Kamis, 18 Oktober 2012

Memilih atau Dipilih

“Memilih adalah pekerjaan yang sangat sulit. Namun, sadarkah kalian, jika mempertahankan sesuatu yang telah kita pilih sedari awal itu jauh lebih sulit,”
 
Sering saya dipusingkan oleh beberapa pilihan (mungkin, hidup). Untuk memilih dari sekian banyak saja, terkadang saya mesti menyisihkan waktu yang jauh lebih banyak. Akan tetapi, pada kenyataannya, mempertahankan apa yang menjadi pilihan saya itulah yang lebih banyak menyita waktu dan perhatian saya. 

Ketika saya memilih salah satunya, toh  saya memutuskan itu yang terbaik. Saya menjalaninya. Saya melakoninya. Saya menikmatinya. Dan saya tetap berusaha berada di atasnya, bertahan dari ombang-ambing “ombak” yang senantiasa menggoyahkan haluan saya. ITULAH BAGIAN TERSULITNYA.
 

Riak kecil, bagi saya, tidak akan mampu menggoyahkan pilihan itu. Saya yang sedari kecil sudah terbiasa menerima riak-riak itu. Sejak kecil, saya diajarkan (atau dipaksakan karena keadaan) untuk menjadi orang yang tidak banyak meminta. Karena saya sendiri pun sadar, tidak banyak sesuatu yang bisa diberikan oleh orang tua saya. Untuk memperolehnya, saya mesti berusaha sendiri. Saya mesti melampaui teman-teman yang selalu dibanding-bandingkan oleh ayah saya.
 

“Jangan pernah membanding-bandingkan manusia, karena masing-masing manusia itu unik,”
 
Akh, saya ingat ketika seorang teman pernah berkata pada saya,
 

“Saya kira ayahmu adalah seorang guru, atau di atasnya malah,”
 

Ia menyangka hidup saya di masa lalu baik-baik saja. Mungkin, sangkaannya itu sekadar melihat saya dari masa sekarang saja. Ia tidak banyak tahu tentang keluarga saya di masa silam. Malah, saya terkadang iri melihat mereka yang sejak kecil sudah menikmati masa-masa harmonis di dalam keluarga mereka. Sebuah keadaan yang sangat saya idamkan…
 

Bukan itu hal terpentingnya. Saya kemudian (lagi-lagi) ditampar keras bahwa harus mensyukuri apa yang telah saya miliki. Tuhan berkata, “Saya menggariskan hidupmu kemarin seperti itu, agar kau punya bekal untuk menghadapi gelombang yang lebih besar di masa sekarang,” Dan saya menghargainya.
 

Membiasakan diri hidup dalam sebuah dinamika, adalah perkara yang bakal menguras banyak tenaga, waktu, dan pikiran. Yakin saja, ada saat-saat dimana kita bakal mengungkapkan kata “menyerah”. Menganggap ucapan itu adalah ucapan yang betul-betul digali dari kedalaman hati. Berpikir lama, bukan sejenak.
 

“Ah, saya menyerah. Saya tidak kuat lagi,” Saya ingin membenci ucapan itu. Tapi, saya sendiri tak punya kuasa untuk menahan orang lain mengungkapkannya. Toh, mempertahankan pilihan itu memang jauh sangat sulit. Dan ketika kita memang terbiasa menjalani hidup dalam lingkaran yang mulus-mulus saja, maka sedikit saja riak datang, mengundang berbagai pertarungan batin dalam hati.
 

Saya kemudian merasa beruntung sempat menyicipi jalan hidup kemarin. Darinya, saya dibuat bermimpi. Darinya pula, saya banyak didorong untuk berusaha jauh lebih baik. Darinya, saya menemukan banyak masalah yang kemudian membuat saya banyak belajar untuk menjadi dewasa. Karena dewasa itu sudah digariskan, tinggal bagaimana cara kita untuk mempertahankannya.
 

“Dalam hidup ini, banyak orang gagal karena tidak menyadari betapa mereka sudah mendekati sukses di saat mereka menyerah.”  *Thomas A. Edison*




 


Memilih apa Dipilih?
Memilih, merepresentasikan sebuah keinginan bebas kita. Tidak ada unsur paksaan ketika kita melakukannya sendiri. Akan tetapi, pada akhirnya kita (seharusnya) bisa mempertahankan pilihan itu.
 

Dipilih? Saya tidak begitu suka itu. Ada kebebasan yang terasa dikekang dan ditahan-tahan. Apa yang menjadi pilihan kita bukan atas dasar kemauan kita. Ada kuasa lain yang memaksa kita untuk menerima saja pilihan itu, dan terpaksa menjalaninya.
 

Yah, bagaimanapun tetap saja mempertahankan pilihan itu yang jauh lebih sulit.
 


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar