Minggu, 16 September 2012

Konsisten ber-AKU atau SAYA

Ilustrated by ImamR
Sambil santai, ada enaknya jalan-jalan di dunia maya. Melompat dari tulisan satu ke tulisan lainnya. Mengunjungi “rumah maya” teman-teman yang tidak hanya menjadi konsumen jejaring sosial. Nongkrong lama-lama di jejaring sosial bikin (ketularan) menggila (jangan dibaca: galau). Lha, benar kan? Apalagi kalau sudah tiba malam Minggu. Dijamin bakalan banyak status-status merana yang ingin dikasihani. Haha

Dari tulisan orang lain, jika beruntung, saya bisa memetik sebuah ide dari sana. Jika lebih beruntung lagi, seulas senyum bisa saya hadiahkan buat penulisnya. Oh ya, seringkali saya menemukan beberapa kesalahpahaman (jangan dibaca: keliru) yang terdapat dalam beberapa tulisan yang pernah saya jumpai. Mungkin agak sepele, tapi menurut saya hal tersebut bisa mempengaruhi kedalaman deskripsi tulisan itu sendiri.

Kita tentu sudah mempelajari dari bangku sekolah dasar mengenai penggunaan “kata ganti”, baik AKU, SAYA, KAMU, ANDA, KALIAN, KAMI, KITA, MEREKA, DIA, NYA, dan sebagainya. Nah, kesalahpahaman yang sering saya temukan yakni penggunaan kata SAYA ataupun AKU yang tidak konsisten.

Sebagian dari kita mungkin lebih enjoy ketika menulis sebuah cerita dengan menggunakan kata ganti orang pertama. Akan tetapi, terkadang penggunaanya masih saja selalu dicampur-campur. Di satu kalimat menekankan pada kata SAYA, namun di kalimat lain tiba-tiba memunculkan kata AKU sebagai kata ganti kepemilikan. Nah loh? Kalau sudah seperti ini, tidak konsisten namanya. Hal tersebut juga bisa merusak keindahan penceritaan yang sedari awal menggunakan kata ganti (terpilih).

Memang sih, ada perbedaan ketika memilih menggunakan kata AKU atau SAYA. AKU, lebih menekankan pada unsur keakraban pencerita. Sementara SAYA, cenderung ditujukan pada hal-hal yang tarafnya agak lebih sopan. Akan tetapi, sekali lagi, menulis itu mesti konsisten. Kalau pakai AKU ya AKU. Kalau pakai SAYA ya SAYA.

Yah, mungkin hal tersebut dampak dari sebuah kebiasaan masyarakat. Saya sudah sering menemukan dalam kehidupan sehari-hari, percakapan Bahasa Indonesia (dialek daerah) tidak konsisten dengan penggunaan kata AKU maupun SAYA itu. Dan terdidik dari kebiasaan itu, mungkin, mereka kemudian menuangkannya secara tidak langsung melalui tulisan.

Saya khawatir, semakin lama, berawal dari kebiasaan - pembiasaan - nantinya bakal menjadi sebuah pembenaran. Sama halnya dengan istilah Presentasi yang sudah diplesetkan, bahkan oleh dosen. (INGAT: BUKAN Presentase!).

"Ini bukan perkara benar atau salah dalam kaidah berbahasa Indonesia. Namun itu soal “taste” tulisan yang akan dinikmati oleh orang lain. Karena penulis ya menulis, dan pembaca ya membaca."


--Imam Rahmanto--

1 komentar:

  1. Kembali lagi, soal selera. Tapi menurutku, asal konsisten tiap tulisan saja sudah cukup deh, nggak perlu keseluruhan tulisan yang ditulis..

    BalasHapus