Jumat, 16 November 2012

Sulit Meninggalkan Kebiasaan


Ketika saya dianjurkan untuk meninggalkan kebiasaan mengonsumsi Cappuccino, rasanya bakal sangat sulit. Pernah, suatu ketika salah seorang guru saya menganjurkan untuk tidak terbiasa mengonsumsi minuman-minuman berkafein, termasuk jenis kopi.

"Kalau kopi, Bunda, saya memang ndak suka. Saya lebih suka sama Cappuccino. Beda dengan kopi yang pekat itu,"

"Sama saja, Mam. Cappuccino itu cuman beda campuran saja. Kafeinnya malah disamarkan oleh cokelatnya ataupun susunya," jelasnya.

"Hati-hati loh. Memang kalau masih muda begini kamu belum rasakan. Tapi kalau nanti sudah seperti saya, ya malah bisa kena hipertensi permanen loh. Seperti saya ini, dulu suka minum kopi,"

"Yaaah Bunda.... Tapi saya kan tidak minum setiap hari juga," ujar saya kekeuh.

"Mending kamu minum teh saja. Pantesan kamu kuat begadang. Kafein itu memicu adrenalinmu,"

Jlegg!! Saya tiba-tiba merasa ngeri mendengar cerita Bunda. Akan tetapi, ada perasaan menolak ketika harus menghentikan kegemaran saya pada Cappuccino. Sekian lama, minuman satu inilah yang selalu menemani kesendirian saya. Membuat saya selalu terjaga di tengah-tengah kesunyian malam. Dibandingkan harus berjibaku dengan rokok, saya lebih memilih minuman itu. Lha saya memang bukan perokok.

Tidak jauh berbeda dengan kebiasaan begadang yang mulai merongrong saya. Saya kini mulai terbiasa menghabiskan waktu hingga menjelang pagi hari. Segelas Cappuccino menemani saya setiap malam di warkop sambil menatap layar laptop milik redaksi saya.

Semenjak "Evo" saya mengalami "koma", akibat layarnya retak, saya harus mengerjakan pengelolaan website redaksi di laptop lain. Padahal data-data penting saya mengenai hal itu ada di dalam "Evo". Karena deadline-nya menjelang limit, maka saya harus menyelesaikannya. Dari sanalah bermula saya seringkali menghabiskan waktu di warkop-warnet-redaksi-warkop-redaksi. Wajarlah, saya butuh akses internet yang wusshhh,... Wusshh!!

"Pesan apa?" sapa salah seorang pelayan warkop seperti biasa.

"Biasa..." ujar saya ringan. Saya hanya tersenyum. Saking seringnya saya berkunjung ke warkop itu sebulan belakangan membuat wajah saya dikenali olehnya. Lagipula wajah saya kan sangat sulit untuk dilupakan. Alhasil, baik seorang diri maupun bersama teman, saya telah terbiasa terjaga hingga jam tiga dinihari.

Tindakan yang sudah menjadi kebiasaan. Saya tidak menyadari, jika ternyata kebiasaan itu bisa dibangun dari sesuatu yang sederhana. Meskipun pada awalnya saya tidak pernah (terpikirkan) melakukannya, namun karena ada sesuatu yang (menarik) untuk melakukannya, saya menikmatinya, dan berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang buruk.

Ckck...jika hal ini terus berlanjut, tentu akan berdampak pada rutinitas saya yang lainnya. Yah, bagaimanapun saya mesti rehat dulu dari kebiasaan ini.

Pelayan tadi datang dengan pesanan saya. Saya kemudian meraih cappuccino yang diantarkannya.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar