Selasa, 30 April 2013

Ini Bulutangkis, Ini Indonesia!

April 30, 2013
Novel 2 by Donny Dhirgantoro. (google.com)
“Buku itu sudah dibaca?” tanya salah seorang teman saya. Saya hanya mengangguk singkat menjawabnya. “Wah, kalau saya malah bakal merasa bosan mau baca buku setebal itu,” lanjutnya lagi.

Saya baru saja menyelesaikan bacaan itu kemarin. Dari membaca buku itu, saya kemudian mau membaca buku lainnya lagi. Membaca itu layaknya minum Cappuccino, habis satu mau nambah lagi. 

"...cita-cita itu,... sesuatu yang baik buat kamu waktu kamu besar nanti. Sesuatu yang buat kamu senang melakukannya... Kalau kamu nggak senang, berarti itu bukan cita-cita kamu..."

Saya menemukan definisi cita-cita yang cukup sederhana dari membaca buku ini. Sesederhana itu… dan saya menyukainya…

Seperti buku sebelumnya, 5cm, Donny Dhirgantoro berhasil menyisipkann semangat nasionalisme melalui novel yang ditulisnya ini. 2 menjadi novel keduanya sekaligus novel yang lebih banyak bercerita tentang impian dan kerja keras. Berbeda dengan 5cm, yang lebih banyak bercerita tentang persahabatan. Ranah impian hanya menjadi efek-efek tambahan dalam novel tersebut.

Kini, melalui novel 2 ini, penulis lebih banyak bercerita tentang impian dan kerja kerasnya. Gusni Annisa Puspita, yang terlahir dengan keterbatasan usianya dan kelebihan berat badannya berusaha untuk meraih impiannya yang teruntai lewat persahabatannya dengan Harry, yang pertama kali ditemuinya di kantin sekolah.

Seperti hidup yang tidak sempurna, kamu mencintainya dengan tidak berputus asa, 

“...bahwa tidak ada hidup yang sempurna, hanya seorang pengecut yang menginginkan hidupnya sempurna..."

Pada akhirnya, ia harus tahu tentang penyakitnya itu. Akan tetapi, ia tidak memutuskan untuk menyerah. Atas impiannya, ia berusaha untuk melawan, memilih untuk tetap hidup dan melakukan sesuatu yang luar biasa.

“Kita tidak akan pernah tahu kalau kita hanya diam dan tidak mengambil pilihan, kita harus coba, menang atau kalah tetapi dengan perjuangan itu lebih penting, dan lebih berharga buat saya...”

Lewat kerja kerasnya, berlari setiap pagi dari rumahnya menuju gelanggang olahraga, ia belajar tentang bulutangkis. Ini bulutangkis, ini Indonesia! Prestasi kakaknya, Gita Annisa Srikandi yang lebih dulu melambung dan lebih dulu berkiprah di dunia bulutangkis Indonesia turut membantunya untuk menjadi seorang Gusni yang sesungguhnya. Latihan keras dijalaninya, untuk tetap menghidupkan mimpinya.

Didukung oleh kepercayaan kedua orang tuanya yang meskipun masih saja merasa cemas, sahabat-sahabatnya, Nuni dan Ani, kekasihnya, Harry dan juga pelatih bulutangkis nasional, ia menjalani kerja kerasnya melawan penyakitnya. Penyakit yang menurut Dokter Fuad, belum pernah ditemukan obatnya.

Nah, apakah Gusni berhasil mencapai apa yang diinginkannya? Sampaikah ia pada batas waktu yang ditentukan oleh penyakitnya? Seseru apa permainan bulutangkis yang ditransformasikan ke dalam sebuah novel? Silahkan beli atau pinjam novelnya. :p

Karena segala sesuatu diciptakan 2 kali… dalam dunia imajinasi dan dalam dunia nyata. Dengan kerja keras, tinggalkan bukti di dunia nyata bahwa impianmu, Ada. Bersama alam bawah sadarmu kamu bermimpi, bersama alam bawah sadarmu kamu berjuang. Karena manusia bisa, ia ada untuk bisa.

Cukup menyenangkan membaca novel ini. Setelah lama saya tak lagi membaca, saya akhirnya menemukan cerita yang bisa kembali meluapkan semangat saya. Jika sudah berbicara tentang impian, semangat saya menggelegak. Karena antara saya, mereka, ataupun siapapun yang punya mimpi, adalahh sama.

Serius! Ada bagian-bagian dalam buku ini yang membuat saya nyaris saja menitikkan air mata. Meskipun mata saya hanya dibuat berkaca-kaca, namun pesan yang ingin disampaikan oleh menulis benar-benar sampai ke hati pembacanya. Apalagi ketika sampai pada titik-titik klimaks cerita, yang membuat saya meluap-luap, bersemangat. Saya pun ingin seperti dia yang ada di dalam cerita, meraih impiannya dengan kerja keras, pantang menyerah.

Hal yang menarik pula dalam novel ini, penulis mampu menggambarkan pertandingan bulutangkis secara deskriptif layaknya laporan langsung dari komentator. Kita seakan-akan dibawa ke dunia “radio”, yang cukup mendengarkan deskripsi laporannya, kita sudah mengerti jalannya permainan. Bahkan bisa membuat kita melonjak-lonjak, berteriak-teriak, hingga mengepalkan tangan. Bagi saya, nampaknya penulis berusaha untuk menulis sesuatu dengan bentuk yang berbeda. Dan nyatanya? Baik sekali.

Recommended to read.

"Ke setiap diri di depan saya... hari ini, saya bilang... jika kamu punya impian, impian besar dan begitu bermakna, kekuatan imajinasi manusia yang luar biasa, tetapi kamu tidak sedikitpun bekerja keras, tidak sedikit pun meneteskan keringat untuk memperjuangkan impian kamu,... buat saya kamu hanyalah pembual nomor satu bagi diri kamu sendiri,"
------------

Setiap dari kamu adalah manusia, dan layaknya manusia, hidup tidak ada yang sempurna, tetapi di setiap doamu, kamu tahu, sang Pencipta sedikitpun tidak pernah meremehkan kekuatanmu.

Setiap dari kamu sudah berjalan cukup jauh dalam hidup, tetapi setiap dari kamu masih ada perjalanan yang harus kamu tempuh. Langkah kaki kita sudah berjalan cukup jauh untuk sampai disini, tetapi kita selayaknya percaya kalau masih ada langkah untuk berjalan lebih jauh lagi.

Karena hidup tidak pernah sampai disini.

Karena untuk hidup dan melangkah adalah anugerah, tetapi untuk terus hidup dan terus melangkah lagi, bekerja keras untuk setiap impian adalah luar biasa.

Karena hidup tidak pernah sampai disini.

Karena semenjak ada di muka bumi ini, dalam hidup manusia telah saling membuktikan kepada manusia lain bahwa mimpi memang menjadi kenyataan, bahwa keajaiban itu nyata. Bahwa dengan impian dan kerja keras manusia bisa… melakukan sesuatu yang kadang ia sendiri tidak menyangka ia bisa melakukannya., melakukan hal-hal yang jauh di luar jangkauan kemampuannya, melakukan sebuah keajaiban.


--Imam Rahmanto--

Minggu, 28 April 2013

Jakarta itu Disana

April 28, 2013
Menyaksikan tiga orang teman-teman saya meninggalkan redaksi siang ini, dengan balutan pakaian rapi dan tas-tas yang sesak dengan pakaian, membuat saya kembali teringat tentang perjalanan saya setahun silam.

Yah, ketiga orang teman yang merupakan adik-adik saya di lembaga pers ini, berangkat untuk satu tujuan; Jakarta. Seperti kami setahun lalu, dalam event serupa, mereka akan melangkahkan kaki bersama teman-teman pers kampus dari universitas lain berdiskusi bersama, atas kompetisi yang telah mereka ladeni. Malam ketika saya menulis tulisan ini, kalian sudah pasti telah menginjakkan kaki di kota Jakarta.

Nah, untuk kalian bertiga, Selamat datang di Jakarta! Di kota tempat kami menghimpun semangat-semangat untuk terus bermimpi, dan berkata, “Ini memang untuk yang pertama kalinya, tetapi bukan untuk yang terakhir kalinya.”

Di kota besar itulah saya untuk pertama kalinya meyakinkan diri untuk benar-benar percaya bahwa segala sesuatu itu mungkin terjadi. Saya merasa dihargai, dan setidaknya saya pun bisa membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa saya tidak hanya “ala kadarnya” di lembaga yang sejak awal menempa saya ini. Mungkin saja, dari sana pula timbul kepercayaan baru dari orang tua buat saya. Ada kenyataan yang membuat mereka percaya atas apa yang saya lakukan. ^_^.

Di kota itu, kami membandingkan tinggi-tinggi bangunan yang ada disini, Makassar dengan disana, Jakarta. Kalian tidak perlu takjub, ah telat, melihat bangunan-bangunan yang ada disini tidak bakalan bisa “ada apa-apanya” jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan disana. Malah, gedung kampus kita yang sementara dalam pembangunan, masih kalah jauh dengan bangunan-bangunan sederhana disana.

“Apa ya ole-ole yang khas dari Jakarta?” Pernah, sekali saya menanyakannya pada salah seorang mahasiswa yang mengantarkan kami ke lokasi Journalist Days, Universitas Indonesia. Ia juga nampak kebingungan. Maka lepas saja ia berujar, “Apa ya? Mungkin ya macet seperti ini,” yang kemudian diiringi oleh tawa lepas kami. Kalian pasti sudah merasakannya.

Lumrah, ketika orang-orang yang telah lama tinggal disana akrab dengan kemacetan. Kebisingan. Karena di ibukota negara kita itu istilah “macet” menjadi bahasa sehari-hari bagi warganya. Oh ya, satu saran buat kalian ketika ada disana, jika ingin pergi ke suatu tempat disana, jangan sekali-kali menanyakan jarak. Tanyakan saja “berapa lama”nya. Untuk kalian ketahui, orang-orang disana amat jarang menanyakan kualitas jauh-dekat dengan “kilometer” melainkan berhitung lewat jam, menit, ataupun detik. Lagi, karena macet pula.

Jakarta, seakan-akan mengingatkan tentang perjalanan kami kesana. Bagaimana untuk pertama kalinya kami menjejakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta. Bagaimana kami pertama kalinya merasakan hawa Tangerang, yang kala itu digelayuti mendung. Bagaimana kami dijemput panitia dengan Bus DAMRI dari Bandara, yang tentunya dengan uang kami sendiri. Padahal kami berharap ditanggung panitia. :p

Lantas, menyaksikan suasana pinggiran kota Jakarta di malam hari. Bagaimana kami untuk pertama kalinya mengendarai kereta api (komuter). Tenang saja, di UI ada jalurnya kok. Merasakan kantin yang cukup unik, berbeda dibandingkan kantin-kantin yang ada di kampus kita, prasmanan.

Lepas dari sana, saya teringat tentang perjalanan kami mencari kediaman salah seorang senior kita disana, yang memaksa kami untuk menggandeng tas-tas besar di tengah-tengah gerbong komuter dengan tujuan gedung MNC. Memaksa setiap mata penuh tanya memandang kami bertiga. Yah, kami pertama kali kesana, dan bertemu dengan salah seorang senior kita disana, yang pada akhirnya banyak membantu kami.

Hasil jepretan saya setahun lalu, sore-sore ke Monas.

Di sebelah gedung itu, tepat di seberangnya, disanalah kami menyempatkan pula menginap, merasakan suasana-suasana hotel ala orang kota. :) Hahaha…meskipun kamarnya tidak begitu luas, tapi menyenangkan, kok. Dari sana pula, kami banyak menemukan tempat-tempat persinggahan yang akan menjadi tujuan kami di pusat kota. Ada Monas, yang kami memaksakan mengunjunginya dengan berjalan kaki. Dan ternyata…agak melelahkan. Berputar di jalan-jalan yang panjang, tanpa tahu jalan pintasnya. Tapi, sesampainya di depan pagar yang mengelilingi Monas dengan bangunannya yang menjulang tinggi, rasa lelah kami seakan-akan lepas tak terkira. Kami membaginya dengan tertawa, dan kalau bisa dan tak malu-malu berlari saja menerobos pagar itu. Oh ya, di seberangnya juga ada masjid Istiqlal. kalau ada waktu berkunjunglah kesana. :)

Salah satu tempat yang paling sering muncul di tivi-tivi juga sudah jadi “mangsa” kami. Usai berjalan-jalan di   Thamrin City, salah satu pusat grosir pakaian dan batik di Jakarta, kami menghabiskan waktu malam itu di seputaran Bundaran HI. Ada banyak orang disana, bersantai ataupun berfoto. Tentu saja, kami pun berlaku demikian.

Hmm…lagi, saya menyarankan, coba-cobalah berkunjung ke Pasar Senen, pasar yang tak pernah kalian temukan disini. Tempat mahasiswa berburu buku-buku murah, meskipun kualitas KW. Saya jamin, kalian akan tercengang dengan harga-harga buku yang ditawarkan disana. Jangan sungkan menawar harga. Semakin pandai menawar harga, semakin mantap buku yang kalian temukan. Hehe..

Ah, melihat kalian yang mewarisi "kepergian" kami kesana, saya nampaknya merindukan untuk melakukan perjalanan seperti itu lagi. Kalian menambah deretan awak-awak redaksi yang menginjakkan kaki di ibukota Indonesia itu. Generasi Jakarta, saya menyebutnya. Hehehe... Mencoba hal-hal baru. Merasakan tempat-tempat baru. Bagaimanapun, kita masih muda, dan masih ada banyak tempat-tempat yang masih belum kita ketahui “seru”nya.

Nah, saat kalian sudah berada disana, silahkan merasakan keseruan-keseruan lainnya. Coba meninggalkan kesan yang cukup mendalam tentang keberadaan kalian disana. Mencoba hal-hal baru. Mengunjungi tempat-tempat baru. Atau menemukan teman-teman baru. Selalu ada hal yang patut untuk dikenang. Oh ya, ingat pula tentang tujuan utama kalian ada disana, di kampus kuning Indonesia. Semoga segala hal yang kalian dapatkan disana meresap menjadi pengalaman tak terlupakan, seperti halnya kami.

Selalu ada jalan bagi yang ingin terus berusaha… Just believe it!

Jangan lupa bawa  ole-ole ya! Wajib!


--Imam Rahmanto--

Minggu, Pagi, Ini, Santai

April 28, 2013
Saya belum lagi menyelesaikan bacaan koran pagi ketika salah seorang senior saya datang di redaksi dengan pakaian olahraganya lengkap sambil menggandeng tas ranselnya.

“Mau kemana pagi-pagi begini, Kak?” tanya saya menyapa.

“Mau olahraga pagi, dong! Kita kan mau sehat,” jawabnya.

Saya lepas tertawa mendengarnya. Tidak biasa. Tidak biasanya salah seorang senior saya yang berbadan besar dan agak gemuk itu mau berolahraga sepagi ini di waktu luangnya di hari Minggu. Biasanya malah menghabiskan waktunya untuk mendengkur di rumah. Atau paling tidak sekadar main PS.

“Sebenarnya saya sudah agak telat. Semalam habis begadang nonton bola,” lanjutnya lagi sambil memilah-milah sepatu yang ada di depan redaksi. Ada banyak sepatu yang bertumpuk tak terurus disana. Hampir semuanya sepatu olahraga, termasuk sepatu olahraga miliknya. Saking lamanya tak pernah terpakai, mungkin sepatu-sepatu itu bakal menumbuhkan pohon-pohonnya sendiri. :)

“Sendiri aja, Kak?” Saya penasaran. Tidak biasanya seperti ini. Biasanya, cuma saya dan beberapa orang (lebih muda) yang lainnya yang seringkali menghabiskan waktu di Minggu pagi. Entah itu sekadar jalan-jalan pagi di Anjungan Pantai Losari ataupun menghadiri acara-acara tertentu disana.

Ternyata, lanjutnya lagi, salah seorang senior lainnya sudah menunggu disana. Mereka sudah janjian. Sudah nyaris sebulan lamanya, setahu saya, salah seorang senior yang lain itu menghabiskan Minggu paginya dengan berolahraga pagi sekadar berlari-lari mengitari Taman Macan (Makassar). Dinamakan Taman Macan, mungkin, karena ada patung Macannya disana. Saya pernah berjumpa dengannya ketika sedang bersantai dengan teman-teman di Anjungan Pantai Losari.

Tik..tok…tik…tok…

Saya berpikir sejenak. Baru saja saya ingin melanjutkan bacaan saya dengan novel yang sudah ada di samping saya, pilihan pagi ini telah datang. Saya berencana membacanya seusai membaca Koran pagi ini.

Mm…saya ikut ya, Kak?” pinta saya, yang langsung disetujuinya. Tanpa butuh waktu lama, saya segera menyimpan buku saya. Membawa masuk kembali gelas berisi air putih yang menemani saya pagi ini. Tiada Cappuccino, air putih pun jadi.

Lha, kau cuma pakai begitu?” ujarnya melihat pakaian saya saya yang tidak berganti sama sekali. Hanya jaket lusuh yang menjadi tambahan pakaian saya. What’s the matter? Saya hanya mengangguk dan berkata, “Saya kan cuma mau cuci mata sekaligus jalan-jalan saja disana.” Lagipula, saya tidak punya baju olahraga yang tersimpan di redaksi. Setiap minggu juga begitu, kok.

“Ya sudah. Ayo let’s go! Oh ya, ini, kau yang bawa. Karena penampilanmu bukan untuk berolahraga,” ujarnya lagi sambil menyerahkan tas ranselnya yang agak berat pada saya. Isinya, saya bisa menebak, kamera DLSR Canon yang selalu saja menjadi bawaannya. Olahraga pagi pun mesti narsis ya?? 

Kami pun beranjak dari redaksi, dan dengan mengendarai motor menuju tempat “pelarian” kami.

Yah, hari ini hari Minggu. Hari libur buat sebagian besar para pekerja di Indonesia. Saya pikir, diantara tujuh hari dalam seminggu itu, memang sudah sepantasnyalah kita menyisihkan waktu barang sehari untuk bersantai. Membebani pikiran dengan hal-hal berat seyogyanya diringankan dengan kegiatan-kegiatan santai.

Di taman yang kami kunjungi, Taman Macan, nampaknya sudah menjadi ritual mingguan bagi warga Makassar untuk berolahraga. Sebenarnya bukan hanya sekadar olahraga juga. Ada banyak kok kegiatan-kegiatan santai yang juga dilakukan orang-orang lainnya.

Ketika berjalan di selasar-selasar yang dinaungi oleh rerimbunan pohon, saya bisa menyaksikan langsung orang-orang yang bermandi keringat habis berlari mengelilingi taman. Anak-anak muda duduk-duduk bersantai sembari menghirup udara pagi. Bahkan anak-anak kecil juga diajak orang tuanya untuk berlari-lari di sepanjang selasar itu.

Dari penampilannya, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kalangan menengah ke atas. Mungkin, mereka memutuskan untuk bersantai di sela-sela kesibukan yang menjadi rutinitas mereka. Mungkin pula, hanya di tempat seperti itu mereka bisa lepas tertawa, menertawakan kehidupan dan kesibukan mereka masing-masing.

Seperti halnya demikian, saya senang menghabiskan waktu pagi. Apalagi di hari-hari libur seperti ini. Merasakan hawa dan suasananya seolah-olah memberi kita arti kehidupan baru. Memberikan kita semangat untuk kembali kuat di esok hari.

Apa salahnya menghabiskan waktu beberapa jam di waktu pagi seperti ini? Sekadar membuang semua pikiran-pikiran tentang rutinitas sehari-hari. Bercerita lepas. Apa saja. dan kepada siapa saja.

“Ini akan menjadi ritual saya setiap minggunya. Kalau hari ini bisa lari dua putaran, maka minggu depan bisa lari tiga putaran. Setidaknya ada peningkatan sedikit-sedikit lah,” ujarnya sambil tertawa, yang kemudian disambut tawa kami. Meskiun saya meragukannya, saya ikut senang menyaksikan orang lain bisa bersantai pagi di sela-sela kesibukannya.

Pagi hari, Minggu, saatnya bersantai. Diakhiri dengan bubur ayam, di bawah rerimbunan daun-daun pohon mahoni.

“Saya jadi punya ide, kenapa tidak kalian membuat acara Minggu ceria?” usulnya di tengah perjalanan pulang kami. Hmm.. ide yang cukup bagus...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 26 April 2013

Catatan Lewat Tulisan Tangan

April 26, 2013

“Hei, punya pulpen ndak? Pinjam,” pinta saya pada salah seorang teman di sebelah saya, sementara dosen yang mengajar mata kuliah kami sedang komat-kamit di depan.

“Punya, tapi cuma satu,” jawabnya singkat seraya memperlihatkan alat tulisnya itu pada saya.

Ah, kamu ini mahasiswa atau bukan? Mosok kuliah ndak bawa pulpen,” keluh saya. Padahal saya sendiri yang tidak bawa pulpen.

Lha, kau sendiri. kenapa ndak bawa??”

Tuh kan! Saya hanya bisa beralasan “banyak hal” sambil cengar-cengir kikuk pada teman saya.

Fakta: hal yang paling “langka” bagi saya adalah mempertahankan satu pulpen hingga tintanya benar-benar habis. Belum lagi tintanya habis, ada saja hal-hal yang membuat saya harus kehilangan alat tulis itu.

Terpikir, lama juga saya tidak pernah lagi menulis lewat tulisan tangan. Adapun selama ini saya memanfaatkan pulpen ataupun pena hanya untuk menandatangani hal-hal tertentu, semacam absensi dan sebatas mencatat catatan-catatan singkat wawancara. Menulis hal-hal tertentu dalam satu kalimat yang panjang, maupun satu paragraf utuh sudah sangat-amat-terlalu jarang. Ckckck…padahal, beberapa bulan yang lalu saya masih bersahabat dengan coretan-coretan tangan saya sendiri. Kini buku-buku “jurnal harian” saya pun tidak lagi terisi.

Sama halnya ketika saya mengikuti mata kuliah-mata kuliah di kelas saya. Jarang sekali saya mencatat setiap materi yang disampaikan oleh dosen. Bukan karena saya merasa sudah sangat pandai. Bukan sama sekali. Melainkan, entah kenapa, saya sudah tidak begitu tertarik lagi untuk sekadar menggerakkan tangan saya mencoret-coret beberapa paragraf di atas kertas.

Jika sudah begitu, saya hanya berusaha terpaku pada penjelasan dosen yang bersangkutan sambil sesekali melihat teman-teman lainnya yang sedang sibuk mencatat di bukunya masing-masing.

Menjadi seorang pewarta kampus (reporter) pun tidak lantas mengharuskan saya membawa pulpen kemana-mana. Jika tidak memungkinkan, saya cukup mempersiapkan alat perekam (handphone) dan menuliskan beritanya berdasarkan hasil rekaman itu. Katanya, lebih akurat.

Saya sebenarnya merindukan aktivitas tulisan tangan itu. Ada unsur-unsur “kejiwaan” tersendiri yang bisa dirasakan ketika kita menulis tradisional seperti itu. Melegakan hati. Perasaan jadi plong! Bahkan, menurut banyak ahli grafologi maupun psikologi, pada kenyataannya menulis lewat coretan tangan seperti itu bisa mengindentifikasi kondisi kejiwaan maupun perilaku seseorang. Maka tak perlu heran ketika kita mendapati tulisan orang yang satu berbeda dengan tulisan orang lainnya. Malah, tulisan kita sendiri pun, dari usia ke usia selalu saja berbeda. Tulisan mengikuti perkembangan kepribadian pemiliknya.

Flashback ke masa-masa silam, saya masih sering menggunakan pulpen untuk mencatatkan sesuatu. Saya sudah mengenal komputer, namun belum memilikinya. Zaman kuliah saya sekarang, saya terkadang meminjam catatan teman-teman kelas saya untuk mata kuliah tertentu Sementara di masa-masa sekolah, selama 9 tahun saya menjalaninya dengan tidak melewatkan satu catatan pun. Lengkap. Seandainya ada penghargaan bagi siswa dengan catatan terlengkap, mungkin saya yang bakal memperolehnya.

Bayangkan saja, untuk buku catatan, saya memiliki dua jenis. Pertama, buku catatan “sketsa”. Kedua, buku catatan seungguhnya. Untuk yang pertama, saya menggunakannya untuk mencatat penjelasan-penjelasan guru ketika mengajar di kelas. Karena guru tak pernah mengeja secara langsung ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya, maka saya mesti membuat catatan-catatan singkat sendiri di buku “sketsa” itu. Barulah ketika tiba di rumah, saya segera meramu catatan singkat itu beserta penjelasan dari buku-buku mata pelajaran. Wuih! Oh ya, masa-masa itu tulisan saya juga termasuk nominasi tulisan terindah.

Konsep “kejiwaan” dan “kepribadian” itu akan kita rasakan ketika kita telah banyak menulis. Bahkan, terkadang menulis ataupun mencoret-coret di kertas itu menyembuhkan.

Memiliki laptop semenjak setahun silam, membuat saya lebih banyak mengolah tulisan lewat tuts-tuts keyboard. Alasannya, praktis dan tidak membutuhkan banyak kertas ataupun biaya. Lagipula, tulisan-tulisan dalam bentuk coretan-coretan pena juga akan tetap saya konversikan ke versi digital untuk bisa dipublikasikan kepada orang lain.

Bagaimanapun, saya tetap merindukan pergerakan tangan saya ketika menulis melalui pena. Saya ingin menyaksikan sejelek atau sebagus apa tulisan saya ketika mulai menulis lagi. Saya ingin mencoba menerka-nerka kepribadian melalui tulisan tangan milik saya sendiri. Saya juga ingin menyembuhkan diri lewat tulisan-tulisan acak itu… Meskipun terkadang saya memuaskan diri pula melalui tulisan-tulisan yang diketik sendiri di laptop kesayangan saya.

Tulian tangan, dari zaman ke zaman semakin ditinggalkan. (google.com)

Karena hidup tak semudah "menulis" tulisan di alat-alat digital, seperti komputer. Ketika salah, kita bisa kembali ke masa lalu (undo) ataupun sekadar menghapusnya langsung tanpa meninggalkan jejak coretan sedikit pun, lantas melupakannya. Hidup tak semudah menekan Ctrl + Z... 


--Imam Rahmanto--

Selasa, 23 April 2013

Surprise!

April 23, 2013
Surprise!

Namanya rose cube, salah satu dari sekian banyak origami menarik yang bisa dibuat sendiri. Mudah. Seperti halnya saya menikmati sebuah keajaiban, origami yang awalnya berbentuk kotak itu secara “ajaib” bisa berubah menjadi bunga mawar yang unik. Intinya, ia mengusung konsep kejutan.

Saya mengusungnya dalam konsep microteaching kelas saya beberapa hari yang lalu. Sebuah penghargaan bagi kelompok yang mampu menjawab dengan benar dalam tipe pembelajaran yang saya terapkan di kelas. Sederhana, memang. Namun saya menyukai konsep “kejutan”nya yang berhasil menarik sedikit minat dari teman-teman saya (yang memerankan sebagai siswa). Menjadi “unik" itu menarik.

Kejutan. Saya menyukainya. Saya menikmati ketika bisa memberikan “kejutan-kejutan” unik bagi setiap orang di sekitar saya. Apalagi kalau sampai berhasil menarik perhatian banyak orang. Dan saya sudah membuktikannya.

Hal seperti itu bisa saja diterapkan oleh seorang guru. Salah satu kunci pula dalam menarik minat siswa belajar adalah dengan memberikan kejutan-kejutan itu. Tanpa minat belajar, sepandai apapun seorang guru, siswa tidak akan bisa memahami apa yang disampaikan oleh seorang guru. Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk selalu menjadi orang-orang kreatif. Nah, salah satunya ya dengan menciptakan surprise-surprise baru dalam setiap pengajarannya. Akh, meskipun saya sendiri tidak terlalu berminat menjadi seorang guru. Tanggung jawabnya itu…..cukup besar.

Dulu, di sekolah, saya dan teman-teman lebih antusias ketika mendapati guru-guru yang kreatif. Guru yang pandai, monoton, mengajar dengan metode yang kaku, bagi kami menjadi momok tersendiri. Kami malah lebih senang ketika bisa “bermain” sambil belajar di dalam kelas. Selalu penasaran dengan pelajaran-pelajaran berikutnya dari guru-guru yang kreatif itu. Selalu kepengen tahu dan tidak bosan dengan pelajarannya. Oh ya, tidak heran ketika di bidang mata kuliah saya, Matematika, ada pula mata kuliah yang mewajibkan mahasiswanya kreatif menciptakan alat-alat peraga. Bukankah hal demikian cukup menyenangkan? Bahkan untuk orang dewasa sendiri. 

Surprise!

Sama halnya ketika menjalani kehidupan, menciptakan “kejutan-kejutan” adalah hal yang cukup penting. Bahkan menantang! Menjalani sesuatu yang sudah sewajarnya adalah hal biasa. Untuk menjadi luar biasa, adalah dengan menciptakan kejutan-kejutan baru itu.

Saya sering bercanda dengan teman-teman saya yang selalu menanyakan perihal jurusan kuliah saya.

“Kalau kamu ujung-ujungnya mau jadi penulis atau semacamnya, kenapa dulu kamu tidak masuk di jurusan Bahasa dan Sastra?” tanya beberapa teman-teman saya.

Hm..saya hanya berusaha untuk menjadi orang-orang luar biasa,”

Loh, maksudnya?”

“Iya, adalah hal yang biasa ketika mereka yang mendalami kuliah bidang Bahasa dan Sastra menjadi seorang penulis atau sastrawan. Akan tetapi, ketika orang-orang yang tidak mendalami bidang Bahasa dan Sastra bisa menjadi seorang penulis, maka itu luar biasa. Nah, kesempatan untuk menjadi luar biasa tentunya ada pada saya ataupun kalian,” jawab saya sekenanya. Yah, meskipun hanya sekadar bercanda, saya cukup percaya dengan hal itu.

Jawaban itu juga seringkali saya lontarkan bagi orang-orang yang selalu bertanya, “Kalau tidak jadi guru, trus mau jadi apa?" karena melihat destinasi saya selepas kuliah.

Memberikan kejutan. Yah, untuk menjadi orang-orang yang luar biasa, maka kita bisa memulainya dengan kejutan-kejutan kecil di sekitar kita. Orang-orang sukses dan ternama di masa lalu banyak melakukannya. Einstein, yang dianggap bodoh oleh sekolahnya, “mengejutkan” banyak orang dengan temuan-temuannya di bidang sains. Raja Inggris George VI, yang gagap dan tidak bisa berpidato dengan baik, akhirnya mampu berpidato dengan baik dan mengejutkan bayak orang. Dan di Indonesia, yang bagi sebagian besar orang menganggap bahwa membuat pesawat terbang adalah mimpi semata. Kenyataannya, BJ. Habibie mampu “mengejutkan” bangsa Indonesia dengan kecakapannya meciptakan pesawat terbang.

Nah, kejutan-kejutan itulah yang selalu mendorong saya untuk berusaha di luar batas kemampuan saya. Hmm…meskipun terkadang hal itu pula yang membuat pikiran kita merasa tertekan. Mengerahkan seluruh tenaga di batas kemampuan akan membelajarkan saya dan pada akhirnya akan menciptakan kecakapan-kecakapan baru. Saya percaya, dengan usaha yang sungguh-sungguh, siapapun bisa memutarbalikkan label “tidak mungkin” yang melekat pada dirinya.

Jika orang berkata “tidak mungkin” terhadap sesuatu yang bakal kita lakukan, maka berikanlah sedikit "kejutan" untuknya bahwa kita BISA. Surprise!


--Imam Rahmanto--

Ps: Saatnya kembali bertanggung jawab...

Kamis, 18 April 2013

Keajaiban Kecil dan Waktu (2)

April 18, 2013
Jam 13.25
“Akh, gara-gara sms tadi, saya malah ketiduran,” gerutu saya dalam hati ketika tiba-tiba terbangun sejam kemudian. Awalnya saya hanya ingin merebahkan diri, sekadar meregangkan otot-otot bahu. Bersantai sejenak, karena ternyata saya memiliki tambahan waktu.

“Kak, kuliah jam 1 dibatalkan, diganti besok,” begitu isi sms yang mengisyaratkan tambahan waktu bagi saya untuk mempersiapkan segala keperluan Microteaching. Padahal, baru sebatas RPP saja yang telah selesai saya selesaikan. Yang lainnya? Masih dalam tahap pemikiran. Luar biasa!

Nah, seperti ini yang dinamakan berkejar-kejaran dengan waktu. Apalagi tidur tadi mengurangi jatah waktu saya. Huh. Dalam waktu singkat, saya harus memikirkan segala hal yang saya butuhkan. Bahkan sambil tetap bergerak, saya harus berpikir tentang skenario presentasi saya. Super!

Jam 13.45-an
Toko Agung di Makassar yang berjarak sekira 15 menit perjalanan tetap ramai seperti biasanya. Bergegas tanpa basa-basi saya harus mencari barang yang saya butuhkan. Saya memperoleh sedikit inspirasi dadakan untuk membuat “hadiah” bagi salah satu kelompok dalam metode pembelajaran saya.

Sebenarnya, saya telah lama memikirkan (bahkan dalam shalat sekalipun), “penghargaan” seperti apa yang harus saya berikan dalam fase pengajaran  yang akan saya tampilkan. Saya tidak ingin hal-hal biasa yang telah banyak dilakukan oleh teman-teman saya. Ada yang menghadiahkan makanan. Ada pula yang menghadiahkan semacam atribut penilaian (bintang atau semacam penanda poin).

Lama saya memutar otak.

“Iya ya?” otak saya tiba-tiba menunjukkan fungsinya ketika memandangi pergelangan tangan saya yang dililit oleh gelang. Cling!!

Jam 14.10-an
Ide itu ingin saya terapkan sesegera mungkin. Saya tidak sabar ingin menunjukkan surprise kepada teman-teman kelas saya. Tapi…..waktu saya hampir habis… Bagaimana tidak, dua jam lagi saya harus presentasi namun segala kesiapan saya masih nihil. Argh! Mau tidak mau saya pun harus meminta sedikit bantuan.

“Tolong ya, sebelum jam 4 harus selesai. Nih video tutorialnya. Gampang kok,” pinta saya. Beruntung, salah seorang teman redaksi saya bersedia untuk dimintai tolong, sementara saya harus menyelesaikan kesiapan lainnya. Saya memintanya untuk merealisasikan ide yang mendadak mencuat di tengah jalur kepepet saya itu.

“Hei, punya flashdisk ndak?” Teman saya menggeleng. Aduh!

Saya sendiri masih harus membuat slide power point materi saya sekaligus lembar kerja/ soal untuk diaplikasikan. Maka “back to warnet” kembali menjadi solusi saya. Googlelogi adalah satu-satunya ilmu yang mempelajari segala jenis ilmu lain di dunia ini. Ckckck

Jam 14.25
“Tapi, tidak boleh lebih dari 30 menit!” cam saya dalam hati berusaha mensugesti diri sendiri. “tidak boleh buka facebook, blogger, email, twitter, soundcloud, dan jejaring lainnya!” lanjut saya berulang-ulang. Tahu tidak, jarak redaksi dan warnet menghabiskan waktu sekira lebih dari 5 menit. Mau bagaimana lagi, jika diakumulasikan, nyaris sejam waktu saya terbuang hanya untuk kesana-kemari.

Nyatanya, tetap melebihi waktu yang ditentukan. Tapi, untuk kali ini (dan baru kali ini) saya sukses connect tanpa menyentuh-nyentuh segala jejaring sosial mereka apapun. Pokoknya, pikiran saya memang sudah terfokus untuk menyelesaikan “tantangan pribadi” itu. Lagi-lagi, saya harus memproklamirkan, saya tidak ingin lagi mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu. Saya hanya mencoba untuk menjadi lebih baik.

Jam 15.15-an
Mengecek segala kesiapan saya, salah satunya hasil kerja “bantu” teman saya. Akan tetapi, segalanya tak selalu sesuai dengan rencana. Akh, teman saya sedikit keliru tentang membuat “benda” itu.

“Aduh, ini kok salah? Bukannya seperti ini. Untuk yang ini, lipatannya kayaknya berbeda dengan bagian yang satunya,” gerutu saya. Maunya sih marah, tapi bukan hak saya juga sebenarnya untuk marah. Saya yang meminta bantuannya, masa juga saya harus marah-marah padanya? Lagipula, wajar ketika dia tidak tahu cara membuatnya. Ini pertama kalinya loh. Ya ampun…

“Oh, saya kira sama caranya, Kak,” jawabnya seraya tersenyum kikuk.

Saya menghela napas.

Jam 15.40-an
Daridapa mengomel, saya memilih untuk membantunya sekaligus sedikit mengajarkan dan menunjukkan letak kesalahan pembuatannya. Padahal dalam benak saya, “Waktu saya semakin menipis dan habis,”

Dalam keterbatasan waktu itulah kemudian mencuatkan putus asa. Apakah bisa saya menyelesaikan semuanya. Saya butuh waktu sedikit lebih banyak lagi untuk menyelesaikan slide powerpoint milik saya. Saya butuh waktu sedikit lebih banyak lagi untuk menyusun lembar soal maupun lembar kerja yang akan saya bagikan. Saya butuh waktu sedikit lebih lama untuk belajar menskenriokan semuanya di kepala saya. Meskipun, sejatinya saya tidak begitu berniat untuk menjadi seorang guru, namun penampilan saya harus lebih baik dari teman-teman lain. Apapun itu, menyelesaikan sesuatu dengan sebaik-baiknya adalah sebaik-baiknya proses belajar.

Menjelang batas itu…beberapa menit lagi…
“Sudahlah, saya kayaknya tidak bisa melanjutkannya untuk hari ini,” Saya berkata lirih seakan-akan berbicara pada diri sendiri. Teman saya, yang sedang sibuk-sibuknya memperbaiki “bantuan”nya, tetap menyelesaikan pekerjaannya. Saya tahu, ia berusaha memenuhi janjinya pada saya. Namun, saya khawatir  tidak bisa melanjutkannya hari ini. Kepepet waktu. Saya juga mungkin mengecewakannya atas bantuannya pada saya.

“Biarlah. Untuk kali ini saya menyerah saja. Waktu saya terbatas. Tidak mungkin lagi menyelesaikannya tepat waktu,” sesal saya.

Saya menghentikan segala keburu-buruan hari ini, dan membatalkannya. Sebuah pesan singkat saya kirimkan ke salah seorang teman sekelas saya, yang menginformasikan tentang “ketidaksiapan” saya. Jikalaupun dosen yang bersangkutan mencari, saya sudah pasrah untuk absen. Padahal pertemuan sebelumnya saya juga mangkir dari presentasi itu. Toh, segala kemampuan dan usaha telah saya kerahkan. Hasilnya? Tinggal menunggu waktu saja…

Setelah “waktu” beberapa menit berlalu…
Akan tetapi, keajaiban kecil itu selalu ada. Dimanapun kita berada. Usaha dan kemauan keras selalu merefleksikan dan menghasilkan keajaiban itu. Percayalah. Saya membuktikannya, dan selalu membuktikannya. Dunia selalu bekerja di luar nalar kita.

Sebuah pesan singkat masuk di handphone saya. Tulisan yang setiap hurufnya di-capslock.

Ndak masuk ji juga, Kak,”

Hah? Yang benar saja? Nyaris saja saya melonjak kegirangan, ketika pikiran saya memutuskan untuk tetap tenang. Untuk memastikannya, saya menghubungi langsung teman saya. Dan nyatanya, apa yang disampaikannya benar-benar membuat saya melompat-lompat di antara teman-teman saya disini. It’s a miracle for me!

Tambahan waktu
Semacam rezeki yang selalu tak diduga-duga kedatangannya, keajaiban juga seperti itu. Keduanya bukanlah hal kebetulan, melainkan benar-benar dihasilkan dari kerja keras. Ada yang bilang, keajaiban adalah hasil dari kerja keras. Itu benar.

Saya merasakannya hari ini. Usaha saya atas sesuatu nyatanya membuahkan hasil. Padahal, dalam keputusasaan itu, saya sempat berpikir,

“Sudahlah, apapun hasilnya, meskipun saya membatalkannya. Toh, saya sudah berusaha. Yang dibutuhkan adalah prosesnya. Saya telah banyak belajar dari proses “hidup” yang saya lalui hari ini,” Saya berusaha menghibur diri.

Saya belajar, betapa pentingnya “waktu”. Saya baru menyadarinya ketika kita kehilangannya. Selalu begitu.

Saya belajar, usaha keras itu tidaklah selalu sia-sia. Tuhan selalu menyiapkan segala hal yang lebih baik bagi kita yang telah bekerja keras. Berusaha yang “bukan sekadar mau”. Berusaha yang benar-benar mengerahkan segala batas kemampuan dan nalar kita, hingga akhirnya yang akan memicu keajaiban kecil itu muncul. Just believe it!

Waktu yang kita miliki pun sebenarnya sudah banyak dan cukup. Hanya, kita saja yang terbiasa membuang-buangnya untuk hal-hal yang percuma, dan cenderung menyalahkan orang (hal) lain atau bahkan diri sendiri. Tak heran potongan waktu 24 jam itu semakin sempit buat kita.

Bukan sebuah kebetulan belaka ketika Tuhan berusaha membukakan jalan bagi saya untuk tujuan akhir itu. Dua mata kuliah yang dihilangkan tak pelak memberikan tambahan waktu bagi saya. Tanpa saya duga. Mungkin saja, Tuhan menguji, apakah dengan tambahan waktu itu, saya benar-benar akan memanfaatkannya. Jika tidak, mungkin juga hasil akhirnya akan berbeda seperti tadi. I dunno. Selalu ada jalan untuk usaha keras kita.

Keajaiban kecil, bagi saya, cukup berarti banyak. Hal-hal biasa yang menjadikan saya selalu mengusahakan keajaiban-keajaiban lainnya sembari menanti keajaiban yang lebih besar lagi. Sedikit demi sedikit, mengumpulkannya untuk menjadi besar. Perlahan, belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mencoba sedikit bersyukur atas kemudahan yang telah dibukakan Tuhan bakal membuat kita semakin banyak ketiban rezeki kan? Nah, lantas, mengapa tidak saya menganggapnya sebagai suatu keajaiban kecil dari Tuhan untuk hari ini?

(google.com)


--Imam Rahmanto--

Rabu, 17 April 2013

Keajaiban Kecil dan Waktu

April 17, 2013
(google.com)
Dunia selalu bekerja di luar nalar kita…

Percaya atau tidak, hari ini saya banyak mengalami kejadian-kejadian, yang kata kebanyakan orang adalah “kebetulan” semata. Akan tetapi, bagi saya, hari ini benar-benar banyak keajaiban-keajaiban kecil yang menimpa kehidupan saya.

Percaya atau tidak, Tuhan selalu menilai seberapa keras usaha dan kemauan makhluk-Nya sebelum menurunkan keajaiban-keajaiban-Nya. Karena, keajaiban itu diciptakan dari seberapa tangguh usaha dan kemauan kita.

Waktu. Baru-baru saja saya membaca sebuah novel tentang “waktu” (hasil minjem dari teman saya juga sih), Dan hari ini saya benar-benar berhadapan dengan “waktu” itu sendiri. Semuanya serba terbatas. Serba mepet. Berkejar-kejaran waktu. Ketika sudah dikejar waktu seperti itu, maka satu hal yang akan selalu kita pinta, “Seandainya saya punya waktu lebih banyak,”

*****

Waktu. Mari kita paparkan waktu saya untuk hari ini.

  • Jam 09.00 – mata kuliah Metodologi Penelitian II, salah satu mata kuliah ulangan saya. Saya terjadwalkan untuk presentasi.
  • Jam 13.00 – mata kuliah Program Linier, salah satu mata kuliah ulang saya juga.
  • Jam 16.00 – mata kuliah Microteaching, sama, mata kuliah yang harus saya ulang juga. Saya terjadwalkan pula untuk presentasi hari ini, setelah hari sabtu sebelumnya mangkir dari jadwal.

Semalam, saya juga baru saja mengikuti rapat kepanitiaan kegiatan yang akan digelar organisasi saya bulan depan. Maklum, organisasi saya tergolong “kerja berat”. Selain harus mengisi pemberitaan setiap harinya, ada beberapa program kerja yang mestinya dipenuhi oleh kami.

Nyaris saja, hanya untuk menyelesaikan tugas kesiapan presentasi Microteaching, saya tidak ingin mengikuti rapat itu. Lihat saja, ada RPP, LKS, LKK, bahan ajar (slide), skenario ajar, sekaligus bahan yang mesti disinergikan untuk presentasi “akbar” itu. Akan tetapi, mencoba berkompromi dengan waktu, saya ngotot hadir dalam rapat yang digelar hingga jam 01.30 dini hari itu.

“Setidaknya, habis rapat nanti saya bisa begadang sampai pagi untuk mengerjakan presentasi itu,” pikir saya sedikit berkompromi dengan diri sendiri. Nyatanya, seusai rapat, saya terlelap hingga pagi hari.

Jam 07.00
“Argh, sudah jam 7!” Saya berseru saat menengok jam dinding yang berdetak begitu santainya. Baru saja saya terbangun, dan belum sadar sepenuhnya, saya bergegas bangkit. Saya begitu menikmati pagi dan selalu tak ingin ketinggalan suasananya yang selalu pula mendamaikan hati dan pikiran. Lagipula, pagi ini tepat di pukul 09.15 saya harus mengikuti kuliah. Lebih beruntung lagi, saya mendapat giliran presentasi untuk yang pertama kalinya. Ini nih ulah diri sendiri yang mengajukan diri di pertemuan sebelumnya.

“Kalau begitu, siapa yang bersedia untuk presentasi minggu depan? Mungkin 3-4 orang lah. Setidaknya sebagai contoh saja mengenai konsep yang kita akan kemukakan,” ujar dosen saya.

Merasa tidak ada yang perlu ditakutkan, saya mengajukan diri secara bebas. Toh, saya punya prinsip; Jika tak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang berani. Karena saya merasa bukan orang pandai, maka saya hanya mencoba untuk sedikit lebih berani. Lagipula, saya yang mengulang mata kuliah ini, tidak boleh lagi mengulang kesalahan-kesalahan saya yang telah lalu. Cukup.

Saya mencoba untuk berkompromi lagi dengan waktu. Saya yang selalu tak ingin ketinggalan suasana pagi, menikmatinya dengan menyeruput segelas Cappuccino hangat. Tahu tidak, jika para perokok kecanduan dengan rokoknya, saya malah jatuh cinta pada minuman satu ini. Maka berlaku peribahasa, tiada hari tanpa segelas cappuccino, untuk pagi saya.

Jam 07.30
Saya bergegas kembali ke kost saya. Memacu kendaraan sedikit lebih pelan. Sudah saya katakan, saya suka pagi, dan tak ingin ketinggalan suasananya yang begitu mendamaikan.

Sebelum benar-benar kembali ke kost, saya memutuskan untuk browsing di warnet yang tidak jauh dari kost saya. Memang, warnet itu setiap hari menjadi salah satu tongkrongan saya. Bahkan, jangan-jangan operatornya sendiri sudah tidak bisa melupakan wajah saya. Dikarenakan buka 24 jam, maka waktu pagi hari menjadi waktu lowong bagi saya untuk bisa memanfaatkan warnet tersebut sepuasnya. Saya juga suka disana karena jaringannya yang wusshhh!! Secepat kilat.

Dikarenakan hari ini adalah hari penting saya; presentasi Microteaching, maka saya tidak boleh melarikan diri lagi. Hehe…Sabtu lalu, saya sudah mangkir dari jadwal presentasi saya. Itu bodoh. Dan nyatanya, saya kali ini tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Bahkan, saya pun sebenarnya telah berencana untuk mangkir saja dari kuliah Metodologi Penelitian II pagi ini, demi mengerjakan full time kesiapan presentasi Microteaching saya. Tapi…..hei, saya juga kan harus presentasi di mata kuliah Metodologi Penelitian II itu! Tak mungkin lagi saya “melarikan diri” darinya. Sudah saya bilang, saya tak ingin mengulang kesalahan-kesalahan lampau saya. Hah, sehari ini menjadi hari saya untuk presentasi. The long presentation day!!!

Saya menyetel waktu billing warnet selama sejam.

Jam 08.40-an
Lewat beberapa menit dari sejam waktu yang saya niatkan di warnet. Parahnya, facebook, twitter, blogger, email, membayang-bayangi saya selama “menjelajah” itu. Alhasil, saya tak menemukan materi referensi yang saya butuhkan. Alamak! Saya pulang ke kamar dengan tangan kosong.

Jam 09.15
Saya bergegas ke kampus. Sst…karena sudah buru-buru, saya hanya menyempatkan diri untuk mencuci muka saja. Saya tak boleh telat. Apalagi, setelah pertemuan sebelumnya berhasil tiba di awal waktu dan sempat menjadikan keunggulan saya itu bahan olok-olokan buat teman-teman yang lain.

Ehem, kita masuk jam 09.15 loh. Ingat, jam 09.15…,” ujar saya mengejek kepada setiap teman-teman yang telat menghadiri mata kuliah Metodologi Penelitian II dua minggu lalu, sembari menunjuk-nunjuk pergelangan tangan saya. Seolah-olah saya adalah yang tercepat diantara yang lainnya. Mereka menanggapinya hanya dengan tertawa sambil berujar, “Padahal, biasanya yang telat kan kau,” Haha

Saya tiba di kampus ketika semua teman-teman kelas saya masih santai duduk-duduk di pelataran maupun gazebo. “Mungkin memang belum masuk,” pikir saya.

Saya sempat beberapa menit lamanya bercengkerama dengan salah seorang senior saya ketika teman lainnya tiba-tiba menyampaikan kabar gembira itu.

Jam 09.40-an.
“Dosen tidak masuk, karena beliau sedang di Jakarta,”

Akh, ini kedua kalinya saya batal presentasi di mata kuliah ini, setelah seminggu sebelumnya juga beliau tidak hadir. Kabar baiknya, saya punya waktu lebih banyak untuk mengerjakan tugas Microteaching.

Hanya saja, lepas dari pikiran lain, mendadak, saya mendapatkan kabar bahwa hari ini salah seorang teman baik saya bersiap untuk menghelat seminar proposalnya. Pikiran saya terombang-ambing. Hati saya berada diantara: menghadiri seminar proposalnya atau mengerjakan tugas Microteaching yang 7 jam lagi mencapai batas deadlinenya.

Bagaimana ini? Saya lama berpikir. Jujur, saya sangat ingin menyaksikan bagaimana salah seorang teman baik saya menjalani salah satu hari terbaiknya. Apalagi, beberapa saat menjelang seminarnya itu, ia sempat bertemu dengan saya. Akh, semakin menyakitkan ketika kita tahu teman kita tidak berada dalam lingkaran kebahagiaan kita. Maafkan saya, kawan.... hanya untuk kali ini. :(

Menyebutkan pengorbanan “tidak menghadiri seminar proposal teman baik saya” itu, maka saya bertekad untuk menyelesaikan tugas tersebut.

“Tenang saja, pengorbanan itu tidak akan sia-sia,” begitu tekad saya membara.

Jam 10.25
Saya kembali ke redaksi, yang jaraknya lebih dekat dari kampus saya. Memfokuskan pikiran pada tugas yang akan saya buat. Mendalaminya. Mengecek video-video tentang pengajaran yang akan saya terapkan. Saya membuka segala sumber daya yang saya miliki. Mengutak-atik tulisan-tulisan RPP saya. Saya menyendiri sejenak dari keramaian redaksi menjelang tengah hari.

Jam 12.10-an
Ketika adzan Dhuhur berkumandang, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidur-tiduran mungkin bisa sedikit meregangkan otot-otot badan saya. Dengan tetap memeluk laptop kesayangan, sambil terus berpikir inovasi-inovasi yang akan saya buat untuk penampilan Microteaching. Terlelap. Ada apa ini?


bersambung.


--Imam Rahmanto--

Ps: Catatan ini pun dibuat dengan memanfaatkan sela-sela waktu saya menjelang perjalanan untuk pekerjaan "tambahan" saya. :) Selalu ada waktu, kok.

Selasa, 16 April 2013

Aku, Segelas Cappuccino (Season 3 - part 1)

April 16, 2013
Cappuccino. (google.com)
“Pagi, cappuccino!” kau menyapaku pagi ini. Yah, baru kali ini aku mendapati sapaanmu seakrab ini. Sedekat ini. Sehangat ini. Bahkan lebih hangat dari rambatan panasku yang menjalari seluruh isi gelasku.

“Pagi!” 

Seandainya aku bisa tersenyum, maka telah kulayangkan senyum itu untukmu. Lama juga aku merindukan saat-saat seperti ini. Ketika engkau, Bintang, duduk sendirian menikmati pagi. Menikmati sisa hujan semalam yang masih belum lepas dari daun-daun di atas pohon. Sisa-sisa rembesan air di jalan-jalan depan rumahmu juga mengisyaratkan hal itu.

“Kali ini aku tak ingin terlalu cepat menyeruputmu. Kau tahu, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Aku bosan bercerita pada orang-orang di sekelilingku. Tak ada satupun diantara mereka yang bernasib sama denganku. Mungkin, malah diantara mereka ada yang seharusnya tidak menjadi tempat kutimpali cerita-ceritaku,” lanjutmu lagi.

“Aku sudah lama menantikanmu bercerita. Aku juga sudah bosan mengaduk-aduk sendiri kedalaman hatimu. Terkadang, ketika kita berbicara berdua, maka ada chemistry yang terbangun diantara kita,” ujarku.

“Ah, tidak, tidak. Tidak akan ada chemistry yang terbangun diantara kita. Hubungan kita, adalah hubungan yang tidak bisa dijelaskan secara Kimia, Fisika, Biologi, maupun ilmu eksak lainnya. Entah itu dengan kejiwaan,”

“Apa kau bisa mendengarku, Cappie?” Kau bertanya lirih, seakan-akan aku tak mendengarmu. Ayolah, sedari tadi aku disini mendengarkanmu, Memperhatikanmu.

“Aku mendengarkanmu 100 %,”

“Baiklah. Aku anggap kau mendengarkanku. Kau adalah pendengar yang baik untukku,”

“Lalu, kau mau bercerita apa? Tentang hati? Ah ya, selalu seperti itu. Beberapa minggu belakangan hal itu yang sedang bersempit-sempitan di pikiranmu. Tidak seru pula rasanya jika kau sekadar “curhat” padaku bukan pada satu masalah yang tak pernah kumengerti itu,” Aku mencoba menerka-nerka arah pembicaraan kita. Lagipula, di duniaku di sana, Air yang bijak selalu saja agak kesulitan menjelaskan pada kami bagaimana hakikat kasih sayang sejatinya. Tema sentral “cinta”, selalu menjadi hal menarik untuk kami perbincangkan.

Dan benar, aku tidak perlu lagi terlalu jauh menebak sesuatu yang akan keluar dari mulutmu. Ketika kau mengecupku, dan perlahan mengalirkan beberapa aromaku, kau menghela napas, lantas bercerita.


to be continued__
--Imam Rahmanto--

Buku

April 16, 2013
(screenshot)
Lama juga saya tak pernah membaca buku. Beragam aktivitas yang mendera waktu 24 jam saya tak memberikan waktu luang hanya untuk sekadar membaca. Ditambah lagi, saya sudah tak lagi mengoleksi buku di setiap bulannya. Padahal hampir setahun lalu saya rutin menyisihkan uang saku maupun penghasilan bebas saya untuk membeli buku tiap bulannya. :( Kini, hanya untuk membaca sebuah buku saja saya harus meminjamnya dari teman-teman saya.

Nampaknya saya harus kembali membangun kebiasaan “baca” itu.

Baru-baru ini saya menonton sebuah film pendek, hasil browsing dari Youtube, yang menceritakan tentang sebuah “buku”. Menyaksikannya, membuat saya banyak berpikir tentang “buku”. Yah, “buku”.

Sekian lama saya meninggalkan kebiasaan membaca buku. Nyaris dua bulan. Saya telah lama meninggalkan kebiasaan “bermain” di perpustakaan. Di kota ini, ada dua perpustakaan yang sering menjadi tempat “bermain” saya di kala senggang. Setiap merasa bosan, saya setidaknya menghabiskan waktu disana. Bahkan, di salah satu perpustakaan di ujung kota, saya sampai dikenali oleh penjaga perpustakaannya.

Menyaksikan film pendek itu, menyadarkan saya untuk kembali sekadar menengok buku-buku bacaan saya. Membangun kembali memori di otak saya untuk menghargai buku apapun dan milik siapapun.



Semoga dari film di atas, kita lebih menghargai bagaimana pentingnya sebuah buku, sebagai jendela dunia. :)

“Aku sang jendela dunia, yang begitu berharga ketika ku diciptakan. Dibuat dengan penuh pemikiran dan kehati-hatian. Mereka yang telah menggenggamku, yang telah mengambil ilmu pengetahuan dan hal-hal teoritis yang dalam diriku, dan lalu membuatku menjadi seperti benda yang tidak lagi berharga.

Itulah mereka, dan inilah aku.

Aku disini, di bawah sini. Menunggu. Untuk berguna lagi. Untuk dibaca lagi, layaknya sebuah buku.”


--Imam Rahmanto--

Kamis, 11 April 2013

Peraturan Sederhana

April 11, 2013

Jika kita ingin memahami, sebentar saja, segala hal yang berlaku dalam hidup ini, semuanya berjalan secara sederhana. Cara kita berteman, cukup sederhana. Bagaimana kita menjalani hidup, sederhana saja. Bahagia pun sederhana. Tersenyum pun amat sederhana. Ada banyak hal yang berlaku dalam hidup ini secara sederhana. Tidak perlu berpikir yang rumit-rumit.

Nah, saya menemukan Three Simple Rules in Life ini, mungkin juga bukan sebuah kebetulan. Tuhan selalu mengajarkan hidup dengan cara-cara sederhana yang tidak diketahui oleh manusia.

*If you do not go after what you want, you’ll never have it. 
“Jika kamu tidak pernah mengejar apa yang kamu inginkan, kau tak akan pernah mendapatkannya.”

Hm… cukup absolute juga untuk mengejar impian kita. Harus mengejar. Jika kita diam saja terhadap sesuatu yang kita inginkan, maka hal itu tidak akan datang dengan sendirinya. Sama halnya ketika kita disodori uang oleh seseorang. Cara terbaik untuk mendapatkan uang itu adalah dengan meraih uang itu dari tangannya. Kita yang butuh, maka kita pula yang harus mengejarnya; begitu peraturanya!

#ehem…. Hal itu bisa berlaku pula bagi orang-orang yang sedang kasmaran. Ya! Kalau kita tidak mengejarnya, maka kita tak akan pernah mendapatkannya! Sesulit apapun, serumit apapun, sebenarnya hal paling sederhana adalah terus mengejarnya. Jangan biarkan diri menjadi orang-orang yang kalah sebelum berkompetisi.

*If do not ask, the answer will always be NO
“Jika kamu tidak meminta, maka jawabannya tentu saja selalu tidak,”

Saya sering mengalaminya. Karena terlalu takut terhadap sesuatu, maka saya tidak pernah mampu untuk meminta, bahkan sekadar meminta tolong. Rasa sungkan, rasa segan terkadang menjadi penghalang untuk meminta. Apalagi dengan orang yang lebih tua atau orang-orang baru dalam hidup kita.

Akan tetapi, beberapa masalah yang kemudian mendorong saya untuk berani meminta. Saya tergelitik dengan salah satu “peraturan” sederhana itu. Tak pernah meminta, tentu saja jawabannya selalu TIDAK!. Oleh karena itu, saya mulai memberanikan diri untuk meminta. Meminta pertolongan. Meminta sesuatu yang menjadi hak kita. Meminta orang lain untuk menjadi teman kita. Meminta kesulitan untuk tidak selalu terlihat sulit. Bahkan sampai meminta orang lain untuk menjadi pendamping hidup kita. #uhuk….! :D

*If you do not step forward, you always be in the same place
Jika kamu tidak melangkah maju, kau akan selalu berada di tempat yang sama.

Rasa malas jangan dipelihara. Terkadang bad mood, malas, bisa menjerumuskan kita untuk tidak mengerjakan apa-apa. Diam pada tempat “itu-itu saja”. Terlena dengan perasaan santai yang sangat lama menggerogoti. Padahal, jika ingin meraih dan mencapai sesuatu, sudah seyogyanya kita melangkah maju. Terus bergerak. Bumi saja selalu bergerak (berputar), kok. ^_^.

Saya sangat tergelitik dengan salah satu kalimat inspiratif Marthin Luther King Jr, “If you can’t fly, then run. If tou can’t run then walk. If you can’t walk then crawl. Whatever you do, you have to keeping moving forward,” Apapun yang terjadi, kita harus tetap bergerak maju.

Nah, "peraturan-peraturan" itu cukup sederhana, seharusnya se-sederhana cara kita menghadapi hidup ini. Saya yakin, ketika kita mampu menerapkannya dalam kehidupan, dengan terus belajar menjadi lebih baik, maka kebahagiaan kita juga bisa berjalan dengan cara yang sederhana. Sama halnya, bahagia itu sesederhana ketika saya bisa menyeruput segelas cappuccino. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 10 April 2013

Pengalaman Menjadikan Dewasa

April 10, 2013
Degg!!

Saya terkejut ketika lagi-lagi mendapatkan komplain atas berita yang diluncurkan oleh redaksi kami. Apalagi berita itu terkait dengan salah satu divisi yang seharusnya menjadi bagian “aman-aman” saja. Ini yang kedua kalinya, namun dengan pihak dan permasalahan yang sama. Wow!

Sejujurnya, saya agak resah mendapati komplain atau protes semacam itu. Bagaimana tidak, hal itu akan sedikit berimbas pada siapapun yang berhubungan dengan berita itu. Apakah reporter, editor, bahkan seorang pimpinan sekalipun.

Akan tetapi, sebagai seorang yang sedikit lebih “di atas”, maka mau tidak mau sudah saatnya saya harus melangkah. Berani melawan rasa takut. Ketika saya masih belum memiliki satu orang pun “di bawah”, saya bisa dengan leluasanya selalu menghindar atas berita-berita saya. Kini, saya harus menjadi orang yang bertanggung jawab atas berita-berita yang meskipun bukan milik saya. Saya merindukan menjadi orang yang selalu dilindungi. Bagaimanapun halnya, segala kesalahan orang “di bawah” menjadi kesalahan orang “di atas”. Katanya sih menjadi atasan harus mengayomi seperti itu.

Ah, itulah sedikit menjadi dewasa (versi saya). Ketika kita berani melawan rasa takut. Semakin kita dewasa, maka semakin banyak pula orang yang harus kita lindungi. Dalam keluarga, kita menjadi pelindung adik kita. Dalam organisasi, kita menjadi pelindung bagi “bawahan”. Dalam kehidupan, kita menjadi pelindung bagi orang yang lebih muda dari kita. Dalam kehidupan pula, mungkin, kita akan menjadi pelindung bagi orang yang kita sayangi. Bahkan, bisa jadi hingga merambah dalam keluarga baru nantinya. Tidak mungkin kan kita selalu mau menjadi orang yang dilindungi? ^_^.

Semakin kita menginjak kedewasaan itu, maka ada banyak hal yang harus kita lindungi. Kita tentunya bukan lagi anak kecil yang bisa seenaknya berbuat sesuatu dan mendapatkan perlindungan dari orang tua. Bukankah semakin tahun, maka semakin tua pula kita, semakin mendekati menjadi orang tua pula. 

Yah, bagaimanapun, pengalaman selalu menjadi guru yang terbaik bagi kita. Dewasa atau tidak, tergantung dari cara kita menghadapinya, menyelesaikannya. Permasalahan itu selalu membuat kita naik level ke tingkat yang lebih tinggi. 

Terima kasih bagi kalian yang telah berani menyelesaikan permasalahannya, seberat apapun itu mendera hati, bahkan jika harus terbawa mimpi. Hehe... Jangan pernah berhenti belajar dan mencicipi pengalaman hidup. Terkadang, ketika kita tua nanti, kita butuh sesuatu yang “tak terlupakan” untuk diceritakan kepada anak cucu kita. Believe it! Terima kasih pula sudah menjadi orang yang bertanggung jawab dan pantang menyerah di saat-saat keadaan memaksa untuk berputar arah.

Karena selalu ada kesempatan untuk benar di setiap kesalahan yang kita lakukan…


--Imam Rahmanto--


Minggu, 07 April 2013

Pikiran dan Perasaan pun Butuh di-refresh

April 07, 2013
“Bomnya di sana! Hei…..kiri! Maju…. Teruss!! Aduh!! Kena tembak!!”

Teriakan bersahutan bergantian memenuhi ruangan di redaksi saya. Serasa sedang berada di warnet, yang biasanya saya juga nyaris menemukan tingkah polah yang serupa, meskipun isinya berbeda, “Chipmu bagi dong!! Di meja mana kamu? Masuk ke meja “A”, bla-bla-bla!”

Meskipun agak ribut dan bising dengan suara-suara tembakan dari laptop masing-masing, namun saya senang mendengarnya. Saya merindukan tertawa lepas seperti itu di tempat ini. Sejenak, melupakan pekerjaan dan meringankan kepala dengan sedikit “bermain”.

“Hei! Jangan tembak! …. Awas! Bomnya meledak!! Astaga!! Tuh, kan!”

Seperti halnya senam, bahkan menjalani kehidupan sehari-hari pun butuh sedikit “pendinginan”.

Refresh out! Kenyataannya adalah hal penting sekadar melegakan pikiran setelah nyaris seminggu berpikir tentang hal-hal yang urgent; kuliah, organisasi, pekerjaan, pertemanan, keluarga, atau bahkan kepikiran cara memikat hati seorang wanita. Serius. Kita manusia, bukan robot yang tak dipengaruhi oleh perasaan. Bukan pula hewan yang hanya memperturutkan nalurinya. Seringkali beban itu bukan dari “berat” secara harfiah dari sisi yang bisa dihitung menggunakan rumusan kilogram dan semacamnya. Akan tetapi, selalu saja, bagi kita manusia “berat” itu selalu dikaitkan dengan pikiran dan perasaan yang akan terbawa pada pekerjaan itu.

Hakikatnya, sebagian besar penyakit itu disebabkan oleh perasaan maupun pikiran. Dan lebih banyak dari itu, pikiran dan semangat pula yang menyembuhkannya.

Beban perasaan juga tak jarang membuat kita jatuh sakit. Orang-orang kaya di luar sana lebih banyak menderita stroke mungkin hanya gara-gara terlalu dibebani oleh pikiran tentang pekerjaannya, bukan pada beban pekerjaannya. Perempuan-perempuan di luar sana tidak kuat lagi menahan air matanya bukan karena tidak kuat akan pekerjaannya, melainkan perasaannya yang agak rapuh oleh tekanan batinnya.

Nah, oleh karena itu penting juga memberikan sedikit “terima kasih” kepada tubuh yang telah lelah bekerja keras dengan sedikit bersantai. Menikmati suasana-suasana asri dimana saja. Menyaksikan keramaian orang-orang lainnya yang berkutat dengan aktivitasnya masing-masing. Menikmati kekonyolan-kekonyolan orang lain yang bisa membuat kita tertawa. Atau kenapa tidak dengan sekali-kali mencoba kekonyolan-kekonyolan diri sendiri? Percayalah, menjadi orang dewasa tidak selalu menyenangkan.

Kita bisa menyaksikan dengan lebih jelas bahwa dunia ternyata tidak hanya seluas kesibukan kita sehari-hari. Masih banyak sisi-sisi kehidupan yang belum pernah kita lihat meskipun hanya untuk dicicipi. The other world.

“Saya baru saja jogging di taman Macan sana, baru pertama kalinya ini,” ujar salah seorang kakak senior saya sambil tersenyum sumringah pada kami yang mengajaknya bersantai di Anjungan. Menurutnya, cukup menyenangkan bisa menikmati Minggu pagi dengan berolahraga santai.

Dengan berolahraga pula kita menghadiahkan sedikit penghargaan bagi tubuh kita yang telah rela dipakai terus-menerus untuk bekerja keras. Hari-hari santai tidak hanya dinikmati untuk tidur, kan? Tidur hanya untuk merilekskan tubuh, istirahat, bukan semata-mata untuk men-charge kembali tenaga. Karena pada dasarnya, ketika kita tidur, justru kalori juga lebih banyak dikeluarkan. Coba cek pelajaran Biologi.

Akhirnya, setelah sehari menikmati kesenangan-kesenangan yang bisa melegakan perasaan dan pikiran, semangat lantas selesai di-upgrade, kita pun siap memulai kembali kesibukan-kesibukan yang banyak mendera pikiran dan perasaan kita. Come on, let’s enjoy your weekend!

“Hei, hei foto dong! Gantian!”

Woi, saya dimana dong?? (foto: ImamR)


--Imam Rahmanto-- 

Sabtu, 06 April 2013

Menangis itu...

April 06, 2013
(google.com)
“Air mata itu hadir untuk membasuh jiwa”

Ada banyak hal yang sering terjadi dengan kita. Beragam persoalan yang menimpa hidup, menimpa kita, bahkan yang menimpa orang lain pun kadang kala membuat kita meneteskan air mata.

Sudah, seringkali saya menemukan teman-teman saya meneteskan air mata. Kebanyakan sih perempuan. Entah karena persoalan pekerjaan, tersinggung, terharu, tersakiti, atau hanya sekadar menonton sebuah film. Sebulan lalu, minggu lalu, bahkan kemarin.

Tapi, ada pula loh perempuan yang sama sekali taidak bisa menangis di depan orang lain, meskipun itu teman-temannya. Setengah mati mereka menahan air mata yang keluar, biasanya jelas tergurat di wajahnya, tapi toh ketika sudah menyendiri ia menumpahkan semua. Nah, jenis wanita yang kuat.

Tidak hanya perempuan yang biasanya sangat mudah meneteskan air mata. Bahkan, seorang laki-laki, seperti saya pun pernah menangis. Dulu, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya juga sering menangis, kok. Kenapa? Haha.. ada banyak hal sepele yang berhasil membuat saya menjadi anak cengeng di seumuran saya. Bahkan, menonton film India pun saya biasanya menangis terharu.

Masih jelas dalam ingatan saya label “cengeng” yang selalu disematkan teman-teman pada saya.

“Dasar cengeng,” ledek salah seorang teman masa kecil saya sambil melet-melet di hadapan saya. Ia menjulurkan lidahnya dengan melebarkan jemarinya di kiri-kanan kepalanya sembari terus meledek saya.

Saya yang masih kecil dan belum bisa berbuat apa-apa (sebagai orang lemah) hanya bisa memasang tampang sebal. Oh ya, malah jika kejengkelan saya memuncak, tidak jarang saya memungut batu (sebesar-besarnya) di sekitar saya dan mengancamkannya pada teman yang meledek itu. Pernah loh saya nyaris melemparnya. Haha…nyaris saja kepala teman saya bocor.

“Jadi laki-laki ndak boleh gampang menangis!” pesan ayah saya selalu ketika melihat saya menangis. Seperti yang saya ketahui, ia tak pernah suka melihat anak lelakinya menangis memperlihatkan kelemahannya.

“Wajar kalau kanca-kancamu seneng ngledekin kamu,” tegas ayah saya. Akh, ketika hal seperti itu terjadi, saya malah berharap ayah saya bisa menjadi pelindung bagi anaknya. Anaknya yang dianiaya, lha kok malah anaknya pula yang dimarahi? Setidaknya dibela kek biar gak nangis terus. Jika terjadi seperti itu, saya terkadang membayangkan bisa memiliki seorang kakak yang akan melindungi saya dari olok-olok teman saya.

Gara-gara “cengeng” itu, saya juga minder untuk bergaul dengan teman-teman seumuran saya, yang pada masanya bisa dibilang anak “gaul”. Beruntung saja, saya termasuk salah satu anak yang berprestasi ketika SD dulu, sehingga bisa sedikit mengaburkan label “cengeng” itu. Apalagi ketika salah seorang guru saya pernah mewanti-wanti, “Kalau terlalu banyak menangis akan menghabiskan air mata loh. Jadinya kalau air mata habis, bisa buta.”

Namanya juga anak kecil, ya wajar kalau percaya. Lantas saya pun berusaha untuk tidak sedikitpun lagi menangis di hadapan teman-teman saya.

Rapuh
"Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat,"  --Buku Let Go--

Yah, ada banyak orang yang mengatakan bahwa menangis itu menjadikan seseorang terlihat lemah, meskipun pada kenyataannya memang seperti itu. Akan tetapi, tahukah kita, menangis tidak hanya sebatas menunjukkan seseorang lemah, melainkan menangis bisa melegakan sesuatu dan menyadarkan sesuatu.

Karena menangis adalah hal yang wajar bagi kita, sebagai seorang manusia, maka tidak salah ketika menangis. Justru dengan menangis bisa semakin membangun kesadaran diri kita. Memberikan kita sedikit waktu untuk menyelami alam bawah sadar kita. Mungkin saja, hanya dengan menangis kita bisa sedikit merefleksi sesuatu yang terjadi pada diri kita itu. Entah itu kesalahan, keyakinan, ataupun hubungan dengan orang lain.

Saya juga menyadari, ketika orang menangis itu sedikit menunjukkan kelemahannya. Rapuh. It’s real! Menangis katanya bisa membasuh jiwa yang terluka. Menangis bisa melupakan semuanya. Menangis pun bisa melegakan kita dari beban yang menimpa kita. Menangis pula lah yang mendekatkan doa kita pada Tuhan. 

Tapi, tak jarang pula saya banyak menemukan orang-orang yang mampu belajar jadi pribadi yang kuat dari air matanya itu. Saya punya teman seperti itu. Ia mampu mengelola hatinya melalui air mata yang senantiasa ia cucurkan. Tentu saja dengan bantuan teman-temannya. Teman itu selalu ada ketika kita rapuh. Tangan kanan melengkapi tangan kiri.

Menangis bisa membantu kita mencapai pemahaman yang lebih baik tentang keadaan yang melibatkan kita di dalamnya. Menangis itu juga menyehatkan.

Tidak mengapa ketika seseorang menangis di depan orang lain. Menangis bukan berarti seseorang itu “cengeng” atau rapuh, melainkan hal itu sekadar menunjukkan seseorang itu adalah seorang manusia juga. Seseorang, pertanda bahwa ia juga memiliki perasaan. Akan tetapi,lebih baik lagi ketika kita mampu menunjukkan diri pada orang lain bahwa kita kuat. saya kuat!

Nah, teruntuk siapa saja, berhentilah menangisi hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditangisi. Menangislah untuk orang lain dan apalagi ketika kalian sudah menemukan seseorang yang bakal dengan rela hati menghapus air mata itu. Be Strong!! ^_^.V


--Imam Rahmanto--

Selasa, 02 April 2013

Sebentuk Penghargaan Kecil

April 02, 2013
Saya diam saja melihat tingkah salah seorang senior, rekan kerja saya. Padahal dalam hati saya sudah dongkol setengah mati menyaksikannya. Hanya saja, saya tidak bisa begitu saja menegurnya atau menyampaikan kekesalan saya secara langsung. Ditambah kami masih berbincang dengan calon “atasan” kami. 

“Iya, Bu. Nanti diperbaiki. Saya kira…….bla-bla, karena kemarin pas…….bla-bla,”

Ia berbincang seolah-olah ringkasan tulisan yang dibaca oleh atasan kami adalah hasil karyanya. Akh, padahal itu kan karya saya dan tentu saja hasil kepayahan saya sendiri memikirkan rubrikasinya. Ujung-ujungnya, perbaikan atau editannya akan kembali lagi ke saya.

“Imam, nanti kau ubah lagi ya sesuai dengan yang dikatakannya tadi,”

Tuh, kan, ujung-ujungnya saya lagi yang harus merevisinya. Padahal, jika dirunut secara susunan redaksi, harusnya ia yang berperan sebagai seorang redaktur dan mengurus sendiri persoalan-persoalan seperti itu. Untuk merancang rubrikasi, topik liputan, tema liputan sebenarnya bukan menjadi tugas saya. Toh, sebagai seorang reporter, tugas saya hanya terjun ke lapangan dan menjalankan liputan. Selanjutnya? Menuliskannya menjadi sebuah laporan berita.

Akh, ini sama halnya dengan membebankan semua urusan media kepada saya. Bagi saya, it’s no problem ketika saya memang mampu mengerjakannya. Hal itu sebagai kesempatan bagi saya menerapkan ilmu yang selama ini saya dapatkan lewat organisasi saya. Tapi, sangat menjengkelkan pula ketika ternyata di depan orang lain kita sama sekali tidak dianggap sebagai “pelaku”nya. Malah atasan menganggap hasil karya itu adalah hasil kerja orang lain, sama sekali tidak melihat saya sebagai pembuatnya. Damn.

Saya baru menyadari, ternyata seluk-beluk bekerja di dunia professional sedikit mendongkolkan hati. Ditambah dengan kemauan atasan sekaligus owner yang harus disesuaikan dengan hati kita. Kemauan owner adalah segalanya. Apalagi, keinginannya sama sekali tidak bisa diinvansi oleh pemikiran kita. Mungkin mereka juga memandang saya sebagai seorang mahasiswa, yang belum banyak tahu perihal seperti itu, mengabaikan saya. Yah, apapun itu, saya mesti menyesuaikan diri.

Sedikit Penghargaan 
(google.com)
Yah, mungkin semacam penghargaan atas jerih payah yang dilakukan adalah cukup penting. Saya seringkali menemukan teman-teman saya yang banyak mengeluh atas pekerjaannya, karena merasa sama sekali tidak dihargai.

“Kita sudah susah-susah mengerjakannya, malah diomeli. Bagaimana sih?” dongkol teman saya.

Usaha sekecil apapun yang dikerjakan oleh orang lain, apakah untuk kita atau kepentingan bersama, sebenarnya patut untuk dihargai, meski barang hanya ucapan terima kasih. Kita, manusia, bukanlah robot yang sama sekali tak perlu disanjung-sanjung atau diberi ucapan terima kasih. Bagaimanapun robot disayang-sayang, mereka tak akan merasakan atau memperhitungkannya, bukan?

Berbeda dengan kita, manusia. Semakin kita merasa dihargai orang lain, semakin respect pula kita atas pekerjaan kita, apalagi ketika pekerjaan itu dilakukan untuk orang lain.

“Terima kasih,” ucapan yang sederhana namun sebenarnya bisa menenangkan hati ketika kita menerimanya atas usaha dan jerih payah kita. Kita merasa dihargai. Kita merasa dibutuhkan. Kita pun tidak merasa hanya menjadi “alat” semata.

Meminta penghargaan atas hasil kerja kita, bukanlah dengan maksud meminta imbalan. Pada dasarnya, bentuk penghargaan itu beragam. Tidak melulu dalam bentuk uang atau barang.

Tahu tidak, semakin kita menuntut orang lain atas goal tertentu, maka semakin besar pula seharusnya kita memberikannya penghargaan atas pencapaiannya. Tidak heran ketika pimpinan sebuah perusahaan selalu saja menghadiahkan bonus bagi para sales yang berhasil mencapai penjualan-penjualan tertentu. Karena mereka sadar, karyawannya adalah manusia, yang tentu saja butuh penghargaan, baik dari segi materi maupun non-materi. Bahkan, dari sisi non-materi, perusahaan-perusahaan tertentu selalu menghadiahkan kelas-kelas motivasi bagi sejumlah karyawannya. Excellence.

Nah, tentu saja sedikit penghargaan (banyak juga boleh) sangat penting untuk menunjang pekerjaan kita maupun orang lain. Oleh karena itu, jika kita tidak bisa menghadiahkan penghargaan dalam bentuk materi, ya apa salahnya dengan tersenyum sembari mengucapkan, “Terima kasih.” I think it’s enough.


--Imam Rahmanto--