Senin, 28 Januari 2013

Saya Belajar, Saya Bisa

Januari 28, 2013

(ImamR)
Pagi, hujan, dan dingin....

Saya banyak memikirkan sesuatu akhir-akhir ini. Boleh jadi, pekerjaan yang menumpuk dan tuntutan kewajiban sebagai seorang mahasiswa menumpuk jadi satu. Di sisi lain, tekanan batin karena beberapa kali saya telah menjelma menjadi orang yang buruk; berjanji dan selalu saja tak ditepati.

Ya, mahasiswa, yang konon kabarnya harus menyelesaikan pendidikannya dalam rentang 4 tahun. Jika tidak seperti itu, terkadang orang-orang akan memandang kehidupan mahasiswa sebelah mata. Dan lihatlah, mahasiswa yang bisa menyelesaikan kuliahnya "tepat" 4 tahun akan dicap sebagai mahasiswa berprestasi sekaligus pandai. Sementara mereka yang menanti penyelesaian lebih dari 4 tahun harus menanggung "bisik-bisik halus" dari tetangga.

"Si Jabrik kok belum selesai kuliah ya? Padahal si Jablay sudah diwisuda. Dua-duanya kan seangkatan,"

Adalah hal yang wajar ketika saya mulai bingung menentukan kejayaan saya di masa-masa seperti ini. Tahun ini, seharusnya menjadi masa-masa berbahagia saya menyusun skripsi dan sejenisnya. Atau setidaknya bolak-balik konsultasi dengan PA. Akan tetapi, semua yang terjadi agak bertolak belalang. Mungkin, saya satu-satunya orang yang sama sekali masih belum memikirkan konsep judul skripsi. Saya pun hanya bisa tersenyum getir menanggapi teman-teman sekelas saya yang sudah mulai, sedikit-sedikit, berbicara soal itu.

"Eh, kemarin si A yang seminar proposal ya? Kamu datang ndak? Trus, kalau kamu, kapan seminar?" suara-suara itu yang sering menggema di langit-langit jurusan saya dan terkadang membuat saya iti dengan teman-teman.

"Saya sementara menunggu PA nih. Kalau dia meyetujui, saya bakal seminar minggu depan," jawab salah seorang teman saya. Teman saya yang satu hanya mengangguk-angguk disertai "Ooo..." tanda mengerti.

"Oh ya,..." Entah mengapa saya tiba-tiba tahu arah pembicaraannya. Teman saya kemudian menatap tajam ke arah saya. Tuh kan!!

"Kalau kamu, Mam. Sudah ada judul?" Sesuai dugaan saya.

"Sudah," Saya mengangguk sekilas. Pelan sekali. Padahal, yang terpikirkan dalam benak saya saat itu adalah judul salah satu berita yang sementara saya garap. Ckckck...


Belajar Sakit

Sedikit demi sedikit saya mulai mengejar ketertinggalan saya. Lambat laun saya sudah mulai belajar bagaimana caranya sakit hati dan cara mengatasinya.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati seorang teman saya menyampaikan kabar menyedihkan perihal kuliahnya.

"Semester ini saya juga sudah merasakan semua jenis nilai mata kuliah," ujarnya nyaris menertawakan diri sendiri.

"A, B, C, D, E, Tunda, Kosong?" sebut saya berusaha memastikan. Bagaimana mungkin ada orang yang kemudian menyamai saya "pernah merasakan semua jenis nilai".

Ia pun mengiyakan lantas tersenyum lebar. Senyum yang agak dipaksakan untuk tegar dengan nilai-nilai jeblok itu.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, saya banyak belajar dari nilai-nilai buruk seperti itu. Saya mulai terbiasa (atau membiasakan diri) menemui nilai-nilai semacam itu. Memang, pada awalnya (dulu) saya merasa sakit hati ketika memperoleh nilai rendah seperti itu. Namun, saya kemudian mampu menerima kenyataan bahwa tidak semua yang kita harapkan itu berjalan lancar.

Tidak perlu meraung-raung jika semua rencana berantakan. Tidak ada putus asa ketika jalur yang kita lalui kemudian berbelok le arah lain. Tidak perlu menggigit-gigit bantal melihat orang lain berbahagia dengan kehidupannya yang tenang dan lancar layaknya air parit. Kita cukup menenangkan diri dan menyadari, kalau semuanya adalah tempat belajar. Belajar dari kesalahan. Belajar dari siapa saja. Belajar apa saja. Belajar kapan saja. Belajar untuk sakit hati.

Hidup tak selalu mulus dan teratur. Terkadang jika semuanya berjalan lancar, saya kemudian merasa ada sesuatu yang salah dalam diri saya. "Ada apa ini?" Masalah itu ada untuk membuat kita dewasa. Dewasa dalam artian benar-benar tahu cara membendung rasa sakit atau perasaan buruk lainnya.

Sama halnya ketika saya menjalani masa-masa sekolah menengah atas (SMA) dulu. Saya sekarang baru menyadari, di kehidupan yang lalu itu ada hal-hal yang tidak sempat saya lakukan. Mestinya saya bisa sedikit memberikan "corak" untuk masa-masa itu. Tapi, toh, saya baru menyesal sekarang. Ada cerita berbeda yang semestinya bisa saya jalani saat itu. That's for the next story, Ok?

Siapapun tentu selalu menginginkan yang terbaik untuk kehidupannya. Akan tetapi, sesuatu yang baik itu belum tentu benar-benar baik untuk kita. Ada sesuatu yang selalu disimpan Tuhan untuk kita, yang benar-benar baik bagi kehidupan. Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

Dari semua kesakitan yang kita pelajari, maka belajarlah untuk iri dengan kehidupan orang lain.

"Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?"

Cemburu itu positif ketika mendorong kita untuk berbenah diri. Iri, dan bertekad untuk melampaui orang lain. Bersusah-susahlah! Senang datang kemudian. Saya sendiri punya tekad; Meruntuhkan anggapan orang lain bahwa saya tidak bisa. Saya ingin membuktikan, SAYA pun BISA! :)

"Kamu yakin bisa?"

"Seratus persen BISA!" jawab saya mantap pada keduanya, ayah dan ibu...



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 26 Januari 2013

Tere Liye Berkisah Perbankan

Januari 26, 2013
(www.profesi-unm.com)
Lagi, saya akhirnya melahap satu buku hasil pinjaman dari redaksi saya. Salah satu novel yang telah lama saya incar-incar untuk dibaca sejak Tere Liye mendeklarasikannya telah terbit di toko-toko buku terdekat. Yah, meskipun saya beberapa kali melihat potongan ceritanya (hanya melihat, bukan membaca) di fanpage milik Tere Liye. Seluruh potongan cerita diposting sampai tamat secara free, sebelum akhirnya dibukukan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Pada dasarnya, saya memang selalu penasaran ketika dihadapkan pada buku-buku jebolan Tere Liye.

“Kejadian menyakitkan selalu mendidik kita menjadi lebih arif,”

Negeri Para Bedebah, sebuah novel yang berkisah tentang perjalanan seorang konsultan keuangan profesional, Thomas, dalam menyelamatkan bank swasta milik pamannya yang terancam ditutup karena ditengarai telah banyak merugikan negara dan menyisipkan praktek-praktek kotor dari para koruptor kelas kakap. Menjelang dijebloskannya Om Liem sebagai pemilik bank swasta tersebut, Thomas hadir kembali dalam keluarga itu sebagai penyelamat. Ia telah lama memisahkan diri dari keluarganya, khususnya Om Liem. Thomas masih menyimpan kenangan buruk masa lalunya dan menyalahkan pamannya atas segala kejadian itu.

Meskipun Thomas benci dengan pamannya, ia tetap bersikukuh menyelamatkan bank swasta milik pamannya itu. Terlebih ia menyimpan dendam kesumat kepada seorang polisi berbintang tiga dan seorang jaksa tinggi yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya di masa lalu.
Proses penyelamatan Bank Semesta dalam waktu kurang dari 50 jam pun dimulai. Kejar-kejaran layaknya sebuah film action akan banyak kita jumpai dalam adegan buku ini. Membaca buku ini serasa menonton sebuah film action jebolan luar negeri. Entah dari mana sang penulis bisa mendapatkan ide “segila” itu. Mematenkan adu jotos, tembak-tembakan, dan adu strategi sebenarnya jika dipikir-pikir bukanlah “Tere Liye banget”.

“Tidak ada skenario Russian Roulette dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan,”

Ada yang sudah pernah baca beberapa bukunya? Sebagian besar, buku-bukunya selalu bercerita tentang kisah keluarga, kan? Lebih sering pula kita mendapati Tere Liye menyisipkan pesan-pesan moral melalui kisah anak-mamaknya. Selalu, ia menonjolkan mendidik anak dengan kisah-kisah dongeng dari orang tua. Dan…dalam buku ini pun ia tetap saja sedikit menyisipkan “metode mendidik anak” tersebut.

Dalam kisah pengejarannya, kita masih disuguhkan kilasan balik masa lalu Thomas. Ia yang sedari kecil selalu mendapat cerita-cerita masa muda dari kakeknya, atau biasa dipanggilnya Opa. Dari sanalah ia juga banyak belajar tentang kearifan hidup seorang pemuda, yang kemudian membawanya untuk menyelamatkan bisnis keluarga dari tamaknya aparat pemerintah yang korup.

Dalam aksinya mengatur strategi penyelamatan itu, di tengah cerita, ia kemudian mendapat bantuan dari seorang polisi muda, teman sesama petarung di klub boxer dan Julia, seorang wartawati dari review media ternama. Beberapa kali pula ia harus menyelamatkan Opa, Om Liem, Maggie – asisten kepercayaan kantornya, dan Kadek. Akan tetapi, di akhir cerita, ia baru menyadari ternyata ada seorang pengkhianat di tengah-tengah keluarganya dan pengkhianat itu berasal dari masa lalunya.

"Di dunia ini, urusan penting dan tidak penting hanya terlihat dari kulit luarnya saja. Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya,”

Secara tidak langsung, buku ini akan mengajarkan kita tentang teori-teori perbankan. Lalu lintas keuangan dalam dunia ekonomi, dan bahkan mengajarkan kita tentang cara berpolitik. Jadi, tidak perlu heran ketika kita dibuat terperangah oleh beberapa ulasan ekonomi yang dijabarkan oleh tokoh dalam cerita. Terlepas dari itu, nyatanya penulis mampu menyisipkannya secara apik di tengah-tengah cerita sehingga membuat pembaca tidak bosan mempelajarinya. Sambil menyelam minum air.

“Tetapi kita terkadang telah membuat keputusan bahkan sebelum keputusan itu dibuat,”

Sadar atau tidak, saya melihat buku ini secara umum nampaknya berusaha menggambarkan kasus skandal Bank Century di Indonesia. Jika mendalami jalannya cerita maka akan ditemukan benang merah kasus tersebut dengan beberapa tokoh yang secara kebetulan disebutkan dalam cerita. Beberapa tokoh digambarkan cukup jelas mewakili tokoh-tokoh yang ada di Indonesia, terkait Bank Cetury. Yah, meskipun cerita ini hanya sekadar fiksi belaka. Akan tetapi, bagaimanapun juga, saya tetap merasa disodorkan secara halus kasus Bank Century melalui kisah yang dijabarkan dalam buku ini. Saya kemudian terbelajarkan darinya.

"Melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal, adalah cara tercepat untuk belajar,”

Tanpa kisah-kisah cinta pun, ternyata Tere Liye mampu merangkum cerita sebuah novel dengan cukup bagus. Saya pernah mendengar, ia hingga kini berusaha untuk menelurkan karya-karya novel dalam bentuk yang berbeda-beda. Ia ingin menjajal kemampuan menulisnya dengan menyelami beragam bidang, salah satunya ya seperti dalam novel ini. Politik dan ekonomi perbankan. Wuih, nampaknya butuh riset yang cukup lama juga tuh…. Bagaimana? Tertarik membacanya?


--Imam Rahmanto--

Rabu, 23 Januari 2013

Kertas Curhat

Januari 23, 2013

Yah, saya punya sebuah buku jurnal yang isinya menceritakan semua tentang saya. Apapun itu, saya ceritakan disana. Bahkan, struk pembelian pun pernah saya simpan disana. Terkadang, jika saya punya kegundahan, menulis disana bisa sedikit melegakan hati saya. Ini adalah cara saya untuk melepaskan beban.




--Imam Rahmanto--

Sabtu, 19 Januari 2013

Momen Kebersamaan

Januari 19, 2013
Google Search
Pagi ini, sembari menikmati hangatnya cappuccino olahan sendiri, mendengarkan musik pagi, news editing, saya membaca sebuah judul berita di salah satu surat kabar harian terbesar di Indonesia, "Momentum Bangun Kebersamaan", lantas menyentakkan saya ke masa-masa silam. Kenyataannya, banjir mungkin mengajarkan hal itu pada masyarakat perkotaan disana.

Manusia memang tak pernah bisa lepas dari sosialisasi dengan orang lain. Sejak kecil dan duduk di bangku sekolah dasar, saya (atau kita) sangat sering dijejali dengan ungkapan manusia adalah makhluk sosial; yang tak bisa hidup tanpa campur tangan manusia lain. Kita dianjurkan untuk saling mengenal dan berteman satu sama lain. Membentuk kelompok tersirat masing-masing. Dalam kelompok hidup masyarakat itu,secara sadar atau tidak sadar kita akan terikat pula dengan sederet peraturan tak tertulis maupun tertulis.

Akh, maaf saya tidak begitu banyak tahu tentang ilmu sosial itu. Jurusan saya yang sejak SMA bernaung di Ilmu Alam tidak begitu memberikan pendalaman aspek-aspek teoritis mengenai hubungan sosial itu. Saya tidak begitu banyak tahu tentang Karl Marx dan tetek-bengek lainnya tentang dia. Akan tetapi, secara praktis, ilmu sosial sewajarnya telah kita dapatkan hingga beranjak dewasa.

Tahu tidak, beberapa hari lalu, saya sempat berpapasan dengan salah seorang teman saya di SMA. Kami berbincang sebentar, seperlunya, sebatas bercerita dimana tempat tinggal masing-masing. Selanjutnya, kembali larut dalam perjalanan masing-masing.

Saya ingat dia. Di masa sekolah, ia punya geng yang cukup terkenal seantero angkatan saya. Selain karena sering nongkrong bareng, mereka juga sebagian besar berasal dari kelas yang sama. Dan hingga kini nampaknya mereka masih sering kumpul bersama, entah itu di kost salah seorang diantara mereka ataupun di tempat-tempat lainnya.

Sangat berbeda jauh dengan saya yang ketika SMA tidak tergabung dalam kelompok manapun, kecuali kelompok formal sekolah - OSIS. Saya tidak begitu banyak bersosialisasi. Saya cenderung introvert dan selalu berusaha menyelesaikan segala masalah saya sendiri. Maka tidak heran ketika saya menjadi orang yang sangat pandai dalam hal menyembunyikan perasaan.

Pada dasarnya, saya tidak hidup sendiri. Saya masih punya banyak teman ataupun kenalan. Di SMA, meskipun tidak membangun sebuah kelompok, saya juga punya seorang teman yang begitu "setia" menemani saya kesana-kemari. Saya di kelas, dia di kelas. Saya tak ke kantin, dia tidak ke kantin. Saya ke masjid, dia ke masjid. Saya meminta tolong kepada dia, ia menyanggupinya. Layaknya ia selalu menemani saya tanpa berharap timbal balik dari saya. Untuk saat ini, saya masih berkomunikasi dengannya dan sangat menghargainya. Saya tak peduli ketika orang lain memandang remeh terhadapnya. Terima kasih untuknya.

Akan tetapi, bergabung dalam sebuah kelompok, resmi maupun bebas, nyatanya kemudian memberikan kontribusi sosial atas kehidupan saya. Di SMA misalnya, organisasi siswa intra sekolah itu kemudian mengajarkan saya untuk menjadi orang yang "cerewet" dan memiliki banyak teman. Saya dipaksa untuk merasakan sendiri makna khusus dari sebuah momen kebersamaan. Kebersamaan dalam suka maupun duka. Bahkan, mungkin sedikit rasa tentang jatuh cinta. :p. Yah, meskipun di masa sekolah itu, unsur filosofi sebuah organisasi tidak secara optimal didapatkan.

Teman-teman dan teman-teman.
Beranjak di perkuliahan sendiri, saya baru benar-benar menyukai momen-momen kebersamaan itu. Saya sedikit memperolehnya awal-awal memasuki kuliah. Teman-teman dari beragam daerah saling mengenal dan berkumpul di tempat kost masing-masing. Adakalanya menikmati sajian hasil patungan bersama ataupun sekadar bergosip tentang teman-teman lainnya. Kondisi nasib yang sama memang terkadang mempersatukan kita dalam suatu kelompok.

Saya semakin merasakan momen kebersamaan seperti itu kala aktif dalam lembaga pers kampus yang saya geluti sekarang. Disana, saya kemudian mengenal dan diperkenalkan kepada teman-teman lain. Kian hari, dipersatukan hati, dan tidak lagi merasa canggung satu sama lain. Saya maupun mereka dipersatukan dalam suka dan duka dengan tetap menanggungnya "sama-sama". Ada masalah, diceritakan kepada yang lainnya. Senang-senang, dibagi bersama pula.

Momen kebersamaan. Saya tidak begitu paham tutur kata itu. Karena saya pada dasarnya tidak suka terlalu memusingkan soal seperti itu. Saya hanya mengerti tentang kami yang selalu saling merindukan satu sama lain. Saling mencari ketika tak melihat wajah lainnya. Menanyakan kabar saat lama tak berjumpa. Dan mungkin, selalu mengumbar tawa ketika sedang bersama. Menangis pun menjadi hal yang lumrah untuk ditertawakan.

Siapa saja, tentu bisa hidup sendiri. Namun mandiri bukan berarti hidup tanpa bantuan orang lain. Ketika kita terjatuh dan melihat orang lain mengulurkan tangannya pada kita, raih saja. Kita hidup mandiri tak perlu egois. Menenggelamkan diri dalam momen kebersamaan pun tak lantas menghilangkan kemandirian kita. Dalam momen kebersamaan itu, saya kemudian belajar percaya dan dipercayai orang lain. Karena sedari yang saya tahu, momen kebersamaan itu dibentuk atas dasar rasa PERCAYA. Tanpa meragukan satu sama lain, percaya satu sama lain.
Selalu ada senyuman yang terukir ketika menjalani momen kebersamaan itu.

Saya takkan habis pikir jika kelak kebersamaan seperti itu akan hilang ditelan waktu dan hanya tersimpan di mesin waktu yang mengantarkan kita ke masa lalu; memory.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 17 Januari 2013

Remeh-temeh Mimpi

Januari 17, 2013

Ketika bermimpi, bukankah itu memang lazimnya sebuah fenomena di sela-sela kita sementara ternyenyak. Nyaris tak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah bermimpi ketika tertidur.Akan tetapi, untuk saat ini saya tidak hendak bercerita mengenai mimpi yang satu itu, melainkan tentang "mimpi" lainnya yang benar-benar bisa (saya realisasikan) menjadi kenyataan.

"Tahu tidak, dia ini hobinya apa?" Seorang teman meperkenalkan saya.

"Ia punya hobi bermimpi," lanjutnya lagi.

Entah darimana ia mendapatkan perihal "hobi" saya itu. Padahal hobi saya itu kan menulis, membaca, sepedaan, dan sebagainya.

Bagaimana ya? Hati saya ingin membantah, tapi kenyataannya saya memang punya (terlalu) banyak mimpi. Saya ingin membenarkan, akan tetapi ucapan seperti itu yang diselingi dengan kata "hobi" terkesan meremehkan hakikat mimpi itu sendiri. Terkesan agak meremehkan orang-orang yang selalu menggantungkan mimpi di depan keningnya (5 cm). Sejujurnya, saya benci hal itu...

Orang-orang yang diperkaya dengan mimpi memang akan menemui aral seperti itu. Apa yang diimpikannya dianggap remeh oleh orang lain. Bahkan ditertawakan banyak orang. Tak jarang, mungkin, salah satu diantara kita juga sering menertawakan teman-teman kita yang penuh pengharapan atas mimpi-mimpinya.

Saya sadar, memang terlalu banyak menggantungkan mimpi. Tapi, tahukah kalian, karena mimpi-mimpi itu maka saya lebih banyak membangun keberanian untuk mencoba. Apakah hal seperti itu dianggap tidak serius? Rasanya hakikat sebuah mimpi benar-benar diremehkan banyak orang.

Akh, apapun itu bentuk penghargaan orang lain pada mimpi-mimpi itu, kita cukup Percaya dengan mimpi itu.  Percayakan saja bahwa kelak kita benar-benar mampu mewujudkannya. Tuhan melihat kita, dan tahu apa yang kita lakukan. Just believe it!


--Imam Rahmanto--

Rabu, 16 Januari 2013

Saya Puas Ketika (Selesai) Menulis

Januari 16, 2013
Puas itu…

Ada banyak hal yang membuat seseorang merasa puas. Apakah itu ketika ia mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Apakah itu ketika ia memperoleh nilai “A” di mata kuliahnya. Apakah itu ketika ia berhasil mengerjai teman-temannya. Atau malah ketika ia berhasil menyatakan perasaannya kepada seseorang, entah diterima atau ditolak.

Saya sendiri, pagi ini baru menyelesaikan beberapa tulisan (berita). Bukan tulisan panjang sih, tapi cukuplah untuk menimbulkan semangat saya untuk melayangkan tulisan di pagi yang agak mendung ini. Langit mendung, apa pikiran juga mesti mendung? Classic problem…

Bagi saya, menyelesaikan satu halaman (saja) tulisan sudah bisa merangsang semacam stimulus untuk merasa “puas”. Saya tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Tapi saya selalu percaya, selalu saja kepuasan itu muncul ketika saya usai menuangkan segala ide saya sendiri ke dalam sebuah tulisan. Tak peduli tulisan itu atas dasar tuntutan pekerjaan ataupun ke-sukarela-an sebagai suatu hobi.

Coba ditengok, menyelesaikan suatu tulisan yang bukan atas dasar inisiatif sendiri akan menghasilkan taste yang berbeda. Menyelesaikan beberapa halaman paper kuliah yang dihasilkan dari copy sana-copy sini (sekadar menyelesaikan tugas tepat waktu) tentunya tidak begitu banyak menghadiahkan kita kepuasan batin yang berarti. Sangat berbeda halnya ketika kita menyelesaikannya dengan gagasan sendiri yang dirangkum dari beberapa referensi. Yah, itu perihal tugas kuliah dan semacamnya, de-es-be.

Apatah lagi ketika kita menulis berdasar kesenangan kita. Ketertarikan kita terhadap sesuatu, tanpa ada tuntutan atau paksaan dari siapa saja. It’s really happy time. Saya menikmatinya. Saat-saat dimana saya bisa meluapkan segala pikiran. Tak peduli saya menghasilkan tulisan yang buruk atau baik. Saya bisa berbagi dengan orang lain. Mungkin saja, dari sana mereka bisa terpengaruh secara batin ketika membacanya. Bersemangat. Marah. Sedih. Senang. Jengkel. Atau paling tidak sekadar melontarkan senyum usai membacanya. Bukankah itu menyenangkan?

Seburuk-buruknya tulisan, alangkah lebih buruk lagi tulisan yang tidak pernah dibaca orang lain. Bukan masalah apa yang dituliskannya, atau jenis tulisan yang ditelurkannya. Akan tetapi, penilaian baik dan buruk selalu jatuh pada para pembaca, kan? Lantas, bagaimana kita bisa menilai tulisan kita baik atau buruk jika sama sekali tak ada “tim penilai”nya? Saya menulis, maka saya belajar. Darinya saya banyak belajar cara membaca. Tidak sekadar membaca buku, melainkan membaca segala hal yang terjadi di sekitar saya. Darinya, saya kemudian belajar untuk menjadi diri saya. ;)

Puas itu…

Ketika saya menyelesaikan satu tulisan dan dapat dibaca oleh orang lain. Karenanya, saya kemudian terdorong (stimulus semangat) untuk bisa menulis satu, dua, tiga, atau bahkan puluhan tulisan lagi. Sungguh menyenangkan ketika bisa menyaksikan orang lain serius membaca tulisan itu. Yaa, apapun model senyumannya.

Meskipun pada dasarnya, yang membuat bahagia itu bukan karena menyelesaikan tulisan itu. Melainkan kepuasan itu didapatkan ketika kita menyelesaikan satu atau dua pekerjaan. Apalagi pekerjaan yang membuat kepala mumet. Pekerjaan yang paling sulit itu sebenarnya adalah memulai. Akan tetapi, ketika mampu mengakhirinya, kesulitan itu akan segera musnah plong! berganti dengan kepuasan dan semangat. Just believe it!

Dan kepuasan itu mampu mengembalikan setiap inci semangat yang pernah dibenamkan ke dalam setumpuk pekerjaan. Ganbatte!


--Imam Rahmanto--

Selasa, 15 Januari 2013

Tuhan, Apa Betul Saya Sedang Sibuk?

Januari 15, 2013
(www.profesi--unm.com)

Saya menyelesaikannya beberapa hari yang lalu (belum genap seminggu). Kesibukan (baca: rutinitas, saya tidak suka menyebutkan "sibuk") saya beberapa minggu belakangan sedikit membuat saya agak jenuh. Saya rindu dengan masa-masa saya bisa membaca satu-dua buku seminggu. Masa-masa ketika saya menyisihkan sebagian uang saku (atau penghasilan sampingan) tiap bulannya untuk membeli sebuah buku bacaan, saya juga merindukannya. Kini, saya hanya bisa meminjam buku dari perpustakaan, baik perpusda maupun perpus-redaksi.

Judulnya Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk, sebenarnya telah lama melekat dalam ingatan saya. Pernah suatu ketika saya membaca sebuah ulasan buku dan menemukannya sebagai salah satu buku yang rekomendasi wajib dibaca. Menurut informasi yang saya dapatkan, buku ini termasuk Best Seller. Dan taraa.....akhirnya saya menemukannya tersimpan rapi (dan masih wewangian khas "baru") di lemari perpustakaan redaksi saya. "Mungkin masih belum ada yang membacanya," pikir saya.

Saya agak tergelitik membaca buku ini. Buku yang ditulis oleh Ahmad Rifai Rifan ini sedikit merefleksikan keseharian saya. Rutinitas yang sedikit mengganggu kehidupan saya. Rutinitas yang kenyataannya semakin menjauhkan saya dari Sang Pencipta. Tak bisa dipungkiri, semakin berjalannya waktu, saya semakin jauh dari-Nya. Rutinitas yang sedikit banyak selalu minta dikambinghitamkan. Agak pelik.

Penulis yang hanya terpaut usia sekitar 3 tahun lebih dari saya benar-benar menghadirkan buku yang cukup menarik untuk menjadi bahan bacaan. Jujur, saya senang membacanya. Bahasa-bahasa dan cara bertutur penulis tidak menggurui saya sebagai seorang mahasiswa. Ia pandai menempatkan bahasa-bahasa "tak resmi" untuk menarik perhatian pembacanya, yang mungkin lebih banyak dikhususkan kepada "kaum berdasi". Akan tetapi, saya pun tetap suka menikmatinya, apalagi jika sudah berkorelasi dengan motivasi-motivasi untuk keseharian saya.

Dikarenakan saya juga tidak begitu suka membaca buku-buku Islami yang agak kolot menempatkan ayat suci Alquran ke dalam bahan bacaan, maka untuk buku yang satu ini benar-benar menjadi rekomendasi saya. Di dalamnya memang banyak berisi tuntunan berupa hadits ayat Alquran yang mendukung tulisan-tulisan berkaitan, akan tetapi penulis tidak lantas "menempelkan" beragam ayat-ayat tersebut dalam model bahasa Arab (seperti yang sering kita jumpai dalam buku-buku bergenre Islami). Interest! Oleh karena itu, saya lantas tertarik membaca isi keseluruhan buku ini. :)

Selain itu, buku ini menyelipkan banyak kisah-kisah unik yang bisa membuat kita tidak merasa jenuh membacanya. Kisah yang unik namun sarat makna. Terkadang untuk belajar, kita butuh pengalaman untuk merefleksikannya.


Tanpa endorsement yang mendukung kelengkapan buku best seller pun buku ini patut untuk dibaca. Yakin deh, isinya akan menggugah siapa saja. Teringat ketika saya sempat meletakkannya di sembarang tempat, belum usai saya baca; seorang teman berkomentar keesokan harinya;

"Buku itu benar-benar mengubah pikiran kita ketika membacanya. Saya saja yang belum seperempat halaman membacanya sudah merasa terketuk untuk mengikuti buku itu. Tiba-tiba saja saya rasanya ingin shalat," tuturnya benar-benar sumringah. "Entahlah bagaimana jadinya jika saya membaca buku itu sampai habis," lanjutnya lagi.


Meskipun butuh empat-lima hari untuk menyelesaikan bacaan ini (karena rutinitas), namun akhirnya buku ini memberikan gambaran yang benar-benar realistis mengenai kesibukan itu sendiri. Saya kemudian tergelitik, apakah selama ini saya benar-benar sibuk (atau hanya merasa sibuk) hanya untuk sekadar menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim? Who knows..

*****
...Benar memang nurani senantiasa membisikkan kebenaran. Tetapi mengapa ada orang yang begitu tenang setelah melakukan perbuatan dosa? Mengapa ada orang yang tidak dirundung rasa bersalah setelah melakukan kemaksiatan? Apakah nuraninya sudah tidak lagi membisikkan kebenaran? Apakah nurani sudah tak lagi berontak saat raga yang dipimpinnya melakukan perbuatan buruk?

Bukan! Nurani akan selalu menyuarakan kebenaran. Tetapi ketika noktah dosa telah menebal, ia akan menutup rapat dinding nurani, sehingga suara kebenaran yang dikeluarkan oleh nurani tak lagi jelas terdengar. Akibatnya, si pelaku dosa dengan santainya menikmati perbuatan buruknya, tak lagi memiliki rasa berdosa.

..."Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Jika kedurhakaan berulang kali dikerjakan, jiwa menjadi akrab dengannya hingga ia tak lagi peka, mati rasa," 

*****

Percaya atau tidak, buku ini benar-benar menggugah hati nurani kita. It's recommended for you.


--Imam Rahmanto--

Senin, 14 Januari 2013

Terbangun...

Januari 14, 2013

Saya terbangun dini hari. Lebih pagi dari biasanya. Tepat ketika jarum jam nyaris saja menunjuk pada angka enam. Jarum yang lebih pendek menunjuk pada pertengahan angka satu dan dua. Mungkin pukul 01.24. Ingatan saya agak samar, sesamar mata saya yang hanya melihatnya sekilas.

Dalam ingatan saya, terekam beberapa pekerjaan kepanitiaan yang baru saja usai dijalankan oleh saya beserta teman-teman. Lelah, tentu saja. Tak heran jika saya kemudian melewatkan shalat Maghrib hanya gara-gara tertidur pulas di atas kursi.

Bagi saya, baru kali ini waktu tidur saya bisa mencapai waktu tidur yang ideal, 5-8 jam. Saya benar-benar menghabiskan delapan jam waktu tidur saya tanpa disela apapun. Yaah, jika disela pun, saya sangsi bisa terbangun.

Saya tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang sulit bangun tidur, apalagi bangun pagi. Tujuh susun jam weker yang saya setel di hape saya tidak mampu menyaingi alam pikiran mimpi saya. Sangat berbeda tentunya dengan beberapa orang yang sangat fleksibel bisa menentukan "jam bangun"nya. Saya malah iri dengan mereka. Jam berapapun, mereka bisa mengatur perasaan di bawah gelombang mimpi itu untuk terjaga di waktu tertentu.

Jika sudah seperti ini, saya biasanya lebih memilih untuk terjaga sampai pagi. Saya orang yang sangat sulit bangun, namun saya adalah orang yang sangat mengagumi pagi. Terkadang, saya senang menghabiskan waktu beberapa jam di pagi hari sembari duduk-duduk di depan kamar memegangi secangkir cappuccino. Jika saya butuh udara segar, saya bakal berjalan-jalan ke luar rumah menyusuri jalan raya.

Back to the topic. Sulit bangun pagi, bukan berarti tidak bisa bangun pagi. Buat saya, telat dalam menentukan jam tidur bakal berimbas pada jam bangun saya. Biasanya, saya tidur dan akan bangun di lima jam berikutnya. Jadi, untuk bisa bangun pagi, saya mesti tidur lebih awal. Huh, padahal sebagai mahasiswa yang punya seabrek tugas (luar dan dalam), saya selalu dituntut untuk menyalahi kondisi itu.

"Bukan zamannya mahasiswa tidur di bawah jam 12," sebuah idiom klasik yang selalu menjadi pegangan saya. Alhasil, saya juga tidak terbiasa untuk tidur sebelum tengah malam.

Google Search
Disamping saya orang yang cukup sulit bangun tidur, saya juga tergolong orang yang mudah menentukan waktu tidurnya. Istilah-istilah insomnia tidak pernah berlaku bagi saya. Kapanpun saya mau, saya bisa mengatur perasaan untuk tidur melepas lelah. Perihal obat tidur dan sejenisnya, tidak pernah menjadi konsumsi saya demi mendapatkan tidur yang pulas. Tapi, ada saja obat tidur yang lebih sederhana untuk memaksa saya mengantuk tidak pada waktunya (di malam hari), yakni minuman dingin apapun. Apa pengaruhnya. Entahlah, saya juga tidak pernah tahu efek yang ditimbulkan minuman itu pada kondisi tubuh saya.

Bangun pagi, selalu menjadi keinginan (tak sampai) saya yang hanya menjadi sesuatu yang kadang-kadang terjadi dalam keseharian saya. Mungkin saya terbiasa dibangunkan ibu ketika dulu masih di rumah...

Beranjak dari melaksanakan salah satu kewajiban saya sebagai umat Muslim, meskipun munfarid, saya kemudian melanjutkan beberapa pekerjaan saya yang sempat tertunda. Ada banyak tunggakan minggu ini. Saya menatap komputer sambil terus memegangi mouse, klik sana, klik sini, ini dan itu...



--Imam Rahmanto--

Rabu, 09 Januari 2013

Membangun dan Menghancurkan

Januari 09, 2013
Benar kata pepatah, “Memperbaiki itu jauh lebih sulit daripada merusak atau menghancurkan,” Dan, saya tahu bagaimana persisnya...

Nyaris lebih setahun kemarin, saya benar-benar merusak kesempatan yang saya miliki. Saya menyia-nyiakannya untuk sesuatu yang (mungkin) bagi sebagian orang tak berarti apa-apa. Tapi bagi saya sangatlah berarti. Hampir setahun lamanya saya berkubang dalam sedikit kealpaan menjalani kuliah.

Prosesnya sekarang adalah saya nampak harus kembali menyesuaikan diri dari awal. Sesuatu yang telah lama saya abaikan. Ketika saya mulai serius ingin mempertahankannya kembali, sangat sulit untuk membangun nuansanya. Mulai dari membangun mood, mengusir rasa malas, atau memaksakan diri untuk berdiri. Ada-ada saja yang bisa membuat saya menyerah. Semua itu berlangsung sangat lama, lama sekali. Bahkan saya tak bisa langsung merekonstruksi ulangnya sekaligus dalam waktu yang singkat.

Ibarat televisi (atau alat-alat lainnya), waktu yang dibutuhkan untuk memerbaikinya tidak bisa sedrastis ketika membongkar atau merusaknya. Nah, hal yang sama berlaku pula pada kehidupan kampus saya. Saya yang dulu mulai terbiasa dengan kealpaan saya, kini agak sulit kembali menyesuaikan diri dengan semangat layaknya ketika saya mahasiswa baru dulu.

Saya ingat, masa-masa awal kuliah, masa-masa semangat saya masih menggebu-gebu. Tak ada alasan lain selain menginjakkan kaki di kampus setiap hari. Apapun yang terjadi, bagaimanapun juga, saya harus berangkat kuliah. "Saya harus ke kampus," seru saya selalu. Tak jarang, masa akrab-akrabnya dengan teman kuliah juga berlangsung di masa itu.

Dan kini...
Lagi-lagi saya harus merangkak dulu sebelum bisa kembali normal. Setidaknya saya sudah mencoba dan terus menjalaninya. Sediit paksaan. Layaknya orang yang baru saja dari sakit keras, membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa menkmati kembali masa-masa "berjayanya".


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 05 Januari 2013

Teru-teru Bozu dan Cappuccino

Januari 05, 2013
Dimana dirimu sekarang? Apa kau tak merindukanku? Aku merindukanmu. Seperti kotaku yang sekarang merindukan hangatnya mentari. Aku menunggumu, seperti lamanya hujan yang tak henti mengguyur kotaku. Aku ingin melihatmu, seperti rintik-rintik hujan yang selalu hadir di pelupuk mataku. Hujan di luar selalu mengingatkanku akan kenangan bersamamu dahulu. Kenangan itu membanjiri setiap memori otakku di kala berjalan di tengah-tengah hujan. Aku merindukanmu.

(ini di depan redaksi, :)
Aku memejamkan mataku. Mencoba merasakan percikan-percikan hujan yang mengenai wajahku. Aku membiarkannya. Pias. Hanya inilah satu-satunya caraku mengingat dirimu. Sebuah boneka putih tanpa lengan dan kaki dengan wajah tersenyum menggantung di bingkai jendela. Teru-teru bozu.

"Apa kau menyukainya?" katamu sambil memamerkan gigi-gigi putihmu. Sebuah boneka mungil sedang bergerak-gerak menggantung di atas tanganmu.

"Ini boneka hujan. Namanya Teru-teru bozu. Boneka tradisional dari Jepang yang bisa menangkal hujan," ujarmu sambil tetap memainkannya.

Aku masih menatapmu tak percaya. Tak habis pikir, boneka sekecil itu bisa menangkal hujan dari langit. Apakah langit terlalu takut dengan boneka yang tersenyum riang di bawah guyurannya?

"Trus, kamu percaya?" tanyaku berusaha meyakinkanmu.

Kau mengerutkan keningmu. Berpikir sejenak sambil memandangi lekat-lekat boneka dari kertas tisu itu. Aku ingin menertawai tingkah lucumu itu. Tapi aku suka melihatmu begitu. Berpikir sambil mengerutkan dahi. Kau nampak lebih dewasa dan mempesona. Satu dari sejuta hal yang bisa membuatku jatuh hati padamu. Mataku tak lepas memandangimu.

"Mm...aku sebenarnya tak percaya...."

"Tuh, kan! Lalu, buat apa juga kamu buat mainan anak kecil seperti itu? Ah, Tora, kalau teman-teman yang lain sampai tahu kamu suka main boneka begitu, mereka bisa menertawaimu," ujarku.

"Tapi, karena namanya mirip dengan namaku, Tora, Tere bozu, aku maksa percaya saja deh," lanjutmu lagi.

Kau tak mempedulikan ucapanku. Sifat keras kepalamu memang satu hal lagi yang membuatku terkesan padamu.

"Maaf, bukan aku ingin mempercayainya... Ini bukan tentang hujan, atau boneka ini sebagai penangkalnya," Kau melepaskan pandanganmu keluar jendela. Menggenggam erat-erat tali yang mengekang leher boneka itu. Boneka itu tetap tersenyum begitu polosnya.

Aku membiarkanmu untuk bercerita. Tanpa bertanya pun aku tahu kau akan mencurahkan semuanya.

"Jika hujan turun, sejak kecil, ibu selalu membuatkan boneka seperti ini untukku. Katanya, penangkal hujan. Biar besok hujan tak mengganggu waktu bermainku.

Semasa kecil, ibuku membuat bermacam-macam boneka mungilnya sendiri. Jikalau hujan tiba, di kampung halamannya dulu, orang-orang senang menggantung boneka-boneka teru-teru bozu di jendela maupun di cabang-cabang pohon. Anak-anak kecil senang sekali membuatnya. Mereka percaya bahwa boneka putih itu bisa menangkal datangnya hujan. Atau bahkan menghentikan hujan,"

Itulah pertama kalinya aku tahu siapa ibumu. Pantas saja, nama dan parasmu agak condong ke bangsa Jepang. Bangsa yang dulu pernah menyengsarakan bangsaku.

"Keluargaku adalah keluarga yang, mungkin bisa dikatakan keluarga harmonis... Tapi...entahlah, apakah itu hanya dalam mata polosku semasa kecil. Kebahagiaan itu kan relatif," Kau tertawa. Tawa yang penuh pesakitan.

"Kebahagiaan itu sirna. Ibu pergi, entah kemana dan entah karena apa. Ayah sendiri tak pernah mau menceritakannya padaku. Entah kenapa.

Hidup kami kemudian berubah semenjak kepergian ibu. Ayah tak lagi senang minum Cappuccino. Apa kau tahu Cappuccino?"

Aku mengangguk. Minuman itu juga kan yang suka kau minum?

"Ayah hanya ingin minum Cappuccino olahan ibu. Ayah merindukan ibu. Sangat merindukannya. Aku bisa tahu dari Cappuccino yang selalu kubuatkan untuk ayah. Meminumnya pun ayah tak pernah. Ia nyaris saja menangis jika melihatku menghidangkan minuman itu untuknya,"

Kau menghentikan ceritamu. Kau memutar-mutar teru-teru bozu di tanganmu. Tatapanmu pada boneka itu begitu kosong. Aku menggenggam erat tanganmu. Berusaha menguatkan.

"Kau tahu kenapa aku suka membuat boneka ini jika hujan deras tiba? Darinya, aku menunggu ibuku kembali. Sesimbol harapan yang selalu menggantung senyuman di batas hujan, meski diguyur hujan. Aku tak menginginkan boneka ini menghentikan hujan. Aku hanya ingin ibu tahu dimana anaknya sekarang, dengan menyaksikan teru-teru bozunya,"

Aku terhenyak. Kau ternyata memendam kerinduan yang mendalam. Dan aku tahu, cappuccino di depan kita ini ternyata caramu untuk selalu mengingatkan ibumu akan keluarganya. Keluarga yang dulu sering ia buatkan minuman hangat di tengah-tengah hujan. Aku pun bisa membayangkan kehangatan di tengah-tengah keluargamu. Namun sayangnya, kau tak seberuntung diriku.

Di tengah hujan ini, aku ingin meneriakkan namamu. Satu nama yang selalu kurindukan. Lihatlah, ada banyak teru-teru bozu yang menemani boneka hujan pemberianmu. Hanya ini sisa-sisa jejakmu yang masih kusimpan hingga kini.

"Apa? Kenapa begitu tiba-tiba?" Mataku terasa panas. Sedikit lagi air mata menetes membanjiri wajahku.

"Maafkan aku, Rani. Ayah memutuskan untuk mencari ibu ke Jepang. Ia benar-benar tak kuat lagi harus berpisah dengan ibu. Dan...aku juga ingin mencari ibu..."

"Tapi....tapi....bagaimana dengan kuliahmu?" Hanya satu dari sejuta alasa yang ingin kubuat-buat untuk tetap menahanmu disini. Bersamaku.

"Bagaimana dengan teman-temanmu?" Alasan kedua dari sejuta alasan.

"Bagaimana juga dengan....," Sambil menahannya dan lirih berujar, "Aku,"

Mataku terasa panas. Tak mampu lagi menahan sejuta tekanan air mata yang akan mengalir deras bersama hujan. Terisak di tengah-tengah pelukanmu. Hangat. Tapi, aku benci karena kau akan pergi setelah menenangkanku. Tanpa berkata apa-apa lagi, kau mengusap pipiku. Mengecup keningkuku. Dan pergi tanpa mengucapkan "Selamat tinggal." Namamu ingin kuteriakkan, namun hatiku terlalu sakit untuk bisa sekadar mengucapkan "Hati-hati" untukmu.

Kini, aku disini menantimu. Menanti berhentinya hujan, dan berharap kau datang menemuiku. Seperti ketika kau juga dulu mengharapkan ibumu datang padamu. Aku ingin kau melihat ada banyak boneka lainnya yang kubuatkan untukmu. Lihatlah, bergantung bebas di jendela kamarku. Tersenyum satu persatu kepadaku. Sedikit mengingatkanku pada senyummu. Oh ya, aku juga mulai menyukai minuman yang sering kau minum bersamaku...

Teru-teru bozu, di bawah rintikan hujan, kau bisa kan mendatangkan Tora untukku?

****

Ia menyeruput habis Cappuccinonya. Di tengah-tengah salju lebat, ibunya tahu betul cara menghangatkan keluarganya. Pantas saja ayah tak pernah mau meninggalkan ibu. Pikirnya. Ia termenung sebentar. Kembali berkutat pada secarik kertas di tangannya. Tulisan yang baru dibacanya benar-benar ingin menariknya kembali ke negeri khatulistiwa itu. Ia juga merindukannya.

Kertas di tangannya lalu dilipatnya. Disimpannya rapat-rapat. Baru saja, kemarin ia menemukan secarik kertas dari kumpulan barang-barang yang dikirimkan keluarganya dari Indonesia. Ia menemukannya tersemat di balik buku-bukunya yang telah ia tinggalkan setahun lalu...

"Teru-teru bozu, jaga dia dari hujan dan sampaikan padanya aku masih ada untuknya..."



Makassar, 5 Januari 2013


--Imam Rahmanto--

DC_03

Januari 05, 2013

Akh, bukannya aku ingin melupakannya. Karena toh pada kenyataannya, setelah nyaris setahun ini aku bergelut di dunia "itu", aku tidak mungkin bisa melupakan hari yang selalu dianggap penting oleh anggota-anggotanya.

"Ingat, hari Sabtu adalah hari untuk kita," selalu terngiang-ngiang dalam benakku untuk "menghormati" hari itu.

Praktisnya, aku harus berbagi waktu akhir pekanku dengan seabrek aktivitas yang menantiku disana. Terlebih dengan jabatan baru, usai melepas masa pelatihanku nyaris delapan bulan. Katanya, jabatan itu bakal menjadi pengganggu hari-hariku. "Huh, dengan menjalani keseharian sebagai pewarta kampus saja sudah nyaris membuatku sibuk," ujarku selalu dalam hati kala menanggapi imbauan senior-senior disana.

Setelah menjalaninya, ternyata benar-benar telah mengubah pola hidupku. Makan, kuliah, mencuci pakaian, mencuci sepeda motor (memang permah ya??), nongkrong dengan teman-teman kuliah atau teman-teman SMA, bahkan hubungan dengan keluarga pun harus sedikit dikompromikan. Jika orang bertanya sperti apa? Sigh, banyak hal yang harus diceritakan... Maka biarkan aku berkisah.

"Oh ya, hari ini tidak rapat seperti biasanya ya?" tanya Salam seketika. Ia meletakkan gelasnya yang tersisa setengahnya.

"Menurutmu?" Aku balik bertanya memandanginya seraya memperlihatkan handphone yang baru saja menyela acara pagiku.

"Setidaknya aku mau menyempatkan waktu untuk bersantai dulu disini, sebelum kepala dijejali dengan yang berat-berat," usulku yang kemudian melepas pandangan ke depan. Seorang anak kecil berlari keluar rumah dikejar ibunya. Sang ibu hendak memakaikan celana buatnya. Kami berdua hanya tertawa kecil menyaksikannya.

"Ah, dari dulu kamu memang suka dijejali dengan pikiran yang berat-berat. Aku cuma heran, bagaimana bisa kepalamu ndak botak-botak sampai sekarang?" timpalnya lagi sambil tertawa.

Aku hanya nyengir. Tidak dipungkiri, ia telah lama mengenalku. Sejak kami belum menginjakkan kaki di kota Makassar ini.

Jika aku mengingat-ingat masa SMA-ku dulu, ada sesuatu yang selalu ingin menarikku kembali kesana. Berharap pada mesin waktu yang tak kunjung diciptakan oleh profesor-profesor tingkat tinggi. Mungkin, profesor ahli mesin waktu memang benar-benar hanya ada di film-film. Saran: film hanya untuk hiburan. Waktu yang diputar bakal menjadi kesempatanku untuk berputar menjadi orang yang berbeda. Setidaknya, bisa sekadar berucap hal-hal "tabu" itu...

Aku hanya berharap, di kesempatan yang satu ini aku bisa melukis sesuatu yang berbeda. Entah itu baik atau buruk.

Pagi masih enggan menjauh dari kami. Matahari sendiri nampaknya malu-malu ingin menganggu kami. Sesekali, semilir angin lembut semakin mutlak menghembuskan hawa pagi. Dingin. Cukup dingin. Bekas-bekas hujan kemarin masih menyisakannya. Hanya saja takkan mampu menandingi dinginnya udara pagi di kampung kediaman kedua orang tuaku sekarang. Tapi cukup dingin untuk memaksa kami enggan beranjak menikmati sisa-sisa kehangatannya.

"Trus, berapa lama kamu akan menyimpannya rapat-rapat?"

***

bersambung...


--Imam Rahmanto--


Rabu, 02 Januari 2013

Hujan Awal Tahun (2013)

Januari 02, 2013

Saya berjalan sendirian pagi ini. Di bawah sisa-sisa hujan yang mungkin sedang mengumpulkan energi barunya untuk turun lagi. Saya baru saja pulang dari kampus menunaikan tugas sebagai mahasiswa. Ujian Final. Yah, meskipun tak satu dari nomor soal ujian yang berhasil saya jawab. Hanya 3 nomor, dan kesemuanya resmi tak terisi di lembar jawaban saya. Malang.

Cukup menyenangkan membiarkan kepala disirami oleh bulir-bulir halus air hujan itu. Merenung dan berpikir di tengah rinai-rinai hujan nampaknya memberi kedamaian tersendiri bagi perasaan saya. Mumpung belum hujan deras lagi.

Saya memandangi lalu lalang kendaraan yang melaju di atas jalan raya. Mereka beradu dengan arah hujan yang tempias di wajah pengendara motor. Sesekali laju kendaraan itu menciptakan cipratan-cipratan air yang lepas kendali ke pinggir jalan raya. Saya pun mesti berhati-hati jika tak ingin terkena piasnya.

Hujan. Sudah dua hari ini di awal Januari, awal tahun 2013, mengguyur seisi kota Makassar. Hujan tak henti-hentinya menjadi pokok pembicaraan orang-orang di sepanjang jalan. Di depan warung, di depan rumah, atau orang-orang yang sedang berpayung di bawah jujan. Ya, tentunya sebagian besar mengeluh perkara hujan. Hujan yang menggenangi nyaris separuh kota Makassar. Bahkan, mungkin menggenangi pekarangan-pekarangan rumah mereka.

Sebenarnya, tidak berbeda dengan kondisi pondokan saya. Air membanjiri lorong-lorong kompleks sampai setinggi betis kaki orang dewasa. Pagi tadi, ketika saya mengecek kesana, kamar saya telah terendam air. Malang. Beruntung barang-barang saya masih selamat, khususnya buku-buku saya. Jauh hari saya sudah selalu mepersiapkan diri.

Dua hari ini, saya nyaris tak bisa kemana-mana. Hujan dimana-mana. Di tivi-tivi diberitakan banjir juga melanda jalan-jalan protokol. Kendaraan-kendaraan yang tidak "kuat mental" berguguran mogok satu persatu. Headline koran pagi ini pun membahas tentang "banjir". Baru berselang satu hari orang-orang ramai merayakan tahun baru di luar rumah, berganti dengan hujan yang mengguyur menghalang-halangi orang dari beraktivitas di luar rumah.

Saya sendiri heran, bagaimana hujan mengguyur tak henti-hentinya. Berhenti pun, masih tetap mencurahkan hujan-hujan halusnya. Sama sekali tak memberi kesempatan untuk matahari bersinar terik. Entah persediaan air dari mana yang dicurahkan Tuhan dalam dua hari ini.

Saya tak mungkin mengeluh, apalagi menyalahkan hujan. Bukan salahnya ketika banjir ada dimana-mana. Bukan salahnya pula jika penjaja minuman dingin mengalami kerugian. Malah, saya suka ketika hujan turun. Ada kehangatan ketika ia tercurah. Kesempatan untuk lebih meresapi kehangatan alam lebih terbuka. Coba duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati minuman panas memandangi hujan. Lagipula, dengan hujan, sedikit menghilangkan kegerahan juga dari suhu mencak-mencak kota Makassar.

Hanya hujan. Saya kali ini hanya berbicara tentangnya. Berjalan di tengah-tengahnya membuat saya banyak memikirkan tentang hujan. Hujan. Hujan. Dan hujan. Orang-orang yang saya temui pun lebih banyak menyapa dalam bahasa "hujan". "Kenapa ya hujan tak berhenti?" ucap mereka membuka setiap sapa. Saya hanya ikut berbicara tentang hujan.

Sambil melindungi diri dari percikan-percikan kendaraan yang melintas, saya memasukkan tangan ke dalam saku jaket (pinjaman) saya. Sedikit agak hangat dibanding membiarkannya di luar.

Setengah perjalanan saya sepulang kampus, seorang teman yang mengendarai motor menghampiri sembari menawari saya tumpangan. Akh, saya harus mengakhiri perjalanan "kaki" saya pagi ini. "Saya sebenarnya masih mau menikmatimu, hujan. Tapi untuk kali ini biarlah sampai disini dulu..." gumam saya dalam hati.



--Imam Rahmanto--