Selasa, 02 April 2013

Sebentuk Penghargaan Kecil

Saya diam saja melihat tingkah salah seorang senior, rekan kerja saya. Padahal dalam hati saya sudah dongkol setengah mati menyaksikannya. Hanya saja, saya tidak bisa begitu saja menegurnya atau menyampaikan kekesalan saya secara langsung. Ditambah kami masih berbincang dengan calon “atasan” kami. 

“Iya, Bu. Nanti diperbaiki. Saya kira…….bla-bla, karena kemarin pas…….bla-bla,”

Ia berbincang seolah-olah ringkasan tulisan yang dibaca oleh atasan kami adalah hasil karyanya. Akh, padahal itu kan karya saya dan tentu saja hasil kepayahan saya sendiri memikirkan rubrikasinya. Ujung-ujungnya, perbaikan atau editannya akan kembali lagi ke saya.

“Imam, nanti kau ubah lagi ya sesuai dengan yang dikatakannya tadi,”

Tuh, kan, ujung-ujungnya saya lagi yang harus merevisinya. Padahal, jika dirunut secara susunan redaksi, harusnya ia yang berperan sebagai seorang redaktur dan mengurus sendiri persoalan-persoalan seperti itu. Untuk merancang rubrikasi, topik liputan, tema liputan sebenarnya bukan menjadi tugas saya. Toh, sebagai seorang reporter, tugas saya hanya terjun ke lapangan dan menjalankan liputan. Selanjutnya? Menuliskannya menjadi sebuah laporan berita.

Akh, ini sama halnya dengan membebankan semua urusan media kepada saya. Bagi saya, it’s no problem ketika saya memang mampu mengerjakannya. Hal itu sebagai kesempatan bagi saya menerapkan ilmu yang selama ini saya dapatkan lewat organisasi saya. Tapi, sangat menjengkelkan pula ketika ternyata di depan orang lain kita sama sekali tidak dianggap sebagai “pelaku”nya. Malah atasan menganggap hasil karya itu adalah hasil kerja orang lain, sama sekali tidak melihat saya sebagai pembuatnya. Damn.

Saya baru menyadari, ternyata seluk-beluk bekerja di dunia professional sedikit mendongkolkan hati. Ditambah dengan kemauan atasan sekaligus owner yang harus disesuaikan dengan hati kita. Kemauan owner adalah segalanya. Apalagi, keinginannya sama sekali tidak bisa diinvansi oleh pemikiran kita. Mungkin mereka juga memandang saya sebagai seorang mahasiswa, yang belum banyak tahu perihal seperti itu, mengabaikan saya. Yah, apapun itu, saya mesti menyesuaikan diri.

Sedikit Penghargaan 
(google.com)
Yah, mungkin semacam penghargaan atas jerih payah yang dilakukan adalah cukup penting. Saya seringkali menemukan teman-teman saya yang banyak mengeluh atas pekerjaannya, karena merasa sama sekali tidak dihargai.

“Kita sudah susah-susah mengerjakannya, malah diomeli. Bagaimana sih?” dongkol teman saya.

Usaha sekecil apapun yang dikerjakan oleh orang lain, apakah untuk kita atau kepentingan bersama, sebenarnya patut untuk dihargai, meski barang hanya ucapan terima kasih. Kita, manusia, bukanlah robot yang sama sekali tak perlu disanjung-sanjung atau diberi ucapan terima kasih. Bagaimanapun robot disayang-sayang, mereka tak akan merasakan atau memperhitungkannya, bukan?

Berbeda dengan kita, manusia. Semakin kita merasa dihargai orang lain, semakin respect pula kita atas pekerjaan kita, apalagi ketika pekerjaan itu dilakukan untuk orang lain.

“Terima kasih,” ucapan yang sederhana namun sebenarnya bisa menenangkan hati ketika kita menerimanya atas usaha dan jerih payah kita. Kita merasa dihargai. Kita merasa dibutuhkan. Kita pun tidak merasa hanya menjadi “alat” semata.

Meminta penghargaan atas hasil kerja kita, bukanlah dengan maksud meminta imbalan. Pada dasarnya, bentuk penghargaan itu beragam. Tidak melulu dalam bentuk uang atau barang.

Tahu tidak, semakin kita menuntut orang lain atas goal tertentu, maka semakin besar pula seharusnya kita memberikannya penghargaan atas pencapaiannya. Tidak heran ketika pimpinan sebuah perusahaan selalu saja menghadiahkan bonus bagi para sales yang berhasil mencapai penjualan-penjualan tertentu. Karena mereka sadar, karyawannya adalah manusia, yang tentu saja butuh penghargaan, baik dari segi materi maupun non-materi. Bahkan, dari sisi non-materi, perusahaan-perusahaan tertentu selalu menghadiahkan kelas-kelas motivasi bagi sejumlah karyawannya. Excellence.

Nah, tentu saja sedikit penghargaan (banyak juga boleh) sangat penting untuk menunjang pekerjaan kita maupun orang lain. Oleh karena itu, jika kita tidak bisa menghadiahkan penghargaan dalam bentuk materi, ya apa salahnya dengan tersenyum sembari mengucapkan, “Terima kasih.” I think it’s enough.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar