Selasa, 05 Februari 2013

Bersepeda

Pagi ini, saya menjalani sepotong waktu pagi dengan bersepeda. Ya, bersepeda! Hmm...sayangnya, bukan milik saya. Sepeda itu hasil pinjaman dari salah seorang kakak senior saya di redaksi. Sudah lama saya “naksir” ingin meminjam sepedanya, apalagi minggu-minggu ini kampus saya masih libur semester. Namun, baru semalam saya mendapati kesempatan untuk nguber sepedanya.

Saya senang bersepeda. Sejak kecil, saya sudah pandai mengayuh sepeda. Meskipun di daerah kelahiran saya tidak begitu menarik untuk dijadikan rute bersepeda, maklum bergunung-gunung, namun ketika masih kecil, sepeda menjadi tren tersendiri bagi masyarakat di daerah domisili saya.
***

Saya masih menginjak sekolah dasar. Tidak punya sepeda. Hanya bisa melihat teman-teman yang lainnya mengayuh sepeda-sepeda baru mereka. Berputar-putar mengelilingi lapangan yang dulu pernah dijadikan lapangan bulu tangkis. Kadang kala tersenyum gembira. Kadang kala tersenyum mengejek satu sama lain.

Melihat mereka bersepeda begitu riangnya, saya juga ingin pandai bersepeda. Biarlah hanya sekadar pandai, meski tak punya barang semahal itu. Saya masih ingat, Wim Cycle menjadi sepeda terlaris kala itu. Sepeda yang diproduksi khusus kaum anak kecil sampai remaja. Iklannya juga merajalela di setiap layar kaca.

“Ah, tidak boleh! Jangan pernah minjem-minjem sepedanya temanmu. Apalagi kamu ndak tahu cara pakainya. Kalau rusak, siapa yang mau ganti coba?” Ayah saya selalu melarang dengan ancamannya.

Hingga suatu ketika, ayah mengejutkan saya dengan sepeda yang dihadiahkannya untuk saya. Bukan sepeda baru. Hanya sepeda rongsokan hasil modifikasi ayah saya. Ia pandai dalam hal otomotif. Ia merakit sepeda itu dari kerangka bekas yang ia temukan dari hasil rongsokannya.

Oh ya, dulu ayah saya bekerja sebagai seorang pengumpul barang bekas. Semua barang-barang bekas, baik logam maupun non-logam, dibelinya dari orang-orang yang tak lagi membutuhkannya. Ada kaleng bekas, panci rusak, wajan, besi-besi bekas, dan sebagainya. Mungkin hampir sama dengan pekerjaan seorang pemulung, namun dalam pengertian yang lebih modern. Untuk selanjutnya, barang-barang hasil pungutan ayah saya itu disortir dan dibeli kembali oleh mobil kampas yang setiap bulan datang ke ruimah kami. Maka bukan pemandangan yang asing ketika di depan rumah saya (dulu) banyak teronggok barang-barang bekas, dari botol sampai logam.

Beberapa barang yang dianggapnya berguna, dirakitnya hingga jadi sepeda bekas. Seingat saya, hanya bannya saja yang dibeli langsung oleh ayah saya. Meskipun tinggi sepeda tidak lebih tinggi dari lutut orang dewasa, namun sudah cukup membuat saya senang bukan kepalang.

“Akhirnya saya punya sepeda sendiri,” ujar saya dalam hati.

Maka dari sepeda kecil itulah saya mulai belajar mengayuh sepeda. Tanpa dilengkapi rem tangan. Untuk menghentikan laju sepeda, saya hanya berbekal sandal jepit yang terpasang di kaki saya. Jika laju sepeda benar-benar tak bisa terhenti, maka dua kaki saya akan berfungsi sebagaimana mestinya, memijak dasar bumi. Alas sandal "jepang" saya sampai habis dalam seminggu hanya gara-gara digunakan untuk mengerem. Dari sepeda itu pula saya kemudian senang adu balap dengan teman – teman sebaya yang memiliki sepeda jauh lebih keren dan lebih besar.
***

Saya cukup senang mengayuh sepeda. Bersepeda mengingatkan saya pada sepeda kecil saya dulu. Bagaimana sulitnya berpacu di jalan-jalan tanjakan. Namun merasakan nikmatnya pada jalan-jalan landai (turunan), usai menaklukkan tanjakan itu. Wusssshhh!!! Sepeda melaju dengan kencang sembari angin menerpa wajah. Menyenangkan!

Salah satu penaklukan saya pagi ini. From Makassar to Gowa. ^_^. (ImamR)
Sepeda, menjadi salah satu impian saya di kota besar ini. Sejak lama saya sudah mengidam-idamkan memiliki sepeda. Membayangkan berkendara sepeda di pagi hari sambil menghirup udara segar nampaknya sungguh menyenangkan. Dan memang menyenangkan. Apalagi dengan permukaan kota yang cukup datar, sangat mudah untuk dilalui kendaraan “kayuh” beroda dua. Sejauh apapun, mengitari kota, bisa dilalui dengan mudah dan santai. Tak heran jika tiap bulan pemerintah selalu mencanangkan program-program acara sepeda santai untuk masyarakat kotanya.

Dan kini saya membayangkan, bagaimana seandainya di kota besar, seperti Makassar, ditetapkan Bicycle Day, hari berkendara sepeda?


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Wah, di kos aku juga ada sepeda. Premier 3.0. Tapi karena kempes dan malas ke bengkel, jadi mangkrak deh, huhuhu. Sekarang, kalau mau sepedaan, tinggal ke kampus dan pinjam deh. KTM jadi jaminannya. Gegera baca tulisan ini, jadi semangat gowes lagi deh, hahaha :D

    BalasHapus
  2. Kamu enak punya sepeda, tapi dianggurin. Mestinya dipake dong... -_-
    kalau gak dipake, sini dipaketin ke Makassar aja biar aku yang pake. Hahaha...

    BalasHapus