Senin, 04 Februari 2013

Belajar Dari Siapa Saja (2)

Mari terus belajar. (Google Search)
Lagi, saya belajar dari kehidupan. Saya belajar dari pengalaman orang lain. Ada banyak hal yang ternyata saya pelajari, dan menjadi tempat saya untuk belajar. Karena bulan ini adalah Februari maka saya akan banyak belajar tentang membina kasih sayang. ^_^.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman berbagi kisah dengan saya. Kisah asmaranya, yang mungkin telah berlalu setahun yang lalu. Entah bagaimana caranya saya bisa membuatnya “membuka mulut” perihal asmaranya itu, karena terkadang tidak banyak orang yang mau blak-blakan untuk bercerita persoalan pribadi seperti itu pada orang lain.

Banyak hal yang kemudian menjadi refleksi saya, untuk belajar…

Sebenarnya seperti itulah esensi belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu, from nothing to something. Belajar bisa dilakukan dimana saja dan kepada siapa saja. Kita menjalani hidup, memperhatikan keadaan sekitar, lalu mengambil pelajaran darinya. Pelajaran malah tidak selalu dari orang yang lebih tua. Umur yang lebih banyak tidak menjamin seseorang memiliki ilmu yang lebih banyak pula. Siapapun yang memiliki ilmu yang dibutuhkan itu, maka kita pun bisa belajar darinya. Tak peduli orang itu jauh lebih muda dari kita, atau bahkan masih umur kanak-kanak.

Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi dengarkan apa yang dikatakannya.

Semisal seorang professor sekalipun, tidak lantas dianggap sebagai orang yang paling pintar. Memang, ada banyak ilmu yang dia kuasai. Tapi, apakah dia tahu cara mengayuh becak? Apa dia tahu cara berdagang yang benar? Apa dia tahu cara membuat cup-cake? Apa dia tahu cara beribadah dengan benar? Apa dia tahu cara  mengganti popok bayi? Atau apa dia tahu cara menyatakan cinta yang benar?

Pada kenyataannya, kita ini adalah makhluk sosial. Kita diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar menguasai segala jenis ilmu maupun keterampilan. Masing-masing orang harus mengerti cara belajar. Karena pada hakikatnya, belajar itu berarti mengisi kepala kita dengan sesuatu yang sedari awal kita tidak mengetahuinya. Kita mengolahnya, lantas “membacanya”. Jika menurut kita baik, maka kita menerima dan menggunakannya. Jika tidak, kita tentu membiarkannya, dan memberikan kesempatan orang lain untuk mempelajarinya.

“Bagaimana ya? Kalau mau bilang itu, harus yang pasti-pasti dulu. Gejala-gejalanya harus jelas,” ujar teman saya. Seandainya saya bawa notebook dan semacamnya pada saat itu, mungkin ada banyak catatan yang bakal menjadi coretan saya. Oh ya, seorang BJ. Habibie pun masih sering membawa-bawa buku catatan kecil di saku bajunya. Ia senang belajar. Dan ia mengabadikannya lewat catatan itu, supaya tidak lupa.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,”   ---Ali bin Abi Thalib---

Nah, saya belajar tidak selalu kepada orang yang lebih tua dari saya. Atau tidak juga dengan orang yang lebih pandai dari saya. Saya lebih suka belajar dengan orang yang biasa-biasa saja. Karena pada kenyataannya, orang-orang seperti itu memiliki sesuatu yang luar biasa, yang tidak diperlihatkan bebas kepada orang lain. Masa bodoh jika orang lain memandangnya sebelah mata. Because: Everyone is unique. Ada sisi-sisi atau sudut-sudut yang tidak selalu menjadi perhatian orang lain.

Olehnya itu, saya berusaha tetap belajar. Tetap menulis. Terus belajar. Tentunya, belajar “membaca”. Tak sekadar membaca, tapi membaca kehidupan….


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar