Sabtu, 19 Januari 2013

Momen Kebersamaan

Google Search
Pagi ini, sembari menikmati hangatnya cappuccino olahan sendiri, mendengarkan musik pagi, news editing, saya membaca sebuah judul berita di salah satu surat kabar harian terbesar di Indonesia, "Momentum Bangun Kebersamaan", lantas menyentakkan saya ke masa-masa silam. Kenyataannya, banjir mungkin mengajarkan hal itu pada masyarakat perkotaan disana.

Manusia memang tak pernah bisa lepas dari sosialisasi dengan orang lain. Sejak kecil dan duduk di bangku sekolah dasar, saya (atau kita) sangat sering dijejali dengan ungkapan manusia adalah makhluk sosial; yang tak bisa hidup tanpa campur tangan manusia lain. Kita dianjurkan untuk saling mengenal dan berteman satu sama lain. Membentuk kelompok tersirat masing-masing. Dalam kelompok hidup masyarakat itu,secara sadar atau tidak sadar kita akan terikat pula dengan sederet peraturan tak tertulis maupun tertulis.

Akh, maaf saya tidak begitu banyak tahu tentang ilmu sosial itu. Jurusan saya yang sejak SMA bernaung di Ilmu Alam tidak begitu memberikan pendalaman aspek-aspek teoritis mengenai hubungan sosial itu. Saya tidak begitu banyak tahu tentang Karl Marx dan tetek-bengek lainnya tentang dia. Akan tetapi, secara praktis, ilmu sosial sewajarnya telah kita dapatkan hingga beranjak dewasa.

Tahu tidak, beberapa hari lalu, saya sempat berpapasan dengan salah seorang teman saya di SMA. Kami berbincang sebentar, seperlunya, sebatas bercerita dimana tempat tinggal masing-masing. Selanjutnya, kembali larut dalam perjalanan masing-masing.

Saya ingat dia. Di masa sekolah, ia punya geng yang cukup terkenal seantero angkatan saya. Selain karena sering nongkrong bareng, mereka juga sebagian besar berasal dari kelas yang sama. Dan hingga kini nampaknya mereka masih sering kumpul bersama, entah itu di kost salah seorang diantara mereka ataupun di tempat-tempat lainnya.

Sangat berbeda jauh dengan saya yang ketika SMA tidak tergabung dalam kelompok manapun, kecuali kelompok formal sekolah - OSIS. Saya tidak begitu banyak bersosialisasi. Saya cenderung introvert dan selalu berusaha menyelesaikan segala masalah saya sendiri. Maka tidak heran ketika saya menjadi orang yang sangat pandai dalam hal menyembunyikan perasaan.

Pada dasarnya, saya tidak hidup sendiri. Saya masih punya banyak teman ataupun kenalan. Di SMA, meskipun tidak membangun sebuah kelompok, saya juga punya seorang teman yang begitu "setia" menemani saya kesana-kemari. Saya di kelas, dia di kelas. Saya tak ke kantin, dia tidak ke kantin. Saya ke masjid, dia ke masjid. Saya meminta tolong kepada dia, ia menyanggupinya. Layaknya ia selalu menemani saya tanpa berharap timbal balik dari saya. Untuk saat ini, saya masih berkomunikasi dengannya dan sangat menghargainya. Saya tak peduli ketika orang lain memandang remeh terhadapnya. Terima kasih untuknya.

Akan tetapi, bergabung dalam sebuah kelompok, resmi maupun bebas, nyatanya kemudian memberikan kontribusi sosial atas kehidupan saya. Di SMA misalnya, organisasi siswa intra sekolah itu kemudian mengajarkan saya untuk menjadi orang yang "cerewet" dan memiliki banyak teman. Saya dipaksa untuk merasakan sendiri makna khusus dari sebuah momen kebersamaan. Kebersamaan dalam suka maupun duka. Bahkan, mungkin sedikit rasa tentang jatuh cinta. :p. Yah, meskipun di masa sekolah itu, unsur filosofi sebuah organisasi tidak secara optimal didapatkan.

Teman-teman dan teman-teman.
Beranjak di perkuliahan sendiri, saya baru benar-benar menyukai momen-momen kebersamaan itu. Saya sedikit memperolehnya awal-awal memasuki kuliah. Teman-teman dari beragam daerah saling mengenal dan berkumpul di tempat kost masing-masing. Adakalanya menikmati sajian hasil patungan bersama ataupun sekadar bergosip tentang teman-teman lainnya. Kondisi nasib yang sama memang terkadang mempersatukan kita dalam suatu kelompok.

Saya semakin merasakan momen kebersamaan seperti itu kala aktif dalam lembaga pers kampus yang saya geluti sekarang. Disana, saya kemudian mengenal dan diperkenalkan kepada teman-teman lain. Kian hari, dipersatukan hati, dan tidak lagi merasa canggung satu sama lain. Saya maupun mereka dipersatukan dalam suka dan duka dengan tetap menanggungnya "sama-sama". Ada masalah, diceritakan kepada yang lainnya. Senang-senang, dibagi bersama pula.

Momen kebersamaan. Saya tidak begitu paham tutur kata itu. Karena saya pada dasarnya tidak suka terlalu memusingkan soal seperti itu. Saya hanya mengerti tentang kami yang selalu saling merindukan satu sama lain. Saling mencari ketika tak melihat wajah lainnya. Menanyakan kabar saat lama tak berjumpa. Dan mungkin, selalu mengumbar tawa ketika sedang bersama. Menangis pun menjadi hal yang lumrah untuk ditertawakan.

Siapa saja, tentu bisa hidup sendiri. Namun mandiri bukan berarti hidup tanpa bantuan orang lain. Ketika kita terjatuh dan melihat orang lain mengulurkan tangannya pada kita, raih saja. Kita hidup mandiri tak perlu egois. Menenggelamkan diri dalam momen kebersamaan pun tak lantas menghilangkan kemandirian kita. Dalam momen kebersamaan itu, saya kemudian belajar percaya dan dipercayai orang lain. Karena sedari yang saya tahu, momen kebersamaan itu dibentuk atas dasar rasa PERCAYA. Tanpa meragukan satu sama lain, percaya satu sama lain.
Selalu ada senyuman yang terukir ketika menjalani momen kebersamaan itu.

Saya takkan habis pikir jika kelak kebersamaan seperti itu akan hilang ditelan waktu dan hanya tersimpan di mesin waktu yang mengantarkan kita ke masa lalu; memory.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar