Kamis, 28 Februari 2013

Kerja. Kerja. Kerja

Februari 28, 2013
Saya memandangi layar handphone saya. Di layar utamanya menampilkan sebuah tulisan yang lebih dari seminggu lalu saya menuliskannya secara acak-acakan. Tujuannya tidak lain hanya untuk mengompori saya untuk berbuat selayaknya.

Ini hape bareng laptop yang akhirnya bisa kembali "hidup" seutuhnya. (Foto: ImamR)

Kerja, Kerja, Kerja!

Saya mengutip salah satu semangat yang ditularkan Pak Dahlan Iskan, mantan Dirut PT PLN yang kini menjabat sebagai menteri BUMN RI. Semasa jabatannya sebagai Dirut PT PLN, ia dengan terang-terangan mengubah slogan PLN: Electricity For A Better Life atau “Listrik untuk kehidupan yang lebih baik” kemudian diterapkan di lingkungan koorporasinya sendiri.

“Saat ini (tahun 2011, red) semangat bekerja tinggi yang sedang kita butuhkan. Kita harus fokus bekerja,” begitu ujar Dahlan Iskan, dalam buku yang saya baca lebih dari seminggu lalu.

Saya senang dengan salah satu terobosan Pak Dahlan Iskan itu. Terbukti, melalui slogan itu ia bisa menciptakan peningkatan yang signifikan di wilayah lingkup para pekerja di PLN. Bahkan, tingkat pemerataan listrik ke banyak daerah terpencil akhirnya bisa terpenuhi lewat terobosan uniknya itu. Secara tidak langsung, Dahlan mendidik rakyat untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Bukannya ingin menyontek, apalagi menjiplaknya. Saya hanya ingin menyontoh semangat yang sempat ditularkan Dahlan Iskan kepada koorporasi yang dipimpinnya itu. Bedanya, saya tidak harus dengan lantang menyuarakan slogan itu kepada banyak orang di sekitar saya, apalagi dengan mengajukan permintaan kepada Pak Presiden atas perubahan slogan itu. Akan tetapi, setidaknya saya harus mengubah semangat saya dulu, baru bisa mengubah semangat pada diri orang lain.  Karena memang, kini, semangat seperti itu yang sangat saya butuhkan. Beberapa maslah yang sempat mampir di kehidupan saya membuat saya untuk banyak berusaha. Jauh lebih giat.

“Kerja” ini tidak terpatok pula pada sesuatu yang menghasilkan uang saja. Namun mencakup hal yang lebih luas; mengerjakan segala hal yang diembankan atau ditugaskan buat saya. Kuliah, organisasi, freelance, dan hidup. Semua harus dikerjakan secara baik dan benar. Sulit memang, namun yakin saja semua pasti menemukan jalannya. Tentu saja, dengan kerja keras!

Hasrat Untuk Berubah*

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
Aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah

Maka cita-cita itupun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya,
hasrat itupun tiada hasilnya.

Ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.

Tetapi celakanya,
merekapun tidak mau diubah!

Dan kini,
sementara aku berbaring, saat ajal menjelang
tiba-tiba kusadari.

“Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
maka dengan menjadikan diriku sebagai penutan,
mungkin aku bisa mengubah keluargaku.

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku,

kemudian siapa tahu,
aku bahkan bisa mengubah dunia”

Puisi tersebut adalah ukiran yang tertulis pada sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris sejak tahun 1100 M. Saya mendapatinya pertama kali di sekolah menengah dulu, ketika salah seorang guru membantu saya untuk membuat karya tulis untuk dipersiapkan ke ajang pendidikan lingkup Kabupaten hingga ibukota provinsi.

Bagi saya, puisi itu telah menunjukkan cara bagaimana kita bisa mengubah lingkungan sekitar kita, bahkan dunia sekalipun.

Karena segala sesuatunya memang harus bermula dari diri sendiri, maka saya mendorong (memaksa diri) untuk berubah. Bukan berubah menjadi superhero seperti dalam film-film yang banyak saya tonton semasa kecil. Mengubah segalanya (yang rusak) dengan kerja keras. Kerja. Kerja. Kerja! Dari diri sendiri.

“Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Akan tetapi, dimana ada jalan, disitu HARUS ada kemauan!”

Mari berasumsi bahwa segala sesuatu pasti selalu menemukan jalannya. Masalah serumit apapun pasti bakal menemukan titik terangnya. Tujuan atau target apapun yang ingin dicapai pasti mampu diwujudkan dengan usaha dan kerja keras. Yah, meskipun sedari awal kita sudah harus bersusah payah dan mungkin harus terjatuh, tersungkur, dan malah terjungkir balik. Tapi, kata pantun lama; berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

Nah, ketika ada jalan terbuka bagi saya untuk dilalui dengan sedikit bekerja lebih keras, mengapa tidak, saya menjajalnya?


--Imam Rahmanto--

The 4th of #7day7post

Rabu, 27 Februari 2013

Belajar Menerima untuk Bersyukur

Februari 27, 2013

“Ya, pertemuan kita minggu depan akan melanjutkan presentase hari ini,”

Presentasi, Pak, presentasi,” ujar saya pelan, tertahan. Saya merasa greget ketika mendengar beberapa orang dosen “salah menyebutkan” salah satu kosa kata itu. Yah, meskipun kata orang itu hanyalah persoalan sepele. Tapi, bagi saya, kebiasaan yang salah seperti itu jika dibiasakan berlarut-larut nanti malah bisa menjadi sebuah kebetulan (baca: kebenaran). Apalagi ini dosen loh, dosen!

Kemarin sore, saya baru saja mengikuti salah satu mata kuliah dosen tersebut. Semangat. Begitu bersemangat. Setelah dua semester lalu saya terpuruk perihal kuliah, kini saatnya saya untuk kembali membangun chemistry dengan suasana lingkungan kampus. Saya ingin mengembalikan semangat yang pernah terpompa di kehidupan sebagai mahasiswa baru. Saya tidak ingin selalu menjadi “pemain cadangan”.

Seperti yang disebutkan salah seorang teman saya dalam sebuah tulisan yang dipostingnya, bahwa pemain cadangan akan selalu menjadi pemain cadangan, tak akan ppernah menjadi pemain inti. Dalam kehidupan saya, berlaku hal berbeda. Dengan belajar mensyukuri, kita tentu akan menemukan maksud tiap rencana Tuhan itu, dan selalu, kita tidak akan menjadi “pemain cadangan”. ^_^.

Dalam kuliah, saya memungut semangat itu, sedikit demi sedikit…

Bagaimanapun, saya harus memaksa diri untuk menjalani kuliah yang setahun lalu sempat terpuruk. Kini, saya harus menjalani kuliah (mengulang) dengan mahasiswa-mahasiswa setahun di bawah saya. Saya merasa muda. Jangan heran ketika seseorang menanyakanpada saya, “semester berapa?” dan saya cukup santai menjawab, “Semester enam,”. Lha wong, saya lebih banyak menghabiskan kuliah semester enam di kesempatan kali ini. Saya lebih banyak mengenal teman-teman yang notabene adalah adik-adik kelas saya di kampus.

Namanya repair alias “memperbaiki”, memang selalu lebih sulit daripada menghancurkan. Namun, saya belajar menerima. Nrimo lan legowo. Bersyukur, karena memang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.

Bukan kebetulan ketika setahun lalu saya tidak begitu serius mengiktui proses perkuliahan saya. Bukan kebetulan pula ketika akhirnya nilai-nilai saya begitu mengenaskan dan jeblok. Sehingga, bukan kebetulan lagi jika saya hari ini harus menjalani perkuliahan bersama teman-teman yang baru dan lebih fresh. :p

Bagi saya, tidak ada yang namanya kebetulan. Tuhan sudah merencanakan begitu apiknya.

Bukan suatu kebetulan, lebih dari tiga tahun lalu saya tidak diluluskan dalam pilihan jurusan saya. Pilihan yang kata orang adalah pilihan terbaik alias pilihan sejuta umat. Pilihan yang sempat membuat saya kecewa setengah mati. Padahal, tidak sepenuhnya saya benar-benar gagal perkara pilihan jurusan saya. Saya digariskan Tuhan untuk melalui jalan di jurusan saya sekarang ini. Dan itu bukan kebetulan semata. Selalu ada rencana besar di balik keputusan-Nya.

Menjalaninya, saya belajar untuk mensyukurinya. Saya justru mengabaikan kesempatan di tahun berikutnya untuk bisa berkompetisi lagi mempersebutkan pilihan serupa. Buat apa? Toh, saya sudah menemukan sesuatu yang berharga disini. Saya telah menemukan alasan untuk tetap bertahan. Disini, saya memilih untuk menjadi “pemain inti”. Selain itu, saya punya prinsip mengakhiri dengan baik apa yang telah saya mulai.

Oleh karena itu, saya sedikit demi sedikit memungut semangat kuliah yang pernah terjatuh. Meskipun sedikitnya pula saya masih sempat agak risih (dan minder) bergabung dengan teman-teman “muda” saya. Namun, saya tetap saja memaksakan diri. Terkadang sesuatu yang dipaksakan lambat laun akan menjadi kebiasaan dan beralih menjadi kerelaan. Keterpaksaan – tanggung jawab – rutinitas – kebiasaan – kerelaan – bersyukur. Mungkin, seperti itulah sederhananya jika kita ingin bersyukur.

Yahh, meskipun agak sulit dan butuh waktu lama, saya akan tetap belajar. Hakikat hidup di dunia ini memang untuk belajar, kan? Belajar bahwa kesulitanlah yang akan membuat saya kuat. Belajar bahwa perjuangan ini nantinya yang (semoga) membuat saya menjadi manusia lebih tangguh. Belajar bahwa hidup tak selalu mudah. Dan belajarlah bahwa kebetulan itu tak ada…



…dan pagi ini saya memaksa untuk membangun semangat itu ketika nyaris tidak menemukan kelas untuk kuliah pagi. Saya nyaris saja bertemu kembali dengan rasa "malas" dan memutuskan untuk tidak kuliah pagi ini. Kelas yang biasanya kami gunakan dipindahkan ke kelas lain. Saya yang awalnya tidak tahu, memaksakan diri untuk tinggal lebih lama di kampus dan mencari. Hingga akhirnya saya bertemu dengan teman sekelas saya yang kemudian mengantarkan saya pada kelas kami...


--Imam Rahmanto--

The 3rd of #7day7post

Selasa, 26 Februari 2013

Cappuccino, Soal Kualitas

Februari 26, 2013
(google.com)
Wow, kebiasaan baru saya; tidur - pukul 3 dini hari dan bangun pagi – antara pukul 5 hingga 6 pagi. Great!!

Semalam saya menemukan sebuah situs yang banyak bercerita tentang kopi. All about coffee. Menarik. Langsung saja, saya sangat tertarik untuk menyambangi situs itu, mungkin. Terlebih dengan hobi saya meminum salah satu minuman ini, especially Cappuccino. ^_^.

Cappuccino. Entah sejak kapan saya tepatnya suka dengan  salah satu jenis kopi ini. Saya sebenarnya agak risih harus menyebutnya dengan “kopi”. Dalam benak saya, kopi adalah minuman “jahat” yang berwarna hitam pekat, terkadang pahit dengan ampas yang masih mengambang-ambang maupun mengendap di bawah gelas. Minuman “jahat”, karena seringkali membuat orang begadang tanpa alasan kuat. Padahal Rhoma Irama kan sudah melarang begadang. Apalagi, ayah saya sangat menyukai kopi. Saya cenderung selalu bertolak belakang dengan ayah saya…

Mungkin, bagi kebanyakan orang, cappuccino dan kopi itu sama saja. Tapi bagi saya, beda kok. Bedanya dimana? Pokoknya beda! Ya..beda. Nah loh?

Flashback:
Saya mengenal minuman satu ini dari salah seorang teman saya. Sebagai mahasiswa baru, kami kala itu masih sering “bareng” kesana-kemari. Ngobrol bareng. Kerja kelompok bareng. Nyari tugas bareng. Ngampus bareng. Pacaran bareng (ini bohong!). Nongkrong bareng, termasuk urusan nongkrong di salah satu kost-an salah seorang teman kami.

“Eh, Mam, mau kopi ndak?” tanya teman saya di tengah-tengah perbincangan hangat kami tentang perempuan.

“Hmm..saya ndak suka sama kopi,”

“Wah, ini bukan kopi biasa, kok,” Ia mengeluarkan beberapa sachet cappuccino, lantas menyerahkannya pada saya. Agak ragu, saya mencobanya. Selama ini saya lebih suka menikmati minuman semacam coffeemix. Jadi, agak kikuk dengan minuman baru seperti cappuccino.


Beberapa menit kemudian...

 
Lha, ini kok tidak ada rasanya?” protes saya agak kesal.

Teman saya yang melihat minuman di gelas saya tiba-tiba tergelak. 


“Mam, nyeduh minuman ini ndak seperti nyeduh minuman-minuman biasa yang lainnya, satu sachet = satu gelas. Justru yang satu ini beda. Kebanyakan air, rasanya malah hambar. Yang penting itu kualitasnya, bukan kuantitas,” sembari masih tetap tertawa.

Saya dan beberapa orang teman saya cuma bisa cengengesan karena sudah terlanjur “menyamaka-ratakan” minuman cappuccino dengan minuman-minuman yang lain. Maklum, kami kan pendatang baru di kota ini.
------

Beberapa bulan berikutnya, saya sudah mulai berteman dengan cappuccino. Saya sudah mulai terbiasa menikmatinya. Saya sudah mulai membiasakan diri begadang dengan ditemani olehnya. Bahkan, hingga saya lebih sering menghabiskan waktu di redaksi pers kampus kami, ia masih menjadi teman setia bagi saya. Di saat kondisi uang saya menipis pun, saya selalu bela-belain bisa menikmatinya. Saya sudah terlanjur cinta dengannya. So addicted!

Bukan semacam kecanduan atau obsesi padanya, melainkan setitik ketenangan dari berbincang dengannya. Lha? Benar! Sedikit curhat dan sejenisnya. Jika tak ada tempat lain untuk mengeluh, saya tak jarang berbicara pada Cappie. Ada kualitas yang dibangun dari minuman itu, bukan kuantitas, seperti kata teman saya. ^_^. Tapi, berkomunikasi dengannya, tentu saja di saat saya sedang sendirian. Jika tidak, nanti malah dikira tidak waras oleh orang-orang di sekitar saya.

Meski cappuccino yang sering saya nikmati bukan minuman-minuman sekelas high-class; karena hanya diolah dengan 3S (Sachet – seduh –siap minum), namun saya masih tetap menyukainya. Ia, justru lebih enak ketika dinikmati sepenuh hati. Kesempurnaan itu ketika kita mampu menerima kekurangan yang ada. Cappuccino high-class yang disediakan di restoran-restoran ternama atau café memang cukup menggiurkan bagi saya. Tidak jarang terbersit keinginan saya untuk bisa sesekali mencoba salah satu coffee menu disana. Sedikit memperbandingkan cita rasanya. Next time, maybe...

Mengutip dari sebuah film, Milli dan Nathan, 


"Cinta itu kayak kopi/ cappuccino, enak pas panas tapi akan cepat habis diminum. Tapi kalo mau gak cepat habis minumnya perlahan-perlahan, tapi resikonya akan cepat dingin” 
 

cappuccino memang nyaman dinikmati ketika panas diselingi rerintik hujan di pagi hari...

Just a little cappuccino…

 
--Imam Rahmanto--


The 2nd post of #7day7post

Senin, 25 Februari 2013

Puasa...

Februari 25, 2013
Menanti waktu berbuka. (google.com)
Terkadang, memang benar ungkapan bahwa musibah itu membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhannya. Ada sebuah titik dalam dirinya yang benar-benar bakal tersentuh ketika seseorang ditegur dengan sebuah musibah. Seperti halnya saya, ketika menjelang akhir bulan, persediaan uang saku sudah nyaris habis, sebenarnya sudah habis sih, tapi dipaksakan saja bilang ada, barang cuma Rp 1.000,-. Hahaha…. yang kemudian membuat saya begitu sering berpuasa.

“Hei, ayo makan,” ajak salah seorang teman saya.

“Maaf, saya kan lagi puasa,” Saya menolaknya.

“Tumben puasa?”

Yaah, namanya juga orang lagi belajar… Belajar menjadi manusia yang sudah naik kelas,” ujar saya setengah bercanda.

Yah, sebenarnya sudah lama juga saya tidak melakoni puasa yang satu ini. Saya rindu dengan berpuasa itu. Padahal, dulu ketika masih duduk di sekolah menengah, saya sangat senang dan sukarela menjalani puasa Senin-Kamis. Kenapa? Ya, karena saya mendapatkan banyak keberuntungan ketika menjalani salah satu ibadah kepada Tuhan itu. Tidak peduli apakah saya sempat menjalani sahur ataupun tidak. Malah, sampai sekarang, saya tidak pernah betul-betul sahur untuk mengawali puasa. :)

Percaya atau tidak, dulu, ketika saya masih rutin menjalani puasa Senin-Kamis, saya selalu mendapatkan apapun yang saya inginkan atau dambakan. Entah itu saya dapatkan secara langsung maupun tidak langsung. Segala kesulitan yang terjadi pada saya juga bakal berlalu dengan luwesnya. Nampaknya, Tuhan memang menyayangi orang yang suka berpuasa.

Lihat saja ketika saya sudah jarang berpuasa, seakan-akan lupa pada Yang Kuasa, ada banyak masalah yang menimpa saya. Mulai dari yang sepele sampai yang tingkat tinggi. Saya berpikir, mungkin saja ini salah satu teguran mengingatkan buat saya. Hehe… berarti Tuhan masih sayang kan dengan saya?

Terlepas dari niat yang dilakukan itu benar-benar sahih atau tidak, setidaknya untuk membangun chemistry berpuasa itu bisa dilakukan sejak sekarang. Sejak kita memang tidak punya apa-apa untuk dijadikan bahan makanan. Selanjutnya, hal itu bisa menjadi kebiasaan yang akan mengubah niat dasar kita tadi itu. Alah bisa karena terbiasa. Dan percayalah, ketika kita dekat dengan Tuhan, maka Dia akan selalu membantu kita.

Nah, melihat beberapa “teguran” buat saya selama seminggu ini, maka saya akan berkomitmen – dari sekarang – menjalani puasa Senin-Kamis setiap minggu. Dibantu yaa?

“Tuhan yang baik, saya mulai paham hal-hal apa saja yang banyak berubah pada diri saya.”

NB: Gara-gara puasa hari ini, ada banyak keberuntungan (rezeki) yang tanpa saya duga-duga menghampiri saya. Mulai dari dapat sumbangan uang, simpati, bahkan traktiran internetan. Haha... 


--Imam Rahmanto--

Hari ke-1 dari #7day7post bareng teman-teman.

Minggu, 24 Februari 2013

Seperti Anak Kecil...

Februari 24, 2013
Seperti anak kecil…
 

Bagaimanapun keadaannya, ia tetap tersenyum begitu bahagianya. Ia mampu tertawa lepas. Tergelak. Ataupun terbahak-bahak. Tak pernah sekalipun dalam pikiran seorang anak kecil itu terlintas untuk tertawa “terpaksa” hanya untuk memenuhi tuntutan sesuatu. Mereka ingin tertawa, tertawa.

Saya ingin seperti anak kecil…


Jujur apa adanya. Tidak satu pun perkataan mereka ditutup-tutupi. Ceplas-ceplos. Tidak heran jika kita terkadang lebih mempercayai ucapan anak kecil dibandingkan ucapan seorang dewasa. Usia mereka yang masih dini belum begitu paham dengan cara berbohong orang dewasa.
 

Tanpa ragu, mereka juga senang untuk bertanya. Malah, pertanyaan-pertanyaan yang belum mereka jangkau sudah bisa mereka tanyakan. Dalam pikiran mereka, tak pernah terbayang untuk merasa takut “bertanya”. Mungkin, mereka belum pernah mendengar istilah malu bertanya, sesat di jalan, tapi hakikat pepatah itu sudah tertanam dalam pikiran mereka.
 

“Kak, Kak, hujan itu terbuat dari apa sih?” Pertanyaan yang mampu dijawab secara ilmiah, tapi saya tidak yakin mampu diterima oleh akal seorang anak kecil.

Seperti anak kecil…


Mereka suka berimajinasi. Khayalan mereka masih murni. Mereka bebas untuk berkhayal, memainkan segala daya mereka untuk menciptakan segala hal di luar batas kenyataan. 


Oleh karenanya, anak kecil sangat jarang dilingkupi oleh depresi. Masalah yang menimpa mereka seakan-akan dibiarkan berlalu begitu saja. Mungkin, mereka hanya akan menangis sesenggukan. Habis itu, semua nampak sama. Seolah-olah tak ada yang terjadi. Bahkan, sikap saling memaafkan pada mereka begitu nyata.
 

Pernah tidak, melihat dua orang anak kecil berkelahi hanya untuk berebut mainan? Mereka kemudian bertengkar, saling dorong. Setelah salah satunya menangis, dan memperoleh mainan lainnya, ia kemudian ikut bergabung untuk bermain bersama. Sama sekali tidak ada perasaan dendam diantara keduanya. Secara tidak langsung, si anak tidak pernah memikirkan berlarut-larut kesalahannya ataupun kesalahan orang lain padanya.
 

Saya bukannya ingin menjadi anak kecil lagi…
 

Ada hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita. Ada pula hal-hal yang memang tidak bisa kita hindari untuk terjadi pada diri kita, selain menerimanya dengan lapang dada.
 

“Musibah tdak pernah pilih-pilih siapa yang akan dijumpainya,” ujar guru saya suatu ketika.
 

Entah, sudah ke-berapa kalinya saya minggu ini diterpa masalah, yang kata sebagian besar orang justu sebuah musibah. Di saat saya sudah mulai bangkit dari satu masalah yang menimpa saya, yang nyaris membuat saya tidak bisa lagi berbuat apa-apa, ternyata masalah lain di depan telah menanti saya. Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang harimau.
 

Sejujurnya, saya tidak ingin mengeluh, seperti apapun yang terjadi pada saya. Akan tetapi, keadaan saya memaksa untuk mencari tempat pelampiasan yang cocok dengan “kesusahan” yang sedang saya rasakan. Saya ingin melampiaskan semua uneg-uneg saya pada orang lain, namun kenyataannya tidak begitu banyak orang yang bersedia untuk dijadikan tempat berkeluh kesah. Akh, apakah setiap orang memang enggan untuk berhadapan dengan sebuah “masalah”?
 

Saya ingin memiliki jiwa seorang anak kecil…
 

Begitu mudahnya ia melupakan setiap masalah. Begitu mudahnya ia tersenyum pada orang lain. Begitu mudahnya ia tertawa lepas atas apa yang terjadi padanya. Tidak pernah mengeluh. Tidak butuh orang lain untuk bercerita. Jikalaupun seorang anak kecil berbuat kesalahan, maka ia akan mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan bergegas bermain kembali. Ia melupakannya dengan cara yang ajaib.

I need a miracle like a children doing…


“Tuhan yang baik, terima kasih atas rahmat yang telah Kau berikan hari ini. Semoga esok lebih baik lagi,”


 

--Imam Rahmanto--

Kamis, 21 Februari 2013

Keep Going...

Februari 21, 2013
"Kak Imam, mamaku selalu bilang, kalau sesuatu yang kita sayang itu hilang dari kita, gantinya yang lebih baik sementara disiapkan Tuhan untuk sampai di tangan kita. Terus katanya kakakku, jika kita dicoba sama sesuatu yang rasanya sangat berat, itu pertanda kita sebentar lagi akan naik ke level yang lebih baik,"


Sebuah pesan singkat yang saya dapatkan dari salah seorang teman saya. Pesan yang menurut saya, cukup menyentuh. Saya nyaris saja dibuat terharu olehnya. Akh, akhir-akhir ini kenapa saya begitu melankolis ya? Akhir-akhir ini, ketika saya berusaha bangkit, ada-ada saja hal yang membuat saya untuk terjatuh dan tersungkur. Memahaminya, membuat saya sedikit tersentak dari rasa "emosi" saya.

Masalah. Ya, sempat mengklaim diri sebagai salah satu orang yang dirundung masalah paling berat. Saya butuh tempat untuk mengadu. Berharap orang lain mendengarkan, dan mungkin bisa membagi sedikit solusinya buat saya. 

Akan tetapi, saya kemudian sadar. Setelah mendengar seseorang bercerita pula tentang masalah yang dihadapinya, saya yakin, bukan saya satu-satunya di dunia ini yang sedang dirundung masalah. Ia menghadapi masalah yang jauh lebih berat dari saya. Session dimana saya yang ingin bercerita tentang masalah saya, malah berbalik menjadi session saya menjadi pendengar yang baik untuknya. Sesekali memberikan cukup masukan, meskipun ditolak mentah-mentah. Karena saya percaya, ia juga sedang dirundung "emosi" yang sama dengan saya. Merasa semua orang tidak berarti apa-apa untuk masalahnya.

Dan saya? Sejak siang kemarin hanya bisa mengeluh, kesal, dan tak berbuat apa-apa dengan kondisi saya. Terkadang, saya melampiaskan kekesalan itu pada orang-orang yang sebenarnya tak berkaitan dengan masalah saya.

Ketika teman-teman saya bertanya, "ada apa?", saya seakan-akan menganggap itu adalah kalimat retoris, sekadar basa-basi. Saya hanya bisa mengutuk diri. Padahal, tanpa saya tahu, mungkin mereka benar-benar peduli dengan saya. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada saya. Dan jikalau memungkinkan, ikut memeberikan solusi untuk penyelesaian masalah saya.

Bila "sesuatu" yang disayangi hilang dari kita, maka sedikitnya Tuhan sementara menyiapkan pengganti yang lebih baik untuk kita.

Saya percaya, ada sesuatu yang tengah dipersiapkan Tuhan bagi saya. Entah itu dalam wujud sesungguhnya, ataupun hanya dalam wujud "perenungan diri". Sekadar mengingat-ingat, kesalahan seperti apa yang pernah dilakukan, kebaikan apa yang belum dilakukan, atau bahkan janji-janji seperti apa yang belum dipenuhi hingga kini, untuk Tuhan maupun sesama manusia. Apapun itu, segalanya bakal jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena Tuhan selalu menyiapkan yang terbaik bagi hamba-Nya, bukan?

"Cobaan yang diberikan akan membawa manusia pada derajat yang lebih tinggi,"

Pernah mendengar, tentang keutamaan orang yang "sakit"? Menurut kepercayaan, mereka yang sedang dilanda penyakit memang dipersiapkan Yang Maha Kuasa untuk dihapus dosa-dosanya. Di setiap sakitnya, dosanya berguguran satu-persatu. Kesembuhan baginya, berarti menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, kan?

Naik level, naik kelas seperti itu yang diharapkan atas cobaan yang diberikan Tuhan pada kita. Jika kita bisa melaluinya dengan baik, maka dijamin kita akan naik kelas. Jika tidak, yah, kita hanya akan menjadi manusia yang itu-itu saja. Lebih parah lagi, kita menjadi manusia yang lebih buruk dari sebelumnya.

Saya memang berharap ada seseorang yang peduli dengan saya. Sekadar memberikan saya motivasi, sekalipun dalam diam. Mungkin, sedikit tujuan dari orang-orang yang selalu merasa memikul "beban" di pundaknya adalah untuk diberikan rasa simpati, peduli, hingga uluran tangan. Di balik wajah berkeluh kesah yang ditampakkannya, bukan bermaksud melampiaskannya pada orang lain. Melainkan, ia berharap ada orang-orang yang sekadar berujar, "Sabar, ya. Esok kan lebih baik," sembari tersenyum tulus. ^_^.

Sadar akan hal itu, saya harus tetap bergerak maju. Tidak lama-lama meratapi "kepergian" laptop saya. Keep moving forward. Lagipula, ada banyak orang lain di luar sana yang sebenarnya jauh lebih banyak dirundung masalah dibandingkan kita. Waktu juga tidak pernah berhenti sejenak untuk menengok orang-orang yang sedang dilanda masalah. Tetaplah maju, tetaplah berjalan menemukan solusinya... Dan, bukankah lebih menyenangkan ketika kita tersenyum?


Oh ya, saya baru ingat, ada film pendek (indie movie) yang saya dapatkan dari seorang teman, yang sepertinya bisa menjadi rujukan bagi setiap orang yang sedang dirundung masalah. Nice film.



*untuk seseorang yang merasa masalahnya paling berat. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 20 Februari 2013

Laptop

Februari 20, 2013


Pernahkah kalian merasakan sakit hati yang lebih sakit daripada ditolak cintanya oleh seorang wanita? Saya pernah, dan baru saja terjadi...

Laptop saya bermasalah lagi untuk yang kedua kalinya. Padahal, selang waktu kesembuhannya dengan sakit pertama kemarin, hanya beberapa hari. Dan kini, usai menampilkan blue-screen berkali-kali, ia tak mau lagi login alias hanya menampilkan black screen disertai tulisan-tulisan yang saya sendiri tak mengerti apa maksudnya. Alhasil, setelah saya telusuri, hardisk yang dimilikinya tidak lagi terdeteksi. Dengan kata lain, segala data yang tersimpan di dalamnya bakal musnah. Musnah-semusnah-musnahnya....

"Ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Kalau mau bagus lagi, ya semestinya diganti yang baru," saran tukang service tempat saya mengadukan keluhan.

Dia, laptop saya, tak lagi sekadar "koma". Dulu, "sakit"pun dia, saya masih tetap bisa menggunakannya. Tapi, sekarang??? Bahkan, jika boleh saya katakan, ia akan menemui ajalnya. Lahir dengan kondisi yang berbeda, jauh berbeda dari sebelumnya. Segala ingatan/ memory atau data tentang saya, pekerjaan saya, urusan saya, kuliah saya, tulisan saya, rancangan saya, foto-foto dokumentasi saya, desain saya, organisasi saya, kepentingan saya, dan all about me akan hilang selama-lamanya. :(.

Saya baru kali ini benar-benar sakit. Kondisi ini tidak hanya tentang saya, namun ada kepentingan orang lain yang harus ikut terseret bersama

Laptop. Salah satu benda yang menurut saya telah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Ia menyimpan separuh dari memory saya. Ia menyimpan sebagian dari mimpi-mimpi saya. It's not just for designing and writing...

Usianya belum genap setahun. Saya ingat betul kapan pertama kali memilikinya; 6 Juni tahun lalu, tepat sembilan hari sebelum tanggal kelahiran saya. Oleh karena itu saya sempat mendedikasikannya sebagai hadiah ultah buat diri sendiri. Pertama kali, saya mendapatkan benda yang saya inginkan dari usaha sendiri...

***

Betapa saya dulunya begitu mengidamkan laptop, jauh hari sebelum saya mengenal dunia desain dan semacamnya. Saya lebih tertarik pada kebutuhan saya untuk terus menulis dan untuk menunjang aktivitas perkuliahan. Just write. Malah, saya dulu pernah lebih memilih difasilitasi laptop dibandingkan motor.

"Motormu mau dibawa ke Makassar?" tanya ayah saya.

"Hmm...terserah, Pa'e. Tapi, kalau saya disuruh memilih, lebih baik punya laptop saja. Ndak apa-apa deh saya ndak pake motor di Makassar, selama saya punya laptop," ujar saya sedikit bercanda.

Meskipun pada akhirnya ayah saya tidak pernah mengabulkannya. Jika ditanya mengapa, jawabannya lazim saja, "Nanti kalau ada uang, kamu baru dibelikan laptop,"

Adalah target kedua saya ketika pertama kali mencoba memasuki dunia "kerja sampingan". Saya menjalani kerja sampingan sebagai guru les privat setelah sebelumnya sibuk mengubek-ubek koran lokal di bagian Lowongan kerja, menjelang mengawali semester tiga saya. Honor pertama berhasil saya hibahkan untuk memenuhi target pertama saya. Dan selanjutnya beralih ke target kedua: laptop.

Setahun lalu, saya sudah mulai punya kemampuan di bidang design. Saya terbiasa mengerjakan layout surat kabar kampus, sehingga memudahkan saya untuk membuka diri pada bidang-bidang desain lainnya.

Segala sesuatu pasti ada waktunya.  

Tiba waktunya ketika saya mulai diserahi tugas desain oleh seorang senior saya. Tentu saja dengan budget yang menjanjikan. Cukup desain saja = dapat bayaran. ^_^. Akan tetapi, karena laptop belum ada, jadilah laptop milik teman saya harus sering bermalam di tangan saya.

Hal tersebut kemudian memaksa saya untuk lebih kekeuh memperjuangkan kehadiran laptop. Saya memaksa. Saya berpikir, tidak mungkin harus menyusahkan orang lain. Malah hampir setiap malam saya memimpikannya.

Saya berusaha. Meskipun harus berangkat dari keadaan "minus" dulu. Namun, kala itu saya yakin bisa memenuhinya. Just believe it!

***

Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Segala ingatan laptop saya tentang saya akan hilang serentak. Separuh kerja keras saya akan hilang, yang hanya meninggalkan jejak-jejak sakit hati yang lebih parah dari ditolak cinta. Mau tidak mau, saya akan mengulang semuanya, untuk saya maupun untuk orang lain...

Laptop. Lenovo. Evo. Hitam. Kesayangan. Pribadi. Desain. Menulis. Browsing. Kemana-mana. Pagi. Cappuccino. Huruf. Wallpaper. Hilang...

Segala sesuatu akan tiba masanya...

*Seandainya ada tempat sepi, luas, yang bisa dijadikan tempat untuk berteriak sekencang-kencangnya, kabarkan pada saya...



--Imam Rahmanto--

Senin, 18 Februari 2013

Figur Seorang Kakak

Februari 18, 2013
Hei...

Apa kalian punya kakak? Saya tak punya. Karena Tuhan memang telah menggariskan hidup saya menjadi anak pertama dalam keluarga saya. Terkadang menjadi seorang anak pertama harus mampu mengayomi adik-adiknya. Akan tetapi, di satu sisi, seorang anak pertama juga tak jarang merindukan sosok seorang kakak yang mampu menjaganya atau bahkan menjadi teladannya.

Menginjak sekolah dasar, saya pernah memiliki “kakak perempuan”. Saya menganggapnya demikian jika di sekolah saja, tapi bukan hanya sebagai seorang kakak kelas. Selain karena dia juga sesama orang Jawa, di lingkungan tempat tinggal saya ada beberapa orang keluarga yang memang sama-sama berasal dari tanah Jawa, saya menganggapnya “kakak” karena memang semasa kecil saya, ia satu-satunya juga yang selalu baik dengan saya di sekolah. Setiap saya meminta uang saku, ia selalu memberikannya buat saya. Padahal saya bukan saudara kandungnya...

Hal tersebut berlangsung selama saya beranjak SD. Akan tetapi, semenjak “kakak” saya itu lulus sekolah, kami sudah jarang berkomunikasi lagi. Saya lupa, ia bersekolah dimana. Meskipun rumahnya tidak begitu jauh dengan rumah saya, hanya dibatasi oleh lima-enam rumah, saya sungkan untuk menengoknya. Namanya juga anak-anak... Dan akhirnya, saya tak pernah punya seorang “kakak” lagi...

Lain di sekolah, lain pula di rumah.

Saya memiliki seorang tetangga, selisih dua tahun dengan saya. Diam-diam saya lambat laun mengikuti apa yang selalu dia lakukan. Sedikit banyak, saya mencontoh hal-hal yang sering dia kerjakan. Secara tak langsung, saya menganggapnya sebagai seorang “kakak”, meskipun saya tak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak. Just call his name.

Bagaimana cara dia berpakaian, saya sedikit mencontohnya. Bagaimana cara dia memotong rambut, saya juga seperti itu. Bagaimana ia bergaya, saya sedikit mencontihnya. Cara dia menyukai sesuatu, saya juga menyukainya. Hanya saja, cara dia menggaet teman perempuannya di sekolah tak pernah bisasaya kuasai. :P

Kami, biasanya kalau tak ada kerjaan, sering menghabiskan waktu sekadar nongkrong di depan teras rumahnya. Tak jarang teman-teman sebayanya juga berkumpul dengannya. Saya hanya ikut-ikutan saja. Apalagi ketika saya juga sudah memiliki gitar, kami lebih sering berkumpul di depan rumahnya. Ia belajar gitar, sedikit dari saya. Entah kini, apakah ia lebih mahir dari saya atau sudah melupakannya sama sekali.
Saya tak pernah sungkan berkumpul bersama teman-temannya. Toh, beberapa dari mereka adalah kakak dari teman sekolah saya. Lambat laun mereka juga akhirnya mengenal saya.

Dan akhirnya, saya berpisah lagi dengan “kakak” saya yang satu ini. Ia kuliah di kota, seperti tempat saya sekarang. Namun di universitas yang berbeda. Dan kini ia bekerja jauh di pulau Kalimantan sana. Sesekali saya pernah berkomunikasi dengannya, walaupun via jejaring sosmed.

Yah, meskipun saya adalah anak pertama, seorang kakak bagi satu adik perempuan saya, tapi terkadang saya juga butuh seseorang untuk dijadikan contoh. Adalah hal yang wajar ketika saya merindukan seorang kakak yang bisa menjadi contoh maupun pelindung bagi saya. Tak peduli, laki-laki atau perempuan. Setidaknya, selama saya bisa memanggil mereka dengan sebutan “kakak” bukan sekadar senior.

Akan tetapi, waktu semakin berlalu. Waktu pula yang semakin mendewasakan seseorang. Saya tak bisa lagi terlalu berharap tentang kehadiran seorang kakak buat saya. Sayalah kini yang menjadi seorang kakak. Sudah seyogyanya menjadi kakak yang benar-benar mengayomi adik saya. Kakak yang patut menjadi contoh bagi adik saya. Semakin dewasa, maka tanggung jawab yang dipikul pun semakin besar. Waktu yang selalu membelajarkan kita...

Saya selalu ingin menjadi kakak yang baik, dengan selalu berusaha “sejajar” menjadi adik yang baik.

“Kakak, kapan pulang?”

Adik perempuan saya bertanya seperti biasa lewat telepon. Saya hanya bisa menjawab, “Kalau ada libur dan tidak sibuk lagi, saya pasti pulang.”

Padahal, selama ini waktu libur sering menghampiri saya...



--Imam Rahmanto--

Minggu, 17 Februari 2013

Teruntuk Hati...

Februari 17, 2013
Teruntuk hati yang masih belum sempurna...

Seharusnya tiba tiga hari yang lalu, tepat di hari kasih sayang. Tepat ketika semua orang, kata semuanya, merayakan kasih sayang bersama orang-orang terkasih mereka. Tapi, apa engkau percaya? Aku sebenarnya tak pernah percaya tentang hari akal-akalan itu. Hanya saja, entah mengapa hatiku selalu berharap ada momen spesial yang memang diskenariokan Tuhan untukku. Tentu saja aku hanya manusia biasa yang selalu berharap tentang cinta yang akan tiba padaku...

Teruntuk hati yang masih belum sempurna dan masih menunggu...

Aku disini baik-baik saja. Selalu baik. Bersemangat. Aku harap engkau senang. Aku menunggu sebagaimana engkau menanti agar tepat ketika aku tak baik, maka engkau ada membuatku nyaman dan lebih baik. Aku masih menjaga kesehatanku, agar engkau satu-satunya yang menjadi obat bagi sakitku, pelipur bagi laraku...

Teruntuk hati yang masih menanti sempurna...

Sebagaimana kesempurnaan itu sejatinya bisa dicapai dengan melengkapi kekurangan pada diriku...atau pada dirimu... Engkau melihatku berbeda. Aku melihatmu berbeda. Bola mata kita hakikatnya menangkap keindahan yang tak bisa dirasakan orang lain. Mata kita bak sebuah kamera, tiap angle berbeda selalu menyimpan hal-hal unik untuk dipotret, diabadikan. Sama halnya ketika aku merekam setiap senyum yang tak kau sampaikan. Begitu sempurna... dan engkau melengkapinya.

Kata orang, cinta itu memabukkan. Sekali meneguk atau mencicipinya, maka pikiran waras sulit kembali seperti semula. Terkadang, kita benar-benar terlihat pandai karena cinta. Akan tetapi, kebanyakan, aku justru merasa jadi orang paling bodoh ketika harus mencintai. Ada banyak hal yang bermula dari ketidakwarasan itu. Apalagi ketika harus mencintai dalam diam...

Maaf...
Apa aku mengenalmu? Apa kau mengenalku? Entahlah...
Aku hanya berpikir, jangan-jangan Tuhan sementara menyiapkan seseorang yang akan menjelma engkau disana. Orang yang sejatinya baru akan berkenalan denganku, entah dimana dan bagaimana momennya. Aku pernah berpikir menemukanmu seperti kisah-kisah romantis komersil yang dijual oleh para sutradara-sutradara film. Jujur, puluhan kali aku membayangkannya. Tak perlu tertawa. Pikiranku telah lama diracuni oleh sinetron-sinetron yang selalu ditonton oleh ibu dan adikku. Romantisme selalu diukur oleh kekayaan...

Atau...

Tuhan justru telah mempertemukan kita, di waktu yang tak pernah kita tahu. Sering atau sesekali. Sadar atau tak sadar. Bagaikan mesin waktu...

Teruntuk hati yang masih belum menepi... 

Semoga hati yang masih mencari pasangan yang cocok untuk disinggahi.

Teruntuk hati yang selalu berbagi harapan...

Seberapa banyak engkau berharap tentangku? Apakah sebanyak harapanku untukmu? Karena harapan adalah satu-satunya cara yang dianugerahkan Tuhan untuk kita bisa melihat masa depan. Aku melihatmu tiba sebagai masa depanku.

Teruntuk hati yang (akan) selalu hadir sesempurna bayangnya dalam mimpiku... 



--Imam Rahmanto--

Rabu, 13 Februari 2013

Sungai Tak “Perawan” Lagi

Februari 13, 2013
(ImamR)
Morning...

Tidak bosan-bosannya saya menghabiskan waktu pagi dengan bersepeda. Lagipula kuliah saya juga kebanyakan mengambil waktu siang atau sore hari. Sebaik-baiknya waktu, menurut saya, ya pagi hari itu. Saat dimana kebanyakan orang masih terlelap. Saat matahari masih belum bersinar begitu teriknya, masih terasa hangat-dingin-dingin. Saat orang-orang baru beranjak dari kasur untuk menyiapkan aktivitas paginya. Keren loh ketika merasakan semilir angin pagi menerpa wajah. Amboii sejuknya...

Oke, mari sedikit bercerita tentang rute saya pagi ini.

Bermula ketika saya bangun pagi lebih awal, menjelang pukul enam pagi. Bergegas mengingat bicycle time! Padahal semalam saya baru tidur lepas jam empat pagi loh. But, i like morning...

Saya mengawali rute saya dengan menyusuri jalan raya yang masih sepi dari para pejalan kaki. Hanya satu-dua orang yang terlihat berjalan kaki santai-santai. Saya kemudian menjumpai seorang pengendara sepeda lainnya yang juga ikut berolahraga pagi ini. Berbeda dengan saya, sedikitpun tampang saya tidak terlihat seperti orang yang sedang berolahraga sepeda. Pakaian saya masih sedikit semi-formal. Lah, saya kan memang tujuannya untuk berjalan-jalan.

Sebagai seorang mahasiswa, tidak fair rasanya jika saya tidak mengunjungi kampus saya di pagi hari. Oleh karena itu, saya menyempatkan diri menyusuri lingkungan kampus, baik kampus di Parangtambung maupun kampus UNM Gunung sari. Suasananya masih sepi dari mahasiswa. Sepagi itu, mahasiswa masih menyiapkan diri di rumah atau kontrakan masing-masing.

Sungai yang pekat menghitam di pagi hari. (ImamR)
Perjalanan pagi saya kemudian dilanjutkan dengan menyusuri perumahan penduduk yang ada di pinggir sungai (entah apa namanya) sepanjang Andi Tonro – Kumala Permai. Bau busuk cukup menyengat ketika saya melintasi bantaran sungai itu. Akan tetapi, saya cukup terhibur melihat beberapa orang disana bangun lebih pagi dibandingkan orang-orang elite yang menghuni perumahan di sebelahnya. Bagaimanapun, saya selalu menganggap pagi itu cukup menyenangkan untuk dinikmati sendiri maupun bersama-sama.

Saya agak miris menyaksikan sungai yang seharusnya menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat malah tercemar tidak karuan seperti itu. Dari pinggir sungai, terlihat jelas air sungai yang telah menghitam layaknya air selokan. Sampah-sampah menumpuk, tak mengalir, tertahan di atas air yang pekat. Entah bagaimana jadinya jika musim hujan tiba, apakah air sungai akan mengalir atau tetap saja menggenang disana.

Dibandingkan di kota, ternyata sungai di daerah perkampungan jauh lebih asri dan bersih. Setidaknya masyarakat masih bisa memanfaatkannya untuk mencuci pakaian, mandi, belajar berenang, memandikan hewan peliharaan, atau bahkan buang air. Ya, tentunya air sungai masih mengalir sebagaimana mestinya. Batu-batu di dasar sungai masih bisa kelihatan sangat jelas. Malah terkadang anak-anak kecil masih sering berburu “tak jelas” hewan-hewan air disana.

Tak heran jika orang-orang dari daerah pedesaan maupun perkampungan mahir berenang. Mungkin, kebanyakan waktu kecilnya dihabiskan dengan bermain air di sungai. Tapi saya malah tidak tahu berenang, karena memang jarang menghabiskan waktu berenang di bantaran sungai.

Saking hobinya anak-anak kecil berenang di sungai, pernah suatu ketika nyaris separuh teman laki-laki kelas saya di sekolah dasar (SD) kena hukuman. Bagaimana tidak, menjelang jam pelajaran berikutnya, teman-teman saya malah berlomba-lomba ke sungai yang tak begitu jauh dari sekolah. Apa lagi kalau bukan untuk berenang sekaligus mandi-mandi. Tepat ketika jam pelajaran olahraga usai. Hanya saya dan seorang teman saya yang tidak kebagian hukuman, karena memang tidak ikut-ikutan ke sungai yang kala itu cukup deras.

Hampir sebagian besar sungai-sungai di kota Makassar ini saya dapati sudah tak “perawan” lagi. Lingkungan perumahan di sekitarnya nampaknya menyumbang pengaruh besar atas pekatnya warna air di permukaannya itu. Mirip oli. Bahkan hanya untuk sekadar mencuci tangan saja orang-orang bakal berpikir seribu kali. Apalagi ditambah dengan bau yang agak menyengat hidung. Sebagian besar para penghuni tanah di sepanjang aliran sungai atau kanal memang orang-orang yang berasal dari golongan bawah. Namun tidak jarang saya mendapati kompleks-kompleks perumahan elit yang bersebelahan dengan pemukiman kumuh itu. Bagaimana sibuknya mereka sehingga nyaris melupakan kepentingan bersama, tentang air sebagai sumber kehidupan dan penghidupan?

Tentu, campur tangan pemerintah juga seharusnya turut andil dalam mengelola kebersihan sungainya. Ada berapa jumlah anggaran yang dialokasikan untuk kebersihan kota, namun nyatanya hanya menyentuh bagian-bagian yang kasat mata saja, seperti jalan dan lingkungan yang memang sering menjadi perhatian publik. Padahal sungai, sebagai salah satu penampung air, sebenarnya cukup butuh perhatian juga. Malah, jangan-jangan salah satu penyebab banjir di kota Makassar ini akibat sungai-sungai yang tak “perawan’ lagi, mungkin.

Setelah mengitari dan memintas jalanan di bantaran sungai itu, saya kemudian melanjutkan gowes di sepanjang jalan ke kampus. Saya kemudian berjumpa dengan salah seorang teman saya. Sambil mengobrol dengannya, ia berjalan kaki - saya bersepeda ringan, saya menemaninya hingga ke sekretariat organisasinya yang tepat berada di belakang lingkungan kampus. Lepas dari sana, saya kemudian kembali ke starting point saya. Yah, perjalanan saya pagi ini berakhir dengan sedikit pemahaman baru... Mari bersepeda!

*Menikmati segelas cappuccino “salah olah” dari teman saya pagi ini. Hmm...rusak deh minuman pagi saya...  


--Imam Rahmanto--

Selasa, 12 Februari 2013

"Memendam" itu Tak Baik

Februari 12, 2013
tumbuh
Pagi ini, ketika saya memutuskan untuk menghabiskan waktu pagi dengan bersepeda, saya menemukan banyak remaja-remaja yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Sebagian mengendarai sepeda, sama halnya yang sedang saya lakukan. Sebagian lagi berlalu-lalang, berkali-kali mendahului saya. Sisanya, berjalan kaki atau menumpang angkutan umum alias pete-pete.

Cukup menyenangkan pula melihat wajah-wajah sumringah mereka di pagi hari. Bayangkan saja, sepagi apa kira-kira mereka sudah harus bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Jauh lebih pagi dibandingkan mahasiswa-mahasiswa seperti kami yang mungkin masih menghabiskan waktu untuk tidur di pagi hari, sebagai dampak begadang tak jelas di malam hari. Saya agak tersentil melihat mereka. Wajah-wajah SMA itu seakan-akan kembali membawa saya untuk melintas waktu di masa lalu. Saat-saat saya masih remaja dan mengenakan putih abu-abu. Waktu ketika saya hanya bisa memendam “perasaaan”...

Ingatan itu membawa saya pada masa-masa yang sebenarnya sangat ingin saya lalui kembali dan memperbaikinya barang sedikit saja. Saya tak peduli dengan hasil yang akan saya peroleh. Setidaknya, saya belajar dari masa saya sekarang bahwa memendam perasaaan itu tak baik. Sama sekali tak baik. Maka berbekal memory; mesin waktu yang dianugerahkan pada kita, manusia, untuk kembali ke masa lalu, saya mengingat-ingat kembali waktu-waktu remaja itu sembari tetap mengayuh sepeda saya.

***

“Memangnya kamu suka siapa?”

“Tidak ada,” balas saya datar. Seorang teman sekolah pernah bertanya. Seakan tidak ada apa-apa, saya menjawab seadanya. Padahal, di balik ucapan datar itu, saya sempat menyukai salah seorang teman wanita saya. Dan kenyataannya, saya benar-benar pandai menyembunyikannya.

Ketika saya banyak mendengar teman-teman lainnya sudah memiliki pacar, termasuk orang yang saya suka itu, saya masih sendiri dan berusaha menyimpan apik-apik rasa “suka” itu. Meskipun sebenarnya saya juga ingin merasakan apa yang selama ini banyak di-curhat-kan oleh teman-teman, pacaran. Pergi berdua. Duduk berdua. Pulang-pergi antar jemput. Telepon-teleponan. Bahkan sekadar sms untuk menanyakan hal-hal sekecil; “Udah makan belum?”. Suatu bentuk perhatian yang sedikit berlebihan, namun cukup menarik perhatian saya. Akan tetapi, rasa takut dan segan membuat saya menjadi orang yang paling bodoh masa itu.

“Kalau saya pacaran, apa kata teman-teman nanti? Apa kata guru-guru di sekolah? Pasti menjadi sorotan lagi,” pikir saya galau. Maklum, saya termasuk golongan orang-orang yang dikenal baik oleh seluruh penduduk sekolah, termasuk kalangan guru.

Pikiran-pikiran semacam itulah yang kemudian menghalangi saya untuk menjadi orang yang lebih “berani” dalam cinta, selain karena masalah tampang. Hehehe... Selain itu, saya juga bahkan belum pernah sekadar merayu seorang wanita. Sulit bagi saya untuk bersitegang dengan hati saya sendiri. Kala itu, saya benar-benar tidak tahu cara untuk mendekati seorang wanita.

Akhirnya, saya melalui masa-masa SMA itu begitu saja. Memendam saja. Tak sekalipun pernah terlintas di kepala saya untuk kemudian menyampaikan perasaan “suka” tersebut kepada orang yang benar-benar saya sukai. Saya membiarkannya. Memendam terlalu lama. Dalam, dan semakin dalam. Semakin keruh.

Saya hanya bisa terdiam ketika melihatnya sendirian. Namun entah mengapa, saya merasa sakit ketika menyaksikannya begitu akrab dengan orang lain. Saya juga bukan orang yang pandai bersaing dalam hal cinta. Oleh karena itu, cenderung mundur perlahan-lahan ketika saya tahu ada banyak orang lain yang juga menyukainya. Saya terlalu sadar diri kok... 

Pernah nonton film satu ini? Ceritanya cukup menarik, terkait "memendam" itu. :)
Akan tetapi, mengingat masa-masa itu, kini saya menyesal harus melaluinya seperti itu. Meskipun saya sudah melupakan orang itu, namun saya masih berharap bisa memperbaiki segalanya. Mewarnai masa-masa SMA saya. Mencoba. Trial and error. Hasilnya? tak usah dipikirkan, urusan belakangan. Setidaknya dia tahu tentang perasaan saya yang sesungguhnya.

Terkadang memang sakit ketika kita mengungkapkan perasaan kepada orang lain dan ternyata ia tak benar-benar menyukai kita. Namun lebih sakit lagi ketika kita tak pernah mengungkapkannya tanpa tahu ia pun sejatinya menyukai kita.

Belajar dari pengalaman itu, saya baru menyadari semuanya bahwa memendam perasaan itu tak baik. Hal yang sama juga berlaku untuk masalah yang kita miliki. Sama sekali tak baik membebani pikiran kita sendirian. Nampaknya sesi “curhat” memang sedikit dibutuhkan orang untuk mengurangi beban pikirannya.

Saya banyak belajar untuk tak lagi menjadi orang yang suka menyembunyikan sesuatu, baik masalah biasa maupun perasaan “suka”. Saya mulai tahu bagaimana cara membaginya dengan orang lain tanpa perlu mengumbar-umbarnya ke khalayak yang lebih banyak. Namun, sedikit ilmu “menyembunyikan perasaan” yang masih terpatri dalam kepribadian saya semenjak dulu juga ternyata masih cukup bermanfaat hingga kini. Terkadang ada sesuatu yang memang mesti disembunyikan dari orang lain. ^_^

Saya sangat suka dengan quote sebuah film, “Hanya orang-orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri yang tak mampu mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, meskipun sekadar mengucapkannya,” Toh, ada benarnya juga. Mosok sekadar berbagi perasaan itu untuk orang lain kita pelit-pelit amat.

Kesimpulannya, jangan pernah memendam perasaan. Tak baik bagi kesehatan dan penghidupan. ^_^.

***

Menjelang pukul delapan, saya sudah kembali dari bersepeda. Rute yang asli “asal-asalan” cukup membuat saya belajar rute-rute baru. Malu bersepeda, tersesat tak tahu jalan. Saya sudah mulai banyak tahu jalan-jalan ataupun gang-gang baru yang belum pernah saya lalui. Melintasi perumahan-perumahan pagi itu yang masih sepi dari para penghuninya yang belum terjaga. Bagaimanapun, saya harus tetap belajar, apa saja...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 08 Februari 2013

Tak Suka Durian

Februari 08, 2013
(int)
Jika ditanya buah yang paling lezat se-Indonesia, atau malah sedunia, maka sebagian besar orang mungkin bakal menempatkan durian sebagai urutan unggulan. Durian akan menggeser ranking teratas dari segala jenis buah yang bertebaran di Indonesia.

Akan tetapi, subjektif, entah mengapa saya sendiri tidak begitu suka dengan buah manis ini. 


“Ah, mana ada orang yang tidak suka dengan buah ini?” Salah seorang teman sempat menyangkal atas ketidaksukaan saya terhadap buah yang satu ini. Pagi kemarin kami memutuskan berjalan-jalan menyusuri jalan raya hingga tiba di depan kampus.dan kembali lagi ke redaksi.


Semalam, teman-teman redaksi saya benar-benar baru kebagian durian runtuh, dalam artian sesungguhnya. Salah seorang kakak senior kami mendatangkan lebih dari 10 buah durian semalam, dan dinikmati oleh semua awak-awak redaksi. Tentu saja, tidak termasuk saya.


Bahkan dalam keluarga saya, satu-satunya orang yang tidak suka menyantap buah durian adalah saya. Orang tua saya pun heran dengan kebiasaan saya ini. Mungkin ayah saya malah berpikir, “Anak ini kepalanya habis diketok palu ya sampai-sampai gak doyan makan durian?” Ditawari segerobak durian pun saya tidak bakal menyantapnya.
 

Hingga kini, saya masih tidak suka dengan buah durian. Berdasarkan memory saya, tak ada satu pengalaman pun yang seharusnya bisa membuat saya trauma atau benci dengan durian. Masa-masa kecil saya cukup bahagia kok dengan buah-buah yang lainnya. Namun, hal yang berbeda berlaku untuk durian. Makan sebiji saja, sudah membuat perasaan saya eneg. Ada yang salah mungkin dengan perut saya?
 

“Wah, parah tuh ada orang yang ndak suka makan durian,”
 

Saya sendiri merasa biasa-biasa saja. Ini menandakan bahwa saya UNIK. Ada banyak orang di luar sana yang memiliki kesamaan; suka dengan durian. Sementara saya sungguh merasa berbeda dengan yang lainnya. Seorang diri, saya tidak suka dengan buah yang disukai oleh orang kebanyakan. It's unique

Mungkin, ini hanya persoalan selera. Tiap orang kan memiliki kegemaran yang berbeda, entah itu untuk buah, olahraga, film, musik, dan yang lainnya. Yaah, selama perbedaan seperti itu tidak membawa kita pada perpecahan. Dengan menghindari durian, saya malah bersedekah dan memperbesar peluang mereka untuk makan durian dengan mengurangi jatah saya. Hehehe… ^_^

 
--Imam Rahmanto--

Kamis, 07 Februari 2013

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Februari 07, 2013

“Ini artinya apa?” Seorang teman pernah bertanya pada saya.

Saya mengangguk karena tahu makna yang terkandung dalam ungkapan Jawa itu. Maklum, keluarga saya kan masih Jawa tulen. Se-tidak fasih-nya saya dalam berbahasa Jawa, saya masih tetap harus menjunjung bahasa keluarga saya itu. Makanya, hingga sekarang saya masih senang berkomunikasi dengan sesama orang Jawa. Sekalian memperfasih penggunaan tata bahasa Jawa saya. Hehe…
 

Witing tresno jalaran soko kulino…
 

“Cinta tumbuh karena terbiasa” sebenarnya bukan sebuah ungkapan basi juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada kenyataannya, ada banyak orang kan yang akhirnya menjadi “korban” ungkapan ini. Nyaris persis dengan pepatah “alah bisa karena terbiasa”

Mungkin, semacam perasaan “suka” itu sudah tertanam semenjak seseorang telah menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain. Awalnya hanya saling mengenal, sering bertemu di suatu tempat, atau pekerjaan yang mengharuskannya sering bertemu, dan lama-kelamaan muncul perasaan “suka” yang lebih. Oh ya, dalam hal ini ungkapan tersebut tentu saja mengabaikan istilah “cinta pada pandangan pertama.” Orang yang hatinya langsung deg-degan ketika bertemu pertama kali dengan orang lain, tentunya tak perlu lagi pembiasaan untuk bisa membangun rasa “suka” itu. Pengenalan lebih jauh, setidaknya hanya untuk sebatas mempertegas perasaannya itu.


Di sekitar saya pun banyak terjadi hal serupa. Tidak terlepas dari kehidupan pribadi. ^_^. Pengaruh “sering bertemu” dalam suatu pekerjaan atau organisasi yang sama membuat jalinan keakraban itu semakin erat. Malah, terkadang perasaan itu cenderung menjerumuskan diri sendiri dalam suatu ketidakpastian. Sekadar menerka-nerka.


“Apa dia juga suka sama saya ya?”


Come on, ada banyak gejala yang terkadang menunjukkan dengan jelas gelagat seseorang yang sedang fall in love.

 
Witing tresno jalaran soko kulino, terjadi dimana saja dan kapan saja…
 

Ketika SMA dulu, saya punya sepasang teman, anggap saja Kumbang dan Bunga. Keduanya adalah teman saya di bangku SMA, meskipun berbeda kelas. Salah satunya, si wanita alias Bunga, malah teman baik saya semenjak kecil hingga sekarang. 

Bunga sebenarnya tidak begitu suka dengan Kumbang. Ia pernah blak-blakan menyampaikannya pada kami, sahabat-sahabatnya. 


“Sumpah. Saya tidak suka dengannya,” ujarnya meyakinkan kami.


Karena ia tahu, Kumbang pernah mengejar-ngejar salah seorang teman baiknya (yang juga teman masa kecil saya). Akan tetapi, nasib berkata lain. Pada kenyataannya, Bunga kini justru berpacaran dengan Kumbang, tidak terlepas dari hubungan ketiganya yang masih terjalin baik hingga hari ini. Bahkan akrab sekali. 


Usaha Kumbang untuk meluluhkan hati Bunga memang tidak sia-sia. Berbekal ungkapan Cinta tumbuh karena terbiasa, maka nyaris setiap hari tanpa rasa sungkan, ia berkunjung ke rumah Bunga. Entah dengan alasan pinjam buku lah, kerja tugas lah, antar teman lah atau bahkan hanya sekadar bertamu saja di rumah Bunga. Pokoknya ia berharap bisa mengobrol atau berbincang lepas dengan Bunga. Hal itu ia lakukan selama beberapa bulan. Apalagi jika hari raya Lebaran tiba, menjadi kesempatan yang sangat baik bagi Kumbang untuk bertandang ke rumah Bunga. Tidak jarang, kami sebagai teman baik Bunga menjadi tameng Kumbang untuk menemaninya ke rumah Bunga. Luar biasa!

 
Bagaimanapun juga, sebagai pemilik rumah yang baik, Bunga hanya bisa selalu (terpaksa) menerima kedatangan Kumbang, apalagi jika ditemani oleh kami. Lambat laun, keterpaksaan itu berubah menjadi kerelaan yang kemudian menjelma menjadi perasaan rindu. Jika rindu sudah menyapa, maka perasaan “suka” bisa menjadi pemicu terbesarnya. Maka jadian-lah mereka…


Hingga kini, mereka masih langgeng meskipun beberapa kali sempat “rujuk”. 


Witing tresno jalaran soko kulino…
 

Namanya juga “suka”. Satu hal itu memanglah manusiawi. Terbiasa melihat wajahnya akan menimbulkan efek-efek rindu. Terbiasa mendengar suaranya bakal membuat telinga hafal persis sumber suaranya. Terbiasa melihat senyumnya yah akan membuat jantung berdetak lebih keras dari biasanya. Terbiasa ngobrol dengannya akan menimbulkan dampak Hukum Relativitas Einstein. Bahkan terbiasa melihatnya ngambek saja membuat kita tak pernah lepas memikirkannya... Sungguh, pepatah kuno itu telah dipelajari bertahun-tahun oleh orang tua kita.
 

Jadi, tak perlu malu untuk mengakuinya atau sekadar meluruskan perihal perasaan itu. Just to talk, just wait the answer. Justru orang yang paling bodoh saja yang tak pernah berani mengakui perasaannya. :( Yah, meskipun terkadang kita butuh beberapa alasan dan WAKTU untuk mempertegas gelagatnya. Overall, don’t be afraid!

*Meramaikan bulan Februari, yang katanya penuh kasih sayang. Hope there, I will get it…


 

--Imam Rahmanto--

Selasa, 05 Februari 2013

Bersepeda

Februari 05, 2013
Pagi ini, saya menjalani sepotong waktu pagi dengan bersepeda. Ya, bersepeda! Hmm...sayangnya, bukan milik saya. Sepeda itu hasil pinjaman dari salah seorang kakak senior saya di redaksi. Sudah lama saya “naksir” ingin meminjam sepedanya, apalagi minggu-minggu ini kampus saya masih libur semester. Namun, baru semalam saya mendapati kesempatan untuk nguber sepedanya.

Saya senang bersepeda. Sejak kecil, saya sudah pandai mengayuh sepeda. Meskipun di daerah kelahiran saya tidak begitu menarik untuk dijadikan rute bersepeda, maklum bergunung-gunung, namun ketika masih kecil, sepeda menjadi tren tersendiri bagi masyarakat di daerah domisili saya.
***

Saya masih menginjak sekolah dasar. Tidak punya sepeda. Hanya bisa melihat teman-teman yang lainnya mengayuh sepeda-sepeda baru mereka. Berputar-putar mengelilingi lapangan yang dulu pernah dijadikan lapangan bulu tangkis. Kadang kala tersenyum gembira. Kadang kala tersenyum mengejek satu sama lain.

Melihat mereka bersepeda begitu riangnya, saya juga ingin pandai bersepeda. Biarlah hanya sekadar pandai, meski tak punya barang semahal itu. Saya masih ingat, Wim Cycle menjadi sepeda terlaris kala itu. Sepeda yang diproduksi khusus kaum anak kecil sampai remaja. Iklannya juga merajalela di setiap layar kaca.

“Ah, tidak boleh! Jangan pernah minjem-minjem sepedanya temanmu. Apalagi kamu ndak tahu cara pakainya. Kalau rusak, siapa yang mau ganti coba?” Ayah saya selalu melarang dengan ancamannya.

Hingga suatu ketika, ayah mengejutkan saya dengan sepeda yang dihadiahkannya untuk saya. Bukan sepeda baru. Hanya sepeda rongsokan hasil modifikasi ayah saya. Ia pandai dalam hal otomotif. Ia merakit sepeda itu dari kerangka bekas yang ia temukan dari hasil rongsokannya.

Oh ya, dulu ayah saya bekerja sebagai seorang pengumpul barang bekas. Semua barang-barang bekas, baik logam maupun non-logam, dibelinya dari orang-orang yang tak lagi membutuhkannya. Ada kaleng bekas, panci rusak, wajan, besi-besi bekas, dan sebagainya. Mungkin hampir sama dengan pekerjaan seorang pemulung, namun dalam pengertian yang lebih modern. Untuk selanjutnya, barang-barang hasil pungutan ayah saya itu disortir dan dibeli kembali oleh mobil kampas yang setiap bulan datang ke ruimah kami. Maka bukan pemandangan yang asing ketika di depan rumah saya (dulu) banyak teronggok barang-barang bekas, dari botol sampai logam.

Beberapa barang yang dianggapnya berguna, dirakitnya hingga jadi sepeda bekas. Seingat saya, hanya bannya saja yang dibeli langsung oleh ayah saya. Meskipun tinggi sepeda tidak lebih tinggi dari lutut orang dewasa, namun sudah cukup membuat saya senang bukan kepalang.

“Akhirnya saya punya sepeda sendiri,” ujar saya dalam hati.

Maka dari sepeda kecil itulah saya mulai belajar mengayuh sepeda. Tanpa dilengkapi rem tangan. Untuk menghentikan laju sepeda, saya hanya berbekal sandal jepit yang terpasang di kaki saya. Jika laju sepeda benar-benar tak bisa terhenti, maka dua kaki saya akan berfungsi sebagaimana mestinya, memijak dasar bumi. Alas sandal "jepang" saya sampai habis dalam seminggu hanya gara-gara digunakan untuk mengerem. Dari sepeda itu pula saya kemudian senang adu balap dengan teman – teman sebaya yang memiliki sepeda jauh lebih keren dan lebih besar.
***

Saya cukup senang mengayuh sepeda. Bersepeda mengingatkan saya pada sepeda kecil saya dulu. Bagaimana sulitnya berpacu di jalan-jalan tanjakan. Namun merasakan nikmatnya pada jalan-jalan landai (turunan), usai menaklukkan tanjakan itu. Wusssshhh!!! Sepeda melaju dengan kencang sembari angin menerpa wajah. Menyenangkan!

Salah satu penaklukan saya pagi ini. From Makassar to Gowa. ^_^. (ImamR)
Sepeda, menjadi salah satu impian saya di kota besar ini. Sejak lama saya sudah mengidam-idamkan memiliki sepeda. Membayangkan berkendara sepeda di pagi hari sambil menghirup udara segar nampaknya sungguh menyenangkan. Dan memang menyenangkan. Apalagi dengan permukaan kota yang cukup datar, sangat mudah untuk dilalui kendaraan “kayuh” beroda dua. Sejauh apapun, mengitari kota, bisa dilalui dengan mudah dan santai. Tak heran jika tiap bulan pemerintah selalu mencanangkan program-program acara sepeda santai untuk masyarakat kotanya.

Dan kini saya membayangkan, bagaimana seandainya di kota besar, seperti Makassar, ditetapkan Bicycle Day, hari berkendara sepeda?


--Imam Rahmanto--

Senin, 04 Februari 2013

Belajar Dari Siapa Saja (2)

Februari 04, 2013
Mari terus belajar. (Google Search)
Lagi, saya belajar dari kehidupan. Saya belajar dari pengalaman orang lain. Ada banyak hal yang ternyata saya pelajari, dan menjadi tempat saya untuk belajar. Karena bulan ini adalah Februari maka saya akan banyak belajar tentang membina kasih sayang. ^_^.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman berbagi kisah dengan saya. Kisah asmaranya, yang mungkin telah berlalu setahun yang lalu. Entah bagaimana caranya saya bisa membuatnya “membuka mulut” perihal asmaranya itu, karena terkadang tidak banyak orang yang mau blak-blakan untuk bercerita persoalan pribadi seperti itu pada orang lain.

Banyak hal yang kemudian menjadi refleksi saya, untuk belajar…

Sebenarnya seperti itulah esensi belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu, from nothing to something. Belajar bisa dilakukan dimana saja dan kepada siapa saja. Kita menjalani hidup, memperhatikan keadaan sekitar, lalu mengambil pelajaran darinya. Pelajaran malah tidak selalu dari orang yang lebih tua. Umur yang lebih banyak tidak menjamin seseorang memiliki ilmu yang lebih banyak pula. Siapapun yang memiliki ilmu yang dibutuhkan itu, maka kita pun bisa belajar darinya. Tak peduli orang itu jauh lebih muda dari kita, atau bahkan masih umur kanak-kanak.

Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi dengarkan apa yang dikatakannya.

Semisal seorang professor sekalipun, tidak lantas dianggap sebagai orang yang paling pintar. Memang, ada banyak ilmu yang dia kuasai. Tapi, apakah dia tahu cara mengayuh becak? Apa dia tahu cara berdagang yang benar? Apa dia tahu cara membuat cup-cake? Apa dia tahu cara beribadah dengan benar? Apa dia tahu cara  mengganti popok bayi? Atau apa dia tahu cara menyatakan cinta yang benar?

Pada kenyataannya, kita ini adalah makhluk sosial. Kita diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar menguasai segala jenis ilmu maupun keterampilan. Masing-masing orang harus mengerti cara belajar. Karena pada hakikatnya, belajar itu berarti mengisi kepala kita dengan sesuatu yang sedari awal kita tidak mengetahuinya. Kita mengolahnya, lantas “membacanya”. Jika menurut kita baik, maka kita menerima dan menggunakannya. Jika tidak, kita tentu membiarkannya, dan memberikan kesempatan orang lain untuk mempelajarinya.

“Bagaimana ya? Kalau mau bilang itu, harus yang pasti-pasti dulu. Gejala-gejalanya harus jelas,” ujar teman saya. Seandainya saya bawa notebook dan semacamnya pada saat itu, mungkin ada banyak catatan yang bakal menjadi coretan saya. Oh ya, seorang BJ. Habibie pun masih sering membawa-bawa buku catatan kecil di saku bajunya. Ia senang belajar. Dan ia mengabadikannya lewat catatan itu, supaya tidak lupa.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,”   ---Ali bin Abi Thalib---

Nah, saya belajar tidak selalu kepada orang yang lebih tua dari saya. Atau tidak juga dengan orang yang lebih pandai dari saya. Saya lebih suka belajar dengan orang yang biasa-biasa saja. Karena pada kenyataannya, orang-orang seperti itu memiliki sesuatu yang luar biasa, yang tidak diperlihatkan bebas kepada orang lain. Masa bodoh jika orang lain memandangnya sebelah mata. Because: Everyone is unique. Ada sisi-sisi atau sudut-sudut yang tidak selalu menjadi perhatian orang lain.

Olehnya itu, saya berusaha tetap belajar. Tetap menulis. Terus belajar. Tentunya, belajar “membaca”. Tak sekadar membaca, tapi membaca kehidupan….


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 02 Februari 2013

Berani Mencintai

Februari 02, 2013
(sumber gambar: google search)
“Cinta itu membutuhkan sedikit keberanian untuk bisa membuka pintu hati,”
sebuah kutipan yang malam ini saya baca dari sebuah novel, Ibuk, meskipun saya belum menyelesaikan dari setengah bacaan itu.

Memang benar, butuh keberanian untuk sekadar mengungkapkan perasaan kepada orang lain. Kita tidak akan tahu bagaimana perasaan orang lain ketika kita tidak mengungkapkannya secara langsung ataupun blak-blakan. Kata sebuah film, hanya orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Nah, seperti cerita “dramatis” yang baru saya dapatkan juga malam ini.

“Saya mengungkapkannya dengan setangkai bunga dan cokelat tepat di hari Valentine, tanggal 14 Februari,” ungkap seorang teman pada saya.

Saya nyaris tidak percaya dengan yang dikatakannya. Selama ini, saya memandangnya sebagai orang yang lugu, polos, dan tak berbakat dalam melakukan apa-apa. Namun kenyataannya, ia benar-benar “berani” sedramatis itu mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Saya tak habis pikir, pikiran seperti apa yang ia olah untuk bisa dikolaborasikan dengan teori-teorinya dalam menggaet seorang wanita. Bahkan, ia mengaku sudah punya empat orang mantan kekasih, dan salah satunya sedang meminta untuk rujuk kembali. Istilahnya: CLBK. Ckckck….great!

Ketika ia bercerita panjang lebar kronologis proses “nembak” itu, saya melihatnya benar-benar mirip dengan acara-acara reality show yang ada di tivi-tivi. Atau kalau bisa disamakan, malah terbayang seperti sebuah acara FTV. Sembari sedikit mencuri ilmu darinya, saya hanya bisa tertawa mendengarkan kisah “berani”nya itu.

“Saya memegang tangannya ketika ia berdiri. Sambil berlutut, memberikan bunga. Lalu mengungkapkan semuanya,” tuturnya lagi. Nah, bukankah itu sangat dramatis!!

“Ya, bagaimanapun saya harus berani. Kalau tidak, saya tidak akan tahu hasilnya. Lagipula, gerak-gerik yang diperlihatkannya sudahmemberikan saya peluang yang sangat tinggi untuk bisa diterima sebagai pacarnya,” Ia benar-benar menjelaskannya panjang lebar dengan sedikit malu-malu.

Terlepas dari kesehariannya di mata saya, saya menganggap ia adalah orang yang patut diacungi jempol. Saya harus mengaku kalah dengannya. Mengaku bahwa saya tidak bisa melakukan se”dramatis” yang dilakukannya. Mengaku saya tidak lebih hebat darinya dalam perkara “cinta”.

Orang yang tidak berani menyampaikan perasaannya kepada orang lain adalah orang-orang yang egois. Bagaimana tidak, mereka hanya menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri. Mereka tak pernah membagi secercah kebahagiaan itu untuk orang yang benar-benar disayanginya. Sekadar mengucap beberapa kalimat saja mereka sangat pelit nan penuh perhitungan. Bukankah teori perhitungan itu akan menjadi ilmu “tak pasti” ketika orang mulai membicarakan cinta? 

Yah, apapun jenis ketakutan itu, saya pernah mengalaminya di masa-masa sekolah dulu. Meskipun kini saya sudah mulai bisa menghapusnya dari memory saya, namun saya rasanya ingin kembali di masa putih abu-abu itu. Mencoba memperbaiki sesuatu yang rusak dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih berwarna.

Pikiran dan segala pengalaman yang membawa saya disini, sekarang, telah banyak mengajari saya untuk berbuat lebih baik, sedikit lebih berani, dan tidak lagi menjadi orang yang suka menyembunyikan secercah harapan itu. Just to talk!  Kenyataannya, saya pernah berani mengambil resiko persoalan “cinta” itu dan benar-benar mendapati resikonya. Meskipun tak sedramatis teman saya tadi.  Akan tetapi, hal itu yang kemudian membelajarkan saya untuk menjadi lebih dewasa. Bukankah kita dewasa karena sebuah kegagalan? 

Memberanikan diri memang adalah kunci terbaiknya. Selama kita siap menerima resiko yang akan hadir di balik usaha itu. Mereka yang hanya tinggal diam, menyimpan semua kebahagiaan itu rapat-rapat, berarti tak mempunyai keberanian yang cukup untuk melangkah lebih jauh. Ini soal perasaan, yang tak mungkin diterka-terka begitu saja. Kita bukan seorang mentalist magician yang bisa membaca sekilas pikiran orang lain. Tidak semua dari kita belajar cara membaca kepribadian orang lain. Bahkan orang-orang yang belajar ilmu Psikologi pun belum tentu bisa dengan leluasa membaca perasaan orang lain. Dalamnya lautan bisa diukur, namun dalamnya hati siapa yang tahu? Oleh karena itu, bertanya langsung pada orang lain tentang perasaannya adalah hal yang wajar. Just to talk, just wait the answer!

Saya kemudian berpikir, resiko selalu ada untuk orang yang selalu memberanikan diri berbuat sesuatu. Namun, percayalah, keberuntungan selalu menyertai orang-orang yang berani menapaki batas ketakutannya itu. Dan teman saya tadi, ternyata telah berhasil menaklukkan ketakutannya sendiri. Hasilnya? Si wanita menjawab “YA” disertai pipi yang bersemu merah melihat “aksi nekat” teman saya itu. ^_^.


--Imam Rahmanto--

Jumat, 01 Februari 2013

The Story of The Screen

Februari 01, 2013
Pagi ini, tanggal 1 Februari 2013, saya menyambut awal bulan yang katanya penuh cinta dengan duduk-duduk sendiri di depan #terasbaru redaksi sembari menyeruput minuman favorit saya. Yeah, that is it, Cappuccino!
***

Mengakhiri bulan pertama Januari, saya beserta tiga orang teman saya sejenak melepas kejenuhan dengan mengikuti sebuah acara pemutaran dan diskusi film gratis (Cinematica) di gedung BaKTI, Jl. Mappanyukki. Saya baru pertama kalinya lagi menginjakkan kaki disana, setelah sekian lama berkutat dengan kesibukan sebagai seorang mahasiswa yang dikejar deadline.

Film kedua yang diputar yang akhirnya harus kami nonton di tengah-tengah berlangsungnya. (ImamR)
BaKTI yang merupakan tempat beragam kalangan, profesi, maupun komunitas untuk berbagi ilmu, benar-benar bisa membuat saya sedikit melupakan sejenak kejenuhan akan rutinitas saya di kampus, redaksi, maupun kehidupan. Ada banyak ilmu yang bisa saya dapatkan dari sana meski sekadar pengetahuan saja; film, menulis, radio (penyiaran), jurnalistik, event organizer, kampus, dan sebagainya. Terlebih acara yang digelar disana selalu tanpa biaya alias GRATIS.

Bukan tanpa alasan ketika kami berempat harus tiba 30 menit kemudiandan hanya kebagian nonton film kedua. Pasalnya, kericuhan yang terjadi di sekitar kota Makassar, menanggapi hasil Pilgub, sudah terlanjur menakuti sebagian besar warga kota Makassar. Disana-sini muncul isu tentang kericuhan yang meluas sampai ke lokasi acara kami. Jatuh korban lah, kena panah lah, kepala tembus lah, kabar yang sampai ke telinga saya.

“Kak, tidak mau ikut ke acara Cinematica di BaKTI?” tanya saya pada salah seorang senior menjelang berangkat bersama teman-teman.

Hah? Mau cari mati ya? Di sekitar sana kan sedang ricuh. Mau kena panah nyasar?” jawabnya.

Lah, di Mappanyukki kok, Kak. Soalnya gedungnya sudah pindah,”

“Ya, memangnya kau tidak tahu? Disana kan kena juga. Makanya pantau perkembangannya lewat tivi?” balasnya meyakinkan saya. Sejenak, saya berpikir, “Apa betul ya separah itu?” Padahal menurut pantauan informasi saya, kericuhan hanya terjadi di beberapa tempat, yang kenyataannya masih cukup jauh dari lokasi gedung yang akan kami kunjungi.

Nyaris saja, keinginan saya untuk sekadar brain refresh kesana goyah. Apalagi kami hanya berempat. Saya heran, ada banyak teman-teman saya tidak begitu tertarik ikut. Yah, setidaknya kita menghilangkan kejenuhan dari rutinitas redaksi. #out of the box. Anggap saja ini adalah “outhouse training”. 

Akan tetapi, dikarenakan niat kita yang benar-benar mulia demi menjaga perdamaian dunia, tulus demi mendapatkan ilmu dan bersosialisasi, bertemu dengan orang-orang baru, maka kami tetap memutuskan berangkat. Semangat tetap menyertai kami. Saking semangatnya, salah seorang teman kami kesasar sampai harus pulang sendiri ke redaksi. Ya, sudahlah.


Interaksi Sosial yang Hilang

Pembicara mulai membuka diskusi dengan bercerita tentang pengalamannya. (ImamR)
Ok, semalam ada dua film yang menjadi pembuka diskusi dengan pembicara Anwar Jimpe Rahman, seorang penggiat sastra dan perfilman Makassar dan @lelakibugis (saya lupa namanya). Tema yang diulas kali ini; The Story of The Screen (Nostalgia Bioskop dan Layar Tancap). Film pertama berjudul “Maaf Bioskop Tutup”, sementara film kedua berjudul “The Last Journey”. Saya dan ketiga orang teman saya hanya kebagian menonton film kedua. Sebuah film dokumenter durasi 28 menit yang berkisah tentang kehidupan bioskop layar tancap, yang kemudian bangkrut  karena orang lebih suka menonton televisi, DVD di rumah dan juga acara-acara orkestra dangdutan. Kedua film dokumenter tersebut secara umum menggambarkan perkembangan “jatuh-bangun” bioskop tradisional yang telah lama dilupakan oleh masyarakat.

Yah, kita sekarang sudah sangat jarang menemukan bioskop-bisokop layar tancap seperti dulu. Padahal, sebelum menjamurnya bioskop-bioskop modern seperti sekarang, masyarakat kebanyakan sangat menanti-nantikan hadirnya tontonan-tontonan baru melalui layar tancap itu. Dulu, ketika masih sangat kecil, saya pernah sekali merasakannya. Dan saat itu, saya benar-benar senang melihat film yang diputar di layar putih dan berukuran gambar super besar. “Wah”, mungkin menjadi penggambaran saya ketika pertama kali menonton “tivi” lewat layar tancap.

“Ada yang turut hilang dari jatuhnya bioskop-bioskop itu,” tutur Anwar Jimpe Rahman.

Sela-sela acara, perut mesti diisi. (ImamR)
Sebuah interaksi sosial yang terjalin di tengah-tengah masyarakat turut memudar seiring hilangnya bioskop-bioskop tradisional itu. Tak ada lagi para penjual-penjual kacang, minuman panas, ketika layar tancap itu hilang. Tak ada lagi anak-anak yang berlarian kesana kemari bukan untuk menonton film, melainkan hanya untuk bermain bersama teman-temannya di malam hari, di tempat seramai acara layar tancap. Bahkan, di momen yang cukup memasyarakat itu, kita sering menemukan muda-mudi yang janjian ketemuan di tempat berlangsungnya bioskop tradisional. Ya, meskipun mereka hanya berusaha mencuri-curi kesempatan di sela-sela menonton bersama itu.

“Bioskop-bioskop tradisional itu adalah satu titik dimana masyarakat bisa bertemu, berinteraksi bebas, dan bahkan berinvestasi ekonomi di dalamnya. Layaknya pasar, namun di waktu yang berbeda. Jika pasar di waktu siang, maka layar tancaplah yang kemudian mempertemukan masyarakat di malam harinya, sekadar melepas penat dari bekerja,” jelas Anwar Jimpe Rahman.

Bioskop-bioskop modern yang kini hadir di tengah-tengah kota, di dalam megahnya gedung-gedung mall sama sekali tidak menimbulkan interaksi layaknya layar tancap itu. Orang-orang hanya berdatangan kesana, duduk di atas sofa empuk ber-AC, tenang dan diam, usai itu mereka keluar dan pulang ke rumah. Sangat berbeda misalnya ketika masyarakat yang menanti-nanti diputarnya film di bioskop-bioskop layar tancap itu dengan duduk-duduk bersama kawannya, atau keluarganya sembari menggelar tikar atau bahkan berpiknik kecil di depan layar tancap. Diputarnya film pun, mereka masih asyik-asyiknya ngobrol dengan teman-teman di sebelahnya.

“Coba kalau di bioskop, datang kesana dengan celana pendek-kaos, sandal jepit kita serasa berada di dunia asing. Mana ada yang memperbolehkan kita masuk dengan pakaian compang camping. Ada batasan-batasan kerapian yang masih dijunjung dan membatasi kasta ketika kita memasuki mall-mall di kota,” canda @lelakibugis, yang juga merupakan penggiat pefilman di kota Makassar. Yah, benar sekali! Bahkan, menonton di rumah sendiri pun terkesan menimbulkan pengaruh individualisme dalam diri masing-masing masyarakat.

Sejak dulu, sebenarnya masyarakat kota selalu membutuhkan pemicu untuk mempertemukan diri satu sama lain. Saya sendiri pun merasakan hal demikian. Hidup di kota secara harfiah menumbuhkan pagar-pagar tinggi di rumah masing-masing. Bukan saja membatasi halaman rumahnya, pagar itu turut membatasi interaksi sosial yang terjadi di sekitarnya. Bukan hal yang aneh lagi ketika kita menemukan orang-orang yang bertetangga tidak mengenal satu sama lain, bahkan untuk tetangga yang hanya berbatas dinding rumah. Ckckckck…menilik pengalaman redaksi yang berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat kota. Kami tidak begitu akrab dengan tetangga depan-belakang-samping rumah. Apa karena selain kami selalu membuat gaduh ya?? Namanya juga mahasiswa…

Akan tetapi, proses investasi dan bisnis yang menjanjikan tiap pemutaran film membuat bioskop-bioskop tradisional kalah bersaing. Siapa coba yang tidak mau nonton film, duduk santai di sofa empuk, ruangan ber-AC, kualitas suara terjamin, tidak dipengaruhi oleh cuaca pula? Selain itu, tiap rumah juga sudah dilengkapi dengan televisi-televisi dengan ribuan siaran dari berbagai negara. Alhasil, masyarakat kemudian dicekoki dengan perubahan gaya hidup modern. Perkembangan teknologi semakin memunggungi bioskop-bioskop layar tancap.

“Ada ruang-ruang sosial yang kemudian hilang dari bioskop itu. Interaksi sosial yang seharusnya dibutuhkan masyarakat,”

Sebenarnya, bukan hal yang buruk pula ketika bioskop-bioskop modern muncul di tengah-tengah masyarakat. Asalkan, kehadirannya tidak mengikis satu-persatu rasa sosial yang ada di masyarakat. Tenggang rasa, solidaritas, tanggung jawab, kepedulian, gotong royong, kekeluargaan, pada kenyataannya lambat-laun telah menghilang dari kehidupan masyarakat perkotaan. Setidaknya, yang modern itu tidak membuat orang-orang berpikiran individualistik.

Perkembangan teknologi, sebaiknya (dan semoga) bisa kita jalani tanpa mengurangi interaksi sosial yang terjalin antar sesama masyarakat, tanpa menghilangkan "ruang-ruang sosial". Dan, ruang-ruang sosial seperti itulah yang banyak hilang dan tidak mampu diwadahi oleh pemerintah. Maka dari itu, mari menciptakan sendiri "ruang-ruang sosial" itu.

Hmm...selalu ingat, “bersama itu selalu menyenangkan”. ^_^.


--Imam Rahmanto--