Rabu, 05 Desember 2012

Akrabkan Hati? Mari Bicara

Ada benarnya juga kampanye iklan yang sering digembar-gemborkan oleh salah satu produk minuman komersil di televisi. Saran mereka atas metode komunikasi "Mari Bicara" benar-benar sangat membantu dalam mengatasi komunikasi yang sedikit renggang.

Maksudnya??

Sumber: Google Search
Yah, tidak bisa dipungkiri, terkadang kita memiliki keinginan yang bertentangan dengan apa yang diharapkan orang tua. Orang tua mengiginkan anaknya menjadi A atau B, malah anaknya lebih memilih jadi C, yang menurut orang tuanya tidak lebih baik dari A atau B sendiri. Nah, tentu sebagian besar dari kita (terpaksa) - apalagi bagi yang tidak begitu akrab dengan orang tuanya - memilih memenuhi keinginan orang tua tersebut meskipun tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Aduhai, urusan suka atau tidak menjadi persoalan belakang. "Selama ayah atau ibu bahagia, saya juga bahagia," Ah, sungguh prinsip yang benar-benar menyiksa diri sendiri. Come on! Siti Nurbaya sudah tak ada lagi di dunia nyata!

Apa benar seorang anak harus selalu mengikuti kemauan orang tua? Patuh dan nurut? Padahal orang yang akan menjalani kehidupan kita itu adalah diri sendiri, bukan orang tua. Tidak selalu loh orang tua tahu segala hal tentang anaknya. Ada beberapa hal yang biasanya malah luput dari pengamatannya. Hm, saya kira masih ada banyak jalan lain untuk tetap memperjuangkan kemauan kita sebagai seorang anak. Salah satunya ya dengan "Mari Bicara".

Saya sementara menikmati pemandangan dari atas rumah saya dengan secangkir Cappuccino ketika ayah saya ikut duduk di samping saya. Sigh, keadaan seperti ini biasanya ingin membuat saya menjauh. Entah kenapa, saya selalu merasa "terhakimi" jika sudah berbincang dengan ayah saya. Segalanya berubah buruk tatkala saya sudah mulai diinterogasi. Akan tetapi, saya mencoba memaksakan diri untuk tidak beranjak kemana-mana. "Ayolah, sekali ini saja, cobalah berbicara lepas layaknya seorang teman," ujar saya dalam hati menegaskan diri.

"Bagaimana kondisi kuliahmu?" Sungguh pertanyaan yang sudah saya duga jauh hari sebelumnya.

Saya menjawab seadanya. Selang diantaranya ada hening yang melingkupi. Saya diam. Ayah saya diam. Saya sempat sedikit mengalihkan pembicaraan pada beberapa topik-topik tidak penting. Tentang pasar yang sudah banyak berubah. Tentang jualan ayah saya. Tentang anak si "A" yang nakal sekali. Tentang anak si "B" yang cantik sekali. Tentang air yang tidak mengalir sama sekali. Tentang hal-hal yang sepele layaknya seorang teman. Meskipun pada akhirnya ayah saya tetap saja bertanya tentang "hidup" saya.

Akan tetapi, it's about miracle, saya kemudian tahu bagaimana rasanya akrab dengan keluarga sendiri. Betapa menyenangkannya bisa berbicara lepas tanpa ada tekanan dari orang tua. Tertawa menertawakan yang lainnya. Dan intinya, saya bisa sekadar mengungkapkan rencana-rencana masa depan saya berdasarkan versi saya. Semuanya berjalan begitu saja. Pembicaraan yang mengalir lepas layaknya seorang teman yang memberikan pengertian untuk temannya.

Yah, ini tentang "Mari Bicara". Meluangkan waktu untuk berbincang banyak hal dengan keluarga bukanlah hal yang sia-sia. Meski hanya sebatas tatap muka. Atau duduk menonton tivi berdua. Ada banyak hal yang bisa disampaikan. Untuk menjalin keakraban dengan keluarga, tidak selalu harus berbicara tentang hal-hal serius. Bukannya seorang teman itu berbicara apa saja kepada teman lainnya? Tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi.

"Mari membicarakan kabarmu. Mari membicarakan hal-hal tidak penting. Mari membicarakan hal-hal tak masuk akal. Mari membicarakan hal-hal lucu. Mari menertawakannya. Mari membicarakan hal-hal penting dan serius. Mari memperdebatkannya. Mari membicarakan kehidupan orang lain. Dan pada akhirnya, mari memahami tentang hidup dan mimpi saya..."


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar