Selasa, 18 September 2012

Harga Tinggi, Rasa Biasa Saja

Cappuccino yang cukup berbeda (rasa) dari cappuccino lain.
Saya terkejut ketika membayarkan harga minuman yang baru saja saya minum. Untung saja, saya masih membawa uang berlebih. Minuman cappuccino yang saya nikmati di "Roemah Kopi" - sebuah warung kopi (warkop) a.k.a cafe ternyata memasang harga yang sangat tinggi atas sajian-sajian minumannya. Oh ya, saya terkadang masih bingung bagaimana membedakan sebuah warkop dengan sebuah cafe. Spesifikasi apa saja yang bisa menjadikannya dilabeli warkop atau cafe.

Kegemaran saya akan kopi "cappuccino" membuat saya semakin penasaran untuk mencoba berbagai olahan cappuccino yang lain. Warkop yang berbeda tentu saja menyajikan minuman cappuccino yang berbeda pula. Oleh karena itu, tak jarang saya berburu minuman-minuman itu di beberapa cafe atau warkop di Makassar. Kalau olahan sendiri, masih sebatas menyeduh cappuccino sachet-an saja. Hasilnya? Masih standar. Dan "Roemah Kopi" menjadi salah satu tempat yang sempat saya singgahi.

Memasuki halaman cafe tersebut serasa memasuki cafe-cafe kelas atas. Suasananya pun cenderung agak glamour. Sebenarnya tidak cocok untuk kalangan kelas-kelas mahasiswa. Karena yang saya lihat tak ada satu pun pengunjung yang berkutat dengan laptop atau notebooknya. Padahal kita kan juga mau ber-wifi ria. Hanya satu-dua orang yang memanfaatkan jaringan wifi disana dengan gadget tabletnya. Mereka benar-benar hanya ngopi di cafe sambil berbincang dengan teman-teman atau rekan-rekan kerja mereka.

Meskipun mahal, namun bagi saya kualitas cappuccino-nya masih di bawah standar taste saya. Memang, rasanya agak berbeda dari cappuccino kebanyakan. Namun, penyajiannya nampaknya tidak benar-benar "panas". Untuk minuman-minuman sekelas kopi, kondisi minuman saat disajikan adalah hal yang penting, seharusnya disajikan dalam keadaan panas - agar berangsur-angsur menghangat. Sebagai seorang mahasiswa, harga juga mempengaruhi rasa saya lho... Hehe...dan akhirnya saya kecewa. Masih mending dengan cappuccino yang sering saya nikmati di warkop-warkop biasa (yang juga menyediakan sambungan wifi).

Kebiasaan ngopi (baca: cappuccino) saya itu sebenarnya bermula semenjak saya memiliki laptop. Jika suntuk atau jenuh melanda saya, maka cara yang paling tepat untuk "membunuh"nya adalah dengan ngopi di warung-warung kopi sekaligus memanfaatkan fasilitas layanan wifi-nya. Ada atau tidak ada teman yang menemani, bukan masalah. Jika bosan sendirian, saya terkadang mengajak teman-teman yang lain.

Kualitas rasa segelas cappuccino ternyata tidak bisa dinilai begitu saja dengan tingkatan harganya. Mahal sekalipun jika tidak diolah dengan baik, hanya akan menghasilkan minuman "asal jadi". Yah, pencarian saya masih berlanjut. Saya masih mencari aroma cappuccino yang lebih baik yang sudah pernah saya minum, tentunya dengan harga yang lebih bersahabat pula.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar