Minggu, 28 Oktober 2012

Pemuda Mengubah, dari Diri Sendiri

Oktober 28, 2012

#Di sela-sela acara tivi, saya menyaksikan beberapa selingan tentang peringatan Sumpah Pemuda. Ah ya, saat itu juga, saya baru sadar jikalau hari ini adalah momentum peringatan Sumpah Pemuda.

Saya tidak tahu pasti bagaimana Sumpah Pemuda itu terbentuk atau dibentuk. Sedari mengenyam pendidikan dasar dulu, kita hanya dicekoki dengan pengetahuan 28 Oktober 1928 dan hafalan isi Sumpah Pemuda itu. Seakan-akan itu menjadi pengetahuan wajib bagi pemuda-pemuda di Indonesia.

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Saya heran dengan mereka yang senang sekali memperkeruh suasana di negara sendiri. Berkelahi pun dengan saudara setanah air sendiri. Seringkali mereka mengacuhkan untuk menjadi "satu tanah air". Dalam benak mereka hanyalah fanatisme terhadap kelompok-kelompok atau golongan tertentu. Nampaknya, dalam penglihatan mereka, tidak ada yang dinamakan "satu tanah air". Yang ada hanyalah "satu golongan" atau "satu kelompok".
Sumber: Google search

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

Seandainya kita menjunjung hakikat bangsa kita, maka tidak akan ada lagi orang-orang yang berani merendahkan kita. Di mata dunia, Indonesia tidak akan dianggap remeh, tidak hanya dianggap sebatas ladang pemasukan bagi negara lain.

Malah, anak-anak muda di negeri ini lebih bangga dengan bangsa-bangsa lain yang mungkin jadi idola mereka. Mereka sibuk berangan-angan menjadi orang-orang yang selalu mereka idolakan. Parahnya lagi, saking fanatiknya, apapun yang terjadi pada idolanya itu mereka tetap mengagung-agungkannya. Sungguh, telah terjadi pergeseran fanatisme di negara ini.

Kaum muda, remaja, lebih suka mendengarkan sekaligus mengelu-elukan bintang Korea favorit mereka. Bahkan, mereka tahu luar-dalam mengenai bintang pujaan mereka ketimbang diri mereka sendiri. Mungkin, di balik fanatisme-nya itu, mereka tidak lagi mengenali bangsa sendiri.

Dan lagi, saya miris melihat masih banyaknya bangsa Indonesia yang menjadi "babu" di negara lain...

Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Saya tidak begitu paham bagaimana akar bahasa Indonesia yang baku. Sebagian besar telah disisipi oleh bahasa-bahasa daerah tiap penuturnya. Malah, terkadang muncul anggapan bahwa ke-baku-an itu berpatokan pada bahasa yang digunakan di ibukota Indonesia, Jakarta. Nah, muncul-lah beragam buku yang membawa nilai-nilai bahasa disana yang dianggap "benar" oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Pengaruh media pun sebenarnya sangat besar. Seringkali, bahasa-bahasa Indonesia yang digunakan di layar kaca "dibenarkan" begitu saja oleh penontonnya. Mereka menganggap "benar" semua hal dari televisi. Tanpa tahu, televisi itu berpusat di ibukota dan berakar budaya ibukota.

Ah ya, tidak hanya itu. Kita pun seringkali merasa lebih nyaman menggunakan bahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia. Malah, orang-orang yang menggunakan bahasa Indonesia cenderung dianggap sebagai orang asing. Dan tahu juga kan bahwa mata pelajaran di sekolah yang masih dianggap sulit adalah bahasa Indonesia itu sendiri.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan sebagai pemuda Indonesia. Menjunjung tinggi Sumpah Pemuda bukan berarti melafalkannya dengan lantang di hadapan ratusan orang. Atau membagikan selebaran-selebaran kecil mengenai peringatannya itu sendiri kepada ribuan orang.

Hal seperti itu hanyalah sebagian kecilnya saja. Hal paling mendasar adalah bagaimana cara kita mengubah negara melalui diri kita sendiri terlebih dulu. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak, adalah untuk kepentingan tanah air pula. Bagaimana kita mau mengubah negara jika masih saja larut dalam kepentingan kelompok? Bagaimana kita mau mengubah negara jika kita sendiri dengan mudahnya disusupi oleh kebudayaan dari bangsa-bangsa lain? Bagaimana kita mau mengubah negara jika kita masih menganggap orang-orang berbahasa Indonesia itu asing?

Saya yakin, sebagai pemuda, kita bukan lagi pemula. Kita sudah melalui beberapa tahun hidup menyaksikan segala permasalahan di sekitar kita, atau bahkan di negara sekalipun. Banyak hal yang telah kita lalui. Hal-hal itu akan membangun kedewasaan berpikir, "bagaimana mengubah diri menjadi lebih baik," Pemuda bukan pemula. Pemuda adalah mereka yang berpengalaman hidup mengobarkan semangat perbaikan. Pantang menyerah dan terus bermimpi! Bermimpilah untuk Indonesia yang lebih baik... Dan percayalah hal itu.

Pemuda, mari bangkit mengubah tanah air dan bangsa melalui diri sendiri!! Be Newself!

*Bangun pemuda-pemudi Indonesia.

Lengan baju kau singsingkan untuk negara

Masa yang akan datang, kewajibanmu lah.

Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 27 Oktober 2012

Segalanya Daging

Oktober 27, 2012

Idul Adha, waktunya orang memanen "daging". Dimana-mana, daging. Mungkin, seminggu ini, masyarakat bakal disuguhi dengan aneka hidangan berbahan dasar daging. Tak pelak, berat badan pun bakal naik. Mahasiswa-mahasiswa yang pulang ke kampung halaman diharapkan kembali ke Makassar dengan kenaikan berat badan yang setimpal. Haha...

Di rumah pun sedang bermandikan daging. Daging-daging hasil kurban dibagikan kepada keluarga-keluarga di sekitar wilayah kurban. Sangat sulit jika mencari keluarga miskin di perkampungan seperti ini. Solidaritas yang tinggi menghilangkan istilah-istilah "gelandangan", "fakir-miskin", maupun "pengemis". Sangat kontras dengan kehidupan di kota yang mempertontonkan kesenjangan sosialnya secara terbuka. Di jalan-jalan umum, mudah kita temukan orang-orang yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Seyogyanya, di hari raya qurban ini, mereka tak lagi kelaparan. Paling tidak, mereka punya persediaan untuk beberapa hari ke depannya. Yah, semoga...

Saking banyaknya daging qurban, kami tidak tahu lagi mau di-apa-kan daging tersebut. Kebetulan keluarga saya juga mendapat jatah daging, entah darimana. Yaa, diolah pun agak ribet pasalnya. Di keluarga saya, lontong atau gado-gado selalu menjadi hidangan wajib di kala hari raya. Tidak pernah ibu saya mengolah daging-daging itu menjadi Coto atau Konro, dan sejenisnya. Jadinya, dalam benak saya terbersit sebuah ide.

"Kenapa gak disate saja ya?!"

"Bener juga," Ayah saya mendukung.

Bapak-bapak yang memanggang bahan terakhir. (ImamR)
Jadilah ayah dan anaknya berkolaborasi memanggang sate. Ayah saya yang memotong-motong dagingnya sekaligus melumurinya dengan bumbu. Saya sendiri yang kebagian mengepul-ngepulkan asapnya. Kipas-kipas (pakai tutup ember). Hahaha.... ini nih namanya bereksperimen.

Hasilnya, tak kalah nikmat dari sate Madura. Kalau ini saya kasih nama sate Lamongan. Lha wong, yang motong-motong sampe ngipas-ngipas itu orang Lamongan. Haha... Dipadu dengan bumbu kecap + bawang + cabe, membuat lidah saya rasanya terbakar. Sumpah! Saking pedas olahan bumbunya, membuat saya menitikkan air mata. Bahkan, perut saya mules dibuatnya. Ibu saya hanya tertawa melihatnya. Saya heran, apa satenya yang kurang matang atau bumbunya yang kepedasan ya??

Hmm...suasana seperti ini yang telah lama saya rindukan. Bisa mengakrabkan diri dengan keluarga, apalagi ayah. Melakukan hal-hal bodoh bersama-sama. Berbincang segalanya dengan nada-nada bercanda. Jika saja hal serupa selalu menyambut saya ketika berada di tengah-tengah keluarga, maka saya tentunya bakal selalu merindukan berkumpul bersama keluarga. Ada suasana-suasana mendamaikan disana. Segala tekanan serasa lenyap ketika berkumpul seperti itu. Tiada lagi perasaan dag-dig-dug ketika berhadapan dengan mereka.

Rasanya, mengembalikan semangat untuk kembali ke rutinitas sebelumnya. Toh, alasan utama saya berkumpul bersama keluarga di sela-sela rutinitas itu hanya untuk memperoleh kambali semangat yang biasanya memudar. Harapannya, keakraban di dalam keluarga itu, ketenangan di perkampungan, kesejukan udara dinginnya, dan hujan yang baru-baru saja tumpah (sangat deras) itu kesemuanya bisa memberikan ketenteraman hati. Ketenteraman itulah yang kemudian mengembalikan semangat untuk berani menantang segala tetek-bengek hidup di perkotaan. Rutinitas, ya rutinitas...

#Saya benci mengucapkan kata "sibuk", karena istilah itulah yang selalu membuang segala "kesempatan" bagi saya....


--Imam Rahmanto--


Jumat, 26 Oktober 2012

Anak-anak dan Idul Adha

Oktober 26, 2012
Sumber: jambi.tribunnews.com

"Besok sekolah ya?" tanya seorang anak pada teman di sebelahnya.

Hari ini seluruh umat muslim merayakan Idul Adha dengan menjalankan shalat Ied bersama. Met Idul Adha! Serba putih. Sebagiannya lagi memilih untuk memakai pakaian selain putih, termasuk saya. Gimana ya? Bajunya ya cuma itu. Hehe...

Sebelum khutbah dimulai, saya yang duduk beberapa shaf dari depan menangkap pembicaraan lucu sekelompok anak. Posisi shaf mereka berada tepat di belakang saya.

"Siapa bilang? Besok libur, kok. Sekarang kan lebaran," sanggah anak yang satunya tidak mau kalah.

"Katanya ibu guru. Besok kita sekolah," jawab anak itu lagi.

"Tidak, ah. Libur,"

"Sekolah!"

"Libur!"

"Sekolah!"

"Libur..." tekan yang lainnya.

"Katanya ibu guru--"

"Psssttt!!!!" Seseorang terdengar melerai perdebatan mereka. Sontak, perdebatan itu padam. Namun, masih saja terdengar bisik-bisik halus mereka. "Besok tidak sekolah....masih lebaran,"

Saya hanya tersenyum mendengar perdebatan sengit mereka. Namanya juga anak kecil. Saya pun ketika kecil seperti itu. Wajarlah untuk mereka. Semangat mereka masih begitu banyak dan masih kuat untuk disalurkan terhadap hal-hal sepele.

Lihat saja, mereka masih bisa berlarian untuk memamerkan pakaian-pakaian baru mereka. Tak pelak melompat kegirangan ketika menerima selembar uang THR. Selalu, mereka tak ingin sendirian. Diantara kerumunan orang-orang yang pulang dari Shalat Ied, mereka sahut-menyahut nama teman-temannya. Dan di hari raya ini, sambil tersenyum lucu mengecup salam kedua orang tuanya.

Begitu menyenangkan jika kita bisa kembali merasakan masa-masa itu. Dalam kepala masih belum banyak istilah-istilah sulit yang perlu dipahami. Segala hal yang diucapkan keluar begitu saja, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Orang tua selalu memaklumi segala tindak-tanduk kita. Toh, hal-hal baru selalu membuat kita semakin penasaran. Meskipun butuh mesin waktu untuk mewujudkannya.

Dan di hari raya ini, anak-anak itupun berkeliaran dari rumah ke rumah sekadar icip-icip sajian hari raya. Jika beruntung, mereka bisa pula mendapatkan uang saku sebagai te-ha-er. Aduh, aduh....anak kecil...



--Imam Rahmanto--

Beruntung Tanpa Cappuccino

Oktober 26, 2012

Ah, pagi itu perkiraan jadwal bangun pagi saya lagi-lagi melenceng. Saya yang seharusnya bisa bangun lebih pagi dan mempersiapkan semuanya lebih awal harus tergopoh-gopoh menuju ke terminal Daya, Makassar. Saya memaksa-maksa seorang teman saya untuk mengantarkan dengan motor. Pasalnya, saya baru bangun ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.45. Padahal saya harus menunggu mobil di terminal untuk perjalanan 7 jam ke Enrekang.

Setibanya saya di terminal, sesuai dugaan, mobil-mobil dengan jurusan Enrekang sangat minim. Hal tersebut tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang menunggu di terminal tersebut. Maklum, besoknya mau lebaran. Seraya bersabar, saya mesti menunggu mobil lainnya yang masih kosong.

Wow, menunggunya pun nyatanya sangat lama.

Sambil menunggu, saya mencoba bertanya sana-sini pada calon penumpang lainnya. Saya kemudian menemukan salah satu penumpang dengan tujuan yang sama. Sebagai orang yang mengalami senasib-sepenanggungan, akhirnya kami sama-sama menunggu mobil di terminal itu.

Di samping itu, saya beberapa kali telah belajar untuk mengenal siapa saja dimana saja. Apalagi ketika saya bermaksud untuk melakukan perjalanan (jauh). Dengan memperbanyak teman maupun kenalan bisa jadi akan membantu kita dalam melakukan perjalanan. Entah itu dalam hal materi maupun sekadar teman bicara. Bahkan, mungkin, dia akan menjadi kenalan kita berikutnya. Kalau cewek sih, alhamdulillah...

Menjelang hari raya seperti ini, sudah bisa dipastikan ongkos perjalanan mobil meningkat tajam. Bahkan bisa saja mendekati kelipatan duanya. Segala hal perlu dipersiapkan.

Karena mobil-mobil Panther yang biasanya menjadi alat transportasi kami hingga jam sebelas tidak ada, akhirnya kami memutuskan untuk menumpang di bus "dadakan" yang ada di terminal. Eits, harganya pun melambung. Jika saya menumpang mobil panther hanya membayar 50-60ribu, maka menumpang bus kali ini dikenakan ongkos 80ribu. Astaga! Tapi, ya mau bagaimana lagi. Saya memaksakan diri untuk pulang hari ini. Beruntung, uang saya masih tersisa dikarenakan batal membeli persiapan Cappuccinno (gara-gara telat bangun). Cappuccinno oh cappuccinnoku...

Yap, ternyata Tuhan selalu merencanakan yang terbaik buat hamba-Nya. Saya diabaikan terhadap Cappuccino itu demi menanggung ongkos mobil yang kian mahal. Haha... :P

Met Idul Adha 1433 H!!


--Imam Rahmanto--

Home Sweet Home

Oktober 26, 2012

Saya harus pulang, saya harus pulang...

Begitu sugesti saya setiap mengingat tanggal 26 adalah hari raya Idul Adha. Tidak ada lagi kesempatan saya berkumpul bersama keluarga selain saat-saat libur seperti itu. Meskipun liburnya pun hanya 2-3 hari. Beberapa rutinitas di kota besar ini sedikit memaksa saya untuk melupakan segalanya. Ya, segalanya.

Menghabiskan lebih dari seminggu (Jawa) berkumpul bersama keluarga membuat saya sadar akan pentingnya arti sebuah keluarga.

Lama juga saya tidak pulang ke Enrekang, daerah domisili kedua orang tua saya. Yah, meskipun sebenarnya saya bukan orang yang asli berasal dari sana. Hanya saja, kedua orang tua, yaaa ada disana.

Oh iya, saya sendiri kemudian bingung. Sebenarnya saya termasuk orang darimana? Saya mau mengaku orang Enrekang, toh kedua orang tua saya Jawa tulen. Saya mau bilang orang Jawa, lah saya sendiri dilahirkan di Enrekang. Haha....jadi gak mudeng deh....

Akan tetapi, bagi saya, kampung halaman adalah tempat dimana orang tua saya berada.

Terlepas dari itu, saya suka dengan lingkungan disana. Udaranya yang dingin selalu saja menjadi hal yang saya rindukan. Masyarakatnya yang ramah dan saling mengenal. Penuh gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan. Senang berbagi pula.

Ditambah lagi, di masa-masa hari raya seperti ini bakal banyak makanan yang bertebaran di rumah. Hehe....

Meskipun hanya sementara waktu, setidaknya saya bisa melepas segala pikiran ruwet saya di tengah-tengah keluarga. Terkadang, se-kaku apapun keluarga itu, sejelek apapun rumah tempat tinggal, tetap saja ada yang selalu dirindukan. Karena mungkin seperti itulah namanya Home Sweet Home...


--Imam Rahmanto--


Sabtu, 20 Oktober 2012

Aku dan Segelas Cappuccino

Oktober 20, 2012

"Nice moment," Aku berkata pelan seraya menyeruput minumanku. Hangat. Harganya memang tidak sebanding dengan sajian di kafe-kafe yang selama ini jadi ritual kunjunganku. Cappuccino ini hanya sebatas seduhan sachet di pinggir-pinggir jalan. Akan tetapi, kualitas momen inilah yang sangat aku rindukan. Suasana-suasana yang membebaskan dari rutinitas keseharianku.

Waktu menjelang tengah malam, aku tak pernah menyangka masih banyak orang-orang yang berkumpul di depan Benteng Rotterdam. Tua-muda, laki-laki-perempuan menempati masing-masing kursi yang disediakan oleh warung-warung terbuka di sepanjang jalan. Sebagiannya lagi masih kosong. Tidak jelas apa yang diperbincangkan oleh mereka. Suara musik yang disetel para penjual beradu memecah suara-suara mereka dan mengusir kesunyian di depan benteng kebanggaan kota Makassar ini.

"Makanya tiap harinya jangan cuma seputar kost-kampuus terus. Sekali-kali ke tempat-tempat seperti ini kan asyik," tutur Haru. Ia sejak tadi ternyata memperhatikan gerak-gerikku yang sibuk mengamati sekeliling. Ia tahu betul, aku tak pernah berkunjung ke tempat ini setiap malam. Dan dialah yang memutuskan untuk mengajakku malam ini.

"Aku pikir, umm....mungkin kamu mau jalan-jalan keluar malam ini,"

"Aku bingung sendiri melihatmu mengurung diri di dalam kamar beberapa minggu ini-,"

"Namanya juga tugas kuliah. Tau dosen ngasihnya kebanyakan. Bikin tiap malam harus begadang menyelesaikannya," potongku.

Haru terdiam. Ia lalu menyeruput minumannya.

Ia kemudian banyak mengajakku bercerita. Darinya, aku semakin yakin tentang hidupnya yang selama ini ternyata begitu bahagia, dalam ukuran keluarga. Ia dibesarkan dalam keluarga yang benar-benar tenteram. Orang tuanya betul-betul mengerti bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Selain guru, bagi Haru, orang tuanya adalah motivator andalannya. Pantas saja, aku melihat keseharian Haru yang sangat jarang membelitkan dirinya dalam sebuah masalah.

Rutinitasnya sebenarnya tidak jauh beda denganku. Kuliah di universitas yang sama. Ngekos di pondokan yang sama. Namun, untuk menutupi kebutuhanku, aku mesti mencari pemasukan tambahan di luar uang kirimanku tiap bulan. Haru? Ah, dia tidak pernah pusing soal kebutuhan hidup. Ia berkecukupan. Terkadang malah ia berbaik hati membagi makanannya denganku. Temanku satu ini mengerti tentangku. Bahkan, mungkin tentang hidupku. Aku tak pernah sungkan jika harus bercerita padanya.

Oleh karena itu, ia mafhum jika semester lalu aku abai terhadap beberapa rutinitas kuliahku hanya gara-gara waktu yang tidak relevan dengan pekerjaan paruh waktuku.

"Aku masih agak sulit beradaptasi dengan kondisiku sekarang. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa menyesuaikan kembali ritme kuliahku yang dulu sempat terabaikan," Aku menghela napas.

"Pelan-pelan saja dulu. Lagipula aku percaya, kamu pasti bisa. Hanya soal kehadiran saja yang selama ini menghalangimu,"

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Minuman di tanganku masih mengepul-ngepulkan asap halus. Pertanda hangatnya lekas menyatu dengan udara di sekitarku.

"Nah, bersantai seperti ini yang rasa-rasanya bisa melepaskan beban masalah. Kita menyaksikan orang-orang di sekitar kita bercengkerama, melepas senyum, tertawa tanpa ada kerut-kerut masalah di wajahnya. Kita yang menyatu di tengah-tengah mereka tentunya tidak ingin juga menampilkan wajah-wajah berkeluh kesah kita, bukan? Maka dengan terpaksa namun menyenangkan tentunya, kita ikut larut dalam aura-aura kehangatan seperti ini," ujar Haru.

"Terima kasih telah mengajakku kemari. Aku senang menghabiskan waktu seperti ini. Menyaksikannya saja, aku merasa damai,"

"Tentu saja. Seperti ketika kau menyeruput Cappuccino kesayanganmu, kan?"

Aku mengangguk-angguk. Tanganku tetap memegang gelas yang belum melepaskan kehangatannya. Riuh pengunjung lain masih mewarnai suasana malam ini.

"Iya, benar. Apalagi ketika aku menjalani kegemaranku menulis. Rasanya, ada banyak hal yang kemudian merasukiku untuk kemudian dituliskan,"

Haru juga tahu, aku banyak menghabiskan waktuku di malam hari untuk menulis. Tak jarang malah ia menawarkan sebuah cerita padaku untuk ditulis. "Terserah bagaimana jalan ceritanya yang akan kau buat," katanya. Kata orang, itu tak ada gunanya. Akan tetapi, kepentinganku menulis hanya karena ingin membekukan waktu beserta kejadian-kejadiannya itu dalam sebuah tulisan.

"Oh iya, kenapa tidak kamu coba untuk bergabung dengan salah satu lembaga penulisan di kampus kita? Jurnalistik mungkin?" Ia mengusulkan.

Aku mengerutkan keningku.

"Dari sana kamu mungkin bisa belajar menuliskan sejarah..."

Aku menghentikan mulutku yang nyaris menyentuh bibir gelas. Berpikir sejenak. Pandanganku berganti menatap ke arahnya. Sesuatu terlintas di kepalaku. Voila!




Makassar, 20 Oktober 2012
--Imam Rahmanto--


Kamis, 18 Oktober 2012

Memilih atau Dipilih

Oktober 18, 2012
“Memilih adalah pekerjaan yang sangat sulit. Namun, sadarkah kalian, jika mempertahankan sesuatu yang telah kita pilih sedari awal itu jauh lebih sulit,”
 
Sering saya dipusingkan oleh beberapa pilihan (mungkin, hidup). Untuk memilih dari sekian banyak saja, terkadang saya mesti menyisihkan waktu yang jauh lebih banyak. Akan tetapi, pada kenyataannya, mempertahankan apa yang menjadi pilihan saya itulah yang lebih banyak menyita waktu dan perhatian saya. 

Ketika saya memilih salah satunya, toh  saya memutuskan itu yang terbaik. Saya menjalaninya. Saya melakoninya. Saya menikmatinya. Dan saya tetap berusaha berada di atasnya, bertahan dari ombang-ambing “ombak” yang senantiasa menggoyahkan haluan saya. ITULAH BAGIAN TERSULITNYA.
 

Riak kecil, bagi saya, tidak akan mampu menggoyahkan pilihan itu. Saya yang sedari kecil sudah terbiasa menerima riak-riak itu. Sejak kecil, saya diajarkan (atau dipaksakan karena keadaan) untuk menjadi orang yang tidak banyak meminta. Karena saya sendiri pun sadar, tidak banyak sesuatu yang bisa diberikan oleh orang tua saya. Untuk memperolehnya, saya mesti berusaha sendiri. Saya mesti melampaui teman-teman yang selalu dibanding-bandingkan oleh ayah saya.
 

“Jangan pernah membanding-bandingkan manusia, karena masing-masing manusia itu unik,”
 
Akh, saya ingat ketika seorang teman pernah berkata pada saya,
 

“Saya kira ayahmu adalah seorang guru, atau di atasnya malah,”
 

Ia menyangka hidup saya di masa lalu baik-baik saja. Mungkin, sangkaannya itu sekadar melihat saya dari masa sekarang saja. Ia tidak banyak tahu tentang keluarga saya di masa silam. Malah, saya terkadang iri melihat mereka yang sejak kecil sudah menikmati masa-masa harmonis di dalam keluarga mereka. Sebuah keadaan yang sangat saya idamkan…
 

Bukan itu hal terpentingnya. Saya kemudian (lagi-lagi) ditampar keras bahwa harus mensyukuri apa yang telah saya miliki. Tuhan berkata, “Saya menggariskan hidupmu kemarin seperti itu, agar kau punya bekal untuk menghadapi gelombang yang lebih besar di masa sekarang,” Dan saya menghargainya.
 

Membiasakan diri hidup dalam sebuah dinamika, adalah perkara yang bakal menguras banyak tenaga, waktu, dan pikiran. Yakin saja, ada saat-saat dimana kita bakal mengungkapkan kata “menyerah”. Menganggap ucapan itu adalah ucapan yang betul-betul digali dari kedalaman hati. Berpikir lama, bukan sejenak.
 

“Ah, saya menyerah. Saya tidak kuat lagi,” Saya ingin membenci ucapan itu. Tapi, saya sendiri tak punya kuasa untuk menahan orang lain mengungkapkannya. Toh, mempertahankan pilihan itu memang jauh sangat sulit. Dan ketika kita memang terbiasa menjalani hidup dalam lingkaran yang mulus-mulus saja, maka sedikit saja riak datang, mengundang berbagai pertarungan batin dalam hati.
 

Saya kemudian merasa beruntung sempat menyicipi jalan hidup kemarin. Darinya, saya dibuat bermimpi. Darinya pula, saya banyak didorong untuk berusaha jauh lebih baik. Darinya, saya menemukan banyak masalah yang kemudian membuat saya banyak belajar untuk menjadi dewasa. Karena dewasa itu sudah digariskan, tinggal bagaimana cara kita untuk mempertahankannya.
 

“Dalam hidup ini, banyak orang gagal karena tidak menyadari betapa mereka sudah mendekati sukses di saat mereka menyerah.”  *Thomas A. Edison*




 


Memilih apa Dipilih?
Memilih, merepresentasikan sebuah keinginan bebas kita. Tidak ada unsur paksaan ketika kita melakukannya sendiri. Akan tetapi, pada akhirnya kita (seharusnya) bisa mempertahankan pilihan itu.
 

Dipilih? Saya tidak begitu suka itu. Ada kebebasan yang terasa dikekang dan ditahan-tahan. Apa yang menjadi pilihan kita bukan atas dasar kemauan kita. Ada kuasa lain yang memaksa kita untuk menerima saja pilihan itu, dan terpaksa menjalaninya.
 

Yah, bagaimanapun tetap saja mempertahankan pilihan itu yang jauh lebih sulit.
 


--Imam Rahmanto--

Senin, 15 Oktober 2012

Sesal yang Tertinggal

Oktober 15, 2012
Ilustrated by ImamR & Rizky


Ia menutup teleponnya. Lega. Keadaan anaknya di seberang sana baik-baik saja, seperti yang diharapkannya. Selalu diharapkannya.

Ia menghela napas sebentar.

“Bagaimana keadaan Bias?” tanya istrinya.

“Tenang saja, Bu. Bias baik-baik saja, kok,” ucapnya enteng, meskipun tetap saja ada sedikit kekhawatiran tergurat di wajahnya.

Kabar yang baru saja disaksikannya dari televisi nyaris membuatnya tak bisa bernapas. Sejak siang ia sudah terpaku di depan layar kaca sembari terus memantau perkembangan situasi di Makassar. Beragam media berlomba-lomba menayangkan informasi paling "panas" agar ratingnya semakin meningkat. Memenuhi hasrat setiap orang tua yang cemas akan keadaan anaknya yang bisa jadi terlibat dalam kejadian itu.

Miris. Kota besar itu kembali bergolak. Dunia pendidikan tinggi seakan dicoreng dengan peristiwa menyedihkan itu. Ketika kota itu nyaris membersihkan namanya dari segala tuduhan blacklist, beruntun masyarakat kembali menghujatnya. Tak jarang, berbagai komentar miring dijatuhkan oleh orang-orang dari luar Sulawesi. Rutukan, kecaman, kritikan menjadi bahasa lumrah menyangkut kota dimana anaknya melanjutkan pendidikan tinggi itu. Wajar, jika ia pun kemudian harus memantau kondisi anaknya via telepon.

Basir mencemaskan anaknya. Jantungnya seakan berdetak lebih kencang ketika tahu kampus yang ditempati anaknya terlibat dalam tawuran antar-mahasiswa. Berkali-kali ia mematut-matut layar kaca, detail, mencari kalau-kalau anaknya tertangkap kamera ikut dalam aksi ricuh itu. Beruntung baginya,  anaknya tidak terlihat sekalipun menenteng-nenteng senjata atau semacamnya disana. Terlebih ia sudah memastikan hal itu melalui telepon.

Dirinya tahu, Bias sudah dewasa. Ia bukan lagi anak kecil yang harus selalu diingatkan tentang baik atau buruk. Waktu telah lama berlalu. Waktu, yang kata orang bakal semakin mendewasakan anak semata wayangnya. Kata orang, yang takkan pernah berbalik barang sedetik pun, meskipun sesal menyeruak melesak ke dalam hati.

Sesal itu, pernah dirasakannya. Hingga kini, masih membekas jelas dan lebih dalam ketimbang badik yang selalu dihunuskannya ketika muda dulu.

“Aku cuma tak ingin anak kita mengulang kesalahanku yang dulu,” tuturnya pelan yang disambut oleh dekapan hangat istrinya.

*****

Semua orang segan kepadanya. Tidak seorang pun yang bakal sembarang berucap padanya, baik junior maupun sesama temannya. Selalu saja, berbicara dengannya harus berhati-hati. Wataknya yang keras begitu ditakuti oleh mahasiswa-mahasiswa seantero jurusannya. Apalagi dengan penampilannya yang selalu mengantongi pisau kecil yang tak segan-segan diacungkannya kepada siapa saja. Disanalah masa ketika ia masih duduk dan rajin mengerjakan tugas kuliah. Tak lewat selembar pun paper yang dikumpulkannya. Kontradiktif? Memang, karena seperti itulah seorang Basir di masa mudanya dulu.

"Serbu!!!" seruan yang selalu dikumandangkannya ketika terjadi kericuhan di kampusnya. Persoalan sepele teman sekampusnya bisa menjadi persoalan runyam antar-kelompok. Baginya, solidaritas sesama mahasiswa begitu dijunjungnya. Ia tidak sadar, betapa kontradiktifnya solidaritas yang ia pegang dengan perbedaan baik dan salah di mata realitas. Namun, itulah yang didapatkannya dari beberapa doktrin-doktrin di kampusnya. Entah dari siapa.

Semangatnya selalu berkobar ketika menjelang aksi kericuhan yang berkobar di kampusnya. Nafsu untuk mengalahkan lawan selalu menjadi hasrat utama untuk menenteng-nenteng badik yang dibelinya sendiri. Diacung-acungkannya seraya mengucapkan, "Maju, maju!". Tak jarang ia menghindari beberapa lemparan batu yang mengarah kepadanya.

Berulang kali, sahabatnya Abi mengingatkan akan perangainya itu. Namun ia tak pernah peduli. Ia hanya peduli pada Abi yang selalu menjadi teman sepermainannya. Ia hanya peduli perihal Abi yang selalu membangunkannya tiap pagi. Ia juga hanya ingin bertanya tentang Abi yang selalu mengajarkannya mata-mata kuliah tertentu. Wajar, jika kemudian Basir termasuk mehasiswa yang diperhitungkan dosen di dalam kelasnya.

"Sudahlah, Basir. Untuk apa kau juga selalu ikut dengan senior-seniormu itu ricuh? Biarkan saja mereka melakukan tugasnya itu. Kamu, ya tetap kuliah saja, tanpa tawur," nasehat Abi suatu waktu.

"Bukan begitu, Bi. Namanya juga membela diri. Kalau fakultasku diserang, masak aku cuma mau berdiam diri saja. Melarikan diri?" enteng basir menjawabnya. Ia memang dikenal Abi dengan keberaniannya. Namun, terkadang Abi merasa keberaniannya itu kelewat batas.

"Kamu sih enak. Kalau ada tawuran langsung bisa melarikan diri, tanpa ketahuan senior. Aku sih ndak mau lari gitu," lanjut Basir.

"Namanya juga kita cari aman. Apalagi kedua fakultas kita yang paling sering kena ricuh. Ntar kalau seandainya aku ketemu kamu, mau apa coba?"

Basir terdiam. Ada sedikit keraguan dalam hatinya ketika membayangkan hal itu. Ia tak pernah bisa membayangkan jikalau ia harus bertikai dengan sahabatnya itu. Tak sedikit pun keinginannya untuk melukai sahabatnya, meski barang segores pun.

Dead air. Suasana diantara keduanya mendadak hening. Ia tak menyangka Abi akan menanyakan hal itu.

Hingga tiba hari itu. Ketika pertikaian di kampusnya pecah, memuncak. Kedua fakultas saling menyerbu. Mereka saling membalas. Lemparan batu tak pelak lagi mewarnai seruan-seruan sumpah menyerapah. Udara jauh lebih panas dari biasanya.

Jauh di depannya, diantara kerumunan lawannya, Basir melihat wajah yang tak asing baginya. Lekat, ia mengamati.

Abi turut dalam aksi-aksi serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Namun, Abi tak banyak berbuat apa-apa. Bak seorang penggembira saja, ia tak mempersenjatai dirinya dengan benda-benda apapun.

“Bodoh. Kenapa dia tidak memegang senjata..,” ujar Basir pelan. Jelas dalam tekanan suaranya, ia mengkhawatirkan sahabatnya itu.

Pandangannya kemudian dialihkan oleh beberapa lemparan batu yang nyaris melukainya. Ia menghindarinya satu-persatu sambil tetap mengacung-acungkan badik di tangannya. Bahkan, diantara lemparan itu, nyaris saja mukanya terkena bom molotov.

Seraya menghindari serangan-serangan itu, ia membiarkan teman-temannya merangsek menyerbu kawanan lawannya itu. Ia masih saja mencuri-curi pandang memastikan sahabatnya itu baik-baik saja di seberang sana. Nihil, ia tak menemukan barang seinci pun batang hidungnya.

Ketika kelompoknya kembali, terdesak oleh lawan-lawannya yang dipersenjatai pula dengan batu dan golok, ia kemudian menyarungkan badiknya. Berganti dengan busur yang sedari awal telah dipersiapkannya. Ada banyak persediaan anak panah untuk memuaskan hassrat menyerangnya kini. Apatah lagi, anak panahnya telah dilumurinya dengan racun. Ia menjamin, setiap orang yang terkena anak panahnya bakal lumpuh atau mampus sekalian.

Sesaat, ternyata hasrat untuk menang menguasai dirinya.

“Syuuut!!” anak panahnya melesat jauh ke depan. Ia menembakkannya membabi-buta ke arah musuh-musuhnya. Namun, ia pun harus menghindari beberapa anak panah yang ditujukan ke arahnya.

Seorang temannya terkena anak panah. Temannya meringis kesakitan. Ia tak peduli. Malah semakin membabi buta melontarkan “peluru” panahnya hingga habis ke penjuru musuhnya. Beberapa musuhnya menghindar dan menghunuskan badik ke arahnya. Menganggapnya sebagai orang yang paling diburu.

“Dorr!!” Tembakannya berhenti digantikan oleh suara letusan senjata api. Suara itu membahana beberapa kali. Memekakkan telinga mahasiswa-mahasiswa yang menonton pertikaian itu. Kampusnya kedatangan polisi. Aparat keamanan segera merangsek masuk ke tengah-tengah mereka, mencoba menghentikan tawuran yang sedang terjadi.

Tanpa dikomando lagi, mahasiswa-mahasiswa berlarian kesana kemari. Mereka kocar-kacir menghindar dari kejaran polisi. Basir berlari dengan tetap meneteng badik di pinggangnya.

“Cepat! Cepat!” Teman-teman sejurusannya saling meneriaki.

Mendadak, langkah Basir terhenti. Dari jauh, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dibopong oleh beberapa mahasiswa yang berlari-lari kecil. Dari kepalanya, darah mengucur deras. Dan dari kepalanya pula, ia melihat sebatang anak panah menancap tepat di keningnya.

Basir tak bergerak. Tetap saja terpaku melihat anak itu dari kejauhan. Merasakan matanya mulai berkaca-kaca. Panas. Sedikit lagi membanjiri pipinya.

“Basir! Ayo cepat!” seorang teman menariknya menjauh dari medan pertempuran. Meski ia menolak, temannya itu menariknya agak kasar. Ia sebenarnya heran pula melihat Basir yang selama ini dikenalnya pemberani tiba-tiba meneteskan air mata entah karena apa. Yang terpenting harus dilakukannya sekarang adalah menarik Basir menjauh dari kejaran polisi.

Basir menurut saja. Dalam batinnya, ia lirih berdoa, “Abi, semoga kau baik-baik saja...”

Hanya saja, harapan hanyalah sebuah permintaan yang takkan pernah diketahui absolut kepastiannya. Manusia hanya sebatas meminta, kemudian Tuhan yang bakal menentukan untuk mewujudkan atau menunda harapan itu.

Seperti ketika seminggu kemudian, Basir terduduk lemas di depan pusara Abi. Wajahnya sayu. Ia membenamkan wajahnya yang dibanjiri air mata pada gundukan tanah di hadapannya. Hampir sejam lamanya ia menangis disana. Hanya seorang diri. Keluarga, sanak saudara, dan teman-teman Abi telah usai melayatnya lima hari yang lalu. Ia baru berani menyekar seminggu kemudian. Rasa sesal begitu menggerogotinya semenjak kejadian tawuran itu. Ia merasakan sesak di dadanya.

Di atas sesal itu, entah untuk siapa ia menangis, apakah untuk kebodohannya atau untuk sahabat yang meninggalkannya. Ia sadar,  baru mengenal arti kehilangan. Sungguh sakit baginya. Apalagi ketika ia sendiri yang menyebabkan kehilangan itu.

*****

Ia menutup teleponnya. Lega. Keadaan ayahnya di seberang sana baik-baik saja, seperti yang diharapkannya. Selalu diharapkannya.

Ia menghela napas sebentar. Berat.

Ayahnya baru saja menelepon, bertanya tentang keadaannya sekarang. Ia tahu, kondisi terkini kampusnya yang sedang ricuh menyebar begitu cepat bak roket. Sejak tadi, ia melihat mobil-mobil media beserta awak-awaknya lalu-lalang sembari berlindung di barisan polisi. Kampusnya kini menjadi trending topic di kalangan media.

Napasnya berat. Seakan paru-parunya penuh sesak oleh sesuatu. Bukan oleh asap rokok yang selalu dihisapnya selama ini. Bukan pula oleh pikiran-pikiran kusut akan tugasnya yang menumpuk belum dikerjakan sejak kemarin. Ada sesal di dadanya. Sesuatu itu membelusak masuk merongrongnya dari dalam.

"Ayah, ibu...maafkan anakmu ini..." lirihnya dalam hati.

Matanya berkaca-kaca. Sedikit lagi, air mata itu nyaris tumpah. Namun ia menahannya. Lebih kuat. Semakin kuat. Seerat genggamannya pada badik di tangannya...

Dan darah masih mengucur dari lengan kirinya...




Makassar, 15 Oktober 2012

--Imam Rahmanto--




Minggu, 14 Oktober 2012

Cappuccino dalam Gelas

Oktober 14, 2012
Sumber: Google Search

Saya lebih senang ketika menikmati minuman panas, Cappuccino dengan menggunakan gelas kaca. Beberapa kali saya menikmatinya dari gelas-gelas plastik, baru benar-benar terasa perbedaan diantara keduanya.

Menikmati minuman panas melalui gelas kaca, memberi efek originalitas aroma yang jauh lebih baik ketimbang dari gelas plastik. Aroma minuman bakal lebih terasa dan suhunya pun lebih terjaga.

Berbeda ketika menyeduh minuman melalui gelas plastik, yang sebenarnya juga dilarang dalam kesehatan. Aroma minuman bakal tercampur dengan sedikit bau plastik akibat air panas yang menimpa plastik. Setebal apapun plastik, tetap saja sedikit mengurangi aroma asli dari minuman panas itu. Makanya tidak heran jika banyak ditemukan kafe-kafe atau warung kopi yang menyajikan minumannya dengan gelas-gelas kaca ataupun gelas porselen.

Setahu saya, hal-hal demikian juga bisa dijelaskan secara Fisika, kan?

Sebagai seorang Cappuccino lover, tentu saya agak sensitif dengan hal-hal seperti itu. Menyeruput minuman sambil menikmati aromanya bisa mendatangkan ide-ide segar bagi saya. Semakin nikmat, semakin mudah memikirkan ide-ide itu. Mungkin, agak mirip dengan efek yang dihasilkan oleh para pecandu rokok - tidak bisa berpikir keras tanpa menikmati satu batang rokok.

Yah, bagi saya, apapun makanannya, minumannya Cappuccino....

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 13 Oktober 2012

Meminta = Ikhlas Menerima

Oktober 13, 2012
Sumber: Google Search

"Imam?" (tatapan tak percaya)

"Kamu sudah tinggi ya...?" (masih dengan tatapan yang sama, berusaha mencerna ingatannya baik-baik).

Sekian lama saya tidak berjumpa dengan teman-teman SMA, membuat saya agak lupa dengan raut wajah masing-masing. Terkadang saya menemukan teman-teman yang perawakannya sangat jauh berbeda ketika sekolah dulu. Ada pula yang dari remaja hingga dewasa sikap dan wajahnya tidak berubah sama sekali.

Termasuk salah satu sapaan di atas, yang selalu saja dilontarkan pada saya. Nyaris semua teman lama (ataupun sekadar kenalan lama) yang saya jumpai melontarkan pernyataan pembuka yang serupa. Saya cukup menanggapinya bebas.

Maklum jika seruan-seruan kaget seperti itu sering saya temui dari teman-teman lama. Beberapa dari mereka malah lebih memilih untuk tidak percaya akan perkembangan "pesat" yang terjadi pada saya. Bahkan, saya disebut-sebut memakai obat-obatan untuk meninggikan badan. Hahaha.... Come on! It's me! The real me!

Memang, saya yang sejak duduk di sekolah dasar hingga beranjak SMA dulu tergolong siswa paling kecil diantara teman-teman yang lainnya. Tidak jarang loh teman-teman melabeli saya dengan "si kecil" karena pertumbuhan saya yang mungkin agak terlambat. Karena ada sedikit prestasi yang bisa saya raih, mungkin agak memberikan saya sedikit tameng dari ruang olok-olokan yang jauh lebih ekstrem. Kecil-kecil cabe rawit.

Jikalau bukan karena saya adalah wakil ketua kelas di masa SMA dulu, maka tidak mungkin saya bakal berdiri dengan leluasanya di barisan agak depan ketika apel senin. Atau mungkin teman-teman saya saja yang memang lebih suka untuk berdiri di barisan belakang agar bisa bersantai di sela-sela upacara. (_-") Makanya saya selalu dipinta di depan. Hmm...

SMP, cari tuh anak yang paling kecil. (Dok. Pribadi)
Ketika agustusan tiba, semua sekolah di kabupaten saya ikut meramaikan perayaan HUT Proklamasi dengan berpartisipasi dalam beberapa event perlombaan, termasuk lomba gerak jalan. Malang, saya lagi-lagi harus bersabar "diselipkan" dalam tim gerak jalan yang dikhususkan buat siswa-siswa yang berpostur tubuh kecil. Ckck...nasib, nasib.... Saya merasa lebih beruntung ketika beranjak semester akhir, diikutkan sebagai tim gerak jalan Pramuka dari sekolah saya. Meskipun saya lagi-lagi harus rela menempati posisi barisan paling di belakang, setidaknya tim gerak jalan saya bukanlah yang berlabel "tempatnya siswa-siswa kecil".

Pernah suatu kali (sebenarnya sering kali), ibu saya berbincang dengan salah satu pelanggannya.

"Mbak, Imam sekarang kelas berapa?" tanya ibu itu bersemangat.

"O, kelas dua, Bu," jawab ibu saya ringan.

"O, kelas dua SMP ya?" ujar ibu itu kemudian memperjelas pernyataan ibuku. Hah? Padahal yang dimaksudkan ibu saya adalah kelas dua SMA! Percakapan selanjutnya tentu sudah bisa ditebak, ketika ibu saya berusaha memperjelas pernyataannya yang kemudian menimbulkan "efek" rasa tak percaya dari ibu tadi.

Meminta adalah Menerima
Nah, beberapa masa lalu "kelam" itulah yang kemudian membawa saya selalu berharap untuk bisa "lebih" tinggi. Soal kisah kasih di sekolah, jangan ditanya, saya tidak sedikitpun terbersit keinginan untuk menjalinnya. Perasaan minder akan postur tubuh membuat saya selalu lebih berhati-hati masalah hati. Dari situ pula kemudian saya menjadi orang yang paling pandai memendam atau bahkan mengubur perasaan.  Harapan-harapan saya itulah yang kemudian, entah kapan, dikabulkan oleh Tuhan...

Entah kapan...

Saya tidak pernah menghitung-hitungnya. Karena ketika di sekolah dulu saya selalu mengharapkan "ketinggian" itu; membanding-bandingkan ketinggian saya dengan teman lain, menggantung-gantung di palang pintu, bermain basket, malah tidak pernah terwujud. Semua yang saya lakukan sia-sia, tidak mengubah kondisi saya. Namun, barulah ketika saya mulai melupakan harapan itu, melepaskannya, dan ikhlas menerima sesuatu yang telah dianugerahkan Tuhan pada saya, perlahan setitik kepastian itu datang. Tanpa saya sadari, Tuhan mulai mengabulkan pinta saya.

Aneh? Memang. Saya lantas berpikir, hakikat meminta itu sebenarnya adalah mengikhlaskan. Yah, meminta adalah mengikhlaskan. Ketika kita meminta sesuatu pada Tuhan, tidak akan dipenuhi harapan kita jika belum mampu ikhlas dengan keadaan. Mungkin, kita meminta tapi dengan tuntutan untuk segera dikabulkan. Secepat-cepatnya diwujudkan. Kesannya, kita terlalu memaksa permintaan kepada Tuhan, yang sesungguhnya membenarkan ketidak-ikhlasan kita pada keadaan. Padahal, sebelum meminta yang lain, kita mesti bisa menerima dulu sesuatu yang sudah ada pada kita itu. Karena jika tidak, kemungkinan kita bakalan meminta jauh lebih banyak lagi tanpa diiringi rasa syukur.

Yah, nyaris sama dengan sebuah kalimat yang saya dapatkan dari novel,
"Kau tahu Syahdan, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat."
--Eliana, Tere Liye--


Beranjak memasuki dunia perkuliahan, saya bukan lagi "si kecil" yang selalu menempati barisan paling belakang. Bukan lagi saya yang harus berjinjit ketika menghapus papan tulis di ruang kelas. Atau yang selalu dianggap anak kecil oleh orang yang sepintas lalu melihat saya. Dan ketika saya bertemu dengan teman-teman lama saya yang mengungkapkan sapaan "biasa" serupa, saya lantas bingung mau menjawab apa ketika mereka bertanya, "Kenapa bisa setinggi ini?


--Imam Rahmanto--

Jumat, 12 Oktober 2012

Semua Membicarakannya

Oktober 12, 2012
Polisi usai mengamankan tawuran yang berlangsung. (Khaerul-Profesi)

Sepanjang jalan, saya mendengar cerita-cerita yang digelar bertitik pada kampus saya. Tua-muda, pelajar-mahasiswa ramai-ramai membahas berita yang baru 24 jam yang lalu masih hangat-hangatnya. Bahkan, atmosfer kelanjutannya masih bisa saya rasakan hingga sekarang. Beberapa telepon masuk juga menginstruksikan untuk segera meliput kelanjutannya.

Lagi, kampus saya menjadi bulan-bulanan media yang haus akan bad news. Baru-baru saja terjadi tawuran antar fakultas yang menyebabkan kerusakan gedung, motor, sampai dua mahasiswa yang meregang nyawa. Media berlomba-lomba untuk menayangkan berita yang paling "mengerikan", tanpa berpikir berita yang mereka turunkan akan menggores pencitraan Makassar dan mahasiswa khususnya. Yang dirugikan kemudian adalah mahasiswa-mahasiswa seperti kami, yang akan masuk daftar antrian blacklist sejumlah institusi di luar Makassar. Miris.

Setibanya saya di kost, nyaris saja saya dicecar banyak pertanyaan oleh tetangga-tetangga kamar. Akan tetapi, kebanyakan ternyata sudah mengonsumsi kabar-kabar yang disiarkan live di layar kaca. Mungkin, bahkan beberapa opini dan "rutukan" otomatis sudah terbentuk di kepala masing-masing. Dan, sekali lagi, bisa saja kabar-kabar yang dihadirkan oleh televisi itu tidak sepenuhnya benar, karena mereka kan dituntut untuk menghadirkan "berita cepat saji". Soal ketepatan adalah urusan belakangan, yang terpentinh adalah kecepatan.

Buat yang hanya menyaksikan kondisi Makassar dari layar televisi, jangan menelan bulat-bulat pemberitaan yang ada. Apalagi jika dalam beritanya itu sudah disisipi opini-opini sepihak oleh medianya. Ada baiknya jika mencari tahu sendiri beritanya secara langsung. Atau, paling tidak mengikuti beritanya dari media kampus bersangkutan. Wuih, promo! 

Jika kita menaksir status-status di jejaring sosial hari ini, maka sebagian besar topik pembicaraannya adalah mengenai tawuran di kampus saya. Jika kita browsing di internet dengan kata kunci "tawuran UNM", maka dipastikan kejadian kemarin menjadi urutan teratas. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Ckckck... Saran buat yang punya facebook, tidak usah ikut terlalu menghebohkan dunia maya dengan update status-status yang semakin mencoreng label kita sebagai mahasiswa Makassar. Ingat, semakin kita mengutuk perilaku teman kita sesama mahasiswa Makassar, otomatis media bakalan membenarkan perihal "kekasaran" dan "kekerasan" di Makassar.

Semestinya tawuran di kampus Orange dua tahun ini nyaris bisa diredam. Ospek yang (katanya) disinyalir menjadi sumber kekerasan sudah ditiadakan. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa baru cenderung dimanjakan oleh pihak rektorat. Tapi, toh kenyataannya kejadian yang sama terulang lagi, bahkan dengan dampak yang jauh lebih parah. Dua korban jiwa! Dua korban jiwa! Jika sudah seperti ini, mau solusi apa lagi? Apa harus semua fakultas dipisahkan?

Saya hanya berharap, semoga kekerasan generasi muda seperti ini bisa segera teratasi. Kita tentunya tidak ingin lagi melihat tangis air mata dari keluarga korban kekerasan. Ketika mereka membanggakan anak-anaknya kuliah dengan harapan segudang prestasi, namun ternyata dipulangkan dengan tak lagi bisa menggenggam barang selembar kertas. Pun, ucapan menyesal tak bisa lagi tersampaikan. Yang tersisa hanyalah harapan bisa memutar kembali kejadian silam. Lagi-lagi kita butuh mesin waktu....

____________________________________
"Halo?"
 "Imam, cepat suruh anggotamu meliput ke Seni. Katanya ada.............."

Saya masih harus menyelesaikan cerita tragis kejadian kemarin, sekaligus menjadi tugas kami untuk meluruskan berita-berita yang diturunkan media-media di luar Makassar. Move on!


--Imam Rahmanto--

Kamis, 11 Oktober 2012

Sedikit Tentang Cinta

Oktober 11, 2012

"Seandainya kamu pernah ditolak (cinta), bukan berarti karena kamu jelek atau karena kamu bukan tipenya. Tapi Tuhan pada dasarnya telah merencanakan orang yang lebih baik untuk bersamamu. Melaluinya, Tuhan membisikkan kata-kata agar menolakmu... Tuhan mengarahkanmu untuk menemukan orang yang tepat, bukan dengan dia."

Sebuah nasehat yang saya dengarkan malam ini. Tanpa angin, mendadak teman saya banyak bercerita soal cinta. Hahaha....memang, kalau sudah membicarakan yang satu ini, waktu terasa berjalan dengan sendirinya.

Berbicara hati...

Saya ingin saja percaya hal itu. Tapi, tak lebih ketika saya mempercayainya, jangan-jangan itu hanya sebuah pembenaran hati? Semua orang tentu sudah pernah merasakan cinta, kan? Tak peduli apakah perasaan itu tersampaikan atau tidak. Selama hati itu berirama dalam bentuk yang lain dari biasanya. Tiap hari kita dilingkupi perasaan dag-dig-dug.

Saya sendiri? Tentu. Saya sudah berulangkali merasakannya. Hanya saja saya baru sekali mengungkapkannya. Dan hasilnya? Akh, saya berharap kembali ke saat-saat sebelum saya menyampaikannya.

Yah, sejujurnya bukan "ditolak" itu yang menjadi ketakutan terbesar saya ketika kita harus mengungkapkan perasaan pada seseorang. Bukan! Melainkan, saya takut ketika menyampaikan perasaan itulah yang membawa kita pada sebuah sekat tak terlihat. Sekat yang menbuat perbedaan itu kian nyata dan jelas. Karenanya, kehidupan sehari-hari kita dengannya tak sama lagi. Ada sebuah "kehati-hatian" yang diperlihatkan olehnya. Meski (mungkin) tetap menjalin persahabatan dengannya, namun pada kenyataannya tidak seperti dulu lagi. Tidak sama. Ada sesuatu yang sengaja dihilangkan agar tak lagi diharapkan.

Jika hal seperti itu terjadi, saya malah berpikir bisa kembali memutar waktu dan memutuskan untuk tidak mengungkapkannya... Tentu ada sesal yang tak terungkap. Selalu saja, "seandainya tak pernah terjadi"...

"Tidak baik rasanya ketika calon suami/ istri kita mendapatkan orang yang sudah menjadi "mantan" orang lain. Adakalanya kita memang lebih baik mendapatkan sekali saja dan berakhir seumur hidup. Berpikirlah positif, Tuhan bakal mempertemukanmu dengan orang yang lebih baik."

#semoga...

#hal yang sudah berlalu kemudian mengajarkan untuk lebih berhati-hati


--Imam Rahmanto--

Rabu, 10 Oktober 2012

Alpukat dan Musimnya

Oktober 10, 2012
Sumber: Google Search

Lama rasanya ketika saya begitu kesulitan mencari stok Jus Alpukat di beberapa kafe dan warung-warung makan. Kemanapun saya mencari, jawabannya selalu sama, "Tidak ada." saya sendiri heran, ada apa dengan si Alpukat ini. Mengapa semua kafe serempak mengatakan "tidak ada". Nah, sekarang semuanya bilang "ada".

Jujur, saya begitu kangen dengan minuman "buah sederhana" itu. Sederhana, karena selalu saja mengingatkan saya akan kesederhanaan hidup dulu di kampung. Ketika masih polos dan belum merasakan udara-udara modernisasi.

Dulu, ketika masih duduk di Sekolah Dasar, saya sering memanjat pohon Alpukat di samping rumah teman saya, Yance. Kebetulan rumahnya tepat berada di belakang sekolah saya. Maklum, ibunya adalah salah satu guru kami. Jika tiba masanya pohon itu berbuah, saya, dia dan beberapa orang teman saya beramai-ramai memetik buahnya.

Tanpa pikir panjang, saya biasanya memetik buah dengan memanjat pohonnya. Teman-teman yang lainnya di bawah pohon cukup menyoraki saja seraya mengarahkan buah-buah mana yang layak dipetik. "Di atasmu! Itu yang di ujung!" Sorakan yang selalu saja mengundang kegaduhan.

Buah-buah alpukat yang kami petik tidak semuanya dalam keadaan matang. Terkadang kami memetik buah alpukat yang kelihatannya sudah cukup besar. Semuanya dibaur jadi satu untuk kemudian dibagi-bagikan kepada teman-teman lainnya yang ikut menyoraki. Tentu saja, tidak lupa kami menyisakan lebih banyak untuk disimpan oleh Yance dan keluarganya. Lagipula pemilik pohon itu kan keluarganya. Hehe...

Saya biasanya akan memilih buah alpukat yang agak besar dibandingkan yang lainnya. Saya tidak peduli jika buahnya belum matang. Saya dan teman-teman lainnya punya metode tersendiri untuk mematangkannya. Kami biasa mematangkannya dengan cara menyimpannya selama beberapa hari di tempat-tempat gelap (lemari, laci, plastik, dsb). Jika permukaan kulitnya sudah berubah kecoklatan dan teksturnya menjadi agak lembek, itu pertanda buahnya sudah siap diolah.

Diolah menjadi minuman pun tidak seperti dengan jus-jus yang saya atau kalian kenal sekarang, yang dasar olahannya diblender. Saya senang mengolahnya sendiri. Mengeruk isinya dan dikumpulkan dalam gelas. Lalu saya akan mencampurkannya dengan beberapa sendok gula pasir sebelum saya menyeduhnya dengan air panas secukupnya. Jadilah jus alpukat buatan saya sendiri.

Kini, jika sempat, saya senang menikmati jus alpukat di siang hari. Cappuccino to night... Bukan karena harganya yang mahal atau olahannya yang berbeda. Melainkan karena menikmatinya selalu saja mengingatkan saya akan masa "panjat-memanjat" itu dan sorakan-sorakan di bawahnya.

Itu masa berbagi, masa berbahagia itu...


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 06 Oktober 2012

Nyamuk dan Saya

Oktober 06, 2012
Sumber: Google Search
Suara “nguiing-nguiing” terngiang-ngiang di sebelah telingaku. Mengganggu sekali. Sesekali tanganku mendarat keras di sebelah pipiku, memastikan suara itu menjauh atau bahkan jika bisa, mati. Aku benci sekali tidurku diganggu oleh hewan penghisap darah yang satu ini. Kecil-kecil tapi sudah mengutil darah. Kalau besar, mau jadi apa? Nah loh?

Tentu semua sudah pada tahu hewan yang satu ini. Nyamuk. Ia telah lama mendedikasikan dirinya sebagai hewan paling aktif menghisap darah di malam hari (tidak termasuk drakula ataupun vampire). Termasuk suka mengganggu ketika hendak tidur. Mata belum sempat terlelap, suara-suara itu sudah datang duluan. Tak digubris, mereka langsung menusukkan mulut tajamnya itu dan menghisap darah sesukanya.

Hal serupa sudah sering saya alami. Saya biasa dibuat jengkel oleh kelakuan nyamuk-nyamuk kecil itu. Akan tetapi, entah kenapa akhir-akhir ini saya merasa bersahabat dengan mereka. Lha, kok bisa? Ya, benar, karena bantuan mereka pula saya bisa bangun tidur lebih awal. Hehehe

Saya termasuk orang yang cukup sulit untuk bangun tidur lebih awal. Jika sudah terlelap, maka saya sudah tidak bisa lagi mengendalikan jam tidur saya. Apalagi jika saya habis begadang. Berapa banyak pun jam weker yang sudah saya pasang, tidak bakal membangunkan saya. Benda-benda itu hanya sekadar mengubah posisi tidur saya, mata dibuka - tangan mematikan suara alarmnya – lanjut tidur. Bahkan beberapa orang yang sudah mencoba membangunkan saya di pagi hari via telepon juga tak berhasil. Maka dari itu, saya merasa terbantu dengan kehadiran nyamuk-nyamuk itu di malam hari. Saya akan terbangun ketika merasakan gigitan-gigitan mereka di sela-sela kulit saya. Mungkin di jari-jari kaki atau paha, sampai pada bagian muka sendiri.  Ya, meskipun pada akhirnya mereka harus menemui ajalnya akibat kena tepukan saya.

Oleh karena itu, wajar jika saya membiarkan sedikit nyamuk berkeliaran di kamar saya. Bukan karena saya suka goreng nyamuk loh. Bukan! Tapi, lebih pada usaha saya agar bisa bangun pagi. Saya mesti belajar untuk memanajemen waktu. Waktu sepanjang malam yang sudah saya habiskan tidak mungkin harus tersia-siakan hanya gara-gara saya tertidur di pagi harinya. Ketika saya terlelap di pagi hari, sama saja bahwa saya menggantikan waktu tidur malam saya. Nah, jika seperti itu apa gunanya saya terjaga hingga larut malam?

Saya ingin belajar mengatur waktu. Saya sudah terlalu sering dikelabui oleh waktu itu sendiri. Yah, meskipun dengan mengorbankan setetes kecil darah yang saya miliki. *Wuihh, ekstreemnya!


--Imam Rahmanto--