Senin, 24 September 2012

Waktu Tentang Kita

Bodoh. Bodoh.

Ia diam. Langkahnya dipercepat. Kakaknya yang mengantarkannya ditinggalkan di belakang begitu saja. Tak dipedulikannya teriakan-teriakan kakaknya yang meminta untuk menunggunya. Sedari tadi ia hanya mengatupkan bibirnya. Tak sepatah kata pun mampu dilontarkannya. Giginya mengeras menekan satu sama lain.

Dari pelupuk matanya, bulir-bulir air tinggal sepersekian detik lagi akan tumpah membentuk aliran garis lurus di permukaan pipinya. Namun, ia menahannya. Ia tak ingin kelihatan cengeng di saat-saat seperti ini. Raka pernah bilang kepadanya, “Meskipun perempuan dikatakan makhluk Tuhan yang paling sensitif dan mudah mengeluarkan air mata, tapi hal itu tidak berlaku bagimu,”

Lha, kenapa? Aku kan juga perempuan,” Lara menyela, merasa terusik dengan pernyataan sahabatnya itu. Seraya tersenyum, Raka menjelaskan.

“Bukannya tidak boleh. Tapi sebaiknya kamu menyimpan air matamu untuk sesuatu yang benar-benar pantas untuk kamu tangisi, mungkin untuk orang-orang yang kamu sayang misalnya,” jelas Raka.

“Air matamu terlalu berharga untuk menangisi hal-hal yang tidak berguna, apalagi masalah-masalah hidupmu. Kalau kamu punya masalah, jangan dibawa nangis. Menangisinya tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik bukan? Lebih enak kalau kamu tersenyum. Selain kamu tambah cantik, dunia juga bakal membantu mengatasi masalahmu. Dunia ini senang dengan orang-orang yang suka tersenyum, apalagi ketika mereka sedang menghadapi masalah,”

Buat apa aku menangis? Ayolah Lara, tersenyumlah.

Lara memaksakan diri untuk membentuk lengkungan di bibirnya, namun sia-sia. Usahanya untuk menahan tangisnya sia-sia belaka, karena kini air mata deras membasahi pelupuk matanya.
Segala memori tentang sahabatnya itu tiba-tiba saja terputar dengan sendirinya di dalam kepalanya. Bak piringan disc player, otaknya memainkan segala ingatan tentang sahabatnya itu. Satu-persatu. Flashback.

Rumahnya yang berdekatan. Tentang sekolahnya yang selalu sama. Tentang permainan masa kecilnya. Tentang ikan-ikan yang selalu mereka perdebatkan. Tentang belajar bersama di rumahnya. Tentang Raka yang selalu mengolok-olok dirinya yang tak pandai memasak. Tentang Raka yang tak pernah peduli dengan penampilannya. Terlalu biasa, katanya. Tentang Raka yang selalu menyanyikan lagu. Tentang lagu yang selalu menjadi kesukaan keduanya hingga kini. Bahkan, di kepalanya kini, Lara bisa mendengar dengan jelas lagu itu mengalun mengiringi langkahnya di lorong-lorong rumah sakit ini.

Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita.
Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati.


Air matanya terus mengalir. Entah mengapa ia tak ingin menghapusnya. Dibiarkannya saja matanya yang basah itu mencari-cari sahabatnya.

“Kamu suka lagu itu juga?”

“Iya, dong! Aku malah pandai memainkannya,” ujar Raka bermaksud memamerkan keahliannya bermain gitar.

“Masa sih? Sombong deh,” ucapnya tak percaya.

“Gak percaya? Coba nih tak mainkan,” Raka memetik dawai gitarnya, membentuk alunan melodi lagu Semua Tentang Kita. Merdu. Ia menyanyikan lagu tersebut yang kemudian langsung saja diikuti oleh Lara. Berpasangan, mereka menyanyikan lagu itu. Jikalau salah satu dari mereka dirundung masalah, maka lagu itulah yang menjadi pelampiasan mereka.

Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala.
Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa.


Lagu itu terus saja terngiang di kepalanya. Baru tadi siang ia menerima kabar tentang sahabatnya, ketika ia masih menghabiskan waktu bersama pacarnya. Sebuah panggilan menyela, menyampaikan Raka mengalami kecelakaan. Motor yang ditumpanginya menabrak truk dari arah berlawanan.
Ini salahku. Aku yang bodoh. Aku menolak ajakannya tadi pagi. Seandainya saja aku memilih pergi bersamanya… Seandainya saja aku lebih memilih bersama dia daripada Dika. Seandainya saja… Ia merutuk dalam hatinya.

Di depan pintu kamar dimana Raka terbaring dengan dokter-dokter yang menanganinya, Lara tiba. Dari balik jendela Ruang Operasi, ia mendorong tubuhnya ke depan pintu. Ia memaksakan jendela untuk bisa mengabarkan segala keadaan Raka sekarang. Namun tetap saja, ia menangis.

Aku menangis, Raka. Aku menangis. Maaf, untuk kali ini aku tak bisa menahannya. Seperti katamu, tangisku hanya untuk orang yang benar-benar kusayangi. Batinnya. Ia terduduk lemas di depan pintu. Membenamkan wajahnya di antara dua lututnya. Membiarkan tangisnya pecah sebanyak-banyaknya.

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita




--Imam Rahmanto--

*Inspired by Song Peterpan - Semua Tentang Kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar