yang mungkin belum banyak dijangkau oleh jaringan internet maupun jaringan listrik, sebagian besar orang-orangnya masih percaya dengan hal-hal berbau takhayul.

Saya menemukan hal serupa pada ranah kesehatan, ketika saya harus menemani ayah saya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.

“Coba, kalau bisa, besok bawakan air itu kesini,” tutur ibu saya kepada salah seorang teman ayah saya yang sedang menjenguknya.

Dalam hati, saya bertanya-tanya, “Ini, air yang dimaksud, air apaan tah?” Saya mencoba menanyakan sekilas pada ibu saya, namun ia hanya menggeleng, mengisyaratkan bahwa saya tidak perlu bertanya terlalu jauh. “Air minum dari orang tua,” ujarnya pendek.

Saya jadi paham, apa yang dimaksud dengan air itu. Saya pun sering menyaksikannya ketika masih kecil dulu.

Bagi masyarakat desa atau di kampung, air minum yang sudah dibacakan “mantra” oleh orang tua (tentunya sudah berpengalaman dan dipercayai bertuah) akan berberkah. Penyakit apapun, jika diminumkan air tersebut akan sembuh segera. Tidak hanya untuk diminum, sehubungan dengan penyakit luar atau luka juga katanya bakal manjur. Ah ini ada-ada saja. Saya kemudian teringat dengan kejadian "bocah ajaib" bernama Ponari yang sempat menggegerkan Indonesia karena batu ajaibnya.

Di ranah medis, masyarakat desa cenderung lebih mempercayai pengobatan-pengobatan tradisional serupa itu. Bahkan, jikalaupun mereka sudah ada di rumah sakit, tetap saja mengharapkan kesembuhan dari cara-cara tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, pengetahuan masyarakat tentang perkembangan zaman modern sekarang memang masih minim. Jangkauan alat-alat canggih masih belum merata di setiap desa. Apalagi yang memang terpencil dan tidak banyak dikenali oleh orang-orang kota. Masyarakat cenderung menjalani hidupnya dengan mengandalkan pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman sehari-hari. Cara-cara tradisional pun berkembang, seiring pula dengan kepercayaan mereka terhadap hal-hal yang sejatinya berlangsung secara “kebetulan”.

Akan tetapi, saya tidak lantas menolak semua cara-cara tradisional yang dikembangkan oleh masyarakat-masyarakat desa itu. Pada ranah-ranah tertentu, tanpa mengikutsertakan kepercayaan terhadap mitos ataupun takhayul apapun, terkadang teknik-teknik tersebut berlaku akurat. Bahkan, cenderung lebih manjur dibanding cara-cara tradisional yang ruwet dan menghabiskan banyak biaya. Oh ya, mungkin satu hal itu pula yang menjadi alasan sebagian besar masyarakat lebih memilih cara-cara tradisional.

“Beberapa waktu lalu, istri saya sempat mau dioperasi. Tapi saya bilang tidak usah dulu, saya tahan-tahan. Apalagi kita kan tidak punya uang. Saya cuma pijatkan seperti itu,” terang keluarga pasien lainnya sambil menunjuk orang yang sedang memijat-mijat bagian kaki ayah saya. Kedua kaki ayah saya sama sekali tidak bisa digerakkan, akibat pembengkakan pada sumsum tulang belakangnya sehabis jatuh dari pondasi pagar di samping rumah. Sel saraf sensorik dan motoriknya terhenti.

“Sebenarnya, gangguan yang terjadi pada bapak itu bisa disembuhkan dengan urut-urut saja. Tidak perlu nanti sampai operasi,” tutur yang lainnya serasa menghasut. Sedikit percaya, karena si tukang pijat itu bisa tahu pasti gejala yang dialami ayah saya. Sementara saya baru-baru saja tahu sebelumnya setelah diberitahu oleh dokter ortopedi yang menangani ayah saya.

Bagaimana ya? Saya kok rasa-rasanya kurang yakin kalau hal tersebut dilakukan, hanya mengandalkan pijat-pijat dan air “mantra”. Saya, entah bagaimana caranya, lebih mempercayai dokter yang menanganinya akhir-akhir ini.

Sebagai orang yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi, pikiran saya memang sudah dijejali banyak pemikrian logis. Segalanya harus dipikirkan secara akal dan logika. Hanya satu yang bisa membuat saya tidak bisa berpikir logis, cinta. :). Menginginkan orang sembuh juga harus melalui dokter. Meskipun bakal memakan biaya yang besar, tapi setidaknya dijamin sembuh total. Saya agak ngeri jika hanya mengandalkan teknik-teknik tradisional yang dilumuri dengan kepercayaan-kepercayaan orang tua.

Secara umum, saya melihat hal demikian terjadi pada orang-orang di kampung. Bukan mengecilkan, namun fakta mengungkapkan, sebagian besar orang tua masih percaya hal demikian. Parahnya lagi, mereka tidak ingin diceramahi tentang hal sesungguhnya oleh anak yang jauh-jauh mereka sekolahkan ke kota. Pikiran mereka sudah kental dengan ajaran-ajaran orang terdahulu. Ditambah, mereka kebanyakan punya sifat yang keras, menganggap anak muda tidak banyak tahu apa-apa.

#menghela napas


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar