Jumat, 09 November 2012

Mengajar yang Lebih "Ramah"

Saya masih terpaku dengan penjelasan salah seorang dosen saya ketika mata kuliah itu sementara berlangsung. Penjelasannya begitu enak dan gamblang untuk dimengerti. Matematika dan seluk-beluknya dipahami luar-dalam olehnya. Kesalahan sedetail apapun masih bisa tereteksi olehnya. Derita  pelaku jurusan Matematika. Bagi saya (maupun mahasiswa kebanyakan), sudah seyogyanya beliau mampu meraih gelar doktor atau Profesor sekalipun.

"Itulah kesalahan para guru yang selama ini jika mengajar di sekolah. Mereka sangat jarang mengajarkan konsep-konsep Matematika yang sesungguhnya,"

Pikiran saya yang menerawang menjadi terpecah. Apa yang diucapkannya kemudian menarik minat saya.

"Guru-guru hanya mengajarkan bahwa 'seperti ini', 'seperti itu', tanpa pemahaman konsep pada siswanya," lanjut beliau.

Matematika, memang salah satu bidang studi yang rumit. Semuanya harua benar. Satu tambah satu ya harus dua! Mengapa? Karena masing-masing rumus, penyelesaian memiliki konsep ideal masing-masing. Tidak perlu heran, ketika bertanya perihal "definisi" kepada seorang Matematikawan, kita akan memperoleh jawaban yang paling panjang sedunia. Alamak!

Namun, serumit-rumitnya Matematika tetap masih bisa diajarkan kepada siapa saja. Toh, sedari kecil, kita telah belajar berhitung Matematika. Mencacah dengan mimik lucu; catuu, dua, tiga.... sambil tangan dimain-mainkan. Dan itu, kenyataannya tidak memperturutkan KONSEP.

Memang sih, konsep itu sangat penting untuk memahami luar-dalam Matematika. Tapi apakah pantas, jika kita sudah menjejalkan sebuah konsep kepada otak-otak yang tahunya hanya ingin sekadar belajar? Kepada anak-anak sekolah yang murni ingin mempelajari bidang studinya.

Saya pernah merasakan bagaimana mengajar anak-anak usia Sekolah Dasar. Mungkin, di pikiran semua orang terlintas, "Ah, pelajarannya gampang sekali!". Memang benar, hal itu tidaklah salah. Akan tetapi, sadarkah kita, bukan menjelaskan pelajarannya yang sulit, melainkan bagaimana membuat anak itu mengerti dengan penjelasan kita lah yang sangat sulit. Setengah mati kesulitan. Nah, posisi sebagai guru yang seperti ini masih bisakah memaksakan diri menjelaskan konsep sebenarnya? Sangat sulit untuk membuatnya memahami sesuatu yang kita ajarkan jika selalu berdasarkan konsep.

Guru, sebagai pengajar memang dituntut untuk mampu mentransfer ilmunya kepada murid-muridnya. Setidaknya, murid benar-benar telah tahu sesuatu yang sebelumnya mereka tidak tahu. Saya tidak akan menyalahkan guru ketika mengajar tanpa benar- benar memperhatikan konsep yang sesungguhnya. Mereka mengusung keluasan sesuai dengan visi yang dilihatnya pada anak-anak didiknya. Tak ada rotan, akar pun jadi. Konsep tak dimengerti, maka pengajaran terbuka pun bakal mampu memenuhi hasrat belajar murid-murid.

Makanya, saya agak kontra ketika dinyatakan, cara mengajar guru tidak menyampaikan konsep yang sesungguhnya. Mungkin, mereka tahu konsepnya, namun mereka butuh cara atau bahasa yang lebih ramah dan mudah dimengerti oleh anak-anak yang  bersekolah itu.

Pada dasarnya, kita mengajar bukanlah karena kita pandai atau pintar, lalu membaginya kepada orang lain apa yang kita ketahui itu. Akan tetapi, kita mengajar karena orang lain tidak tahu. Maka kita membagi apa yang kita ketahui berdasarkan ketidaktahuan mereka, tidak berdasarkan apa yang kita tahu. Oleh karena itu, kita wajib menyamakan persepsi dengan murid atau orang yang diajar. Anak SD, maka harus mengandaikan diri sebagai anak SD. Anak SMA, maka harus mengandaikan diri selaku anak SMA. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah memberikan makna sebenarnya dari belajar itu kepada anak-anak. Dari tidak tahu menjadi tahu. From nothing to something....

*NB: Ada yang pernah menonton film ini? Like that!


Mengajar yang benar-benar sampai pada visi anak-anaknya. (Google Search)



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar