Sabtu, 11 Agustus 2012

Ramadhan Menjauh, Ibadah Luruh

Ramadhan kini sisa menghitung hari. Seiring berjalannya hari, jamaah-jamaah yang memenuhi masjid pun lambat laun kini bisa dihitung jari. Jumlahnya semakin hari kian menurun. Fenomena demikian memang sering terjadi di bulan Ramadhan. Saya malah belum pernah menemukan masjid yang jumlah jamaahnya statis hingga akhir Ramadhan.
 

Memasuki awal-awal Ramadhan, orang-orang memenuhi masjid. Jika tiba waktunya masjid mengumandangkan adzan, masyarakat berduyun-duyun bersama keluarga (atau malah pacar) melaksanakan shalat Tarawih di masjid. Bahkan di malam pertama melaksanakan shalat Tarawih, jikalau saja kita tiba usai adzan dikumandangkan, maka bisa dipastikan kita tidak akan kebagian tempat. Hal tersebut berlangsung selama beberapa hari.
 

Akan tetapi, hari berlalu, orang-orang juga semakin “ogah-ogahan” untuk berkumpul di masjid. Seperti sekarang, kejenuhan sudah mulai terlihat. Orang-orang tidak lagi berduyun-duyun melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah.
 

Di hari pertama puasa Ramadhan, saya selalu saja nyaris tidak kebagian tempat di dalam masjid. Setiap saya memasuki halaman masjid (yang letaknya bersebelahan dengan redaksi saya), puluhan orang terlihat bersiap-siap hendak masuk masjid. Jikalau saja saya tidak bergeas usai adzan dikumandangkan, maka jangan harap saya bakalan kebagian tempat. Bahkan telat beberapa menit usai adzan saja, masih terhitung sebagai kelalaian. Ckckck...
 

Akan tetapi, sekarang, saya tidak perlu lagi tergesa-gesa untuk bergegas ke masjid. Berapa menit pun saya terlambat tiba di masjid, selalu ada ruang kosong yang tersisa. Jika dihitung-hitung, hingga hari ini, jamaah yang masih konsisten menjalankan shalat malam di masjid tersebut hanya mencapai setengah dari jumlah jamaah di awal Ramadhan.
 

Padahal seperti yang kita ketahui, di ahir-akhir Ramadhan seharusnya menjadi ladang pahala bagi umat muslim. Sepuluh hari terakhir merupakan penantian yang “pas” untuk malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari malam 1000 bulan. Beribadah di malam itu sama halnya dengan beribadah 1000 bulan lamanya. Nah, kan? Tapi, ya, dasar memang kita manusia tidak menyadari hal itu (atau sebenarnya kita sadar tapi malas mengerjakannya), lantas kita mengabaikannya.
 

Ilustrasi: ImamR
Dari masjid, orang-orang beralih ke pusat-pusat perbelanjaan. Maklum, cari baju lebaran. Menjelang berakhirnya Ramadhan, kuantitas masyarakat yang mengunjungi mall/ supermarket meningkat pesat. Jikalau bisa dibuatkan kurva statistiknya, maka jumlah pengunjungnya sejak awal hingga akhir Ramadhan meningkat begitu pesatnya. Sementara jumlah orang-orang yang beribadah di masjid malah jauh kian menurun.

Hal tersebut memang cukup memprihatinkan. Di saat kita menyambut hari kemenangan nanti, kita bergembira luar biasa. Seolah-olah kita bergembira karena telah memenangkan pertarungan dengan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Padahal jika dicerna lebih baik, mungkin gembira lantaran bulan Ramadhan telah kita lewati begitu saja. Coba deh dipikirkan, sudah banyakkah yang kita "menangkan" selama bulan Ramadhan ini sehingga kita pantas untuk senang bukan kepalang menyambut hari raya nanti? Nah, cukup kita tertawa dalam tangis.
 

Lupakan sejenak mengenai “baju lebaran”. Mari tetap menjaga ketetapan hati untuk menjalankan ibadah hingga akhir Ramadhan. Tetap pula ramaikan masjid seperti saat kita menyambut Ramadhan. Perihal pakaian-pakaian yang akan dikenakan di hari raya nanti, stop thinking about it. Menurut saya, yang butuh baju baru untuk hari raya nanti ya adik-adik kita. Kalau masih ada baju lama yang bagus buat kita, tidak apa-apa juga, kan? Ada lagunya, kok.
 

“Baju baru, alhamdulillah… Tuk dipakai di hari raya. Tak adapun tak apa-apa....”
 

Selamat menjalankan ibadah puasa!
 
--Imam Rahmanto--
*Pagi hari berusaha menahan kantuk.

1 komentar:

  1. Kalau di Jawa, ada kecenderungan ramai di awal, sepi di tengah, dan kembali ramai di akhir. Serius. Ini terjadi di banyak masjid lho...

    BalasHapus