Jumat, 26 April 2013

Catatan Lewat Tulisan Tangan


“Hei, punya pulpen ndak? Pinjam,” pinta saya pada salah seorang teman di sebelah saya, sementara dosen yang mengajar mata kuliah kami sedang komat-kamit di depan.

“Punya, tapi cuma satu,” jawabnya singkat seraya memperlihatkan alat tulisnya itu pada saya.

Ah, kamu ini mahasiswa atau bukan? Mosok kuliah ndak bawa pulpen,” keluh saya. Padahal saya sendiri yang tidak bawa pulpen.

Lha, kau sendiri. kenapa ndak bawa??”

Tuh kan! Saya hanya bisa beralasan “banyak hal” sambil cengar-cengir kikuk pada teman saya.

Fakta: hal yang paling “langka” bagi saya adalah mempertahankan satu pulpen hingga tintanya benar-benar habis. Belum lagi tintanya habis, ada saja hal-hal yang membuat saya harus kehilangan alat tulis itu.

Terpikir, lama juga saya tidak pernah lagi menulis lewat tulisan tangan. Adapun selama ini saya memanfaatkan pulpen ataupun pena hanya untuk menandatangani hal-hal tertentu, semacam absensi dan sebatas mencatat catatan-catatan singkat wawancara. Menulis hal-hal tertentu dalam satu kalimat yang panjang, maupun satu paragraf utuh sudah sangat-amat-terlalu jarang. Ckckck…padahal, beberapa bulan yang lalu saya masih bersahabat dengan coretan-coretan tangan saya sendiri. Kini buku-buku “jurnal harian” saya pun tidak lagi terisi.

Sama halnya ketika saya mengikuti mata kuliah-mata kuliah di kelas saya. Jarang sekali saya mencatat setiap materi yang disampaikan oleh dosen. Bukan karena saya merasa sudah sangat pandai. Bukan sama sekali. Melainkan, entah kenapa, saya sudah tidak begitu tertarik lagi untuk sekadar menggerakkan tangan saya mencoret-coret beberapa paragraf di atas kertas.

Jika sudah begitu, saya hanya berusaha terpaku pada penjelasan dosen yang bersangkutan sambil sesekali melihat teman-teman lainnya yang sedang sibuk mencatat di bukunya masing-masing.

Menjadi seorang pewarta kampus (reporter) pun tidak lantas mengharuskan saya membawa pulpen kemana-mana. Jika tidak memungkinkan, saya cukup mempersiapkan alat perekam (handphone) dan menuliskan beritanya berdasarkan hasil rekaman itu. Katanya, lebih akurat.

Saya sebenarnya merindukan aktivitas tulisan tangan itu. Ada unsur-unsur “kejiwaan” tersendiri yang bisa dirasakan ketika kita menulis tradisional seperti itu. Melegakan hati. Perasaan jadi plong! Bahkan, menurut banyak ahli grafologi maupun psikologi, pada kenyataannya menulis lewat coretan tangan seperti itu bisa mengindentifikasi kondisi kejiwaan maupun perilaku seseorang. Maka tak perlu heran ketika kita mendapati tulisan orang yang satu berbeda dengan tulisan orang lainnya. Malah, tulisan kita sendiri pun, dari usia ke usia selalu saja berbeda. Tulisan mengikuti perkembangan kepribadian pemiliknya.

Flashback ke masa-masa silam, saya masih sering menggunakan pulpen untuk mencatatkan sesuatu. Saya sudah mengenal komputer, namun belum memilikinya. Zaman kuliah saya sekarang, saya terkadang meminjam catatan teman-teman kelas saya untuk mata kuliah tertentu Sementara di masa-masa sekolah, selama 9 tahun saya menjalaninya dengan tidak melewatkan satu catatan pun. Lengkap. Seandainya ada penghargaan bagi siswa dengan catatan terlengkap, mungkin saya yang bakal memperolehnya.

Bayangkan saja, untuk buku catatan, saya memiliki dua jenis. Pertama, buku catatan “sketsa”. Kedua, buku catatan seungguhnya. Untuk yang pertama, saya menggunakannya untuk mencatat penjelasan-penjelasan guru ketika mengajar di kelas. Karena guru tak pernah mengeja secara langsung ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya, maka saya mesti membuat catatan-catatan singkat sendiri di buku “sketsa” itu. Barulah ketika tiba di rumah, saya segera meramu catatan singkat itu beserta penjelasan dari buku-buku mata pelajaran. Wuih! Oh ya, masa-masa itu tulisan saya juga termasuk nominasi tulisan terindah.

Konsep “kejiwaan” dan “kepribadian” itu akan kita rasakan ketika kita telah banyak menulis. Bahkan, terkadang menulis ataupun mencoret-coret di kertas itu menyembuhkan.

Memiliki laptop semenjak setahun silam, membuat saya lebih banyak mengolah tulisan lewat tuts-tuts keyboard. Alasannya, praktis dan tidak membutuhkan banyak kertas ataupun biaya. Lagipula, tulisan-tulisan dalam bentuk coretan-coretan pena juga akan tetap saya konversikan ke versi digital untuk bisa dipublikasikan kepada orang lain.

Bagaimanapun, saya tetap merindukan pergerakan tangan saya ketika menulis melalui pena. Saya ingin menyaksikan sejelek atau sebagus apa tulisan saya ketika mulai menulis lagi. Saya ingin mencoba menerka-nerka kepribadian melalui tulisan tangan milik saya sendiri. Saya juga ingin menyembuhkan diri lewat tulisan-tulisan acak itu… Meskipun terkadang saya memuaskan diri pula melalui tulisan-tulisan yang diketik sendiri di laptop kesayangan saya.

Tulian tangan, dari zaman ke zaman semakin ditinggalkan. (google.com)

Karena hidup tak semudah "menulis" tulisan di alat-alat digital, seperti komputer. Ketika salah, kita bisa kembali ke masa lalu (undo) ataupun sekadar menghapusnya langsung tanpa meninggalkan jejak coretan sedikit pun, lantas melupakannya. Hidup tak semudah menekan Ctrl + Z... 


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar