Rabu, 05 September 2012

Penulis yang Baik Adalah Pembaca yang Baik

Sumber gambar: Google Search
Untuk belajar menulis, kita harus tahu membaca dulu. Kita tidak akan pernah paham “sesuatu” yang kita tulis jika kita tidak pandai membaca.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Nah, salah satu alternatif untuk menggali ide sebuah tulisan, ya, dengan “membaca”. Tapi, yang saya maksud dengan “membaca” disini bukan sebatas membaca saja, baik buku maupun tulisan lainnya. Karena saya yakin kok, seseorang yang gemar menulis biasanya juga akan menjadi pembaca yang baik (dalam hal tulisan). Lain halnya dengan seseorang yang gemar membaca…

Menurut saya, untuk bisa menggali ide (baik persoalan desain hingga tulisan), dibutuhkan keterampilan “membaca”. Beribu-ribu ide sebenarnya banyak bertebaran di sekitar kita, dari beragam kejadian yang kita alami. Hanya saja, kita tidak menyadarinya karena tidak berusaha membacanya. Yang terjadi kemudian hanya melihat, menyimak sekilas, dan melewatkannya begitu saja. Padahal, dalam kejadian sekecil apapun, dalam kondisi apapun, banyak hal-hal yang bisa diangkat sebagai sebuah masukan ide bagi kita.

Untuk sebuah tulisan pun berlaku hal demikian. Sesuatu yang berlangsung di sekitar kita bisa menjadi sebuah bahan yang unik bagi kita, tergantung dari bagaimana cara kita membacanya (atau maunya). Tentang cara membuat kue, tentang keluhan mengenai fasilitas umum, tentang pertemuan dengan seseorang, tentang pengalaman yang belum pernah dialami, tentang hobi orang lain, tentang kegemaran, tentang bla..bla..bla..

Segala kejadian yang berlaku di sekitar kita tidak untuk dilewatkan begitu saja.

Saya pernah mendengar sebuah cerita, mengenai sebuah perusahaan yang sedang menjalankan tes wawancara bagi calon-calon karyawannya. Perusahaan ini adlah perusahaan besar, sehingga banyak orang yang tertarik untuk menjadi karyawannya. Jumlahnya mencapai ribuan.

Akan tetapi, sejak pagi hari dilaksanakan tes wawancara, ternyata belum ada satu orang pun yang dinyatakan lulus menjadi karyawan perusahaan tersebut. Dari ribuan pelamar yang mengantri sejak pagi, tidak ada yang memenuhi kriteria. Padahal kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan tersebut tidak muluk-muluk dan cukup menjawab beberapa pertanyaan dari sang manajer perusahaan. Pertanyaan yang diajukan pun tidak membutuhkan nilai sekolah yang tinggi atau IQ yang gemilang. Pertanyaan apakah itu? Pertanyaan yang sederhana, “Berapa jumlah satpam yang Anda lihat di pintu masuk tadi?” atau “Berapa jumlah pot bunga yang ada di sebelah pintu masuk?” atau “Baju apa yang dikenakan oleh resepsionis di lobi?” Ya, hanya pertanyaan sederhana, tapi butuh pembacaan yang baik dan mereka nyatanya mengabaikan hal-hal yang remeh.

Untuk menggali ide, ada baiknya jika belajar membaca sekitar. Pembacaan yang baik akan menghasilkan tulisan yang baik pula. Semakin sering kita menuliskannya, maka semakin terlatih pula kita untuk belajar membaca. Malah, terkadang untuk menggambarkan sesuatu secara baik, dibutuhkan detail-detail yang sangat remeh-temeh.  Oleh karena itu, jangan remehkan hal sekecil apapun yang terjadi di sekitar kita. Mari membaca sekitar!



--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. membaca layaknya menggunakan mata untuk bercerita... menggunakan retina mengaja jemari menuliskan apa yang terlihat dan apa yang terlintas...
    satu kisah yang baru saja kutulis
    http://bung-ilham.blogspot.com/2012/09/satu-doa-dua-dosa.html

    BalasHapus