Minggu, 17 Maret 2013

Berbagi Semangat di Ujung Bone (2)

Seakan-akan memasuki suatu lingkungan pedesaan yang asri dan menenangkan, saya memandangi kiri-kanan jalan yang kami lalui. Sawah-sawah terhampar cukup luas, meski belum menguning. Hanya satu-dua rumah yang sekilas nampak diantara sawah-sawah itu. Mobil yang kami tumpangi pun sekali-kali juga harus berbagi jalan dengan mobil-mobil dari arah berlawanan.

“Ini seperti kota di tengah hutan,” canda Akbal, salah seorang guru setibanya kami disana. Bagaimanapun, kami memang melihat kondisi dan suasana Pesantren ini cukup terpencil dari dunia luar. Hanya dikelilingi oleh sawah-sawah milik penduduk setempat. “Makanya tidak ada santri yang berniat untuk kabur atau lari. Soalnya, mereka mau kemana? Disini pun kendaraan-kendaraan umum tidak ada, kecuali kalau hari pasar saja,” timpalnya lagi.

Oh ya, mungkin kondisi lingkungan pesantren ini nyaris mirip dengan keadaan pesantren Gontor yang diceritakan dalam buku Negeri 5 Menara. Kurikulum pengajarannya pun mengadopsi kurikulum boarding school dari Australia, dengan bahasa pengantar: bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Ckckck.. Terlebih lagi, ternyata anak-anak yang bersekolah disini adalah keluarga dari kalangan menengah ke atas. Bayangkan, uang pangkal untuk masuk ke pesantren ini saja Rp 4 juta, ditambah dengan SPP yang dibayar tiap bulan sebesar Rp500ribu. Nah, malah lebih murah uang kuliah saya kan?

Maka jangan heran ketika menemukan sejumlah fasilitas yang memang lebih unggul dibandingkan sekolah-sekolah umum lainnya. Sementara ini, si sisi bagian utara pesantren sedang dibangun Gedung Olahraga (GOR) untuk pesantren. Kabarnya, gedung tersebut adalah bantuan dari Kemenpora. Di sisi sebelah timur, ada rusunawa yang akan dibangun khusus untuk para santri. Lain lagi dengan masjid besar (dalam tahap pembangunan juga) yang merupakan bantuan dari Duta BEsar Kerajaan Arab Saudi.

Meskipun demikian, masih ada juga santri-santri yang bersekolah disana, tapi tidak mondok. Mereka adalah anak-anak dari penduduk yang bermukim di sekitar wilayah pesantren ini. Bagi mereka, pendidikan di pesantren tersebut digratiskan oleh pemilik yayasan.

“Pak Prof. ingin membangun pondasi yang kuat tentang Islam di lingkungan masyarakat sekitar sini,” tutur Akbal. Karena, katanya, kehidupan orang-orang yang bermukim di wilayah sekitar pesantren ini dulunya sangat sarat dengan pemujaan, penyembahan, takhayul, dan sebagainya. Bahkan, beberapa masyarakat masih ada yang mempercayai hal seperti itu. Tujuan yang sungguh mulia. :)

 
Setelah beristirahat sebentar selama tiga-empat jam, karena kepala teman saya juga pusing akibat perjalanan jauh dengan mengendarai mobil, kami mulai siap membaur dengan para peserta pelatihan. Sebagian besar pesertanya, yang berjumlah 60 orang, adalah anggota OSAI di pesantren ini.

Sedikit bagi ilmu. :) (Foto: Nizar-Al Ikhlas)
Secara bergantian, saya dan kedua orang teman saya akan membagi ilmu jurnalistik dengan santri-santri yang ada disini. Rundown acara sebelumnya telah ditentukan oleh kami + satu materi dari Pak Waspada sebagai pembuka tentang dunia jurnalistik. Akan tetapi, selepas Isya, dosen UIN itu sudah kembali ke Makassar lagi. Hanya kami bertiga yang masih menetap hingga pelatihan ini usai. Kami masih harus mendampingi para santri hingga pelatihan usai esok hari.

Hingga pukul 11 malam, usai teman saya menyelesaikan materinya, saya menyelesaikan arahan dan materi saya tentang perencanaan peliputan. Melalui materi ini semoga akan mengawali ide tentang mading mereka. Anak-anak remaja seperti ini biasanya lebih suka jika diberikan arahan untuk praktek langsung mengenai materi. ^_^. Dan kenyataannya, waktu berlalu dengan canda, tawa, dan sedikit aksi nyeleneh dari mereka. Excellent!


Peserta berpikir keras tentang isu yang akan mereka angkat mengenai pondok pesantrennya. (Foto: Nizar)


__berlanjut

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar