Jumat, 12 Oktober 2012

Semua Membicarakannya

Polisi usai mengamankan tawuran yang berlangsung. (Khaerul-Profesi)

Sepanjang jalan, saya mendengar cerita-cerita yang digelar bertitik pada kampus saya. Tua-muda, pelajar-mahasiswa ramai-ramai membahas berita yang baru 24 jam yang lalu masih hangat-hangatnya. Bahkan, atmosfer kelanjutannya masih bisa saya rasakan hingga sekarang. Beberapa telepon masuk juga menginstruksikan untuk segera meliput kelanjutannya.

Lagi, kampus saya menjadi bulan-bulanan media yang haus akan bad news. Baru-baru saja terjadi tawuran antar fakultas yang menyebabkan kerusakan gedung, motor, sampai dua mahasiswa yang meregang nyawa. Media berlomba-lomba untuk menayangkan berita yang paling "mengerikan", tanpa berpikir berita yang mereka turunkan akan menggores pencitraan Makassar dan mahasiswa khususnya. Yang dirugikan kemudian adalah mahasiswa-mahasiswa seperti kami, yang akan masuk daftar antrian blacklist sejumlah institusi di luar Makassar. Miris.

Setibanya saya di kost, nyaris saja saya dicecar banyak pertanyaan oleh tetangga-tetangga kamar. Akan tetapi, kebanyakan ternyata sudah mengonsumsi kabar-kabar yang disiarkan live di layar kaca. Mungkin, bahkan beberapa opini dan "rutukan" otomatis sudah terbentuk di kepala masing-masing. Dan, sekali lagi, bisa saja kabar-kabar yang dihadirkan oleh televisi itu tidak sepenuhnya benar, karena mereka kan dituntut untuk menghadirkan "berita cepat saji". Soal ketepatan adalah urusan belakangan, yang terpentinh adalah kecepatan.

Buat yang hanya menyaksikan kondisi Makassar dari layar televisi, jangan menelan bulat-bulat pemberitaan yang ada. Apalagi jika dalam beritanya itu sudah disisipi opini-opini sepihak oleh medianya. Ada baiknya jika mencari tahu sendiri beritanya secara langsung. Atau, paling tidak mengikuti beritanya dari media kampus bersangkutan. Wuih, promo! 

Jika kita menaksir status-status di jejaring sosial hari ini, maka sebagian besar topik pembicaraannya adalah mengenai tawuran di kampus saya. Jika kita browsing di internet dengan kata kunci "tawuran UNM", maka dipastikan kejadian kemarin menjadi urutan teratas. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Ckckck... Saran buat yang punya facebook, tidak usah ikut terlalu menghebohkan dunia maya dengan update status-status yang semakin mencoreng label kita sebagai mahasiswa Makassar. Ingat, semakin kita mengutuk perilaku teman kita sesama mahasiswa Makassar, otomatis media bakalan membenarkan perihal "kekasaran" dan "kekerasan" di Makassar.

Semestinya tawuran di kampus Orange dua tahun ini nyaris bisa diredam. Ospek yang (katanya) disinyalir menjadi sumber kekerasan sudah ditiadakan. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa baru cenderung dimanjakan oleh pihak rektorat. Tapi, toh kenyataannya kejadian yang sama terulang lagi, bahkan dengan dampak yang jauh lebih parah. Dua korban jiwa! Dua korban jiwa! Jika sudah seperti ini, mau solusi apa lagi? Apa harus semua fakultas dipisahkan?

Saya hanya berharap, semoga kekerasan generasi muda seperti ini bisa segera teratasi. Kita tentunya tidak ingin lagi melihat tangis air mata dari keluarga korban kekerasan. Ketika mereka membanggakan anak-anaknya kuliah dengan harapan segudang prestasi, namun ternyata dipulangkan dengan tak lagi bisa menggenggam barang selembar kertas. Pun, ucapan menyesal tak bisa lagi tersampaikan. Yang tersisa hanyalah harapan bisa memutar kembali kejadian silam. Lagi-lagi kita butuh mesin waktu....

____________________________________
"Halo?"
 "Imam, cepat suruh anggotamu meliput ke Seni. Katanya ada.............."

Saya masih harus menyelesaikan cerita tragis kejadian kemarin, sekaligus menjadi tugas kami untuk meluruskan berita-berita yang diturunkan media-media di luar Makassar. Move on!


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar