Rabu, 28 November 2012

Pagi!

November 28, 2012
Yupp, it's morning (again).(ImamR)
Pagi!

Akh, senang juga rasanya bisa (lagi) menikmati pagi seperti ini. Bagi saya, pagi selalu indah. Ada sesuatu yang tak terperikan ketika menikmatinya. Apalagi dengan secangkir minuman hangat. Wuihh!! Semakin menambah suasana-suasana yang merindukan. Tapi entah mau merindukan siapa... #menghela napas.

Ya, saya selalu senang menikmati pagi. Entah atas dasar apa. Atau karena bangun pagi merupakan sesuatu yang langka bagi saya? Sebulan terakhir saya terbiasa (dan dibiasakan) begadang hingga menjelang pagi. Hal tersebut memberikan saya dua pilihan, untuk tetap terjaga atau tidur hingga tak tentu pastinya. Persoalannya, saya tidak pernah tahu caranya bangun sesuai dengan waktu yang diinginkan. Saya selalu tak mampu untuk membiarkan tubuh dan pikiran saya berjalan 24 jam nonstop. Ada saat-saat dimana saya harus beristirahat, meski hanya sejam-dua jam.

Pagi!

Keluarlah sejenak, nikmati hawanya. Diantara potongan waktu 24 jam, hanya sekian jam itu yang menyediakan kedamaian, layaknya menyambut awal kehidupan. Beginning of life.

Pagi!

Ketika saya diberi kesempatan memilih waktu untuk saya miliki, maka saya memilih pagi. Waktu ketika matahari sedang bersiap-siap menyinari seluruh alam. That's it!

Dan selamat pagi!


--Imam Rahmanto--

Kamis, 22 November 2012

Belajar Mempercayai Orang Lain

November 22, 2012

Seyogyanya kepercayaan itu adalah barang paling mudah dan murah untuk didapatkan, siapapun mampu memberikannya. Terlepas dari benar atau tidak hasilnya, tak perlu ada tatapan-tatapan tak percaya yang memborbardir perasaan. Tak perlu susah-susah pula membangun sebuah tim.

Sejak dulu, saya terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri. Makan sendiri (lha iyalah!), mandi sendiri (lha iyalah!), cebok pun sendiri (hemm....makin gak nyambung). Saya sangat jarang melibatkan orang lain dalam setiap pekerjaan yang mampu saya selesaikan sendiri. Toh, saya mampu, buat apa juga menyusahkan orang lain? Hingga perkara pekerjaan-pekerjaan kelompok dari sekolah alamat saya yang mengerjakannya sendiri. Meskipun demikian, saya tak mengeluh, saya senang, saya puas, dan saya bangga. Sombong....

Ketika saya diserahi sebuah tugas kelompok, saya cenderung mengerjakannya sesuai dengan apa yang saya inginkan. Segalanya harus sesuai persepsi saya. Saya tak ingin pekerjaan itu berantakan hanya karena sedikit kesalahan yang (mungkin) teman-teman saya bakal lakukan. "Nanti nilai yang didapatkan jadi rendah," pikir saya selalu. Dasar orang perfeksionis. Makanya, tidak mengherankan, dulu teman-teman kelas berlomba-lomba menjadi teman kelompok saya. Kalau sekarang, keadaannya jadi terbalik. Hehe...

Ada saja hal-hal yang membuat saya ingin melakukannya sendiri. Kepuasan bereksplorasi, kepuasan mencoba, menuangkan ide, hingga buahnya sendiri dinikmati sebagai mahakarya sendiri.

Karena sikap perfeksionis itu, saya terkesan menjadi orang yang sangat sulit bekerjasama dengan orang lain. Saya cenderung egois. Saya tidak tahu menempatkan sebuah kepercayaan pada orang lain, karena terbiasa selalu menjadi orang yang dipercayakan. Beruntung, kala itu, saya masih belum bertemu dengan lingkup masalah-masalah berat seperti keadaan sekarang ini.

Semakin panjang kisah perjalanan hidup, tentu semakin banyak hal yang akan dilalui. Hal-hal itu yang kemudian yang juga mengajarkan saya tentang pentingnya sebuah kerja sama. Dalam organisasi tempat saya sekarang, saya banyak belajar untuk tidak melakukan segalanya sendirian. Terlepas kita mampu menyelesaikannya, masih ada orang lain yang mungkin bisa jadi prioritas untuk menyelesaikannya. Saya belajar, mempercayai orang lain itu adalah harga yang cukup mahal, apalagi ketika kita tidak tahu kebenarannya.

Tahu tidak, di balik beragamnya judul-judul animasi (anime) atau kartun yang diproduksi oleh orang-orang Jepang, ada beberapa hal yang selalu menjadi inti ceritanya. Coba diperiksa baik-baik tiap ceritanya. Kepercayaan. Teman. Semangat. Anime tidak akan terlepas dari hal-hal tersebut, yang menandakan orang-orang Jepang begitu menghargai pertemanan, begitu juga kepercayaan. Mereka selalu peecaya dengan teman-teman mereka. Mungkin, Jepang bisa berjaya karena pekerjaan-pekerjaannya selalu dikerjakan dengan dilandasi rasa percaya. Cayoo! Ganbatte!!

Saya belajar, menyerahkan sebuah pekerjaan kepada orang lain meski hasilnya tidak akan seperti yang saya inginkan adalah lebih sulit jika dikerjakan sendiri namun itu meeupakan bagian dari sebuah proses. Saya belajar percaya, melalui proses itulah yang akan membelajarkan orang lain dan mengikis sikap egois yang melekat pada diri saya. Saya belajar untuk bekerjasama menyelesaikan suatu pekerjaan. Saya belajar melepaskan beban yang selalu saya pikul sendiri. Dengan belajar percaya, saya bisa belajar lebih banyak hal yang lainnya lagi. Oleh karena itu, saya ingin lebih banyak percaya pada orang lain...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 16 November 2012

Sulit Meninggalkan Kebiasaan

November 16, 2012

Ketika saya dianjurkan untuk meninggalkan kebiasaan mengonsumsi Cappuccino, rasanya bakal sangat sulit. Pernah, suatu ketika salah seorang guru saya menganjurkan untuk tidak terbiasa mengonsumsi minuman-minuman berkafein, termasuk jenis kopi.

"Kalau kopi, Bunda, saya memang ndak suka. Saya lebih suka sama Cappuccino. Beda dengan kopi yang pekat itu,"

"Sama saja, Mam. Cappuccino itu cuman beda campuran saja. Kafeinnya malah disamarkan oleh cokelatnya ataupun susunya," jelasnya.

"Hati-hati loh. Memang kalau masih muda begini kamu belum rasakan. Tapi kalau nanti sudah seperti saya, ya malah bisa kena hipertensi permanen loh. Seperti saya ini, dulu suka minum kopi,"

"Yaaah Bunda.... Tapi saya kan tidak minum setiap hari juga," ujar saya kekeuh.

"Mending kamu minum teh saja. Pantesan kamu kuat begadang. Kafein itu memicu adrenalinmu,"

Jlegg!! Saya tiba-tiba merasa ngeri mendengar cerita Bunda. Akan tetapi, ada perasaan menolak ketika harus menghentikan kegemaran saya pada Cappuccino. Sekian lama, minuman satu inilah yang selalu menemani kesendirian saya. Membuat saya selalu terjaga di tengah-tengah kesunyian malam. Dibandingkan harus berjibaku dengan rokok, saya lebih memilih minuman itu. Lha saya memang bukan perokok.

Tidak jauh berbeda dengan kebiasaan begadang yang mulai merongrong saya. Saya kini mulai terbiasa menghabiskan waktu hingga menjelang pagi hari. Segelas Cappuccino menemani saya setiap malam di warkop sambil menatap layar laptop milik redaksi saya.

Semenjak "Evo" saya mengalami "koma", akibat layarnya retak, saya harus mengerjakan pengelolaan website redaksi di laptop lain. Padahal data-data penting saya mengenai hal itu ada di dalam "Evo". Karena deadline-nya menjelang limit, maka saya harus menyelesaikannya. Dari sanalah bermula saya seringkali menghabiskan waktu di warkop-warnet-redaksi-warkop-redaksi. Wajarlah, saya butuh akses internet yang wusshhh,... Wusshh!!

"Pesan apa?" sapa salah seorang pelayan warkop seperti biasa.

"Biasa..." ujar saya ringan. Saya hanya tersenyum. Saking seringnya saya berkunjung ke warkop itu sebulan belakangan membuat wajah saya dikenali olehnya. Lagipula wajah saya kan sangat sulit untuk dilupakan. Alhasil, baik seorang diri maupun bersama teman, saya telah terbiasa terjaga hingga jam tiga dinihari.

Tindakan yang sudah menjadi kebiasaan. Saya tidak menyadari, jika ternyata kebiasaan itu bisa dibangun dari sesuatu yang sederhana. Meskipun pada awalnya saya tidak pernah (terpikirkan) melakukannya, namun karena ada sesuatu yang (menarik) untuk melakukannya, saya menikmatinya, dan berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang buruk.

Ckck...jika hal ini terus berlanjut, tentu akan berdampak pada rutinitas saya yang lainnya. Yah, bagaimanapun saya mesti rehat dulu dari kebiasaan ini.

Pelayan tadi datang dengan pesanan saya. Saya kemudian meraih cappuccino yang diantarkannya.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 15 November 2012

Hujan Siang Ini

November 15, 2012

(Google Search)
Saya berjalan sendirian siang ini. Rinai-rinai hujan menerpa tubuh saya yang dibalut jaket. Saya tak peduli hujan yang sebentar lagi beralih lebih deras. Atau malah membanjiri daerah sekitar sini. Ketika beberapa orang berteduh menghindari hujan, saya malah melangkah santai di lorong-lorong sekitar kontrakan saya. Saya membiarkan rinai-rinainya menusuk-nusuk wajah saya. Apalagi ketika kota Makassar sangat jarang diguyur hujan memasuki musim penghujan ini. Saya merindukannya...

"Biarkan hujan itu meresap ke dalam kulit untuk sampai ke hatimu. Rasakan dengan perasaan apa yang ingin disampaikan hujan untukmu."

Saya lahir dan dibesarkan di tempat yang sama sekali berbeda dengan kampung halaman ayah dan ibu saya. Hawanya sejuk, dan terkadang selalu mengundang hujan. Jika musim seperti ini datang, hujan tak henti-hentinya mengguyur dalam selang waktu sehari.

Menyenangkan rasanya ketika masih anak-anak dulu berlari-larian di bawah hujan sambil menendang-nendang bola. Tak peduli cipratan lumpur mengenai wajah saya dan teman-teman. Teriakan-teriakan riuh dari teman-teman sepermainan memacu untuk tak mempedulikannya. "Tendang, tendang!!" teriak yang lainnya.

Terkadang, ketika hujan turun saking derasnya, saya suka berlari-larian di bawahnya. Tak jarang pula, sembari memegang sabun atau shampoo, saya mandi di bawah guyuran hujan itu. Tak peduli jika besok atau lusa ibu menyalahkan kebiasaan saya itu karena terserang sakit, flu maupun demam.

Saya tak selalu menyukai hujan, layaknya hujan yang turun di hari Selasa atau Jumat, selalu saja membuat hati saya dongkol.

"Kenapa bapak tidak berangkat jualan?"

"Di luar mendung. Takutnya nanti hujan. Kalau hujan atau cuacanya begini, jualan bapak nanti kan tidak laku," jawab ayah saya yang memantau perkembangan cuaca di luar rumah. Ayah lantas hanya bisa mendengar teriakan Yaaaah saya yang kecewa.

Saya jengkel ketika hujan itu menghalangi ayah saya untuk berjualan Es Teler di pasar. Kesempatan emas saya untuk bisa membantu dan sekadar mendapatkan upah Rp 3ribu melayang begitu saja dihempaskan air hujan. Kesempatan saya untuk membeli majalah kesayangan saya pun sirna olehnya. Yaaaah..!!

Apalagi ketika hujan deras sudah mengguyur jalan setapak ke sekolah saya. Jalanan yang berlumpur itu sangat becek untuk dilalui bahkan sekadar jalan kaki. Masih jelas dalam ingatan saya ketika hujan mengguyur, kami lebih memilih berjalan kaki menuju sekolah tanpa menggunakan alas sepatu. Kami menenteng sepatu masing-masing dan mengenakannya selepas tiba di sekolah. Akh, saya masih ingat di sekolah saya itu ada sebuah kolam besar yang direplika layaknya peta Indonesia. Airnya baru terisi penuh jika hujan mengguyur sekolah kami. Tak jarang kami memanfaatkan kolam itu untuk bermain-main, melompat kesana kemari, ataupun hanya sekadar cuci kaki selepas melalui jalan becek tadi.

Saya kemudian senang hanya memandangi hujan, menghitung tiap titik air yang jatuh, jikalau ibu melarang saya bermain di luar rumah karena hujan. "Kamu sering sakit kalau kena hujan," tegas ibu saya. Kini, saya tak pernah sakit jika berhadapan dengan hujan, Bu.

Pada akhirnya, saya mesti dan benar-benar menyukai hujan. Hujan telah menolong saya. Tuhan menghadirkannya di sela-sela doa saya. Doa seorang anak kecil yang dulu nyaris putus asa dengan keadaan keluarganya. Anak kecil yang menangis bukan berdoa karena meminta hujan...

Saya terus melangkah menembus rinai-rinai hujan siang ini. Semakin lama, hujan semakin meningkatkan kecepatannya. Saya bergegas menuju salah satu warung yang tidak jauh dari pondokan saya. Dalam hati, saya berharap persediaan makanannya masih ada, meskipun saya terlambat. Pagi ini, saya terlambat bangun karena baru terlelap menjelang pukul 5 pagi. Di sela-sela hujan itu, saya lantas memesan tiga bungkus nasi kuning yang tersisa.


--Imam Rahmanto--

Senin, 12 November 2012

Impian Tak Sejalan, Go Ahead!

November 12, 2012

Saya senang ketika berbicara tentang impian. Karena itu menandakan saya masih hidup, saya masih bernapas, dan saya adalah manusia. Dari impian itu, saya memiliki semangat untuk terus berusaha, melangkah.

Lebaran yang lalu, saya pulang ke rumah orang tua saya di kampung. Sebenci apapun saya dengan hidup saya, tidak semestinya menjauhi keluarga saya. Se"rutin" apapun tugas maupun pekerjaan saya disini, berkumpul bersama keluarga masih merupakan momen-momen yang patut dirasakan. Yeah, adakalanya perasaan kalut bisa terobati cukup dengan menginjakkan kaki di rumah atau sekadar mencicipi masakan olahan ibu.

Suatu waktu, di pagi yang masih dingin-dinginnya, sambil menyeruput kopinya, ayah saya lantas bertanya,

"Bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai guru privat?"

Ayah saya tidak tahu, saya telah beberapa bulan lamanya tidak lagi menggeluti pekerjaan itu. Saya agak direpotkan dengan minat dan pekerjaan saya di bidang jurnalistik kampus. Apalagi, keinginan saya yang begitu besar di bidang kepenulisan itu sendiri nantinya.

"Ehm...saya sudah tidak mengajar lagi," jawab saya singkat, agak ragu. Saya menyangka ayah saya bakal kecewa atau bahkan marah mendengar jawaban saya.

Dulu, ia begitu bangga ketika saya bisa mengatasi masalah keuangan saya sendiri dengan pekerjaan itu. Apalagi pekerjaan itu searah dengan jurusan kuliah saya di kampus. Ia selalu mewanti-wanti untuk tetap "baik-baik" dalam pekerjaan itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja saya berhenti dan berbalik arah darinya.

Saya lantas menjelaskan semua padanya. Tentang dimana saya kini, seperti apa saya sekarang, bidang apa yang saya geluti sekarang, bagaimana proses yang saya jalani, dan segalanya... Saya tidak ingin impian yang saya miliki harus berhenti karena menuruti kemauan orang tua saya (yang bukan impian saya).

"Ooh...ya...tidak apa-apalah," Saya benar-benar tertegun mendengar jawaban ayah saya.

"Yang terpenting, apa yang kamu jalani sekarang, kamu betul-betul yakin bisa menjalaninya. Selama itu baik dan jelas menurutmu, kita sebagai orang tua ya hanya bisa memberikan kesempatan buatmu. Bukan lagi zamannya orang tua untuk melarang-larang anaknya menjadi sesuatu yang dikehendaki anaknya. Kita ya hanya berharap itu memang yang terbaik," ujar ayah saya ringan. "Selain itu, yang penting, jaga juga kuliahmu ya," lanjutnya mewanti-wanti saya.

Ada perasaan lega ketika mendengar ayah membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Meraih apa yang memang saya kehendaki. Tidak mengikat saya dalam peraturan yang dibuatnya sendiri. Mungkin, ia tahu kalau anaknya sudah dewasa. Bukan lagi anak kecil yang mesti diarahkan kesana kemari. Kedewasaan itu yang mengajarkan kita untuk berani mengambil langkah dan berani menanggung resiko dari langkah itu.

Terkadang, impian yang dimiliki memang tak sejalan dengan keinginan orang tua. Macam kisah Siti Nurbaya, yang dipaksa menikah dengan pilihan orang tuanya. Padahal ia memiliki pilihan sendiri. Kita punya impian, namun mungkin saja orang tua tidak tahu atau tidak mengerti akan hal itu. Ketika kita jarang mengomunikasikannya, maka orang tua cenderung memilihkan kita untuk "jadi apa" kita nantinya. Ada pula orang tua yang menganggap pilihannya itu terbaik dibanding apa yang dikehendaki anaknya. Ayolah, ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi.

Lihatlah, jalan menuju impian itu terbentang begitu luasnya.
(Gambar: Google Search)


Memperjuangkan impian kita, posisinya di mata orang tua, memang adalah hal yang sangat sulit. Namun, melakukannya adalah satu langkah awal kita untuk melaju. Kita tidak akan berlari sebelum memulai satu langkah, bukan? Untuk meyakinkan orang tua tentang keinginan kita, seyogyanya kita mampu memperlihatkan "kelebihan-kelebihan" yang dimiliki oleh pilihan kita. Atau malah, lebih baik lagi, kita bisa memperlihatkan "prestasi-prestasi" yang diperoleh melalui keinginan itu. Meyakinkan orang tua bahwa jalan yang kita pilih memang benar adalah yang terbaik untuk diri sendiri. Dan yakinlah, buah manis dari keterbukaan orang tua ketika memahami apa yang kita inginkan itu benar-benar menyemangati. Restu orang tua selalu menjadi pokoknya.

"Oh ya, memangnya jurusan Matematika bisa masuk jadi wartawan ya?" Saya tersenyum dalam hati, lantas menjawab,

"Bisa kok, Pa',"

Yah, terkadang "kita harus berputar menjadi diri orang lain dulu sebelum menjadi diri sendiri".
(Perahu Kertas).


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 10 November 2012

Listrik dan Malam

November 10, 2012

"Apa kau pernah melihat bulan seperti ini?" tanyanya padaku.

Pertanyaan yang sederhana, namun cukup untuk membuatku terdiam agak lama. Aku sendiri bingung, kapan terakhir kalinya bisa melihat bulan seterang dan secemerlang ini. Cahayanya yang lembut, menyebar di seantero kegelapan malam. Ruang-ruang sunyi di sekitar kompleks ini terasa hangat oleh temaram sinar yang menembus celah-celah jendelanya.

Akh, perasaan ini sungguh damai. Aku masih bingung, kapan terakhir kalinya aku menikmati malam yang sunyi seperti ini. Aku mengingat-ingatnya...

Lama, nyaris sepuluh tahun yang lalu aku pernah seperti ini. Duduk di depan beranda rumah. Bergantian, antara menghirup udara malam dan meneguk minuman hangat. Duduk bersama, bercerita, menerawang di langit-langit malam.

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.

Kakak perempuanku dulu sering membawaku ke kaki bukit di belakang rumah. Menjelang tengah malam, kami akan dijemput oleh ayah dan ibu sambil bersungut-sungut. "Apa kalian tidak ada kerjaan lain, selain tiap malam hanya nongkrong disini?" keluh Ibu. "Apalagi kamu Sinta. Kamu kan masih harus sekolah," Kakak yang mendapat omelan ibu hanya tersenyum-senyum kecil. Aku sedari tadi hanya memandanginya tak percaya.

"Sudahlah, Bu. Namanya juga anak-anak. Biarkan saja mereka meresapi alam yang Maha Indah ciptaan Tuhan," potong Ayahku bak sang penyair. Ibu membalasnya dengan tatapan tajam. Ayah hanya bisa berkelit sambil tertawa lepas.

Aku, selalu saja, tersenyum kala mengingat-ingatnya. Kakakku yang tak pernah sekalipun mau menjelaskan padaku alasannya selalu memandangi bulan di belakang rumah. Kakakku yang selalu menarik-narikku untuk ikut dengannya. Membawa seluruh perlengkapan belajarnya dan menyuruh ayah membangunkan kemah-kemah kecil di sana.

"Dimana?" tanya perempuan itu lagi.

Apa aku mesti bercerita padanya. Apa aku harus mengulang kembali memoriku yang telah kuputar itu?

"Di desa tempat tinggalku." Tidak, aku tidak perlu menceritakan semuanya. Biarkan di malam yang gelap ini aku menikmatinya sembari duduk bersamanya di depan teras rumah.

"Apa kau rindu keluargamu?" tanyanya lagi.

Akh, kenapa sedari tadi ia selalu saja bertanya. Apakah karena hanya aku dan dia yang sedang duduk disini? Tidakkah ia lihat aku sementara memandangi lekat-lekat bulan yang nyaris bulat sempurna itu? Tapi, nyatanya ia lekat-lekat memandangi wajahku yang diterpa sedikit cahaya bulan.

Aku mengangguk lagi. Aku menganggap jawaban itulah yang paling memuaskan baginya.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menghembuskannya perlahan.

"Maaf, tapi seperti inilah aku," Aku tersenyum memandangi wajahnya.

"Aku tidak ingin terlalu jauh mengingat-ingat keluargaku. Melakukannya hanya akan membuat perasaanku sakit. Lebih sakit dari biasanya," tekanku sambil memaksakan tersenyum. Getir.

"Kenapa kau tidak mau --,"

Aku menggeleng memotong ucapannya. Ia tahu, akan tiba saatnya aku akan menceritakan semuanya, sejelas-jelasnya padanya. Ia memilih untuk ikut larut meresapi malam ini.

Seperti ketika aku akhirnya tahu alasan kakakku selalu memandangi langit malam di kaki bukit belakang rumah.

"Kakakmu suka memandangi langit di malam hari, apalagi ketika bulan muncul. Semenjak kamu lahir, ia melakukan hal itu setiap. Ia takut kehilangan adiknya," Ayahku bercerita.

Aku seharusnya lahir di sore itu, tepat ketika ibuku mengaduh kesakitan. Mengeluh anaknya akan lahir. Namun, kenyataannya, dukun beranak sudah bersiaga dan aku belum juga dilahirkan. Menjelang tengah malam, ibu kelelahan dan tak sadarkan diri. Kakakku menangis sesenggukan dalam pelukan ayah.

Nyaris ketika ayahku kehilangan harapan, suara tangisku memecah kesunyian malam itu. Cahaya bulan membias menerangi tubuh mungilku. Dan kakakku lah yang pertama kali memutuskan untuk menggendongku.

*****

"Sampai kapan ya pemadaman listrik ini? Kabarnya PLN di Tello terbakar dan pemadam masih  berusaha memadamkannya," ujar salah seorang kawanku. Ia muncul dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi minuman hangat.

Aku menggeleng, "Entahlah," seraya meraih gelas berisi Cappuccino-ku. Menyeruputnya perlahan.

Yah, bagaimanapun aku sudah terbiasa dengan kegelapan seperti ini. Keluargaku dulu tak pernah menikmati listrik. Di desa tempat tinggalku, kami hanya memanfaatkan pelita sebagai penerangan. Dan kenyataannya, pelita itu yang kemudian menyebabkan bencana besar di desaku. Di keluargaku. Pada ayahku, ibuku,dan kakakku....  (*)


--Imam Rahmanto--
Makassar, 9 November 2012

Jumat, 09 November 2012

Mengajar yang Lebih "Ramah"

November 09, 2012
Saya masih terpaku dengan penjelasan salah seorang dosen saya ketika mata kuliah itu sementara berlangsung. Penjelasannya begitu enak dan gamblang untuk dimengerti. Matematika dan seluk-beluknya dipahami luar-dalam olehnya. Kesalahan sedetail apapun masih bisa tereteksi olehnya. Derita  pelaku jurusan Matematika. Bagi saya (maupun mahasiswa kebanyakan), sudah seyogyanya beliau mampu meraih gelar doktor atau Profesor sekalipun.

"Itulah kesalahan para guru yang selama ini jika mengajar di sekolah. Mereka sangat jarang mengajarkan konsep-konsep Matematika yang sesungguhnya,"

Pikiran saya yang menerawang menjadi terpecah. Apa yang diucapkannya kemudian menarik minat saya.

"Guru-guru hanya mengajarkan bahwa 'seperti ini', 'seperti itu', tanpa pemahaman konsep pada siswanya," lanjut beliau.

Matematika, memang salah satu bidang studi yang rumit. Semuanya harua benar. Satu tambah satu ya harus dua! Mengapa? Karena masing-masing rumus, penyelesaian memiliki konsep ideal masing-masing. Tidak perlu heran, ketika bertanya perihal "definisi" kepada seorang Matematikawan, kita akan memperoleh jawaban yang paling panjang sedunia. Alamak!

Namun, serumit-rumitnya Matematika tetap masih bisa diajarkan kepada siapa saja. Toh, sedari kecil, kita telah belajar berhitung Matematika. Mencacah dengan mimik lucu; catuu, dua, tiga.... sambil tangan dimain-mainkan. Dan itu, kenyataannya tidak memperturutkan KONSEP.

Memang sih, konsep itu sangat penting untuk memahami luar-dalam Matematika. Tapi apakah pantas, jika kita sudah menjejalkan sebuah konsep kepada otak-otak yang tahunya hanya ingin sekadar belajar? Kepada anak-anak sekolah yang murni ingin mempelajari bidang studinya.

Saya pernah merasakan bagaimana mengajar anak-anak usia Sekolah Dasar. Mungkin, di pikiran semua orang terlintas, "Ah, pelajarannya gampang sekali!". Memang benar, hal itu tidaklah salah. Akan tetapi, sadarkah kita, bukan menjelaskan pelajarannya yang sulit, melainkan bagaimana membuat anak itu mengerti dengan penjelasan kita lah yang sangat sulit. Setengah mati kesulitan. Nah, posisi sebagai guru yang seperti ini masih bisakah memaksakan diri menjelaskan konsep sebenarnya? Sangat sulit untuk membuatnya memahami sesuatu yang kita ajarkan jika selalu berdasarkan konsep.

Guru, sebagai pengajar memang dituntut untuk mampu mentransfer ilmunya kepada murid-muridnya. Setidaknya, murid benar-benar telah tahu sesuatu yang sebelumnya mereka tidak tahu. Saya tidak akan menyalahkan guru ketika mengajar tanpa benar- benar memperhatikan konsep yang sesungguhnya. Mereka mengusung keluasan sesuai dengan visi yang dilihatnya pada anak-anak didiknya. Tak ada rotan, akar pun jadi. Konsep tak dimengerti, maka pengajaran terbuka pun bakal mampu memenuhi hasrat belajar murid-murid.

Makanya, saya agak kontra ketika dinyatakan, cara mengajar guru tidak menyampaikan konsep yang sesungguhnya. Mungkin, mereka tahu konsepnya, namun mereka butuh cara atau bahasa yang lebih ramah dan mudah dimengerti oleh anak-anak yang  bersekolah itu.

Pada dasarnya, kita mengajar bukanlah karena kita pandai atau pintar, lalu membaginya kepada orang lain apa yang kita ketahui itu. Akan tetapi, kita mengajar karena orang lain tidak tahu. Maka kita membagi apa yang kita ketahui berdasarkan ketidaktahuan mereka, tidak berdasarkan apa yang kita tahu. Oleh karena itu, kita wajib menyamakan persepsi dengan murid atau orang yang diajar. Anak SD, maka harus mengandaikan diri sebagai anak SD. Anak SMA, maka harus mengandaikan diri selaku anak SMA. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah memberikan makna sebenarnya dari belajar itu kepada anak-anak. Dari tidak tahu menjadi tahu. From nothing to something....

*NB: Ada yang pernah menonton film ini? Like that!


Mengajar yang benar-benar sampai pada visi anak-anaknya. (Google Search)



--Imam Rahmanto--

Rabu, 07 November 2012

Dunia Tak Selebar Telapak Tangan

November 07, 2012
"Kamu tahu dia?"

"Ya, tentu saja. Dia kan penulis, ada banyak novelnya," ujarnya ringan.

Saya dibuat terkejut olehnya. Bukan main, saya yang baru mengenal penulis itu seminggu lalu dan dia ternyata sudah lama tahu mengenai Putra Gara. Ya, Putra Gara, yang ternyata merupakan salah satu tokoh penulis kawakan di Indonesia.

Saya merasa kecil. Selama ini ternyata saya hanya sibuk dengan dunia saya sendiri, hanya setitik bagian dari dunia yang maha luas ini. Penulis-penulis yang saya tahu selama ini ternyata barulah kulit luarnya saja. Di balik itu, masih banyak penulis-penulis kondang lainnya yang memang lebih "menjanjikan".

Kesenangan saya menikmati alam-alam di sekitar; barang menghirup udara pagi, berjalan kaki, jalan-jalan di tempat-tempat yang baru, meresapi tiap helaan napas, memang benar-benar belum cukup merangkum semua "kesimpulan dunia". Malah, semua itu hanya secercahnya saja. Bahkan seorang penulis pun senantiasa dituntut untuk menemukan dan belajar banyak hal-hal baru.

"Melihatlah keluar. Pandang kejadian di sekitarmu. Rasakan tiap langkah kaki yang kau ayunkan. Berinteraksi dengan orang-orang baru juga bakal menumbuhkan banyak ide-ide baru untuk menulis,"
--Nur Alim Djalil--

Terkadang untuk menciptakan ide-ide baru, kita dituntut untuk banyak melihat keluar. Sejenak, menjauhkan pikiran atau perasaan dari hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan kita. Kita mesti keluar dari "zona nyaman" untuk menciptakan hal-hal baru. Dunia ini maha luas untuk ditelusuri dan dipelajari. Hanya saja, kita terbiasa mengikatkan diri pada keadaan yang sudah membuat kita nyaman.

Oh ya, saya teringat dengan sebuah kutipan dari ayat suci,

Sesuatu yang kita suka belum tentu menjadi sesuatu yang baik bagi kita. Malah, terkadang sesuatu yang kita suka itu adalah sesuatu yang buruk untuk diri kita. Begitupun sebaliknya.

Oleh karena itu, amat dangkal lah rasanya jika kita selalu melakukan "itu-itu saja". Terpaku dengan kebiasaan. Tuhan menciptakan dunia ini begitu luas agar kita bisa banyak belajar dan menikmatinya.

Out of the Box! Lagi-lagi saya mesti menyerukan kalimat itu. Menulis pun butuh sesuatu yang baru. Lah, namanya juga orang belajar. Bukan namanya belajar kalau kita terus-terusan mempelajari hal yang sudah kita tahu. Belajar itu...dari tidak tahu menjadi tahu. Bukan urusan tua atau muda, sulit atau mudah. Selama kita berani menantang keluar dari kebiasaan, pertanda belajar, kita akan menemukan banyak pengalaman baru.

"Experience is the best teacher, forever,"

Selain butuh proses, ternyata menulis itu juga butuh lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan. Menulis adalah membaca.

"Menulis tanpa membaca adalah bohong belaka. Rumusnya: M-M=0"
--S. Gegge Mappangewa--

Membaca, tidak hanya sebatas membaca tulisan saja. Ada banyak kejadian, gerak alam, laju napas yang perlu kita jabarkan dengan membacanya melalui penglihatan kita. Banyak membaca, banyak ide, banyak menulis.

Tuh kan, ternyata dunia memang tak hanya selebar telapak tangan kita. Namun, yakinlah, tangan kita mampu menggenggam dunia yang luas itu.


--Imam Rahmanto--

Selasa, 06 November 2012

Menulis itu Butuh Proses

November 06, 2012
“Menjadi seorang penulis adalah sebuah proses, bukan seketika bisa 
diwujudkan dengan simsalabim.”
 --Nur Alim Djalil, penulis dan jurnalis--

Putra Gara menyampaikan motivasi-motivasinya. (Foto: Nurjannah)
Ya, benar sekali. Menulis adalah sebuah proses. Nur Alim Djalil, seorang penulis dan jurnalis yang menjadi pembicara dalam workshop kepenulisan kemarin begitu jelas menggambarkannya. Dimulai dari bagaimana ia ketika muda dulu begitu membenci menulis, namun kemudian proses itu sendiri yang kemudian membawanya untuk mencintai dunia tulis-menulis. Meskipun motivasi awalnya menulis bukanlah murni karena ia senang menulis. Ssst…menulis pun ternyata bisa digunakan untuk menarik perhatian seorang wanita.

Untuk bisa menjadi seorang penulis, tidak bisa didasarkan hanya pada bakat semata. Pada dasarnya, menulis itu adalah keinginan hati. Keinginan untuk berbagi. Bahkan, menurut Putra Gara, yang juga seorang novelis, menulis itu sudah menjadi sebuah kebutuhan baginya.

Saya juga sempat (terharu) mendengar ceritanya melalui workshop kemarin (4/11) tentang bagaimana perjalanannya bisa menjadi seperti seorang penulis “sejati” seperti sekarang ini. Kami atau kalian tentu tidak akan menyangka, seorang anak jalanan yang tiap harinya harus menyetor uang ke preman-preman jalanan bisa menjadi seorang penulis yang kini bisa berpenghasilan jutaan. Malah sekarang untuk membuat satu buah novel yang berates-ratus halaman saja, bang Putra Gara bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu seminggu. Ckckck…salut buat bang Putra Gara! outstanding applause.

Ada kalanya memang kita dituntut untuk bisa bersabar menjalani proses itu. Seraya menjalaninya, sedikit demi sedikit kita belajar di dalamnya. Entah proses itu lama atau sebentar, hasilnya selalu menjadi akibat dari proses yang kita jalani itu. Selama kita menjalankan proses itu dengan baik, memberikan makan, tentu saja hasilnya akan baik.

“Kata-kata “nanti”, “tunggu”, “besok”, “lusa”, sebenarnya adalah sebuah 
perencanaan kita untuk gagal.”
--S. Gegge Mappangewa--

Sebenarnya, apapun itu, memang butuh proses untuk bisa mencapainya. Orang-orang yang ingin bisa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa usaha sedikitpun alias simsalabim tidak akan pernah merasakan “buah manis” dari keberhasilan itu sendiri. Believe it!


--Imam Rahmanto--

*Ps: baru sempat menulis lagi setelah beberapa hari di"rutin"kan dengan permak website lembaga.

Kamis, 01 November 2012

Berani Karena Takut

November 01, 2012

"Keberanian adalah kesanggupan melawan ketakutan diri sendiri"

Perjalanan saya kembali ke Makassar dengan menumpang motor dari seorang teman ternyata menyadarkan saya akan hal itu. Bahwa keberanian memang benar-benar tercipta dari beberapa ketakutan kita...

Saya mesti menerima tawaran teman saya untuk bersama-sama kembali ke kota Makassar. Mobil-mobil carteran/ pesanan sudah dipenuhi oleh list pelanggan selama beberapa hari usai lebaran. Salah satu mobil yang saya pesan bahkan membatalkan tumpangannya tepat beberapa jam sebelum menjemput saya. Damn!!! Untung saja, sore hari sebelum itu, teman saya menghubungi untuk menawarkan tumpangannya ke Makassar. Saya yang sempat menolaknya kemudian menghubunginya lagi untuk memastikan jadwal kami bersama-sama. Deal! Nampaknya Tuhan memang selalu merencanakan segalanya. Tidak ada yang namanya kebetulan. Believe it!

Melakukan sebuah perjalanan (hidup) pun dibutuhkan keberanian yang
dibiasakan sedikit demi sedikit. (ImamR)

Kami berangkat keesokan paginya. Ada hal yang membuat saya bangga melihatnya. Ia ternyata sudah mampu mengendarai motor seperti biasa. Saya mengatakan seperti itu bukan karena ia baru belajar mengendarai motor loh. Malah, ia sudah lama (beberapa tahun) mahir mengemudikan motor. Hanya saja, beberapa insiden pernah membuatnya trauma untuk mengendarai motor, apalagi untuk jarak yang sangat jauh. Sehingga dalam setiap kesempatan, (dulu) sebisanya ia menghindari untuk mengemudikan sebuah motor.

"Ah, malas bawa motor...," dalihnya selalu.

Hal tersebut berlangsung lama. Seingat saya, lebih dari setahun lamanya. Gara-gara itu, ia menjadi orang yang sensitif jika berada di atas motor. Sedikit saja motor bermanuver, ia bakal terkejut dan menarik-narik pengemudinya. Saya juga dulu sering dibuat kaget olehnya. Hehe...

Akan tetapi, sepanjang perjalanan ke Makassar, ia tak lagi menjadi orang yang sama. Ia mengendarai motor seperti pada umumnya. Bahkan, perjalanan jauuuuh Enrekang-Makassar selama 7 jam itu dibabatnya habis. Saya tak diberi kesempatan sekalipun untuk menggantikannya. Lumayan, bisa nyantai di atas motor....

Sesuatu telah mengubahnya. Entahlah. Yang pasti, saya yakin, ia berhasil melawan ketakutannya itu sendiri. Keberanian yang lama ia pendam, entah dengan cara apa mampu dimunculkannya. Ia tak lagi terkungkung dalam ketakutannya. Mungkin pula, keberanian itu muncul dengan mencicilnya lewat perlawanan sedikit demi sedikit. Ia memutuskan melawan traumanya itu dengan menghadapinya langsung, bukan menghindarinya. Beberapa kali saya pernah menyaksikannya mengendarai motor meskipun masih dalam kondisi "mudah terkejut"nya. Meski masih sesekali terjatuh karena latahnya, ia tetap bertekad melawan ketakutannya itu. Alhasil, kini ia mahir mengendarai motor tanpa dihantui rasa trauma masa silam.

Ketakutan telah dihadapinya. Dan itulah sebentuk keberanian yang sesungguhnya dimiliki oleh tiap manusia. Butuh tekad untuk menghadapinya. Saya sependapat dengan pendapat di atas bahwa keberanian pada hakikatnya adalah kesanggupan melawan ketakutan kita. Apapun yang menjadi ketakutan kita, tentu butuh keberanian untuk menghadapinya. Ketakutan itu adalah hal wajar. Semua manusia pun dianugerahi Tuhan rasa takut. Namun, manusia juga diberi akal agar mampu melawan rasa takut itu. Setiap manusia punya kekuasaan atas ketakutannya. Ia berkuasa, apakah akan menentangnya atau membiarkannya dan menjalar menjadi ketakutan-ketakutan lain. Semakin banyak ketakutan tercipta, butuh keberanian semakin besar.

"Saya takut......"

"Ah, ini sudah biasa kok?!"

--Imam Rahmanto--