Rabu, 20 Februari 2013

Laptop



Pernahkah kalian merasakan sakit hati yang lebih sakit daripada ditolak cintanya oleh seorang wanita? Saya pernah, dan baru saja terjadi...

Laptop saya bermasalah lagi untuk yang kedua kalinya. Padahal, selang waktu kesembuhannya dengan sakit pertama kemarin, hanya beberapa hari. Dan kini, usai menampilkan blue-screen berkali-kali, ia tak mau lagi login alias hanya menampilkan black screen disertai tulisan-tulisan yang saya sendiri tak mengerti apa maksudnya. Alhasil, setelah saya telusuri, hardisk yang dimilikinya tidak lagi terdeteksi. Dengan kata lain, segala data yang tersimpan di dalamnya bakal musnah. Musnah-semusnah-musnahnya....

"Ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Kalau mau bagus lagi, ya semestinya diganti yang baru," saran tukang service tempat saya mengadukan keluhan.

Dia, laptop saya, tak lagi sekadar "koma". Dulu, "sakit"pun dia, saya masih tetap bisa menggunakannya. Tapi, sekarang??? Bahkan, jika boleh saya katakan, ia akan menemui ajalnya. Lahir dengan kondisi yang berbeda, jauh berbeda dari sebelumnya. Segala ingatan/ memory atau data tentang saya, pekerjaan saya, urusan saya, kuliah saya, tulisan saya, rancangan saya, foto-foto dokumentasi saya, desain saya, organisasi saya, kepentingan saya, dan all about me akan hilang selama-lamanya. :(.

Saya baru kali ini benar-benar sakit. Kondisi ini tidak hanya tentang saya, namun ada kepentingan orang lain yang harus ikut terseret bersama

Laptop. Salah satu benda yang menurut saya telah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Ia menyimpan separuh dari memory saya. Ia menyimpan sebagian dari mimpi-mimpi saya. It's not just for designing and writing...

Usianya belum genap setahun. Saya ingat betul kapan pertama kali memilikinya; 6 Juni tahun lalu, tepat sembilan hari sebelum tanggal kelahiran saya. Oleh karena itu saya sempat mendedikasikannya sebagai hadiah ultah buat diri sendiri. Pertama kali, saya mendapatkan benda yang saya inginkan dari usaha sendiri...

***

Betapa saya dulunya begitu mengidamkan laptop, jauh hari sebelum saya mengenal dunia desain dan semacamnya. Saya lebih tertarik pada kebutuhan saya untuk terus menulis dan untuk menunjang aktivitas perkuliahan. Just write. Malah, saya dulu pernah lebih memilih difasilitasi laptop dibandingkan motor.

"Motormu mau dibawa ke Makassar?" tanya ayah saya.

"Hmm...terserah, Pa'e. Tapi, kalau saya disuruh memilih, lebih baik punya laptop saja. Ndak apa-apa deh saya ndak pake motor di Makassar, selama saya punya laptop," ujar saya sedikit bercanda.

Meskipun pada akhirnya ayah saya tidak pernah mengabulkannya. Jika ditanya mengapa, jawabannya lazim saja, "Nanti kalau ada uang, kamu baru dibelikan laptop,"

Adalah target kedua saya ketika pertama kali mencoba memasuki dunia "kerja sampingan". Saya menjalani kerja sampingan sebagai guru les privat setelah sebelumnya sibuk mengubek-ubek koran lokal di bagian Lowongan kerja, menjelang mengawali semester tiga saya. Honor pertama berhasil saya hibahkan untuk memenuhi target pertama saya. Dan selanjutnya beralih ke target kedua: laptop.

Setahun lalu, saya sudah mulai punya kemampuan di bidang design. Saya terbiasa mengerjakan layout surat kabar kampus, sehingga memudahkan saya untuk membuka diri pada bidang-bidang desain lainnya.

Segala sesuatu pasti ada waktunya.  

Tiba waktunya ketika saya mulai diserahi tugas desain oleh seorang senior saya. Tentu saja dengan budget yang menjanjikan. Cukup desain saja = dapat bayaran. ^_^. Akan tetapi, karena laptop belum ada, jadilah laptop milik teman saya harus sering bermalam di tangan saya.

Hal tersebut kemudian memaksa saya untuk lebih kekeuh memperjuangkan kehadiran laptop. Saya memaksa. Saya berpikir, tidak mungkin harus menyusahkan orang lain. Malah hampir setiap malam saya memimpikannya.

Saya berusaha. Meskipun harus berangkat dari keadaan "minus" dulu. Namun, kala itu saya yakin bisa memenuhinya. Just believe it!

***

Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Segala ingatan laptop saya tentang saya akan hilang serentak. Separuh kerja keras saya akan hilang, yang hanya meninggalkan jejak-jejak sakit hati yang lebih parah dari ditolak cinta. Mau tidak mau, saya akan mengulang semuanya, untuk saya maupun untuk orang lain...

Laptop. Lenovo. Evo. Hitam. Kesayangan. Pribadi. Desain. Menulis. Browsing. Kemana-mana. Pagi. Cappuccino. Huruf. Wallpaper. Hilang...

Segala sesuatu akan tiba masanya...

*Seandainya ada tempat sepi, luas, yang bisa dijadikan tempat untuk berteriak sekencang-kencangnya, kabarkan pada saya...



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar