Sabtu, 26 Januari 2013

Tere Liye Berkisah Perbankan

(www.profesi-unm.com)
Lagi, saya akhirnya melahap satu buku hasil pinjaman dari redaksi saya. Salah satu novel yang telah lama saya incar-incar untuk dibaca sejak Tere Liye mendeklarasikannya telah terbit di toko-toko buku terdekat. Yah, meskipun saya beberapa kali melihat potongan ceritanya (hanya melihat, bukan membaca) di fanpage milik Tere Liye. Seluruh potongan cerita diposting sampai tamat secara free, sebelum akhirnya dibukukan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Pada dasarnya, saya memang selalu penasaran ketika dihadapkan pada buku-buku jebolan Tere Liye.

“Kejadian menyakitkan selalu mendidik kita menjadi lebih arif,”

Negeri Para Bedebah, sebuah novel yang berkisah tentang perjalanan seorang konsultan keuangan profesional, Thomas, dalam menyelamatkan bank swasta milik pamannya yang terancam ditutup karena ditengarai telah banyak merugikan negara dan menyisipkan praktek-praktek kotor dari para koruptor kelas kakap. Menjelang dijebloskannya Om Liem sebagai pemilik bank swasta tersebut, Thomas hadir kembali dalam keluarga itu sebagai penyelamat. Ia telah lama memisahkan diri dari keluarganya, khususnya Om Liem. Thomas masih menyimpan kenangan buruk masa lalunya dan menyalahkan pamannya atas segala kejadian itu.

Meskipun Thomas benci dengan pamannya, ia tetap bersikukuh menyelamatkan bank swasta milik pamannya itu. Terlebih ia menyimpan dendam kesumat kepada seorang polisi berbintang tiga dan seorang jaksa tinggi yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya di masa lalu.
Proses penyelamatan Bank Semesta dalam waktu kurang dari 50 jam pun dimulai. Kejar-kejaran layaknya sebuah film action akan banyak kita jumpai dalam adegan buku ini. Membaca buku ini serasa menonton sebuah film action jebolan luar negeri. Entah dari mana sang penulis bisa mendapatkan ide “segila” itu. Mematenkan adu jotos, tembak-tembakan, dan adu strategi sebenarnya jika dipikir-pikir bukanlah “Tere Liye banget”.

“Tidak ada skenario Russian Roulette dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan,”

Ada yang sudah pernah baca beberapa bukunya? Sebagian besar, buku-bukunya selalu bercerita tentang kisah keluarga, kan? Lebih sering pula kita mendapati Tere Liye menyisipkan pesan-pesan moral melalui kisah anak-mamaknya. Selalu, ia menonjolkan mendidik anak dengan kisah-kisah dongeng dari orang tua. Dan…dalam buku ini pun ia tetap saja sedikit menyisipkan “metode mendidik anak” tersebut.

Dalam kisah pengejarannya, kita masih disuguhkan kilasan balik masa lalu Thomas. Ia yang sedari kecil selalu mendapat cerita-cerita masa muda dari kakeknya, atau biasa dipanggilnya Opa. Dari sanalah ia juga banyak belajar tentang kearifan hidup seorang pemuda, yang kemudian membawanya untuk menyelamatkan bisnis keluarga dari tamaknya aparat pemerintah yang korup.

Dalam aksinya mengatur strategi penyelamatan itu, di tengah cerita, ia kemudian mendapat bantuan dari seorang polisi muda, teman sesama petarung di klub boxer dan Julia, seorang wartawati dari review media ternama. Beberapa kali pula ia harus menyelamatkan Opa, Om Liem, Maggie – asisten kepercayaan kantornya, dan Kadek. Akan tetapi, di akhir cerita, ia baru menyadari ternyata ada seorang pengkhianat di tengah-tengah keluarganya dan pengkhianat itu berasal dari masa lalunya.

"Di dunia ini, urusan penting dan tidak penting hanya terlihat dari kulit luarnya saja. Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya,”

Secara tidak langsung, buku ini akan mengajarkan kita tentang teori-teori perbankan. Lalu lintas keuangan dalam dunia ekonomi, dan bahkan mengajarkan kita tentang cara berpolitik. Jadi, tidak perlu heran ketika kita dibuat terperangah oleh beberapa ulasan ekonomi yang dijabarkan oleh tokoh dalam cerita. Terlepas dari itu, nyatanya penulis mampu menyisipkannya secara apik di tengah-tengah cerita sehingga membuat pembaca tidak bosan mempelajarinya. Sambil menyelam minum air.

“Tetapi kita terkadang telah membuat keputusan bahkan sebelum keputusan itu dibuat,”

Sadar atau tidak, saya melihat buku ini secara umum nampaknya berusaha menggambarkan kasus skandal Bank Century di Indonesia. Jika mendalami jalannya cerita maka akan ditemukan benang merah kasus tersebut dengan beberapa tokoh yang secara kebetulan disebutkan dalam cerita. Beberapa tokoh digambarkan cukup jelas mewakili tokoh-tokoh yang ada di Indonesia, terkait Bank Cetury. Yah, meskipun cerita ini hanya sekadar fiksi belaka. Akan tetapi, bagaimanapun juga, saya tetap merasa disodorkan secara halus kasus Bank Century melalui kisah yang dijabarkan dalam buku ini. Saya kemudian terbelajarkan darinya.

"Melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal, adalah cara tercepat untuk belajar,”

Tanpa kisah-kisah cinta pun, ternyata Tere Liye mampu merangkum cerita sebuah novel dengan cukup bagus. Saya pernah mendengar, ia hingga kini berusaha untuk menelurkan karya-karya novel dalam bentuk yang berbeda-beda. Ia ingin menjajal kemampuan menulisnya dengan menyelami beragam bidang, salah satunya ya seperti dalam novel ini. Politik dan ekonomi perbankan. Wuih, nampaknya butuh riset yang cukup lama juga tuh…. Bagaimana? Tertarik membacanya?


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar