Sabtu, 25 Mei 2013

Adaptasi

“Besok, kalau kemari lagi, pakai sepatu ya?” bisik salah seorang asisten di perusahaan tempat kami bertugas liputan. Ia sempat ditegur oleh atasannya ketika melihat saya dan seorang teman saya yang sedang ada keperluan di kantornya, karena hanya mengenakan sandal. Bagi saya sih, apa yang saya kenakan saat itu sudah berada dalam standar kerapian, bagi orang-orang awam. Akan tetapi, dasar orang kantoran, selalu saja melihat kerapian dari versi sepatu-sepatu pantofel yang mengkilat.

Hahaha… saya ingin tertawa pula dibuatnya. Saya heran. Pasalnya, penampilan saya saat itu sudah bisa dikatakan rapi (versi mahasiswa). Mengenakan kemeja, celana panjang (jeans). Menurut saya, kurang rapi apa coba? Hanya saja, saya kemudian sadar, tempat saya bukan lagi di lingkungan kampus saya sendiri. Ini.nyata. Ini berbeda!

Sebagai salah seorang wartawan kampus, kami terbiasa untuk tampil seperti itu. Bagi saya, itu sudah terkategorikan rapi. Malah ada sebagian teman saya yang menjalankan tugas peliputannya di kampus hanya mengenakan kaos biasa saja. Saya mah masih mendingan! Meskipun begitu, saya harus mengikutinya. Setidaknya, saya akan menyesuaikan dengan taste saya tanpa mengesampingkan peraturan yang diinginkan oleh orang-orang disana. Sejujurnya, saya tidak begitu suka dikekang dalam beberapa hal. Namanya seorang seniman, penampilannya tentu sangat berbeda dengan orang-orang kantoran kan?

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung…

Dimanapun kita berada, kita pun ternyata harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Saya kini yang untuk sementara “berpetualang” di dunia luar kampus, sedikit lebih profesional, harus mengikuti peraturan-peraturan yang memang diterapkan oleh perusahaan bersangkutan. Kebayang tidak, saya yang biasanya tidak butuh banyak aturan dari si narasumber untuk proses wawancara kini harus melewati proses yang cukup mblibet hanya untuk sekadar wawancara dengan salah seorang narasumber. Ckck…lagi-lagi persoalan kelas eksekutif.

“Sedangkan rektor kampus saya saja kita tidak perlu menunggu waktu yang lama buat wawancara. Suka-suka kita. Lah, ini? Asistennya harus mencocokkan waktu atau agenda bosnya dulu baru bisa bertemu,” gumam saya.

Selain itu, ketika kita sudah memutuskan untuk tenggelam ke dalam dunia yang benar-benar berbeda dengan dunia kita sebelumnya, kita harus siap menerima kenyataan bahwa kita benar-benar harus menyesuaikan diri. Jika tidak, siap-siap saja bakal tergerus seleksi alam.

Huh, beberapa hari menggeluti dunia luar kampus ternyata masih saja membuat saya harus lebih banyak beradaptasi. Entah itu dengan kebiasaan orang-orangnya, keadaan lingkungannya, atau jam terbang saya sendiri. Layaknya wartawan-wartawan profesional di luar sana, saya nyaris saja menjalaninya. Bedanya, mereka dalam skala yang lebih luas lagi meskipun tempatnya sempit. Sedangkan saya, tempatnya yang sangat luas, tapi pembahasannya yang agak sempit. :D

Oke, mari kita beradaptasi!

Sedikit mencoba aktivitas orang-orang "kelas atas". :D


Sebagaimana saya mempercayai bahwa tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, maka hal itu benar-benar dibuktikan hari ini... Tanpa kami tahu, kami dipertemukan dengan seorang rekan kerja yang baru lagi, yang ternyata adalah salah seorang blogger ternama di Makassar. Ia banyak berkiprah di dunia literasi bersama teman-teman seniman lainnya, yang tentu saja sudah tidak asing lagi di telinga saya. Bahkan komunitas-komunitas yang digelutinya, tidak pernah lepas dari telinga saya. Hmm.. mungkin Tuhan memberikan satu jalannya ini untuk saya lalui. :D


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar