Senin, 03 Desember 2012

Arah

(int)
Malam ini, ditemani secangkir cappuccino, aku terpaku di depan laptop kesayanganku. Tak ada binar-binar bintang di langit. Tak ada suara-suara binatang malam yang memecah kesunyian. Musik instrumental dari perangkat kesayanganku mengalun dengan begitu lembutnya. Seharusnya musik itu membawaku ke alam mimpi. Tapi nyatanya aku masih saja betah memandangi langit dari luar kamarku. Berharap setitik bintang saja muncul di ujung sana. Atau kalau tidak, jatuhkan saja bintang itu. Pikirku.

Aku menyudahi acara duduk-duduk di depan kamarku. Tulisan yang sedari siang tadi kutuliskan kini telah menjelma menjadi ribuan kata. Nyaris sudah sepuluh tahun lamanya aku menggeluti pekerjaan ini, namun masih saja terasa sulit bagiku membangun sebuah jalan cerita.

“Apanya yang sulit?”

“Entahlah. Saya, hm, hanya saja mungkin agak kesulitan menemukan sebuah persoalan yang menarik untuk dituliskan,”  ujarku pada editor yang selalu menerima langsung tulisanku.

“Aku kira itu hanya perasaanmu saja. Selama ini aku membaca karya-karyamu, semua hasilnya bagus kok. Tulisan-tulisan yang kau katakan jelek malah diacungi jempol oleh pimpinanku,”

Aku ingin saja seketika itu mendengarnya lantas terkejut dan berujar, “Benarkah?”. Akan tetapi, ada sesuatu yang selalu saja membuatku minder, seakan-akan bagian tulisanku masih ada yang kurang.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Keadaannya sekarang telah jauh berbeda. Sama sekali berbeda ketika pertama kali tulisanku dimuat di sebuah surat kabar. Tulisan sepanjang dua kolom yang membuatku melonjak kegirangan. Tulisan yang terpaut namaku dan membuatku dikenal oleh seluruh teman-teman seprofesiku. Tulisan pertama yang akhirnya membuatku berani untuk meninggalkan pekerjaan yang selama ini kugeluti bersama teman-temanku.

“Apa? Bodoh! Apa kau bodoh? Masa gara-gara tulisanmu itu kau mau berhenti ngamen?” ujar Codet tak percaya. Kawanku yang satu ini, yang selalu baik denganku, mencoba beradu argumen denganku. Ia menganggapku telah “murtad” dari ajarannya.
Iyo. Memangnya tahu ko menulis? Membaca saja na kau masih patah-patah. Lebih pintar ka saya,” Adi menimpali.  Aku hanya terdiam usai melontarkan keinginanku itu. Sambil menunduk, aku memegang erat-erat ukulele di tanganku.

“Kalau misalnya menulis ko, apa bisa kau dapat? Uang? Mana mungkin! Nanti malah putus sekolah ki  kalau tidak adami uang ta,” Codet masih saja berusaha meyakinkanku. Adi menambahinya dengan tertawa terbahak-bahak.

Padahal biaya sekolahnya selama ini ditanggung oleh orang tuanya sendiri. Pekerjaan yang digelutinya hanya untuk senang-senang dan sekadar menambah uang jajan. Orang tuanya masih cukup untuk membiayainya hingga tamat SMA. Penghasilan mereka sebagai penjaja makanan dan minuman di depan Benteng Rotterdam masih biasa membiayainya hingga tujuh tahun mendatang.

Tidak jauh berbeda denganku. Aku bekerja sebatas menikmati masa kecilku. Jika orang-orang kaya menikmati masa kecilnya dengan bermain Play Station 2, facebook, twitter, liburan, dan segala tetek-bengek menyenangkan lainnya, aku bersama kawan-kawanku berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain di seputaran Benteng Rotterdam menjelang tengah malam. Tengah malam, bukanlah waktu kami untuk tidur, melainkan waktu kami untuk bermain. Kami baru tidur ketika duduk di bangku paling belakang kelas.

Dari uang hasil ngamen itu, kami bisa gunakan untuk membeli minuman-minuman “menyesatkan” yang membuat kami serasa lebih gentle. Kalau tidak, kami menghabiskan waktu semalaman begadang di warung internet (Warnet) bermain facebook untuk bertaruh di meja poker virtual. Bosan pun, kami beralih ke permainan tembak-menembak di internet.

Oleh karena itu, meninggalkan pekerjaan ini pun tidak akan membuatku putus sekolah. Aku masih bisa sekolah, sambil terus belajar menulis. Kemarin, aku baru saja mendengar dari “mereka” bahwa menulis itu menyenangkan, menulis itu menghasilkan, menulis itu mudah, dan Tulis saja! Aku menyaksikannya langsung, penampilan para penulis-penulis yang urakan namun memancarkan wajah kebahagiaan di setiap kata-katanya. Aku merasakannya. Aku merasakan sebuah mimpi menyeruak dari batinku. Pertunjukan itu benar-benar mengubah arah hidupku.

“Menulis, katanya tidak butuh bakat. Yang penting mau ka belajar. Terus dan terus. Karena nabilang kemarin itu orang-orang, menulis itu adalah proses. Siapa saja bisa nulis, termasuk saya,” ujarku getir dalam hati. Aku tak berani menyampaikannya.

Air mataku menetes. Ada perasaan tak terbendung yang ingin kusampaikan pada mereka.

Aku menyorongkan bungkusan plastikku pada Codet. Menyerahkannya. Aku tak membutuhkannya lagi. Semenjak menyaksikan keramaian kemarin, aku sudah bertekad untuk menggantungkan mimpi-mimpiku lebih nyata. Tidak sekadar membayang-bayangkannya lewat menghisap-hisap bungkusan lem fox itu. Aku lantas pergi, meninggalkan mereka dalam keremangan cahaya lampu pinggir jalan. Aku diam, tak mempedulikan teriakan mereka yang memanggil-manggil namaku dan menyumpahiku.

Aku biarkan udara malam menembus celah-celah jendela kamarku. Aku tak peduli jika hujan kan turun malam ini. Atau nyamuk-nyamuk kecil akan menyapu bersih kamarku malam ini. Toh, aku sudah terbiasa bersahabat dengan udara malam ketika kecil dulu. Tidur pun tak tentu tempat. Ibu tak pernah menegurku ataupun mencariku. Ia membiarkanku. Mungkin seperti itulah kenyataan bagi anak-anak yang banyak menghabiskan hidupnya di jalanan. Ukuran kehidupannya menjadi lebih cepat dewasa. Pengaruh lingkungan.

Kenyataannya, aku kini benar-benar bisa merasakan perbedaannya. Kehidupanku sekarang jauh lebih baik dibandingkan dulu. Aku beruntung, menyaksikan orang-orang nyentrik itu di atas panggung.

***

Suara itu membahana. Apalagi dengan bantuan pengeras suara yang dipasang di sekeliling halaman Benteng Rotterdam ini. Sekilas, aku bisa mendengarkan suara beberapa orang silih berganti membacakan puisi.
Puisi? Ya, aku tahu itu adalah puisi, karena aku beberapa kali sempat membawakannya di depan kelasku. Hanya saja, bagiku, puisi-pusi itu berbeda. Sama sekali berbeda. Jika puisi-puisi di sekolahku selalu berakhiran dengan suku kata yang sama, maka puisi-puisi yang kudengarkan itu malah mirip sebentuk cerita. Sebuah kisah. Akhirannya pun bebas.

Rasa penasaran kemudian membawaku untuk melihat-lihat di sekumpulan orang di bawah tenda itu. Aku meninggalkan teman-temanku yang masih sibuk menghisap-hisap aroma aibon-nya. Salah satu bungkusannya juga aku bawa untuk berjaga-jaga.

Aku memilih duduk selonjoran di atas hamparan rumput hijau di luar naungan tenda. Sambil menghisap-hisap bungkusan aibon-ku, aku lamat-lamat menyaksikan pertunjukan para pengarang Indonesia itu. Jelas sekali nama pertunjukan itu terpampang di spanduk besar di atas panggung itu.

Aku ingat pernah menemukan acara serupa, di tempat ini pula. Namun, nampaknya nama yang mengusungnya sedikit berbeda. Aku tidak ingat betul nama acaranya. Yang masih jelas dalam ingatanku hanya label “Makassar”nya yang diikuti oleh tulisan-tulisan bahasa Inggris lainnya. Orang-orang juga bergantian naik ke atas panggung untuk membacakan puisi dan bernyanyi. Dan lagi, kata orang-orang yang menyaksikannya, banyak penulis-penulis terkenal tanah air maupun mancanegara yang hadir di acara itu. Sayangnya, tak satupun dari nama-nama penulis itu aku kenali. Di telingaku lebih akrab nama-nama para penyanyi dan aktris seperti Trio Macan, Julia Perez, Noah, ataupun Cowboy Junior.

Layaknya orang yang tersihir, tiba-tiba saja aku menghentikan aktivitas ngaibonku. Menyadari ada sesuatu yang baru dalam perasaanku. Aku mengagumi beberapa orang yang bergantian naik ke atas panggung itu. Pandanganku tak bisa lepas dari memperhatikan mereka. Aku, juga ingin seperti mereka. Karena sejak dulu aku sudah suka dengan menulis. Apapun itu.

Keadaan keluargakulah yang kemudian menguburkan impianku itu. Keluargaku yang hanya bisa hidup dari berjualan kaki lima tentunya tidak bisa membiayaiku untuk sekolah lebih tinggi. Kelak, lulus SMA saja aku sudah bersyukur. Jika aku harus mengisi hari-hariku dengan menulis, aku bakal tak punya kesempatan lagi sekadar menambah penghasilan orang tuaku. Terlalu sulit bagi anak-anak sepertiku bermimpi menjadi seorang penulis.

Nyatanya, aku menyaksikan masa depanku di atas panggung itu malam ini.

“Gara-gara menulis saya bisa ada disini setelah berkeliling kemana saja,” canda salah seorang yang naik ke atas panggung. Dari tawanya, aku bisa merasakan ucapannyaitu bukanlah sekadar bualan kosong. Wajah orang-orang di atas panggung itu sudah membahasakan banyak hal buatku. Kebahagiaan. Kedamaian. Seni.

“Mau ka juga seperti mereka,” pikirku. Tiba-tiba keinginan yang telah lama kupendam muncul begitu saja. Aku lantas membuang bungkusan di tanganku. Berharap tak ada lagi kecanduan-kecanduan yang akan menghampiriku.

***

“Bagaimana? Besok jadi kan balik ke Makassar?” Dina, editorku, berbasa-basi menanyakan kepulanganku ke Makassar esok hari. Ia baru saja menerima tulisanku yang akan jadi pekerjaannya lagi.

“Jadi lah, Mbak. Apalagi disana juga kan bakalan ada pertemuan dengan teman-teman penulis lainnya,” Aku tersenyum sumringah.

“Oh ya, Ar. Kalau bisa kamu disana tetap standby ya. Soalnya kami masih butuh beberapa tulisanmu,”

“Siip, Mbak!”

***

Namaku Arah. Hanya itu saja. Tidak ada embel-embel nama lain di belakangnya. Cukup singkat, bukan? Karena seperti itulah kehidupan seorang anak yang dilahirkan di keluarga kumuh. Keadaan yang memuakkan terkadang membuat sempit jalan pikiran para orang tua. Tidak jarang malah mereka melakukan jalan-jalan pintas.

Lalu, mengapa aku bisa seperti sekarang ini? Menjadi salah satu orang yang kalian kenal melalui buku-buku maupun tulisannya. Menjadi salah seorang yang duduk di depan kalian sekarang. Menjadi salah seorang yang bercerita pada kalian.

Hanya satu, hanya karena aku  berani mengubah arah hidupku. Dan nyatanya, aku bangga menyandang nama yang sangat singkat itu. Arah.

Serempak, ruangan ini kemudian diwarnai dengan koor tepukan tangan dari para pengunjung. Aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum ramah. Baru saja aku menyelesaikan kesempatanku untuk bercerita pada mereka.

Suara tepukan itu kemudian berganti dengan suara lantang dari pemandu acara. Ia masih harus mempersilahkan dua orang penulis lainnya untuk bercerita.

Aku memperhatikan para pengunjung yang memadati ruangan ini. Diantara mereka, mataku menangkap sesosok yang kukenal. Lama.Llama sekali. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuka ingatanku satu-persatu.

“Kau ternyata disini,” gumamku. Aku tersenyum ke arahnya dan dibalas Codet dengan sedikit anggukan kecil seraya tersenyum yang mengisyaratkan, “Sudah kau buktikan.”


Makassar, 1 Desember 2012
--Imam Rahmanto--

Ket:
*ngaibon = menghisap-hisap sejenis lem aibon atau lem fox yang memiliki aroma yang membuat seseorang bisa kecanduan. (inhalen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar