Kamis, 23 Agustus 2012

Pendidikan Hanya Sebatas Jadi PNS


"Nanti kalau lulus di UNM itu jadi opo?" Paklik (paman) saya bertanya mengenai kuliah saya di Makassar.

"Kalau beruntung, ya bakalan jadi guru," saya menjawab santai. Toh, sebenarnya saya tidak terlalu berkeinginan untuk menjadi guru.

"Wah, enak yo? Nanti bisa jadi PNS,"

Perbincangan dengan Paklik saya pun berlanjut, seputar pekerjaan yang tak jauh-jauh dari nilai sebuah kesuksesan. Baginya, pekerjaan yang paling bagus itu adalah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jika seseorang sudah memperoleh titel sebagai PNS, maka orang itu sudah bisa dicap sebagai orang berhasil.

Nah, pandangan-pandangan seperti itulah yang kini berkembang di kalangan masyarakat pedesaan. Ukuran kesuksesan biasanya diukur dari seberapa besar pekerjaan yang didapatkan. Anak-anak disekolahkan dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang pantas selain bertani. Oleh karena itu, tidak heran jika melihat anak-anak yang baru lulus dari SMA enggan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, termasuk dua saudara sepupu saya. Mereka lebih memilih untuk langsung bekerja dan memperoleh uang. 

Muncullah perkataan-perkataan "Ah, bapak dan ibu tidak punya uang untuk membiayai kuliah," atau "Mending langsung kerja biar bisa langsung dapat uang." Sebuah ungkapan-ungkapan yang secara tidak sadar telah mengubur impian-impian anak desa. Semangat-semangat bersekolah yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak desa dipotong secara perlahan. Membuat mereka takut untuk berkompetisi.

Padahal, menurut saya, pendidikan itu sangatlah penting. "Jangan dikira menjadi seorang TKI, nelayan, atau petani itu tidak perlu sekolah"

--Serdadu Kumbang the Movie-- Dengan bersekolah, kita sudah menggantungkan mimpi-mimpi kita. Dengan bersekolah, hidup kita bakal berubah. Bahkan, dengan bersekolah, kita bisa mengubah hidup orang banyak.

Jika "uang" menjadi permasalahan dominan masyarakat di desa untuk menyekolahkan anaknya, menurut saya hal itu hanyalah menjadi "kambing hitam" atas hidup mereka. Nyatanya, setelah saya menjalani seluk-beluk pendidikan itu sendiri, persoalan "uang" bisa jadi urusan berjalan. Menjalani pendidikan bukan berarti sama sekali tidak bisa mencari uang pula. Selama ini, saya banyak menemukan mahasiswa yang menjalani kuliahnya sambil bekerja mengumpulkan uang. Hal yang sama terkadang juga saya tekuni. Jadi, dengan bersekolah kita bisa menjalani keduanya sekaligus; bersekolah dan bekerja.

Saya senang ketika mendengar ayah saya tidak memaksakan kehendaknya pada saya. Meski dibatasi masalah finansial, ia tetap menyekolahkan saya. Memaksa saya untuk menyelesaikan pendidikan saya. Saya malah pernah mendengarnya berujar, "Selama anak-anak bisa menjadi apa yang mereka inginkan, hal itu sudah cukup. Ya, apapun cita-cita mereka, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dengan segala kemampuan yang kita punyai." Wajar jika ayah saya berkata demikian, karena ia telah lama merantau jauh keluar dari lingkungan desanya. Terkadang lingkungan memang memberi pengaruh yang sangat besar bagi pemikiran-pemikiran yang berkembang di kepala setiap orang.

Saya miris ketika menyaksikan banyak anak-anak di desa yang menanggalkan mimpi-mimpi mereka. Padahal kemiskinan tidak seharusnya menjadi kendala untuk meraih apa yang mereka impikan. Bukankah, orang-orang yang paling miskin di dunia ini bukanlah mereka yang sama sekali tidak memiliki harta apapun. Tapi orang yang paling miskin adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki mimpi. --Sang Pemimpi-- Selama kita punya mimpi, seharusnya hal itu pula yang perlu diperjuangkan. Tekad yang kuat tentunya bisa menjadi senjata utama untuk meraih mimpi ataupun cita-cita. Bagi saya, selama kita punya keinginan, maka jalan menuju kesana selalu terbuka buat kita. Just believe it!


--Imam Rahmanto-- 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar