Jumat, 29 Maret 2013

Sepele? Memang


Apa kabar hati yang terluka? Entah hatiku atau hatimu… Semoga engkau baik-baik saja usai membatalkan pertemuan kita kemarin. Maaf, hingga saat ini aku masih berusaha menyadarkan pikiranku; benar atau salahkah yang kulakukan.

Hm…apa yang terjadi? Engkau tahu sepenuhnya seperti apa aku, seperti halnya engkau pernah menganggapku sebagai orang terdekat bagimu. Aku berusaha mempercayainya, karena aku memang selalu memaksakan diri untuk mempercayaimu. Jujur, kau cukup spesial bagiku, lebih dari siapapun.

Tahukah engkau, cukup lama aku menantikan momen perdana itu hanya untuk bisa menyaksikan pemutaran film yang diangkat dari novelet yang pernah kubaca, Madre. Aku sangat penasaran dengan jalan ceritanya, yang mungkin akan semenarik Perahu Kertas. Apalagi dengan ditemani engkau yang jauh hari sudah mengiyakan dan tak kalah antusiasnya dengan ajakanku.

“Akhirnya ditraktir nonton lagi. Janji ya?” Engkau memastikan.

“Pasti,” ungkapku memastikan. Bagaimanapun jadinya, aku memang akan berusaha untuk memenuhi setiap janjiku padamu. Aku tak pernah ingin orang lain berharap kosong padaku. Sekecil apapun itu. Se-sepele apapun itu.

Maka sejak saat itu aku berusaha semampuku agar ketika hari itu tiba aku bisa memenuhinya. Kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi seorang mahasiswa sepertiku? Apalagi seorang mahasiswa yang juga punya aktivitas lain di luar kuliah. Seorang mahasiswa yang juga harus memperhatikan kondisi orang lain, selaku pimpinan ataupun orang yang dituakan. Yang tentu saja sedikit banyak akan menguras kondisi keuanganku. Tapi, aku selalu percaya dan yakin, aku bisa memenuhi janjiku pada tanggal itu.

“Meskipun kita tidak punya uang untuk saat ini, tapi saya selalu percaya pasti akan ada jalan untuk itu. Apalagi ini kan menyangkut kebaikan orang lain,”

Aku senang mendengarnya, pernyataan yang diucapkan oleh salah seorang petinggi kampusku ketika aku mewawancarainya beberapa hari yang lalu. Pada dasarnya, ia punya prinsip yang sama denganku. Selalu percaya. Just believe it!

Pikiranku akhir-akhir ini banyak diisi oleh sesuatu. Sesuatu yang menyangkut diri sendiri dan sesuatu yang menyangkut kepentingan orang lain. Tapi tak pernah sekalipun aku berusaha mengeluh, apalagi di depanmu. Karena biasanya engkau yang lebih banyak bercerita padaku, tentang segala hal yang mengganggu pikiranmu. Wajar, ketika menanti waktu kemarin, pikiranku bisa sedikit terbuka dan berusaha untuk mengosongkan semuanya di hari itu. Sedari awal, mungkin seminggu, aku telah merencanakannya. Refresh out.

Dan ternyata, selalu percaya, benar-benar membukakan segala jalan untuk tujuanku. Menjadikan hari itu deadline bagi segala upayaku benar-benar cukup efektif untuk membuatku berpikir taktis. Seperti halnya film 5cm;

Gantungkan impianmu (tujuanmu) 5cm di depan keningmu, maka setiap hari, setiap waktu, setiap mengerjakan apapun, engkau akan selalu melihatnya dan terdorong untuk berbuat ke arah sana. 

Sedikit hal yang kupelajari dari film (yang lagi-lagi) diangkat dari novel tersebut. dan seperti itulah yang selama ini kulakukan.

“Kenapa mesti hari itu? Kan bisa hari lain?”

Apa kau belum memahami? Aku sungguh berharap memenuhi janjiku di hari itu. Selain itu, waktu perdana itu begitu berharga buatku. Sepele? Ya, Mungkin. Akan tetapi, seperti yang kau ketahui, aku yang selalu dianggap teman-temanku bersikap kekanak-kanakan (karena aku memang suka seperti itu), menyimpan seuatu yang lain di hari itu. Aku masih saja Imam yang suka menonton film Naruto, One Piece, atau anime-anime lain yang menurutku keren dan menarik. Pada dasarnya orang-orang Jepang menempatkan anime sebagai ajang pembelajaran moral bagi anak-anak, maupun orang dewasa.

Seandainya saja..., aku senang bisa mengajakmu dan bahkan membuatmu tersenyum atau malah tertawa.  Sejenak melupakan beban pikiranmu akhir-akhir ini. Bukannya akhir-akhir ini kau merasa dijejali dengan beragam masalah? Masalah yang katamu membuatmu tidak jadi dirimu sendiri. Masalah yang katamu hanya bisa kau ceritakan pada teman-teman terdekatmu. Masalah yang terkadang membuatmu mengucurkan air mata. Hei, jangan terlalu banyak menangis. Menangis mencirikan kelemahanmu. Kata guruku di SD dulu, keseringan menangis akan menguras air mata hingga bisa membuat mata buta. Hehe..lelucon anak kecil. Tapi,setidaknya, menangislah ketika seseorang telah hadir untuk menghapus air matamu.^_^.

Hari itu, mungkin aku ingin mengubah segala pandanganmu beberapa hari terakhir tentangku,

“Kenapa berubah? Tidak peduli lagi denganku,” katamu. Nyatanya, ada hal-hal yang sengaja tidak kubagi dengan orang lain sebelum benar-benar bisa memastikannya.

Oh ya, (sambil tersenyum), teman-temanku mungkin berpikir aku sedikit melankolis melalui surat ini. Hehe..hanya saja sedikit malampiaskan segala kekecewaanku pada tulisan semacam ini bisa sedikit menghapusnya. Sepele? Memang. Aku hanya berusaha memenuhi konsistensiku pada #7days7letters yang sementara ini kami jalani; aku dan teman-temanku. ^_^. Hmmkeluar dari passion tulisanku sedikit, terkadang memberikan pengalaman baru, termasuk saraf-saraf baru di pikiranku.

(int)
Maaf, apa yang terjadi padaku tentu tidak semuanya seperti yang kau ketahui. Kau  tidak bisa menembus batok kepalaku hanya untuk meyakinkan diri bahwa aku benar-benar tidak berusaha keras memenuhi hari itu. Aku pun tidak mungkin bisa dan tega menembus alam pikiranmu hanya untuk meyakinkan diriku bahwa engkau benar-benar tidak berbohong padaku.

“Maaf,” seperti katamu. Mungkin akulah yang perlu meminta maaf, yang mungkin (semoga tidak) membuatmu  lagi-lagi harus menangis. Tapi, aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran, menyibukkan pikiranku, dan melupakan waktu kemarin.

Sebenarnya, aku pula yang bodoh. Tanpa menanyakan padamu sebelumnya, langsung saja ingin memastikan langsung tempat disana. Hehsaking bersemangatnya, ingin menjauh dari sedikit rutinitasku sehari-hari.

“Karena cerita ini cukup bestseller, mungkin saja akan ada banyak penonton yang menyaksikan film perdananya,” pikirku. Dan kenyataannya, memang ada banyak orang yang menantikan film itu, seperti halnya aku yang menanti-nanti waktu itu….


--Imam Rahmanto-- 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar