Selasa, 16 April 2013

Aku, Segelas Cappuccino (Season 3 - part 1)

Cappuccino. (google.com)
“Pagi, cappuccino!” kau menyapaku pagi ini. Yah, baru kali ini aku mendapati sapaanmu seakrab ini. Sedekat ini. Sehangat ini. Bahkan lebih hangat dari rambatan panasku yang menjalari seluruh isi gelasku.

“Pagi!” 

Seandainya aku bisa tersenyum, maka telah kulayangkan senyum itu untukmu. Lama juga aku merindukan saat-saat seperti ini. Ketika engkau, Bintang, duduk sendirian menikmati pagi. Menikmati sisa hujan semalam yang masih belum lepas dari daun-daun di atas pohon. Sisa-sisa rembesan air di jalan-jalan depan rumahmu juga mengisyaratkan hal itu.

“Kali ini aku tak ingin terlalu cepat menyeruputmu. Kau tahu, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Aku bosan bercerita pada orang-orang di sekelilingku. Tak ada satupun diantara mereka yang bernasib sama denganku. Mungkin, malah diantara mereka ada yang seharusnya tidak menjadi tempat kutimpali cerita-ceritaku,” lanjutmu lagi.

“Aku sudah lama menantikanmu bercerita. Aku juga sudah bosan mengaduk-aduk sendiri kedalaman hatimu. Terkadang, ketika kita berbicara berdua, maka ada chemistry yang terbangun diantara kita,” ujarku.

“Ah, tidak, tidak. Tidak akan ada chemistry yang terbangun diantara kita. Hubungan kita, adalah hubungan yang tidak bisa dijelaskan secara Kimia, Fisika, Biologi, maupun ilmu eksak lainnya. Entah itu dengan kejiwaan,”

“Apa kau bisa mendengarku, Cappie?” Kau bertanya lirih, seakan-akan aku tak mendengarmu. Ayolah, sedari tadi aku disini mendengarkanmu, Memperhatikanmu.

“Aku mendengarkanmu 100 %,”

“Baiklah. Aku anggap kau mendengarkanku. Kau adalah pendengar yang baik untukku,”

“Lalu, kau mau bercerita apa? Tentang hati? Ah ya, selalu seperti itu. Beberapa minggu belakangan hal itu yang sedang bersempit-sempitan di pikiranmu. Tidak seru pula rasanya jika kau sekadar “curhat” padaku bukan pada satu masalah yang tak pernah kumengerti itu,” Aku mencoba menerka-nerka arah pembicaraan kita. Lagipula, di duniaku di sana, Air yang bijak selalu saja agak kesulitan menjelaskan pada kami bagaimana hakikat kasih sayang sejatinya. Tema sentral “cinta”, selalu menjadi hal menarik untuk kami perbincangkan.

Dan benar, aku tidak perlu lagi terlalu jauh menebak sesuatu yang akan keluar dari mulutmu. Ketika kau mengecupku, dan perlahan mengalirkan beberapa aromaku, kau menghela napas, lantas bercerita.


to be continued__
--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar