Sabtu, 29 September 2012

Sepanjang Jalan Jeneponto-Bantaeng

September 29, 2012
Saya suka melakukan perjalanan. Apalagi ke tempat-tempat baru. Selama ada biaya sih… :P. Nah, kesempatan itu datang di hari Sabtu kemarin, meskipun cuma berlangsung sehari. Ok, sedikit cerita refresh dari saya.
 

Sebuah tugas dari kampus sekaligus dari lembaga jurnalistik kampus (tempat saya bergelut sekarang) diamanahkan kepada saya. Dan lagi, sebenarnya bukan hanya saya saja, melainkan beberapa teman yang lain juga diserahi tugas serupa namun dengan daerah yang berbeda-beda.
 

Beda Kota, Beda Ciri Khas
Bebekal pengalaman yang masih minim, saya melakukan perjalanan dari Makassar sore itu. Saya mesti mengajak salah seorang teman saya yang merupakan orang asli di daerah tersebut sebagai expedition guide. Jika tidak, nyaris saja saya menjadi “si buta dari Gowa-Makassar".
 

Selalu saja ada hal-hal yang menyenangkan ketika saya menikmati sesuatu yang baru. Pengalaman itu hal yang berharga, kan?

Melintasi Kabupaten Takalar, saya banyak menemukan warung-warung singgah di pinggir jalan yang menjajakan jagung rebus. Memilih salah satunya adalah hal yang cukup sulit. Terkadang, saya ingin mampir di warung A, namun berpikir, “Di depan mungkin ada yang lebih bagus.” Akan tetapi, jika terlalu jauh melintas, saya ragu, “Jangan-jangan di depan sana sudah tidak ada lagi yang berjualan.”  


Hahaha….persoalan seperti itu selalu terjadi “dilema” ketika menemukan banyak warung singgah di tengah perjalanan. Dan tiap warung-warung singgah di wilayah Sulawesi Selatan selalu menjajakan makanan-makanan yang berbeda, tergantung dari ciri khas daerah tersebut. Kemudian saya berpikir, mungkin saja salah satu komoditi andalan Takalar adalah jagung dan semangka. -_-
 

Berbeda halnya dengan Jeneponto. Sebenarnya saya sudah pernah sekali menginjakkan kaki di bumi “Turatea” (sebutan kota Jeneponto yang berarti "orang atas", red) ini ketika menjalankan agenda triwulan dari lembaga jurnalistik kampus saya. Akan tetapi, kala itu saya melakukan perjalanan bersama teman-teman pewarta kampus lainnya dengan menumpang bus kampus. Saya masih ingat, tempat yang menjadi tujuan kami adalah Birtaria Kassi, salah satu objek wisata pantai di Jeneponto.
 

Ketika melakukan perjalanan kemarin, saya baru sadar, ternyata Jeneponto memiliki jalan yang sangat panjang. Birtaria Kassi itu sendiri baru seperempat perjalanannya. Saya pun akhirnya merasakan “bagaimana jauh dan panjangnya” perjalanan disana. Padahal, teman saya sebelumnya sudah mewanti-wanti, “Jalanan disini (Jeneponto, red) masih lebih panjang dibandingkan perjalanan kita di Gowa-Takalar.” Alhasil, saya hanya bisa pasrah dengan pengharapan saya atas jalanan Jeneponto yang tak ada habis-habisnya.
 

Ladang-ladang garam yang terhampar sepanjang jalan. (Sumber: id. wikipedia)

Garam tidak hanya dihasilkan di Madura saja. Di Sulawesi Selatan pun ternyata terdapat daerah yang menghasilkan garam. Saya menyaksikannya ketika melintasi jalanan-jalanan sepanjang Jeneponto. Banyak lahan-lahan yang dimanfaatkan untuk mengendapkan air laut menjadi garam. Bahkan di warung-warung singgahnya, dijajakan pula garam-garam dalam berbagai ukuran berat yang sudah dibungkus rapi. Maklum, untuk persoalan garam, Jeneponto termasuk daerah yang berada di pesisir laut.
 

Saya juga mendapati makanan yang dinamakan “Lammang” di warung-warung singgahnya. “Lammang” merupakan makanan yang cukup unik, meskipun makanan serupa sudah pernah saya santap ketika mendaki gunung bersama teman-teman saya dahulu. Makanan dari ketan yang diisi pada batang bambu tersebut dimasak dengan cara dibakar langsung di atas api. Menurut keterangan dari teman saya, makanan seperti itu akan banyak ditemukan ketika musim Lebaran tiba, tidak hanya dijajakan di pinggir jalan seperti ini.
 

Sekilas, penampakan Coto Kuda.
(Sumber: southcelebes.wordpress.com)
Oh ya, sebenarnya Coto Kuda-lah yang merupakan makanan khas di Jeneponto. Biasanya, berbicara Jeneponto, selalu dikaitkan dengan Coto Kuda-nya. Meskipun saya tidak sempat merasakannya – karena kekenyangan hehe.. - , menurut teman saya, rasanya sangat berbeda dengan Coto Makassar. Apalagi bahan dasar olahannya adalah daging kuda. Dan lagi, jika ada salah seorang warga menghelat acara-acara pernikahan, maka sajian wajibnya adalah Coto Kuda. Wuihh..yang ini baru benar-benar khas.
 

Beruntung, jalanan “super panjang” di Jeneponto sudah mulai diadakan perbaikan. Tinggal sedikit yang masih berupa jalanan berkerikil dan berdebu.
 

Perjalanan yang diperkirakan selama 2,5 jam ternyata meleset. Berhubung saya masih awam mengenai jalanan tersebut, maka waktu tempuh saya adalah sekitar 3,5 jam. Dan saya baru tiba di Bantaeng sejam berikutnya, tepat ketika jam menunjukkan pukul 8.
 

Bantaeng? Waduh, saya tidak sampai jauh memasuki wilayahnya. Karena lokasi “pantau” saya hanya sampai di permulaannya, dan saya sudah harus menjalankan tugas saya. Namun, Bantaeng juga termasuk salah satu wilayah yang berada di pinggir laut dengan penataan kota cukup baik dan bebas dari sampah. “Disini rencananya akan dikembangkan menjadi perkotaan,” tutur teman saya. (*)

Dan memang, pengalaman baru itu sungguh menyenangkan.

 
--Imam Rahmanto--
*Ps: menyesal juga tidak menyempatkan buat motret bagian-bagiannya. Modal kamera hape sih...

Senin, 24 September 2012

Waktu Tentang Kita

September 24, 2012
Bodoh. Bodoh.

Ia diam. Langkahnya dipercepat. Kakaknya yang mengantarkannya ditinggalkan di belakang begitu saja. Tak dipedulikannya teriakan-teriakan kakaknya yang meminta untuk menunggunya. Sedari tadi ia hanya mengatupkan bibirnya. Tak sepatah kata pun mampu dilontarkannya. Giginya mengeras menekan satu sama lain.

Dari pelupuk matanya, bulir-bulir air tinggal sepersekian detik lagi akan tumpah membentuk aliran garis lurus di permukaan pipinya. Namun, ia menahannya. Ia tak ingin kelihatan cengeng di saat-saat seperti ini. Raka pernah bilang kepadanya, “Meskipun perempuan dikatakan makhluk Tuhan yang paling sensitif dan mudah mengeluarkan air mata, tapi hal itu tidak berlaku bagimu,”

Lha, kenapa? Aku kan juga perempuan,” Lara menyela, merasa terusik dengan pernyataan sahabatnya itu. Seraya tersenyum, Raka menjelaskan.

“Bukannya tidak boleh. Tapi sebaiknya kamu menyimpan air matamu untuk sesuatu yang benar-benar pantas untuk kamu tangisi, mungkin untuk orang-orang yang kamu sayang misalnya,” jelas Raka.

“Air matamu terlalu berharga untuk menangisi hal-hal yang tidak berguna, apalagi masalah-masalah hidupmu. Kalau kamu punya masalah, jangan dibawa nangis. Menangisinya tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik bukan? Lebih enak kalau kamu tersenyum. Selain kamu tambah cantik, dunia juga bakal membantu mengatasi masalahmu. Dunia ini senang dengan orang-orang yang suka tersenyum, apalagi ketika mereka sedang menghadapi masalah,”

Buat apa aku menangis? Ayolah Lara, tersenyumlah.

Lara memaksakan diri untuk membentuk lengkungan di bibirnya, namun sia-sia. Usahanya untuk menahan tangisnya sia-sia belaka, karena kini air mata deras membasahi pelupuk matanya.
Segala memori tentang sahabatnya itu tiba-tiba saja terputar dengan sendirinya di dalam kepalanya. Bak piringan disc player, otaknya memainkan segala ingatan tentang sahabatnya itu. Satu-persatu. Flashback.

Rumahnya yang berdekatan. Tentang sekolahnya yang selalu sama. Tentang permainan masa kecilnya. Tentang ikan-ikan yang selalu mereka perdebatkan. Tentang belajar bersama di rumahnya. Tentang Raka yang selalu mengolok-olok dirinya yang tak pandai memasak. Tentang Raka yang tak pernah peduli dengan penampilannya. Terlalu biasa, katanya. Tentang Raka yang selalu menyanyikan lagu. Tentang lagu yang selalu menjadi kesukaan keduanya hingga kini. Bahkan, di kepalanya kini, Lara bisa mendengar dengan jelas lagu itu mengalun mengiringi langkahnya di lorong-lorong rumah sakit ini.

Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita.
Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati.


Air matanya terus mengalir. Entah mengapa ia tak ingin menghapusnya. Dibiarkannya saja matanya yang basah itu mencari-cari sahabatnya.

“Kamu suka lagu itu juga?”

“Iya, dong! Aku malah pandai memainkannya,” ujar Raka bermaksud memamerkan keahliannya bermain gitar.

“Masa sih? Sombong deh,” ucapnya tak percaya.

“Gak percaya? Coba nih tak mainkan,” Raka memetik dawai gitarnya, membentuk alunan melodi lagu Semua Tentang Kita. Merdu. Ia menyanyikan lagu tersebut yang kemudian langsung saja diikuti oleh Lara. Berpasangan, mereka menyanyikan lagu itu. Jikalau salah satu dari mereka dirundung masalah, maka lagu itulah yang menjadi pelampiasan mereka.

Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala.
Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa.


Lagu itu terus saja terngiang di kepalanya. Baru tadi siang ia menerima kabar tentang sahabatnya, ketika ia masih menghabiskan waktu bersama pacarnya. Sebuah panggilan menyela, menyampaikan Raka mengalami kecelakaan. Motor yang ditumpanginya menabrak truk dari arah berlawanan.
Ini salahku. Aku yang bodoh. Aku menolak ajakannya tadi pagi. Seandainya saja aku memilih pergi bersamanya… Seandainya saja aku lebih memilih bersama dia daripada Dika. Seandainya saja… Ia merutuk dalam hatinya.

Di depan pintu kamar dimana Raka terbaring dengan dokter-dokter yang menanganinya, Lara tiba. Dari balik jendela Ruang Operasi, ia mendorong tubuhnya ke depan pintu. Ia memaksakan jendela untuk bisa mengabarkan segala keadaan Raka sekarang. Namun tetap saja, ia menangis.

Aku menangis, Raka. Aku menangis. Maaf, untuk kali ini aku tak bisa menahannya. Seperti katamu, tangisku hanya untuk orang yang benar-benar kusayangi. Batinnya. Ia terduduk lemas di depan pintu. Membenamkan wajahnya di antara dua lututnya. Membiarkan tangisnya pecah sebanyak-banyaknya.

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita




--Imam Rahmanto--

*Inspired by Song Peterpan - Semua Tentang Kita

Jumat, 21 September 2012

Lepaskan Beban Masalah

September 21, 2012
Gambar: Google
Saya yakin setiap orang pernah menghadapi masalah. Besar atau kecil, sulit atau mudah. Bahkan mungkin masalah-masalah yang menimpa kita itu terkadang membuat kita berpikir untuk menghilang saja dari dunia ini.

"Tuhan, saya ingin menghilang sejenak dari dunia ini. Bawa saya ke tempat yang paling damai, tanpa pikiran, tanpa beban masalah,"

Salah seorang teman saya, ya, sedang mengalaminya. Saya sungguh iba melihatnya, karena saya pun pernah mengalami hal demikian.

Hal yang sama beberapa kali telah menimpa saya. Membuat segala hal yang tidak ada hubungannya dengan jalinan masalah itu turut menjadi korban. Segalanya (versi saya) berantakan. Tapi, itu dulu... ketika saya belum tahu untuk "menenangkan" pikiran saya. Karena pada dasarnya, masalah itu berat ketika kita memikirkannya juga terlalu berat. Seolah-olah hanya kita saja yang tahu dan mengerti perihal "beban" itu.

Beberapa orang mungkin menenangkan diri dengan membagi "beban"nya itu pada orang lain. Istilah kerennya, curhat. Perasaan mereka menjadi Plong! ketika punya teman berbagi kisah. Tak peduli apakah temannya bakal memberikan masukan ataupun sekadar mendengarkan saja.

Namun berbeda dengan saya, yang meluapkan beban masalah pada sebuah tulisan. Saya punya buku, sebuah journal -- berisi kisah hidup dan segala hal yang saya anggap menarik untuk ditulis -- yang bisa menjadi tempat untuk menulis segala "beban" itu. Menuangkan segala perasaan melalui tulisan (tangan) itu rasanya membuat perasaan lebih damai. Meskipun kertas tak bisa berbicara, bolpoin/ pena tak mungkin menepuk pundak kita, hal itu sudah membuat saya lepas dari beban-beban masalah yang melilit kepala saya. Beban pikiran secara perlahan mengalir dari kepala melalui lengan yang berujung pada cetak di atas kertas. Percaya atau tidak, hal itu selalu berlaku efektif untuk menenangkan pikiran. It's so simple.

Terakhir, ada sebuah potongan kalimat yang sangat saya sukai dari film "Mestakung", yang selalu membuat saya terharu kapanpun mengingatnya. Kalimat yang diucapkan oleh ayah Arif (Lukman Sardi) sesaat sebelum melepaskan anaknya itu berangkat ke Jakarta;

"Jangan lupa shalat ya, supaya Gusti Allah kasih apa yang kamu mau....juga kamu dapat apa yang kamu cari..."


--Imam Rahmanto--

*Ps: tegah malam, berpikir sambil menyeruput segelas cappuccino

Rabu, 19 September 2012

Surat Untukmu, Aku

September 19, 2012
Time exprees from the future. (Ilustrated by: ImamR)
 
Di suatu tempat yang sangat kau impikan, xx November 20xx


Yth. Diriku, Imam Rahmanto
Di Masa Lalu

Hai, apa kabar? Tentu kau a.k.a diriku disitu baik-baik saja, bukan? Aku tahu itu karena diriku adalah orang yang tidak pernah merasa sakit. Masih sangat lekat dalam ingatanku, aku yang sering meminta-minta sakit pada Tuhan namun tak pernah dikabulkan. Barulah kelak ketika kau jadi aku, kau akan sadar betapa berharganya kesehatan itu meskipun tetap dirundung banyak masalah. Jikalaupun datang sakit hati, kau selalu berusaha untuk tegar, tersenyum, dan tentu saja bersifat kekanak-kanakan. Memang, tanpa aku (kau) sadari, terkadang ada suatu masalah yang mesti dihadapi dengan jiwa anak kecil. Lucu? Memang. Karena sifat itu akan terus menjadi milikmu hingga hari ini ketika aku menulis surat ini padamu.

Kau pasti bertanya-tanya, tahun berapa ketika aku menuliskan surat ini? Dan mengapa tepat dikirimkan untuk diriku yang masih menjalani masa kuliah? What's the matter? Ok, bersabarlah. Perlahan aku akan menjelaskan padamu.

Aku menuliskan angka tahun 20xx seperti itu agar kiranya kau tidak selalu menunggu-nunggu saat-saat sepertiku ini. Rahasia. Karena aku yakin, kau akan menantikannya jika aku menceritakan perihal diriku padamu. Asal kau tahu saja, kau di tahun 20xx ini telah berhasil mencapai impian yang selama ini kau banggakan. Dan hal itu pula yang mendorongmu untuk menyusun "rencana-rencana mimpi" yang baru. Apa yang kau inginkan di saatmu kini, sudah kudapatkan semua di saatku ini. Sungguh menyenangkan mendapatkan segalanya dari hasil usaha sendiri. Pastikan itu dan... tetap PERCAYA! Aku disini ada dan tersenyum bangga karena kau yang telah melakukannya.

Nah, kini ketika aku sementara menyusun mimpiku (dan tentu saja milikmu juga) yang baru itu, aku memutuskan untuk mengirimkan secarik pesan untukmu. Padahal beberapa halaman loh. Hehehe... Biarlah, lagipula kamu sudah terbiasa membaca, kan?

Oh ya, aku juga lupa memberitahumu bahwa di saatku sekarang aku sudah memiliki pacar. Kau tidak usah lagi pusing memikirkan hal seperti itu. Kelak, di tengah perjalananmu menjadi aku, kau akan menemukan seseorang yang tepat untukmu. Dialah orang yang sangat mengerti dan paham dengan segala rutinitasmu. Orangnya baik loh. Cantik juga. Dan bagiku dia....sempurna.
Jadi, tidak ada alasan lagi untukmu di masamu itu risau memikirkan hal tersebut. Tidak bakalan seru jika kuceritakan padamu betapa lucunya kisah pertemuanku dengannya.

Sudahlah, aku tidak mau terlalu banyak mengumbar kisahmu di masa depan. Biarkanlah kau sendiri yang menemukan jalan untuk menjadi diriku. Dan ketika kau sampai disini, kau akan merasakan hasilnya yang manis sekali. Sangat manis malah.

Satu-satunya alasanku untuk mengirimkan ini padamu agar semakin mengokohkan keteguhanmu di masamu sekarang. Kalau tidak salah, tahun 2012 kan? Aku masih ingat, itu adalah awal ketika aku mulai memancangkan tekadku untuk memperbaiki kuliahku. Heh, setahun sebelumnya agak kacau, bukan? Aku mengirim ini semata-mata untuk membantumu tetap pada jalur itu. Kau bertindak benar. Semuanya memang bermula dari situ. Segala perbaikannya, segala hal-hal baru kelak akan kau dapatkan dari sana. Tetaplah bersemangat!

Fokus. Itu hal yang juga penting untukmu. Hilangkanlah dirimu yang dulu suka dengan banyak rutinitas kesibukan. Setidaknya kau mesti meluangkan pula waktumu untuk menikmati alam sekitar atau bersosialisasi dengan orang lain. Nah, pilih tempat (organisasi) yang memang menyenangkan buatmu. Dan aku rasa, saat ini kau sudah menemukannya. Tidak perlu banyak organisasi untuk bisa membawamu menjadi diriku. Cukup memilih untuk fokus dan serius pada jalanmu itu. Pun, selalulah tersenyum. Kelak, kau akan mengerti mengapa aku selalu menyuruhmu melakukan hal itu.

Di sisi lain, tetaplah menulis, tetap berbagi. Kau menulis untuk berbagi, kan? Percayalah, di hari ketika aku menuliskan surat ini untukmu, aku tersenyum dengan lebarnya karena mengingat-ingat jumlah tulisan yang sudah kubagikan untuk orang lain. Tak terhitung lagi orang-orang yang mengenalku lewat tulisanku. Aku sekarang malah bersiap-siap menulis buku yang baru. Kecintaanmu akan menulislah yang akan banyak membantumu di kemudian hari.

Satu hal penting lagi; pandai-pandailah mengatur waktumu. Berusahalah memprioritaskan sesuatu yang benar-benar lebih utama. Jangan mudah tergoda, karena aku tahu, biasanya jika suntuk kau membunuh waktumu dengan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Malah di saat-saatmu sekarang, seingatku, setoran-setoran liputanmu agak kurang kan? Nah, karena kau sudah bertekad untuk mengubahnya, maka selalu luangkan pula waktumu untuk menjalani tugas harianmu itu. Dari sana, kau juga akan belajar menjadi seperti aku yang sekarang ini.

Belajarlah untuk bangun pagi meskipun jam tidurmu menjelang waktu subuh. Ada beberapa waktumu yang terbuang percuma bisa digantikan oleh jumlah jam tidurmu itu. Tetaplah beraktivitas hingga larut malam. Hehe...

Nah, itu yang saja yang akan kusampaikan padamu. Tidak perlu berpanjang-panjang ria menyampaikan smeuanya padamu. Aku yakin, kau akan menemukannya sendiri, bukan karena kau orang yang pandai melainkan kau orang yang selalu percaya dengan keadaan. Penasaran akan masa depanmu? Nah, silahkan berimajinasi tentang akan jadi apa kau nanti. Aku, sesuai dengan imajinasimu itu. Serius. Swear! Dan, tetap percaya! ^_^.

Pesanku lagi: Karena kau yang melakukannya, maka aku ada.


Salam terhangat,
Dari dirimu di masa depan,

Imam Rahmanto

Selasa, 18 September 2012

Harga Tinggi, Rasa Biasa Saja

September 18, 2012
Cappuccino yang cukup berbeda (rasa) dari cappuccino lain.
Saya terkejut ketika membayarkan harga minuman yang baru saja saya minum. Untung saja, saya masih membawa uang berlebih. Minuman cappuccino yang saya nikmati di "Roemah Kopi" - sebuah warung kopi (warkop) a.k.a cafe ternyata memasang harga yang sangat tinggi atas sajian-sajian minumannya. Oh ya, saya terkadang masih bingung bagaimana membedakan sebuah warkop dengan sebuah cafe. Spesifikasi apa saja yang bisa menjadikannya dilabeli warkop atau cafe.

Kegemaran saya akan kopi "cappuccino" membuat saya semakin penasaran untuk mencoba berbagai olahan cappuccino yang lain. Warkop yang berbeda tentu saja menyajikan minuman cappuccino yang berbeda pula. Oleh karena itu, tak jarang saya berburu minuman-minuman itu di beberapa cafe atau warkop di Makassar. Kalau olahan sendiri, masih sebatas menyeduh cappuccino sachet-an saja. Hasilnya? Masih standar. Dan "Roemah Kopi" menjadi salah satu tempat yang sempat saya singgahi.

Memasuki halaman cafe tersebut serasa memasuki cafe-cafe kelas atas. Suasananya pun cenderung agak glamour. Sebenarnya tidak cocok untuk kalangan kelas-kelas mahasiswa. Karena yang saya lihat tak ada satu pun pengunjung yang berkutat dengan laptop atau notebooknya. Padahal kita kan juga mau ber-wifi ria. Hanya satu-dua orang yang memanfaatkan jaringan wifi disana dengan gadget tabletnya. Mereka benar-benar hanya ngopi di cafe sambil berbincang dengan teman-teman atau rekan-rekan kerja mereka.

Meskipun mahal, namun bagi saya kualitas cappuccino-nya masih di bawah standar taste saya. Memang, rasanya agak berbeda dari cappuccino kebanyakan. Namun, penyajiannya nampaknya tidak benar-benar "panas". Untuk minuman-minuman sekelas kopi, kondisi minuman saat disajikan adalah hal yang penting, seharusnya disajikan dalam keadaan panas - agar berangsur-angsur menghangat. Sebagai seorang mahasiswa, harga juga mempengaruhi rasa saya lho... Hehe...dan akhirnya saya kecewa. Masih mending dengan cappuccino yang sering saya nikmati di warkop-warkop biasa (yang juga menyediakan sambungan wifi).

Kebiasaan ngopi (baca: cappuccino) saya itu sebenarnya bermula semenjak saya memiliki laptop. Jika suntuk atau jenuh melanda saya, maka cara yang paling tepat untuk "membunuh"nya adalah dengan ngopi di warung-warung kopi sekaligus memanfaatkan fasilitas layanan wifi-nya. Ada atau tidak ada teman yang menemani, bukan masalah. Jika bosan sendirian, saya terkadang mengajak teman-teman yang lain.

Kualitas rasa segelas cappuccino ternyata tidak bisa dinilai begitu saja dengan tingkatan harganya. Mahal sekalipun jika tidak diolah dengan baik, hanya akan menghasilkan minuman "asal jadi". Yah, pencarian saya masih berlanjut. Saya masih mencari aroma cappuccino yang lebih baik yang sudah pernah saya minum, tentunya dengan harga yang lebih bersahabat pula.


--Imam Rahmanto--

Senin, 17 September 2012

Hujan Awal Musim itu…

September 17, 2012
Tidakkah kau merasakan wangi asap-asap kendaraan yang beradu dengan debu-debu jalanan? Deru mesin kendaraannya sama sekali tak mempengaruhi puing-puing debu yang berterbangan dihempas oleh rerintik hujan. Ya, hujan. Barusan adalah hujan pertama di bulan ini, di musim penghujan yang selalu engkau agung-agungkan.

“Bangun, bangunlah…” lirihku terbata-bata.

Engkau selalu menyukai hujan. Sejak pertama kali kita berjumpa, di bangku sekolah menengah, engkau selalu bercerita mengenai hujan. Tak ada henti-hentinya engkau mengisahkan segala perkara tentang hujan. Mulai dari anak-anak hujan sampai pada ayah hujan. Aku sampai bosan mendengarkanmu berceloteh mengenai hujan. Padahal, engkau sendiri tahu, aku berbeda denganmu. Aku sangat membenci hujan.

Hujan lah yang telah membasahi seluruh isi tasku ketika baru saja aku berangkat ke sekolah pagi itu. Dan kau hanya tersenyum melihatku basah kuyup. Hujan jua yang  membuat rambutku acak-acakan ketika akan bertemu dengan kekasihku. Dan kau, hanya tersenyum mengacak lagi rambutku. Hujan, selalu saja, menghalangi kepergianku. Hujan, aku tak bisa pergi kemana-mana. Hujan pula yang telah merenggut ayah dariku. Dan kau…baru kali itu terdiam mendengar keluhanku tentang hujan.

Aku masih duduk di tengah hujan ini.

Ciumlah, wangi jalan beraspal yang diterpa gerimis siang ini. Debu-debunya beterbangan, tak nampak namun terasa oleh hidung. Gerimis yang akan mengawali musim penghujan, berawal di bulan September ini. Bukankah kau suka dengan hujan pertama? Apa kau masih disana? Apa kau mendengarku?


Gambar: Google

“Ya, aku suka sekali ketika hujan paling pertama turun di jelang musim penghujan. Ada nuansa-nuansa kedamaian yang dibawanya. Menjadi penanda bahwa akan turun lebih banyak rahmat lagi,”

“Coba rasakan hujan itu, di depan rumahmu, di depan sekolah, di pematang sawah, di taman-taman kota. Atau bahkan di pinggir jalan raya sekalipun. Debu-debu gersang peninggalan musim kemarau dihempas begitu saja oleh titik-tik hujan. Beterbangan. Dan…hm…perasaanku begitu damai,” Aku melihatmu melepaskan pandangan ke depan, menerawang terbang bersama bayanganmu itu.

Ketika dulu engkau kutanya tentang hujan, tiba-tiba saja kau terdiam. Lama. Lama sekali.

“Ada apa? Kenapa kamu diam? Bukannya kamu suka dengan hujan? Trus, kenapa menjawab alasannya saja kamu terdiam sangat lama,” gerutuku kesal sambil tetap memaksamu membeberkan alasannya.

Kau hanya tersenyum getir. Ada sebuah luka di dalamnya. Aku tahu, karena aku pun dulu sering melontarkan senyuman serupa.

“Aku suka hujan. Aku sudah berjanji tak akan pernah membenci hujan,”

“Janji? Kepada siapa?” Dan aku berharap bukan pada kekasihmu.

“Aku pernah berjanji kepada diriku sendiri untuk tak membenci hujan, sejak ia dikirimkan Tuhan untuk membalas doaku satu-satunya,”

Tak perlu bertanya lagi, aku tahu maksudmu. Bukankah engkau dulu sudah pernah menceritakannya? Tentang engkau yang nyaris kehilangan keluargamu. Engkau berdoa. Hujan datang padamu begitu saja. Kau berteman dengan hujan. Mengikat janji untuk tak pernah saling membenci, seperti ketika kita mengikat janji sebagai sepasang sahabat.

Hujan membasahi seluruh tubuhku. Aku masih disini. Termangu. Gurat wajah kesedihan bisa kau lihat jelas di air mukaku. Air mataku sudah melebur dengan hujan. Menetes bersama titik hujan di keningmu. Aku jamin engkau takkan bisa membedakannya dengan air hujan ini. Namun, mengapa engkau sejak tadi tak berucap sepatah kata pun padaku? Engkau bukan Bintang yang kukenal. Bintang yang selalu membagi tawanya denganku yang membuat sedihku hilang ketika bersama denganmu.

Bintang, cobalah tertawa padaku. Jika engkau tertawa, aku tentu tak akan terisak seperti ini. Wajahmu sendu di atas pangkuanku. Engkau menatap langit dengan mata tertutup. Membiarkan tetes-tetes air menyapa setiap inci wajahmu. Seperti inikah engkau yang selalu menyukai hujan? Aku tetap kekeuh membenci hujan, terlebih saat ini.

Berbeda halnya ketika engkau menawariku sesuatu yang lain untuk kusukai. Seorang teman yang kau kenalkan padaku. Aku menyukainya, bukan? Bahkan aku menjadi kekasihnya. Ia, orangnya sangat baik. Mungkin, lebih baik darimu.  Dia lebih tampan. Dia lebih pandai. Dan dia punya harta melimpah. Namun, tahukah kau, aku tidak sungguh-sungguh menyukainya? Aku menyukainya semata-mata karena engkau berharap aku menyukainya. Sungguh, rasa sukaku padanya tidak seperti segelas Cappuccino yang pernah engkau tawarkan padaku.

“Ini minuman apaan sih?” Aku yang masih tidak tahu apa-apa mengenai minuman kesukaanmu dengan polosnya bertanya. Aku hanya terbiasa mendengar labelnya dari televisi-televisi milik para birokrat.

Ah, masa kamu ndak tahu sih? Ini kan Cappuccino. Minuman saudara sesusuannya kopi,” candamu.

“Memangnya kopi bisa nyusu?” timpalku bercanda pula.

“Bisalah. Makanya lahir ‘kopi susu’,”

Engkau tergelak. Tentu saja, aku tertawa mendengarnya yang hanya bisa kubalas dengan mendelik padamu. Seandainya saja aku bisa bermanja-manja padamu, maka saat itu juga aku ingin merajuk padamu. Entah mengapa, ketika berada di dekatmu, aku selalu bisa tertawa lepas tanpa secuil beban pun di pundakku. Aku sadar, kau selalu membuatku menjadi aku, tanpa mesti berputar menjadi diri orang lain terlebih dahulu.

Oleh karena itu, bangunlah. Bukankah besok kita akan jalan-jalan ke Losari, menantikan sunrise dan memperdebatkannya? Aku menantikan waktu itu.

“Bintang…” Aku tak mampu mengucap kata-kata lain selain namamu itu.

Aku sejak tadi menggoyang-goyang halus kepalamu. Menopangnya di atas pahaku. Membersihkan tetesan darah yang mengalir dari pelipismu. Aku menanti orang-orang yang sejak tadi berteriak-teriak memanggil ambulance. Menarik-narik mobil yang melintas di jalan tengah kota ini. Beberapa darinya hanya berhenti tidak jauh dariku, memandangiku. Nampaknya mereka merasa iba padaku. Atau padamu yang kini tak bersuara, meski sepatah rintihan saja?

“Cepatlah, Bung! Kecelakaan… Anak ini …  kritis. Bawa cepat… tumpangan…rumah sakit,” Aku sayup-sayup mendengar suara-suara itu di sekitarku. Patah-patah. Aku terus saja memelukmu. Berharap engkau bangun saat ini juga dan mengatakan “Surprise!” padaku, seperti yang selalu engkau lakukan jika ulang tahunku tiba.

Hujan, aku benci padamu. Hujan selalu saja merenggut orang yang kusayangi. Dan apakah engkau kan termasuk juga?

Aku terduduk disini sejak beberapa saat lalu. Tepatnya duapuluh menit yang lalu. Sejak mataku menangkap sebuah motor yang sangat kukenali bentuk fisiknya teronggok begitu saja di tengah jalan. Orang-orang ramai berteriak. Menahan setiap mobil pribadi ataupun angkutan umum yang melintas. Sekian meter di depan, berkerumum lebih banyak orang lagi. Aku mencerna situasi itu.

Tanpa pikir panjang, tanpa peduli hujan masih mengguyur, tak peduli hujan akan membasahi rambutku, atau bahkan meleburkan seluruh isi dalam tasku, aku turun dari angkutan umum yang kutumpangi. Aku tak mempedulikan tatapan penumpang lain yang merasa heran dengan kegilaanku. Berlari diantara kerumunan orang di depanku. Menerobos hujan. Harapanku saat itu hanya satu, tidak menemukan dirimu disini. Namun, ternyata hujan tetap saja pilu bagiku. Saat kutemukan, kau terbaring tak sadarkan diri diantara kerumunan yang memegangimu.

*****

“Hei, Rinai!”  Tadi pagi, engkau baru saja bertanya padaku. Kita bertemu di depan kampus. Aku baru saja pulang dari rumah seorang kawanku. Rutinitas seperti biasa, tugas kelompok.

“Kamu dari mana?” Engkau bertanya padaku.

“Dari kerja kelompok,” jawabku singkat meskipun aku ingin berlama-lama berbincang denganmu.

Belum sempat engkau berbicara lagi, mendadak atap-atap warung di sepanjang jalan kampus bergemuruh. Hujan turun mengguyur semua orang di sekitar kita. Aku memutuskan untuk berteduh di salah satu warung fotocopy. Engkau turun dari motor dan ikut berteduh denganku.

Meski aku benci hujan, aku senang jika saat-saat seperti ini tiba. Aku punya waktu beberapa menit menunggui hujan denganmu. Setiap hari, aku hanya bisa berjumpa denganmu di akhir pekan. Bukan karena aku sibuk kuliah atau kamu sibuk dengan aktivitasmu sebagai seorang jurnalis kampus, melainkan karena aku selalu saja harus meluangkan waktu untuk orang yang kamu pinta aku sukai. Tak ingin aku menyebutnya kekasihku jika di depanmu.

“Akhirnya hujan datang juga ya?” ucapmu. Sepersekian detik, aku hanya diam. Ah, pasti lagi-lagi engkau akan bercerita tentang hujan kan? Aku merindukannya.

“Ah, kalau hujan begini, aku tidak bisa pulang ke -- ,”

Belum sempat pula aku menyelesaikan kalimatku barusan, kau sudah bergegas naik lagi ke motormu. Sementara hujan masih melanda. Ah, kau memang tak pernah berusaha memberiku kesempatan.

“Bintang, kamu mau kemana?!” teriakku.

“Aku mau pulang duluan! Ada sesuatu yang mesti kukerjakan!”

“Tapi, ini kan hujan!”

“Tidak apa-apa kok. Soalnya aku buru-buru!”

Kau tidak mempedulikan lagi seruanku. Engkau memacu motormu di tengah hujan, yang membuatku cemas. Bagaimana tidak, hujan ini bukan hujan gerimis. Dan engkau hanya mengenakan sweater pemberianku.

*****

“Bintang…” Aku berkali-kali menyebut namamu. Apakah kau mendengarnya? Tentu tidak. Jikalau engkau mendengarnya, engkau sudah pasti bangun sekarang juga dan mengusap air mataku. Mengajakku pulang, menghindari hujan. Karena kau pun tahu, aku tak suka dengan hujan.

“Dik, disana sudah ada mobil yang bersedia membawanya. Cepat kita angkat segera,” Seseorang tergopoh-gopoh di dekatku. Aku mengangguk seraya pasrah menyerahkanmu padanya untuk dibawa.

“Tolong ya, Pak…” lirihku nyaris tak terdengar. Orang itu hanya menatap iba padaku, seperti orang-orang lainnya. Aku mengikutinya di belakang.

Berangsur, hujan perlahan memudar. Meninggalkan bercak-bercak air dan darah di permukaan jalan. Bulir-bulir air melengket di pucuk daun. Akan tetapi, tak ada pelangi yang akan menyambut keredaannya kini. Ia masih enggan muncul di hujan awal musim ini. Aku pun sama sekali tak mengharapkannya. Yang tertinggal kini hanya rinai-rinainya. Halus menerpa setiap pori-pori kulitku. Benarkah katamu, ada kedamaian di tiap rinai hujan?


--Imam Rahmanto--

Minggu, 16 September 2012

Konsisten ber-AKU atau SAYA

September 16, 2012
Ilustrated by ImamR
Sambil santai, ada enaknya jalan-jalan di dunia maya. Melompat dari tulisan satu ke tulisan lainnya. Mengunjungi “rumah maya” teman-teman yang tidak hanya menjadi konsumen jejaring sosial. Nongkrong lama-lama di jejaring sosial bikin (ketularan) menggila (jangan dibaca: galau). Lha, benar kan? Apalagi kalau sudah tiba malam Minggu. Dijamin bakalan banyak status-status merana yang ingin dikasihani. Haha

Dari tulisan orang lain, jika beruntung, saya bisa memetik sebuah ide dari sana. Jika lebih beruntung lagi, seulas senyum bisa saya hadiahkan buat penulisnya. Oh ya, seringkali saya menemukan beberapa kesalahpahaman (jangan dibaca: keliru) yang terdapat dalam beberapa tulisan yang pernah saya jumpai. Mungkin agak sepele, tapi menurut saya hal tersebut bisa mempengaruhi kedalaman deskripsi tulisan itu sendiri.

Kita tentu sudah mempelajari dari bangku sekolah dasar mengenai penggunaan “kata ganti”, baik AKU, SAYA, KAMU, ANDA, KALIAN, KAMI, KITA, MEREKA, DIA, NYA, dan sebagainya. Nah, kesalahpahaman yang sering saya temukan yakni penggunaan kata SAYA ataupun AKU yang tidak konsisten.

Sebagian dari kita mungkin lebih enjoy ketika menulis sebuah cerita dengan menggunakan kata ganti orang pertama. Akan tetapi, terkadang penggunaanya masih saja selalu dicampur-campur. Di satu kalimat menekankan pada kata SAYA, namun di kalimat lain tiba-tiba memunculkan kata AKU sebagai kata ganti kepemilikan. Nah loh? Kalau sudah seperti ini, tidak konsisten namanya. Hal tersebut juga bisa merusak keindahan penceritaan yang sedari awal menggunakan kata ganti (terpilih).

Memang sih, ada perbedaan ketika memilih menggunakan kata AKU atau SAYA. AKU, lebih menekankan pada unsur keakraban pencerita. Sementara SAYA, cenderung ditujukan pada hal-hal yang tarafnya agak lebih sopan. Akan tetapi, sekali lagi, menulis itu mesti konsisten. Kalau pakai AKU ya AKU. Kalau pakai SAYA ya SAYA.

Yah, mungkin hal tersebut dampak dari sebuah kebiasaan masyarakat. Saya sudah sering menemukan dalam kehidupan sehari-hari, percakapan Bahasa Indonesia (dialek daerah) tidak konsisten dengan penggunaan kata AKU maupun SAYA itu. Dan terdidik dari kebiasaan itu, mungkin, mereka kemudian menuangkannya secara tidak langsung melalui tulisan.

Saya khawatir, semakin lama, berawal dari kebiasaan - pembiasaan - nantinya bakal menjadi sebuah pembenaran. Sama halnya dengan istilah Presentasi yang sudah diplesetkan, bahkan oleh dosen. (INGAT: BUKAN Presentase!).

"Ini bukan perkara benar atau salah dalam kaidah berbahasa Indonesia. Namun itu soal “taste” tulisan yang akan dinikmati oleh orang lain. Karena penulis ya menulis, dan pembaca ya membaca."


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 15 September 2012

Finding Forrester, Menulis dengan Hati

September 15, 2012
"You write your first draft with your heart and you rewrite with your head. The first key to writing is to write. Not to think."
(Tulislah lembaran pertamamu dengan hati dan tulis kembali berikutnya dengan kepalamu. Kunci utama dalam menulis adalah tulis saja, tidak perlu berpikir)

wikipedia.com
Seperti itulah potongan percakapan dlam film Finding Forrester yang baru-baru ini saya selesai tonton. Meskipun film ini dirilis sejak tahun 2003, tapi ternyata hasilnya cukup mengesankan (terutama bagi mereka yang punya kegemaran menulis).

Sudah sejak lama saya membaca desas-desus mengenai film ini di dunia maya, membuat saya begitu penasaran, dan saya baru mempunyai kesempatan menontonnya dua hari yang lalu. Pikiran kacau memutuskan untuk download film yang membangkitkan semangat. Hehe

Film berdurasi 136 menit ini berkisah tentang seorang anak kulit hitam, Jamal (18)  yang telah lama ditinggal mati oleh ayahnya. Sejak saat itu, ia sering menghabiskan waktunya menulis catatan-catatan harian di dalam kamarnya. Selain senang menulis, Jamal juga sering menghabiskan waktunya dengan bermain basket bersama teman-temannya.

Hingga suatu ketika, Jamal ditantang teman-temannya untuk mengambil barang di sebuah apartemen dekat tempat tinggalnya yang dihuni oleh seseorang mencurigakan. Setiap hari, seseorang misterius selalu mengamati Jamal dan teman-temannya yang sedang bermain basket dari balik jendela apartemen tersebut. Tantangan itu diterima Jamal. Akan tetapi, ternyata semuanya tidak berjalan mulus sesuai dengan perkiraan Jamal. Ketika ia sedang memeriksa isi dalam apartemen tersebut, ia kedapatan oleh pemiliknya, sehingga membuat Jamal dan teman-temannya yang menunggu di bawah apartemen lari terbirit-birit. Naasnya, Jamal melupakan tasnya yang berisi catatan-catatan hariannya.

Hari selanjutnya, setelah melihat tas tersebut tergantung-gantung di jendela apartemen, Jamal mendapatkan kembali tasnya, yang dilemparkan dari jendela tersebut oleh si penghuni misterius. Tas beserta isinya masih lengkap, namun kejutan bagi Jamal, ia mendapati bukunya telah dipenuhi coretan-coretan koreksi atas tulisannya.

“Pikiran sempit”, 
“Bagian ini fantastis”, 
“Spesifik”, 
“Kekurangan kata-kata”, 
“Tidak baik bagi pembaca”, 
“Kemana kau membawaku?”

Rasa penasaran membuatnya datang kembali ke apartemen itu, dengan maksud meminta maaf pula, dan ia ingin memberikan beberapa bukunya yang lain untuk dikoreksi. Akan tetapi, bukannya disambut baik, ia malah diusir dengan syarat membuat tulisan 5000 kata mengenai “Mengapa Jamal harus menjauhi rumahnya?”

Hal tersebutlah yang kemudian mengawali pertemanan Jamal dengan William Forrester, seorang penulis terkenal (baru diketahui Jamal beberapa hari kemudian) yang hanya menerbitkan satu buah karya buku fenomenal dan memilih untuk mengurung diri di sebuah apartemen yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali kurir pengantar barangnya. Dari sanalah kemudian Jamal belajar cara menulis. Menulis saja, tidak perlu berpikir.

Selain itu, di sekolah, tulisannya dianggap sangat memuaskan oleh guru-gurunya, karena banyaknya buku yang telah ia habiskan. Ia ditawari beasiswa bersekolah di sebuah sekolah ternama dan menjadi salah satu anggota  tim basket di sekolah tersebut. Disanalah, ia kemudian banyak menemukan masalah. Perseteruan dengan salah seorang teman tim-nya, tapi tidak berangsur lama. Konflik utama dengan salah seorang guru sastranya, Prof. Robert Crawford, yang tidak percaya dengan kemampuan menulisnya. Ia menganggap tulisan-tulisan Jamal adalah hasil plagiat. Robert Crawford yang juga menyimpan dendam karena merasa dipermalukan Jamal di depan kelasnya sendiri, ternyata dikenal oleh William Forrester.

Di tengah-tengah cerita, kita juga akan tahu alasan seorang William Forrester tidak menunjukkan dirinya ke publik setelah bertahun-tahun lamanya menerbitkan karya hanya satu buku.

Film ini sangat inspiratif bagi saya. Kisah di dalamnya banyak mengajarkan kita tentang cara menulis. Bahwa menulis itu cukup dengan menulis saja, tidak perlu berpikir. Tulis dengan hati. Belakangan, baru kita koreksi benar-salahnya. Tulis dengan kepala. Yup! Mengenai penulisan, banyak hal yang bisa dipetik dari kisah di film ini. Seperti ketika Jamal memperdebatkan penggunaan kata “Dan” di awal kalimat. Penggunaan kata tersebut memang melenceng dari kaidah penulisan, namun penulisannya bebas dan memberikan ketegasan terhadap sesuatu. Dibenarkan oleh William Forrester sendiri, karena ia pun banyak menggunakan kata-kata itu di dalam novelnya.
 “The rule on "and" or "but"...  Some of the best writers have ignored that rule for years...”
 (Aturan dari penggunaan kata "Dan" atau "Tapi"... Beberapa penulis terbaik terbukti mengabaikannya selama beberapa tahun)

Selain itu, kita juga diajarkan untuk menghargai seorang penulis itu sendiri. Tidak boleh melipat buku. Mengenai, bagaimana sia-sianya seorang orang menulis jika hanya diperuntukkan buat dirinya sendiri, tidak ingin berbagi dengan orang lain. Kutipan lain dari fim ini:
“Do you know what people are most afraid of?”
“What?”
“What they don't understand. When we don't understand, we turn to our assumptions.”
("Tahukah kau hal yang paling ditakutkan orang?"
"Apa?"
"Apa yang mereka tidak mengerti. Ketika mereka kita tidak mengerti, kita membalikkan pandangan kita")

Ada juga seperti ini,
“A lot of writers know the rules about writing... but don't know how to write”
 ("Kebanyakan penulis tahu aturan menulis... namun tidak tahu cara untuk menulis.")

Melalui film ini, kita juga bakal banyak belajar tentang mencari sebuah keluarga, seperti apa yang disampaikan Jamal dalam tulisannya yang dibacakan langsung oleh Forrester.
“Losing family obligues us to find our family. Not always the family that is our blood, but the family that can become our blood.”
(Kehilangan keluarga menuntun kita untuk menemukan keluarga baru. Bukan hanya berasal dari darah kita, namun menemukan keluarga yang bisa menjadi darah kita)

Pokoknya, film ini saya rekomendasikan buat jadi tontonan. Very inspired. Rating saya berikan sepenuhnya. Seandainya saya punya 20 jempol, maka saya berikan 20 jempol deh buat film ini. Hehehe

Finally, dari film tersebut kita bisa menemukan cara untuk menarik hati seorang wanita, yakni;
Unexpected gift, unexpected time!

(Hadiah tak terduga, di waktu tak terduga!)



--Imam Rahmanto--

Trailer film:



Kamis, 06 September 2012

Pantes, Ternyata Sudah Kering tah...

September 06, 2012

Saya hanya mengangguk-angguk melihat berita-berita yang ada di televisi. Bagaimana tidak, informasi yang dikabarkannya belum genap sebulan yang lalu saya alami sendiri. Kabar-kabar terkait Jawa, khususnya Jawa Timur, melaporkan bencana kekeringan yang kini sedang melanda masyarakat pedesaan. Dan saya pun, belum genap sebulan yang lalu, baru saja merasakannya.

Cuaca di desa saya, Keting (Kec. Sekaran, Kab. Lamongan) ternyata jauh lebih panas dibanding cuaca di Makassar. Sepanas-panasnya cuaca di Makassar, saya tidak pernah bergantung pada kipas angin jika sedang berada di dalam rumah. Sangat berbeda ketika saya berada di Keting, yang cuacanya di siang hari sudah mampu membuat saya meneteskan peluh. Ya, mau tidak mau, saya mesti menggantungkan hidup pada kipas angin. Di Makassar saja, saya baru berkeringat ketika usai melahap makanan yang pedas-pedas. Hehehe…

Akan tetapi, anehnya bagi saya, cuaca panasnya pun hanya berlangsung di siang hari. Ketika malam hari menjelang, maka suhu udaranya pun berangsur-angsur mulai menurun. Hingga saya mesti meringkuk karena udara yang agak dingin. Heran?? Jangan bertanya pada saya, karena saya sendiri juga heran dengan cuaca disana. Makanya adalah hal wajar ketika saya yang berusaha bangun pagi disana (Keting, red) selalu saja merasa bangun kesiangan. Lah, masih pukul 5 subuh, matahari ternyata sudah begitu terangnya menyinari seisi desa. Kalau mau bangun pagi, harus lebih “lebih” dini lagi.

Selain itu, air bersih juga merupakan salah satu hal yang menjadi kesulitan bagi warga desa disana. Seperti yang terlihat di berita-berita tivi hingga hari ini, tanaman-tanaman warga desa terancam bakal kekurangan air. Oh ya, katika saya tiba disana, untung saja warga desa telah selesai memanen hasil sawahnya (padi).

Di Keting, warga desanya masih bisa bernapas lega. Untuk mengairi tanaman-tanaman di sawah, warga desa masih bisa memanfaatkan air dari bendungan sungai Bengawan Solo. Maklum, desa saya bersebelahan langsung dengan aliran sungai Bengawan Solo. Air dari bendungan tersebut dibagi menjadi beberapa kanal dan dialirkan ke sawah-sawah di sekitar desa. Sementara untuk persediaan MCK (Mandi, Cuci, kakus) warga, mereka lebih banyak menggunakan air sumur dibandingkan air PAM. Maka jangan heran ketika mandi menggunakan sabun merek apapun tidak bakalan menghasilkan busa sebanyak yang digembar-gemborkan iklannya. Lha wong, airnya mengandung banyak zat besi.

Akan tetapi, di daerah lain, seperti Mindu (desa kelahiran ayah saya), mereka sama sekali tidak memiliki banyak persediaan air untuk mengairi sawah-sawah (tanaman tembakau) mereka. Sumber pengairan mereka kebanyakan berasal dari Waduk Gondang yang sangat jauh dari daerah tempat tinggal mereka. Ketika berjalan-jalan disana, saya pun banyak menemukan tanah-tanah dengan permukaan yang retak dan menganga lebar. Wuih, benar-benar kering (dan berdebu), deh..
Kekeringan yang melanda daerah Kedungpring (bersebelahan desa Mindu) sudah sangat parah.
(Sumber: tribunnews.com)

Saya kini baru ngeh, ternyata kekeringan sudah melanda sejak lama. Bahkan, kekeringan seperti itu sudah dikategorikan sebagai “bencana”. Jika sudah seperti itu, berarti kekeringan yang melanda daerah di Jawa ternyata sudah memasuki fase-fase yang kritis. Imbasnya, beberapa sawah petani malah bisa terancam gagal panen.

Kekeringan tampaknya akan berlangsung cukup lama di Jawa. Hingga kini, tampaknya belum ada tanda-tanda akan turunnya hujan, meskipun kita sudah akan memasuki bulan-bulan penghujan. Beruntung, di Makassar kini, saya tidak begitu mengalami dampak kekeringan sama seperti ketika berada di Jawa. Di Makassar sendiri, tampaknya persediaan air sangat melimpah, apalagi jika sudah memasuki musim penghujan. Airnya benar-benar akan melimpah sampai meluber ke pelataran kost-an saya. hehe..

Lantas, kekurangan air seperti ini, kemudian menyadarkan saya kembali bahwa; Kita terkadang baru menyadari betapa berharganya sesuatu ketika kita telah kehilangannya.



--Imam Rahmanto--

Rabu, 05 September 2012

Penulis yang Baik Adalah Pembaca yang Baik

September 05, 2012
Sumber gambar: Google Search
Untuk belajar menulis, kita harus tahu membaca dulu. Kita tidak akan pernah paham “sesuatu” yang kita tulis jika kita tidak pandai membaca.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Nah, salah satu alternatif untuk menggali ide sebuah tulisan, ya, dengan “membaca”. Tapi, yang saya maksud dengan “membaca” disini bukan sebatas membaca saja, baik buku maupun tulisan lainnya. Karena saya yakin kok, seseorang yang gemar menulis biasanya juga akan menjadi pembaca yang baik (dalam hal tulisan). Lain halnya dengan seseorang yang gemar membaca…

Menurut saya, untuk bisa menggali ide (baik persoalan desain hingga tulisan), dibutuhkan keterampilan “membaca”. Beribu-ribu ide sebenarnya banyak bertebaran di sekitar kita, dari beragam kejadian yang kita alami. Hanya saja, kita tidak menyadarinya karena tidak berusaha membacanya. Yang terjadi kemudian hanya melihat, menyimak sekilas, dan melewatkannya begitu saja. Padahal, dalam kejadian sekecil apapun, dalam kondisi apapun, banyak hal-hal yang bisa diangkat sebagai sebuah masukan ide bagi kita.

Untuk sebuah tulisan pun berlaku hal demikian. Sesuatu yang berlangsung di sekitar kita bisa menjadi sebuah bahan yang unik bagi kita, tergantung dari bagaimana cara kita membacanya (atau maunya). Tentang cara membuat kue, tentang keluhan mengenai fasilitas umum, tentang pertemuan dengan seseorang, tentang pengalaman yang belum pernah dialami, tentang hobi orang lain, tentang kegemaran, tentang bla..bla..bla..

Segala kejadian yang berlaku di sekitar kita tidak untuk dilewatkan begitu saja.

Saya pernah mendengar sebuah cerita, mengenai sebuah perusahaan yang sedang menjalankan tes wawancara bagi calon-calon karyawannya. Perusahaan ini adlah perusahaan besar, sehingga banyak orang yang tertarik untuk menjadi karyawannya. Jumlahnya mencapai ribuan.

Akan tetapi, sejak pagi hari dilaksanakan tes wawancara, ternyata belum ada satu orang pun yang dinyatakan lulus menjadi karyawan perusahaan tersebut. Dari ribuan pelamar yang mengantri sejak pagi, tidak ada yang memenuhi kriteria. Padahal kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan tersebut tidak muluk-muluk dan cukup menjawab beberapa pertanyaan dari sang manajer perusahaan. Pertanyaan yang diajukan pun tidak membutuhkan nilai sekolah yang tinggi atau IQ yang gemilang. Pertanyaan apakah itu? Pertanyaan yang sederhana, “Berapa jumlah satpam yang Anda lihat di pintu masuk tadi?” atau “Berapa jumlah pot bunga yang ada di sebelah pintu masuk?” atau “Baju apa yang dikenakan oleh resepsionis di lobi?” Ya, hanya pertanyaan sederhana, tapi butuh pembacaan yang baik dan mereka nyatanya mengabaikan hal-hal yang remeh.

Untuk menggali ide, ada baiknya jika belajar membaca sekitar. Pembacaan yang baik akan menghasilkan tulisan yang baik pula. Semakin sering kita menuliskannya, maka semakin terlatih pula kita untuk belajar membaca. Malah, terkadang untuk menggambarkan sesuatu secara baik, dibutuhkan detail-detail yang sangat remeh-temeh.  Oleh karena itu, jangan remehkan hal sekecil apapun yang terjadi di sekitar kita. Mari membaca sekitar!



--Imam Rahmanto--

Selasa, 04 September 2012

Tulis Saja!

September 04, 2012

"Saya bingung mau menulis apa,"

Ungkapan seperti itulah yang seringkali saya dengarkan ketika mengajak orang lain untuk menuangkan pikiran mereka ke dalam sebuah tulisan. Padahal untuk menulis tiga hingga empat paragraf saja sebenarnya tidak butuh waktu sampai satu jam. Sementara jika kita bercerita satu sama lain, kalau saja dituliskan bisa mencapai lebih dari sepuluh halaman. Wow!

Sebenarnya saya pun terkadang mengalami hal serupa. Saya tidak tahu apa yang bakal saya tuangkan menjadi sebuah tulisan. Saya seperti kehabisan bahan untuk diolah menjadi sebuah tulisan. Akan tetapi, pernahkah kalian mendengar sebuah ungkapan, "Tulis saja!"

Nah, berpegang pada prinsip itulah saya kemudian memaksakan diri untuk menulis apa saja yang unik dan menarik (versi saya) yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari. Maka jangan heran pula jika hasil tulisan saya masih terkesan "baru belajar". Lha, saya memang masih belajar kok. Terlepas dari pendapat orang lain mengenai tulisan kita, baik atau buruk, bisa menjadi penilaian tersendiri bagi kita. Bahkan, tidak jarang dari komentar-komentar yang dilayangkan pada tulisan, bisa menjadi referensi tambahan untuk tulisan kita. Dari situ pula kita bisa belajar.

Dengan "Tulis Saja!", maka bisa pula mendatangkan ide buat kita. Saya malah terbiasa banyak mendapatkan ide ketika sementara menulis. Misal; saya sudah terpikirkan sebuah topik untuk sebuah tulisan dan menuliskannya. Eh, di tengah-tengah tulisan, saya kemudian terbersit sebuah fokus tulisan yang lain. Jika hal demikian terjadi, biasanya saya akan menuliskan ide baru itu di tempat lain. Atau saya terkadang malah mengganti planning tulisan awal saya, 180 derajat. Hehe...



Bagi saya, ternyata "Tulis Saja!" bisa mendatangkan banyak ide. "Tulis Saja!" juga bisa melatih keterampilan menulis, kapan saja dan dimana saja. Everytime and everywhere. Dan bukankah menyelesaikan sebuah pekerjaan (tulisan) itu sungguh melegakan?


--Imam Rahmanto--

Berusaha menggali ide lewat tulisan ini.

Sabtu, 01 September 2012

Strategi Bisnis di Atas Kapal

September 01, 2012

Jika berpergian dengan memanfaatkan jasa kapal laut, sebaiknya mempersiapkan segala hal dari awal. Apalagi perjalanan laut (non-feri) biasanya ditempuh dalam kurun lebih dari satu hari.

Di atas kapal banyak ditemukan ketimpangan-ketimpangan yang menurut saya merupakan strategi bisnis dari awak-awak kapal (atau bahkan perusahaannya sendiri) untuk meraup keuntungan dari pelanggan-pelanggan di atas kapal. Di atas kapal berlaku sistem oligopoli sehingga pihak kapal bisa dengan sesuka hatinya menaikkan harga barang. Bahkan mencapai tiga kali lipat dari harga aslinya. Mau beli barang atau jasa dimana lagi, coba?

Oh ya, oligopoli merupakan keadaan perdagangan dengan produsen barang hanya berjumlah sedikit sehingga mereka dapat mempengaruhi harga barang sesuka hati. Tentu saja hal tersebut berkebalikan dengan sistem monopoli.

Nah, berikut beberapa hal yang  saya temukan agak timpang di atas kapal,

Penumpang yang tidak kebagian
tempat tidur. (ImamR)
1. Tempat Tidur

Hal ini menurut saya yang paling ganjil. Tempat tidur seharusnya sudah menjadi hak penumpang yang telah membayar tiket kapal. Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah pen-calo-an tempat tidur oleh awak-awak di atas kapal. Itupun tanpa kasur. Jika ingin menambah kasur, maka harus (lagi-lagi) menambah biaya tertentu.

2. Tikar

Nah, ini menjadi kelanjutan bagi penumpang yang tidak memperoleh tempat tidur. Sebelum kapal angkat sauh, kita akan banyak menemukan pedagang-pedagang tikar berkeliaran di atas kapal.

3. Makanan

Fasilitas makanan gratis sebagai hak penumpang yang disediakan sangat tidak memenuhi standar "kenyang" maupun gizi. Makanannya hanya berupa nasi dan sepotong dadar telur ataupun sepotong ikan tongkol (yang nampaknya hanya dicampur garam lalu direbus). Jika beruntung, kita bakal mendapatkan tambahan sayur kol yang hanya direbus dengan tambahan garam pula.

Hal ini tentu mejadi salah satu strategi bisnia di atas kapa. Dengan begitu, makanan-makanan yang dijajakan di atas kapal (nasi goreng, nasi ayam, bakso) bisa laku keras meskipun dibanderol dengan harga tinggi.

4. Air panas

Di atas kapal, persediaan air panas merupakan salah satu fasilitas yang sudah selayaknya disediakan untuk penumpang kapal. Akan tetapi, air panas yang disediakan oleh pihak kapal ternyata tidak se"panas" air panas yang dijual di toko-toko kapal maupun oleh pedagang minuman asongan. Tentu saja, penumpang lebih banyak memilih membeli air panas dari toko ketimbang mengambil langsung dari Pantry. Lagi-lagi, keuntungan buat pihak perkapalan.

5. Pendingin Udara

Tidak perlu heran jika merasakan udara yang sangat pengap di dalam kapal. Beberapa jenis kapal (milik Pelni) sengaja merusak ventilasi pada sistem pendinginnya agar udara tidak menyebar ke seluruh ruangan. Udara hanya mengalir lurus ke satu arah. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh awak-awak kapal meraup keuntungan dengan menjajakan kipas-kipas manual ataupun minuman-minuman dingin kepada para penumpang. Daripada panas, kan?
Pendingin udara yang ada di langit-langit dek. (ImamR)

6. Terminal Listrik

Di atas kapal juga disediakan beberapa terminal listrik yang bisa dimanfaatkan untuk men-charge peralatan listrik penumpang. Jumlahnya sangat terbatas sehingga penumpang harus bergantian menggunakannya. Penggunaan terminal bercabang sangat dilarang oleh pihak keamanan kapal, entah apa alasannya. Jika kedapatan menggunakan terminal bercabang, maka bisa dipastikan alat tersebut bakal disita.

Ini sih kalau kedapatan bakalan disita. (ImamR)

Nah, melalui "kelistrikan" itu pula pihak pengelola kapal bisa meraup keuntungan. Mereka menyediakan jasa charge listrik dengan harga tertentu.

Saya tidak tahu pasti, apakah hal-hal tersebut merupakan aturan yang memang diterapkan oleh pihak pengelola kapal atau hanya sekadar inisiatif dari awak-awak kapalnya. Yang jelas, melalui strategi-strategi itu bisa menghasilkan keuntungan yang sangat banyak, di atas normal. Karena, ingat, di atas kapal berlaku sistem oligopoli.


--Imam Rahmanto--