Sabtu, 09 Maret 2013

Dunia Kerja dan Publikasi Diri

Dunia kerja profesional, apalagi bidang-bidang creative media ternyata membutuhkan banyak hal yang benar-benar di luar pemikiran kita.

“Boleh lihat portofolionya?” pinta salah seorang rekan kami. Kami baru saja bertemu saat itu. Seperti kebanyakan orang-orang yang telah lama berkecimpung di dunia kerja, ia sudah sewajarnya mempertanyakan kredibilitas kami.

Saya agak tersentak mendengarnya. Pasalnya, beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya yang berencana mendaftar magang di salah satu media di Jawa pernah menanyakan hal serupa.

“Kalau disini, biarpun mau melamar sebagai magang, harus punya portofolio sebagai bukti kalau kita pernah menekuni pekerjaan itu. Semisal saya, saya mau buat portofolio yang isinya tulisan-tulisan beserta liputanku semasa di pers kampus sekarang,” Teman saya ini baru berencana untuk membuat portofolio-nya. Meskipun saya sudah tidak asing lagi dengan portofolio itu, apalagi di kalangan fotografer maupun designer grafis. Akan tetapi saya baru menyadari betapa pentingnya “publikasi diri” itu.

Sebagaimana prinsip dasar dalam marketing atau pemasaran; Positioning Branding Advertising, maka saya harus menerapkannya pula pada diri saya agar berhasil dalam dunia kerja nantinya. Pengetahuan ini saya dapatkan sebagai hasil perbincangan lepas kami ketika meeting perdana. ^_^.

Nah, positioning, saya harus menempatkan diri saya sebagai apa? Disini, saya sudah harus mampu memutuskan, memilih diri sebagai seorang writer atau designer? Sehingga ketika memperkenalkan diri pada dunia kerja, saya sudah memiliki label yang benar-benar jelas. Proses penguatannya sendiri akan berlangsung pada proses branding.

Seperti yang saya maksud sebelumnya, branding  sangat dibutuhkan pula dalam proses marketing. Seperti halnya kita, yang ingin berkecimpung dalam dunia creative media, butuh sedikit branding melalui portofolio itu. Melalui “kumpulan karya” kita itu, maka tingkat kredibilitas kita akan bertambah. Tentu, kepercayaan orang akan semakin besar pada kita.

Selanjutnya, kita bisa memulai advertising. Mengumumkan. Mungkin, semacam produk yang dipublikasikan melalui iklan-iklan, spanduk, baliho, dan sebagainya. Tapi, untuk kita sendiri, bisa  memulai dengan banyak membangun jaringan atau koneksi dalam rangka memperkenalkan diri sebagai apa. Jika beruntung, maka “Andalah yang kami cari!”

Ditanyakan portofolio seperti itu, tentu saja teman saya gelagapan. Nampaknya, sebagai seorang fotografer pun, ia masih belum tahu perihal bundelan karya itu. Ia tampak bingung harus seperti apa.

“Atau mungkin blog yang berisi foto-foto karyanya?”

Bahkan blog atau website yang seharusnya bisa menjadi portofolio cadangan tidak dimilikinya. Maklum, gak doyan nge-blog. Beruntung, ia masih menyimpan banyak karya fotonya di akun facebook yang ia miliki. Jaringan connect – login facebook – browsing foto deh.

Saya sendiri masih lebih beruntung. Saya punya kumpulan tulisan yang terdokumentasi rapi di blog ini. Jadi, ketika seseorang meminta bukti-bukti tulisan saya, sebagai pembangun kredibilitas, saya masih bisa menunjukkan tulisan-tulisan saya.

Ah, kalau soal tulisan, saya sudah tidak ragukan lagi dari lembaga pers kalian,” ujarnya santai. Saya pun urung memperlihatkan tulisan-tulisan saya. Toh, sebelum saya memperlihatkannya pun dia sudah memberikan kepercayaan lebih pada kami, yang memang notabene berasal dari lingkungan pers kampus. Katanya, nama lembaga kami sudah tidak asing lagi di lingkungan media lokal. Wah, sungguh beruntung bisa terlahir dari lembaga pers kampus. :)

Pada akhirnya, saya masih harus tetap mempersiapkan portofolio saya, mungkin sedikit memperbaharui pula tampilan blog saya – lebih professional. Penting, mengingat sebentar lagi, usai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, saya akan terjun ke dunia kerja. Semenjak sekarang, saya harus banyak belajar dan menjalaninya sedikit demi sedikit. Ada banyak hal di luar sana yang akan sangat berbeda dengan dunia kampus saya. Dan tentu saja, menantang!


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar