Minggu, 24 Februari 2013

Seperti Anak Kecil...

Seperti anak kecil…
 

Bagaimanapun keadaannya, ia tetap tersenyum begitu bahagianya. Ia mampu tertawa lepas. Tergelak. Ataupun terbahak-bahak. Tak pernah sekalipun dalam pikiran seorang anak kecil itu terlintas untuk tertawa “terpaksa” hanya untuk memenuhi tuntutan sesuatu. Mereka ingin tertawa, tertawa.

Saya ingin seperti anak kecil…


Jujur apa adanya. Tidak satu pun perkataan mereka ditutup-tutupi. Ceplas-ceplos. Tidak heran jika kita terkadang lebih mempercayai ucapan anak kecil dibandingkan ucapan seorang dewasa. Usia mereka yang masih dini belum begitu paham dengan cara berbohong orang dewasa.
 

Tanpa ragu, mereka juga senang untuk bertanya. Malah, pertanyaan-pertanyaan yang belum mereka jangkau sudah bisa mereka tanyakan. Dalam pikiran mereka, tak pernah terbayang untuk merasa takut “bertanya”. Mungkin, mereka belum pernah mendengar istilah malu bertanya, sesat di jalan, tapi hakikat pepatah itu sudah tertanam dalam pikiran mereka.
 

“Kak, Kak, hujan itu terbuat dari apa sih?” Pertanyaan yang mampu dijawab secara ilmiah, tapi saya tidak yakin mampu diterima oleh akal seorang anak kecil.

Seperti anak kecil…


Mereka suka berimajinasi. Khayalan mereka masih murni. Mereka bebas untuk berkhayal, memainkan segala daya mereka untuk menciptakan segala hal di luar batas kenyataan. 


Oleh karenanya, anak kecil sangat jarang dilingkupi oleh depresi. Masalah yang menimpa mereka seakan-akan dibiarkan berlalu begitu saja. Mungkin, mereka hanya akan menangis sesenggukan. Habis itu, semua nampak sama. Seolah-olah tak ada yang terjadi. Bahkan, sikap saling memaafkan pada mereka begitu nyata.
 

Pernah tidak, melihat dua orang anak kecil berkelahi hanya untuk berebut mainan? Mereka kemudian bertengkar, saling dorong. Setelah salah satunya menangis, dan memperoleh mainan lainnya, ia kemudian ikut bergabung untuk bermain bersama. Sama sekali tidak ada perasaan dendam diantara keduanya. Secara tidak langsung, si anak tidak pernah memikirkan berlarut-larut kesalahannya ataupun kesalahan orang lain padanya.
 

Saya bukannya ingin menjadi anak kecil lagi…
 

Ada hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita. Ada pula hal-hal yang memang tidak bisa kita hindari untuk terjadi pada diri kita, selain menerimanya dengan lapang dada.
 

“Musibah tdak pernah pilih-pilih siapa yang akan dijumpainya,” ujar guru saya suatu ketika.
 

Entah, sudah ke-berapa kalinya saya minggu ini diterpa masalah, yang kata sebagian besar orang justu sebuah musibah. Di saat saya sudah mulai bangkit dari satu masalah yang menimpa saya, yang nyaris membuat saya tidak bisa lagi berbuat apa-apa, ternyata masalah lain di depan telah menanti saya. Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang harimau.
 

Sejujurnya, saya tidak ingin mengeluh, seperti apapun yang terjadi pada saya. Akan tetapi, keadaan saya memaksa untuk mencari tempat pelampiasan yang cocok dengan “kesusahan” yang sedang saya rasakan. Saya ingin melampiaskan semua uneg-uneg saya pada orang lain, namun kenyataannya tidak begitu banyak orang yang bersedia untuk dijadikan tempat berkeluh kesah. Akh, apakah setiap orang memang enggan untuk berhadapan dengan sebuah “masalah”?
 

Saya ingin memiliki jiwa seorang anak kecil…
 

Begitu mudahnya ia melupakan setiap masalah. Begitu mudahnya ia tersenyum pada orang lain. Begitu mudahnya ia tertawa lepas atas apa yang terjadi padanya. Tidak pernah mengeluh. Tidak butuh orang lain untuk bercerita. Jikalaupun seorang anak kecil berbuat kesalahan, maka ia akan mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan bergegas bermain kembali. Ia melupakannya dengan cara yang ajaib.

I need a miracle like a children doing…


“Tuhan yang baik, terima kasih atas rahmat yang telah Kau berikan hari ini. Semoga esok lebih baik lagi,”


 

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar