Minggu, 17 Februari 2013

Teruntuk Hati...

Teruntuk hati yang masih belum sempurna...

Seharusnya tiba tiga hari yang lalu, tepat di hari kasih sayang. Tepat ketika semua orang, kata semuanya, merayakan kasih sayang bersama orang-orang terkasih mereka. Tapi, apa engkau percaya? Aku sebenarnya tak pernah percaya tentang hari akal-akalan itu. Hanya saja, entah mengapa hatiku selalu berharap ada momen spesial yang memang diskenariokan Tuhan untukku. Tentu saja aku hanya manusia biasa yang selalu berharap tentang cinta yang akan tiba padaku...

Teruntuk hati yang masih belum sempurna dan masih menunggu...

Aku disini baik-baik saja. Selalu baik. Bersemangat. Aku harap engkau senang. Aku menunggu sebagaimana engkau menanti agar tepat ketika aku tak baik, maka engkau ada membuatku nyaman dan lebih baik. Aku masih menjaga kesehatanku, agar engkau satu-satunya yang menjadi obat bagi sakitku, pelipur bagi laraku...

Teruntuk hati yang masih menanti sempurna...

Sebagaimana kesempurnaan itu sejatinya bisa dicapai dengan melengkapi kekurangan pada diriku...atau pada dirimu... Engkau melihatku berbeda. Aku melihatmu berbeda. Bola mata kita hakikatnya menangkap keindahan yang tak bisa dirasakan orang lain. Mata kita bak sebuah kamera, tiap angle berbeda selalu menyimpan hal-hal unik untuk dipotret, diabadikan. Sama halnya ketika aku merekam setiap senyum yang tak kau sampaikan. Begitu sempurna... dan engkau melengkapinya.

Kata orang, cinta itu memabukkan. Sekali meneguk atau mencicipinya, maka pikiran waras sulit kembali seperti semula. Terkadang, kita benar-benar terlihat pandai karena cinta. Akan tetapi, kebanyakan, aku justru merasa jadi orang paling bodoh ketika harus mencintai. Ada banyak hal yang bermula dari ketidakwarasan itu. Apalagi ketika harus mencintai dalam diam...

Maaf...
Apa aku mengenalmu? Apa kau mengenalku? Entahlah...
Aku hanya berpikir, jangan-jangan Tuhan sementara menyiapkan seseorang yang akan menjelma engkau disana. Orang yang sejatinya baru akan berkenalan denganku, entah dimana dan bagaimana momennya. Aku pernah berpikir menemukanmu seperti kisah-kisah romantis komersil yang dijual oleh para sutradara-sutradara film. Jujur, puluhan kali aku membayangkannya. Tak perlu tertawa. Pikiranku telah lama diracuni oleh sinetron-sinetron yang selalu ditonton oleh ibu dan adikku. Romantisme selalu diukur oleh kekayaan...

Atau...

Tuhan justru telah mempertemukan kita, di waktu yang tak pernah kita tahu. Sering atau sesekali. Sadar atau tak sadar. Bagaikan mesin waktu...

Teruntuk hati yang masih belum menepi... 

Semoga hati yang masih mencari pasangan yang cocok untuk disinggahi.

Teruntuk hati yang selalu berbagi harapan...

Seberapa banyak engkau berharap tentangku? Apakah sebanyak harapanku untukmu? Karena harapan adalah satu-satunya cara yang dianugerahkan Tuhan untuk kita bisa melihat masa depan. Aku melihatmu tiba sebagai masa depanku.

Teruntuk hati yang (akan) selalu hadir sesempurna bayangnya dalam mimpiku... 



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar