Selasa, 23 April 2013

Surprise!

Surprise!

Namanya rose cube, salah satu dari sekian banyak origami menarik yang bisa dibuat sendiri. Mudah. Seperti halnya saya menikmati sebuah keajaiban, origami yang awalnya berbentuk kotak itu secara “ajaib” bisa berubah menjadi bunga mawar yang unik. Intinya, ia mengusung konsep kejutan.

Saya mengusungnya dalam konsep microteaching kelas saya beberapa hari yang lalu. Sebuah penghargaan bagi kelompok yang mampu menjawab dengan benar dalam tipe pembelajaran yang saya terapkan di kelas. Sederhana, memang. Namun saya menyukai konsep “kejutan”nya yang berhasil menarik sedikit minat dari teman-teman saya (yang memerankan sebagai siswa). Menjadi “unik" itu menarik.

Kejutan. Saya menyukainya. Saya menikmati ketika bisa memberikan “kejutan-kejutan” unik bagi setiap orang di sekitar saya. Apalagi kalau sampai berhasil menarik perhatian banyak orang. Dan saya sudah membuktikannya.

Hal seperti itu bisa saja diterapkan oleh seorang guru. Salah satu kunci pula dalam menarik minat siswa belajar adalah dengan memberikan kejutan-kejutan itu. Tanpa minat belajar, sepandai apapun seorang guru, siswa tidak akan bisa memahami apa yang disampaikan oleh seorang guru. Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk selalu menjadi orang-orang kreatif. Nah, salah satunya ya dengan menciptakan surprise-surprise baru dalam setiap pengajarannya. Akh, meskipun saya sendiri tidak terlalu berminat menjadi seorang guru. Tanggung jawabnya itu…..cukup besar.

Dulu, di sekolah, saya dan teman-teman lebih antusias ketika mendapati guru-guru yang kreatif. Guru yang pandai, monoton, mengajar dengan metode yang kaku, bagi kami menjadi momok tersendiri. Kami malah lebih senang ketika bisa “bermain” sambil belajar di dalam kelas. Selalu penasaran dengan pelajaran-pelajaran berikutnya dari guru-guru yang kreatif itu. Selalu kepengen tahu dan tidak bosan dengan pelajarannya. Oh ya, tidak heran ketika di bidang mata kuliah saya, Matematika, ada pula mata kuliah yang mewajibkan mahasiswanya kreatif menciptakan alat-alat peraga. Bukankah hal demikian cukup menyenangkan? Bahkan untuk orang dewasa sendiri. 

Surprise!

Sama halnya ketika menjalani kehidupan, menciptakan “kejutan-kejutan” adalah hal yang cukup penting. Bahkan menantang! Menjalani sesuatu yang sudah sewajarnya adalah hal biasa. Untuk menjadi luar biasa, adalah dengan menciptakan kejutan-kejutan baru itu.

Saya sering bercanda dengan teman-teman saya yang selalu menanyakan perihal jurusan kuliah saya.

“Kalau kamu ujung-ujungnya mau jadi penulis atau semacamnya, kenapa dulu kamu tidak masuk di jurusan Bahasa dan Sastra?” tanya beberapa teman-teman saya.

Hm..saya hanya berusaha untuk menjadi orang-orang luar biasa,”

Loh, maksudnya?”

“Iya, adalah hal yang biasa ketika mereka yang mendalami kuliah bidang Bahasa dan Sastra menjadi seorang penulis atau sastrawan. Akan tetapi, ketika orang-orang yang tidak mendalami bidang Bahasa dan Sastra bisa menjadi seorang penulis, maka itu luar biasa. Nah, kesempatan untuk menjadi luar biasa tentunya ada pada saya ataupun kalian,” jawab saya sekenanya. Yah, meskipun hanya sekadar bercanda, saya cukup percaya dengan hal itu.

Jawaban itu juga seringkali saya lontarkan bagi orang-orang yang selalu bertanya, “Kalau tidak jadi guru, trus mau jadi apa?" karena melihat destinasi saya selepas kuliah.

Memberikan kejutan. Yah, untuk menjadi orang-orang yang luar biasa, maka kita bisa memulainya dengan kejutan-kejutan kecil di sekitar kita. Orang-orang sukses dan ternama di masa lalu banyak melakukannya. Einstein, yang dianggap bodoh oleh sekolahnya, “mengejutkan” banyak orang dengan temuan-temuannya di bidang sains. Raja Inggris George VI, yang gagap dan tidak bisa berpidato dengan baik, akhirnya mampu berpidato dengan baik dan mengejutkan bayak orang. Dan di Indonesia, yang bagi sebagian besar orang menganggap bahwa membuat pesawat terbang adalah mimpi semata. Kenyataannya, BJ. Habibie mampu “mengejutkan” bangsa Indonesia dengan kecakapannya meciptakan pesawat terbang.

Nah, kejutan-kejutan itulah yang selalu mendorong saya untuk berusaha di luar batas kemampuan saya. Hmm…meskipun terkadang hal itu pula yang membuat pikiran kita merasa tertekan. Mengerahkan seluruh tenaga di batas kemampuan akan membelajarkan saya dan pada akhirnya akan menciptakan kecakapan-kecakapan baru. Saya percaya, dengan usaha yang sungguh-sungguh, siapapun bisa memutarbalikkan label “tidak mungkin” yang melekat pada dirinya.

Jika orang berkata “tidak mungkin” terhadap sesuatu yang bakal kita lakukan, maka berikanlah sedikit "kejutan" untuknya bahwa kita BISA. Surprise!


--Imam Rahmanto--

Ps: Saatnya kembali bertanggung jawab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar