Sabtu, 30 Maret 2013

Kalian Berempat Terhebat

Maret 30, 2013
Hmm...nampaknya untuk surat kali ini tak perlu aku bertanya tentang kabar dan keadaan kalian. Toh, setiap hari kita bertemu dan berjumpa di redaksi. Atau paling tidak setiap minggu dalam rapat redaksi kita. Apalagi, semalam, aku menemukan kalian masih bersemangat seperti hari-hari kemarin ketika kita mungkin masih merasa tertekan. Aku suka semangat seperti itu. ^_^.

Bukan hanya penyakit yang bisa menular, melainkan semangat pun bisa menular. Bahkan lebih cepat dibandingkan penyakit. Sekali tersenyum, dua-tiga muka ikut tersenyum.

Aku mengirimkan surat ini hanya untuk mengucapkan terima kasih pada kalian berempat; Yasir, Yeni, Azhar, dan Ela, yang telah bekerja keras selama tiga minggu terakhir. Aku selalu percaya kalian, meski terkadang kepercayaan itu bisa memudar sejalannya waktu. Setidaknya, dengan kondisi #KerjaKeras (namun menyenangkan) kemarin, kalian telah membuktikan bahwa kalian memang selalu yang terbaik.

Tiap pribadi itu unik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri.

“Kalau saya kapan saja, pasti saya usahakan, Kak,” Kata-kata yang paling saya suka darimu, Azhar, yang menunjukkan sedikit kesungguhanmu untuk bekerja keras. Soal rapat, tentu saja, tak pernah diragukan lagi kehadiranmu. Bahkan, ketika harus dikenai sanksi “pidana” breafing kita seminggu lalu, kau cukup berlapang dada juga menerimanya. Meskipun sesekali masih harus bertanya harga porsi konsumsinya. Hahaha….

Hanya satu yang selalu diwanti-wanti, “Asalkan jangan waktu-waktu malam minggu, Kak,” Haha….maklum, orang yang mengaku dirinya ganteng selalu punya waktu kencan di malam minggu.

Tentu tentang keahlian Azhar (cerdik = cerdas dan licik), agak berbeda denganmu, Yasir. Selalu, tak pernah ketinggalan, dengan keahlian meliput yang sudah cukup mapan, engkau mampu memenuhi setiap beban kewajiban dalam tiga minggu terakhir ini. Beruntung, kau selalu menjadi pihak “penikmat” kompetisi yang berlangsung diantara teman-temanmu.

“Saya sih santai saja,” ujarmu selalu.

Hanya saja, ditambah dengan beban sebagai “tukang” upload berita, waktu siang dan waktu malam tampak sama untukmu. Bahkan, gara-gara berita yang dikumpulkan membludak, engkau sampai rela begadang sambil manasin modem portablemu alias si android. Sebenarnya, kita sama kok Yasir. Cuman, tempat nongkrong internetnya saja yang berbeda. Aku, warnet. Kamu, redaksi. Hehe..

Nah, orang yang akhirnya terbangun dari tidurnya yang panjang – tapi maaf ya bukan putri salju – adalah engkau, Ela. Senang juga melihat semangatmu, yang mungkin baru terbangun ketika #KerjaKeras kita selama tiga minggu terakhir ini.

“Maaf, Kak. Memang biasanya selalu saja rasa malas yang datang. Entah kenapa,” Yah, kau mengakuinya. Terkadang rasa malas memang datang tanpa diundang. Ketika kita menginginkannya pergi, perasaan sudah terlanjur enak dan malas (lagi) untuk mengusirnya jauh-jauh.

Memang, sekali-kali kita perlu keluar dari zona kenyamanan. Yah… Oleh karena itu, aku mencoba menarikmu dari zona itu dengan berburu berita selama tiga minggu ini. Toh, nyatanya engkau bisa memenuhinya. Engkau ternyata mampu mencetak beberapa berita yang mungkin telah lama kau lupakan. Aku senang melihatmu bangkit dari tidur panjangmu. Ngomong-ngomong, kalau putri salju, pangerannya siapa ya?

Seperti halnya Ela, engkau sebenarnya juga sempat tertidur, Yeni. Entah itu karena ada malas juga yang melanda atau karena rangkap jabatanmu di redaksi. Atau malah karena kau terlalu banyak pikiran mengenai hal-hal lain, termasuk keluargamu.

Mungkin, orang yang paling menyadari perubahan yang terjadi padaku ketika memulai proses #KerjaKeras ini adalah engkau. Aku masih ingat loh kata-katamu waktu itu, ketika engkau harus kuomeli lewat chat fb-mu, gara-gara sempat mengabaikan salah satu tugasmu,

“Kak Imam yang seperti ini, yang lama rasanya hilang. Cepat selesaikan pekerjaan yang menggudang itu, Kak, supaya bisa jadi diri sendiri lagi. Atau mungkin yang sekarang ini, ujian naik level tingkat lanjut ya?”

Tahu tidak, aku mendadak tersentak oleh ucapanmu (chat) itu. Aku pun berpikir, apa benar aku banyak berubah? Tapi, aku kembali meyakinkan diriku, bukankah sudah kukatakan sejak awal breafing kita tempo hari bahwa aku tentu sedikitnya akan berubah.

“Jadi jangan heran, semenjak memulai kerja ini, kalian akan menemukan Imam Rahmanto yang berbeda dengan Imam Rahmanto yang kalian kenal selama ini. Jika kita dulu bisa sedikit bersantai, kini kita harus kerja, kerja, dan kerja,” Aku mengungkapkannya gamblang pada kalian.

Nah, Yeni, orang yang paling banyak berdebat tentang pekerjaannya mungkin adalah engkau. Mungkin, beberapa kali, ada banyak  alasan yang seringkali kau jejalkan atas kesalahanmu. Tetap saja, skeptis selalu menjadi penghalangku. Melakukan segala hal yang dibutuhkan hingga batas kemampuan kita adalah cara terbaik untuk mengatasi segala permasalahan yang timbul. Tidak fair rasanya ketika kita banyak menyalahkan segala hal di luar diri kita atas kegagalan-kegagalan yang terjadi pada kita.

Ketika engkau berada di ambang kekalutanmu sendiri, mungkin di saat itulah engkau kemudian berbalik arah. Sampai-sampai aku mendengar sendiri engkau yang rela berlarut-larut nongkrong (juga) sendirian  di warnet, satu-satunya perempuan, hanya untuk memenuhi kewajibanmu. Salut!! Oh ya, mungkin gara-gara tempo hari kena sanksi juga ya, makanya tidak ingin mengulang traktiran yang sama. Hehe.. :P Apapun itu, engkau nyatanya bisa membuktikan bahwa asumsi ketidakpercayaanku padamu tidaklah benar. ^_^.

Bagiku, kalian cukup hebat. Sangat hebat malah. Lagi-lagi aku berpikir, Tuhan tak pernah kebetulan menempatkan kalian untuk membantu pekerjaanku. Tidak penting pula seberapa buruk atau tak berharganya apa yang kalian lakukan selama ini di mata orang lain. Kalian, telah mampu membuktikan bahwa selalu ada jalan bagi yang mau berusaha keras dan bekerja sama. Tak hanya itu, kita juga bisa menunjukkan, kerja keras itu bisa dilakukan dengan sebahagianya kita.

Seperti halnya persaingan diantara kalian yang selalu menjadi hal menarik bagiku. Saling ancam jumlah berita, olok-olok satu sama lain, sampai kekonyolan-kekonyolan yang kalian lakukan sendiri, sedikitnya bisa membuatku terlepas dari beban masalah. Tertawa. Bahkan cara kalian bercerita pun sudah membuat kalian menertawai satu sama lain. Aku lantas berpikir; aku memang tak sendiri.

Senam, selalu diakhiri dengan pendinginan. Oleh karena itu, selanjutnya kita tidak akan berkerja keras lagi. Kita menamakannya; #KerjaSantai. Sudah kukirimkan isinya masing-masing kepada kalian, bukan? Tak ada lagi, penekanan, tuntutan, atau beban di kepala. Legakan pikiran, hela napas, dan regangkan bahu kalian. Kalau katanya Azhar sih, “Kita sudah punya banyak waktu lagi untuk cari cewek,” Haha.. .bisa benar juga.

Kita, yang awalnya “berlari”, kini akan belajar “terbang” karena beban di kepala sudah mulai dilepaskan. Semoga, terbangnya kita bisa menjadi pemandangan yang cukup mengesankan bagi orang-orang lainnya yang masih berlari di atas permukaan.

Penutup, terima kasih untuk kerja keras kalian. ^_^.




--Imam Rahmanto--

Jumat, 29 Maret 2013

Sepele? Memang

Maret 29, 2013

Apa kabar hati yang terluka? Entah hatiku atau hatimu… Semoga engkau baik-baik saja usai membatalkan pertemuan kita kemarin. Maaf, hingga saat ini aku masih berusaha menyadarkan pikiranku; benar atau salahkah yang kulakukan.

Hm…apa yang terjadi? Engkau tahu sepenuhnya seperti apa aku, seperti halnya engkau pernah menganggapku sebagai orang terdekat bagimu. Aku berusaha mempercayainya, karena aku memang selalu memaksakan diri untuk mempercayaimu. Jujur, kau cukup spesial bagiku, lebih dari siapapun.

Tahukah engkau, cukup lama aku menantikan momen perdana itu hanya untuk bisa menyaksikan pemutaran film yang diangkat dari novelet yang pernah kubaca, Madre. Aku sangat penasaran dengan jalan ceritanya, yang mungkin akan semenarik Perahu Kertas. Apalagi dengan ditemani engkau yang jauh hari sudah mengiyakan dan tak kalah antusiasnya dengan ajakanku.

“Akhirnya ditraktir nonton lagi. Janji ya?” Engkau memastikan.

“Pasti,” ungkapku memastikan. Bagaimanapun jadinya, aku memang akan berusaha untuk memenuhi setiap janjiku padamu. Aku tak pernah ingin orang lain berharap kosong padaku. Sekecil apapun itu. Se-sepele apapun itu.

Maka sejak saat itu aku berusaha semampuku agar ketika hari itu tiba aku bisa memenuhinya. Kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi seorang mahasiswa sepertiku? Apalagi seorang mahasiswa yang juga punya aktivitas lain di luar kuliah. Seorang mahasiswa yang juga harus memperhatikan kondisi orang lain, selaku pimpinan ataupun orang yang dituakan. Yang tentu saja sedikit banyak akan menguras kondisi keuanganku. Tapi, aku selalu percaya dan yakin, aku bisa memenuhi janjiku pada tanggal itu.

“Meskipun kita tidak punya uang untuk saat ini, tapi saya selalu percaya pasti akan ada jalan untuk itu. Apalagi ini kan menyangkut kebaikan orang lain,”

Aku senang mendengarnya, pernyataan yang diucapkan oleh salah seorang petinggi kampusku ketika aku mewawancarainya beberapa hari yang lalu. Pada dasarnya, ia punya prinsip yang sama denganku. Selalu percaya. Just believe it!

Pikiranku akhir-akhir ini banyak diisi oleh sesuatu. Sesuatu yang menyangkut diri sendiri dan sesuatu yang menyangkut kepentingan orang lain. Tapi tak pernah sekalipun aku berusaha mengeluh, apalagi di depanmu. Karena biasanya engkau yang lebih banyak bercerita padaku, tentang segala hal yang mengganggu pikiranmu. Wajar, ketika menanti waktu kemarin, pikiranku bisa sedikit terbuka dan berusaha untuk mengosongkan semuanya di hari itu. Sedari awal, mungkin seminggu, aku telah merencanakannya. Refresh out.

Dan ternyata, selalu percaya, benar-benar membukakan segala jalan untuk tujuanku. Menjadikan hari itu deadline bagi segala upayaku benar-benar cukup efektif untuk membuatku berpikir taktis. Seperti halnya film 5cm;

Gantungkan impianmu (tujuanmu) 5cm di depan keningmu, maka setiap hari, setiap waktu, setiap mengerjakan apapun, engkau akan selalu melihatnya dan terdorong untuk berbuat ke arah sana. 

Sedikit hal yang kupelajari dari film (yang lagi-lagi) diangkat dari novel tersebut. dan seperti itulah yang selama ini kulakukan.

“Kenapa mesti hari itu? Kan bisa hari lain?”

Apa kau belum memahami? Aku sungguh berharap memenuhi janjiku di hari itu. Selain itu, waktu perdana itu begitu berharga buatku. Sepele? Ya, Mungkin. Akan tetapi, seperti yang kau ketahui, aku yang selalu dianggap teman-temanku bersikap kekanak-kanakan (karena aku memang suka seperti itu), menyimpan seuatu yang lain di hari itu. Aku masih saja Imam yang suka menonton film Naruto, One Piece, atau anime-anime lain yang menurutku keren dan menarik. Pada dasarnya orang-orang Jepang menempatkan anime sebagai ajang pembelajaran moral bagi anak-anak, maupun orang dewasa.

Seandainya saja..., aku senang bisa mengajakmu dan bahkan membuatmu tersenyum atau malah tertawa.  Sejenak melupakan beban pikiranmu akhir-akhir ini. Bukannya akhir-akhir ini kau merasa dijejali dengan beragam masalah? Masalah yang katamu membuatmu tidak jadi dirimu sendiri. Masalah yang katamu hanya bisa kau ceritakan pada teman-teman terdekatmu. Masalah yang terkadang membuatmu mengucurkan air mata. Hei, jangan terlalu banyak menangis. Menangis mencirikan kelemahanmu. Kata guruku di SD dulu, keseringan menangis akan menguras air mata hingga bisa membuat mata buta. Hehe..lelucon anak kecil. Tapi,setidaknya, menangislah ketika seseorang telah hadir untuk menghapus air matamu.^_^.

Hari itu, mungkin aku ingin mengubah segala pandanganmu beberapa hari terakhir tentangku,

“Kenapa berubah? Tidak peduli lagi denganku,” katamu. Nyatanya, ada hal-hal yang sengaja tidak kubagi dengan orang lain sebelum benar-benar bisa memastikannya.

Oh ya, (sambil tersenyum), teman-temanku mungkin berpikir aku sedikit melankolis melalui surat ini. Hehe..hanya saja sedikit malampiaskan segala kekecewaanku pada tulisan semacam ini bisa sedikit menghapusnya. Sepele? Memang. Aku hanya berusaha memenuhi konsistensiku pada #7days7letters yang sementara ini kami jalani; aku dan teman-temanku. ^_^. Hmmkeluar dari passion tulisanku sedikit, terkadang memberikan pengalaman baru, termasuk saraf-saraf baru di pikiranku.

(int)
Maaf, apa yang terjadi padaku tentu tidak semuanya seperti yang kau ketahui. Kau  tidak bisa menembus batok kepalaku hanya untuk meyakinkan diri bahwa aku benar-benar tidak berusaha keras memenuhi hari itu. Aku pun tidak mungkin bisa dan tega menembus alam pikiranmu hanya untuk meyakinkan diriku bahwa engkau benar-benar tidak berbohong padaku.

“Maaf,” seperti katamu. Mungkin akulah yang perlu meminta maaf, yang mungkin (semoga tidak) membuatmu  lagi-lagi harus menangis. Tapi, aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran, menyibukkan pikiranku, dan melupakan waktu kemarin.

Sebenarnya, aku pula yang bodoh. Tanpa menanyakan padamu sebelumnya, langsung saja ingin memastikan langsung tempat disana. Hehsaking bersemangatnya, ingin menjauh dari sedikit rutinitasku sehari-hari.

“Karena cerita ini cukup bestseller, mungkin saja akan ada banyak penonton yang menyaksikan film perdananya,” pikirku. Dan kenyataannya, memang ada banyak orang yang menantikan film itu, seperti halnya aku yang menanti-nanti waktu itu….


--Imam Rahmanto-- 


Rabu, 27 Maret 2013

Berpikir Fokus Lebih

Maret 27, 2013
Aduh, ini surat yang kesekian kalinya ya, Tuhan? Maaf. Tapi, aku pastikan, kali ini bukan keluhan yang sampai padaMu, melainkan aku ingin bercerita layaknya seorang teman padaMu. Itu menandakan aku masih dekat denganMu.

Tuhan, ada berapa banyak waktu yang Engkau anugerahkan kepada kami, manusia? Menurut perhitungan kami sih 24 jam sehari. Oleh karena itu, sebanyak apapun aktivitas yang kami pilih untuk digeluti, sebanyak itu pula kami harus cerdas membaginya, pandai memilahnya. Bahkan, kalau perlu “licik” mengakali tiap waktu itu.
(google.com)

Aku seringkali merasakannya, Tuhan. Bagaimana ketatnya waktu yang Kau hadiahkan untuk kami. Banyaknya pekerjaan yang harus dijalani dalam sehari terkadang memaksa otakku untuk berpikir lebih dari satu fokus. Ketika aku menjalani aktivitas “A”, aku sedikitnya harus pandai mencuri waktu untuk memikirkan rencana untuk aktivitas “B”. Ketika menjalani yang “B”, kalau ada waktu luang ya berpikir lagi untuk rencana selanjutnya. Pokoknya, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya aku harus pandai mengatur waktu juga. :)

Aku ingin bercerita, Tuhan…

Seperti pagi ini, ketika aku salah memakai shampoo di kepalaku. Saking kerasnya berpikir hal-hal lain, aku sampai tidak sadar memandikan kepalaku dengan sabun mandi cair yang seharusnya diusapkan di seluruh tubuh. Aku baru menyadari “shampoo asal” itu ketika selesai membilas kepalaku dan sadar sesuatu yang aneh dengan rambutku.

Lha, kok rambutku agak keset ya? Bukannya malah halus,…” gumamku. 

Hahaha…barulah pikiranku kembali pada dunianya sesaat dan mengetahui “shampoo” yang barusan aku gosokkan di kepalaku itu adalah sabun mandi. Konyol! Hahaha….

Akan tetapi, sedikit demi sedikit, aku mulai belajar bagaimana caranya berpikir dan memanfaatkan waktuMu, Tuhan. Seketat-ketatnya waktu yang ku-pola-kan untuk hari-hariku, aku selalu berusaha untuk membaginya dalam ritem-ritme tertentu. Oleh karena itu, tak perlu heran kalau ada banyak pekerjaanku yang dikerjakan secara mepet dan kepepet. Mepet dan kepepet itu yang kemudian mengajarkan kita untuk berpikir secara taktis. Dalam hal lain, mungkin, sedikit “licik” yang kooperatif. Hehe..

Hari ini aku merasakannya. Bagaimana Engkau memudahkan setiap jalan yang kulalui. 

Ada satu hal yang kemudian menjadi pertanyaanku, Tuhan? Mengapa semenjak aku membiasakan diri (baru sekitar dua hari yang lalu) membaca kitabMu, Al-Quran, setiap usai shalat, selalu saja ada kemudahan-kemudahan yang Kau jatuhkan untukku. Kata orang, kebetulan? Tapi, bagiku, itu kenyataan. Ada hal-hal “magis” yang diluar perkiraanku yang selalu bisa memudahkan kesulitanku.

Oh ya, maaf, aku baru mulai membiasakan diri membaca kitabMu beberapa hari ini, meski hanya satu-dua halaman tiap usai shalat . Masih ingat, kan saat-saat bulan Ramadhan aku selalu menghabiskan waktu Dhuhur-Asharku dengan kedua orang temanku di rumahMu? Kalau tidak mengaji (sebentar) ya tidur siang – bersih-bersih – adzan. Yah, aku sadar, meskipun aku tak se-alim orang-orang di luar sana yang selalu beribadah padaMu. Maaf, …

Dan semakin aku membacanya, semakin yakin pula aku akan bantuanMu. Yah, beragam bentuknya. Bagaimana Engkau mengatasi rasa kelaparanku (maklum anak kost), bagaimana Engkau menunjukkan jalan untuk aktivitasku, bagaimana Engkau memudahkan urusanku.

Dari segala keruwetan berpikir itu, Engkau mengajariku sejak dini agar bisa mengatasi segala pekerjaan yang dibebankan padaku. Aku tahu, Engkau mungkin saja menyiapkanku untuk menghadapi dunia luar nanti. Kau memompa pikiranku, keluar dari “zona nyaman”ku hanya untuk menunjukkan bahwa, “Seperti inilah yang namanya Kerja Keras,” maka semakin ku menyadari betapa berharganya setiap pemberian orang tua. 

“Darimana datangnya semangat itu?” Engkau bertanya melalui pikiranku.

Pikiranku lantas merespon, “Dari setiap orang yang selalu percaya padaku dan untuk orang yang selalu menjadi bagian atau cabang-cabang hidupku,” Nah, aku hanya bisa mengangguk.

Tuhan, ada pula namanya bersyukur. Lagi-lagi aku harus bersyukur bagaimanapun keadaan yang menimpaku. Trus, ada pula yang namanya berbagi. Apapun bentuknya, materi maupun non-materi, Engkau mengajarkanku untuk selalu membaginya. Like it!

Akhirnya, aku harus tersenyum dan meyakininya usai menjalani proses peliputanku siang tadi dengan salah satu petinggi kampus. Aku tersenyum lebar, sumringah. 

Rezeki, anugerah, kemudahanMu selalu ada untuk orang yang mau gigih berusaha. Keras, sekeras-kerasnya. Terima kasih.


--Imam Rahmanto--


Apa Kabar ImamS?

Maret 27, 2013
Apa kabar denganmu disana, Imam? 

Akh, sebenarnya agak risih juga memanggil sendiri namaku untukmu. Tapi, bukankah nama yang sama sejak dulu melekat pada persahabatan kita, bukan? Aku Imam Rahmanto. Engkau Muh. Imam Saleh. Orang-orang memanggil kita sama, Imam. Untuk memperjelas, mereka membedakan kita dengan “Imam R” dan “Imam S”. Haha…cukup lucu, bukan? Tidak lebih lucu dibandingkan waktu bermain kita yang sering dihabiskan bersama.

Sejak kecil, kita telah bersahabat. Meskipun engkau tak menikmati Taman Kanak-Kanak, namun hari-hari kita dilewati dengan bermain bersama. Apalagi ketika menginjak bangku sekolah dasar, kita semakin akrab dan menjadi teman baik. 

Apa kau ingat, tentang majalah Bobo yang selalu kita beli bersama-sama. Ada banyak koleksi majalah Bobo itu di rumahku, dan di rumahmu. Kita tak pernah melewatkan membacanya. Kita memang sama, suka membaca. Karenanya, mungkin berpengaruh dengan keadaan di sekolah kita.

Kita tidak hanya bersaing dalam nama, namun dalam urusan “ranking-ranking” saja kita juga menjadi rival sejati. Aku berada di ranking satu, engkau ranking dua. Aku ranking tiga, engkau ranking empat. Hal it uterus berlanjut hingga kita sama-sama sekolah di SMP yang sama. Lepas dari itu, engkau memilih untuk sekolah di SMA yang berbeda denganku, sekolah yang jauh dari tempat tinggal kita. Kata orang, itu sekolah unggulan. Bagiku, semua sekolah sama saja.

Sejak itu pula, kita tidak lagi menjalani hari-hari di sekolah bersama-sama. Engkau sekolah agak jauh disana, yang setiap hari harus ditempuh dengan mengendarai angkutan umum antar kecamatan atau nebeng di kendaraan teman. Sementara aku, hanya berjarak kurang lebih tiga kilometer dari tempat tinggal kita. Meskipun demikian, kita amsih sering bertemu dan kumpul bersama-sama selepas pulang sekolah.

“Aku mau menamakannya D’Blazen gank, deh,” ujarku suatu hari. Lucu. Asal-asalan. Nama yang aku petik dari tempat tinggal kita, Belajen. Aku mengajukan saran untuk nama kelompok pertemanan kita. Bukan hanya kita berdua, kan? Ada banyak teman lainnya yang masih sering berkumpul, meskipun kini masing-masing telah melanjutkan ke perguruan tinggi yang berbeda-beda. 

Ada Reski yang sejak SMP-nya telah memilih sekolah yang berbeda dengan kita. Tapi, aku dan dia kemudian melanjutkan sekolah di SMA yang sama dengannya. Nining, yang kataku dan katamu adalah anggota DPR sejati alias urusan DaPuR. Soal dapur, dialah ahlinya, Jadinya, jika lebaran tiba, kita selalu beramai-ramai berkumpul di rumahnya. Ada pula Agus, teman sesama Jawa-ku. Namun, bisa dibilang dialah yang paling royal diantara kita. Lalu ada pula Jais, teman paling cool (menurutnya) diantara kita. Dia banyak mencari pacar sana-sini. Lalu, ada pula Nia, yang meskipun jarang gabung dengan kita, tapi di acara-acara besar dia selalu menyempatkan diri hadir bersama kita.

Kusma, yang menurut orang, adalah yang tercantik diantara teman-teman kita. Tak heran dia jadi primadona di sekolahj yang sama denganmu. Trus, ada pula Maul. Yah, meskipun semenjak memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) dia sudah jarang bergaul dengan kita. Hanya sesekali saja dia “tidak sengaja” menampakkan diri di depan kita. Nyaris sama dengan Anto, karena kesibukannya membantu usaha ibunya, agak jarang ngumpul.

Akh, aku rindu dengan mereka, ImS. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, pada mereka, pada kalian. Aku ingin berbagi cerita denganmu…  

Seperti halnya dulu ketika aku meluangkan waktu untuk ikut denganmu ke sawah milk keluargamu. Aku tak punya sawah disana, maka aku ingin membantumu di sawah. Di sana, kita bergantian melempari burung-burung yang mematuk-matuk padi yang sebentar lagi dipanen. Di gubuk-gubuk kecil, aku banyak bercerita, dan engkau pun banyak bercerita.

Seperti halnya kini, aku ingin banyak bercerita padamu…


--Imam Rahmanto--

Selasa, 26 Maret 2013

Terima Kasih Tuhan

Maret 26, 2013
(google.com)
Tuhan, pagi ini aku terlambat bangun pagi. Tentu saja, aku juga terlambat menunaikan kewajbanku padaMu, Shalat Subuh. Tapi, aku tetap kekeuh untuk menjalankannya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Untung saja, kuliahku hari ini tidak mengambil waktu di pagi hari. Aku tidak perlu telat lagi seperti semester-semester sebelumnya.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kusampaikan padaMu. Maaf, tapi bukan keluh kesahku. Cukuplah beberapa waktu lalu keluh kesahku menguap, melebur melalui doa yang kupanjatkan padaMu. Lepas dari itu, ada banyak kesyukuran yang kemudian harus aku sampaikan padaMu. Karena pada kenyataannya, Engkau telah benar-benar memberikan kemudahanMu padaku. Dan aku semakin percaya, Engkau selalu memudahkan jalan setiap orang yang ingin berusaha.

Bukan kebetulan ketika Engkau menjalankan rencanamu untuk menjerumuskanku mengulang di beberapa mata kuliahku tahun ini. Aku sendiri tidak begitu mengerti, mengapa semua waktuku kala itu bertepatan dengan segala hal terkait organisasiku, tanggung jawabku. Yang tentu saja berimbas pada aktivitas-aktivitas kuliahku.

Bukan kebetulan ketika aku kini mendapatkan banyak teman-teman baru (yang lebih muda) ketika menjalani mata kuliah yang mengulang. Aku beruntung bisa menempatkan diri sebagai seorang teman bagi mereka. Menempatkan diri sebaya satu sama lain. :)

Ketika mendengarkan orang lain sibuk bertanya sana-sini mengenai “skripsi” atau “selesai”, kini aku bisa berlalu begitu saja tanpa harus mengusap-usap dada. Ada banyak rencana mulus di kepalaku yang telah siap kujalani ketika selesai menjalani kuliah. Tak perlu diracuni dengan beragam gundah gulana tentang “cepat-cepat selesai” kuliah.^_^.

Engkau selalu punya rencana. Rencana yang selalu terbaik bagi siapa saja, meskipun terkadang ada banyak orang yang menampik untuk menerima kenyataan itu.

Tuhan…

Aku berterima kasih atas segala hal yang telah kau berikan dalam hidupku. Jika boleh meminta, aku ingin agar Engkau memberikanku lebih banyak kesabaran lagi. Lebih banyak semangat lagi. Lebih banyak senyuman lagi. Dan biarkan orang lain tahu dan meminta hal yang sama  padaMu. ;)

Dan aku berharap keluargaku disana baik-baik saja…


--Imam Rahmanto--



Minggu, 24 Maret 2013

Bunda = Semangat

Maret 24, 2013
(ilustrasi-Imam)
Hai, Bunda! Bunda yang selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan sekolahnya. Bunda yang selalu sibuk mengurus anak-anaknya. Bunda yang selalu sibuk mengurus “adik-adik” saya. Bunda yang selalu sibuk mengurus ibu-ibu lain. Bunda yang selalu tak punya waktu untuk mencapai impiannya. Tapi… Bunda yang selalu membagi motivasi dan impiannya untuk saya (dan kami), murid tercinta.

Apa kabar disana, Bunda? Apa kabar dengan kesibukan-kesibukannya?

Sedikit saja, Bunda tak pernah bisa istirahat barang sejenak. Terbiasa begadang di masa mahasiswa dulu, mungkin sedikit menjadi modal bagi Bunda untuk seperti sekarang ini. Bunda pernah bilang kan, “Bunda sebenarnya tidak ingin lagi sibuk-sibuk seperti ini. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Kalau orang sudah mempercayai kita, dengan memberikan amanah, tugas kita untuk tidak mengecewakannya, kan?” Saya selalu mengingat pesan itu.

Ya, amanah. Saya pernah mendengar, tidak ada sesuatu yang lebih berat atau sangat berat di dunia ini ketimbang memikul amanah. Maka wajar ketika sebagian besar orang diberikan amanah bakal mengeluh setengah mati.

“Mengeluh tak akan pernah menyelesaikan pekerjaan,” ujar Bunda lagi suatu waktu. Dan saya banyak belajar hal itu dari Bunda. ^_^.

Bunda, ada banyak hal yang ingin saya ceritakan ketika kita bertemu lagi. Seperti setiap kepulangan, saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Bunda. Bercengkerama. Bercerita segala hal. Ya, segala hal. Hingga saya terkadang lupa diri mengobrol sampai larut malam. Hanya sms dari bapak yang kemudian menyuruh pulang untuk mengakhiri perbincangan malam itu.

Beberapa kali ketika kemarin saya sempat mendapatkan musibah, saya terpikirkan kembali oleh kata-kata Bunda. Meski hanya dikirimkan lewat sms, tapi sedikit bisa melegakan hati. Bahkan, tahukah Bunda, saya sempat dibuat menitikkan air mata.

“Musibah itu tak memilih org yg akan ditimpax. So...jangan kecil hati dan terpuruk dgn keadaan tsb. Tak selamax kan, keberuntungan itu ada pd kita. Ada waktu kita jg akan diajar u/ kecewa.. Tak apalah tuh! Tawakal..tawakal..tawakal, yuk!”

“Bunda yakin, kepercayaan itu tak akan luntur hax krn kita dpt musibah. Yg penting kita tetap menjaga amanah mrk dgn benar. Bunda bisa kok jd pendengar yg baik, walau bunda yakin bukan org spt bunda yg ingin dijadikan tmp berbagi. Ayo..buka diri dan buka hati. Agar org dpt mengenal siapa nanda. Yg pasti, tetaplah shalat. Krn dgn shalat kita dapat bersabar.,”

Yah, apa yang dikatakan Bunda kala itu memang cukup melegakan untukku. Ada banyak semangat lainnya yang pantas ditularkan. Bahkan, Imam Rahmanto yang sekarang adalah hasil tempaan motivasi yang selama ini diajarkan oleh Bunda. Bagaimana menjadi orang yang tak pernah menyerah. Bagaimana menjadi orang yang selalu percaya. Bagaimana menjadi orang yang selalu konsisten. Bagaimana cara belajar mengelola hati.

“Sebenarnya kalau Bunda masih muda dan diberi kesempatan, sebenarnya ada banyak impian dan ide-ide kreatif yang ada di kepala Bunda. Hanya saja, yang tersisa sekarang, penyesalan-penyesalan karena tidak melakukannya dari sekarang,”

Saya percaya dengan banyak impian-impiannya Bunda. Bunda pernah bercerita tentang masa-masa mudanya yang tomboy. Menjalani kuliah dengan aktivitas organisasi yang nyaris sama denganku. Jurnalis muda.  Meliput kesana-kemari. Bedanya, dulu teknologi masih belum secanggih zaman sekarang.

Akan tetapi, impian Bunda menjadi penulis terhenti. Mungkin Bunda pun perlahan harus merelakannya. Belajar untuk ikhlas.

“Orang tua menginginkan Bunda jadi guru,”

Bagaimanapun kisah kelam Bunda menjadi mahasiswa, orang tua Bunda selalu memberikan kasih sayang yang besar.  Mereka peduli. Mereka percaya. Dan mereka tentunya banyak mengajarkan tentang hidup pada Bunda. Darimana saya bisa tahu? Lah, Bunda sendiri yang menceritakannya. Biasa….kalau kita sudah ngobrol, apalagi di dapur rumah Bunda, segalanya mengalir begitu saja.

Apa Bunda masih ingat ketika pertama kalinya saya nembak seorang perempuan di kampus? Dan pertama kalinya juga saya merasakan sakit hati. Ternyata benar-benar sakit ya? Malam itu juga, saya kemudian menjadikan Bunda sebagai ladang curhat. Akh, memalukan sebenarnya. Anak didikmu yang selama ini tak pernah mampu mengungkapkan perasaannya, tak pernah bercerita tentang perempuan, tetiba berubah melankolis malam itu. Lewat telepon, saya mengumbar semuanya.

Di seberang sana, Bunda tertawa meledek. Sedikit mengolok-olok tentang perasaan saya. Sembari tetap menguatkan dengan kata-kata bijak. Di sisi telepon lain, saya hanya bisa manyun dan membenarkan semua perkataan Bunda.

“Bunda yakin, selalu ada banyak tempat untuk belajar. Kamu belajar sakit hati, ya dari sini. Katanya, Tuhan selalu mempertemukan kita dengan orang-orang yang salah terlebih dahulu sebelum mempertemukan dengan orang-orang yang tepat,”

Saya tahu, Bunda di seberang sana selalu tersenyum tulus untuk murid-muridnya.

Nah, sekarang saya belajar dari tiap kesalahan, Bunda. Sekecil apapun itu, saya juga ingin menjadi seperti Bunda. Orang yang bisa menularkan semangat lewat ucapan, dukungan, atau bahkan hanya melalui tatapannya. Orang yang selalu menyibukkan diri dengan hal-hal berguna demi kepentingan orang lain. Orang yang tak pernah menghardik atau marah pada hal-hal sepele. Orang yang senang bercanda. Sadar atau tidak, semua yang ada pada Bunda sedikit demi sedikit menjadi contoh. Bahkan kesenangan saya pada dunia jurnalistik sedikit merefleksikan kehidupan masa muda Bunda dahulu, sedikit dari impian Bunda yang tertunda.

Sungguh, ada banyak hal yang selama ini telah saya pelajari dari Bunda. Kebijakan-kebijakan yang seharusnya banyak saya gali dari keluarga, malah tersalurkan melalui Bunda. Mungkin, yang namanya kebetulan di dunia ini memang benar-benar tak ada. Tuhan memang menghadirkan Bunda sebagai tempat saya mendapatkan sedikit kasih sayang dan kehangatan yang tak banyak terlupakan.

Bunda, sepertinya saya harus mengakhiri surat yang kesekian kalinya ini. Ini sudah surat yang ke berapa ya, Bunda? Lain waktu, saya akan berkunjung lagi ke rumah Bunda. Bercerita banyak hal. Dan,…tentu saja, tentang hati… Hahaha…dasar anak muda… !

Ps: Lain waktu, saya juga akan sangat senang hati menerima surat (elektronik) dari Bunda. :)


Dari anak didikmu tersayang,

--Imam Rahmanto--


Adikku, Sabar ya...

Maret 24, 2013
(google.com)
Apa kabar adikku? Bagaimana kabarmu kini? Dari yang kudengar lewat teleponmu tempo hari, engkau baik-baik saja. Engkau dengan begitu bersemangatnya menyapa diriku lewat telepon. Dan selalu saja dengan pertanyaan serupa,

“Kak, kapan pulangnya?”

Akh, hatiku terasa berat untuk menjawabnya. Lidahku kelu. Aku sendiri kenyataannya masih belum bisa menentukan waktu yang tepat untuk menemuimu beserta Pak'e dan Mak'e.

“Nanti kalau ada waktu libur dan waktu kakak sudah kosong, kakak bakal pulang, kok,” Jawaban yang selalu sama kulontarkan padamu. Apa kau mengeluh? Tentu saja tidak. Untuk menyembunyikan kerinduanmu itu kau lebih banyak bercerita tentang sekolah dan teman-temanmu. Tentang guru-guru baru. Tentang guru-guru lama yang selalu menanyakan keadaanku. Tentang ujianmu. Tentang notebook yang selalu kujanjikan untukmu. Aku senang mendengarnya. Senang bisa merasakan engkau masih cerewet, tidak jauh berbeda denganku. :)

Oh ya, bagaimana kabar Pak’e dan Mak’e? Semoga saja mereka juga masih merindukanku, meskipun aku sendiri sangat jarang melepas kerinduan pada mereka lewat telepon. Menyediakan waktu luang untuk menelepon saja aku masih harus berpikir dua kali. Ehm… kau tahu sendiri kan bagaimana kondisiku selama ini dengan ayah? Aku hanya tidak ingin mendengarkan segala hal yang tidak diinginkan oleh hatiku.  Tapi, ternyata malah Pak’e sendiri yang selalu menelepon dan mencoba menanyakan kabarku. Maaf, aku masih belum bisa menghilangkan sebagian besar masa lalu itu…

Aku tahu dari cerita-ceritamu tempo hari, engkau kini sudah kelas 3 SMP. Padahal aku menebak waktu itu engkau masih di seputar kelas 2 SMP.

“Bukan! Ih, kakak ndak tahu tentang adiknya sendiri,” ujarmu membenarkan.Yah, mau bagaimana lagi? Ada banyak hal yang silih berganti menempati pikiranku hingga segala hal tentang keluarga dan juga kau sedikit terlupakan. Maaf, ya... Tapi nama lengkapmu selalu aku ingat, kok. Dewi Rahmayanti. #ngeles. Malah, tanggal lahirmu menjadi password pembuka pin kartu GSM-ku.

Dan aku tahu, pasti tubuhmu masih “berisi” seperti empat bulan yang lalu, bukan? Bukan, bukan. Karena engkau memang sejak kecil sudah lebih "berisi" dibandingkan aku. Aku selalu merasa, ada yang salah denganku, ketika menyaksikanmu begitu tembem dan menggemaskan. Sebanyak apapun aku mengonsumsi makanan bergizi, berat badanku tak akan naik. Minum obat cacing pun kayaknya tidak bakalan mempan. Hehe..

Tapi, dengan gemuk yang “cukup” itu menandakan engkau masih sehat dan selalu ceria. Biar gemuk, masih saja jadi yang paling kecil diantara teman-temanmu yang lain. Hahaha..

Oke, sudahlah. Berhenti mengolok-olokmu. ^_^. Padahal sebenarnya aku sangat merindukan bisa mengolok-olokmu di rumah. Menyuruh-nyuruhmu membantu ibu. Atau bahkan berkelahi denganmu hanya karena masalah-masalah sepele. Biar perempuan, kalau denganku, engkau tak mau kalah begitu saja. Apa kabar denganmu? Apakah engkau sudah bisa membantu ibu di dapur?

Oke, oke. Terlepas dari semua kerinduanku untuk pulang ke rumah, aku tetap senang melihatmu tumbuh dari sini. Aku juga sangat berharap, engkau bisa membangun mimpimu dari sekarang. Semiskin-miskinnya keluarga kita, selama aku dan engkau punya impian, segala hal yang “tak mungkin” akan menjadi “pasti”. Percaya itu. Just believe it! 

Engkau tak perlu risau, apakah engkau akan bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di kota ini. Atau malah di perguruan tinggi di Jawa, tempat kelahiran Pak’e dan Mak’e beserta semua keluarga kita berada. Pasti bisa! Selama engkau selalu menanamkan impian itu 5cm di depan keningmu, semua bakal terwujud. Mengutip dari film yang pernah kakak tonton. ^_^.

Oh ya, nampaknya aku juga ssat ini masih belum bisa memenuhi janjiku padamu. Engkau pasti selalu menantikan notebook yang selalu kujanjikan tiap meneleponmu.

“Nanti kalau kakak sudah punya uang , banyak, biar kakak saja yang belikan notebook untukmu,” ujarku selalu. Karena aku sendiri yakin, meskipun entah kapan, kelak janji itu akan kupenuhi untukmu. Hanya persoalan waktu saja, adikku.

“Iya, Kak. Disini juga aku biasanya kerja tugas sama teman-temanku yang punya laptop. Biasa juga sama-sama online. Di sekolahku juga sudah ada hotspotnya. Oh ya, disana juga…” ceritamu tentang laptop beserta kawan-kawannya. Akh, kau begitu mengidamkan memiliki produk canggih itu. Tunggulah sebentar lagi.

Wah, maaf ya, Wi. Aku harus mengakhiri suratku ini dulu. Ketika menulis surat ini, aku sedang berada di rumah salah seorang temanku. Mengerjakan sedikit bisnis kecil. Tuh, kan! Aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan mereka hanya untuk bercerita panjang denganmu. Lain kali, akan kita sambung lagi deh surat ini.

Selain itu, aku bela-belain menuliskan surat ini untuk memenuhi #days7letters yang beberapa hari kemarin telah aku sepakati dengan teman-temanku. Yah, setidaknya sedikit melatih konsistensi dan kecakapan menulis. ^_^. Semoga disana engkau juga suka dengan menulis dan membaca.

Nah, terakhir, sampaikan salamku buat Pak’e dan Mak’e ya!! See yaa!


--Imam Rahmanto--

Selasa, 19 Maret 2013

Polisi dan Kartu Pers

Maret 19, 2013
Pagi tadi, saya benar-benar mengalami kejadian yang cukup lucu. Bukan bermaksud mengompori yang lainnya, yah. Saya sarankan, ini bukan untuk ditiru…

Pagi ini, cerah, dan saya bermaksud untuk memulai hari dengan beberapa rencana liputan di kepala saya.

Baru saja saya lewat di depan persimpangan jalan pulang menuju ke kost-an saya, tepat di depan warung gorengan, seorang polisi dengan pakaian hijau-hijaunya sudah menghadang saya. Ia  memberikan isyarat untuk menepikan kendaraan saya. Sembari meraih kunci motor, saya digiring masuk ke sebuah ruangan kecil di samping warung gorengan itu. Nyatanya, apa yang dilakukan oleh kedua orang polisi ini tampak mencurigakan bagi saya. Bagaimana tidak, setiap orang yang melanggar digirng masuk ke dalam, dan mungkin saja dilobi dengan penawaran-penawaran tertentu dari polisi. Biasalah…

“Apa ini?” Seorang polisi di meja melihat kunci motor saya yang dihiasi gantungan kartu pers dari kampus saya. “Pers kampus…” gumamnya sedikit pelan.

Seperti yang sudah saya rencanakan sebelumnya, jika darurat bertemu polisi, saya sedikit beralasan;

“Maaf, Pak. Saya buru-buru nih. Mau meliput di kampus,” ujar saya meyakinkan sambil tetap santai pada polisi itu. Padahal saya berpakaian seadanya: celana pendek – kaos – jaket – tas. 

“Ah, kamu itu! Mana STNK-mu? Apa pelanggaranmu?” tanyanya agak menggertak. Saya sudah terbiasa mendapati hal seperti ini.

“Waduh, gara-gara saya ndak pakai helm, Pak,” Masih saja saya tersenyum cengar-cengir pada polisi itu. “Maaf, Pak. Soalnya saya lagi buru-buru, makanya ndak sempat pakai helm,” tutur saya lagi.

“Kalau begitu cepat ambil dulu sana! STNK-mu simpan dulu,” Saya lantas menyerahkan STNK milik saya. Sekaligus menyerahkan SIM saya, agar terlihat meyakinkan. Pasalnya, pajak kendaraan motor saya sudah mati semenjak sebulan yang lalu.

“Ini yang kedua kalinya, bukan?”

“Ah, kedua darimananya, Pak?” saya mengelak. Kenal dengan polisi ini saja tidak.

“Beberapa waktu lalu, pas di Maranca, kan kamu?” yakinnya.

Ah, saya ingat! Benar juga! Kebetulan beberapa hari yang lalu, saya juga sempat ditahan oleh polisi lalu lintas juga, tidak jauh juga dari redaksi saya,gara-gara orang yang saya boncengkan tidak mengenakan helm. Darimana polisi ini mengenal saya ya? Apa muka saya terlalu sulit untuk dilupakan?

“Oh iya, ya, Pak? Hehe..” saya masih saja cengar-cengir, sembari berlalu meninggalkan polisi tersebut.

Karena jarak redaksi yang dekat, maka mudah saja bagi saya untuk mengambil helm disana. Setelah memperlihatkan “bukti” helm kepada Pak Polisi itu, maka saya segera dilepaskan, dengan ancaman, “Kalau kamu melanggar untuk yang ketiga kalinya, awas saja, saya akan laporkan ke kampus kamu mencabut kartu pers-mu.” Dalam hati, saya hanya tertawa mendengar ancamannya. Hahaha…

Nah, beberapa kali sebenarnya saya sudah menghadapi polisi-polisi lalu lintas semacam itu. Ada-ada saja yang menjadi alasan mereka untuk membenarkan tindakan “pemerasan” pada pengguna kendaraan bermotor. Dari hal-hal sepele sampai hal-hal yang tidak masuk akal. Sebelum saya digirng masuk kesana pun, sudah ada beberapa orang yang sementara "diinterogasi".

Saya tidak akan pernah lupa, ketika pertama kalinya berada di Makassar dan pertama kalinya kena “tilang”. Saya harus mengosongkan uang terakhir saya di Makassar hanya untuk membayar uang tebusan “akal-akalan” polisi itu. Bayangkan loh, itu persediaan uang terakhir saya di Makassar, Rp 33.500,-. Semuanya ludes diembat oleh polisi yang menilang saya. Jengkel, bukan?

Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, saya tak ingin lagi merasa takut untuk berhadapan dengan polisi-polisi lalu lintas itu. Jika dulu, setiap saya melintasi sweeping polisi harus merasa dag-dig-dug, kini saya malah merasa tertantang untuk berhadapan dengan para polisi itu, ketika memang saya tidak melengkapi atribut kendaraan motor saya. Entah kenapa, saya tidak begitu suka jika harus merendah berhadapan dengan seorang polisi. Apalagi dengan label “wartawan” yang sudah disematkan kepada kami, para pelaku media.

Oh ya, sejak dulu pun saya tidak pernah tahu, hal apa yang menyebabkan para polisi tidak ingin berurusan dengan para wartawan-wartawan sebuah media. Entah doktrin seperti apa pula yang ditanamkan oleh atasan mereka tentang sosok seorang wartawan.

“Jangan cari masalah dengan wartawan,” Mungkin seperti itu yang selalu disampaikan oleh atasan-atasan mereka di kepolisian. Hehe…

Terlepas, memang sih, sebenarnya ada undang-undang yang mengatur tentang kebebasan menjalankan tugas wartawan itu, Pasal 8 Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers:

"Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum."

Dan mungkin saja, undang-undang ini yang selalu menjadi tameng bagi setiap wartawan jika harus berhadapan dengan hukum. Oleh karena itu, kejadian-kejadian tentang polisi, yang bersiap menilang, tak bakalan berkutik lagi ketika menghadapi kartu pers. Saya sudah sering menemukan hal demikian. Selamat!

(google.com)


--Imam Rahmanto--


Minggu, 17 Maret 2013

Berbagi Semangat di Ujung Bone (3-end)

Maret 17, 2013
It just about adventure, knowing, and experience….
 

Tahu tidak, mading berbentuk hati itu adalah hasil "kerjaan" para laki-laki "Calaccu". (Nizar-Al Ikhlas)

Tidur saya cukup nyenyak malam itu. Setelah sekian lama hanya bisa tidur di atas lantai berbalut karpet dengan bantal seadanya, kali ini kami benar-benar dimanjakan dengan ranjang spring-bed layaknya di wisma-wisma maupun penginapan berkelas. “Bagi kami, kalian sebagai tamu VIP kami,” Akh, Kak Akbal cukup pandai membuat hati kami tersanjung.

Saya mengawali pagi itu dengan berjalan-jalan di sekitar lingkungan Pesantren bersama salah seorang teman saya. Menyesal juga tidak sempat membawa kamera.

“Ah, iya! Kenapa kita tidak bawa kamera?!” seru saya di tengah perjalanan ketika mobil sementara mengantarkan kami ke Pesantren. Teman saya yang lainnya menunjukkan ekspresi raut wajah yang nyaris sama; penyesalan mendalam.

“Saya kan sudah bilang, saya sudah minta ke sekretaris tapi ia keras kepala tidak memperbolehkan,” ujar teman saya membela diri. Dan kami harus mencari sendiri cara untuk bisa mendokumentasikan kegiatan  tersebut nantinya. Beruntung, di pesantren sendiri, anak dari Ketua Yayasan memiliki kamera SLR. Ia mengaku, memang hobi pada fotografi dan berinisiatif mendokumentasikan kegiatan tersebut.

Pelatihan tentang pengelolaan mading yang dimulai selepas Jumat langsung ditangani oleh kami bertiga. Secara panel, kami menjelaskan tentang tata cara pembuatan dan pengelolaan mading. Sebenarnya, konsep pembuatan mading itu sendiri, tidak serta-merta bisa diajarkan dalam beberapa jam saja. Teori-teori yang kami jabarkan hanyalah pengantar, yang mungkin ada banyak tersebar di google. Bahkan, saya tidak menjamin bahwa apa yang kami sampaikan dari mulut kami bisa begitu saja nyangkut di kepala mereka.  Secara sederhana, untuk membuat mading yang baik, yang dibutuhkan adalah praktek, praktek, dan praktek. Selebihnya, hanya soal pembiasaan saja hingga mereka mampu mengembangkannya lebih imajinatif.

“Mereka disini memang baru pertama kalinya mengenal dunia jurnalistik secara dekat seperti ini. Mading pun baru pertama kalinya bagi mereka,” Memang, apapun itu, hal yang paling sulit dari sebuah pekerjaan adalah memulai…  
 

Tabloid dan buletin kami pun jadi
"korban". (Nizar-Al Ikhlas)


Dimulailah ketika enam kelompok mading - AMC, Putri Mahat, MNC, Muslim Inside, Dunia Maya, Calaccu - yang  telah kami bentuk berkompetisi, saling bersorak, saling menggoda, dan saling memamerkan karya-karya terbaik mereka. Meski hanya dilengkapi oleh bahan-bahan seadanya; kertas karton, kertas HVS, koran-koran bekas, pensil warna milik mereka sendiri, gunting dari kamar sendiri,ragam karya mading yang cukup unik dan menyita perhatian bisa diselesaikan dalam waktu tiga jam. Nah, jika memang ada kemauan dan kerja keras, apapun bisa diselesaikan, bukan?

Melihat santri-santri begitu antusiasnya  dalam menyelesaikan mading, rasanya ikut memantik api semangat saya. Jujur, baru kali ini saya dan kedua orang teman saya benar-benar “independen” me-manage pelatihan seperti ini. Biasanya, kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh lembaga pers kami di Makassar, selalu melibatkan campur tangan senior-senior maupun dewan redaksi lembaga pers kami. Adakalanya, saya hanya bertugas di bagian kepanitiaan perlengkapan, publikasi, yang sama sekali tidak menyentuh persoalan interaksi dengan para peserta. Padahal, saking cerewetnya, saya sebenarnya sangat senang loh cuap-cuap di depan orang banyak.

Oleh karena itu, ada rasa kebanggaan tersendiri ketika kami diberi kesempatan untuk me-manage langsung pelatihan jurnalistik ini. Saya senang, kepercayaan benar-benar disediakan buat kami.

“Terima kasih kepada adik-adik dari Universitas Negeri Makassar yang telah menyempatkan diri untuk membagi ilmunya sampai di tempat yang sejauh ini,” Hati saya bergetar mendengarkan sepatah kata yang disampaikan langsung oleh Kepala Madrasah Aliyah, Ustad Abdul Rajab ketika penutupan secara simbolis dilangsungkan.

Meskipun penutupan itu juga berlangsung dalam waktu yang singkat (dan tergesa-gesa karena menjelang waktu maghrib), namun cukup berkesan bagi saya dan kedua orang teman saya.

“Serius, saya merinding ketika mendengarkan mereka menyanyikannya untuk kita,” ujar teman di sebelah saya. Yah, saya pun merasakan hal yang sama. Nyaris saja, teman perempuan saya meneteskan air mata mendengarkan lantunan lagu Semua Tentang Kita yang dibawakan secara koor oleh para peserta sebagai persembahan terakhir buat kami. Akh, seandainya juga saya diberi kesempatan untuk membalas persembahan mereka. Saya juga tak mau kalah dengan santri yang memainkan gitar sambil mengiringi teman-temannya bernyanyi. ^_^.

Semangat, selalu saja menjadi bagian terpenting ketika kita akan mengerjakan sesuatu.

“Suasana perpisahan ketika KKN-PPL pun nyaris seperti ini. Malah kita biasanya akan menemukan yang lebih dramatis,” tutur teman perempuan saya. Yah, meskipun saya belum merasakan KKN itu, tapi sedikit banyak saya sudah bisa tahu bagaimana kekeluargaan yang terjalin diantara para siswa-mahasiswa.


Cheese!! Aduh, saya malah ketutupan yang lainnya...(auto-timing)

Mungkin, pengalaman seperti ini akan menjadi suatu momen yang tak akan pernah terlupakan. Apalagi dengan mengabadikannya melalui tulisan. Melukiskan sejarah di Bumi Arung Palakka bersama kedua orang teman saya, membagikan ilmu jurnalistik yang kami peroleh secara autodidak, mencurahkan semangat kepada 60 orang peserta, akan selalu mengembangkan sesimpul senyum di raut wajah kami. Bahkan, canda, tawa, maupun gurauan mereka membuat kami sedikit jauh lebih muda. ^_^.
 
Yah, lain waktu, semoga kami diberi kesempatan lagi untuk bisa kembali kesini,” ujar teman saya. Dalam benak saya, entah kenapa, ada keyakinan kami akan kembali lagi suatu hari nanti.

“Atau sekalian cari jodoh orang disini saja,” celetuk salah seorang guru yang mengantarkan kami mencari tumpangan ke Makassar malam itu. Mendengarnya, saya hanya bisa tersenyum, cengar-cengir, teringat akan sesuatu…..


 
--Imam Rahmanto--

*Saya mengakhiri tulisan ini sembari menatap gelas yang telah kehabisan Cappuccino. Pagi ini, langit begitu cerah menemani saya duduk menatap lalu lalang kendaraan.



"Dengan membaca, kita akan mengenal dunia.
Dengan menulis, kita akan dikenal dunia."

Berbagi Semangat di Ujung Bone (2)

Maret 17, 2013
Seakan-akan memasuki suatu lingkungan pedesaan yang asri dan menenangkan, saya memandangi kiri-kanan jalan yang kami lalui. Sawah-sawah terhampar cukup luas, meski belum menguning. Hanya satu-dua rumah yang sekilas nampak diantara sawah-sawah itu. Mobil yang kami tumpangi pun sekali-kali juga harus berbagi jalan dengan mobil-mobil dari arah berlawanan.

“Ini seperti kota di tengah hutan,” canda Akbal, salah seorang guru setibanya kami disana. Bagaimanapun, kami memang melihat kondisi dan suasana Pesantren ini cukup terpencil dari dunia luar. Hanya dikelilingi oleh sawah-sawah milik penduduk setempat. “Makanya tidak ada santri yang berniat untuk kabur atau lari. Soalnya, mereka mau kemana? Disini pun kendaraan-kendaraan umum tidak ada, kecuali kalau hari pasar saja,” timpalnya lagi.

Oh ya, mungkin kondisi lingkungan pesantren ini nyaris mirip dengan keadaan pesantren Gontor yang diceritakan dalam buku Negeri 5 Menara. Kurikulum pengajarannya pun mengadopsi kurikulum boarding school dari Australia, dengan bahasa pengantar: bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Ckckck.. Terlebih lagi, ternyata anak-anak yang bersekolah disini adalah keluarga dari kalangan menengah ke atas. Bayangkan, uang pangkal untuk masuk ke pesantren ini saja Rp 4 juta, ditambah dengan SPP yang dibayar tiap bulan sebesar Rp500ribu. Nah, malah lebih murah uang kuliah saya kan?

Maka jangan heran ketika menemukan sejumlah fasilitas yang memang lebih unggul dibandingkan sekolah-sekolah umum lainnya. Sementara ini, si sisi bagian utara pesantren sedang dibangun Gedung Olahraga (GOR) untuk pesantren. Kabarnya, gedung tersebut adalah bantuan dari Kemenpora. Di sisi sebelah timur, ada rusunawa yang akan dibangun khusus untuk para santri. Lain lagi dengan masjid besar (dalam tahap pembangunan juga) yang merupakan bantuan dari Duta BEsar Kerajaan Arab Saudi.

Meskipun demikian, masih ada juga santri-santri yang bersekolah disana, tapi tidak mondok. Mereka adalah anak-anak dari penduduk yang bermukim di sekitar wilayah pesantren ini. Bagi mereka, pendidikan di pesantren tersebut digratiskan oleh pemilik yayasan.

“Pak Prof. ingin membangun pondasi yang kuat tentang Islam di lingkungan masyarakat sekitar sini,” tutur Akbal. Karena, katanya, kehidupan orang-orang yang bermukim di wilayah sekitar pesantren ini dulunya sangat sarat dengan pemujaan, penyembahan, takhayul, dan sebagainya. Bahkan, beberapa masyarakat masih ada yang mempercayai hal seperti itu. Tujuan yang sungguh mulia. :)

 
Setelah beristirahat sebentar selama tiga-empat jam, karena kepala teman saya juga pusing akibat perjalanan jauh dengan mengendarai mobil, kami mulai siap membaur dengan para peserta pelatihan. Sebagian besar pesertanya, yang berjumlah 60 orang, adalah anggota OSAI di pesantren ini.

Sedikit bagi ilmu. :) (Foto: Nizar-Al Ikhlas)
Secara bergantian, saya dan kedua orang teman saya akan membagi ilmu jurnalistik dengan santri-santri yang ada disini. Rundown acara sebelumnya telah ditentukan oleh kami + satu materi dari Pak Waspada sebagai pembuka tentang dunia jurnalistik. Akan tetapi, selepas Isya, dosen UIN itu sudah kembali ke Makassar lagi. Hanya kami bertiga yang masih menetap hingga pelatihan ini usai. Kami masih harus mendampingi para santri hingga pelatihan usai esok hari.

Hingga pukul 11 malam, usai teman saya menyelesaikan materinya, saya menyelesaikan arahan dan materi saya tentang perencanaan peliputan. Melalui materi ini semoga akan mengawali ide tentang mading mereka. Anak-anak remaja seperti ini biasanya lebih suka jika diberikan arahan untuk praktek langsung mengenai materi. ^_^. Dan kenyataannya, waktu berlalu dengan canda, tawa, dan sedikit aksi nyeleneh dari mereka. Excellent!


Peserta berpikir keras tentang isu yang akan mereka angkat mengenai pondok pesantrennya. (Foto: Nizar)


__berlanjut

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 16 Maret 2013

Berbagi Semangat di Ujung Bone (1)

Maret 16, 2013
14 Maret 2013

Bone, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang akhirnya berkesempatan dikunjungi oleh saya dan kedua orang teman saya. Ciee.. Jauh sebelumnya, saya sudah mengenal Bone dari teman-teman saya yang berasal dari sana. Bahkan, ada banyak pejabat kampus saya yang berasal dari bumi Arung Palakka itu.

“Cewek-cewek Bone cantik-cantik loh,” gurauan yang sering saya dapati dari teman-teman saya, baik mereka yang berasal dari sana maupun yang sudah pernah kesana (Bone, red). Terlepas dari itu, saya senang berkesempatan membagi ilmu jurnalistik dengan anak-anak SMA alias Pesantren Al-Ikhlas yang ada disana.

Beberapa waktu lalu, lembaga pers kami, mendapat permintaan khusus dari salah seorang guru disana untuk bisa me-manage sekaligus mewadahi keinginan mereka untuk mulai merintis Majalah Dinding (mading). Dasar saya yang belum pernah ke Bone, maka saya sangat tertarik dengan tawaran itu. Ayoo! Apalagi saya berkesempatan untuk bisa lagi berinteraksi dengan anak-anak SMA.

Perjalanan saya, dan dua orang teman lainnya dimulai pagi hari, menjelang pukul sepuluh pagi. Padahal, sebelumnya, saya harus mengikuti perkuliahan di kampus. Saya yang sudah mulai ingin berkomitmen tidak akan meninggalkan kuliah saya, menjadikannya prioritas, sedikit ragu dengan waktu keberangkatan kami. Saya juga telah berjanji pada seseorang untuk tidak lagi meninggalkan kuliah saya. Meski kepepet, saya pun memaksakan diri untuk menghadiri kuliah pagi itu. Kalau sudah berkomitmen ya harus dijalankan dong. 

Dan nyatanya, Tuhan selalu membukakan jalan bagi hamba-hambaNya yang ingin serius menjalani sesuatu. Pagi itu, dosen yang bersangkutan pun tidak masuk memberikan mata kuliahnya. Ada waktu bagi saya untuk sedikit bernapas lega, menyempatkan waktu untuk update berita teman-teman saya, hingga siap memulai perjalanan yang katanya akan menghabiskan waktu selama 4-5 jam.

Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini…

Saya yakin, ketika serius menjalani sesuatu, maka Tuhan akan selalu membukakan pintu-pintu kemudahannya bagi kita. Hanya saja, terkadang, perasaan kita yang setengah-setengah atau meragu terhadap sesuatu-lah yang menutup jalan-jalan itu. Tuhan menilai usaha-usaha makhluk-Nya lewat hatinya, kuat atau lemah, keras atau lunak, tekad atau ingin.

Berbarengan dengan kami, mengikut pula seorang mantan pimpinan redaksi harian lokal di Makassar, Pak Waspada. Tapi, menurut pengakuannya, ia sudah hengkang dari media lokal itu lebih dari tiga tahun silam. Ia lebih memilih untuk aktif mengajar di kampus-kampus sebagai dosen, baik Ilmu Komunikasi maupun Ilmu Agama di beberapa perguruan tinggi lainnya. Ia juga hingga kini aktif dalam MUI.

Yah, kebetulan beliau itu adalah teman akrabnya pendiri Pesantren ini. Makanya Pak Prof. maksa untuk menghadirkan temannya itu, sedikit memberikan tambahan ilmu jurnalistik pula kepada santri-santri disini,” ujar Kak Akbal yang merupakan salah satu Pembina OSAI yang ada di pesantren itu. Dan tahu tidak, siapa pendiri sekaligus pemilik Pesantren tersebut? Dialah Prof. Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Kementerian Agama RI sekarang, yang juga merupakan kelahiran asli tanah Bone itu.

Dan akhirnya, setelah melalui perjalanan (sangat) panjang dari Makassar - melalui daerah perbukitan yang berkelak-kelok nyaris 180 derajat - lamanya nyaris enam jam - pemukiman pesantren yang jauh dari jalan-jalan besar - hanya dikelilingi sawah, wajah kami berubah cerah ketika mendapati pesantren disini ternyata bukanlah pesantren-pesantren garis “keras” pada umumnya. Toh, saya masih bisa mendapati santriwati-santriwatinya berlalu lalang di depan kami. Mungkin, hanya pemisahan asrama dan kelasnya saja yang memiliki batas-batas tertentu. Untuk dua hari ini, mungkin, saya masih bisa betah berada di tempat ini. Hehehe…

Pesantren Al-Ikhlas. (Foto-Imam Rahmanto)

Ah, matanya kalian langsung berbinar tahu disini ada ceweknya,” canda teman perempuan saya yang satunya lagi. Hahamaklum lah, namanya juga laki-laki yang masih single ….


*Malangnya, saya harus rela kehilangan Cappie selama dua hari berada di Bone. Ah, saya lagi-lagi menyesal tidak bawa persediaan yang cukup. Saya merindukannya…


--Imam Rahmanto--


Catatan: OSAI = Organisasi Santri Al-Ikhlas. Kalau di sekolah-sekolah pada umumnya disebut OSIS. 

Kamis, 14 Maret 2013

Maaf...

Maret 14, 2013
Maaf. (google.com)
Akhir-akhir ini saya merasa terlalu banyak membuat kesalahan. Entah itu kesalahan yang disengaja ataupun kesalahan yang tidak pernah saya sadari secara langsung.

Maaf kepada orang-orang yang akhir-akhir ini sempat saya buat kecewa, menangis, marah, ataupun benci terhadap saya. Tetap saja, saya hanyalah manusia biasa seperti kalian...

Ada banyak hal yang tejadi belakangan ini. Hal-hal tersebut silih berganti menghampiri saya, memacu kerja saya, layaknya harus berkelahi dengan waktu. Serius. Saya untuk beberapa hari ini harus berkejaran dengan waktu, menyelesaikan semuanya dalam waktu kepepet, dan mungkin, hasil yang saya dapatkan pun setengah-setengah. Tapi, bagaimanapun, tanggung jawab itu harus ditunaikan, seperti apapun caranya, semenjak kita sudah mengikat komitmen di dalamnya.

Ritme baru yang saya alami sekarang memaksa saya untuk berpikir lebih cepat, padat, ringkas, dan jelas. Terkadang singkatnya waktu itu bisa membuat pikiran saya kalut, gelagapan, dan akhirnya berimbas pada orang-orang di sekitar saya.  

Maaf kepada orang-orang yang menemukan saya bukan pada diri saya. Kalian akan menemukan bahwa saya tidaklah selalu orang yang tersenyum ataupun tertawa...

Saya harus semakin banyak belajar mengelola hati. Belajar cara mengendalikan pikiran ataupun mood.

"Mau dikendalikan atau mengendalikan mood?" seperti yang dikatakan salah seorang teman saya.

Yah, benar. Sejatinya, pikiran yang sedang dilanda masalah atau kerumitan terhadap sesuatu tidak seharusnya diperlihatkan begitu saja pada orang lain. Tapi....kadang-kadang saya juga butuh untuk menuangkannya kepada orang lain...

Mungkin, ada banyak maaf yang harus saya sampaikan selama menjalani dan sedikit beradaptasi dengan ritme baru kehidupan saya. Saya tidak bermaksud untuk merusak hubungan saya dengan orang lain. Saya hanya berusaha untuk memperbaiki hidup saya, bekerja lebih keras, untuk membuat kalian tertawa. Maaf pula kepada blog yang baru sempat saya tengok kemari...


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 09 Maret 2013

Dunia Kerja dan Publikasi Diri

Maret 09, 2013
Dunia kerja profesional, apalagi bidang-bidang creative media ternyata membutuhkan banyak hal yang benar-benar di luar pemikiran kita.

“Boleh lihat portofolionya?” pinta salah seorang rekan kami. Kami baru saja bertemu saat itu. Seperti kebanyakan orang-orang yang telah lama berkecimpung di dunia kerja, ia sudah sewajarnya mempertanyakan kredibilitas kami.

Saya agak tersentak mendengarnya. Pasalnya, beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya yang berencana mendaftar magang di salah satu media di Jawa pernah menanyakan hal serupa.

“Kalau disini, biarpun mau melamar sebagai magang, harus punya portofolio sebagai bukti kalau kita pernah menekuni pekerjaan itu. Semisal saya, saya mau buat portofolio yang isinya tulisan-tulisan beserta liputanku semasa di pers kampus sekarang,” Teman saya ini baru berencana untuk membuat portofolio-nya. Meskipun saya sudah tidak asing lagi dengan portofolio itu, apalagi di kalangan fotografer maupun designer grafis. Akan tetapi saya baru menyadari betapa pentingnya “publikasi diri” itu.

Sebagaimana prinsip dasar dalam marketing atau pemasaran; Positioning Branding Advertising, maka saya harus menerapkannya pula pada diri saya agar berhasil dalam dunia kerja nantinya. Pengetahuan ini saya dapatkan sebagai hasil perbincangan lepas kami ketika meeting perdana. ^_^.

Nah, positioning, saya harus menempatkan diri saya sebagai apa? Disini, saya sudah harus mampu memutuskan, memilih diri sebagai seorang writer atau designer? Sehingga ketika memperkenalkan diri pada dunia kerja, saya sudah memiliki label yang benar-benar jelas. Proses penguatannya sendiri akan berlangsung pada proses branding.

Seperti yang saya maksud sebelumnya, branding  sangat dibutuhkan pula dalam proses marketing. Seperti halnya kita, yang ingin berkecimpung dalam dunia creative media, butuh sedikit branding melalui portofolio itu. Melalui “kumpulan karya” kita itu, maka tingkat kredibilitas kita akan bertambah. Tentu, kepercayaan orang akan semakin besar pada kita.

Selanjutnya, kita bisa memulai advertising. Mengumumkan. Mungkin, semacam produk yang dipublikasikan melalui iklan-iklan, spanduk, baliho, dan sebagainya. Tapi, untuk kita sendiri, bisa  memulai dengan banyak membangun jaringan atau koneksi dalam rangka memperkenalkan diri sebagai apa. Jika beruntung, maka “Andalah yang kami cari!”

Ditanyakan portofolio seperti itu, tentu saja teman saya gelagapan. Nampaknya, sebagai seorang fotografer pun, ia masih belum tahu perihal bundelan karya itu. Ia tampak bingung harus seperti apa.

“Atau mungkin blog yang berisi foto-foto karyanya?”

Bahkan blog atau website yang seharusnya bisa menjadi portofolio cadangan tidak dimilikinya. Maklum, gak doyan nge-blog. Beruntung, ia masih menyimpan banyak karya fotonya di akun facebook yang ia miliki. Jaringan connect – login facebook – browsing foto deh.

Saya sendiri masih lebih beruntung. Saya punya kumpulan tulisan yang terdokumentasi rapi di blog ini. Jadi, ketika seseorang meminta bukti-bukti tulisan saya, sebagai pembangun kredibilitas, saya masih bisa menunjukkan tulisan-tulisan saya.

Ah, kalau soal tulisan, saya sudah tidak ragukan lagi dari lembaga pers kalian,” ujarnya santai. Saya pun urung memperlihatkan tulisan-tulisan saya. Toh, sebelum saya memperlihatkannya pun dia sudah memberikan kepercayaan lebih pada kami, yang memang notabene berasal dari lingkungan pers kampus. Katanya, nama lembaga kami sudah tidak asing lagi di lingkungan media lokal. Wah, sungguh beruntung bisa terlahir dari lembaga pers kampus. :)

Pada akhirnya, saya masih harus tetap mempersiapkan portofolio saya, mungkin sedikit memperbaharui pula tampilan blog saya – lebih professional. Penting, mengingat sebentar lagi, usai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, saya akan terjun ke dunia kerja. Semenjak sekarang, saya harus banyak belajar dan menjalaninya sedikit demi sedikit. Ada banyak hal di luar sana yang akan sangat berbeda dengan dunia kampus saya. Dan tentu saja, menantang!


--Imam Rahmanto--

Kamis, 07 Maret 2013

Mencari dan Melihat Dunia Lebih Luas

Maret 07, 2013
Keluarlah, jelajahi dunia, maka kau akan melihat dunia tak sekadar persepsimu. Temukan hal-hal yang baru…

Sore ini, saya memutuskan untuk memenuhinya. Melihat hal-hal baru di luar dunia saya. Merasakan pengalamannya, yang tentunya jauh lebih dari sekadar yang pernah saya alami. Menjelajahi dunia secara harfiah? Tentu saja “belum”, karena saya baru mengawali langkah kecil saya dari sini…

Saya senang, pada akhirnya ditawari sebuah freelance yang tidak lagi berhubungan dengan dunia designing. Saya tak lagi harus duduk berjam-jam di depan komputer hanya untuk sekadar men-design tampilan perwajahan koran, tabloid, ataupun buku. Bukannya saya tidak suka designing, saya malah mampu mengerjakannya dengan baik kok. Akan tetapi, menelusuri tempat-tempat baru, bertemu dengan hal-hal baru, berinteraksi dengan orang-orang baru, atau memperoleh pemahaman barulah yang selalu membuat saya “tertantang” untuk terjun ke lapangan, dunia luar.

Ketimbang sebagai seorang designer ataupun layouter, saya lebih senang menyebut diri saya sebagai seorang writer atau reporter (meskipun masih sebatas belajar ataupun freelance). Makanya, saya selalu agak risih jika harus berhadapan dengan dunia desain dalam keadaan “terpaksa” atau “dipaksa”. Maklum, orang dengan banyak keterampilan memang selalu dicari. :p

“Ini dia penulisnya, yang akan menjadi mitra kita,” tutur seseorang yang baru saya kenal hari ini. Ia memperkenalkan saya pada temannya.

Tahu tidak, saya begitu senangnya mendengar apa yang ia “label”kan pada saya. Seandainya saya diizinkan nyebur ke kolam sebelah, tempat kami meeting, saya akan nyebur saja saking senangnya. ^_^. Seumur-umur, saya baru pertama kalinya disebut sebagai seorang penulis (writer). Asli. Apalagi dalam kesempatan ini tak tanggung-tanggung saya harus bekerja secara profesional. Oleh karena itu, saya berpikir, penyematannya kepada saya bukanlah sekadar basa-basi perkenalan saja.

Selama ini, saya bekerja dalam dunia lingkungan kampus, yang bisa dikatakan masih dalam tahap belajar. Organisasi saya banyak mengajarkan tentang kehidupan kampus dan seluk-beluk dunia jurnalistik sebagai bawaan kami. Saya (hampir) menguasainya, dan masih saja tetap berjalan di dunia kampus. Nah, untuk mengembangkan pengalaman, saya ingin mencoba hal-hal baru, menemukan dunia-dunia baru yang tetap mendukung impian dan target saya. Sedikit lagi, saya akan memahami bagaimana mekanisme “bekerja secara profesional”.

Di lingkungan pers kampus yang kini saya dalami, saya pernah menghayati pesan salah seorang kakak kami, “Anak-anak lembaga pers ini yang telah lepas dari sini, tidak ada yang tidak pandai dalam menulis,” yakinnya. Seperti saya meyakini apa yang saya lakukan hari ini. Just believe it! Saya mencoba akan menerapkan ilmu yang telah saya dapatkan selama ini, secara profesional. :)

Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua telah digariskan dan terencana dengan baik…

Saya kini tahu, mengapa Tuhan beruntun memberikan saya beberapa masalah atau musibah. Bukannya ia menyuruh saya untuk terpuruk. Tak berbuat apa-apa. Melainkan, saya kini tahu, Tuhan menginginkan saya belajar. Seperti saya tahu, Tuhan telah merencanakan semua. Apa yang terjadi pada saya di hari kemarin adalah untuk mengawali apa yang akan terjadi pada saya hari ini.

Dan kini, saya harus bersiap untuk bekerja lebih keras. Ini bekerja secara professional, loh. Dan tentunya mempertaruhkan branding saya sebagai seorang penulis amatir. Hehe.. Bagian terpentingnya, saya bisa menemukan banyak hal-hal baru di luar pemahaman saya selama ini. Di samping itu, bakal ada lebih banyak hal lagi yang bisa saya bagi untuk dia yang selalu membayangkan saya pada muara usaha keras saya. ^_^.

* * * * *


Ps: Oh ya, saya juga baru mendapati minuman Hot Cappuccino yang benar-benar menarik minat saya. Kali ini sangat berbeda dengan cappuccino yang selama ini saya nikmati, baik di warkop maupun olahan sendiri. Yah, meskipun mungkin rasa, aroma, dan nikmatnya itu sebanding dengan harganya yang jauh lebih mahal, ditambah pula dengan suasananya yang membuat saya betah berlama-lama duduk disana. Naturally is amazing. Meskipun saya sempat kikuk alias norak, tentang cara menikmati atau menyeruput hot cappuccino yang satu itu. Hehe.. ^_^V.

Hmm...sorry, udah setengah jalan. Hahaha...



--Imam Rahmanto--

Rabu, 06 Maret 2013

Konsistensi dan Komitmen

Maret 06, 2013
(google.com)
#7day7post telah berakhir. Seru-seruan yang kami buat sendiri, hanya untuk mengukur se-aktif apa kami dalam mempublikasikan tulisan kami telah menunjukkan hasilnya.Kita jadi tahu, sebesar apa kepedulian kita atas komitmen yang telah dibuat meski untuk hal-hal sepele. Seusngguhnya, bagi saya, hal-hal kecil itu tidak berarti tak penting Karena pada kenyataannya, hal-hal besar selalu dibangun dari hal-hal yang kecil.

Sejelek-jeleknya tulisan adalah tulisan yang tidak pernah dibaca orang lain, hanya untuk konsumsi pribadi. Kita tidak akan pernah tahu, siapa yang akan tertawa oleh tulisan kita. Kita tidak akan pernah menyangka ada orang yang diam-diam tersenyum membaca tulisan kita. Atau mungkin saja ada seseorang di luar sana yang menangis, terharu oleh perasaan yang kita salurkan melalui tulisan itu. Atau mungkin, kita bisa membagi sedikit motivasi dan inspirasi bagi orang-orang di luar sana. Percaya atau tidak, tulisan selalu mencerminkan kepribadian penulisnya. Seakan-akan ia meniupkan ruh ke dalam tulisannya. Tak heran jika sebagian tulisan itu mampu memprovokasi.

Memang sulit untuk mencoba konsisten dengan segala hal yang kita buat. Bahkan makan tiga kali sehari bagi mahasiswa seperti saya saja susahnya minta ampun. Bukannya karena saya tidak mampu, melainkan hal itu terkadang bukan menjadi prioritas saya. Jadinya, “tidak mau” bisa saja berubah menjadi “tidak mampu”.

Dalam dunia designing dan layouting saya diajarkan untuk benar-benar konsisten atas rancangan saya. Kekonsistenan atas desain saya akan memberikan identitas atau ciri khas bagi pekerjaan saya. Biasanya, seorang designer punya ciri khas atas desain yang dibuatnya.

“Jangan terlalu banyak mengumbar-umbar jenis font atau huruf,” kata salah seorang senior.

“Jangan terlalu banyak menggunakan warna,” kata senior satunya lagi.

“Susunannya harus rapi, jangan dibuat miring-miring, atau oleng-oleng” katanya lagi.

Alamak, saya jadi bingung harus menuruti yang mana?

Pada dasarnya, semua benar. Di satu sisi, kita memang dituntut untuk konsisten. Namun, di sisi lain kita harus tahu caranya kreatif mendobrak ke-konsisten-an itu. Konsisten “banget” pun akan membuat dunia saya terasa kaku. Ada hal-hal yang terkadang harus kita ubah tanpa harus menghilangkan ciri kekonsistenan kita itu.

Nah, ketika sudah berkomitmen terhadap sesuatu, sudah sewajarnyalah kita menjalankannya sebagai salah satu prioritas kita. Seperti halnya kuliah, merupakan komitmen yang kita buat dengan orang tua maupun diri sendiri. Bekerjasama dalam sebuah organisasi, merupakan komitmen yang kita bangun bersama teman-teman sesama anggota organisasi. Semuanya, patut dilaksanakan dengan tanggung jawab. Konsisten dengan komitmen yang telah dibuat sewajarnya.

Melalui hal-hal kecil, yang mungkin bagi sebagian besar orang tidak penting, maka saya belajar untuk berkomitmen. Bagi saya, menulis itu bukan “hal kecil”. Tahu tidak, bagaimana susahnya nyari sambungan internet di saat kondisi finansial sedang tak menentu? Saya tahu dan merasakannya… :)

Konsisten. Disiplin. Ketekunan. Apapun itu bentuknya, saya hanya selalu berusaha untuk memenuhinya. Tentu dengan cara-cara yang kreatif pula. Bagaimana tidak, hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil, bukan?


--Imam Rahmanto--

Minggu, 03 Maret 2013

Masakan Rumah

Maret 03, 2013
Seorang teman, pagi ini, masih pagi sekali – menjelang pukul tujuh – sudah membuat keributan di dapur redaksi kami. Suara-suara wajan beradu dengan spatula mengisi kesunyian pagi ini, usai beberapa teman yang lainnya meninggalkan redaksi, baru-baru saja. Mereka rencananya ingin berburu foto (atau entah malah berburu di”foto”), belajar mengenal dunia fotografi. Saya yang sejak semalam sudah berkutat dengan freelance saya, memilih untuk tidak ikut kali ini. “Saya harus fokus dulu,” batin saya.

Yah, teman saya itu, entah karena suasana sudah sepi atau karena dia berbahagia dapat kiriman, berinisiatif memasak sendiri di dapur redaksi kami. Saya baru kali ini melihatnya memasak sendiri di redaksi. Serius!

“Kamu mau masak?” tanya saya ketika melongok ke dapur.

Ia hanya meringis dan meng-iya-kan pertanyaan saya. “Saya kira tadi yang mau masak bukan kamu,” lanjut saya lagi. 


Maklum, di redaksi kami sebenarnya ada koki terkenal seantero lembaga kami, meskipun dia seorang laki-laki merangkap sebagai seorang fotografer. Saya awalnya menyangka, teman saya yang beberapa menit lalu baru saja menenteng tas kresek berisi tomat beberapa butir ini hanya berbelanja menuruti pesanan sang koki. Lha, ternyata dia sendiri yang mau masak tah? Keren

“Oke, tak bantuin deh. Kamu yang masak - yang enak loh - biar aku yang nyuci semua piringnya,” ujar saya. Pagi itu, pekerjaan saya untuk sementara berakhir. Saya butuh sedikit penyegaran pagi ini untuk memutus rasa kejenuhan saya dari semalaman berhadapan dengan laptop. Serius! Bahkan ketiduran pun wajah saya masih menghadap laptop. Daripada tak ada kerjaan, ya, cuci piring bisa jadi hburan sementara. Mumpung suasananya juga masih pagi dan sepi… It's morning!

Bagaimanapun juga, menurut saya, pada kenyataannya orang yang pandai memasak itu akan memiliki nilai tambah tersendiri. Tak peduli itu laki-laki atau perempuan, ada nilai tambah tersendiri yang akan membedakan orang tersebut dengan orang lain. Malah, saya sempat berangan-angan, mudah-mudahan istri saya nanti pandai memasak. Hehe... Setidaknya, jika dinilai dari caranya me-mandiri-kan kehidupannya.


Saya pernah pandai memasak, loh. Pernah mencoba beragam jenis masakan yang saya dapatkan resepnya dari ibu saya. Tapi… itu dulu ketika saya masih hangat-hangatnya menginjakkan kaki di kota Makassar. Saya menumpang di salah satu kost-an kakak teman saya, yang membuat saya harus menjadi orang yang bemanfaat dan tentu saja dibutuhkan, sebagai tukang masak.

Ketika masih duduk di bangku sekolah pun, saya sering menggantikan ibu untuk memasak di rumah. Dua hari pasar dalam seminggu; Selasa dan Jumat, memaksa saya untuk menuruti perintah ibu saya. Maklum, saya anak sulung dan adik saya, meskipun perempuan, masih imut-imutnya saat itu tidak bisa dipaksa untuk membantu ibu saya.

“Kalau nasinya masih ada, kamu tanak wae. Trus, kamu mbeteti iwak juga ya, goreng biasa wae. Eling loh ya, ingat,” pesan ibu saya setiap akan berangkat berjualan es teler di pasar. Jika bosan dengan ikan, saya menggoreng tempe atau tahu sendiri. Untuk olahan selanjutnya, akan dilanjutkan ibu saya sepulangnya dari pasar, sore hari.

Tapi, itu dulu. Lama, lama sekali…

Kini, saya hanya bisa mengolah beberapa “makanan instan”. Memang gampang, kan? Itu pun terjadi ketika saya baru benar-benar kelaparan. Selain dari itu, saya hanya menyentuh kompor ketika akan menyeduh air panas untuk cappuccino. ^_^. Untuk urusan makanan dan sejenisnya, baik di kost maupun di redaksi, saya lebih banyak menyantap makanan hasil olahan orang lain.

Saya nampaknya memendam kerinduan dengan masakan rumah saya. Hasil olahan ibu saya. Ibu selalu tahu masakan seperti apa yang menjadi favorit saya. Tak perlu bertanya, ibu selalu menghidangkan masakan khas-nya yang selalu menjadi favorit saya di rumah. Bahkan, jika saya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung, dimana keluarga saya kini berdomisili, ibu akan memanjakan saya dengan makanan-makanan olahannya. Tak jarang ibu akan selalu bertanya, “Kamu mau makan apa?”

Akh, bagaimanapun enaknya masakan dari luar, masakan dari rumah selalu saja menjadi yang terlezat. Tidak ada yang mengalahkan masakan ibu, meskipun itu adalah makanan berkelas hotel berbintang lima. Bukan soal wujud rasanya yang nyaman di lidah, melainkan perasaan yang dapat disalurkan oleh masakan itulah yang selalu menjadikannya lezat…

Dan pagi ini, sembari menyaksikan dan mencicipi masakan olahan teman saya itu, kerinduan saya pada masakan ibu begitu jelas membuncah… 



 
--Imam Rahmanto--


The last post of #7day7post

Sabtu, 02 Maret 2013

Belajar, Hidup, dan Menyimpul Gelang

Maret 02, 2013
Kamis lalu, saya baru saja bertemu dengan salah seorang teman saya. Teman sekelas saya. Meskipun kami berdua sama-sama mengulang pada mata kuliah yang sama, namun ternyata saya baru bisa bertemu dengannya hari itu. Mungkin, ia begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Apalagi dia adalah seorang aktivis di kampus. Sebenarnya tidak berbeda juga dengan saya.

Mata saya menangkap sesuatu yang menarik dari pergelangan tangannya. Ya, beberapa gelang, termasuk gelang sederhana yang terbuat dari simpul tali.

“Hei, minta dong gelangmu yang satu itu,” rayu saya di sela-sela perkuliahan.

“Ini?” sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang dipenuhi gelang dari simpul tali. Ia tersneyum saja.

“Nanti deh saya buatkan,” ujarnya lagi.

“Emang bisa buat ya? Oh ya, beli bahannya dimana? Saya juga sudah lama mau nyari tali-tali seperti itu. Mau coba buat gelang-gelang seperti itu juga,”

Patut dicoba! Saya kemudian mendapatkan informasi mengenai bahan untuk membuat gelang sederhana itu darinya. Selain itu, saya baru tahu ternyata di depan kampus saya ada toko yang memang menjual tali sebagai bahan dasar gelang tadi. Biasanya, bahan tali untuk membuat gelang gampang didapatkan di toko-toko yang banyak menyediakan peralatan mendaki gunung. “Menarik,” pikir saya.

Handmade. Tidak ada salahnya mencoba berkreasi dengan salah satu kerajinan tangan seperti itu. Untuk menghilangkan sedikit kejenuhan, ya mungkin bisa dengan membuat gelang-gelang dari tali itu. Bukankah untuk menghilangkan kejenuhan dengan menciptakan hal-hal atau kebiasaan baru?

Dua hari yang lalu, saya sudah banyak mendapatkan video-video tutorial pembuatan gelang handmade tersebut dari youtube.Lumayan, sebagai pemula harus lebih banyak belajar. Ada banyak jenis pola yang bisa dibuat dari bahan tali. Tidak hanya tali, benang wol pun bisa dibuat menjadi sebuah gelang sederhana. Tapi, membutuhkan waktu yang cukup lama. Alhasil, dalam waktu dua jam, dalam keterbatasan financial pula – saya memaksakan diri membeli bahan tali hanya untuk “mencoba hal baru”, saya bisa membuat satu motif gelang pertama. Hehe

Hasil untuk pemula = lumayan. Selanjutnya, saya yakin, pasti akan excellence!

Belajar, ternyata tidak hanya dengan kondisi belajar yang sesungguhnya. Melalui medium apapun, sebenarnya kita bisa belajar. Anywhere, anytime. Tidak hanya belajar dari kehidupan orang lain, pengajaran orang lain, akan tetapi kita bisa belajar sendiri melalui “mencoba” hal-hal baru di sekitar kita. Ada banyak hal-hal “kecil” di sekeliling kita yang sebenarnya bisa menjadi lahan untuk kita belajar. Yang dibutuhkan hanya “cukup membaca”…

Nah, ini dia hasil karya pertama saya. :)

Menjalani hidup kenyataannya seperti memilin-milin tali untuk dijadikan gelang yang bagus. Ketika kita tidak tahu caranya, maka akan tampak susah. Namun, ketika kita sudah mau mencoba, tahu caranya, mampu memilin yang benar, hafal urutannya, maka hasilnya ternyata sesuai dengan yang diharapkan. Jikalaupun di tengah jalan ada simpul yang salah, kita cukup membukanya dan mengulanginya. Karena selalu ada kesempatan untuk benar di tiap kesalahan yang kita lakukan…



--Imam Rahmanto--

The 6th post of #7day7post

Jumat, 01 Maret 2013

Berselaras dengan Jalan Kaki

Maret 01, 2013

Jalan itu menyehatkan dan unik. (google.com)

Nyaris sebulan saya telah menjalani kebiasaan baru saya. Sebenarnya, bukan kebiasaan baru juga sih. Lama, jauh sebelum saya hidup di kota, saya sudah hari melakoninya; berjalan kaki. Lebih dari tiga kilometer jauhnya jarak rumah saya ke sekolah dan harus dilalui setiap hari. Di daerah saya, angkutan umum masih sangat minim. Karena kita jalan kaki ramai-ramai, makanya cukup menyenangkan. :D

Saya senang berjalan kaki. Apalagi ketika sepeda yang sering saya gunakan raib entah kemana. : (


Saya lebih memilih berjalan kaki ke kampus di pagi hari ataupun sore hari ketimbang mengendarai kendaraan bermotor, apalagi ketika jaraknya juga tidak begitu jauh. Tapi, ya itu, saya jalan kaki kalau cuaca tidak begitu terik, pagi atau sore hari. Kebetulan jadwal kuliah saya banyak yang mengambil waktu sore hari dan hanya satu mata kuliah yang berlangsung di pagi hari. Siang hari, kala matahari sedang terik-teriknya, saya memilih untuk mengendarai motor saja. Saya juga kan takut kulit saya jadi hitam. :P

Percaya atau tidak, ada banyak hal yang saya dapatkan dari berjalan kaki. Menyusuri jalan selangkah demi selangkah memberikan kita waktu sedikit lebih lama untuk banyak berpikir, merenung, bahkan menemukan sedikit inspirasi. Jalan kaki sendiri memberikan saya banyak waktu untuk memikirkan kehidupan saya kelak, bahkan untuk sekadar mencari solusi atas permasalahan hidup saya. Nah, disana saya selalu menemukan titik terangnya. Bravo!

Dengan berjalan kaki, detail-detail kehidupan akan terekam begitu jelas di mata kita. Tidak hanya asal lewat. Terkadang, memang, untuk memunculkan ide ataupun inspirasi kita butuh menyimak secara detail segaal hal di sekeliling kita. Entah itu benda, makhluk hidup, maupun kondisi lingkungan di sekitar kita. Ada setitik kesadaran yang biasanya akan tertangkap di benak kita dan menyalurkannya sebagai pengalaman baru. Saya pernah membaca sebuah buku, dengan mengalami atau menyaksikan hal-hal baru di luar kebiasaan kita akan menciptakan sambungan sel-sel saraf yang baru di otak. Hal itu tentu saja menciptakan keterampilan baru bagi kita. Luar biasa, bukan! Oleh karena itu, kita selalu dituntut untuk menemukan hal-hal baru.

Karena kesibukan, kebanyakan orang jadi lupa bagaimana caranya berpikir. Meluangkan waktu untuk berpikir ataupun merenung saja mereka tidak sempat. Padahal, berjalan kaki juga menyehatkan menurut anjuran dokter, loh.

Sembari menyusuri jalan raya yang hanya berjarak satu kilometer ke kampus, saya biasanya menyelipkan earphone di kedua telinga saya untuk sekadar merilekskan pikiran. Saya menyetel volume musik di “dunia” saya itu sekencang-kencangnya. Akhirnya, bukan suara kendaraan-kendaraan bising lalu-lalang yang saya dengarkan. Melainkan, saya menyaksikan “dunia” yang cukup unik; kendaraan lalu lalang, orang-orang berteriak tanpa suara, alam yang nampak terdiam, digantikan dengan suara lantunan musik yang menemani perjalanan pagi maupun sore itu. Saya tenggelam dalam”dunia” saya.

Oh ya, terkadang saya malah ingin berjoget melompat-lompat pula tatkala mendengarkan dentuman musik pop yang menggema di telinga saya. Cuman, saya malu dong jika harus bergoyang tak jelas di depan umum seperti itu. Haha
 

Apa kalian tahu istilah backpacker? Kalau kata teman saya, istilah ndeso-nya nggembel. Orang-orang yang melakukan perjalanan jauh alias travel dengan modal ransel besar di punggung tanpa kondisi keuangan yang cukup. Tidak sampai gelandangan juga sih. Tapi, terkadang mereka yang menjalani backpacking rela menginap di tempat-tempat yang belum tentu mereka kenal dengan baik. Malah, ada yang sampai tidur di pinggir jalan.

Bagi saya, mereka bukannya hidup dalam kondisi keuangan yang memprihatinkan. Sama sekali tidak! Lihat saja di mancanegara, ada banyak backpacker yang berhasil mengelilingi Eropa, justru di saat mereka seharusnya bisa menikmati perjalanan-perjalanan berkelas eksekutif. Mereka melakukan perjalanan dengan backpacking semata-mata untuk menikmati pengalaman “unik” atas perjalanan-perjalanan mereka.

Mereka sadar bahwa menyaksikan dunia dengan cara yang lebih lambat dan berbeda akan memberikan banyak pemahaman-pemahaman baru. Dunia berputar lambat. Sedikit menyelaraskan ritme hidup dengan perputarannya tentu akan memberikan keasadaran baru, tentang kehidupan itu sendiri.

“Kapan-kapan, coba deh kamu kesini, rasain sendiri bagaimana nggembel di Jawa. Seru loh!” sepetik semangat yang saya dapatkan dari “gembel” sejati, justru dari seorang perempuan.

“Beres! Saya memang sudah lama kepengen jalan-jalan ke tanah kelahiran kedua orang tua saya,” ujar saya dalam hati. Yah, saya berharap kelak bisa berkeliling pulau Jawa bersama teman-teman ala nggembel alias backpacking itu. I wish it and I believe it!   



 --Imam Rahmanto--


The 5th post of #7day7post