Minggu, 17 Maret 2013

Berbagi Semangat di Ujung Bone (3-end)

It just about adventure, knowing, and experience….
 

Tahu tidak, mading berbentuk hati itu adalah hasil "kerjaan" para laki-laki "Calaccu". (Nizar-Al Ikhlas)

Tidur saya cukup nyenyak malam itu. Setelah sekian lama hanya bisa tidur di atas lantai berbalut karpet dengan bantal seadanya, kali ini kami benar-benar dimanjakan dengan ranjang spring-bed layaknya di wisma-wisma maupun penginapan berkelas. “Bagi kami, kalian sebagai tamu VIP kami,” Akh, Kak Akbal cukup pandai membuat hati kami tersanjung.

Saya mengawali pagi itu dengan berjalan-jalan di sekitar lingkungan Pesantren bersama salah seorang teman saya. Menyesal juga tidak sempat membawa kamera.

“Ah, iya! Kenapa kita tidak bawa kamera?!” seru saya di tengah perjalanan ketika mobil sementara mengantarkan kami ke Pesantren. Teman saya yang lainnya menunjukkan ekspresi raut wajah yang nyaris sama; penyesalan mendalam.

“Saya kan sudah bilang, saya sudah minta ke sekretaris tapi ia keras kepala tidak memperbolehkan,” ujar teman saya membela diri. Dan kami harus mencari sendiri cara untuk bisa mendokumentasikan kegiatan  tersebut nantinya. Beruntung, di pesantren sendiri, anak dari Ketua Yayasan memiliki kamera SLR. Ia mengaku, memang hobi pada fotografi dan berinisiatif mendokumentasikan kegiatan tersebut.

Pelatihan tentang pengelolaan mading yang dimulai selepas Jumat langsung ditangani oleh kami bertiga. Secara panel, kami menjelaskan tentang tata cara pembuatan dan pengelolaan mading. Sebenarnya, konsep pembuatan mading itu sendiri, tidak serta-merta bisa diajarkan dalam beberapa jam saja. Teori-teori yang kami jabarkan hanyalah pengantar, yang mungkin ada banyak tersebar di google. Bahkan, saya tidak menjamin bahwa apa yang kami sampaikan dari mulut kami bisa begitu saja nyangkut di kepala mereka.  Secara sederhana, untuk membuat mading yang baik, yang dibutuhkan adalah praktek, praktek, dan praktek. Selebihnya, hanya soal pembiasaan saja hingga mereka mampu mengembangkannya lebih imajinatif.

“Mereka disini memang baru pertama kalinya mengenal dunia jurnalistik secara dekat seperti ini. Mading pun baru pertama kalinya bagi mereka,” Memang, apapun itu, hal yang paling sulit dari sebuah pekerjaan adalah memulai…  
 

Tabloid dan buletin kami pun jadi
"korban". (Nizar-Al Ikhlas)


Dimulailah ketika enam kelompok mading - AMC, Putri Mahat, MNC, Muslim Inside, Dunia Maya, Calaccu - yang  telah kami bentuk berkompetisi, saling bersorak, saling menggoda, dan saling memamerkan karya-karya terbaik mereka. Meski hanya dilengkapi oleh bahan-bahan seadanya; kertas karton, kertas HVS, koran-koran bekas, pensil warna milik mereka sendiri, gunting dari kamar sendiri,ragam karya mading yang cukup unik dan menyita perhatian bisa diselesaikan dalam waktu tiga jam. Nah, jika memang ada kemauan dan kerja keras, apapun bisa diselesaikan, bukan?

Melihat santri-santri begitu antusiasnya  dalam menyelesaikan mading, rasanya ikut memantik api semangat saya. Jujur, baru kali ini saya dan kedua orang teman saya benar-benar “independen” me-manage pelatihan seperti ini. Biasanya, kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh lembaga pers kami di Makassar, selalu melibatkan campur tangan senior-senior maupun dewan redaksi lembaga pers kami. Adakalanya, saya hanya bertugas di bagian kepanitiaan perlengkapan, publikasi, yang sama sekali tidak menyentuh persoalan interaksi dengan para peserta. Padahal, saking cerewetnya, saya sebenarnya sangat senang loh cuap-cuap di depan orang banyak.

Oleh karena itu, ada rasa kebanggaan tersendiri ketika kami diberi kesempatan untuk me-manage langsung pelatihan jurnalistik ini. Saya senang, kepercayaan benar-benar disediakan buat kami.

“Terima kasih kepada adik-adik dari Universitas Negeri Makassar yang telah menyempatkan diri untuk membagi ilmunya sampai di tempat yang sejauh ini,” Hati saya bergetar mendengarkan sepatah kata yang disampaikan langsung oleh Kepala Madrasah Aliyah, Ustad Abdul Rajab ketika penutupan secara simbolis dilangsungkan.

Meskipun penutupan itu juga berlangsung dalam waktu yang singkat (dan tergesa-gesa karena menjelang waktu maghrib), namun cukup berkesan bagi saya dan kedua orang teman saya.

“Serius, saya merinding ketika mendengarkan mereka menyanyikannya untuk kita,” ujar teman di sebelah saya. Yah, saya pun merasakan hal yang sama. Nyaris saja, teman perempuan saya meneteskan air mata mendengarkan lantunan lagu Semua Tentang Kita yang dibawakan secara koor oleh para peserta sebagai persembahan terakhir buat kami. Akh, seandainya juga saya diberi kesempatan untuk membalas persembahan mereka. Saya juga tak mau kalah dengan santri yang memainkan gitar sambil mengiringi teman-temannya bernyanyi. ^_^.

Semangat, selalu saja menjadi bagian terpenting ketika kita akan mengerjakan sesuatu.

“Suasana perpisahan ketika KKN-PPL pun nyaris seperti ini. Malah kita biasanya akan menemukan yang lebih dramatis,” tutur teman perempuan saya. Yah, meskipun saya belum merasakan KKN itu, tapi sedikit banyak saya sudah bisa tahu bagaimana kekeluargaan yang terjalin diantara para siswa-mahasiswa.


Cheese!! Aduh, saya malah ketutupan yang lainnya...(auto-timing)

Mungkin, pengalaman seperti ini akan menjadi suatu momen yang tak akan pernah terlupakan. Apalagi dengan mengabadikannya melalui tulisan. Melukiskan sejarah di Bumi Arung Palakka bersama kedua orang teman saya, membagikan ilmu jurnalistik yang kami peroleh secara autodidak, mencurahkan semangat kepada 60 orang peserta, akan selalu mengembangkan sesimpul senyum di raut wajah kami. Bahkan, canda, tawa, maupun gurauan mereka membuat kami sedikit jauh lebih muda. ^_^.
 
Yah, lain waktu, semoga kami diberi kesempatan lagi untuk bisa kembali kesini,” ujar teman saya. Dalam benak saya, entah kenapa, ada keyakinan kami akan kembali lagi suatu hari nanti.

“Atau sekalian cari jodoh orang disini saja,” celetuk salah seorang guru yang mengantarkan kami mencari tumpangan ke Makassar malam itu. Mendengarnya, saya hanya bisa tersenyum, cengar-cengir, teringat akan sesuatu…..


 
--Imam Rahmanto--

*Saya mengakhiri tulisan ini sembari menatap gelas yang telah kehabisan Cappuccino. Pagi ini, langit begitu cerah menemani saya duduk menatap lalu lalang kendaraan.



"Dengan membaca, kita akan mengenal dunia.
Dengan menulis, kita akan dikenal dunia."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar