Jumat, 31 Mei 2013

Seni Menulis Sosok ala Pepih Nugraha

Mei 31, 2013
(sumber: google.com)
Judul Buku : Menulis Sosok, secara Inspiratif, Menarik, Unik
Penulis : Pepih Nugraha
Penerbit         : Penerbit Buku KOMPAS
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 196 halaman

Terbilang buku baru, sebenarnya cukup menarik minat siapa saja yang ingin membaca. Namanya juga buku baru, selalu menggugah rasa penasaran tiap penikmat buku. Akan tetapi, sejujurnya, saya yang lebih menyukai membaca buku-buku novel dan motivasi (dan sejenisnya) nyaris tidak begitu tertarik melirik judul sampulnya, Menulis Sosok, secara Inspiratif, Menarik, Unik. Apalagi, saya berpikir, dari judulnya itu seakan-akan bakal membahas secara eksposisi “cara” dan “teknik” menulis artikel berita, khususnya profil.

Akan tetapi, nama penulisnya, sedikit merangsang rasa penasaran saya. “Seperti apa ya kira-kira buku yang ditulis oleh bang Pepih Nugraha?” pikir saya dua hari yang lalu. Wajar, saya mengenal penulis lewat ketokohannya sebagai pendiri social blogging Kompasiana dan sebagai seorang jurnalis KOMPAS. Apalagi saya juga berulangkali pernah bertatap muka, bahkan berinteraksi dengan penulis jikalau sedang berbagi ilmu di Makassar. Terlepas dari itu, minat dan aktivitas saya di dunia jurnalistik kampus menjadi dorongan tambahan untuk meneruskan sekadar “membuka” buku ini.

Oh ya, tampilan sampulnya yang sederhana terkadang bisa menarik minat siapa saja. Simple.

“Setiap orang adalah unikum, pemilik cirri khas yang berbeda dari milik orang lain mana pun. Masing-masing individu dilahirkan dengan kreativitas yang berbeda-beda pula. Keunikan setiap orang inilah yang lalu melahirkan “seni” menulis profil atau sosok.”

Nah, berbekal kutipan yang dicantumkan di back cover buku itulah, saya semakin percaya, isi buku ini menarik untuk dibaca sekaligus dipelajari (bagi jurnalis).

Secara garis besar, buku ini berisi 22 artikel behind the scene (kalau bisa dibilang begitu) penggarapan naskah-naskah berita Sosok di harian KOMPAS yang dituliskan oleh Pepih Nugraha. Sebenarnya, tidak hanya 22 artikel saja yang dihasilkan penulis buku Citizen Journalism (karya pertama) ini selama 20 tahun pengalamannya menggarap rubrik Sosok media nomor satu di Indonesia. Hanya saja, untuk keperluan buku, tentulah penulis memilih tulisan-tulisan yang dianggapnya inspiratif, menarik, dan unik. Sesuai dengan judul bukunya.

Ilmu jurnalistik yang dibagi pria kelahiran Tasikmalaya ini terbilang cukup menarik. Bang Pepih, panggilan akrabnya, sengaja menuturkan kisah penggarapan beritanya untuk Sosok itu secara lugas dan mengalir. Kesannya, ia tidak berusaha menggurui. Coba saja bandingkan dengan tulisan-tulisan “Cara……..” sejenisnya yang lebih banyak memaparkan secara eksposisi. Bang Pepih mencontohkan dengan bercerita pengalaman-pengalamannya sendiri. Dari situ, secara tersirat, diserahkanlah kepada pembaca bagaimana cara mereka “menyimak” teknik-teknik yang ingin disampaikan. Oleh karenanya, kita seolah-olah tidak dijejali dengan konsep baku yang “bukan kita banget”.

Saya, memang, lebih suka dibelajarkan lewat kisah-kisah atau pengalaman orang lain. Pengalaman itu malah terkadang mendekatkan kita secara psikologis dengan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini sama-sama manusia yang memiliki pengalaman dan pikiran. “Experience is the best teacher”, sebagaimana yang selalu terbaca di buku-buku tulis saya semasa SD.

Tanpa saya duga pula, nyatanya teknik bercerita bang Pepih bisa menggugah sisi inspiratif buku ini. Sesekali saya sempat dibuat berdecak kagum dengan sosok-sosok yang diceritakannya. Tak jarang saya sampai bergumam, “Oh ya”, “Masa?”, “Ternyata begitu” sambil mengangguk-anggukkan kepala. Layaknya cerita-cerita yang lugas dan sederhana, sisi spirit pembaca mampu disentuhnya. Lagipula, beberapa bagian cerita yang ditulis berlatar belakang daerah Sulsel, semakin menambah rasa penasaran saya.

Terlepas dari jumlah halamannya yang menurut saya masih relatif sedikit (coba saja, seandainya contoh artikelnya dihilangkan, pasti buku ini agak tipis), buku ini sangat tepat dijadikan bahan referensi penulisan-penulisan sosok atau profil seseorang di media manapun. Tidak terkecuali di tabloid kampus saya. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 30 Mei 2013

Rumah Ramah Tamah

Mei 30, 2013
Menyusuri jalan di sekitar perumahan besar ini, saya agak ragu. “Apakah ini masih termasuk dalam kawasannya ya?” pikir saya. Tidak berlebihan jika saya berpikiran kami bakal kesasar. Pasalnya, jalanan yang kami lalui menuju kediaman salah seorang narasumber kami cukup membuat perasaan was-was. Meski jalanan sudah diaspal, namun disana-sini lubang-lubang kerusakan masih menganga. Apalagi tadi sore hujan baru saja mengguyur tempat ini.

“Benar jalanannya lewat sini?” Saya berusaha meyakinkan diri. Nyaris satu jam namun kami belum juga sampai di kediaman “target”.

“Iya. Kita jalan lurus saja,” jawab teman saya. Ia baru saja selesai menghubungi narasumber bersangkutan.

Oh ya, sudah seminggu rasanya saya dan salah seorang teman saya ditugaskan oleh salah satu majalah griya untuk proses peliputan. Terbilang majalah baru, sehingga kami harus memulai semuanya dari “nol”. Jika kami terbiasa meliput di area kampus, yang selalu berkaitan dengan mahasiswa dan birokrasi kampus, kini kami harus membuka pikiran lebih jauh. Cara meliput kami pun harus berbeda. Benar-benar wawasan kami harus diperluas. Ternyata, dunia kami tidak hanya sebatas di kampus. Masih ada banyak pengalaman di luar sana yang menanti untuk dicicipi sekaligus dinikmati. Sekali-kali keluar dari comfort zone adalah pilihan yang tepat. Sekalian bekal sebelum lulus kuliah. :)

Setelah bertanya dua-tiga kali pada orang-orang di sepanjang jalan, akhirnya kami tiba di suatu lokasi perumahan. Dilihat dari kondisinya, saya tidak percaya jika perumahan ini merupakan salah satu bagian dari pusat perumahan terbesar yang selama ini kami pantengi.

Rumah-rumah yang berjajar tidak begitu mewah. Lampu penerangan jalan tidak begitu jelas menunjukkannya. Hanya menunjukkan rumah-rumah kelas menengah. Akan tetapi, dari kendaraan yang diparkir di pekarangannya, saya bisa tahu, pemilik rumah-rumah disini tidak bisa dikatakan orang-orang kalangan bawah. 

Jangan salah, tiba disana, kami masih harus bertanya sana-sini. Termasuk bertanya kepada anak-anak yang tengah meramaikan masjid, mungkin baru habis mengaji. Kami kemudian dijemput oleh seorang anak laki-laki yang belakangan kami tahu dia adalah salah satu anak dari narasumber kami.

“Selamat malam, Pak, Bu!” sapa kami memasuki rumah keluarga itu. 

***

Sumber: googling

Di dunia ini, keluarga-keluarga seperti apa yang pernah kalian temui? Atau sederhananya lagi, keluarga seperti apa keluarga kalian? Dan keluarga saya?

Bagi saya, menjalani pengalaman sebagai seorang wartawan telah banyak membawa saya pada beragam karakter individu. Setiap individu itu unik. Tidak heran pula jika perwatakannya juga berbeda-beda. Di lingkungan kampus, saya sudah banyak menjumpai karakter dosen yang berbeda. Kalau mahasiswa, tidak begitu banyak sih. Hingga saat ini, saya lebih banyak menggali informasi lewat pejabat-pejabat kampus, meskipun tidak mengenalnya "seakrab" teman-teman seorganisasi saya. Ada dosen yang begitu ramah. Dosen yang suka menggertak. Dosen yang mesti dipuji dulu baru bisa diajukan wawancara. Dosen yang pendiam, membuat kita harus lebih agresif. Dosen yang persuasif, selalu mengajak kepada kebenaran. Dosen yang sangat mudah berbicara, sampai kita tidak tahu cara mengakhiri percakapan, dan mesti dibayar dengan banyak nasehat. Dosen yang sangat bersahabat, tapi menutup diri pada informasi-informasi tertentu. Dan…..ada banyak lagi. 

Kini, beranjak dari individu, saya menemui satu keluarga. Meskipun sebelumnya juga saya berkesempatan mewawancarai keluarga lainnya. Akan tetapi, untuk keluarga satu ini, bagi saya, terbilang unik dan berbeda. Keramahannya membawa saya dan teman saya pada suatu pembukaan pikiran yang lebih luas.

“Selamat malam, nak,” balas seorang laki-laki berusia 47 tahun. Sambil mempersilakan kami masuk, wajahnya sumringah selalu dihiasi senyuman. Kesan pertama: Ramah.

Setelah mengutarakan maksud kedatangan kami, dan sedikit bercerita proses perjalanan kami ke rumahnya, saya pun memulai salah satu proses wawancara yang telah menjadi pekerjaan rutin saya di lingkungan kampus. Menggali informasi. Menggali keunikan. Angle.

Meskipun di hadapan saya kini duduk dua orang yang merupakan suami istri dari keluarga ini, akan tetapi saya tidak merasa sedang dihakimi. Maksud saya, terkadang ketika kita mengunjungi rumah seseorang dan diperhadapkan pada kedua orang tuanya, berbicara dengannya, membuat kita agak kikuk. Dan yang satu ini, luar biasa ramahnya! Ckckck

Saya kemudian berpikir, ternyata keluarga sebahagia ini tidak hanya benar-benar ada di tivi-tivi ya?

Keluarga yang harmonis. Keluarga yang saling menguatkan. Saya biasanya mendengar keluarga semacam itu  dari salah seorang teman saya. Maklum, keluarganya mungkin bisa dikatakan cukup berada, dan ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi arti kedekatan. Malah, mendengar ceritanya, saya tak habis pikir orang tuanya yang sangat sosial kepada anak-anaknya. 

Keluarga itu, saya menemukannya di pelosok kota Makassar ini. Melihat kondisi rumahnya, kehidupan mereka lebih dari cukup. Si suami bekerja di dinas Pekerjaan Umum (PU) dan istrinya bekerja di salah satu Rumah Sakit Negeri di Makassar. Tidak jarang pula ia mengelola salah satu rumah sakit swasta lainnya. 

“Ya, tinggal disini sih kita mensyukurinya, meskipun di awal-awalnya kita tidak pernah menyangka. Bahkan istri saya sempat menangis waktu pertama kesini,” tuturnya sambil tak pernah lepas dari senyum lebarnya. Tawanya khas, dan terkadang melucu. Dari gerak-gerik keduanya, saya bisa menangkap kemesraan terpancar dari keduanya. Sesekali mereka saling melirik satu sama lain, meyakinkan.

Baik suami, maupun si istri, keduanya sangat terbuka dengan segala percakapan. Mereka nampak bersahabat di mata kami. terkesan, tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Malah, percakapan malam itu selalu saja diderai oleh tawa, apakah kami yang melucu atau pernyataan mereka yang melucu. :D. Kesan kedua: sangat ramah.

Tanpa segan-segan, mereka pun menawari kami untuk mencicipi makanan yang ada di hadapan kami. “Silakan dulu dimakan kuenya, nak. Itu enak loh, buatan saya sendiri. Yang satunya, dari teman. Kebetulan dapat rezeki,” ujar si istri yang bekerja sebagai bidan. Yah, namanya juga mahasiswa, kami oke saja ketika ditawari makanan. Hahaha…

“Tidak usah malu-malu kalau disini,” imbuh sang suami. Dan, pada dasarnya, keramahan mereka membuat kami nyaman untuk terus mengobrol. 

Dari obrolan kami yang nyaris dua jam, senyum tak pernah lepas dari wajah suami-istri itu. Apalagi si suami yang di mata kami nampak sangat ramah. Membuat kami leluasa melontarkan beragam pertanyaann. Membuat kami betah berlama-lama, meskipun kami harus kembali secepatnya. 

Saking terbuka dan solidnya keluarga ini, si istri lepas saja menceritakan tentang anak perempuannya yang kini menjalani kuliah di salah satu sekolah kesehatan di Makassar. Usianya terpaut satu tahun di bawah saya. Anaknya cantik, sempat menyuguhi kami minuman dan hidangan kue ketika pertama kali kami tiba di dalam rumah. Ia bercerita banyak. Dari kehidupan anaknya, sampai masalah asmara dan curhat-curhatan anaknya. Haha..benar-benar keluarga yang menjunjung tinggi keterbukaan. Salut! Kesan berikutnya: Sangat, sangat ramah!

Unik, bagi saya, pertama kali menemukan keluarga yang seramah itu. Pemikiran mereka terbuka terhadap segala hal. Semacam kebebasan “memilih” yang diberikan pada kedua anaknya, namun tetap pada koridor yang diharapkan. Justru, anak-anaknya tidak memanfaatkan kebebasan yang diberikan orang tuanya itu. “Kami tidak pernah melarangnya sampai keluar malam, kok. Hanya saja, dia memang orangnya lebih suka di rumah. Jarang keluar-keluar rumah. Paling-paling keluar kalau bantu saya di rumah sakit,” bebernya dengan gerak-gerik yang bersahabat.

Menurut saya, meskipun mereka menetap disana dengan sedikit keterpaksaan, namun diselingi dengan tawa khas mereka, keramahan mereka, tentunya akan membuat suasana rumah cair. Bahkan, kondisi awal area kawasan mereka yang dulu dikenal “sangat-amat rawan kejahatan”, toh pada kenyataannya bisa mereka atasi. Kehidupan keluarga sangat bersahabat. Melingkupi rumah ini, saya menganggap mereka keluarga yang ramah. Keluarga yang bahagia...

Sekembalinya kami dari sana, saking ramahnya keluarga itu di benak kami, teman saya pun menukas, “Seandainya mertua saya seramah itu, seterbuka itu, sejauh apapun rumah saya tidak bakal jadi masalah. Pasti keluarga saya bakal menyenangkan,”

“Iya, karena anaknya juga cantik, kan?” sambung saya. Tawa menemani perjalanan pulang kami malam itu. 



--Imam Rahmanto--

Selasa, 28 Mei 2013

Semua Harus Sekolah (Kerja)!

Mei 28, 2013
Saya membaca salah satu iklan dari perguruan tinggi ternama di selembar surat kabar. Salah satu perguruan tinggi yang menawarkan jaminan pekerjaan bagi lulusan-lulusannya. Menggiurkan. Kalau saja saya punya banyak uang, saya tak segan-segan untuk mendaftarkan diri di sana (dulu). Toh, saya sudah dijamin ndak bakal jadi “pengangguran”.

*** 

Semua orang, di zaman yang sudah serba “menengah ke atas” ini sedikitnya sudah pernah mengenyam pendidikan. Tak peduli kaum-kaum marginal maupun kalangan-kalangan eksekutif. Serendah-rendahnya pendidikan di zaman sekarang adalah tingkat sekolah dasar, bahkan bagi anak-anak jalanan di luar sana turut merasakannya.

Foto: Rizki Army Pratama
Apalagi dengan dicanangkannya wajib belajar 9 tahun oleh pemerintah kita. Maka tak ada lagi alasan untuk menolak dana-dana BOS yang mengucur di setiap sekolah. Entah merata atau tidak. Biaya masuk gratis. Buku-buku gratis. Tak ada pungutan bagi orang tua murid. Guru-guru pun bisa bernapas lega dengan peningkatan kesejahteraannya.

Sejak kecil, anak-anak selalu bertanya; “Untuk apa kita sekolah?” Yah, pertanyaan sederhana namun butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami hasilnya. Saya pun demikian.

“Supaya kamu pintar,” jawab orang tua selalu. Dan terpatri lah di dalam benak kita bahwa kita sekolah agar menjadi orang pandai. Semakin beranjak, kita menambahkannya, menjadi orang pandai yang berguna bagi bangsa.

Akan tetapi, realitasnya, setinggi-tingginya sekolah yang dilalui oleh seseorang, ujung-ujungnya juga akan bermuara pada satu hal; KERJA. Sebagian besar orang di luar sana seakan tersentak kesadarannya bahwa mengenyam pendidikan itu menjadi dasar untuk memperoleh pekerjaan. Tidak lagi pada tataran “menjadi pintar” semata, melainkan "bagaimana bertahan hidup lewat menjadi pintar” itu dalam persaingan dunia kerja.

Saya sebenarnya termasuk orang yang tidak langsung 100 persen percaya bahwa sekolah itu untuk mendapatkan pekerjaan. Terkdang, batin saya ingin membantahnya. “Pokoknya, kita sekolah ya memang untuk memperoleh ilmu seluas-luasnya,” bantah saya. Akan tetapi, semakin saya menjalani pendidikan itu sendiri, saya semakin tersadarkan, urusan pekerjaan juga menjadi urusan pendidikan di Indonesia. Idealnya, kita sekolah untuk dapat kerja. Bagi prestasi terbaik (seharusnya) dapat pekerjaan terbaik.

“Sudah seharusnya, sedari awal, kamu sudah menentukan jurusan yang kamu minati,” saya teringat dengan pesan guru-guru saya di SMA dulu. Maklum, saya baru lulus kala itu dan masih bingung menentukan jurusan yang bagus untuk saya. Sebagai salah seorang murid yang dianggap berprestasi, maka saya disarankan untuk ikut seleksi “bebas tes” masuk jurusan Kedokteran. Hm…kadangkala, prestise suatu jurusan memang menggiurkan.

“Kalau jadi dokter, gajinya besar loh. Apalagi gengsinya, wuihh!! Dan lagi, proyeksi ke depannya untuk dokter sangatlah jelas,” saran salah seorang teman saya. Komentarnya tidak jauh berbeda dnegan guru-guru sekolah saya.

“Jadi guru, untuk beberapa ke tahun depan, proyeksinya sudah jelas. Apalagi dengan digulirkannya sertifikasi guru. Maka kesejahteraan guru sudah bisa dipastikan bakal bertambah dengan tunjangan-tunjangan pekerjaannya sebagai pendidik,”

Dari apa yang saya dengarkan ketika ingin menjatuhkan pilihan, semua komentar terkait sebenarnya memiliki kesamaan. Semuanya bermuara pada PEKERJAAN. Yah, bagaimanapun, tidak bisa dipungkiri kehidupan kita bakal melalui proses “bekerja” itu. Dan entah, apakah memang seharusnya dilalui lewat pendidikan atau semestinya sejak awal sudah disasarkan langsung pada pekerjaan yang bersangkutan, tanpa sekolah.

Saya menganggap, pendidikan yang sekarang kita jalani hanya sebagai formalitas belaka, pelengkap. Apa yang kita pelajari hanya berkisar pada teori-teori semata, tentunya bekal untuk kedewasaan kita. Bekal untuk rasionalitas kita. Akan tetapi, bekal utama kita untuk hidup sebenarnya tidak semata-mata pada teori-teori yang diajarkan di sekolah itu. Bukankah, experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik? Dengan begitu, pada dasarnya, ilmu apapun bisa diperoleh melalui pengalaman kita meskipun tanpa dididik secara formal.

(sumber: google.com)
Sadarkah kita, guru sejatinya adalah orang-orang yang mengajarkan kita apa saja. Jadi, tidak hanya mereka yang berdiri di depan kelas mengajarkan kita secara formal dan dilengkapi dengan sertifikat pendidik yang dianggap sebagai guru. Bahkan, anak kecil tempat kita belajar “cara berhitung” dengan jari bisa menjadi guru kita juga. Lagi-lagi guru tak pernah memandang usia. Dan? Sekolah secara formal memang selalu dikait-kaitkan dengan segala kemungkinan kita mencari kerja. Sementara dalam hidup yang sebenarnya kita jalani, itulah sejatinya sekolah. Sekolah kehidupan dengan guru-gurunya yang bisa mengajarkan kita cara hidup, cara berteman, cara menyelesaikan masalah, dan cara menyayangi orang lain.

Bekerja, berarti kita juga menjalani pendidikan hidup. Tanpanya, bagaimana kita hidup? Hehe…orang juga butuh makan, bukan?

“Ketika memasuki dunia kerja, kalian tidak akan pernah kok ditanya-tanya tentang IPK berapa. Yang dibutuhkan adalah seberapa besar keterampilan atau kemampuan yang kalian miliki. Urusan ijazah adalah yang kesekian,”

Saya sendiri baru menemukan passion pekerjaan yang saya minati ketika menjalani pendidikan di kampus saya sekarang. Jika beruntung, mengikuti arus, saya seharusnya bakal berakhir menjadi seorang pendidik atau guru di suatu sekolah entah dimana. Seharusnya pula saya menjadi orang yang “lurus-lurus” berprestasi seperti masa-masa sekolah saya dulu.  Akan tetapi, saya malah menemukan jalur yang berbeda di kehidupan saya sekarang. Saya mulai tahu, saya ingin jadi apa, untuk apa, dan dengan apa.

Pada dasarnya, pendidikan itu penting. Sangat penting malah. Mungkin saja, melalui pendidikan-pendidikan formal yang dijalani bakal mengarahkan kita pada hakikat belajar yang sesungguhnya. Pendidikan formal, mengarahkan kita pada pendidikan kehidupan, salah satunya bekerja. Belajar seumur hidup. Guru tak terbatas. Kelas tak berbayar. ^_^.

Suka atau tidak. Kita akan berujung pada pendidikan hidup itu. Tugas kita lah untuk memilih, ikut arus atau melawannya. Kata orang bijak, hanya sampah yang hanyut terbawa arus sungai, ujung-ujungnya akan bermuara di laut. Ikan yang tangguh, berusaha melawan arus air agar tidak ikut hanyut terbawa derasnya.

Sedari kini, sedikit saja, ayo mulai membayangkan passion seperti apa yang kita inginkan. "Sebelum lulus kuliah, saya bakal (ingin) jadi apa ya?"

***

“Memangnya jurusannya kamu bisa jadi wartawan?” tanya ayah saya suatu ketika. Kami duduk-duduk berdua di depan teras rumah sambil memandangi orang-orang yang lalu-lalang tak lepas menyapa kami.

“Bisa kok. Malah, kebanyakan wartawan senior saya bukan berasal dari jurusan jurnalistik,” jawab saya meyakinkan. Bagaimanapun, saya tahu, ayah saya tidak begitu sreg dengan keinginan saya. Kekhawatirannya, simpang siur yang selama ini didengarnya, disaksikannya pula lewat televisi seakan-akan telah memoles “tak baik” pekerjaan itu. Tapi, dasar ayah saya, ia selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya, meskipun keinginannya tidak sejalan dengan kemauan anak-anaknya.

Lha wong kamu sendiri kan yang bakalan merasakannya. Awas le kalau nyusahin,” ujarnya selalu berusaha meyakinkan dirinya tentang pilihan-pilihan yang saya bulatkan.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 25 Mei 2013

Adaptasi

Mei 25, 2013
“Besok, kalau kemari lagi, pakai sepatu ya?” bisik salah seorang asisten di perusahaan tempat kami bertugas liputan. Ia sempat ditegur oleh atasannya ketika melihat saya dan seorang teman saya yang sedang ada keperluan di kantornya, karena hanya mengenakan sandal. Bagi saya sih, apa yang saya kenakan saat itu sudah berada dalam standar kerapian, bagi orang-orang awam. Akan tetapi, dasar orang kantoran, selalu saja melihat kerapian dari versi sepatu-sepatu pantofel yang mengkilat.

Hahaha… saya ingin tertawa pula dibuatnya. Saya heran. Pasalnya, penampilan saya saat itu sudah bisa dikatakan rapi (versi mahasiswa). Mengenakan kemeja, celana panjang (jeans). Menurut saya, kurang rapi apa coba? Hanya saja, saya kemudian sadar, tempat saya bukan lagi di lingkungan kampus saya sendiri. Ini.nyata. Ini berbeda!

Sebagai salah seorang wartawan kampus, kami terbiasa untuk tampil seperti itu. Bagi saya, itu sudah terkategorikan rapi. Malah ada sebagian teman saya yang menjalankan tugas peliputannya di kampus hanya mengenakan kaos biasa saja. Saya mah masih mendingan! Meskipun begitu, saya harus mengikutinya. Setidaknya, saya akan menyesuaikan dengan taste saya tanpa mengesampingkan peraturan yang diinginkan oleh orang-orang disana. Sejujurnya, saya tidak begitu suka dikekang dalam beberapa hal. Namanya seorang seniman, penampilannya tentu sangat berbeda dengan orang-orang kantoran kan?

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung…

Dimanapun kita berada, kita pun ternyata harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Saya kini yang untuk sementara “berpetualang” di dunia luar kampus, sedikit lebih profesional, harus mengikuti peraturan-peraturan yang memang diterapkan oleh perusahaan bersangkutan. Kebayang tidak, saya yang biasanya tidak butuh banyak aturan dari si narasumber untuk proses wawancara kini harus melewati proses yang cukup mblibet hanya untuk sekadar wawancara dengan salah seorang narasumber. Ckck…lagi-lagi persoalan kelas eksekutif.

“Sedangkan rektor kampus saya saja kita tidak perlu menunggu waktu yang lama buat wawancara. Suka-suka kita. Lah, ini? Asistennya harus mencocokkan waktu atau agenda bosnya dulu baru bisa bertemu,” gumam saya.

Selain itu, ketika kita sudah memutuskan untuk tenggelam ke dalam dunia yang benar-benar berbeda dengan dunia kita sebelumnya, kita harus siap menerima kenyataan bahwa kita benar-benar harus menyesuaikan diri. Jika tidak, siap-siap saja bakal tergerus seleksi alam.

Huh, beberapa hari menggeluti dunia luar kampus ternyata masih saja membuat saya harus lebih banyak beradaptasi. Entah itu dengan kebiasaan orang-orangnya, keadaan lingkungannya, atau jam terbang saya sendiri. Layaknya wartawan-wartawan profesional di luar sana, saya nyaris saja menjalaninya. Bedanya, mereka dalam skala yang lebih luas lagi meskipun tempatnya sempit. Sedangkan saya, tempatnya yang sangat luas, tapi pembahasannya yang agak sempit. :D

Oke, mari kita beradaptasi!

Sedikit mencoba aktivitas orang-orang "kelas atas". :D


Sebagaimana saya mempercayai bahwa tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, maka hal itu benar-benar dibuktikan hari ini... Tanpa kami tahu, kami dipertemukan dengan seorang rekan kerja yang baru lagi, yang ternyata adalah salah seorang blogger ternama di Makassar. Ia banyak berkiprah di dunia literasi bersama teman-teman seniman lainnya, yang tentu saja sudah tidak asing lagi di telinga saya. Bahkan komunitas-komunitas yang digelutinya, tidak pernah lepas dari telinga saya. Hmm.. mungkin Tuhan memberikan satu jalannya ini untuk saya lalui. :D


--Imam Rahmanto--

Kamis, 23 Mei 2013

Sedekah Itu Bisnis

Mei 23, 2013
(sumber: google.com)
Salah satu bagian penting yang dituliskan oleh salah seorang kakak senior saya tentang rincian perencanaanya adalah “sedekah”. Ya, saya sedikit terhenti sesaat dari aktivitas membaca. Ada sesuatu yang terbetik di kepala saya yang kemudian membawa pada kata sederhana itu.

Tidak perlu banyak bertanya lagi bagi saya untuk kemudian menyadari alasan peletakan kata itu dalam perencanaan usaha tersebut. Segala potongan-potongan ingatan saya tentang “sedekah” menyatu kemudian membentuk ruangnya tersendiri dalam pemahaman saya.

Dalam banyak buku-buku yang beredar di pasaran, ada banyak yang mengulas keunggulan dari bersedekah itu sendiri, terlebih dari sisi agama Islam. Bahwa sedekah akan semakin memperbanyak harta kita. Dalam Matematika Sedekah pun, setahu saya,tidak berlaku  nilai pengurangan seperti “1 – 1 = 0”, melainkan yang tersusun kemudian adalah “1 – 1 = 2”. Secara kasat mata, uang ataupun barang yang disedekahkan memang berkurang. Akan tetapi, dalam perjalanannya, uang atau barang tersebut menjadi “tabungan” untuk kelipatan rezeki kita kelak.

Saya selalu percaya itu. Siapa pun tentu percaya, apalagi bagi orang-orang yang lebih banyak hidup di lingkungan komunitas maupun organisasi. Pribadi mereka telah ditempa untuk menjadi orang-orang sosial, yang harus peduli dengan orang lain. Kata orang-orang sih, “Mendahulukan kepentingan kelompok dibanding kepentingan pribadi.”

Tahu tidak, setiap perusahaan besar dan berkembang di belahan dunia manapun menerapkan prinsip "sedekah" dalam pengelolaan dan pengembangan usahanya. Tidak peduli umat Islam ataupun bukan. Sedekah sudah menjadi bahasa universal.

Saya seringkali menemukan, perusahaan-perusahaan yang telah berjaya di bidangnya masing-masing membentuk suatu yayasan amal untuk mewadahi dana-dana kemanusiaannya. Dalam bahasa sederhananya, apa yang mereka lakukan adalah sedekah. Dan semakin mereka menyisihkan pendapatan untuk “program sedekah” itu, justru kondisi perusahaan mereka akan semakin membaik. Tengok saja yayasan yang didirikan oleh mantan presiden RI, B.J. Habibie, atau perusahaan-perusahaan yang dipimpin oleh tokoh besar Sulawesi Selatan, Jusuf Kalla yang juga merupakan mantan wakil Presiden RI. Bahkan perusahaan yang dibentuk dari penjualan buku-buku laris luar negeri Chicken Soup for The Souls selalu menyisihkan uang hasil penjualan setiap bukunya ke yayasan-yayasan amal tertentu. Nah, mereka bukan orang Islam, tapi tetap mempercayai hakikat “berbagi” itu.

Saya sendiri mempercayai, entah di sekolah-sekolah ekonomi atau bisnis manapun, prinsip berbagi itu menjadi salah satu strategi pengembangan perusahaan. Apakah itu dipelajari dalam satu mata kuliah tertentu, atau hanya disisipkan, karena saya tidak pernah belajar bisnis. Intinya, ada-ada saja prinsip "sedekah" yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar manapun.

Percaya atau tidak, seburuk-buruknya kas keuangan saya akhir-akhir ini, ada saja hal-hal yang kemudian membuatnya menjadi sedikit lebih baik. Sedikit bernapas lega. Se-sengsaranya saya, selalu saja ada jalan yang memudahkan saya untuk kembali bangkit persoalan keuangan. Semelarat-melaratnya saya, saya masih beruntung punya teman-teman sekaligus keluarga yang bisa menjadi lahan untuk berbagi. Benar kata salah seorang senior saya, “Rezeki itu selalu ada. Kita saja yang tidak akan menduga datangnya darimana. Dan salah satu pemancingnya, ya sedekah itu,”

Saya semakin percaya,  setiap sedekah yang dikeluarkan dalam bentuk apapun, akan melipatgandakan tabungan rezeki kita di kemudian hari. Sedekah itu adalah bahasa universal. Berbicaranya tidak hanya lewat uang semata. Malah, di kalangan kami mahasiswa, sedekah dalam bentuk makanan atau sekadar traktiran lebih berharga ketimbang diberikan uang secara langsung. Beneran?? 

“Hei, traktir, dong!” ucapan ringan ini biasanya meluncur begitu saja. Kami tidak meminta uang darimu. Cukup dengan kerelaan hatimu membagi rezeki dengan mengisi perut kami, atau sekadar membuat kami tertawa dengannya. ^_^.

“Percaya saja, akan selalu ada rezeki buat kita,” Yah, saya percaya, kok. Dan selalu percaya! Seringkali pula mengalaminya. Dan ingin selalu mengulanginya…

Bukankah menyenangkan pula melihat senyum sumringah dari orang lain ketika memperoleh "sedekah" kita?

“Satu hal yang biasa diingatkan oleh ibu saya ketika ia menelepon dari kampung; Kalau punya uang, nak bagi-bagi rezekimu untuk orang lain, bersedekahlah, terutama lagi kepada keluargamu disana,” ujar salah seorang teman saya menirukan ucapan ibunya di telepon. Benar! Sangat benar! Saya setuju! Sangat setuju!

Nah, dimulai dari sekarang, kenapa tidak kita menyisihkan beberapa dari hasil pendapatan kita untuk dibagikan kepada orang lain? Tulus. Meskipun sedikit, tapi bakal dilipat selangit.

Kelak, kita akan tahu seberapa banyak Tuhan mengalikan pemberian kita itu untuk dikembalikan kepada kita. Itulah sebenar-benarnya “bank" bagi manusia. Percayalah! Just Believe it!


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 19 Mei 2013

Seharusnya 14 Hari yang Lalu...

Mei 19, 2013
Saya cukup dibuat terpana oleh teman-teman saya kemarin malam. Wanita, eh perempuan, dalam hal apapun, ketika sudah merias diri maka kecantikannya akan terpancar begitu saja. Nyaris membuat mata saya silau. Hah! Dalam artian, kecantikan secara fisik.

“Cantik,” ungkapan yang hanya bisa saya gumamkan dalam hati. Bagi saya, tidak sembarangan orang yang bisa mendapatkan ucapan saya itu. Saya begitu tinggi dalam menetapkan standar kecantikan seorang wanita, tidak sebatas kecantikan fisik.

Seperti malam ini, ketika seluruh teman-teman perempuan saya merias diri demi sesuatu yang spesial. Oh ya, tentu saja, wanita baru akan merias diri alias berdandan untuk sesuatu yang mereka anggap spesial. Seperti halnya jikalau seorang perempuan akan pergi berdua dengan orang yang dianggapnya spesial, maka ia akan merias diri, mematut-matut diri di depan cermin demi memberikan tampilan terbaik. Dan nyatanya, tadi malam adalah saat-saat spesial (khusus) bagi teman-teman wanita saya, dan bagi kami anggota lembaga pers mahasiswa yang seharusnya merayakan ulang tahunnya 14 hari yang lalu…

Bagi kami para pria, mau spesial ataupun tidak, kami tetap saja tampil ‘apa adanya”. Mau merias diri pun hanya sebatas merapikan rambut dan memakai parfum yang cukup menusuk hidung.

Maaf, jangan mencari saya disini. :p (dok.)
Adalah hal yang spesial pula bagi saya, ketika saya benar-benar berani “menjerumuskan” diri dalam kekacauan yang seharusnya membuat saya malu setengah mati. Ketika saya memberanikan diri mengambil sesuatu yang benar-benar belum pernah saya lakukan seumur hidup saya. Mencoba sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Mencoba untuk memberikan hadiah terbaik untuk lembaga tercinta saya. Itu adalah hal spesial bagi saya, meskipun berakhir kacau dan di luar yang direncanakan. Overall, saya selalu berpegang teguh pada prinsip “Kalau kau tidak mampu menjadi orang cerdas, maka jadilah orang berani.”

“Penampilan yang buruk,” sedikit dari komentar yang bisa saya dapatkan malam itu.

Wajar, saya pun merasakan hal demikian. Yah, saya hanya bisa cengar-cengir mendengarkannya. Anjing menggonggong, Iron Man tetap berlalu. Sudahlah, saya akan menceritakan “pengalaman baru” saya itu lain waktu.

Seharusnya 14 hari yang lalu…

Adalah hari spesial bagi kami yang telah lama tergabung dalam lembaga pers kampus ini. 5 Mei menjadi penanda awal dibentuknya lembaga kampus kami, 37 tahun silam. Kami memperingatinya tiap tahun, memeriahkannya, menancapkan momen-momen kebersamaan layaknya sebuah keluarga di dalamnya. Ah ya, tentu saja, ada kerja keras yang mengiringinya. Ada pula air mata yang mengiringinya.

Percaya atau tidak, saya menemukannya kemarin malam. Kerja keras yang benar-benar membuahkan bulir-bulir air mata, bahkan untuk orang yang belum pernah saya saksikan menangis. Ia sesenggukan. Saya pun semakin percaya, lembaga saya ini benar-benar mampu menggoyahkan benteng hati setiap penghuninya, sekeras apapun. Dan wanita sekuat apapun itu… ;)

Setidaknya, kita sudah bisa tertawa selepas acara, bukan? Sejenak melupakan sedikit permasalahan itu…

Seharusnya 14 hari yang lalu…

Lembaga pers yang menggembleng saya (dan teman-teman) merayakan hari lahirnya. Seperti anak kecil saja, yang ulang tahunnya mesti dirayakan meriah. Meskipun sejak kecil saya belum pernah merasakan hari ulang tahun yang dirayakan buat saya. Akan tetapi, seperti halnya peringatan lain di Indonesia, kami mencari waktu yang tepat untuk merayakannya secara simbolis. Bahkan maulid Nabi atau Isra Miraj pun di Indonesia dirayakan di hari yang lebih di belakang.

Kemarin malam adalah waktunya…

Kami mempersiapkannya sejak siang hari, bahkan sebenarnya sebulan yang lalu. Saya yang tidak menyempatkan diri gladi untuk penampilan saya bersama dua orang teman saya. Teman-teman yang saling menyalahkan satu sama lain sebelum acara.

Wanita-wanita yang mulai terlihat anggun malam itu. Panitia-panitia yang mulai bergerak sesuai dengan tugasnya masing-masing. Saya yang menandai dibukanya acara dengan pembacaan puisi. Ah, mengingatnya, saya ingin dibuat tertawa. Teman satunya yang melanjutkannya dengan sebuah nyanyian. Ah, suaranya benar-benar lebih bagus dari kelihatannya. Tapi, penampilan saya berakhir “konyol”, out of the script!

Pembawa acara yang memandu jalannya acara. Sambutan-sambutan yang disampaikan. Slide-slide yang diputarkan. Riuh rendah para undangan yang hadir malam itu. Keluarga-keluarga Profesi yang saling berpelukan satu sama lain. Kue ulang tahun yang dipotong. Doa yang dipanjatkan. Tak ada sesi pelemparan kue. Tak ada kesal yang tertanam. Untuk sejenak, usai flash-memory itu berganti satu demi satu, hanya tawa yang tersisa. Berebutan mendapatkan jepretan foto terbaik. Yah, wajar saja, penampilan mereka semua, baik laki-laki atau perempuan malam itu sangat mengesankan. Sia-sia jika tak diabadikan barang sesaat. :D

Seharusnya 14 hari yang lalu, saya mengucapkannya. Mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Selamat bertambah tua, Selamat berkarya.  Semoga semua ilmu yang telah saya dapatkan dari sini, lembaga tempat kami belajar selama hampir 3 tahun, bisa benar-benar berguna bagi impian saya kelak. :D

Dan saya kira, ucapan dari kami memang telah tiba 14 hari yang lalu… :D




--Imam Rahmanto--

Selasa, 14 Mei 2013

Aku, Segelas Cappuccino (Season 3 - part 2)

Mei 14, 2013
(Gambar: google.com)
“Apa kau tahu, Cappie? Bagaimana sejatinya orang yang mencintai itu? Atau…mungkin sekadar suka yang sebenar-benarnya?” Kau bertanya padaku, yang hanya bisa kujawab denga diam tanpa bahasa.

“Hmm…seminggu yang lalu, aku benar-benar heran. Aku mencintai apa aku menyukai?” lirihmu.

Aku semakin heran dengan dirimu pagi ini. Kau bertingkah aneh, layaknya ketika pertama kali engkau menyukai seseorang dulu. Aku masih ingat bagaimana ketika engkau selalu saja bercerita tentangnya di depanku. Aku masih ingat betapa kau bahagianya jika mengangkat telepon darinya. Berjam-jam lamanya kau habiskan waktu hanya untuk membahas hal-hal tak penting dengannya. Bahkan, kau rela membiarkan sms-sms dari teman-temanmu mengalami pending barang sebentar.

“Ah, berhati-hatilah dengan perasaanmu. Aku hanya menyarankan agar kau untuk kali ini tidak lagi terbawa perasaanmu. Terkadang, ketika kau jatuh cinta, kau harus rasional pula,”

“Aku menemukan orang yang baru, meski tak bisa dipungkiri hingga hari ini aku masih terus saja memikirkannya. Tapi, aku sadar. Waktu terus berjalan, dan perlahan waktu akan mengobati lukaku.. perlahan,” ujarmu lagi. Pandanganmu ke depan, mengingat sesuatu.

“Memang, waktu bisa mengobati luka hati. Namun manusia mengobati lebih cepat daripadanya,” balasku.

Aku tahu, kau selalu mengharapkannya. Orang yang pernah memikat hatimu. Namun kau tak menyadari seseorang telah memilikinya. Atas nama keberanian, kau rela begitu saja menjerumuskan diri.

Kau terdiam sesaat. Sejenak merasakan hembusan udara yang tak begitu hangat pagi ini. Jarimu mengusap-usap tangkai gelasku. Aku masih hangat dan selalu berusaha menghangatkanmu.

Seandainya saja Tuhan juga berpihak padaku, saat ini, aku ingin menjadi temanmu yang bisa menjadi lawan mengobrolmu. Malang bagiku, aku bukanlah manusia yang setiap saat bisa tertawa, menangis, mencintai, atau membenci sesamanya setiap waktu. Aku hanya segelas minuman yang menjadi penonton atas apa yang kalian lakukan sehari-hari. Kami hanya mendengarkan. Kami hanya bercerita satu sama lain dengan bahasa kami. Dan soal cinta? Ah, itu menjadi barang langka bagi kami.

“Hei, Cappie. Seandainya kau hidup. Mungkin kita bisa menjadi teman yang akrab. Begini saja kau sudah menjadi teman bagiku. Apalagi kalau kau bisa hidup layaknya manusia,”

Ah! Kau tahu apa yang kupikirkan? Apakah kita memang terhubung? Atau ini hanya kebetulan semata?

Nada dering handphonemu berbunyi. Kau tersadar dan beranjak masuk ke dalam rumah untuk mengangkatnya. Kau meninggalkanku sendirian disini. Aku masih mengepulkan asap, membumbungkan tinggi kehangatanku. Beberapa detik kemudian, asap itu berputar-putar di atas gelasku. Pusaran asap putih terbentuk semakin menebal, mengalahkan asap rokok yang sering kulihat.

Ada yang aneh terjadi di hadapanku. Asap itu semakin meluas dan membentuk kabut tipis di sekelilingku. Sesaat, aku kehilangan kesadaranku. Aku kehilangan penglihatanku. Aku tak mencium lagi aromaku seperti biasa.

Kau kembali dengan menenteng ponsel di tanganmu. Mengetikkan sesuatu di layarnya sambil berjalan ke arahku. Tanpa sadar, kau nyaris saja melonjak ketika melihatku. Tak biasanya, aku tak bisa lagi membaca pikiranmu. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan saat ini, ketika melihatku, seseorang yang duduk di sebelah bekas tempatmu duduk.

“Emm…eh,.. maaf, mau cari siapa?” tanyamu basa-basi berusaha menyembunyikan sedikit kegugupanmu. Atau, kukatakan saja, terkejut.

“Aku Cappie,” jawabku sambil tersenyum sumringah padamu.


to be continued__

--Imam Rahmanto--

Senin, 13 Mei 2013

Halaman Awal dan Akhir

Mei 13, 2013
Gambar: google.com
“Membaca buku itu, bagi saya, cukup membaca beberapa halaman awalnya saja dan beberapa halaman terakhirnya. Dengan begitu, saya tidak perlu membaca semua isi buku yang tebal-tebal itu. Toh, saya juga sudah mendapatkan semua isi buku itu,” ujarnya menyombongkan diri. Seperti biasa, ia memang bertingkah layaknya orang-orang yang sangat pandai. Menganggap orang-orang di sekelilingnya tidak lebih pintar darinya, bahkan untuk segala hal yang sebenarnya tidak diketahuinya.

Saya diam saja mendengarnya. Mendebatnya hanya akan membuat saya terlibat dalam obrolan kusir. Sebagai seorang adik yang baik, saya tak perlu menyanggahnya. Baginya, apa yang dikatakannya selalu benar. Ya, selalu benar??

Saya kemudian teringat dengan salah satu film yang pernah saya tonton:

“Aku hampir lupa. Bacaan akhir pekan. Jika aku boleh memilih, tulisan tentang kutub utara cukup bagus. Sudahkah kau membacanya?”

“Tentu saja tidak. Untuk apa aku membacanya?” ujarnya. “Sini aku jelaskan padamu. Semua yang perlu kau tahu tentang buku bagus, adalah lima halaman pertama, dan lima halaman terakhir. Oke?”


Kalau ada waktu untuk bersantai, ya apa salahnya dengan membaca buku?

“Saya sudah tahu semuanya dengan membaca beberapa halaman saja. Lagipula, waktu saya terlalu sedikit hanya untuk disibukkan dengan membaca buku,” lanjutnya lagi pada teman saya. Acuh, saya terus saja melanjutkan bacaan saya.

Membaca buku. Yah, sudah berapa buku yang saya habiskan minggu ini. Entah bagaimana caranya saya ingin sekali membaca buku. Saya agak tersengat ketika seseorang bertanya, “Berapa buah buku yang kau baca dalam sebulan?” Di samping itu, saya kemudian ingat dengan keinginan saya untuk memperbanyak koleksi buku, membuat perpustakaan mini sendiri.

Ah, saya masih kalah dibandingkan teman saya. Ia nampaknya sudah lama memiliki koleksi perpustakaan pribadi. Lihat saja dengan buku-bukunya yang ia bubuhi stempel layaknya perpustakaan pada umumnya.

Saya senang membaca buku. Tapi bukan dengan cara yang diterapkan oleh salah seorang senior saya itu. Atau cara satunya lagi, yang saya temukan lewat film A Thousand Words. Seorang agen penerbitan yang sibuk mengejar dan mengajak penulis untuk menjadi partner-nya, sehingga ia melupakan esensi membaca itu sendiri. Hingga kelak, ia diajarkan bagaimana caranya untuk “berhenti sejenak” dalam ritmenya yang berlangsung begitu cepat dan sibuk.

Membaca buku, bagi saya, mengimajinasikan dunia saya sendiri. Saya bebas mengkhayal, memikirkan segala bentuk perwujudan dari isi buku. Amat berbeda ketika kita menonton film. Dalam film, kita sudah didikte tokoh-tokoh maupun settingnya. Otak tak perlu terlalu kuat mencernanya. Cukup lihat saja dan saksikan.

Buku mengajarkan kita untuk melihat dunia lebih luas, dari sudut kacamata kita sendiri. Satu buku, satu jendela. Jika kau ingin mengenal dunia, maka membacalah. Lewat buku itu pula, saya banyak mengenal sesuatu. Bahkan beberapa pengalaman “fiktif” bisa saya alami sendiri lewat buku itu. Tapi, tentu saja dengan menyelesaikan semua bacaan saya. Bukan dengan gaya membaca hanya separuhnya saja.

“Seperti buku yang semalam saya dapatkan, saya hanya membaca beberapa lembar halaman awalnya dan beberapa lembar halaman akhirnya. Saya sudah tahu isinya,” ujarnya lagi mengemukakan sebuah buku yang membahas “dapur” salah satu media ternama di Indonesia. Ia lalu mengemukakan isi bukunya, menurut versinya sendiri. Dangkal.

Saya berani menjamin, orang yang hanya membaca secuil isi dari sebuah buku tidak akan mendapatkan apa-apa dari buku itu. Bak melihat dunia luar lewat jendela, kita tidak akan menyaksikan seluruhnya jika hanya mengintipnya lewat celah-celah jendela itu saja, tanpa menyingkap seluruh tirainya. Jadi, bagi saya, omong kosong saja bila seseorang berbicara tentang isi buku tanpa pernah membaca keseluruhan buku. Anggap saja, itu hanya belajar beretorika – menarik perhatian dan simpati. Membaca setengah-setengah, kita memutuskan untuk menjadi orang yang sok tahu.

Apa yang kemudian membuat saya merindukan kembali dunia baca? Karena saya melewatkan beberapa waktu saya untuk menikmati dunia ini, saya berusaha menciptakan dunia saya dan menikmatinya lewat membaca itu. Lagipula, saya terdorong oleh semangat seorang wartawan senior yang sempat berkunjung ke redaksi kami tempo hari.

“Agar kalian tidak menyesal di kemudian hari. Cobalah, mulai dari sekarang, targetkan buat baca buku! Targetkan berapa buku kalian habiskan dalam sebulan, seminggu, atau bahkan sehari. Lantas coba kalian hitung sendiri, ada berapa buku yang kalian tamatkan dalam setahun?” ajaknya. Yah, saya sudah lama tidak banyak membaca buku. Berdalih, ada beberapa rutinitas yang menghalangi saya. Ada berapa buku yang telah kalian baca dalam setahun?

Jika untuk mengenal dunia saya harus membaca buku, maka untuk dikenal dunia maka saya harus menulis buku. I wish it!



 
--Imam Rahmanto--

Senin, 06 Mei 2013

My Lovely Guitar

Mei 06, 2013
It's my (new) guitar. (ImamR)
Menyaksikan orang-orang di layar kaca, video-video Youtube memetik dawai-dawai gitarnya, mengingatkan saya pada gitar milik saya. Saya merindukannya, bernyanyi lewat petikan atau genjrengan gitar sendiri bermodalkan suara yang kata teman-teman saya masih jauh di bawah standar alias cempreng. Padahal, saya merasa suara saya adalah yang terindah ketika sedang memainkan gitar loh… 

Saya memandangi gitar yang setengah senarnya telah lenyap. Permukaannya yang sudah mulai berdebu dan retak. Disana-sini masih berbekas tempelan-tempelan stiker hasil kreativitas saya di masa lalu. Saya baru sadar, itu sangat mengganggu.

“Tolong aku. Mainkan aku, lagi,” suara batin saya menerka-nerka. Di sudut kamar, gitar saya tergeletak tak dirawat. Gitar itu dibiarkan begitu saja, ditelantarkan, hanya karena tak satupun orang yang ingin memainkan gitar yang hanya menyisakan tiga dawai bass itu. Kasihan.

Menyaksikan orang lain bisa bermain gitar dengan kerennya selalu membuat saya iri, ingin melakukan hal serupa. Saya merindukannya, mendengarkan suara pas-pasan saya mengiringi gitar yang saya mainkan. Atau mengiringi orang di sekitar saya melepaskan suara mereka.

Saya masih ingat, pertama kali saya memilikinya hanya gara-gara melihat teman lain yang pandai memainkan alat musik itu. Saya tergoda untuk bisa terlihat keren juga. Katanya, ketika seorang lelaki pandai memainkan gitar, maka kegantengannya bertambah sekian persen. Ya, karena merasa tidak ganteng, maka saya bertekad untuk pandai bermain gitar supaya bisa jadi orang “cukup” ganteng. Jadilah saya kemudian belajar gitar pada teman sekolah saya itu. Bolak-balik saya ke rumahnya hanya untuk belajar chord maupun lagu-lagu tertentu. Saya takkan pernah lupa lagu pertama yang menjadi program pertama saya, Waktu Tentang Kita.

Lebih sebulan kemudian, saya pun semakin cinta dengan bermain musik. Tiada hari tanpa saya belajar dari teman saya. Hingga akhirnya, saya sendiri memutuskan untuk memiliki gitar.

“Terserah kamu tah. Itu kan uang kamu. Jadi yang berhak nggunainnya ya kamu sendiri,” ujar ayah saya ketika saya mengutarakan keinginan membeli sebuah gitar.

Gitar itu pulalah yang menjadi barang pertama yang dibeli atas uang pribadi saya. Uang yang telah saya hasilkan sebagai pemenang Juara Siswa Teladan tingkat kabupaten ketika duduk di bangku SMP dulu. Uang yang agak segan saya menghabiskannya. Namun saya takkan pernah melupakannya.

Tahu tidak, saking bersemangat dan senangnya saya menulis (dan berhemat) dulu, saya lebih memilih untuk tidak membeli buku-buku panduan chord musik. Saya lebih memilih meminjam buku-buku milik teman saya dan menyalinnya dalam satu, dua, sampai tiga buku tulis. Buku tulis yang berisikan chord-chord lagu salinan saya itu sering menjadi panduan saya dalam mempelajari sebuah lagu. Tak jarang, teman-teman saya ikut menggunakannya untuk bermain musik.

“Memangnya tak capek menuliskannya ulang seperti itu?” tanya seorang teman saya.

Saya hanya menggeleng dan menjawab, “Daripada saya harus beli?” Haha… masih terpatri dalam ingatan saya, harga buku-buku chord saat itu berkisar antara Rp10-15ribu. Apalagi di daerah kami belum dilengkapi oleh jaringan internet. Sangat berbeda dengan sekarang, yang tinggal googling lagu, copy-paste, cek gitar, dan genjreng!.

Hingga melanjutkan kuliah pun saya tetap bersamanya. Tidur bersamanya. Bernyanyi bersamanya. Duduk-duduk bersamanya. Ngobrol (sedikit) bersamanya. Lapar bersamanya. Naik mobil bersamanya. Naik motor bersamanya. Akan tetapi, saya masih heran, satu hal yang belum saya lakukan dengannya; merayu seorang wanita lewat genjrengan dawainya itu. Hahaha…fakta bahwa memainkan gitar itu bisa menaikkan beberapa persen tingkat kegantengan hanya mitos belaka. Jangan ditiru! Padahal, saya seringkali melihat di film-film, laki-laki selalu berhasil membuat si wanita pujaan hatinya terkesan melalui aksinya memainkan gitar di bawah jendela rumah si wanita, meskipun harus menanggung resiko dikejar-kejar oleh ayahnya. Hmm… zaman sekarang, apa masih berlaku ya??

Yah, bagaimanapun, salah satu motivasi saya dulu mempelajari gitar memang cukup kekanak-kanakan. Sampai sekarang, saya menganggap, kemahiran saya “sedikit-sedikit” dengan bermain gitar hanya sebatas hobi belaka. Saya tidak menemukan passion saya secara gamblang di dalamnya. Amat berbeda dengan salah seorang teman saya dulu yang berhasil membentuk sebuah band meskipun beberapa kali harus berganti personil. Saya memainkan gitar hanya untuk melepas rasa jenuh saja. Sekali-kali untuk melatih suara.

Karena pada dasarnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk melepaskan rasa jenuh kita.

Saya menemukannya; mempelajari banyak hal bukanlah sesuatu yang salah ataupun menjadikan kita orang yang tamak. Sama sekali tidak. Mempelajarinya, bagi saya, bukanlah sebuah kebetulan belaka. Tuhan merencanakan, kelak, kita akan dipertemukan dengan saat-saat kita membutuhkan sesuatu yang telah kita pelajari itu. Dalam hidup, selalu saja akan dijumpai “titik jenuh” yang akan menghempaskan kita belakang. Maka sangat penting melatih diri untuk menemukan hal-hal baru. Apa salahnya dengan mencoba? Saya selalu ingat dengan salah satu anekdot yang berkembang di kalangan wartawan, yang membandingkan seprang  wartawan dengan seorang profesor.

“Wartawan itu… tahu banyak tapi sedikit. Sedangkan profesor itu… tahu sedikit tapi banyak,”

“Wartawan, dikarenakan tuntutan pekerjaannya, ia harus mengetahui dan mempelajari banyak hal meskipun sedikit-sedikit ataupun hanya garis besarnya saja. Akan tetapi, berbeda dengan seorang profesor yang karena pekerjaan dan jabatannya, ia dituntut untuk mengetahui dan mempelajari sesuatu dengan lebih spesifik ataupun mendetail, terkhusus pada bidang tertentu saja,”

Saya menyadari, hal-hal yang kita pelajari akan selalu mempunyai ruang untuk kita manfaatkan di kemudian hari.

Saya kemudian meraih gitar yang tergeletak di pojok ruangan. Berdebu. Sejenak mengamatinya. Mengusap-usapnya.  Berpikir. Dan selanjutnya beranjak keluar menyiapkan beberapa hal untuk melahirkannya kembali…


--Imam Rahmanto--

Kamis, 02 Mei 2013

Lari? Tak Baik!

Mei 02, 2013
(google.com)
Jika tak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang berani!

Saya menemukan kembali esensi kalimat itu pagi ini. Di pagi ketika saya nyaris saja kehilangan separuh harapan saya atas kuliah pagi ini. :) Di pagi yang nyaris pula mengembalikan saya menjadi orang yang seperti dulu, sangat buruk.

Jika sebagian besar orang bertanya tentang alasan-alasan saya harus mengulang mata kuliah tertentu di tahun ini, sebenarnya bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Dulu, selain saya telah terjangkit oleh virus “malas” karena disibukkan oleh pekerjaan atau aktivitas lain, saya juga tergolong sebagai orang-orang yang suka “melarikan diri”. Begitulah saya menilai diri saya.

Apa yang terjadi?

Flashback, saya terkadang (atau sering) melalaikan kewajiban saya sebagai seorang anggota kelompok ketika sebuah kelompok terbentuk dalam suatu mata kuliah tertentu. Saya malah seringkali mangkir dari acara presentasi-presentasi teman-teman saya jika saya menganggap diri masih belum siap, dan kebanyakan selalu merasa tidak siap. Tak ayal, hal itu membuat teman-teman saya dongkol. Tak hanya itu, saya terkadang “melarikan diri” pula dari presentasi-presentasi individu. Parahnya lagi, untuk ujian pun jikalau saya merasa tidak memiliki persiapan apa-apa, saya memilih untuk mangkir saja dari mata kuliah tersebut. Alhasil, menjadi track record yang buruk kan dalam proses perkuliahan? Tentunya berimbas pula pada nilai-nilai saya. Miris. Malang. Kasihan.

Pagi ini, ketika akar-akar pikiran seperti itu muncul lagi, perasaan saya mulai menyatu untuk membenarkan perbuatan saya. Akan tetapi, beruntung, saya masih memiliki teman-teman  (baru) yang benar-benar peduli (sepertinya) pada saya. Ketika saya berpikir untuk lagi-lagi “melarikan diri” dari mata kuliah pagi ini, sokongan dari salah seorang teman saya datang bertubi-tubi pagi ini.

Takut-takut, saya banyak bertanya melalui pesan-pesan singkat handphone. Dan pada akhirnya membuat saya memaksakan diri mengambil langkah awal. Harus berani!

Mengingat-ingat kejadian tadi pagi, sedikit membuat saya tertawa sendiri melihat tingkah bodoh saya. Antara pergi atau “melarikan diri”. Pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak, pergi, tidak. Akan tetapi, sms dari teman saya semakin menguatkan saya untuk masuk kuliah pagi ini, memilih untuk berani apapun resikonya nanti. Lagipula, saya sudah bertekad untuk tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang dulu.

Yah, melihat kesalahan-kesalahan saya di waktu lalu, membuat saya belajar lebih banyak menghargai bantuan teman-teman saya. Saya belajar untuk tak lagi mengandalkan “pelarian” saya. Saya belajar untuk tak lagi mengecewakan mereka yang memberikan kepercayaan pada saya. Saya belajar untuk lebih bertanggung jawab atas tugas saya. Nah, siapapun yang menjadi teman regu/ kelompok saya berikutnya, biarkan saya berbulat hati untuk tak lagi membuat kalian kecewa hanya karena ketakutan-ketakutan saya… ^_^.

Saya merasa beruntung, menemukan lebih banyak orang-orang yang berbeda dalam kehidupan saya. Sebagaimana saya mempercayai bahwa tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, maka saya pun percaya,Tuhan selalu memberikan hal terbaik dalam hidup saya, mengulang beberapa sesi perjalanan saya, sekaligus menghadiahkan lebih banyak teman-teman baru...



--Imam Rahmanto--