Selasa, 25 Juni 2013

Topeng

Juni 25, 2013
(int)
Pagi itu terasa mendamaikan ketika hanya seorang diri mendamaikan hati yang sedang sesak, memikirkan banyak hal yang seakan-akan merobohkan segala pertahanan diri. :)

Lama, saya banyak memikirkan tentang bagaimana arah hidup saya ke depan. Lama, saya berharap Tuhan menghadiahkan kejutan-kejutan kecil buat saya. Lama, saya memutuskan untuk benar-benar menjalani hidup yang baru. Yeah, benar-benar baru…… dan saya akan menanggung segala resiko atas keputusan bodoh, durhaka, atau dosa saya itu.

Saya tak ingin membicarakannya. Terkadang, ada hal-hal dalam setiap pribadi manusia yang harus tetap disembunyikan dan tak perlu dimunculkan ke permukaan. Terkadang, saya lebih senang untuk memakai “topeng” saya, yang mana orang lain akan bahagia dibuatnya. Seperti halnya badut, wajah yang dilukisnya amat berbeda dengan wajah sebenarnya. Akan tetapi, tujuannya yang mulia, untuk membahagiakan orang lain. Membagi sesimpul senyum bagi anak-anak yang beranjak akan meninggalkan masa-masa kecilnya.

“Dia bukan saya. Saya bukan dia. Saya merasa, saya yang ada disini adalah orang lain. Senyum saya mungkin senyum palsu, yang hanya dibuat-buat untuk mencoba tegar,…” pernah suatu ketika seorang teman mencurahkan segala kegelisahannya pada saya.

“Tapi…saya lebih senang melihat dirimu yang satu ini,” potong saya.

Tidak selalu, pribadi sebenarnya adalah pribadi yang kita tutup-tutupi dengan “topeng” itu. Saya yakin, sebagian orang memakai topengnya untuk menutupi sesuatu yang tidak semestinya diketahui orang lain. Entah itu buruk, atau baik. Kesedihan, pengaruh negatif, penyesalan, tidak butuh untuk diumbar-umbar kepada orang lain. Jika kita bermaksud baik, seyogyanya tidak dengan menampakkan pengaruh-pengaruh seperti itu, pergunakanlah topeng.

Mungkin, saya pun memakai topeng yang sama. Topeng yang di baliknya ada isi yang hanya saya sendiri bisa mengungkapkannya. Segala hal yang, mungkin, kelak akan saya sampaikan kepada orang-orang yang benar-benar saya percayakan dan butuhkan. Untuk saat ini, saya tidak ingin memancarkan setiap inci wajah saya dengan membuka lebar-lebar topeng itu. 

“Mungkin, topeng itu sudah berlapis-lapis ya?” ujar salah seorang teman suatu waktu, ketika saya menceritakan segala hal yang baru saja saya jalani dalam hidup saya, kehidupan baru.

Saya menggeleng. “Bukan. Saya merasakan, topeng yang saya kenakan sekarang hanya satu lapis, yang telah melebur sebagian ke dalam pribadi saya. Saya yang kau lihat sekarang, adalah saya yang sesungguhnya. Tapi, saya yang sekarang, tidak sepenuhnya saya yang sesungguhnya,” tampik saya.

"Tapi, saya memiliki seorang teman, yang karena semakin berlapis-lapisnya dia memakai topeng itu, dia semakin tidak bisa membedakan realitas dirinya yang sesungguhnya," ujar yang lainnya di waktu berbeda.

Saya percaya, kok. Topeng "baik" yang kita pakai tidak akan merusak kita. Justru, sebagian besar topeng yang dikenakan setiap orang semenjak ia dilahirkan akan menjadi titipan perilakunya, yang akan menjadi kepribadiannya sendiri. Ada beberapa inci atau elemen topeng itu yang akan melekat menjadi kepribadiannya. Entah itu baik atau buruk. Jika ia berubah buruk, sejak awal topeng yang dikenakannya (mungkin) salah. Sebaliknya, jika ia berubah baik, tidak keliru ia mengenakan topeng yang menjadikannya lebih baik. ^_^.

Kehidupan dalam keluarga saya, semenjak kecil, telah menempa saya untuk menjadi orang yang seperti sekarang ini. Sedikit pandai mengatur perasaan. Memutarbalikkan emosi dalam diri. Memendam segala kesakitan sendiri. Entah, kesakitan itu akan membuncah kapan waktunya. Hanya saja, beberapa waktu lalu, salah satunya tak terbendung lagi. Sedikitnya, saya masih bisa menyimpannya untuk beberapa orang, bukan? 

Terlepas dari semuanya, saya masih mempunyai topeng itu. Saya tak perlu melepasnya. Karena memakai topeng yang membahagiakan orang lain membuat kaki saya ringan untuk melangkah. Langkah awal yang benar-benar saya butuhkan untuk memulai hidup baru. Di satu sisi, bagi keluarga saya, sebenar-benar langkah baru. Di sisi lain, “keluarga kecil saya”, sebatas kelanjutan hidup dari level sebelumnya...


--Imam Rahmanto-- 

Selasa, 18 Juni 2013

Milih Sehat Tradisional atau Modern?

Juni 18, 2013
(int)
Dunia yang semakin canggih dengan perkembangan peralatan-peralatan super modern-nya, seharusnya sudah bisa menjadi tumpuan bagi beberapa orang untuk menyelesaikan sedikit dari permasalahan hidupnya. Untuk mencurahkan permasalahannya pun, orang-orang tak perlu lagi bersusah-susah menemui orang lain sekadar bercerita. Zaman kini, era social network, semua bisa dicurahkan lewat kotak-kotak di atas "Tweet" atau di bawah “Apa yang Anda Pikirkan?”

Namun, pada kenyataannya, tidak semuanya berlaku hal demikian. Di daerah-daerah yang mungkin belum banyak dijangkau oleh jaringan internet maupun jaringan listrik, sebagian besar orang-orangnya masih percaya dengan hal-hal berbau takhayul.

Saya menemukan hal serupa pada ranah kesehatan, ketika saya harus menemani ayah saya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.

“Coba, kalau bisa, besok bawakan air itu kesini,” tutur ibu saya kepada salah seorang teman ayah saya yang sedang menjenguknya.

Dalam hati, saya bertanya-tanya, “Ini, air yang dimaksud, air apaan tah?” Saya mencoba menanyakan sekilas pada ibu saya, namun ia hanya menggeleng, mengisyaratkan bahwa saya tidak perlu bertanya terlalu jauh. “Air minum dari orang tua,” ujarnya pendek.

Saya jadi paham, apa yang dimaksud dengan air itu. Saya pun sering menyaksikannya ketika masih kecil dulu.

Bagi masyarakat desa atau di kampung, air minum yang sudah dibacakan “mantra” oleh orang tua (tentunya sudah berpengalaman dan dipercayai bertuah) akan berberkah. Penyakit apapun, jika diminumkan air tersebut akan sembuh segera. Tidak hanya untuk diminum, sehubungan dengan penyakit luar atau luka juga katanya bakal manjur. Ah ini ada-ada saja. Saya kemudian teringat dengan kejadian "bocah ajaib" bernama Ponari yang sempat menggegerkan Indonesia karena batu ajaibnya.

Di ranah medis, masyarakat desa cenderung lebih mempercayai pengobatan-pengobatan tradisional serupa itu. Bahkan, jikalaupun mereka sudah ada di rumah sakit, tetap saja mengharapkan kesembuhan dari cara-cara tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, pengetahuan masyarakat tentang perkembangan zaman modern sekarang memang masih minim. Jangkauan alat-alat canggih masih belum merata di setiap desa. Apalagi yang memang terpencil dan tidak banyak dikenali oleh orang-orang kota. Masyarakat cenderung menjalani hidupnya dengan mengandalkan pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman sehari-hari. Cara-cara tradisional pun berkembang, seiring pula dengan kepercayaan mereka terhadap hal-hal yang sejatinya berlangsung secara “kebetulan”.

Akan tetapi, saya tidak lantas menolak semua cara-cara tradisional yang dikembangkan oleh masyarakat-masyarakat desa itu. Pada ranah-ranah tertentu, tanpa mengikutsertakan kepercayaan terhadap mitos ataupun takhayul apapun, terkadang teknik-teknik tersebut berlaku akurat. Bahkan, cenderung lebih manjur dibanding cara-cara tradisional yang ruwet dan menghabiskan banyak biaya. Oh ya, mungkin satu hal itu pula yang menjadi alasan sebagian besar masyarakat lebih memilih cara-cara tradisional.

“Beberapa waktu lalu, istri saya sempat mau dioperasi. Tapi saya bilang tidak usah dulu, saya tahan-tahan. Apalagi kita kan tidak punya uang. Saya cuma pijatkan seperti itu,” terang keluarga pasien lainnya sambil menunjuk orang yang sedang memijat-mijat bagian kaki ayah saya. Kedua kaki ayah saya sama sekali tidak bisa digerakkan, akibat pembengkakan pada sumsum tulang belakangnya sehabis jatuh dari pondasi pagar di samping rumah. Sel saraf sensorik dan motoriknya terhenti.

“Sebenarnya, gangguan yang terjadi pada bapak itu bisa disembuhkan dengan urut-urut saja. Tidak perlu nanti sampai operasi,” tutur yang lainnya serasa menghasut. Sedikit percaya, karena si tukang pijat itu bisa tahu pasti gejala yang dialami ayah saya. Sementara saya baru-baru saja tahu sebelumnya setelah diberitahu oleh dokter ortopedi yang menangani ayah saya.

Bagaimana ya? Saya kok rasa-rasanya kurang yakin kalau hal tersebut dilakukan, hanya mengandalkan pijat-pijat dan air “mantra”. Saya, entah bagaimana caranya, lebih mempercayai dokter yang menanganinya akhir-akhir ini.

Sebagai orang yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi, pikiran saya memang sudah dijejali banyak pemikrian logis. Segalanya harus dipikirkan secara akal dan logika. Hanya satu yang bisa membuat saya tidak bisa berpikir logis, cinta. :). Menginginkan orang sembuh juga harus melalui dokter. Meskipun bakal memakan biaya yang besar, tapi setidaknya dijamin sembuh total. Saya agak ngeri jika hanya mengandalkan teknik-teknik tradisional yang dilumuri dengan kepercayaan-kepercayaan orang tua.

Secara umum, saya melihat hal demikian terjadi pada orang-orang di kampung. Bukan mengecilkan, namun fakta mengungkapkan, sebagian besar orang tua masih percaya hal demikian. Parahnya lagi, mereka tidak ingin diceramahi tentang hal sesungguhnya oleh anak yang jauh-jauh mereka sekolahkan ke kota. Pikiran mereka sudah kental dengan ajaran-ajaran orang terdahulu. Ditambah, mereka kebanyakan punya sifat yang keras, menganggap anak muda tidak banyak tahu apa-apa.

#menghela napas


--Imam Rahmanto--

Senin, 17 Juni 2013

Tertawa dan Ditertawakan (#22th)

Juni 17, 2013
Ini spesialnya apa ya sampai dipasang disini??
Kebetulan aja foto ini yang kuenya masih utuh. :P
Saya harus berkata apa? Meskipun sulit, ya, saya memaksakan diri untuk menulis satu hal ini. Terkadang, di saat saya sedang bahagia, saya senang menuliskan kebahagiaan itu. Akan tetapi, tak jarang pula ketika saya sedang kesal atau sedih, saya juga senang menuliskan semuanya. Tulisan ya tulisan saya, yang tanpa saya sadari semoga bisa menyentuh alam bawah sadar orang lain.

Kata orang, menapaki usia kita yang baru adalah hari yang paling bahagia. Padahal, bagi kami yang ada di lembaga pers kami, hal itu berarti: kita harus rela berbagi dengan kawan-kawan lain. Loh? Yang ulang tahun siapa, yang harus ngasih kado siapa? Memang seperti itu. Hakikat sebenarnya berbagi adalah ketika kita mampu memberi di saat kita sendiri tidak memiliki apa-apa. Kita mampu tersenyum untuk orang lain di saat hati sendiri sedang dilanda kesusahan. ^_^.

Bermula di pagi hari ketika saya harus menyiapkan segala perangkat Microteaching saya. Sekadar info, mata kuliah tersebut adalah salah satu mata kuliah di prodi pendidikan yang mengharuskan mahasiswa untuk berpraktek layaknya seorang guru. Setiap mahasiswa bergantian melakukan simulasi pengajaran di kelas, baik untuk sekolah dasar maupun sekolah menengah. Semua mahasiswa yang akan berprofesi sebagai guru harus melalui fase kuliah tersebut.

Menjelang tiga jam waktu kuliah saya (di siang hari), saya baru menyiapkan perangkat-perangkat saya. Itu pun, menurut saya, semua dikerjakan secara instan dan belum lengkap. Jikalau kalian sebagai dosen pengampu mata kuliah tersebut, maka ujian final hari ini bisa menjebloskan saya sebagai mahasiswa gagal. :P Dalam benak saya pun, jujur, teman-teman di kelas saya mungkin sedang menertawakan penampilan saya yang sama sekali jauh dari kata “sistematis”.

Akan tetapi, saya selalu percaya pada sebuah keajaiban. Karena keajaiban itu datang dari tekad dan usaha keras. Just believe it!

Usaha “instan” saya itu pun berakhir dengan lancar, meskipun sebenarnya masih banyak kekurangan sana-sini. Intinya, saya sudah melaluinya, dan berani melaluinya. Hasil akhirnya? Tentu saja Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya. Karena apa yang terjadi pada saya selama setahun belakangan ini, bukanlah perkara kebetulan. Tidak ada namanya kebetulan di dunia ini!

Itu sedikit hadiah Tuhan di tahun ke-22 saya, keberanian. ^_^

Teman adalah sesuatu yang sangat berharga bagi siapa saja. Kita sudah sering mendengar bahwa mencari seorang musuh itu jauh lebih mudah ketimbang mencari teman yang benar-benar dilandasi rasa percaya. Saya menemukannya di “keluarga” kecil saya. Di saat saya harus jauh dari keluarga, mereka nyatanya hadir sebagai keluarga bagi saya. Di saat keluarga saya sedang tak baik, mereka hadir untuk membuat saya tersenyum. Teman itu bagaikan serum yang memaksa kita untuk selalu mengembangkan senyuman. Entah itu untuk menertawakan kita atau ditertawakan oleh kita. Saya belajar dari “keluarga” kecil saya itu bahwa segala hal selalu punya celah untuk ditertawakan. :D

Tentu saja, hal-hal spesial selalu muncul dari teman-teman yang menyayangi kita.

“Selamat Ulang Tahun! Selamat Ulang Tahun!”

Nyaris setahun silam saya mendengarkan teriakan serupa, dari orang-orang yang hampir sama pula. Namun, tempat dan waktunya saja yang berbeda. Momentumnya tetap sama. Tetap menjadi hal yang spesial bagi saya. Bukan karena mereka diam-diam mengumpulkan uang (receh) demi membelikan kue tart di hari kelahiran saya. Akan tetapi, saya merasa beruntung bisa makan kue tart yang dilapisi cokelat itu rentang sekali dalam setahun. Saya kenyang makanan loh malam itu. Hehetapi, ngomong-ngomong, lilinnya kok gak mati-mati ya pas acara tiup lilin? Itu lilin atau kembang api ya???

Sejujurnya, hari ulang tahun tak pernah spesial bagi saya. Sebelum kalian hadir dalam jalur pengalaman yang saya lalui, saya tak pernah sama sekali merayakan acara seperti itu. Biasanya, orang-orang kota lah yang beramai-ramai merayakan ultah anak-anaknya, dengan kue yang bertumpuk-tumpuk. Kami, sebagai orang dari kampung, hanya bisa menyaksikan kilasannya dari balik layar televisi. Yah, pastinya dengan memendam keinginan serupa.

Ya sudah, saya legowo kok dilumuri cream kayak gitu. :'(. (Foto: Wiwi)
Nah, ketika kita semua dipertemukan dalam satu keluarga kecil, sebentuk kebersamaan dan penghargaan mulai muncul. Saya sendiri selalu berpikir, Tuhan selalu “tepat” dengan segala rencana-rencananya, bukan? Mungkin juga, rasa senasib yang kemudian mempersatukan keluarga kecil kita. Senasib dirongrong deadline berita. Haha… saling manghargai, saling mengayomi, saling mendamaikan, saling menertawakan, atau bahkan saling menyayangi atau mencintai. ;)

Di balik itu semua, terima kasih untuk teman-teman yang masih saja rela bersusah-susah mengingat tanggal kelahiran saya. Padahal saya sudah susah-susah loh menyembunyikannya dari akun pesbuk. Harga mengingatnya harus dengan mengumpulkan uang receh (hasil memalak taman-teman yang lain) tanpa sepengetahuan saya, yang dikiranya buat membeli gorengan. Terima kasih pula untuk kalian yang selalu bisa membuat saya tertawa atau menertawakan orang lain. Saya bisa tertawa sejenak merenggangkan pikiran akan kabar buruk yang menimpa ayah saya pagi itu.

Terima kasih pula untuk kalian yang tanpa sengaja hadir atau dihadirkan di redaksi malam itu. Hm..kehadiran kalian sambil tertawa berebutan kue sudah menjadi ucapan tersendiri bagi saya. Saya sampai tak kebagian waktu membaca tulisan yang tertera di atas kue itu. Tak heran, saya cukup berbesar hati saja ketika wajah saya dilumuri cream, demi melihat kalian tertawa. Ceilah!.. Rasa-rasanya tak ingin melepas momen serupa. Benar, kan? Tertawa dan ditertawakan adalah menjadi hal yang lumrah di keluarga kecil kita. :)

Lagi, saya harus bilang apa dengan kekonyolan-kekonyolan itu? Serba kembar. Beberapa hari yang lalu saya membaca buku tentang si kembar yang dipisahkan. Selanjutnya, di redaksi saya bertemu dengan kembaran anggota keluarga kecil kita. Dan sekarang, usia saya beranjak di angka yang kembar. Saya sempat protes dengan penambahan (+1) usia saya di salah satu akun pesbuk teman saya. Itu mah namanya pencemaran usia baik.

Terima kasih telah menghadirkan sebentuk pengalaman-pengalaman “unik” di kepala saya. Kepada siapa saja, yang rela menyesakkan kepalanya dengan tanggalan dari akta kelahiran saya itu. Dan terima kasih pula jika ada yang berkenan memberikan saya kado ulang tahun. Haha.. :P

Kalian, teman saya, bukanlah hadiah ulang tahun dari Tuhan untuk saya. Melainkan hadiah sepanjang hidup yang dianugerahkan Tuhan buat saya…. ^_^.

Dan kelak, ketika kita sudah sampai pada impian masing-masing, hal-hal semacam itu (tertawa dan ditertawakan) tentu akan mengaduk-aduk memori dan menuntun hati untuk mempertemukan kita kembali. Just believe it!



--Imam Rahmanto--

*yang seharusnya ditulis dua hari yang lalu. 

Sabtu, 15 Juni 2013

Homesick

Juni 15, 2013
Ada hal-hal yang tak pernah terukur oleh mata, ada hal-hal yang tak pernah terukur oleh telinga, namun hal-hal tersebut selalu terukur oleh hati. Ya, hati yang bersih tentunya.

Beberapa waktu yang lalu, saya berniat untuk pulang ke kampung. Tapi, bukan kampung halaman saya. Hanya saja, ayah, ibu, dan adik saya berdomisili disana. Kepulangan itu sekaligus untuk menghadiri pernikahan salah seorang teman SMA saya yang juga menjadi teman sepermainan dan se-geng sejak kami duduk di bangku sekolah dasar.

Akan tetapi, niat yang menggebu-gebu itu mendadak batal oleh telepon dari ayah saya.

“Kalau kamu mau pulang hanya sehari saja seperti itu, mending tidak usah! Buat apa kamu pulang kalau hanya nyetor muka disini. Alasan kangen, sementara di rumah tidak sampai 24 jam lamanya,” tegas ayah saya di seberang sana. Padahal, beberapa hari sebelumnya saya telah mempersiapkan driri untuk pulang. Dan lagi, saya tidak mungkin juga terang-terangan menyampaikan alasan lainnya saya menggebu-gebu untuk pulang; menghadiri pernikahan teman. Toh, mereka disana tentu saja tahu tentang acara tersebut tanpa perlu saya beritahu.

Alasan kangen. Saya mengungkapkannya kepada ayah saya semata-mata karena hal seperti itulah yang kemudian saya rasakan. Nyaris setahun lamanya saya tidak pernah lagi bersua dengan keluarga kecil saya. Jikalaupun sempat, saya hanya bertemu di saat-saat lebaran Idul Adha kemarin. Tentu saja, kesibukan di luar kuliah terkadang menjadi penghalang nomor satu. Ayah saja (memaksa diri) untuk mengerti tentang hal itu. Meskipun, saya tahu, dalam hatinya ia selalu merutuki saya sebagai anak yang tidak punya kedekatan dengan keluarganya.
Sumber: favim.com

Yah, saya bukanlah seorang anak yang akrab dengan ayahnya. Justru, saya cenderung menghindarinya. Bahkan untuk berlama-lama di rumah sendiri, saya merasa risih, apalagi harus bertatap, duduk bersama - berbicara panjang lebar dengan ayah saya. Dalam benak saya telah terpatri; ayah akan mengomeli saya.

“ Jadi, kamu ndak bisa ikut pulang Jawa di bulan Puasa nanti?” tanya ayah saya lewat telepon suatu waktu kemarin. Saya hanya bisa menggeleng.

“Maaf, Pa’. Aku ndak bisa. Soale aku harus nyelesein KKNku dulu. Dan pasti aku tidak diperbolehkan pulang atas alasan itu,” Sesal di sebagian hati saya. Akan tetapi, entah mengapa, di hati yang lain merasa tenang.

Mungkin, setahun lagi, saya harus berusaha untuk menjadi orang yang kesepian dari keluarga saya. Bukan tak mungkin, jika saya sudah tidak bisa lagi merasakan kedekatan dengan keluarga kecil saya itu. Pengalaman-pengalaman pahit di masa silam, tentang keluarga dan ayah saya, sebagian besar telah menyesak dalam kepala saya. Terlanjur permanen dan takkan bisa dihapus.

Saya teringat tentang buku yang baru saja saya baca. Lontara Rindu. Buku yang berkisah seorang anak bernama Vito yang memiliki saudara kembar Vino. Akan tetapi, kedua orang tuanya telah lama berpisah, dan Vino ikut dengan ayahnya. Cerita yang berlatar salah satu daerah di Sulsel ini banyak menggambarkan bagaimana kerinduan itu benar-benar menyiksa perasaan Vito yang rindu akan sosok ayahnya dan saudara kembarnya. Pengalaman kelam tentang keluarganya, membuat ibunya memendam kebencian yang dalam terhadap ayahnya, namun tidak pada anaknya.

Rindu, bukanlah hal yang mudah diungkapkan begitu saja. Ia tak terukur oleh mata. Tidak sebatas lama tak melihat orang lain berada di sekitar kita. Tak terukur pula oleh telinga. Seolah-olah lama tak mendengar kabar tentang orang lain. Pada dasarnya, rindu itu adalah keinginan hati untuk menyatu lagi. Perasaan itu hanya bisa diukur dengan perasaan lain, yang mungkin kadarnya sama atau malah lebih besar.

Dan rutinitas saya hari ini dan seterusnya, hanyalah pembeku paling setia bagi perasaan itu. Layaknya es, yang bisa mencair dan meleleh kapan saja…


--Imam Rahmanto--

Selasa, 11 Juni 2013

Branding...

Juni 11, 2013
Suatu waktu, seorang teman pernah meminta saya untuk menjadi seorang pemateri layout dan desain grafis. Bukan tanpa alasan ia meminta saya. Track record saya selama setahun silam memang lebih banyak bergelut di bidang itu karena jabatan saya adalah seorang layouter/ designer grafis. Akan tetapi, saya menolaknya. Bukan pula karena saya tidak ingin membagi ilmu saya, seperti yang dicandakan oleh teman saya. Namun, saya lebih tertarik untuk sedari dini memulai proses branding saya ke dunia atau publik, bukan sebagai layouter.

Di lembaga pers kampus saya, diantara teman-teman pers, saya lebih dikenal sebagai seorang layouter ketimbang reporter. Padahal, kalau dipikir-pikir, karya saya sebagai seorang reporter lumayan lebih banyak dibanding sebagai seorang layouter. Setiap hal-hal yang berkaitan dengan desain atau layout, jika memungkinkan, sedikitnya akan dillimpahkan kepada saya. Permintaan pemateri dari pihak luar pun selalu saja mengarah pada saya sebagai seorang layouter. Jadinya, saya dikenal sebagai seorang layouter.

“Kenapa kau tidak mau menerimanya?”

Saya sudah lama meninggalkan dunia itu. Mengerjakannya, saya lakukan hanya sekali-kali saja, sebatas hobi. Saya lebih tertarik untuk bergelut di dunia kepenulisan ketimbang dunia desain grafis. Oleh karena itu, sejak sekarang, saya berusaha untuk memulai proses branding sebagai penulis ke khalayak ramai.

“Kenapa tidak menerimanya?”

Ah ya, menjadi seorang pemateri disana tentu saja akan membawa saja pada proses “pengenalan” mereka terhadap saya sebagai seorang layouter. Sekuat apapun saya mengatakan, “Saya bukan layouter,” ketika sudah membawakan materi itu, tetap saja mereka akan menganggap saya sebagai orang yang lebih mahir bergelut di bidang tersebut. Toh, saya membawakan materi itu, maka siapapun tentu berpikiran kalau saya capable dalam bidang tersebut.

Ketika saya sudah mulai berhadapan dengan dunia kerja, saya tidak ingin bekerja di luar minat saya. Meskipun saya mahir di bidang desain tata letak dan grafis, namun saya lebih suka dan bahagia bergelut di bidang tulis-menulis. Saya lebih tertantang untuk menjadi seorang jurnalis, jika berbicara tentang media, ketimbang duduk di belakang komputer seharian sebagai seorang layouter. Yah, meskipun juga gajinya tidak begitu tinggi, katanya. 

Dengan mulai menentukan arah saya dari sekarang, saya berharap bisa menjalani pekerjaan saya ke depannya. Setidaknya, saya lah yang harus “menyetir” kehidupan saya. Akan jadi apa saya beberapa tahun ke depan? “Menetapkan” diri (branding) adalah salah satu proses “pemasaran” saya ke publik dan teman-teman tentang saya. Dengan begitu, bidang pekerjaan yang akan ditawarkan kepada saya pun nantinya akan berdasar pada branding itu. Sebagai penulis, maka tentu saja yang ditawarkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan menulis itu. Karena SAYA SEORANG LAYOUTER PENULIS, kan! ^_^.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 08 Juni 2013

Ujian Nasional, Ujian Kejujuran

Juni 08, 2013
Penontonnya masih menanti.... (ImamR)
*dari diskusi dan pemutaran film ‘Temani Aku Bunda’

Ruangan bioskop Panakukkang XXI masih menyisakan banyak seat kosong pagi itu ketika kami berjalan ke arah jejeran seat paling belakang. Maklum, untuk acara nonton-menonton di bioskop, tempat duduk yang paling nyaman menurut saya ya di belakang. Dari tempat kami berada, jelas terlihat orang-orang masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, sembari menanti pemutaran film Temani Aku Bunda, yang rencananya bakal diputar lepas pukul 09.00 pagi ini.

Sebenarnya, film ini bukan tergolong film baru di ranah film per-dokumenter-an Indonesia. Sudah hampir dua bulan sejak pertama kalinya film ini diluncurkan di layar lebar Studio XXI Jakarta. Akan tetapi, Makassar menjadi kota kesekian kalinya dalam proses perjalanan roadshow film bertema pendidikan ini. Apalagi, pihak manajemen roadshow tidak mematok biaya sepeser pun bagi para penonton yang bermaksud menyaksikan film itu alias gratis. Cukup dengan mendaftar via sms/ BBM/ email lewat poster yang disebar panitia di social media jauh hari sebelum acara itu berlangsung.

Film ini berkisah tentang kecurangan Ujian Nasional yang dilakukan oleh sekolah SDN 06 Petang Pesanggerahan, Jakarta Selatan. Dalam film itu, seorang anak menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya, karena merasa tidak kuat menanggung kebohongan tersebut. Mendengar hal itu, ibunya menyampaikan keberatannya atas kecurangan yang dilakukan sekolah anaknya. Apalagi ketika ia tahu anaknya merasa sangat terpukul dengan kecurangan itu dan sempat dikucilkan oleh teman-temannya.

Oleh karenanya, Winda memutuskan untuk mengklarifikasi hal tersebut. Akan tetapi, pihak sekolah merasa melakukan kecurangan, seperti yang diceritakan Abrar sendiri. Berlanjut, ia menempuh jalur hukum untuk menggugat peristiwa tersebut, dan mendorong dilakukannya investigasi terhadap kejadian itu. Adalah Wanda Hamidah yang merupakan anggota DPR RI, Kak Seto sebagai pemerhati anak yang juga turut mengulurkan tangan atas masalah ini.

Akan tetapi, hingga film ini selesai, hasil yang diperoleh nihil. Pemerintah seakan-akan menutup mata dan telinganya terhadap kejadian memalukan ini. Bahkan, menteri pendidikan Muh. Nuh tidak terlalu berminat untuk membahas persoalan tersebut. Lagi, pemerintah tahu, dan pemerintah tidak mau membahasnya. Mungkin, tabu.

Usai pemutaran film tersebut, digelarlah diskusi lepas atau talkshow bersama penonton di tempat yang sama. Talkshow tersebut menghadirkan pembicara Luna Vidya selaku aktivis literasi kota Makassar, perwakilan dari Kampung Halaman yang memproduseri film dokumenter itu dan juga ibu dan anak yang menjadi tokoh dalam film tersebut, Muhammad Abrary Pulungan dan Irma Winda Lubis.

Dalam diskusi yang berlangsung singkat itu, Luna Vidya mengungkapkan kegelisahannya akan sistem pendidikan di Indonesia. Ia membenarkan kisah yang sempat digambarkan dalam film tersebut memang sering terjadi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pendidikan di Indonesia memang sudah nyaris bobrok. “Negeri ini hanya mengukur kita dari yang mempunyai hubungan atau tidak dengan penguasa,” tuturnya melihat pendaftaran-pendaftaran sekolah negeri yang bersistem LetJen alias “Lewat Jendela”.

Irma Winda Lubis, yang juga menjadi sutradara film dokumenter itu hanya bisa mengucapkan terima kasihnya kepada masyarakat kota Makassar. Antusiasme itu bisa menjadi penyemangatnya untuk tetap berjuang melawan ketidakjujuran terhadap keberlangsungan pendidikan di Indonesia. “Kalau kita ingin anak kita berperilaku kesatria, maka tugas kitalah sebagai orang tua untuk menunjukkan sikap-sikap kejujuran. Bukan malah menutupi kebohongan-kebohongan yang ada,” ungkapnya didampingi oleh anaknya, Abrar.

Dalam acara tersebut banyak pula dihadiri oleh penggiat-penggiat komunitas di Makassar. Selain itu, mereka para pelaku pendidikan, guru-guru di kota Makassar, anak-anak, dan mahasiswa turut meramaikan ajang perlawanan terhadap “penindasan” sistem pendidikan Indonesia itu. Berani Jujur itu Hebat! 

Menyaksikan film dokumenter itu, mengingatkan saya tentang Ujian Nasional yang pernah saya jalani di sekolah. Sudah menjadi rahasia umum, memang, ujian seperti itu dijadikan ajang “bocor-bocoran jawaban” oleh pihak sekolah. Tentunya, demi meningkatkan popularitas sekolah bersangkutan menjadi peringkat atas.  Maka jalan “curang” menjadi alternatif yang sengaja ditutup-tutupi pihak sekolah, namun menjadi fenomena “tahu sama tahu” bagi seluruh aparatur pemerintah. Tanggapannya? Mata ditutup, telinga tertutup.

Buktinya, seperti kasus yang pernah menimpa seorang anak SD, Alif yang diusir bersama keluarganya oleh masyarakat setempat gara-gara berlaku “berani”. Kejadian ini beberapa kali menjadi headline media-media pemberitaan nasional. Alif dan keluarganya yang melaporkan kecurangan ujian nasional di sekolahnya dimusuhi warga sekitar. Hanya untuk berlaku berani, anak sekecil Alif harus menerima perlakuan tak bersahabat dari lingkungannya.

Saya juga sangat tersentuh dengan ucapan polos yang dilontarkan Abrar dalam film dokumenter itu, “Bunda, saya tidak mau ada siswa bodoh dapat nilai bagus. Kalau pemimpinnya orang bodoh, nanti Indonesia bisa roboh” 


--Imam Rahmanto--



*Note: berikut cuplikan puisi dalam film dokumenter tersebut.

Temani Aku Bunda
--karya Elvira Yanti Mahyor--

Bunda,
aku ingin menangis di pelukanmu,
aku ingin bercerita kepadamu.
Karena saat ini aku sendiri, bunda.

Semua kawan menatapku penuh benci,
mengejekku sebagai anak yang sok jujur.
Aku tidak melakukan apa-apa.
Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.
Aku hanya melakukan apa yang selalu dinasehatkan oleh orang tua,
yaitu JUJUR.

Bunda,
aku tidak pernah menyangka jujur butuh keberanian baja,
butuh kekuatan hati yang luar biasa,
butuh kerja keras dan air mata
Aku hampir tidak kuat, bunda.

Bunda,
kini aku sedih melihat engkau,
orang yang melahirkan aku ke dunia,
orang yang membesarkan aku dengan penuh cinta,
orang yang selalu hadir di saat aku terluka,
harus menerima ejekan dari mereka,
hanya karena aku ingin JUJUR saja,
padahal JUJUR membuatku lega, bunda.

Maafkan aku, bunda
Salahkah sikapku?
Apakah aku tidak usah jujur saja?
Agar engkau tak lagi terluka.
Aku bingung, aku gelisah, aku cemas, aku takut.
Tolong temani aku, bunda.
Tolong lindungi aku, bunda.

Aku hanya ingin jujur, karena jujur membuatku lega.


**diterbitkan sebagai Citizen Reporter  
pada surat kabar Tribun Timur, edisi  Minggu, 9 Juni 2013.

Jumat, 07 Juni 2013

Words to World

Juni 07, 2013
“Change your words, change your world”

Ternyata kekuatan kata-kata lewat tulisan itu memberikan pengaruh yang kuat bagi kehidupan kita. Bayangkan saja, di zaman yang serba digital ini, orang-orang masih bisa bersahabat dengan tulisan. Yah, tentu saja lewat facebook, twitter, atau akun-akun jejaring sosial lainnya. Tak peduli sesibuk apa, orang-orang di zaman sekarang benar-benar tahu caranya mencuri kesempatan di sela-sela kesibukannya untuk update status. Pak presiden RI saja punya akun Twitter…

Oh iya, sebenarnya saya tidak bermaksud membahas tentang akun-akun social media itu. Hanya saja lewat akun-akun itu, orang-orang tanpa sadar telah memanfaatkan tulisan-tulisan pendek mereka untuk mempengaruhi pikiran, membangun opini, mencari dukungan, menyemangati, atau bahkan sekadar mencari informasi saja. Toh, nyatanya tulisan benar-benar bisa mengubah “dunia” kita, bahkan jikalau hanya dibatasi ratusan karakter saja.

Saya tertarik dengan cerita salah seorang kakak senior saya, juga seorang blogger Makassar, yang punya banyak link atau teman yang bekerja di bidang industri kreatif semacam dirinya. Ia menceritakan bagaimana pergerakan para “penulis-penulis” itu membangun opini massa. Bahkan, mereka di pusat ibukota Indonesia sana dihargai jutaan rupiah untuk setiap tulisannya.

“Pernah suatu kali seorang teman ditawari dari Jakarta untuk menjadi tim kreatif mengusung salah satu calon di Jakarta sana. Dia cukup menuliskan tweet dengan hashtag tertentu, 10 tweet per hari, dan akan langsung dihargai Rp 1juta tiap tweet,” bebernya. Buseet!! Ini uang seperti daun saja… Hanya untuk tulisan yang dibatasi 116 karakter sudah bisa meraup keuntungan sebanyak itu. Akan tetapi, temannya menolak untuk menerima tawaran itu. Namanya sebagai seorang penulis tentu saja bakal tercemar jika memihak pada salah satu calon. Pernah nonton film “Republik Twitter”? Cara kerja tim media seperti dalam film itu.

“Jika ingin dikenal dunia, maka menulislah,” dan hal itu benar adanya. Hanya lewat tulisan, orang bisa terkenal. Lewat tulisan, orang bisa membangun dukungan. Lewat tulisan, orang bisa populer. Bahkan lewat tulisan, kita bisa meraup keuntungan.

“Saya lebih takut kepada pena seorang penulis ketimbang 1000 senjata tentara musuh.”  
--Napoleon Bonaparte--. 

Tulisan, jika diolah, akan serupa pedang yang jika diasah bisa menjadi senjata ampuh untuk mengubah dunia. Media-media massa yang ada di Indonesia sedikit banyak bekerja dengan cara serupa. Mereka menulis, mereka membangun opini publik. Betapa besarnya pengaruh media terhadap pemikiran masyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia adalah penggila televisi nomor satu.

Di perkotaan, banyak bertebaran industri-industri kreatif yang memanfaatkan keterampilan menulis seseorang. Tidak hanya menulis buku yang bisa menghasilkan uang. Bahkan menulis kata-kata persuasif suatu produk pun bisa dihargai tinggi. Menulis kisah perjalanan, traveling, juga bisa dibayar loh. Sudah disuruh jalan-jalan ke semua tempat, dibayar pula. Siapa yang gak berminat! Menulis ulasan promo sebuah produk juga bisa menjadi keterampilan yang langka. Pokoknya, di luar pemikiran kita tentang menulis itu, tidak hanya berujung pada profesi jurnalis ataupun penulis. Ada banyak industri-industri kreatif di luar sana yang membutuhkan penulis-penulis kreatif.

Nah, pada dasarnya, menulis bukan persoalan kita berbakat atau tidak. Semua orang bisa menulis. Hanya butuh kebiasaan untuk mengembangkannya. Alah bisa karena biasa. Semakin sering atau rajin kita menulis “apapun” yang menjadi minat dan passion kita, secara lambat laun akan menjadi gaya penulisan yang kita miliki. Mungkin saja, dari sana kita bisa memanfaatkan keterampilan “buatan” itu untuk kehidupan kelak. Entah untuk mengubah diri sendiri, mengubah orang lain, atau bahkan mengubah dunia….



Salah satu video yang cukup menarik tentang bagaimana kata-kata (tulisan) bisa mengubah "dunia kecil" orang lain. Afirmasi positif akan mengubah pandangan orang lain. :D


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 01 Juni 2013

Kontradiktif Optimis - Pesimis

Juni 01, 2013

"Langkah pertama kalau kita merencanakan sesuatu yang besar, adalah merumuskan ide,"

Saya mengutipnya dari seorang arsitek yang beberapa waktu lalu menyempatkan diri untuk menjadi narasumber saya. Tak hanya itu, ia pun banyak berdiskusi masalah lainnya di luar konteks liputan dengan saya, seorang teman saya, dan juga dua orang petinggi lainnya, yang mana menjadi pimpinan kami.

Saya cukup senang berbincang dengannya. Bukan karena ia juga mengaku berasal dari Surabaya, kedekatan sisi suku dengan saya, melainkan karena pembawaannya yang sangat lugas, terbuka, rendah hati dan selalu optimis.

Optimis. Ya, hal itu yang mesti saya garis bawahi. Saya malah perlu mencontoh pemikirannya yang cenderung optimis tanpa meninggalkan sisi-sisi kemanusiaannya. Apalagi, dialah salah satu pencetus konsep "hijau" di salah satu pengembang perumahan di Makassar.

"Masterplan pertama, tanah yang kita miliki hanya seluas 39 hektar. Akan tetapi, salah jika kita hanya memikirkan akan membangun seluas tanah itu. Kita harus sedari dini memikirkan lebih luas dari itu. Dan kala itu, saya optimis dan merancangnya seluas 300 hektar lebih," ujarnya santun. Menurutnya, ilmu yang dipelajarinya pun mencontohkan demikian. Dan nyatanya, apa yang dicita-citakannya, diimpikannya dulu, yang menurut sebagian besar orang "tidak mungkin", terealisasi hingga hari ini.

Akan tetapi, hal yang kontras saya temukan di malam harinya, hanya berselang enam jam. Tidak pada ranah peliputan saya.

Seorang teman saya, justru beralih menjadi orang yang pesimistis. Saya pada hari itu merasa dihadapkan pada dua hal yang kontradiktif, sekaligus. Sangat pesimistis malah. Baginya, semua orang tak lagi menyukainya. Membencinya. Ia merasa, setiap waktu harus menjadi orang lain untuk menutupi kegelisahannya itu.

"Saya merasa semua orang disana membenci saya. Saya tidak tahu kenapa. Tidak satu pun yang baik pada saya. Bahkan, orang yang dulu selalu dekat dengan saya mulai menjauhi saya...." ungkapnya.

Segalanya ia anggap "momok" yang membencinya. Pandangannya seolah-olah menjadikan dunia ini betul-betul tidak bersahabat dengannya. Akibatnya, ia jatuh. Ia merasa tak kuat lagi. Berharap tidak akan kembali lagi. Seakan-akan tak ada lagi masa depan untuknya.

"Tidak. Itu hanya pandanganmu saja. Sebatas persepsi yang kemudia merefleksikan apa yang kau pikirkan. You are what you think." Apapun yang coba saya katakan pada dasarnya tidak membuatnya lebih baik. Justru membuatnya lebih sakit, dan....menangis

Akh, mengingat kedua hal itu, rasa-rasanya saya (tidak) kebetulan ditunjukkan dua hal yang kontradiktif tersebut. Saya membedakan keduanya. Antara sifat-sifat optimis dan pesimis.

Mereka yang optimis, tentunya berpikiran terbuka. Memandang segala hal di sekelilingnya sebagai hal baik. Jikalaupun tak baik, ia akan menganggapnya sebagai tantangan. Yah, tantangan yang akan meningkatkan levelnya ke tingkat yang lebih tinggi.

Akan tetapi, berbeda halnya dengan orang-orang yang selalu pesimis. Mereka memandang dunia berlaku tak adil pada mereka. Seakan-akan tak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk terlihat baik. Segala peluang mereka anggap ancaman. Segala hal tak baik, dianggap penderitaan. Padahal, jikalau saja mereka ingin mengubah sedikit pandangan mereka, maka dunianya pun berubah.

Bagi saya, prinsip "You are what you think" selalu berlaku dimana saja. Selebihnya, biarkan "The Law of Attraction", Hukum Tarik Menarik bekerja untuk kita. Kita positif ke lingkungan = lingkungan positif ke kita.

Hei, engkau yang merasa dirinya tidak lagi dicintai dunia, kita tak bisa menuntut perjalanan hidup kita terangkai dengan sempurna. Karena kita pula yang menjadi ketaksempurnaan itu. Segala hal di sekeliling kita juga (perlu dimaklumi) penuh dengan ketaksempurnaan. Akan tetapi, bukankah kesempurnaan itu sejatinya adalah menerima ketaksempurnaan yang terjadi pada kita?

Segala hal diciptakan Tuhan berpasang-pasangan. Baik, buruk. Hitam, putih. Atas, bawah. Sedih, gembira. Suka, benci. Sempurna, tak sempurna....

Dengan menerima ketaksempurnaan itu sebagai bagian dari "pewarna" hidup kita, saya yakin, bakal membawa kita pada esensi kehidupan yang lebih baik. Kita tersenyum pada dunia, dunia melakukan hal yang sama pada kita. :)

***

*Saya senang, perjalanan saya beberapa minggu ini membawa saya pada beragam karakter individu yang menarik. Setiap individu adalah unikum. Saya pun selalu belajar, belajar dari pengalaman orang lain. Belajar untuk terus hidup...


--Imam Rahmanto--