Senin, 18 Februari 2013

Figur Seorang Kakak

Hei...

Apa kalian punya kakak? Saya tak punya. Karena Tuhan memang telah menggariskan hidup saya menjadi anak pertama dalam keluarga saya. Terkadang menjadi seorang anak pertama harus mampu mengayomi adik-adiknya. Akan tetapi, di satu sisi, seorang anak pertama juga tak jarang merindukan sosok seorang kakak yang mampu menjaganya atau bahkan menjadi teladannya.

Menginjak sekolah dasar, saya pernah memiliki “kakak perempuan”. Saya menganggapnya demikian jika di sekolah saja, tapi bukan hanya sebagai seorang kakak kelas. Selain karena dia juga sesama orang Jawa, di lingkungan tempat tinggal saya ada beberapa orang keluarga yang memang sama-sama berasal dari tanah Jawa, saya menganggapnya “kakak” karena memang semasa kecil saya, ia satu-satunya juga yang selalu baik dengan saya di sekolah. Setiap saya meminta uang saku, ia selalu memberikannya buat saya. Padahal saya bukan saudara kandungnya...

Hal tersebut berlangsung selama saya beranjak SD. Akan tetapi, semenjak “kakak” saya itu lulus sekolah, kami sudah jarang berkomunikasi lagi. Saya lupa, ia bersekolah dimana. Meskipun rumahnya tidak begitu jauh dengan rumah saya, hanya dibatasi oleh lima-enam rumah, saya sungkan untuk menengoknya. Namanya juga anak-anak... Dan akhirnya, saya tak pernah punya seorang “kakak” lagi...

Lain di sekolah, lain pula di rumah.

Saya memiliki seorang tetangga, selisih dua tahun dengan saya. Diam-diam saya lambat laun mengikuti apa yang selalu dia lakukan. Sedikit banyak, saya mencontoh hal-hal yang sering dia kerjakan. Secara tak langsung, saya menganggapnya sebagai seorang “kakak”, meskipun saya tak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak. Just call his name.

Bagaimana cara dia berpakaian, saya sedikit mencontohnya. Bagaimana cara dia memotong rambut, saya juga seperti itu. Bagaimana ia bergaya, saya sedikit mencontihnya. Cara dia menyukai sesuatu, saya juga menyukainya. Hanya saja, cara dia menggaet teman perempuannya di sekolah tak pernah bisasaya kuasai. :P

Kami, biasanya kalau tak ada kerjaan, sering menghabiskan waktu sekadar nongkrong di depan teras rumahnya. Tak jarang teman-teman sebayanya juga berkumpul dengannya. Saya hanya ikut-ikutan saja. Apalagi ketika saya juga sudah memiliki gitar, kami lebih sering berkumpul di depan rumahnya. Ia belajar gitar, sedikit dari saya. Entah kini, apakah ia lebih mahir dari saya atau sudah melupakannya sama sekali.
Saya tak pernah sungkan berkumpul bersama teman-temannya. Toh, beberapa dari mereka adalah kakak dari teman sekolah saya. Lambat laun mereka juga akhirnya mengenal saya.

Dan akhirnya, saya berpisah lagi dengan “kakak” saya yang satu ini. Ia kuliah di kota, seperti tempat saya sekarang. Namun di universitas yang berbeda. Dan kini ia bekerja jauh di pulau Kalimantan sana. Sesekali saya pernah berkomunikasi dengannya, walaupun via jejaring sosmed.

Yah, meskipun saya adalah anak pertama, seorang kakak bagi satu adik perempuan saya, tapi terkadang saya juga butuh seseorang untuk dijadikan contoh. Adalah hal yang wajar ketika saya merindukan seorang kakak yang bisa menjadi contoh maupun pelindung bagi saya. Tak peduli, laki-laki atau perempuan. Setidaknya, selama saya bisa memanggil mereka dengan sebutan “kakak” bukan sekadar senior.

Akan tetapi, waktu semakin berlalu. Waktu pula yang semakin mendewasakan seseorang. Saya tak bisa lagi terlalu berharap tentang kehadiran seorang kakak buat saya. Sayalah kini yang menjadi seorang kakak. Sudah seyogyanya menjadi kakak yang benar-benar mengayomi adik saya. Kakak yang patut menjadi contoh bagi adik saya. Semakin dewasa, maka tanggung jawab yang dipikul pun semakin besar. Waktu yang selalu membelajarkan kita...

Saya selalu ingin menjadi kakak yang baik, dengan selalu berusaha “sejajar” menjadi adik yang baik.

“Kakak, kapan pulang?”

Adik perempuan saya bertanya seperti biasa lewat telepon. Saya hanya bisa menjawab, “Kalau ada libur dan tidak sibuk lagi, saya pasti pulang.”

Padahal, selama ini waktu libur sering menghampiri saya...



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar